Rain = Hujan

Athariri

January 30, 2017

Cerpen

No Comment

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Rain adalah cerpen tentang cinta tak sampai meskipun keduanya saling cinta bahkan hubungan mereka sedemikian dekat dan “mesra”. Bukankah jodoh memang gak bisa dipaksakan. Simak ceritanya.

Cerpen Rain = Hujan

Aku suka kamu. Kamu suka aku. Tapi percayalah. Sampai kapan pun, kita akan selalu bersama tapi tak akan pernah bisa bersatu.

“Reeeeeein, bangun!! Ini udah jam berapa? Nanti telat. Jam 10 kan udah harus di gedung !”. Sayup-sayup aku mendengar suara mama teriak-teriak di depan kamar. Badanku masih terasa lelah. Acara lamaran semalam membuat aku harus tidur lebih larut. Dan hari ini aku harus bangun lebih pagi untuk bersiap ke gedung pernikahan.

“Iya maa. Udah bangun. Ini mau mandi”. “Mama tunggu! 15 menit”. What ?! 15 menit ? Aku bergegas. Mengambil handuk di belakang pintu dan berlari ke kamar mandi yang masih ada di dalam kamar. Tapi karena 75% nyawaku masih berterbangan, aku tidak sengaja menabrak lemari di samping pintu kamar mandi.

*bruk*

“Aduh!!”

“Kenapa lagi Reeein?”

“Nabrak lemari maa, tapi nggak papa.”

*********

Aku Reina. Mahasiswi semester 5 jurusan sastra Indonesia. Aku bukan anak yang istimewa apalagi mahasiswa istimewa. Aku anak tunggal dari seorang mama yang hebat. Mama membesarkan aku sendirian. Papa? Aku tidak tahu beliau dimana. Tapi yang aku tahu, mama tidak pernah mengajarkan aku membenci papa. Aku juga sayang papa, karena mama sayang papa.

Aku pernah bertanya soal papa ke mama. Tentang mengapa mereka berpisah. Tentang kemana papa sekarang. Tentang rupa papa. Pokoknya semua tentang papa. Jawaban mama membuat aku mengerti perasaan mama dan aku berjanji tidak akan bertanya lagi mengenai papa.

“Ma, mama sayang papa?”

“Loh, ya sayang dong. Kalo nggak sayang, mana mungkin kamu lahir.”

“Terus, papa kemana? Papa nggak sayang mama ya? Kok papa pergi?”

“Papa sayang mama, Rein. Papa pergi karena papa sayang mama, sayang sama kamu juga.”

“Kenapa mama sayang papa ? Padahal papa pergi ninggalin mama sama aku. Aku aja nggak tau wajah papa kaya apa.”

Mama nangis.

“Ma, mama sedih ya? Maafin Rein ma. Rein Cuma penasaran sama papa. Maafin ya maa.”

“Nggak papa Rein. Mama ngerti. Maafin mama karena kamu nggak tau papa seperti apa.”

“…”

“Papa kamu itu ganteng. Makanya kamu cantik. Mama sayang papa tanpa alasan. Mama sayang sama papa begitu aja. Tulus.”

“…”

“Mama tahu betul papa seperti apa. Kamu tahu? Tidak semua hal baik itu menyenangkan. Seperti yang dilakukan papa. Papa, ninggalin kita untuk kebaikan kita.”

“…”

“Rein, kamu mau kan sayang juga sama papa?”

“Iya ma, aku juga sayang papa. Sama kaya aku sayang mama.”
Sejak saat itu, aku tidak pernah bertanya lagi mengenai papa. Aku percaya sama mama kalau papa itu baik. Dan papa ninggalin aku dan mama karena hal itu baik untuk kita. Pa, aku sayang papa. Meskipun aku nggak tau papa.

*******

Selain mama, aku memiliki seseorang yang berharga dalam hidupku. Namanya Hujan. Bukan! Bukan air yang turun dari langit itu. Nama lengkapnya Hutomo Januar. Tapi dia lebih suka dipanggil Hujan, karena dia suka dengan hujan. Aneh. Aku dan Hujan beda 3 tahun. Dia seniorku di kampus. Kami bertemu tiga tahun yang lalu ketika masa orientasi mahasiswa.

“Kak, saya mau kenalan, boleh?”

“Maba ya?”

“Hhehe, iya Kak.”

“Kamu tau siapa saya?”

“Mmm, ketua panitia kan ya?”

“Nah! Itu udah tau. Ngapain mau kenalan lagi?”

“Eh? Tapi kan..”

“Hhahaha! Kamu tuh lucu. Yaudah sini duduk sini. Kamu mau kenalan sambil berdiri?”
Pada masa orientasi mahasiswa, Hujan adalah ketua panitia. Hujan selalu membantuku. Dia adalah panitia terbaik versiku. Padahal dengan peserta lain, Hujan galak. Tapi denganku Hujan sangat baik.

******

“Rain!!”

“Ih, nama ku Rein Kak. Bukan Rain!”

“Ah aku maunya panggil kamu Rain. Biar sama kaya aku, Hujan.”

“Yah, terserah deh Kak. Kenapa Kak?”

“Panggilnya Hujan aja sih. Nggak usah pake ‘Kak’, seumuran juga.”

“Ih, nanti gak sopan. Lagian mana seumuran, orang beda 3 tahun. Sok muda ih.”

“Hhaha. Pokoknya panggil Hujan aja. Udah nyelesaiin tugas ospek?”

“Mmm, udah sih. Kenap…”

“Yaudah kalo udah buat, yuk temenin ke kantin, laper.”
Hujan memang suka bersikap seenaknya denganku. Tapi entah kenapa aku merasa nyaman saja diperlakukan seperti itu. Aku malah senang dengan sikap Hujan. Aku bisa menjadi diriku sendiri di depan Hujan.

******

Aku jadi suka hujan karena Hujan. Di hari masa orientasi mahasiswa berakhir, hujan turun dengan lebatnya. Teman-teman lain sudah pulang dan tinggal aku dan beberapa teman -yang belum aku kenal- yang masih ada di ruangan. Aku mempercepat merapikan tas dan bersiap pulang, sampai aku sadar kalau payungku tertinggal di rumah.

“Ah, Reina dodol. Payungnya pake ketinggalan. Nunggu hujannya selesai deh.”
Aku meninggalkan ruangan dan duduk di lorong tepat disamping pintu keluar ruangan. Menunggu hujan reda. Sepi. Yang terdengar hanya suara hujan yang semakin lebat. Lorong juga semakin gelap karena mendung dan lampu yang belum dinyalakan. Dingin. Suasananya jadi seperti di film horor.

“Dorr!!!”

Aku kaget. Sampai melompat sekitar 30 cm dari posisi duduk ku.

“Hhhahaha. Kaget dia. Lucu banget lagi mukanya.Hhahaha.”

“Iiiih, Hujan! Nyebelin. Orang lagi sendirian, dikagetin.”

“Hhhahaha. Maaf ya. Kaget beneran ya? Hhahaha.”

“Yaiya lah. Udah ih, ketawanya. Kesel tau dengernya.”

“Hiii, ngambek. Maaf sih. Lagian ngapain coba duduk sendirian disini, bukannya pulang.”

“Mau pulang, tapi lupa nggak bawa payung. Hhe.”

“Aku bawa payung nih. Aku pinjemin. Mau?”

“Nggak usah deh. Nanti kamu susah pulangnya.”

“Yaudah, yuk pulang bareng.”

Hari itu adalah hari pertama aku pulang dengan Hujan. Diiringi suara hujan dan tetesan air hujan yang menciptakan gelombang berbentuk bulat dipermukaan jalan. Hujan membuka payungnya. Melangkahkan kaki keluar pintu utama gedung dan mengajakku mengikutinya.

“Rain, ayo.”

“Nanti basah, Hujan.”

“Ya namanya juga hujan, air kan. Kalo batu, sakit. Mending mana ?”

Melihat aku yang tidak juga beranjak mengikutinya, Hujan kembali kedalam pintu utama. Melepaskan jaket yang dipakainya lalu menyerahkannya kepadaku.

“Nih Rain, pake. Biar gak basah-basah banget.”

Aku bengong.

“Ih ini anak. Pake buruan. Mau pulang nggak? Tinggal nih.”

“Eh, iya. Iya.”

Aku memakainya. Jaketnya harum, harum Hujan. Aku suka. Kemudian, Hujan menarik pergelangan tangan kananku agar mengikuti langkahnya. Jadilah aku dan Hujan, berjalan dibawah riuh hujan.

“Rain.”

“Hmm?”

“Coba kamu diem sebentar, terus merem, terus kamu tarik nafas.”

“Ah, nggak mau. Nanti kamu ninggalin.”

“Ahhahaha, suudzon kamu. Dosa.”

“Kenapa emang deh?”

“Coba aja, nanti kamu pasti suka.”

“Tapi jangan ditinggalin. Nanti basah.”

“Nggak Rain.”

Aku mengikuti perintah Hujan. Memejamkan mata, lalu menarik nafas. Ketika aku memejamkan mata, aku merasakan hembusan angin menerpa wajahku. Sejuk dan menenangkan. Kemudian, ketika aku menarik nafas, aku mencium aroma aneh. Tapi aroma ini sangat membahagiakan. Paduan yang menyenangkan. Menenangkan dan membahagiakan.

“Gimana? Enak kan? Wangi hujan enak kan?”

“Hhehe. Iya.”

“Kamu suka?”

“Suka. Aku suka hujan.”

“Hah? Kamu suka aku?”

“Eh? Ih, bukan. Aku suka hujan yang air, bukan Hujan yang kamu. Ih.”

“Hhahaha.”

Aku mengikuti langkah Hujan. Dibawah payung yang sama dan dibawah hujan yang masih setia mengiringi langkah kita. Ada perasaan aneh ketika aku bilang, ‘aku suka hujan’. Sepertinya bukan hanya hujan, tapi aku juga suka Hujan.

“Loh, kok ke parkiran?”

“Lah, kan tadi katanya mau pulang bareng aku?”

“Iya, terus kan ke…”

“Aku nggak naik bis hari ini Rain. Eh, pegangin dong payungnya sebentar.”

Hujan menyerahkan payungnya kepadaku. Lalu mengubek-ngubek tasnya. Mengambil kunci mobil,  membuka pintu kiri depan mobilnya dan menyuruhku masuk.

“Masuk Rain. Sini payungnya.”

“Hhe, thanks.”

******

Semakin lama, aku semakin dekat dengan Hujan. Aku beruntung selama satu semester kuliah, aku kenal dengan Hujan. Hujan itu baik. Dia menyenangkan. Dia punya senyum yang manis. Wajahnya juga tampan, menurutku. Dia laki-laki yang penuh dengan perhatian. Dia laki-laki yang mengerti bagaimana harus bersikap. Dia, ah, sepertinya aku suka Hujan. Sangat suka.

“Hujan, kamu tuh ulang tahunnya bulan Januari ya pasti?”

“Loh, kok bisa tau?

“Nama kamu lah. Hhhaha. Ketauan banget. Aku juga, lahir di bulan Januari.”

“Loh, iya?”

“Iy…”

“Tapi aku kan nggak nanya Rain.”

“Iiiiih, kesel.”

“Hhhahaha. Iya, Rain. Eh, nanti kita tukeran kado ya pas ulang tahun. Kita rayain berdua.”

Bagaimana pun menyenangkan sikapnya. Bagaimana pun baiknya Hujan. Bagaimana pun bahagianya melihat senyumnya. Bagaimana pun nyamannya ada didekat Hujan. Aku harus mengerti, bahwa Hujan bukan untuk aku.

“Kamu Reina?”

“Eh, iya. Ada apa ya?”

“Gue Stella. Pacarnya Hujan. Kamu nggak suka sama Hujan kan ya?”

“Hah? Mmm, nggak kok. Aku sama Hujan cum…”

“Ya, oke lah. Terserah. Tapi inget. Hujan itu, pacar aku. Ngerti dong, kamu harus apa?”

“…”

******

Patah hati tidak pernah sesakit ini. Patah hati tidak pernah semenyedihkan ini. Mengetahui apa yang kamu sukai sudah di depan mata, tapi tidak bisa kamu dapatkan. Mengertikan rasanya? Itu lah yang aku rasakan.

“Rein? Kamu kok murung?”

“Hah, nggak ma. Aku gak papa.”

“Hmmm, anak mama pasti lagi patah hati.”

“Ih, apa sih maa. Nggak kok.”

“Hmm, masa? Kalo suka, kamu kasih kode dong. Gimana sih?”

“Ahhahaha, mama. Emang pramuka, pake kode-kodean.”
Ah, mama. Iya Ma, Rein patah hati. Rein mau sama Hujan, tapi gak bisa. Rein sayang sama Hujan, tapi Hujan bukan untuk Rein.

******

“Rain, Rain!! Kamu aku cariin kemana deh? Dua minggu ilang.”

“Eh, hay, Hujan. Iya, banyak tugas.”

“Payah. Eh, temenin dong, yuk. Aku mau cari buku baru ke Gramedia.”

“Aku nggak bisa Jan. Maaf ya. Aku har…”

“Ayooo ah. Udah jam 3 juga, udah gak ada kelas.”

Seperti biasa, Hujan menarik pergelangan tanganku. Menggandeng tanganku menuju parkiran. Selalu. Selalu tidak bisa menolak ajakan Hujan. Selalu tidak bisa bilang ‘tidak’ kepada Hujan. Oleh sebab itu, aku lebih memilih menghindar. Karena Hujan, bukan untuk aku.

“Hujan, aku pulang sendiri ya. Gak papa kok.”

“Loh, aku anterin aja.”

“Mmm, nggak us…”

“Ayoo, ah. Makan dulu yuk. Laper.”

Hujan. Kenapa selalu seperti ini? Selalu muncul, sampai aku tidak bisa menghindar. Selalu datang dan membuat nyaman. Kita tidak bisa seperti ini.

******

“Asik, hujan!! Kita makan di Bogor ya.”

“Yah, jauh banget Jan.”

“Nggak papa. Tempatnya asik. Aku pasti anterin kamu sampe rumah Rain.”

Hujan mengajakku ke sebuah kafe milik temannya di sekitaran Jalan Ahmad Yani. Senja sudah beralih menjadi malam. Saat itu hujan turun, tidak deras tapi cukup membuat udara menjadi lebih sejuk. Hujan menggandengku masuk kedalam kafe. Seorang pramusaji mengarahkan kami ke ruang dalam kafe, sebuah teras yang ternyata memiliki pemandangan kelap-kelip lampu Kota Bogor. Cantik. Ditambah sofa yang nyaman, hembusan angin, rintik hujan, dan aroma hujan yang menyenangkan. Romantis.

“Asik kan, tempatnya? Nih, kamu harus coba makanan bla, bla, bla, bla …”

Aku tidak menggubris ucapan Hujan. Aku hanya bisa tersenyum. Kenapa kamu melakukan ini Hujan? Kenapa kamu begitu baik? Kenapa harus kamu yang begitu baik? Kenapa harus kamu yang melakukan ini semua? Kenapa harus kamu yang bisa membuka pintu hatiku? Kenapa harus kamu yang tidak bisa aku miliki?

“Rain? Eh. Kamu mau pesen yang man… Dih, bengong. Ih.”

“Hhehehe, apa tadi apa? Maaf, abis aku suka tempatnya.”

“Hhaha, asik kan? Nih, kamu mau pesen apa? Nasi goreng spesialnya enak loh. Terus minumnya yang enak ini, vanilla milk shake. Menu sederhana sih, tapi top rasanya. Atau kamu mau pilih menu yang lain? Cumi goreng tepung juga enak, tapi yang saus padang, terus…”

“Hujan, aku minta pilihin sama kamu aja makanannya, ya?”

“Hmm, boleh. Mbak, kalo gitu pesen nasi goreng spesialnya dua, yang satu agak pedes ya, cumi goreng tepungnya satu yang pake saus padang, milk shake vanillanya dua, sama air mineralnya dua.”

Hujan, aku begitu ingin memiliki kamu. Entah apa alasannya. Tapi aku ingin.

“Rain, kamu kenapa?”

“Hah? Kenapa apa?”

“Kenapa kamu menghindar dari aku?”

“Eh? Aku..”

“Rain, kamu jangan bohong.”

“…”

“Aku suka kamu Rain.”

“Hujan? Kamu ser…”

“Serius Rain. Aku suka kamu. Aku suka Rain.”

“Hhhh. Stella. Gimana sama Stella, Hujan? Kamu gak boleh gini.”

“Stella? Kamu kenal Stella?”

Aku menceritakan pertemuan singkatku dengan Stella. Bagaimana Stella meminta untuk aku menjauhi Hujan. Bagaimana Stella mengatakan bahwa dia adalah pacarnya. Entah kenapa aku menjadi sedih. Dadaku sesak. Lalu air mata yang susah payah aku tahan mengalir perlahan.

“Rain. Stella bukan siapa-siapaku lagi. Hubungan kita sudah selesai. Kamu jangan sedih Rain.”

Hujan mengusap air mataku. Lalu menggiring kepalaku untuk didekapnya. Nyaman sekali rasanya. Hujan, aku suka kamu juga.

“Rain, kamu mau jadi pacarku?”

Aku melepas dekapan Hujan. Aku menatap matanya, lalu tersenyum. Ya, Hujan. Aku mau.

******

Hujan. Salah satu seseorang yang istimewa dalam hidup aku, setelah mama. Sejak malam itu, aku dan Hujan menjadi pasangan. Hujan dan Reina. Hujan dan Rain. Hubungan kami menyenangkan. Kami bahagia. Banyak hujan yang kami lewatkan bersama. Hujan dan hujan. Jika mereka datang bersama, semua berubah menjadi romantis.

Waktu akan berlalu cepat jika harimu bahagia. Seperti hariku bersama Hujan. Satu tahun hubungan kami berlalu dengan bahagia. Hujan sudah wisuda. Dia menjadi lulusan terbaik Jurusan Sastra Indonesia pada tahun kelulusannya. Setelah lulus, Hujan menjadi seorang editor di kantor media ternama. Aku bangga dengan dia.

Hubungan aku dengan Hujan juga semakin baik. Hujan sudah mengenal mama dengan baik. Begitu juga aku, sudah mengenal papa Hujan dengan baik. Terkadang, aku dan Hujan juga mulai membicarakan mengenai pernikahan. Lucu. Aku tidak menyangka, aku pernah berpikir tidak akan memiliki Hujan, tapi saat ini Hujan selalu ada disampingku.

“Rain, nikah yuk.”

“Hhaha, nggak romantis ah ngajaknya.”

“Yeee, yang penting mah serius. Nggak usah romantis. Mau kan nikah sama aku?”

“…”

“Eh, kayaknya seru kalo nikahan kita itu sambil hujan-hujanan. Gimana?”

“Lah, tamunya kabur dong?”

“Tamunya nggak usah banyak-banyak. Yang kita kenal deket aja.”

“Hhahaha, boleh juga ide kamu. Nanti nuansanya putih ya? Terus banyak bunganya. Gimana?”

“Yaaa, boleh-boleh. Pokoknya yang penting pas hujan aja nikahnya.”

Hujan, kamu tahu? Membicarakan ini, aku bahagia. Sangat bahagia.


Terima kasih telah membaca cerpen rain = hujan karya Athariri, tunggu lanjutan ceritanya hanya di Bisfren cerita pendek.

Dibagikan



Kiriman terkait

Melepas Masa Lalu

Adra Putri Wahyuni

June 24, 2017

Cerpen

No Comment

1 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 5 (Rating: 4.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Melepas masa lalu adalah curahan hati menunggu kepastian cinta setelah dia mengetahui gebetannya masih berharap pada masa lalunya. Meski setiap orang memiliki masa lalu, tidak semua orang bisa begitu saja lepas dari kenangan. Bagaimana cerita curhatnya ? simak curhatan kisah nyata berikut : Curahan Hati Menunggu Kepastian Cinta – Melepas Masa Lalu Hingga kini aku […]

Baca

Indahnya Saat Berbagi

Putri Wahyuningsih

June 21, 2017

Cerpen

No Comment

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Indahnya saat berbagi adalah cerita pendek Islami tentang bulan Ramadhan yang diawali oleh sebuah insiden saat seorang bocah menunggu jemputan. Bagaimana kisahnya ? simak cerpen Ramadhan berikut : Cerita Pendek Islami – Indahnya Saat Berbagi “Awas. “. Teriakan yang dibarengi aksi itu terdengar begitu keras diiringi dengan dua tubuh kecil yang terhempas dipinggiran jalan. Rumi […]

Baca
Melepas Masa Lalu
1 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 5 (Rating: 4.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Lebaran Ini Aku Tidak Pulang
1 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 5 (Rating: 1.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Indahnya Saat Berbagi
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Perubahan Nella
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Perempuan Di Ujung Jalan
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...