Cinta Diantara Kita

Anik Fityastutik

April 25, 2017

Cerpen

No Comment

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Cinta diantara kita adalah cerita sedih mantan pacar lari pagi ngejar-ngejar ceweknya sampai mati kena serangan jantung. Salahnya dia sendiri gak biasa jogging tapi memaksakan diri. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen cinta mantan pacar berikut :

Cerita Sedih Mantan Pacar Lari Pagi Sampai Mati – Cinta Diantara Kita

Hidup memang aneh, iya emang aneh. Barusan Sita, sahabat aku waktu SMA datang ke rumah. Tumben, pikirku, karena sudah lama semenjak lulus dia nggak pernah lagi main ke rumah. Padahal jarak rumah kami juga nggak terlalu jauh, bahkan dia juga tidak tinggal di luar kota.

“Tumben, kamu kesini ?” tanyaku. “Eh…jangan gitu, biar bagaimanapun aku tuh masih sahabat kamu.” Jawab Sita sambil cengar-cengir seperti biasanya.

“Ada perlu apa kamu kesini?” tanyaku masih dengan suara ketus. “Main, emang nggak boleh.” Jawab Sita sambil ambil minum sendiri di kulkas. Masih seperti yang dulu, kebiasaan suka ambil minum sendiri tanpa basa basi.

“Eh…aku minum ya.” Katanya sambil nyengir saat tahu kalau aku lihatin dia. “Dira, kamu tahu nggak, aku dah punya pacar.” Cerita Sita dengan wajah penuh kebahagiaan. “Oh ya.” Jawabku dingin.

“Kok kamu gitu sih Dir, bukannya ikut seneng.” Protes Sita. “Terus aku harus bagaimana ?” tanyaku sambil pasang senyum manis. “Udah gitu aja, senyum…cakep hihi. Dir, tau nggak siapa pacar aku?” Tanya Sita dengan mata berbinar-binar.

“Ya enggak lah.” Jawabku santai. “Ronald”. Kata Sita. Betapa kagetnya aku saat Sita menyebut nama itu. Ronald kan mantan pacar aku, bagaimana mungkin dia bisa jadian sama Sita.

“Kok kamu kaget sih.” “Ya iyalah, dia kan mantan aku.” “Yeee cemburu nih ye…” ucap Sita menggoda aku. “Ya enggak lah.” Aku buru-buru menyangkalnya.

“Udah deh, sana kamu bersenang – senang saja sama Ronald.” Kataku ketus. “Beneran nih, kamu jangan marah ya.” Kata Sita girang. “Udah ya, aku pulang dulu, aku cuma mau ngomong itu doang.” Lalu Sita bergegas pergi sambil tak lupa ambil apel di dalam kulkas.

“Busyett…masih aja tetep kelakuannya.” Batinku. Sepeninggal Sita entah kenapa perasaanku jadi terasa aneh. Kok Sita jadian sama Ronald sih, bukankah Ronald tuh sayangnya cuma sama aku. Huufttt…sialan, kok aku jadi mikiran Ronald lagi sih. Bukankah aku udah mutusin dia.

Aku mutusin Ronald karena aku sebel dengan tingkah Ronald yang terlalu protektif padaku. Kemana pun aku pergi pasti dia selalu temani aku, lebih tepatnya mengawal. Aku jadi merasa tidak bebas. Sejak lulus SMA aku memang minta putus sama dia. Aku ingin mencari suasana baru saat kuliah.

Tapi setahun sejak kami putus, aku juga belum menemukan pacar. Ya setelah aku pikir-pikir Ronald tuh anaknya baik juga, sangat perhatian, dia juga tidak pernah marah.

Kadang aku rindu dengan Ronald, tapi  kalau kemana-mana harus diikuti ya bête juga. Tapi suer, aku masih nggak percaya kalau sekarang Ronald jadian sama Sita, sahabat aku sendiri. Iya sih, sekarang mereka memang satu kampus bahkan satu fakultas.

Rasanya ada yang aneh, mungkinkah aku cemburu sama Sita. Apakah aku tidak rela kalau mereka jadian. Entahlah.

Aku jadi galau saat ada undangan Reuni SMA, hanya satu kelas sih. Tapi kalau aku datang, itu artinya aku harus ketemu Ronald dan Sita, pasti mereka datang berdua. Sementara aku? Aku masih jomblo, nggak ada pasangan. Nggak, nggak aku nggak bisa membayangkan, bagaimana teman-teman nanti pasti akan menggunjingku atau bahkan menertawakanku.

Oh my God, rasanya aku nggak sanggup menjalaninya. Sebentar kemudian, ada telepon masuk dari Sita. Kenapa lagi sih nih anak.

“Hai Dir, gimana besok kamu datang nggak di acara reuni?” Sudah aku tebak deh.

“Nggak taulah, emang kenapa?” tanyaku males. “Jangan bilang ya kamu nggak datang karena nggak mau lihat aku sama Ronald.” Ya ampun, bener deh dia mau mengejek aku, sialan.

“Udah deh, aku tuh nggak peduli kamu mau dateng sama siapa, dateng aja sama Ronald kamu itu.” Kataku kesal, langsung aku tutup aja teleponnya.

Pokoknya besok aku harus datang, jangan sampai Sita mengejek aku kalau aku cemburu, belum move on atau nggak rela mereka jadian.

Aku harus buktikan kalau kejadian putusnya aku ama Ronad itu emang karena aku sudah nggak mau lagi sama Ronald. Sudahlah aku nggak boleh mikirin Ronald lagi. Bagiku Ronald tuh masa lalu, walaupun saat bersama Ronald adalah saat bahagia. Ronald begitu sayang padaku, selalu ada di saat aku butuh. Sudahlah, itu sudah masa lalu.

Pokoknya aku harus santai, harus kuat. “Hai Dira!” sapa Mona padaku. “Hai!” balasku. “Kok sendirian sih?” “Iya…” jawabku.

“Tuh Sita udah datang duluan sama Ronald. Katanya sih sekarang mereka sudah jadian. Jadi kamu udah putus sama Ronald?” Tanya Mona. Waduh, bener kan Sita udah siaran duluan tentang jadianya dia sama Ronald. Sita… Sita nggak habis pikir aku dengan tingkah kamu.

“Dira…!” Sita memanggilku. “Sini…!” dia melambaikan tangannnya padaku. Di sampingnya berdiri Ronald. Duh kok Ronald sekarang tambah ganteng saja sih. Lama nggak ketemu Ronald rasanya jadi kikuk juga.

“Hai…!” sapa Ronald padaku. “Hai juga !” kataku sambil membalas senyumannya. “Kamu apa kabar?” Tanya Ronald padaku. Sementara Sita sibuk ber say hello sama teman-teman yang lain. “Baik.” Jawabku.

“Eh…aku ke sana sebentar ya, itu ada Luluk memanggilku.” Aku buru-buru pamit beranjak dari situ, nggak enak sama Sita, bisa-bisa nanti dia marah padaku melihat aku akrab sama Ronald.

Aku segera bergabung dengan Luluk dan juga temen-temen cewek yang lain. Sesekali aku mencuri pandang pada Ronald begitu juga dia, sempat kami saling bertemu pandang, tapi buru-buru aku mengalihkan pandanganku. Busyet, dia malah terus memandang ke arahku. Duh kasihan Sita dicueki kayak gitu.

Sebentar kemudian acara mulai, semua terbawa suasana gembira, begitu juga aku yang gabung dengan beberapa temen cewek, seru ramai. Aku sengaja mengambil tempat duduk agak jauh dari Sita dan Ronald.

Dari kejauhan kulihat Sita tampak berpegangan tangan Ronald terus. Hhhmmm…kayaknya Sita bahagia banget dengan Ronald. Syukur deh, kalau begitu.

Pulangnya aku sengaja bareng sama temen-temen cewek, biar nggak diajak bareng sama Sita. “Diraaa…!” dari kejauhan Sita memanggilku. “Bareng kita yukkk!” bener dugaanku dia ngajak aku bareng.

“Nggak usah, aku bareng Luluk kok, kalian duluan aja.” Kataku menolak ajakan Sita. Yeee…enak aja, bisa-bisa aku jadi nyamuk bagi kalian.

Betapa leganya aku ketika saampai di rumah, akhirnya aku bisa melalui acara reuni itu dengan lancar dan aman. Sippp,  sekarang tinggal tidur deh.

Sebelum aku tidur, terdengar bunyi WA masuk. Siapa nih malam-malam WA aku. Uppss dari Ronald. “Malam Dira…maaf ganggu, udah mau tidur ya…?” Aku segera membalasnya.         “Belum tidur kok, malam-malam ada perlu apa ya?”

“Nggak papa sih, aku cuma pengin tahu kabar kamu aja sih, ya udah kalau kamu mau tidur, sampai jumpa besok ya.” Hhhhmmm aneh, kok Ronald WA aku kayak gitu sih. Ah ya sudahlah, mending sekarang aku tidur, biar besok bisa bangun pagi dan bisa jogging.

Memang sudah kebiasaanku, kalau hari Minggu aku pasti jogging. Dan pagi itu aku sudah bersiap untuk jogging. Kali ini seperti biasa aku menuju ke lapangan yang tak jauh dari rumah ku.

Belum lama lari, aku merasa ada yang mengikutiku. Ketika aku menoleh, ya ampun Ronald sudah berlari di belakangku. Dia tersenyum padaku, lalu berlari mengejarku. “Hai…aduh namanya jodoh tak kan lari kemana.” Kata dia. Hhhhmmm apa sih maksud dia ngomong begitu.

“Sejak kapan kamu jadi hobi jogging?” tanyaku. “Sejak tadi.” Jawab dia enteng. “Kamu ngikuti aku ya?” tebakku. “Iya emang.”

Aku terkejut dengan jawaban Ronald, lalu menghentikan langkahku. “Apa sih maksud kamu ngikuti aku?” tanyaku kesal. “Ya pengin lebih dekat aja sama kamu. Tahu nggak sejak semalem aku nggak bisa tidur, bawaannya pengin ketemu kamu aja.” Aku semakin terkejut dengan jawaban Ronald.

“Stop, kamu tuh sudah punya Sita, Ronald.” Kataku mengingatkan. “Aku tahu kamu pasti juga masih sayang aku kan?” Aku terbelalak dengan pertanyaan Ronald. “Kamu tuh gila, kamu ngigau Ron.” Kataku sebel.

Aku kembali melanjutkan berlari, dan Ronald kembali mengikutiku. Dia berlari di sampingku. “Kamu tuh makin cantik Dira, aku kangen sama kamu.” Ya ampun Ronald semakin gila saja dia.

“Kamu gila.” Kataku. “Tapi kamu suka kan?” Ah Ronald semakin ngelantur. Aku tak peduli, aku semakin berlari kencang, tak peduli dengan Ronald yang semakin jauh aku tinggalkan. Biar saja dia terengah-engah mengejarku.

Saat aku berlari memutari lapangan lagi, kulihat ada sekumpulan orang berkerumun. Aku jadi penasaran. “Ada apa Mas?” tanyaku pada salah seorang yang ikut berkerumun. “Ada yang pingsan.” Saat aku mendekat, aku terkejut ketika melihat orang yang pingsan itu. Ya ampun, Ronald.
“Mas, mas tolong bantu angkat ke pinggir dia temen aku.” Kataku. Lalu Ronald diangkat ke pinggir jalan, sejumlah orang membantu menyadarkannya. Beruntung dia cepet siuman. Ya ampun, wajahnya pucat sekali.

“Mas nya tadi nggak kuat mengejar Mbak terus jatuh, rupanya pingsan. “jelas Mas nya yang ikut menolong.

“Kamu minum dulu Ron.” Kataku sambil ngasih sebotol air mineral. “Makasih ya…kamu ternyata masih perhatian ama aku.” Wah gila nih anak.

“Ngapain juga kamu ikut jogging, udan jelas-jelas kamu tuh jarang jogging.” Kataku. “Ini demi kamu Dir.” Katanya.

“Ron, kamu tuh sekarang udah jadi pacar Sita, sahabat aku. Nggak mungkin lah aku suka lagi sama kamu.” Kataku.

“Aku tuh masih sayang sama kamu, aku dekati Sita karena ingin balikan sama kamu.” Aku kaget dengar penjelasan Ronald. “Gila kamu Ronald, aku nggak mungkin balik sama kamu, apalagi sekarang kamu udah jadian sama Sita. Kamu tuh jahat, Ron.” Aku marah sama Ronald, tak sengaja aku dorong Ronald karena menghalangi langkahku.

Dan tanpa aku sangka, Ronald terjatuh, dan parahnya dia tidak bergerak, dia pingsan lagi. Ya Allah, apa yang terjadi dengan Ronald. Segera aku minta tolong sama orang-orang sekitar untuk membawa Ronald ke rumah sakit.

Tak lupa aku mengabari keluarga Ronald juga Sita. Sebentar kemudian satu per satu keluarga Ronald datang begitu juga Sita. Dia datang menangis tersedu-sedu. “Dira, Ronald kenapa? Kok dia bisa sih sama kamu?” Tanya Sita padaku.

“Tadi kita ketemu pas jogging terus dia pingsan.” Jelasku. “Jogging? Nggak biasanya dia jogging.” Aku tak peduli dengan  Sita yang terlihat marah padaku. Aku hanya berharap Ronald akan baik-baik saja.

“Dira, makasih ya kamu telah menolong Ronald.” Kata Ibu Ronald padaku. “Iya Bu, sama-sama.” Balasku. Kami menunggu dengan cemas menanti di depan IGD. Dalam hatiku, aku berdo’a semoga keadaan Ronald baik dan tidak terjadi apa-apa.

Aku jadi merasa bersalah, seandainya saja aku tadi tidak mendorongnya, pasti Ronald nggak akan seperti ini. Tanpa aku sadari , bulir-bulir air mata mulai menetes di pipiku.

“Dir, kamu menangis?” tiba – tiba Sita sudah ada di dekatku. “Tak seharusnya kamu menangis, bukankah Ronald sudah bukan pacar kamu lagi?” Aku buru-buru menghapus airmataku. Iya Sita benar, aku bukan siapa-siapa nya Ronald lagi.

“Aku pamit pulang ya.” Kataku pada Sita. “Iya, makasih kamu sudah menolong Ronald.” Kata Sita. Lalu aku melangkah keluar, walaupun di dalam hati aku sangat mengkhawatirkan kondisi Ronald.

Belum jauh aku berjalan, tiba-tiba aku dengar ada yang memanggilku. Aku menoleh, kulihat Vina adik Ronald berlari ke arahku. Lalu aku menghentikan langkahku.

“Kak Dira, jangan pulang dulu. Kak Ronald sudah sadar, dan dia mencari Kak Dira.” Kata Vina padaku. Aduh, bagaimana ini, aku nggak mungkin membuat Sita cemburu padaku. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan Ronald.

Lalu aku memutuskan untuk kembali. Sampai di sana kulihat Sita memandangiku dengan sinis. Sita, maafkan aku, aku tidak mungkin menyakitimu, tapi aku juga tidak mungkin mengecewakan Ronald.

Karena aku yang ceroboh, dia jadi begini. Aku sempat ragu ketika akan masuk ke ruang IGD. Lalu Ibu Ronald mendekatiku. “Masuk saja Nak, dari tadi Ronald memanggil-manggil namamu. Tolong ya, kondisi Ronald sudah parah. Dia sakit kanker otak.” Betapa kagetnya aku ketika mendengar cerita Ibunya Ronald.

Begitu juga Sita, dia tampak sangat syok ketika tahu keadaan Ronald, dia menangis histeris. Pasti Sita sedih sekali, pacar yang dia cintai ternyata sakit parah. Sebenarnya aku juga merasakan kesedihan yang sama, tapi aku nggak mungkin mengungkapkannya.

Akhirnya pelan-pelan aku masuk ke ruang IGD. Di situ tubuh Ronald terbaring di tempat tidur dengan banyak selang yang melilitnya. Aku jadi semakin sedih saat tahu kondisi dia sangat lemah. Dia tersenyum tipis padaku, tampak sekali dia menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Aku membalas senyumnya lalu mendekat ke ranjang tidurnya. “Ronald, maafkan aku ya, karena aku dorong akhirnya kamu jadi sakit begini.” Dia tersenyum tipis. “Nggak papa, memang kondisi aku sudah begini.” Kata Ronald dengan suara lemah.

“Dira, makasih ya… udah menolong aku.” Ucap Ronald lagi. “Itu karena salah aku Ronald, maafkan aku.” Kataku. “Dira, di sisa umurku, aku ingin kamu tahu kalau aku masih mencintaimu, aku menyayangimu.” Kata Ronald sambil menggenggam tanganku. Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa dan aku juga tidak melepas pegangan tangan Ronald.

Lama kami terdiam, hingga akhirnya datang Sita. Tentu aku sangat terkejut, buru-buru aku melepaskan pegangan tangan Ronald.

Sita mendekat ke arah Ronald, aku sedikit melangkah mundur. “Aku keluar ya.” Kataku.
“Nggak usah Dir.” Cegah Sita. Aku merasa nggak enak, mungkin tadi Sita telah melihat saat Ronald menggenggam tanganku, mungkin dia juga mendengar kata-kata Ronald padaku.

“Dira…Ronald…maafkan aku ya…aku tahu cinta kalian begitu besar. Aku tahu selama ini Ronald tidak pernah mencintaiku.” Airmata Sita mulai bercucuran. “Tapi aku sadar, aku nggak mungkin menghancurkan cinta kalian, aku ingin kalian bersatu.” Kata Sita sambil meraih tanganku dan dia satukan dengan tangan Ronald.

“Aku mundur…..” jawab Sita pelan dan berurai airmata. Aku pun ikut menangis, pasti hati Sita sangat sedih. Lalu aku peluk dia, aku hapus airmatanya.

Ketika kami berpelukan, tanpa kami sadari kondisi Ronald ngedrop, indikator mesin menyala. Tentu saja kami sangat kaget, lalu aku buru-buru memanggil-manggil suster dan dokter.

Dengan sigap dokter dan perawat menangani Ronald. Dia tidak sadarkan diri lagi. Ya Allah, berikan keajaiban, tolonglah Ronald ya Allah. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD.

“Maaf kondisi Ronald memburuk, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain.” Kata dokter. Tentu kabar ini sangat mengejutkan bagi kami. Sita langsung terjatuh pingsan. Sementara aku, tak juga bisa menahan tangisku pecah. Aku menangisi kepergian Ronald yang secepat ini. Aku lihat tubuhnya sudah terbujur kaku ditutupi selimut. “Selamat jalan sayang” kataku dengan suara pelan saat tubuhnya dibawa keluar ruang IGD menuju kamar mayat.

Semoga kamu tenang di sana, di sini aku akan bergenggaman tangan dengan Sita sahabatku yang sangat menyayangimu. Biarkan cintamu ada di dalam hati kami berdua, kami akan selalu berdoa untukmu. Selamat jalan sayang.


Terima kasih telah membaca cerita sedih mantan pacar lari pagi sampai mati. Semoga cerpen cinta diatas bermanfaat dan menghibur. Tetaplah semangat dan optimis. Salam sukses selalu.

Dibagikan



Kiriman terkait

Melepas Masa Lalu

Adra Putri Wahyuni

June 24, 2017

Cerpen

No Comment

1 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 5 (Rating: 4.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Melepas masa lalu adalah curahan hati menunggu kepastian cinta setelah dia mengetahui gebetannya masih berharap pada masa lalunya. Meski setiap orang memiliki masa lalu, tidak semua orang bisa begitu saja lepas dari kenangan. Bagaimana cerita curhatnya ? simak curhatan kisah nyata berikut : Curahan Hati Menunggu Kepastian Cinta – Melepas Masa Lalu Hingga kini aku […]

Baca

Indahnya Saat Berbagi

Putri Wahyuningsih

June 21, 2017

Cerpen

No Comment

0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...

Indahnya saat berbagi adalah cerita pendek Islami tentang bulan Ramadhan yang diawali oleh sebuah insiden saat seorang bocah menunggu jemputan. Bagaimana kisahnya ? simak cerpen Ramadhan berikut : Cerita Pendek Islami – Indahnya Saat Berbagi “Awas. “. Teriakan yang dibarengi aksi itu terdengar begitu keras diiringi dengan dua tubuh kecil yang terhempas dipinggiran jalan. Rumi […]

Baca
Melepas Masa Lalu
1 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 51 vote, average: 4.00 out of 5 (Rating: 4.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Lebaran Ini Aku Tidak Pulang
1 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 51 vote, average: 1.00 out of 5 (Rating: 1.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Indahnya Saat Berbagi
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Perubahan Nella
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...
Perempuan Di Ujung Jalan
0 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 50 votes, average: 0.00 out of 5 (Rating: 0.00 / 5) Silahkan login untuk memberi peringkat.
Loading...