Harapan Yang Tertunda

cerita inspiratif pendek

Cerita inspiratif pendek harapan yang tertunda adalah karya Taufik Ramadhan, penulis berbakat yang bergabung dengan komunitas cerita pendek bisfren sejak tahun 2013. Cerita kehidupan harapan yang tertunda syarat akan pesan rohani dan hidup sebagaimana karya cerita pendek lain dari penulis ini.

Cerita Inspiratif Pendek Harapan Yang Tertunda

Zainab masih terduduk di bibir tempat tidurnya, nafasnya terlihat naik turun dengan cepat, mukanya pun pucat seakan tak berdarah. Dirasakan kepalanya semakin berat tak kepalang. Dadanya berusaha menghirup nafas secara teratur, sesekali juga berusaha menekan kuat menahan nafas diperutnya, namun usahanya sia-sia, semakin kuat menekan semakin kuat pula tekanan diperutnya berusaha naik keatas. Membuat sekujur tubuhnya terasa gemetar demi menahannya.

Namun sekarang sudah benar tak tahan lagi, diputuskannya untuk mengakhiri pertahanan, seketika juga dirinya berusaha bangkit dari duduknya, segera berlari menuju kamar mandi. Namun kalah cepat, tekanan dalam tubuhnya berhasil melesak naik keluar dari perut, kemudian keluar bebas melalui kerongkongan, mulutnya hingga akhirnya jatuh kelantai kamar. Bersyukur tangannya berhasil menampung sebagiannya, walaupun tak banyak tak apalah menurutnya, setidaknya tidak seluruh muntahan jatuh mengotori lantai kamarnya.

“Nab…, kamu nggak apa-apa sayang ?” terdengar suara laki-laki dengan langkah kaki terdengar gaduh masuk kedalam kamar, kemudian menghampiri dirinya masih berjongkok didepan muntahannya.

Affandi menyorongkan segelas air hangat dibawanya dari dapur kepada Zainab lalu langsung diminum oleh istrinya. Affandi merasa lega, untung saja air tadi tak tumpah, betapa dirinya terkejut kemudian berlari-lari dari dapur kekamar demi mendengar suara istrinya muntah-muntah tadi.

Affandi menuntun Zainab kembali duduk pada bibir spring bed mereka, kemudian membersihkan telapak tangan dari sisa muntahan istrinya. Hanya sedikit air ludah, sama dengan muntahan-muntahan kemarin. Affandi mengusap keringat membasahi kening istrinya, ketika tangannya mengusapnya, terasa dingin sekali kulit istrinya, sedingin hatinya Affandi yang sedang galau. Apakah tanda-tanda perpisahan sudah mulai semakin dekat ?. Dirinya  tak berani menjawabnya sendiri.

Suaminya tetap setia meski istrinya di vonis mengidap penyakit parah

“Zainab.., sepertinya kita harus segera kerumah sakit sayang”.

“Untuk apa lagi mas ?, bukankah semuanya juga toh akan menjadi sia-sia”.

“Ya setidaknya, kita coba bertanya kembali kepada Ahmad apa ada solusi pencegahannya, mungkin saja ada teknologi terbaru dunia kedokteran bisa menyembuhkan penyakitmu”.

“Ah ya udah lah mas, aku sudah ikhlas. Kamu juga udah janji akan berusaha ikhlas. Lantas ketika penantian semakin dekat kok kamu macamnya mau lari dari takdir”.

Zaenab berusaha tersenyum dihadapan suaminya, walaupun senyumnya terlihat dipaksakan karena memang masih menahan nyeri diperutnya.

“Tapi Ahmad juga berpesan padaku agar selalu melaporkan perkembangan terjadi sayang, kejadian muntah-muntah sudah berlangsung tiga hari Nab, hatiku takut juga kuatir sekali”.

“Mas fandi, kamu kalo lagi cemas ntu kok malah makin ganteng aja ya, bener, aku nggak apa–apa kok, mungkin karena susah makan sehingga masuk angin”.

“Kamu ngomong apa toh Nab, ngawur aja…, pake acara males makan segala, katanya nggak mau mikiran lagi tapi malah jadi kepikiran terus. Yaudah, pokoknya kamu berkemas, kita berangkat sekarang juga. Walaupun takdir milik Allah, tapi kita juga mesti ikhtiar”.

Panggil dokter saja

“Maaf mas, udah ngebikin kamu repot, tapi memang aku sudah nggak kuat lagi mas, badanku lemas banget, kalo mas fandi memang maksa, kenapa nggak suruh Dokter Ahmad nya saja kemari, sekalian juga mau ketemu sama dia, mau minta maaf”.

“minta maaf apa ? Kamu makin ngelantur aja Nab”.

“ya minta maaflah atas kejadian di rumah sakit dulu, aku takut sakit hati serta dendamnya bisa membuatku terhalang masuk surga”.

“Ah kamu semakin melantur saja ngomongnya. Ya sudah, biar kutelepon Ahmad agar mau datang kerumah”.

Sang istri tersenyum kepada suaminya, senyumnya sekarang sudah tidak dipaksakan lagi karena sakit diperutnya mulai terasa enakkan setelah minum air hangat pemberian suaminya tadi, perlahan dirinya bangkit berjalan menuju kamar mandi kamarnya.

Dibukanya kran air wastafel kemudian membasuh wajah pucatnya, ya memang terlihat pucat. Dirapikannya rambut panjang tergerai tak beraturan, membasuh sedikit air kemudian menyisir dengan jari-jari tangannya lalu menggulungnya menjadi sebuah untaian sanggul kecil diatas kepalanya.

Matanya melirik baju kurung yang dikenakan. Terasa begitu longgar bajunya sekarang, bahkan memang benar-benar sangat longgar. Betapa tidak, bajunya dulu begitu pas bahkan terkesan sempit ditubuhnya, namun sekarang terlihat lusuh serta kuyu membungkus badannya. Sungguh perubahan sangat drastis dalam waktu hanya dua bulan terakhir pasca dirinya mendengar vonis penyakit dideritanya.

Sebenarnya masalah utama mereka ingin memiliki anak

Masalah mereka sebenarnya hanya masalah sederhana, sebagai sepasang suami istri telah dua tahun menikah, dambaan seorang anak merupakan impian serta cita–cita hidup mereka.

Berbagai macam usaha telah ditempuh pemeriksaan kesehatan hingga jalur alternatif juga telah dilakukan. Hingga akhirnya dua bulan lalu, setelah mereka hampir lelah berobat kesana kemari demi untuk mendapatkan keturunan, dirinya memutuskan mengikuti saran suaminya untuk berkonsultasi pada Dokter Spesialis Kandungan ternama baru membuka praktek di kota tempat tinggal mereka. Ternyata Dokter spesialis Kandungan tersebut adalah teman akrab suaminya dulu. Dokter Ahmad namanya .

Dokter berjenggot terkesan alim itu pada awalnya memberikan harapan baru buat Zainab serta suaminya. Namun setelah melalui beberapa tes uji klinis, entah kenapa zaenab jadi sangat membenci Ahmad melebihi kebenciannya pada orang atau sesuatu hal pernah dibencinya. Dirinya menganggap Ahmad bukannya seorang penolong pemberi harapan baru dalam rumah tangga mereka, tapi Ahmad telah benar-benar merusak serta menghancurkan harapan serta impian dibangunnya bersama suaminya dengan sebuah vonis bahwa dirinya tak bisa memiliki keturunan karena positif mengidap penyakit kanker rahim kronis tanpa pernah dirasakannya.

Tak sampai disitu saja, Ahmad bahkan memvonis dirinya akan bertahan hidup hanya selama 40 hari lagi. Benar-benar Ahmad telah membunuh harapannya, perasaannya sungguh terbunuh mendengarnya, seperti terbunuhnya rasa malu sehingga langsung menampar wajah Ahmad serta memaki-makinya dengan segala makian masih dihapalnya. Kalau saja Affandi tidak segera menahannya, mungkin saja dirinya akan membuat suasana semakin malu lagi.

Zainab melihat betapa Affandi sangat menyesalkan keputusannya untuk membawanya berobat kepada teman akrabnya. Namun dirinya maklum kesalahan bukan pada suaminya, dia sudah melakukan hal benar, termasuk juga Dokter Ahmad temannya juga sudah bekerja dengan benar, kesalahan adalah dirinya, takdir telah meletakkan penyakit paling ditakuti oleh semua wanita didunia. Walaupun harapan – harapan juga motivasi berfikir positif selalu diberikan untuk selalu memeriksakan serta melaporkan kondisinya setiap minggunya namun tetap tidak bisa mengembalikan harapan hatinya yang terlanjur kosong. Dirinya mulai lebih banyak termenung, kurang nafsu makan, bahkan hampir tiada mau makan.

Hingga sebelumnya tubuhnya dikenal gemuk dikalangan ibu-ibu rumah tangga berubah menjadi wanita kurus, syukurnya tidak sampai terlihat sangat kurus. Hanya membuat semua pakaiannya menjadi terasa kendor juga melorot.

Dirinya sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Terkadang ia merasa kasihan bercampur haru melihat Affandi berusaha terus menghibur sekaligus memberi semangat untuknya. Walaupun matanya bisa menangkap kebohongan pada wajah suaminya. Sebuah kepura–puraan untuk berusaha tegar padahal sebenarnya rapuh, serapuh hatinya.

Sering dirinya menangkap suara isakan tangis sang suami, manakala terjaga dari tidur lalu melihat suaminya tengah memanjatkan tangan berdo’a dalam sholat tahajjudnya demi kesembuhan penyakitnya, sementara diirnya hanya bisa menahan tangis, berusaha menahannya dalam–dalam agar sang suami tidak mendengar.

Setelah hampir 1 bulan pasca vonis penyakit mematikan tersebut, walaupun perasaan serta harapan hidupnya sudah hancur, dia masih saja berusaha bangkit merubah dirinya. Ia tidak boleh larut dalam kesedihannya, karena dirinya tak ingin membuat sedih suami. Dambaan kehadiran seorang anak sudah tak lagi menjadi impian serta harapan utamanya. Setiap hari harinya ingin dihabiskannya untuk tampil ceria juga tegar dihadapan suami. Berusaha selalu tertawa serta gembira. Dia tetap berupaya melakukan akftivitasnya melayani suaminya lahir bathin. Dirinya benar-benar ingin membahagiakan suami sampai sisa akhir waktu maut menjemputnya.

Kehidupan mereka berubah total, dirinya dahulu terkesan sebagai istri manja, doyan jajan juga bersifat egois, berubah menjadi istri mandiri juga mengalah. Terkadang suaminya menyarankannya agar bersikap biasa – biasa saja, namun perubahan sudah terjadi sedemikian drastisnya. Bahkan sang suami sering menangkapnya sedang menangis di dapur atau kamar mandi, atau ketika tengah berdo’a, atau sekedar membaca Alqur’an.

“Kamu nggak apa – apa kan sayang, 15 menit lagi Dokter Ahmad akan datang”, kata sang suami dari pintu kamar mandi. Lamunan Zainab buyar karenanya.

“Oh, mas Fandi, kamu mengagetkanku saja. Iya aku baik – baik saja kok, hanya saja tadi cuma..”

belum selesai mulutnya bicara tiba – tiba sang suami sudah berada dibelakang tubuhnya dengan kedua tangannya melingkari pinggang sang istri.

Zainab melirik wajah murung suaminya, sebuah guratan basah bekas aliran air jatuh dari kedua pipi membuatnya tak kuasa menahan kedua kelopak mata terasa panas, namun tetap berusaha ditahannya.

“Aku sangat mencintaimu sayang, sungguh tak ingin berpisah darimu”. Meski suara sang suami begitu serak berbisik ditelinganya. namun suaranya terdengar keras karena bercampur dengan isakan tangis berusaha ditahannya.

Zainab hanya bisa menggigit bibirnya kuat – kuat betapa dirinya hampir larut dalam kesedihan suaminya. Namun ia segera menguasai emosinya, berusaha tersenyum walaupun matanya terlihat sudah berkaca – kaca, tubuhnya berbalik menghadap suaminya.

“Aku juga mencintaimu mas, sangat mencintaimu, kau benar – benar telah menjadi sosok pendamping hidup setiaku, beruntung bisa terlahir serta hidup bersamamu. Jika harus berangkat pergi, sungguh tak akan pernah menyesalinya mas, hatiku bahkan merasa bangga”.

“Jangan berkata seperti itu sayang. Sungguh jangan pernah mengatakan itu, kau akan selalu bersamaku selamanya. Aku tak sanggup berpisah denganmu, percayalah…”.

Affandi kembali memeluk tubuh zainab, kali ini pelukannya terasa sangat kuat, seolah – olah ia merasa tidak ingin melepaskan istrinya untuk pergi sedetikpun dari dirinya, isakan tangis mereka memecah di keheningan ruangan kamar mandi itu, begitu terasa berat dan terisak –isak, sungguh sebuah luapan emosional diri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata, dan dilukiskan dengan sejuta warna apapun.

Dan tangisan sepasang insan yang sedang dirundung gundah gulana itu akhirnya harus terhenti, manakala terdengar suara bel pintu mengema diruagan tamu, sepertinya ada tamu yang datang.

“ itu aku rasa Ahmad yang datang, sebaiknya kau berkemas – kemas lah rapi sayang, biar aku yang bukakan pintunya..”

Affandi melepaskan pelukannya, tersenyum kepada Zainab kemudian bergegas menuju pintu depan rumahnya. Benar saja, begitu pintu terbuka sudah berdiri dihadapannya seorang lelaki berjas putih bersih, Dokter Ahmad.

Affandi mempersilahkan masuk temannya. Setelah berbasa – basi sebentar, dipersilahkanlah temannya menuju ruangan kamar tidur. Ahmad mengikuti Affandi dari belakang, ketika sampai didepan pintu kamar terbuka, Ahmad bisa melihat sosok Zainab sudah terbaring ditempat tidur. Melihat ada tamu datang wanita tersebut bangkit duduk lalu bersandar di pembaringannya.

“Apa kabar Zainab, hampir 2 bulan tak bertemu, banyak perubahan besar pada dirimu ya ?”, ujar Dokter Ahmad, mengambil kursi kemudian duduk di samping Zainab. Dibukanya tas kemudian mengeluarkan beberapa peralatan medis.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Zainab ?”.

“Seperti kau lihat, Dokter. Aku masih hidup…”, bibirnya mencoba tersenyum tipis. “Maafkan kami dok, setelah kedatangan terakhir, kami tidak pernah lagi datang periksa” lanjutnya lagi.

“Oh ndak apa – apa, suami kamu sering kok memberikan kabar kondisimu kepadaku melalui telepon,”

“benarkah ?”.

“lah orangnya ada disini, silahkan tanya sendiri”.

Zainab melirik suaminya, Affandi hanya menggaruk – garuk kepalanya sambil tersenyum sedikit kecut.

“Aku kuatir melihat keadaanmu sayang makanya sering berkonsultasi pada Ahmad”.

Affandi menyeringai.

“boleh saya memeriksa tubuh kamu Zainab ?”.

“silahkan Dok..”

Zainab mengubah posisi duduknya menjadi berbaring, lalu Dokter Ahmad mulai melakukan pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan detak jantung, tensi tekanan darah, serta beberapa masalah medical chek – up lainnya.

“boleh kamu kekamar mandi sebentar ?, saya ingin mengambil sample urine kamu untuk melakukan beberapa tes kesehatan berikutnya”.

“Baik dok”, Zainab mengangguk kemudian menerima sebuah gelas plastik kecil dari Dokter Ahmad. Dengan bantuan sang suami ia pun segera bergegas kekamar mandi. Kemudian Affandi kembali menjumpai dokter Ahmad.

“Gimana kondisi terakhir istriku, Ahmad ?, apakah ada perkembangannya”.

“Aku belum tahu Fan, kita lihat tes hasil urine nanti. Mudah mudahan ada sebuah keajaiban”,  ujarnya datar.

“Tapi masih ada harapan kan Mad ?, sungguh kuharap engkau bisa membantuku Mad”.

Dokter Ahmad menghentikan kegiatannya, menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya pelan – pelan.

“Bukankah dari dulu pertama kali kau datang kepadaku, sudah kuingatkan ?”.

“Benar sih, tapi hatiku sangat kuatir Mad…”

“Affandi, kau percaya Allah ?”.

“Percaya !”.

“Kau percaya Qodho serta Qodar Nya ?”.

“Percaya, sungguh aku percaya !!”.

“Dan kau juga percaya kepadaku, temanmu ini ?”.

“Hanya kaulah harapanku Ahmad”.

“Kalau begitu, biarkanlah aku melewati pemeriksaan terakhirku, sahabatku”.

Affandi merasa lemah untuk kembali bertanya, nafasnya terasa berhenti. Temannya terasa begitu dingin kalau sudah mengenakan Jas putihnya. Dia baru saja hendak mengumpulkan beberapa pertanyaannya lagi, namun segera diurungkannya setelah melihat sang istri keluar dari kamar mandi sambil membawa gelas plastik telah berisi cairan bening sedikit menguning, kemudian menyerahkannya kepada Dokter Ahmad.

Affandi menghampiri istrinya kemudian mendudukkan istrinya di bibir pembaringan lalu ia juga ikut duduk disitu. Mata mereka asik mengamati dokter tengah sibuk melakukan pekerjaannya. Affandi merangkul tubuh istrinya kemudian memudian mencium rambut istrinya tersebut. Sementara tangan Zainab menggenggam erat telapak tangan Affandi, mereka berusaha memberikan ketenangan masing – masing sambil menunggu sebuah keputusan masih dalam proses penantian.

Dan proses pencarian tesebut berhenti, sang Dokter menghentikan segala aktifitasnya, kemudian duduk dikursi mengahadap kepada kedua pasang manusia tengah menanti sebuah jawaban penentu antara hidup mati salah satu dari mereka. Mata Dokter menatap tajam kepada sepasang suami istri terlihat tegang.

“Apakah kalian sangat saling menyayangi ?”.

Keduanya mengangguk secara serentak.

“Apakah salah seorang dari kalian sudah siap menerima ketentuan Allah berlaku kepada kehidupan kalian ?”.

Tiada jawaban keluar dari kedua pasangan, hanya remasan tangan keduanya semakin terasa begitu erat.

“Apakah memang akhirnya harus begitu, Ahmad ? Apakah…” Affandi menjawab lirih.

“Saya siap Dokter, apapun keputusan Allah berikan kepada saya, saya sudah siap. Saya sudah sangat siap juga ikhlas”, tiba – tiba Zainab menyela pembicaraan suaminya.

Dokter Ahmad tersenyum kearahnya, kemudian menarik nafas panjang sambil senyumnya muncul dari bibir penuhi jenggot hitam tebal dibawahnya.

“Zainab, Apakah engkau siap menjadi seorang ibu ?”.

“Maksud Dokter ?”, seperti diatur tiba-tiba sepasang suami istri terperanjat mengeluarkan pertanyaan sama.

“Ya, seorang ibu Zainab, Karena engkau sekarang bakal menjadi seorang Ibu, kamu hamil..!”, ujar Dokter Ahmad sambil merekah tawanya. Sementara Zainab, demi mendengar ucapan tersebut tiba–tiba saja kepalanya terasa semakin berat, matanya berkunang kunang semakin meredup lalu gelap, kemudian tiba – tiba saja tubuhnya sudah tersandar lemas dalam dekapan suaminya.

Affandi panik, Dokter Ahmad segera memeriksa keadaan Zainab, alis matanya sedikit berkerut namun kemudian bibirnya tersenyum kembali. Zainab rupanya pingsan, Affandi segera membaringkan Zainab di atas ranjang. Setelah keadaannya tenang diapun bergegas menghampiri sahabatnya.

“Permainan apa sebenarnya kau lakukan ini Ahmad ?”.

Affandi berusaha menarik bahu temannya, Ahmad hanya tersenyum lebar sambil menepiskan tangan Affandy dari bahunya.

“4o hari lalu kau datang bersama istrimu kepadaku untuk berkonsultasi bagaimana caranya agar dicarikan obat supaya istrimu cepat mempunyai anak bukan ?, nah setelah melalui pemeriksaan, istrimu sebenarnya tidak mengalami masalah apapun. Hanya saja ada gumpalan lemak mengikat di mulut rahim istrimu, sehingga upaya kalian untuk mempunyai anak jadi sulit tercapai…”.

“Maksudmu ?, jadi soal penyakit kanker rahim kronis itu ?”.

Ternyata sahabatnya itu berbohong

“Aku sengaja mengatur kebohongan untuk menakut – nakuti istrimu, karena kulihat istrimu dulu mengalami kegemukan badan sangat ekstrim, sehingga banyak sekali lemak menutupi bibir rahimnya. Sengaja kutakuti istrimu dengan kematian, karena yakin wanita mudah terbawa oleh beban pikirannya. Dan akhirnya pendapatku benar, istrimu sekarang sudah mengalami penurunan berat badan drastis sehingga kendala penyebab dirinya susah mempunyai anak sudah hilang. Selamat istrimu sudah positip hamil dan mengandung bayimu…”.

“Bajingan kau Ahmad..!! ”

Ujar Affandi geram, mair matanya tak terasa membanjiri pipinya, hampir saja sebuah pukulan mendarat kepipi Dokter itu manakala Affandi membatalkannya secara tiba – tiba kemudian menggantikannya dengan sebuah pelukan erat ke tubuh sahabatnya itu.

“Bajingan kau Ahmad…., bajingan kau.., bajingan..ha.ha.ha.ha.!!”

Ujar Affandi marah sambil menangis dan tertawa, pelukannya semakin erat ke tubuh Dokter kandungan itu, sehingga membuat nafas Ahmad terasa tersengal.

“Dan sekarang, apakah kau hendak membunuh temanmu ini dengan makian dan pelukkanmu ini?”

“maafkan aku sobat, aku terlalu gembira atas ending drama yang kau buat kepada kami” Affandi melepaskan pelukannya.

“Entah bagaimana caraku untuk menjelaskannya nanti kepada Zainab, bangsat, hah..!! hehehe..”

“Tidak ada maksud buruk apapun dariku kepada kalian kawan, sampaikanlah permintaan maafku kepada Zainab, dan bawalah besok ia ke rumah sakit atau klinikku Fan, biar aku berikan obat anti muntah kepadanya..”

“Baiklah, aku akan membawanya besok ke tempatmu, Ahmad, terima kasih banyak.”

“Sama – sama sahabatku. Assalamualaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Entah bagaimana menjelaskan kebohongan itu, tapi terwujudnya harapan mereka untuk memiliki bayi mungkin bisa mencairkan suasana

Sebuah senyum tersungging dari kedua bibir laki-laki itu. Affandi melambaikan tangannya kepada Ahmad yang telah berlalu dengan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya, Affandi bergegas menutup pintu rumahnya kemudian segera menuju keruangan kamarnya setelah terdengar suara istrinya yang memanggil – manggil namanya.

Seuntai senyum dan berusaha mengumpulkan beberapa argumen yang tepat harus segera ia siapkan sebelum ia masuk kedalam ruangan kamar mereka yang disana pasti sudah menunggu istrinya yang sudah dipenuhi berbagai macam – macam pertanyaan yang siap dilontarkan kepada Affandi, Namun Affandi tidak merasa gentar, malah ia merasa pertanyaan pertanyaan itu bakalan menjadi sebuah percakapan indah dan romantis.

Kisah ini aku tuliskan buat sahabatku yang baru saja mengandung calon anak pertamanya, semoga Engkau dapat mempersiapkan dirimu untuk menjadi seorang ibu yang baik hati


Terima kasih telah membaca cerita inspiratif pendek kehidupan keluarga Harapan Tertunda. Semoga cepen diatas menghibur dan dapat memberi inspirasi bagi pemirsa setia Bisfren sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait