Tutup Buku

cerita pernikahan sandiwara

Tutup buku adalah cerita pernikahan sandiwara seorang gadis ditinggal kawin lalu bertemu dengan mantan pacar di media sosial. Adakah sisa rasa cinta mampu membuatnya mengabaikan keterpurukan pernah dialaminya akibat patah hati ? Atau kesendirian membuatnya tanpa sadar terperangkap permainan kejar aku kau kutangkap mantan pacarnya ? simak pada cerpen mini berikut :

Cerita Pernikahan Sandiwara – Tutup Buku

Semua bermula ketika dia mengajakku bertemu setelah beberapa lama hanya sesekali berkomunikasi melalui media sosial. Dengan nada santai seakan cuma bercanda dikatakannya penasaran ingin sekali melihat diriku setelah sekian lama kami berpisah. Awalnya memang tidak ingin ku tanggapi mengingat dirinya dulu pernah membuatku sakit hati karena pergi begitu saja untuk wanita lain sementara diriku sudah menyerahkan segala yang kumiliki.

Akan tetapi sikap cueknya serta mungkin masih ada rasa cinta dalam hatiku akhirnya justru diriku sendiri menjadi penasaran ingin bertemu dengannya. Bagaimana tidak, sekian tahun berteman melalui medsos tidak sekalipun dia memberi suka pada status-statusku, sama sekali tidak pernah berusaha mengirim pesan secara langsung maupun tersamar, bahkan sama tiada pernah berusaha meminta nomor HP atau pin BBM. Tidak pernah. Dia seakan angkuh dalam dunianya, namun selalu menjawab bisa kutanya. Cuma sekali saja dia mengatakan penasaran ingin melihatku.

Hal inilah pada akhirnya membuatku memancing-mancing supaya dia mengulangi permintaannya untuk bertemu. Ditambah lagi hubunganku dengan suami agak renggang karena dia sering bertugas ke luar kota membuat hatiku menjadi semakin merasa kesepian. Aah .. seandainya suamiku selalu ada di rumah tentunya tak perlu kubuka laman medsos tuk habiskan waktu.

Keterpurukan menjadi pernikahan meski awalnya hanya sandiwara

Pernikahanku dengan suamiku memang hanyalah pernikahan sandiwara, sebenarnya dia tidak mencintaiku dan akupun tidak mencintainya. Akan tetapi nasib kemudian mempersatukan kami meski berjalan tanpa jiwa. Saat itu diriku tengah mengalami kondisi paling rendah setelah ditinggalkan mantan pacarku, sementara suamiku juga mengalami hal sama. Kami berdua bisa dikatakan nyaris menjadi gila sehingga orang tuanya bertemu dengan orang tuaku kemudian memperkenalkan kami hingga akhirnya kami menikah.

Sejak menikah, kondisi jiwa kami berdua bisa dikatakan menjadi kembali normal. Perlahan diriku juga dirinya mulai bangkit seakan menikah menjadi cara move on paling tepat  buat kami berdua. Akan tetapi kusadari masih ada bayang-bayang mantan pacar dalam hatiku, entah dengan dirinya. Akan tetapi jika melihatnya senang sekali memilih tugas di luar kota untuk waku lama membuatku berpikir mungkin hatinya merasakan hal sama denganku. Namun kuyakini bahwa suatu saat kami sepenuhnya akan melupakan kenangan masa lalu.

Perlahan-lahan hatiku mulai terbagi, hatiku mulai mencintainya. Demikian pula dirinya, kuyakin dia mulai mencintaiku meski belum bisa melupakan mantan pacar. Kemudian lahirlah putri pertama kami diikuti dengan putri kedua kami dua tahun berikutnya. Tetapi tetap saja dirinya lebih memilih ditugaskan ke tempat-tempat jauh. Alasannya dengan bertugas ke luar kota dia bisa mendapat tambahan uang perjalanan.

Ada tanda-tanda mantan pacarku ingin bertemu

Suatu malam usai menidurkan kedua putriku, aku membuka aplikasi media sosial seperti biasa.  Sebuah pesan muncul, sepertinya baru saja dikirimkan. Bunyinya “Kita ketemu yuk, kangen pengen lihat kamu sekarang seperti apa” katanya.

Hatiku langsung berbunga-bunga, langsung saja kujawab “Mau ketemu kapan ? dimana ? aku harus titip anakku dulu kalau mau ketemu”. Dijawabnya “Terserah kamu aja, jangan jauh-jauh dari rumah kamu kalau begitu”. Otakku berpikir cepat lalu menyebutkan sebuah Mall yang jaraknya 30 menit perjalanan dari rumahku kalau naik ojek motor. Diapun menyetujuinya. Kaipun kemudian saling bertukar nomor ponsel. Sejak saat tersebut hatiku berdebar-debar tidak karuan membayangkan bagaimana pertemuan kami kelak.

Hingga waktu yang disepakati tiba, kutitipkan kedua anakku pada adikku, ku katakan diriku ada keperluan. Jantungku benar-benar berdegub luar biasa. Langkahku perlahan menuju sebuah rumah makan cepat saji sebagaimana dijanjikan. Kulihat dari kejauhan dia masih tampak sama seperti dulu. Cuek terhadap sekitar, asyik dengan makanan dan laptop di hadapannya.

Mantan pacar masih saja mampu membuatku terpana

Aku berdiri di hadapannya, dia menoleh kaget. “Hai … Dina. Ayo duduk” katanya seraya langsung mematikan laptop kemudian menutupnya. Akupun duduk. Dia menawarkan untuk memesankan minuman yang langsung ku-iyakan. Dia masih saja gagah dan simpatik. Harus kuakui bahwa dirinya masih mampu membuatku terpana.

Kami makan sambil ngobrol kesana-kemari. Bercerita tentang kegiatan masing-masing tanpa sedikitpun menyentuh cerita masa lalu. Sesungguhnya hatiku bingung untuk merasa bahagia atau sedih mendengar cerita bahagianya. Disatu sisi hatiku bangga kepadanya, disisi lain aku merasa seharusnya diriku ada dalam cerita kisah hidupnya. Akan tetapi semua coba kututupi dengan senyumku dan lebih banyak mendengarkan.

Tanpa terasa sudah 2 jam berlalu, kukatakan bahwa diriku harus kembali pulang ke rumah. Seakan baru menyadari telah berbicara panjang lebar, diapun mengiyakan serta ingin mengantarku pulang. Namun kutolak tawarannya. Kukatakan “Jangan, nanti kalau ada orang lihat bisa repot”. Diapun mengerti. Kami berpisah pulang ke rumah masing-masing.

Malam itu kurenungi kembali pertemuan kami. Dirinya terlihat begitu sukses, berbeda dengan keadaanku. Meski diriku tak menjadi bagian dari kesuksesannya setidaknya itu sudah membuat hatiku bangga padanya. Tetapi diriku tidak boleh membiarkan kesepianku menjadi alasan untuk kembali padanya. Satu pertemuan kurasa sudah lebih dari cukup. Tak ingin kubuka peluang lebih besar yang bisa berakibat pada kehancuran. Bagaimana kalau istrinya tahu ? Bagaimana kalau suamiku tahu ? Bagai kalau ternyata dia hanya sedang merasa jenuh lalu mencoba mencari sesuatu dari kepingan kebanggaan masa lalu ?

Tutup buku

Kuputuskan malam itu juga untuk menutup aku media sosialku, me-nonaktifkan nomor ponselku. Kututup buku dan menghapus semua kemungkinan untuk bisa berjumpa dengannya lagi. Biarlah kujalani pernikahan sandiwara dengan kesucian hati dalam lembaran baru buku hidupku bersama suamiku.


Terima kasih telah membaca cerita pernikahan sandiwara. Semoga cerpen mini diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan berfikir logis, jadikan segala peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk menghasilkan karya gemilang dan mencapai sukses.

Dibagikan

Dina Amalia

Penulis :

Artikel terkait

3 Comments

  1. Kata orang, pernikahan itu paling lama 10 tahun karena cinta. Setelah itu isinya adalah pernikahan sandiwara. kata orang ya … 🙂