Desta

cerita pendek misteri desta siluman srigala

Desta merupakan cerita pendek misteri kisah cinta sejati namun terpisah karena dia dijadikan persembahan siluman serigala, Margo. Cerpen misteri ini cukup panjang untuk disebut sebagai cerita pendek karena sebelumnya dipersiapkan untuk menjadi novel sehingga banyak konflik di awal cerita harus dibaca pada bagian lain. Akan tetapi cerita misteri ini disusun ulang menjadi cerpen lalu disajikan bagi komunitas cerita pendek.

Cerita Pendek Misteri Desta

Nesa terbaring telanjang di atas altar. Hatinya pasrah menyerahkan tubuhnya kepada mahluk pengganggu demi cintanya kepada Arman. Rembulan tampak dari langit-langit ruang tak beratap kini berada tepat diatasnya.

Tiba-tiba tanpa disadarinya. Sesosok mahluk muncul dari kegelapan di sudut ruang. Matanya merah darah. Berjalan mendekati Nesa. Perlahan. Nyaris tanpa suara. Telinga runcingnya bergerak-gerak memastikan tidak ada penganggu kenikmatannya.

Nesa gelisah, batinnya menyadari kehadiran mahluk itu. Tapi dia tidak bisa melihatnya. Pandangannya kabur akibat wewangian dipercikan ke seluruh tubuh serta dupa dibakar oleh sang dukun. Badannya lemas. Tiba-tiba ketakukan menyergap hatinya.

Mahluk itu kian mendekat. Nesa menoleh kekiri dan kanan. Tidak ada satu orang pun. Hanya bau busuk keluar dari seringai mahluk itu kini tercium oleh hidung Nesa. Rasa takutnya makin menjadi. Muncul penyesalan mengapa dia mau dikorbankan. Bukankah lebih baik Arman mati lalu dirinya bisa memilih pemuda lebih gagah lainnya ?. Oh .. tidak, semua sudah terlambat sekarang.

Keringat Nesa mengalir deras. Nafasnya memburu. Dadanya sesak. Takutnya telah mencapai puncak. Dia mencoba mengangkat kaki untuk bangkit dan berlari. Tapi dia tak mampu. Ikatan tali benang sutra berwarna putih itu lembut tapi sangat kuat mengikat kedua tangan dan kakinya. Dan mahluk dengan seringai buas menunjukan gigi-gigi runcingnya itu kini telah berdiri dibelakang kepalanya. Liur berbau anyir meleleh layaknya lahar tumpah keluar dari mulutnya.

Mahluk tersebut bergerak kesamping. Kini Nesa bisa melihat mahluk setinggi dua meter itu dengan jelas. Dia menjerit, lalu menolehkan wajahnya kearah lain. Tak sanggup matanya melihat tubuh penuh bulu hitam mirip serigala. Airmatanya bercampur seguk. Sesal tiada lagi berguna. Mahluk itu menundukan kepalanya dan memandang penuh hasrat pada tubuh Nesa tanpa daya. Dipandangnya elok itu menyusur ujung kaki hingga kepala. Leher kakunya membuatnya harus menggunakan perut hingga kepala sehingga dada yang berlawanan arah harus dimajukan saat mengerakan kepalanya.

Tangan dengan jari-jari panjang berkuku hitam runcing mulai beraksi. Ada kilat cahaya di ibu jari sebelah kiri dari sebuah cincin berlian terikat baja putih. Kain penutup tubuh Nesa pun disingkap perlahan. Liurnya menetes mengenai tubuh Nesa yang bahkan tak lagi mampu berisak. Waktu semakin dekat. Kain tersingkap sebatas dada terus menuju perut hingga ke pusat.

Tiba-tiba mahluk tersebut berhenti menyingkap kain putih penutup tubuh Nesa. Ada sesuatu tak sesuai dengan hatinya. Dia tak ingin menikmati tubuh kaku gadis pingsan. Mahluk tersebut mengangkat kepala sejenak kearah wajah pucat Nesa sehingga dadanya membusung. Lalu diangkatnya tangan seraya menyapu telapak berjari serta kuku panjangnya pada kening Nesa.

Seberkas hawa panas memancar. Nesa mulai tersadar. Perlahan matanya terbuka. Dihadapannya tak terlihat lagi mahluk jelek menyeramkan melainkan sosok pangeran tegap lagi tampan telanjang dada dipenuhi bulu halus. Segala kengeriannya tergantikan oleh birahi memuncak. Ingatan akan mahluk buruk menakutkan telah terhapus oleh kekuatan gaib penguasa kegelapan. Bibir Nesa rekah. Jasad serta jiwanya telah terengkuh. Ruang gelap kini berupa pelaminan. Altar dirasa sebagai peraduan penuh bunga setaman. Birahi mencengkeram mencipta basah pada ranah perawan. Sucinya tak sabar lagi menanti.

Pangeran tampan jelmaan mahluk menyeramkan mengerti. Dijentikkan jari melarik empat sinar merah kearah kain pengikat. Talipun terputus. Tangannya menyambut tubuh Nesa tak sabar untuk bangkit. Bergayut dalam pagut. Alu menghentak lesung menyambut. Lalu terhempas dalam lengking puas mahluk durjana terdengar seantero jagad.

Pada saat bersamaan seluruh warga dusun menarik nafas lega. Persembahan telah diterima oleh sang penguasa. Bahkan orang tua Nesa merasa bahagia karena anaknya telah berbakti menyelamatkan warga.

******

Pagi merebak. Nesa terbangun dari lelapnya. Disangkanya dirinya telah mati dan berada di syurga. Tapi ternyata tidak. Hanya tubuhnya rentak ngilu sekujur. Dicoba mengingat apa telah terjadi malam tadi. Tapi benaknya hanya mampu mengingat saat dibaringkan, diikat, lalu ditinggalkan. Kemudian datang seorang pangeran tampan membawanya ke awan berkasih mesra. Nesa tersenyum bahagia. Penguasa kegelapan berjuluk Marbo tidak seperti didengar dari cerita orang. Marbo gagah, tampan lagi memikat. Diraihnya kain putih untuk menutup tubuhnya. Terlihat percik merah disana. Hatinya tak menyesal telah memberikan miliknya paling berharga. Hatinya dipenuhi cinta. Ingin hatinya terus tinggal disana bersama Marbo, penguasa kegelapan, kekasih pujaan hati yang baru malam tadi dilihatnya.

Tiba-tiba muncul ingatannya akan orang di dusun. Lalu sejuta tanya muncul dalam hati. Bagaimana kalau setahun lagi mereka kesini kemudian mendapatiku belum mati ?. Bagaimana kalau mereka mengetahui ternyata diriku telah menjadi pengantin mahluk ditakuti penjuru negeri ?. Bagaimana pula dengan kekasihnya, lelaki pengecut yang hanya berdiam diri ketika warga menggiringku ke atas altar ?.

Tapi kekasihnya bukan berdiam diri, bantahnya sendiri. Dirinya tiada daya karena desakan ratusan wajah penuh kemarahan.

Tapi untuk apa juga kupertahankan dirinya ?, batinnya lagi. Belum tentu dirinya bisa menerimaku karena telah bercinta dengan lelaki lain.

Lalu bagaimana kalau aku hamil ?.

Hamil ? Nesa tersenyum dalam ekspresi aneh. Justru dirinya berharap kehamilan buah dari hubungannya semalam. Seluruh rasanya telah dikuasai oleh Marbo membuatnya tiada lagi peduli. Kuasa gaib telah membuat kenikmatan malam tadi takkan pernah bisa hilang sampai mati. Menguasai jiwa hingga hatinya tak lagi tertarik pada lain lelaki.

Nesa bangkit perlahan kemudian duduk di pinggir altar. Diamatinya ruang mulai benderang oleh sinar matahari pagi. Tangannya meraba-raba dingin altar marmer. Ada rasa aneh pada jari manis tangan kirinya. Ditengoknya dan terkejut. Ada cincin baja putih berukir kepala serigala bermata merah dari batu Ruby. Senyum bahagia Nesa kembali mengembang. Diciumnya cincin tersebut layaknya mencium sang kekasih. Entah untuk apa cincin itu. Yang pasti benda tersebut membuat hatinya merasa tenteram tidak takut pada kesendirian.

*****

Arman berlari dan terus berlari menerabas semak, menyibak belukar. Tak dirasakan darah mengucur dari luka menganga disekujur tubuhnya. Fikirannya hanya satu. Lari dan terus berlari dari kejaran pemuda-pemuda kampung, Sebagian dari mereka adalah teman bermainnya sejak kecil. Baju dikenakannya koyak disana-sini terangas duri juga ranting. Telapak kakinya berjejak darah. Tapi kakinya terus berlari digelap malam menjelang purnama.

Bukan tanpa alasan dirinya dikejar para pemuda marah. Ketika kekasihnya, dibawa menuju hutan untuk dikorbankan kepada Marbo, dirinya yang tak kuasa menolak tiba-tiba muncul keberanian. Dikejarnya rombongan pengiring Nesa yang sudah sampai di tengah hutan. Tapi langkahnya dihadang oleh sekelompok pemuda bersenjata golok, tombak serta pedang. Mereka tengah berjaga di perbatasan hutan. Banyak obor bambu panjang berisi minyak jarak ditancapkan. Setiap orang berdiri di samping obor masing-masing sehingga wajah mereka jelas terlihat.

“Mau kemana ?”, hadang seorang pemuda dengan pedang terhunus sementara seorang temannya bersikap siaga menyilangkan di depan dadanya. Ada belasan orang pemuda disana. Mereka semua menggunakan baju, celana pangsi serta ikat kepala berwarna hitam. Hanya sabuknya berbeda-beda. Ada merah, putih juga kuning menunjukan tingkatan ilmu dikuasainya. Para pemuda tersebut adalah murid sekaligus pengawal Mukni, dukun sakti terkenal akan kehebatan ilmu kanuragannya. Sementara sang dukun sudah berada di tengah hutan mengantar persembahan.

“Lepaskan Nesa” bentak Arman.

“Ha … ha … ha …”, serentak para pemuda tertawa.

“Hei Arman… lebih baik kamu pulang lalu tidur. Cari gadis lain untuk menjadi istrimu. Karena Nesa adalah milik Marbo. Orang tuanya sudah mempersiapkan dirinya sejak kecil”, bujuk pemuda bersabuk kuning. Sewaktu kecil, pemuda tersebut adalah teman bermain Arman. Tetapi ketika remaja berguru pada dukun Mukni kemudian menjadi salah satu orang kepercayaannya.

“Tidaaaak…! Kalian telah memperalatnya. Mengancam serta menteror keluarganya..!”. Arman nekad melangkah maju menyibak pedang di hadapannya. Sontak semua pemuda bergerak menutup jalan menghadangnya. Kilat golok juga pedang diayun perlahan menandakan pemiliknya siap mencabik jika lawan nekat merangsak. Akan tetapi gerak mereka ditahan oleh Yan, pemuda sahabat kecil Arman. Perawakan Yan tak menonjol dibanding teman seperguruannya. Temannya rata-rata tinggi besar. Akan tetapi ilmu silat Yan sangat tinggi. Gerakannya lincah juga tenaga dalamnya sangat hebat. Ketika kecil, Yan belajar dasar ilmu kanuragan pada kakek Arman. Tetapi sayang, kakek Arman terlalu cepat berpulang sehingga pergaulan serta ambisi Yan untuk digjaya membuatnya memilih bergabung pada perguruan dukun Mukni.

“Arman, kita berteman sejak kecil. Bahkan kakekmu pernah menjadi guruku, guru kita. Jadi kuminta baik-baik kepadamu untuk mundur lalu kembali kerumah”, bujuk Yan.

“Tidak. Sebagai teman seharusnya kau mencegah dukun sesat Mukni mengorbankan para gadis kepada sesembahannya ..!” jawab Arman sambil merangsak maju menerobos celah formasi pedang. Serentak murid dukun Mukni melakukan gerakan menutup ruang. Ayunan golok serta pedang menerpanya. Arman mundur kembali lima langkah. Yan mengisyaratkan seorang untuk maju menghadapi Arman. Dirinya ingin menjajaki kemampuan sahabatnya yang nekad bertaruh nyawa.

Pemuda bersabuk kuning kini berhadap-hadapan dengan Arman. Semantara lainnya membentuk pagar tiga perempat lingkaran mencegahnya menerobos lari masuk ke hutan. Hanya satu peluang baginya, mundur lalu kembali ke dusun. Golok terhunus dalam genggaman pemuda bersabuk kuning dimasukan kembali ke dalam sarung dipinggang kirinya. Dirinya ingin mencoba menghadapi Arman dengan tangan kosong. Mata pemuda tersebut fokus menatap Arman. Kakinya membentuk kuda-kuda sejajar menyamping tanda memilih bertahan. Tangan kiri diletakan diatas paha kiri sementara tangan kanan menadah ke depan ke arah lawan tanda memintanya untuk maju menyerang lebih dahulu.

Hati Arman tak gentar. Sekalipun tidak mendalami ilmu kanuragan, dirinya pernah serta masih terus berlatih jurus-jurus pernah dipelajari dari kakeknya. Bukan dirinya tak mau belajar mencari guru mumpuni, tetapi hatinya masih memegang teguh pesan kakek untuk tidak mendalami ilmu beladiri. Karena menurut sang kakek seorang bila menguasai ilmu beladiri serta memegang senjata, suka atau tidak akan menafkahi dirinya dengan senjatanya. Hal tersebut dapat menimbulkan permusuhan. Tapi kini didapatinya pendapat sang kakek tidak sepenuhnya benar. Musuh bisa datang sendiri walau tidak dicari. Sifat dasar tamak juga serakah serta ingin berkuasa manusia membuat mereka menindas yang lemah. Bahkan jika kaum lemah berkumpul lalu memisahkan diri sekalipun, mereka akan mencari orang terkuat diantara mereka sebagai pemimpin. Namun kemudian pemimpin terpilih bisa menjadi musuh bagi golongan mereka sendiri, begitulah kira-kira siklus terciptanya suku maupun bangsa.

Arman dengan kuda-kuda satu kaki di depan setengah di tekuk maju menyeret kaki ke samping kanan-kiri bergantian. Tenaganya terpusat pada kedua telapak tangan lalu menyerang dalam gerakan cepat tanpa suara, mengarah ke kepala lawan. Tapi lawannya bukan lawan sembarangan. Sekalipun masih tingkat rendah, lawannya adalah murid perguruan dukun Mukni. Dia sudah dibekali latih tanding setiap waktu. Serangan tangan kanan Arman ditepis dengan tangan kiri sambil balik menyerang dengan tangan yang sama. Arman pun melakukan hal serupa dengan satu tangan bebasnya. Perkelahian sengitpun terjadi. Saling pukul, tendang serta tangkis hingga pada satu kesempatan Arman dengan kekuatan penuh berhasil memukul dada lawannya hingga terjatuh lalu memuntahkan darah segar. Pukulan fatal cucu seorang pendekar meski telah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Serentak murid-murid dukun Mukni menyerangnya dengan ayunan golok serta pedang. Dia terkejut. Tak siap menerima serangan serentak. Sebuah sabetan pedang nyaris mengenai wajahnya namun ditepis dengan tangan hingga menyebabkan luka pada telapaknya. Sementara serangan beberapa pedang mengarah ke kakinya tiada dapat dihindarkan. Paha juga betisnya terluka. Dirinya terjatuh lalu berguling menghindar serangan terus dilancarkan. Belum ada tusukan fatal mengenai tubuhnya, tapi dirinya telah bersimbah darah. Tenaganya makin melemah. Dirinya harus segera melarikan diri. Dalam posisinya terjepit dikumpulkan segenap kekuatan sambil mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Seorang lawan lengah, pedangnya tak segera ditarik setelah diayunkan. Arman menangkap pedangnya lalu menarik kesamping hingga tubuh sang pemilik maju kedepan lalu disambut pukulan keras pada pergelangan membuat pedang terlepas. Cepat disambarnya tangan orang tersebut, lalu menjatuhkan, menangkap lalu melemparkannya kearah teman-temannya sehingga serangan tertahan beberapa detik. Kesempatan tak disia-siakan, diapun segera berlari ke arah berbeda dengan lokasi persembahan. Kakinya berlari dan terus berlari diikuti sebagian murid dukun Mukni. Mereka mengejarnya sedang sebagian lagi tetap berjaga.

Jauh sudah dirinya berlari meninggalkan para pengejarnya. Tetapi tidak ingin langkahnya berhenti. Kesedihan, kekalahan juga kekecewaan membuatnya tiada ingin menghentikan langkahnya. Kewaspadaannya pun hilang. Tak dilihatnya ada sebuah jurang menganga beberapa meter di depan. Dirinya tetap berlari hingga langkahnya tak lagi menjejak bumi. Saat kekasihnya, Nesa, berhadapan dengan Marbo, sang penguasa kegelapan, dirinya terjatuh ke dalam jurang diiringi teriakan panjang “Aaaaaaaaaaaaaaghhh”.

Tubuhnya melayang kedalam jurang sedalam tiga ratus meter. Rasa kaget serta takutnya menyebabkan mulutnya berteriak keras. Hal tersebut membangkitkan naluri pendekar juwana warisan sang kakek mengalir dalam darahnya. Instingnya memerintah otot tubuhnya untuk merenggangkan kaki lalu menekuknya keatas, tubuhnya dilengkungkan serta kedua tangannya dibentangkan melebar kedepan. Dirinya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk mengurangi gravitasi pada ketinggian seribu kaki sehingga luncurannya tak terlalu deras sekaligus memberi kesempatan mencari posisi jatuh tak fatal hanya dalam hitungan waktu sangat pendek.

Sinar bulan pada malam penuh bintang membantu mata elangnya menatap sekitar. Ketika dilihatnya sebuah pohon besar berumur ratusan tahun tumbuh di tanah tebing dengan dahan menjuntai, tangannya segera menyambar. Huuupss… berhasil !. Tubuhnya bergelayut di dahan pohon. Dirinya merayap ke cabang besar agar lebih aman untuk mengatur nafas.

Baru berselang beberapa detik, hidungnya mencium bau anyir juga suara mendesis. Ditengadahkan kepalanya lalu terlihat seekor ular sanca raksasa tengah merayap terus memandang dirinya penuh nafsu seperti melihat hidangan makan malam jatuh dari langit.

Bahaya mengancam. Tubuhnya bergerak cepat. Diraihnya ranting kecil lalu dijatuhkan dirinya kebawah. Sang ular merasa mangsanya berusaha lari tak mau kalah sigap. Matanya melotot lalu menerjang kearahnya. Hanya selisih sedetik, nyaris kepalanya masuk kedalam mulut dengan rongga mengangga. Dirinya bergelayut lalu langsung meraih ranting lain yang lebih rendah menuju kebawah. Si ular raksasa karena gagal menyambar kepala Arman meliukkan kepalanya keatas dengan sebagian badan tetap membelit ranting. Tampaknya dirinya ingin melancarkan serangan lanjutan. Mulutnya kembali dibuka, kali ini seluruh tubuh Arman jadi incarannya. Arman terus bergerak kebawah dengan bergelayut pada ranting seperti monyet.

Tangannya berusaha menggapai ranting agak jauh. Dirinya kesulitan. Sang ular melihat kesempatan langsung meluncur deras. Sssssssss … Sssss…. desisan keras terdengar. Dia segera membatalkan niat meraih ranting dituju. Dengan sepenuh tenaga diberinya beban pada tubuh mengandalkan tenaga dalam agar ranting dipegangnya semakin turun kebawah. Berhasil… Dalam hitungan detik dirinya melompat ke dahan lain sambil melepaskan ranting dalam pegangannya. Ranting mengayun ke atas. Sang ular sedang meluncur. Sang ular kaget, namun terlambat. Ranting tersebut menghantam mulutnya dengan keras. Praaak….. huuugh. Sang ular tertegun sejenak, tuing … tuing… tuing…. matanya mendelik berputar-putar. Benaknya sudah terbayang mengunyah daging empuk di mulut kini harus merasakan sakit. Seandainya bukan ular besar pasti sudah mati terkena hantaman ranting tadi.

Sang ular kini semakin marah mencari-cari mangsanya, tetapi kepalanya masih pusing membuatnya tak bisa membaca posisi secara tepat. Ini memberikan kesempatan pada mangsanya untuk turun mencapai tanah lalu berlari secepat-cepatnya menyusuri tebing sempit ke dasar jurang hingga tiba di sebuah tanah lapang penuh semak belukar. Tanah cukup luas tersbeut tak terlihat dari atas jurang karena letaknya hanya beberapa puluh meter dari dasar serta agak menjorok kedalam tertutup oleh tebing diatasnya. Tebing tersebut menjorok keluar menutupinya.

Arman menoleh kebelakang, dilihatnya sang ular raksasa tak lagi mengejar. Dirinya berhenti sebentar untuk mengatur nafas sambil membaca sekitar. Dilihatnya ada sungai pada dasar jurang dengan air tenang. Ingin hatinya melompat, tetapi sangat tak mungkin karena letaknya tidak tegak lurus dengan tempatnya berdiri. Kalau melompat, maka kepalanya pasti menghantam batu cadas keras. Baru beberapa menit matanya memandang, dirasakannya ada bahaya lain mengancam.

Dibaliknya tubuhnya mencari sumber bahaya. Dalam kegelapan malam dilihatnya beberapa pasang mata menyala. Dua pasang mata di kiri serta satu pasang dihadapannya. Ada tiga pasang mata sejenis kucing besar. Mungkin harimau suka berkelaran di tebing mencari sarang burung elang atau serigala. Tampaknya para pemilik mata tersebut tiada senang akan kehadiran dirinya. Otaknya segera bekerja. Tubuhnya diam sesaat tak bergerak. Matanya awas menatap. Kini terlihat pemilik mata tersebut adalah tiga ekor harimau. Mundur kebelakang tidak mungkin. Tiba-tiba harimau paling besar dihadapannya melompat karena merasa lebih dekat dengan sasaran. Bersamaan satu harimau lain berada di kiri ikut melompat. Sepertinya harimau tersebut masih muda juga belum berpengalaman. Rasa lapar membuatnya tidak memperhitungkan jarak sehingga bertabrakan dengan harimau besar dihadapannya. Keduanya terjatuh terguling dua meter dari hadapan Arman. Sang harimau besar marah. Mulutnya mengaum keras lalu mencakar harimau muda penabraknya. Melihat kesempatan, secepat kilat Arman berlari lagi ke arah kanan turun menyusuri tebing. Harimau ketiga meilhatnya lari langsung lompat mengejar. Tetapi lagi-lagi harimau muda membuat kesalahan. Ketika menghindari cakaran harimau besar, dia mundur beberapa langkah berusaha berdiri dengan dua kaki sambil mempertunjukan taringnya. Bersamaan itulah harimau ketiga melompat untuk mengejar mangsa malah menabraknya. Buuuuk … dua mahluk ganas tersebut bertumbukan sehingga akhirnya membuat mereka berkelahi sementara harimau besar kini merasa sendirian mengejar mangsanya.

Dengan kaki terluka Arman berlari. Apes sekali rasanya malam ini. Baru lepas dari keroyokan anak buah dukun Mukni, dikejar ular. Lepas dari ular dikejar harimau. Tapi tak dirasakan lagi sakit pada kakinya akibat rasa takut. Berkali-kali harimau menerkam dari belakang tetapi selalu saja luput. Hingga akhirnya harimau tersebut berlari mengambil jalan pintas melewati sisi tebing melewati mangsanya lalu menunggu. Sang mangsa yang tengah berlari kaget karena pengejarnya kini berada dihadapannya. Untuk kembali keatas tak mungkin karena jalannya menanjak, lagipula disana telah menanti dua harimau lain. Matanya melirik ke arah jurang. Tebing disampingnya menjorok ketengah danau. Kalau melompat pasti akan jatuh ke air. Tapi jika melompat dari ketinggian hampir lima puluh meter, mungkin tubuhnya akan terluka saat menghantam air.

Tetapi otaknya berpikir positif. Sejak sore tadi selalu dalam bahaya tetapi tetap selamat. Jadi tidak ada salahnya berusaha. Akhirnya dengan segenap tenaga tubuhnya melompat. Sang harimau melihat mangsanya bergerak segera menerkam. Tak diperhitungkannya kalau sang mangsa melompat terjun kebawah. Terkamannya memang tepat mengenai tubuh mangsanya, tetapi mereka berdua tidak lagi menjejakan kaki ke tanah sehingga jatuhlah mereka berdua terjun bebas meluncur ke danau. Akan tetapi mangsanya cerdik, mengerti bahwa bobot harimau lebih berat pasti jatuh lebih dahulu. Diirnya memanfaatkan tubuh harimau kaget tersebut dengan memegang kakinya lalu secepat kilat berpindah keatas menaiki punggung harimau. Byuuuurr….. ketenangan air danau terhentak menimbulkan gelombang cukup untuk mengagetkan ikan-ikan. Tubuh harimau sontak meliuk terluka dalam saat menghempas air ditambah tekanan tubuh Arman. Sang harimau pun tenggelam, sementara mangsanya berenang ke tepian.

Akan tetapi setibanya ditepi danau tersembunyi dalam dasar jurang, dirinya belum bisa bernafas lega. Sekelompok buaya raksasa tengah tidur berbaris merasa terganggu oleh suara riak air menjelang pagi. Melihat ada manusia datang, serentak mereka diam menunggu. Satu ekor berada paling dekat dengan calon mangsa tampak tak sabar. Dia membuka mulutnya sehingga mata Arman dapat melihatnya. Segera dia berlari melompati tubuh sang buaya. Sang buaya berbalik sambil mengatupkan mulut besarnya. Namun sayang, sasaran luput. Saat berbalik gigi tajamnya justru menghantam buntut temannya disamping. Teman-teman buaya lain bergerak maju tetapi tertahan oleh tubuh teman-temannya sendiri. Jadilah sang calon mangsa selamat berlari terus menuju hutan dibawah pohon-pohon besar nan rindang.

Sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui celah tebing. Arman yang telah selamat dari berbagai bahaya duduk diatas sebuah batu besar sambil melihat keindahan hutan serta danau dalam jurang tak pernah diketahui penduduk. Tapi keindahan tersebut tiada mampu mengurangi kegundahan hatinya. Dirinya merasa sudah sepantasnya mati mengikuti Nesa sang kekasih. Buat apa lagi hidup jika harus terasing sendiri. Mulutnya seguk menangis. Kalau saja dulu menuruti ajakan Nesa untuk kabur meninggalkan kampung, tentu ceritanya takkan seperti ini. Kalau saja mengetahui ada tempat indah dalam dasar jurang, tentu akan diajaknya sang kekasih kesini dengan cara apapun. Lalu tinggal berdua. Hidup membangun keluarga bersama. Hatinya menyesal mengapa dulu terlalu takut untuk meninggalkan kampung.

Kalau akhirnya harus begini, tiada gunanya dirinya bertahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Daging sudah menjadi dendeng. Walaupun bisa dijalani tapi sulit untuk dinikmati. direbahkan tubuhnya diatas batu. Sedih, lelah serta luka disekujur tubuhnya membuat tak butuh waktu lama bagi matanya untuk menutup kemudian terlelap. Tidak disadarinya ada seekor kelabang raksasa sebesar anak anjing merayap mendekat. Tubuhnya merah kehijauan menandakan kedahsyatan racun bisa disuntikan setiap saat melalui sepasang capit mirip gunting pohon. Kelabang merayap terus mendekati kepala dalam buaian mimpi. Lalu dengan sebuah gerakan cepat, capitnya menghantam tepat di bawah telinga kanan dan kiri.

Arman tersentak, menjerit lalu berusaha melepaskan sesuatu yang menjepit kepalanya. Tapi tenaganya tak kuasa, tubuhnya langsung mengejang lalu terkulai lemas ketika racun langsung menjalari pembuluh darah otaknya. Kelabang tersebut pergi meninggalkannya saat meregang nyawa untuk kembali ke sarangn. Kelabang selalu akan kembali setelah mangsanya mati membusuk.

Mata Arman nanar menatap sinar matahari. Tubuhnya tak lagi dapat digerakan. Jantungnya berdegup tak beraturan. Racun kelabang hijau telah mengalir keseluruh tubuhnya. Kulitnya mulai tampak hitam kehijauan. Dalam sekarat dilihatnya kakeknya duduk bercerita seperti saat masa kecil setiap kali dirinya akan tidur. Kakeknya bercerita tentang kerajaan siluman yang dijaga oleh pasukan jin dan setan. Disana terdapat sebuah pasar menjual budak dari orang-orang para pemuja setan. Lalu cerita tentang siluman jin baik hati berilmu tinggi serta disegani. Menurut kakeknya hanya orang tak memiliki keinginan duniawi beruntung bisa menjumpai. Kebanyakan orang akan tersesat di pasar. Berjual beli di pasar setan kemudian menjadi dukun atau ahli pengobatan. Dirinya suka sekali mendengar cerita tersebut. Bahkan telinganya sanggup mendengarkan cerita berulang-ulang sehingga otaknya hapal jalannya cerita secara rinci.

Tiba-tiba wajah sang kakek menghilang berganti dengan wajah kekasihnya. Terlihat kekasihnya bahagia dalam gaun sutera hitam berbalut perhiasan duduk di singasana megah. Arman tersenyum bahagia. Lalu perlahan wajah kekasihnya memudar berganti dengan wajah-wajah pemuda pengeroyoknya. Amarahnya menggelegak. Detak jantungnya bagai genderang perang membuat racun kelabang hijau semakin cepat beredar. Lalu muncul kembali wajah sang kakeknya penuh sabar membelai lembut keningnya seraya berkata “Jangan pernah mendendam kepada orang yang melukai atau menganiaya serta menyakiti hatimu. Seberapapun besar sakitmu, maafkanlah mereka”. Dalam mata terpejam, kepalanya mengangguk, senyumnya mengembang. Jantungnya pun berhenti berdetak dalam sungging senyum penuh damai.


Terima kasih telah meluangkan waktu membaca cerita pendek misteri siluman srigala. Semoga cerpen diatas dapat menghibur hati sobat pemirsa sekalian. Bagaimana nasib Nesa selanjutnya ? berikan komentar dan jempol jika menyukai serta ingin membaca kelanjutan cerpen misteri siluman srigala ini. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Eirjaf Aedara

Penulis :

You may also like

2 Comments