Nostalgia Dari Yang Berbahagia

cerita pendek curhat masa lalu

Cerita pendek curhat masa lalu ditulis saat menerima undangan pernikahan dari mantan teman sekolah yang nyaris saja pacaran namun batal karena dianggap menolak sebelum ditembak. Asyik juga buat dibaca dan ada lucu-lucunya bagi sobat yang sudah lewat masa SMA. Selamat menikmati.

Cerita Pendek Curhat Masa Lalu Nostalgia Dari Yang Berbahagia

“Uni masih di Bandung ?”, sebuah pesan Whatsapp masuk. “Masih, kenapa ?”

“Saya lagi di Bandung, mau ketemu. Ada yang mau saya kasih..”

“Waaahhhh !!!! Tapi hari ini gak bisa, besok sore aja gimana ?”

“Oke, tentuin aja tempatnya. Aku di daerah sekitar Alun-alun. Tau kan ?”

“Oke” jawabku.

Esok sore pukul 4 di salah satu toko kue donat kami bertemu. Dia memakai kaus oblong berwana hijau bercelana jeans. Hotel tempatnya menginap tak jauh dari sini. Sedangkan aku memakai long dress dan cardigan dibalut jilbab hijau tua.

“Udah 7 tahun ya Ni kita ga jumpa. he .. he”. Katanya membuka pembicaraan, sementara mataku masih mengamatinya. Senyumnya masih sama. Lelaki di hadapanku ini telah berubah menjadi dewasa. Gaya rambutnya masih sama, sorotan matanya juga masih tajam namun hangat seperti dulu.

Setelah memesan 2 cangkir kopi latte dan 4 donat rasa cokelat, sesaat kami menikmati pemandangan di luar jendela. Langit Bandung akhir – akhir ini cerah.

“hehehe..  iya. Kamu apa kabar ?”

Diriku masih canggung. Ya tentu saja, 7 tahun tidak berjumpa. Walaupun sampai sekarang masih berkomunikasi dengan baik, apalagi jika ada teman menikah atau meminta bantuan.

Dia dan aku berada di kelas yang sama ketika kelas 1 SMA. Aku duduk tepat di belakangnya. Dari bangku ini aku bisa melihat saat dia menyentuh rambutnya ketika sedang berpikir atau sedang gatal, saat dia menggoyangkan kakinya ketika mengobrol dengan teman sebangkunya. Dan tentu saja aku bisa melihat jawaban tugas bahasa Inggrisnya. He.. he.. he..

Kursinya selalu ku tendang saat pelajaran Fisika atau Kimia, menanyakan rumus ini itu, menanyakan bagaimana cara menjawab, hingga jika aku malas, aku dengan tidak tahu malu meminta jawabannya. Dan dia selalu mengajari, memberi tahu, dan memberi bukunya untukku. Pada saat guru menerangan tentang reaksi Kimia, aku kembali menendang kursinya dan memberi tanda agar dia membenarkan posisi duduknya. Sementara diriku tidur sambil menutupi kepala dengan buku. Dia tahu kebiasaanku akan menutupiku dengan tubuhnya. Atau aktif bertanya agar guru tidak melihatku.

Saat pelajaran Bahasa, Musik, Antropologi, Sosiologi, Sejarah dan muatan lokal posisi kami berubah. Diriku yang tadinya sering menendang kursinya untuk menanyakan ini itu, kini giliran dia rajin menghadap ke belakang untuk menanyakan majas – majas dan tanda baca, not balok dari lagu kebangsaan, hingga bagaimana cara membuat rajutan, atau meminjam catatan sejarahku.

Nama kami terpisah jauh di buku absensi.  Namanya berawalan huruf A sedangkan namaku jauh di bawah dengan awalan huruf S. Namun sampai sekarang hatiku bersyukur karena sistem pembagian kelompok di kelas kami tidak berdasarkan absensi, namun berdasarkan urutan meja. Jadilah konspirasi kelas, diriku hampir selalu satu kelompok dengannya.

Saat tugas kelompok adalah saat ku sukai, karena posisi duduknya akan berhadapan denganku. Mataku bisa memandangnya. Memperhatikan garis kening setiap kali dia mengerjakan soal dengan serius, sedangkan diriku selalu kebagian mencatat ulang semua jawaban yang semuanya dia kerjakan. Sementara dua teman kami lainnya hanya sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Uni ikut ekskul apa ?” Hatiku kaget mendengar pertanyaan dadakan, saat diriku asyik dengan buku Mba Asma Nadia.

“hmmm… Rohis sama Pramuka kayaknya”

Ia hanya terdiam mendengar jawabanku dan kembali berbalik arah.

Seminggu kemudian, kulihat namanya sudah ada di daftar anggota baru Rohis dan Pramuka terpajang di mading sekolah. Bibirku tersenyum.

Di Rohis, kami masuk pada departemen berbeda. Dia menjadi ketua BKM, sedangkan diriku menjadi Sekretaris Keputrian. Selain di kelas kami juga sering bertemu di Masjid kecil sekolah atau di Ruang Pramuka. Di Masjid kecil itu aku juga bertemu sahabat –sahabat lain yang hingga kini aku bersyukur ditakdirkan bertemu mereka.

Dia adalah murid sopan, rajin, pintar, cerdas, pemalu, tak pernah terlambat ke sekolah, disayang guru dan selalu juara 1. Sangat berbeda denganku, sering terlambat, sering dipanggil guru BK karena  jarang pakai kaos kaki putih, sering tidur waktu pelajaran eksakta, dibenci seorang guru yang anti jilbab, dan punya prestasi selalu di bawahnya. Ranking 3.  Tapi suatu hari di siang bolong ketika kami selesai melaksanakan latihan pramuka, seorang temannya bilang padaku kalau dia menyukaiku. Entah apa yang disukainya dariku.

Sejak mendengar kabar burung belum jelas keabsahannya itu, hatiku geer bukan main, salah tingkah bila dia menoleh ke belakang melihatku, hingga diriku berusaha untuk tidak tidur di pelajaran eksakta agar tidak bertanya padanya, berbaris di barisan paling belakang sewaktu upacara agar tak sejajar dengannya, dan memilih tidak sekelompok dengannya.

Semesta mungkin mendengar doa ku, diriku dipindahkan ke barisan pojok dekat jendela dan dia tetap disana. Di barisan nomor 2 dari pintu di meja nomor urut 3. Mataku tak bisa melihatnya dan dia tak bisa melihatku, terhalang oleh tubuh teman lain. Lega tapi sejak saat itu juga aku rindu.

Entah kenapa ketika dia berbicara dengan teman perempuan, hatiku jadi tak suka. Ketika dia menerangkan ini itu pada teman perempuan kami, mukaku cemberut sambil melepas pandanganku ke jendela kelas. Melihat murid lain di lapangan sedang berolahraga.

“Kamu suka sama dia Ni ?” sahabatku bertanya padaku setelah sholat dhuha. Kami duduk di depan pintu Masjid, dia memakai sepatu sama denganku dan mulutku hanya diam sambil makan gorengan. Sahabatku ini membaca buku diary ku dan mengenal sosok yang ku tuliskan dengan inisial. Haha…

Aku juga jadi sering bolos latihan pramuka, jarang ikut rapat anggota Rohis. Hingga 3 bulan kemudian, saat kami akan naik ke kelas 2, dia tahu diriku akan memilih kelas IPS karena tak ingin bertengkar terus dengan guru anti-jilbab itu. Saat itulah, setelah kami berberes untuk acara Rohis dia ingin berbicara denganku. Tapi dasar anak SMA amatiran, teman-temanku berniat membuat rencana agar kami bertemu lalu dia menyampaikan perasaannya padaku. Aku dicegah tak boleh pulang. Hatiku sudah curiga karena 3 teman perempuan ini tingkahnya seperti burung punai mau kawin, gelisah tak menentu.

Menolak sebelum ditembak

“Ada apa sih ?” aku mencoba bertanya. Sementara kulihat di sudut dari tempat kami berdiri, 3 orang pria berjalan ke arah kami. Aku langsung mengerti semuanya. Tiba-tiba perutku sakit, mules. Penyakit psikis ketika sedang cemas atau gugup. Aku langsung pergi ke kamar mandi yang arahnya menjauhi mereka. 3 orang teman laki-laki yang ku rasa idiot itu mengira diriku kabur dan pulang, dan dengan logika dangkal mereka menyangka diriku menghindarinya tanpa bertanya kepada teman lain. Menolak sebelum ditembak. Hoaaahhh

Sejak peristiwa salah faham itu, sikapnya padaku berubah. Dingin dan selalu menghindariku. Tapi itu tak berlangsung lama, 1 bulan kemudian saat kami menjadi panitia acara Pesantren kilat di sekolah, kami kembali harus berkoordinasi. Aku diamanahkan sebagai kepala sie konsumsi sementara dirinya sebagai kepala sie peralatan. Aku harus bekerja sama karena membutuhkan alat masak dan makan. Seperti itulah kiranya.

Kembali dekat, tapi ngobrolnya garing

Kami kembali dekat, saling berkirim sms yang modusnya menanyakan perkembangan acara, tapi kami saling tahu, kami rindu. Untung saja di masa itu adalah masa dimana operator HP masih berbaik hati memberi bonus seribu SMS setelah mengirim satu SMS.  Tapi kami lebih sering terjebak dengan obrolan garing, terputus dengan ucapan “ooh” darinya atau jawaban “iya” dariku. Tak tahu harus membalas dan menjawab apa lagi. Akhirnya malam ku hiasi dengan tak bisa tidur atau senyum-senyum sendiri.

Di satu sore mendung, kami secara tak sengaja pulang paling akhir. Sekolah sudah sepi, para murid mengambil ekskul Paskibra dan karate juga sudah pulang. Tapi aku masih  harus mendata ulang alat masak dan bahan makanan, sedangkan dia harus berkeliling sekolah memastikan semua peralatan untuk acara pesantren sudah lengkap.

“Belum pulang Ni ?” dia membuka pembicaraan setelah sebulan menghindariku.

“Iya, udah mau maghrib. Ini beberes mau pulang”

Lalu kami berjalan berdua di lorong sekolah, menuju gerbang depan. Pulang. Tak ada kata yang kami ucapkan, kepalaku hanya tertunduk seperti mencari uang jatuh, sedangkan dia memainkan handuk kecilnya. Indahnya, masa – masa kami tidak terlalu sibuk dengan gadget.

– Ciee yang lagi berdua di sekolah. Kami di warung bakso. Ke sini ya. hihi-

Temanku mengirim SMS ke hp ku. Ternyata dia juga mendapat SMS sama. Kami seperti dua orang yang masuk perangkap keledai. Wajahku memerah, ingin marah tapi tak bisa, malu. Sedangkan dia hanya diam dan berjalan duluan, langkahnya menuju warung bakso langganan kami. Aku mengikutinya di belakang. Diantara desing bunyi kendaraan berlalu lalang dan biasan senja petang itu, aku menikmati pemandangan paling ku suka, punggungnya yang disinari matahari sore. Aku tersenyum.

Hingga sekarang kami berteman baik, bertujuh orang, 4 diantara kami sudah menikah

Lelaki yang sekarang duduk di hadapanku ini mengenggam sebuah amplop berwarna kuning emas, berisi undangan pernikahannya dengan perempuan pilihan untuk dicintai.

Selamat berbahagia, semoga berkah hingga ke surga… :).

Sekian dulu cerita pendek curhat masa lalu ini, semoga menghibur.

Bandung, 2016

Dibagikan

Rumah Hati

Penulis :

Artikel terkait