Pelindung Hatiku

cerita sedih pendek

Pelindung hatiku adalah cerita sedih pendek tentang seorang gadis nyaris menjual keperawanan karena harus menanggung beban menghidupi keluarga setelah ayahnya dipenjara sementara adiknya menderita leukimia. Banyak konflik berkembang membuat cerita pendek sedih menjadi menarik dan membuat pembaca mencucurkan air mata. Simak selengkapnya pada cerita pendek berikut ini.

Cerita Sedih Pendek – Pelindung Hatiku

Aku hanya bisa menatap Bray dan Liana tampa kata, lalu akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya tampa bicara. Tak bisa kujelaskan hal apa ada dihatiku saat ini. Pedih, terluka, marah, benci juga cinta menjadi satu kumpulan rasa sungguh tak bisa terjelaskan dengan kata kata, bahkan akupun tak sanggup bereaksi untuk melampiaskan semua rasa dihati. Hanya membisu dan berjalan pergi dengan langkah terasa begitu berat. Kedua lutuntuku terasa lemas, sepertinya tak sanggup lagi untuk berjalan tapi aku harus tetap pergi, agar tidak melihat lagi kedua mahkluk menghianatiku itu.

Aku benar-benar buta, selama ini diriku begitu mempercayai mereka. Satunya adalah kekasih ku cintai dan satunya adalah karibku selalu menjadi kebanggaanku. Ha ha ha … tidak pernah kusangka, cerita-cerita di sinetron, novel, bahkan film bisa terjadi dalam kehidupanku. Kupikir cerita penghianatan sudah basi itu cuma ada di film atau drama, ternyata tidak. Ternyata cerita menyedihkan itu harus kualami. Sungguh malang.

“Sassi Tunggu !” Ada tarikan di lenganku. Kuhentikan langkahku menatap dalam dalam kemata Bray. Lalu menatap lenganku yang masih dipegang Bray. “Aku bisa menjelaskan semua..”

Kusentakkan pegangan Bray di lenganku, Bray kaget dan langsung melepaskannya. “Sudahlah Bray… Hubungan kita sudah berakhir. Kuharap kalian pergi jauh jauh dari kehidupanku.”

“Sassi….maafkan aku”. Kutatap Bray mencoba mencari ketulusan dan penyesalan dalam sorot matanya, tapi kutemui hanya sebuah pengakuan. “Aku mencintai Liana… maafkan aku”.

Aku tertawa kecil, giris dan semiris hatiku bak teriris sembilu… apakah cinta bisa sesakit ini ? Mungkin akan lebih… tapi kenapa ? Kenapa dengan sahabatku ? sahabat masa kecilku, sudah seperti saudara bagiku, kenapa ? Bukan penghianatan kusesali dan membuatku terluka, tapi ketidakjujuran dari dua orang sangat kusayangi. Sungguh begitu kejam dan tega mereka berbuat seperti itu, menghianatiku, kepercayaanku.

Seandainya mereka jujur sejak awal akan terluka, tapi diriku masih bisa menerimanya walaupun keadaan mungkin tak akan sama lagi. Tidak di saat ini disaat baru saja mengalami musibah kehilangan Ibuku meninggal gara-gara kena serangan jantung dan ayahku mendekam dalam penjara karena kasus korupsi. Rumah dan harta disita KPK hingga terpaksa tinggal di rumah Mbok Sutinah, pembantu puluhan tahun, bekerja pada keluarga kami. Lalu sekarang, disaat kami kehilangan orang-orang kami sayangi serta membutuhkan kekasih juga sahabat untuk berbagi, mereka malah menghianati dan meninggalkanku juga.

Ha ha ha … rasanya ingin ku tertawa dan berteriak keras keras… sungguh satu perpaduan mantap, klop sudah. Sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Ha ha ha … Aku tertawa dalam hati sambil terduduk ditrotoar dengan lesu. Bayangan almarhun ibu, Ayah diseret oleh petugas, Bray, dan wajah Liana. Belum lagi tatapan penuh hinaan serta caci-maki akhirnya membuatku memutuskan untuk berhenti kuliah.

Sungguh tidak pernah menyangka kalau selama ini hidup dalam keluarga berkecukupan, dengan semua fasilitas mewah disediakan Ayahku. Itu adalah hasil dari korupsi, sungguh sangat memalukan. Kami sangat menentang korupsi, selalu bersama dengan teman-teman mahasiswa lainnya berorasi menentang korupsi, mengadakan demo besar-besaran, menggalang teman-teman dari universitas lain untuk demo, ternyata punya Ayah koruptor. Malu ! bukan cuma malu saja, rasanya seperti ingin bunuh diri dan menghilang dari bumi ini. Agar tak ada orang mencelaku, menghinaku dan mencaci-makiku. Lengkap sudah penderitaanku….

Dan lebih menyakitkan lagi cintaku dikhianati oleh kekasih dan sahabat karibku. Rasa rasanya mau gila, andai saja tidak memiliki adik mungkin akan ku pilih untuk mengakhiri hidupku. Tapi bagaimana dengan Rio adikku masih kelas 4 SD. Dia masih membutuhkanku, tinggal aku dan dia tersisa. Dia juga sangat bergantung padaku. Dia masih kanak-kanak untuk menyadari jalan kehidupan kami sekarang.

Setitik airmata menetes di pipiku, kuhapus dengan cepat. Aku harus tegar, harus kuat, aku masih punya Rio aku harus bertahan untuk dia. Saat dicambuk dengan masalah kadang sebagai manusia kita menjadi lemah dan kehilangan harapan, mungkin hanya orang-orang tertentu bisa bertahan menghadapi masalah rumitnya hidup. Dan mungkin diantara segelintir orang itu aku termasuk di dalamnya. Aku harus bertahan demi pesan ibu untuk menjaga Rio. Aku memiliki tugas menjaga dan menyekolahkan adikku, bagaimanapun caranya, aku harus berusaha.

Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, semua harta benda sudah disita tak ada yang tersisa. Yang ada hanyalah pakaian-pakaian ibu serta Ayah, itupun hampir habis kujual diloakkan, kalau masih bagus kujual dibutik dengan harga jauh dibawah. Tapi tak peduli, satu-satunya hal kupedulikan adalah bisa mendapatkan uang untuk makan dan sekolah adikku sehari hari.

Kami hidup dirumah sederhana Mbok Sutinah di pinggiran Kota.Walaupun Mbok Sutinah tidak pernah mengeluh meski dia juga butuh uang untuk biaya makan kami sehari hari. Kehidupanku berubah 360 derajat sekarang, dari terbiasa dengan mobil sendiri serta fasilitas mewah lainnya kini harus hidup pas-pasan bahkan tergolong miskin. Lucukan.. hidup seseorang bisa terbalik 360 derajat dalam waktu begitu singkat.

Yah semua kujalani dengan Ihklas karena dulu kami menikmati harta bukan milik kami, disitu ada hak orang-orang miskin, karena keserakahan, ketidak-puasan hingga Ayahku menjadi gelap hati dan pikirannya. Sementara Ibuku juga tidak tahu atau pura pura tidak tahu tanpa rasa berdosa menikmati harta itu. Sedangkan kami akhirnya harus menjadi korban dari semua ini.

Aku kembali pulang, sudah pukul 3 sore ketika tiba dirumah. Bertepatan dengan itu Rio adikku pulang sambil menangis. Agak terkejut melihat wajahnya bengkak dan lebam, sementara disudut bibirnya berdarah. Tapi walaupun menangis dia tidak pernah mengadu tentang apa yang terjadi dengannya. Ku ambil air hangat dan membersihkan lebam di wajahnya. Dia meringis kesakitan.

“Kakak tidak akan bertanya apa telah terjadi, kakak cuma inginkan kamu harus sabar yah, sebisa mungkin kamu harus menghindar, apapun teman-teman kamu katakan, menghina ataupun mencaci maki, kamu harus terima.Selama mereka tidak menyentuh kamu”

“Tapi Rio sudah menghindar kak, mereka duluan melempariku, Rio gak tahan, lagian bukan kitakan bersalah kak, kesalahan papa harus kita menanggungnya. Rio benci Papa”.

“Kamu tidak boleh ngomong kayak gitu yah, Papa juga sudah cukup menderita dengan hukumannya. Biar bagaimanapun itu tetap Papa kita, Papa selalu sayang pada kita. Jangan hanya satu kesalahan Papa lalu kamu membencinya, Papa juga manusia sama seperti kita, Bisa melakukan salah dan kekhilafan”

“Tapi kakak liat keadaan kita sekarang, dihina, dicaci, Rio tidak bisa lagi belajar dengan baik gara gara teman-teman selalu meledek. Kakak jugakan, sampai kakak berhenti kuliah” Keluh Rio masih meringis menahan perih saat wajahnya terkena sapuan handuk.

Ku tarik nafas panjang, sedangkan Mbok Sutinah cuma bisa geleng geleng kepala. Ah.. dia masih terlalu kecil, jiwa polos kanak kanaknya belum bisa membuatnya menerima kejadian ini. Apalagi sejak Mama meninggal, dia seperti menutup diri serta selalu pulang dalam keadaan seperti ini. Kalau tidak bertengkar dengan teman-teman pasti ada saja ulahnya hingga harus menghadap guru wali kelas.

”Rio liat kakak”.

Dia menatapku, “kalau kamu kenapa-napa kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak, Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama kakak ?”

“Rio sayang banget sama kakak, tapi gak tahan dengan perlakuan mereka, Rio merasa gak pernah berbuat salah sama mereka” Kupeluk Rio erat, mataku kembali berkaca kaca, kenapa selalu saja anak-anak menjadi korban dari keegoisan orang-orang dewasa ? Apa mereka sudah dibutakan dengan nafsu dan keinginan sampai-sampai tidak memikirkan dampak harus dialami anak-anak karena perbuatan mereka. Adikku hanyalah kanak-kanak. Sama sekali tidak tahu apa sebenarnya menimpanya. Deritanya jauh lebih ringan dariku, tapi jiwa kanak-kanaknya belum bisa menerima. Walau ingin mati rasanya, diriku harus berusaha untuk bertahan.

Aku mendekati Mbok Sutinah mengeluarkan uang 1 juta dari kantongku hasil menjual HP Blackberry ku, satu-satunya kebanggaanku bahkan sudah seperti simbol untuk anak kuliahan sepertiku. Tapi sekarang bukan anak kuliahan lagi, kami memerlukan uang untuk menghidupi kehidupan kami.

“Ini mbok buat beli kebutuhan rumah”.

“Tapi non… ?”

“Jangan panggil non lagi Mbok, malu kalo didengar orang”ujarku setengah tertawa setengah meringis.

“Uang dari mana non ? HP non mana?”

“Sudahlah Mbok …jangan nanya lagi. Makan itu lebih penting daripada gaya” jawabku berusaha tertawa. Mbok Sutinah menganguk, mungkin dia membenarkan perkataanku. Dalam keadaan seperti ini memang kebutuhan sehari-hari lebih penting, Uang sejuta jaman sekarang tidak ada gunanya. Tapi sejak kejadian ini menimpaku, aku jadi merasakan bagaimana berharganya nilai uang walau cuma seribu atau dua ribu. Adikku biasa jajan seratus ribuan kini cuma bisa membawa uang dua ribu rupiah, itupun kalau ada, kalau tidak paling-paling sebungkus nasi goreng buatan Mbok, sisa nasi semalam.

Untunglah waktu kuliah dulu tidak pernah boros atau hura hura dengan menghabiskan uang, diriku lebih memilih gaya hidup hemat dengan menabung. Tapi tabungan itupun juga disita KPK, Rekeningku dibekukan dan kami tidak bisa apa apa. Hanya pecahan lima ratus dan seribu selalu kusisipkan di celengan Ayam. Itupun sudah habis sewaktu ikut pindah dengan Mbok Sutinah.

Dalam temaram lampu tak seberapa terang ini, aku mencoba membuat lamaran kerja siapa tahu besok atau lusa saat mencari kerja ada keberuntungan menghampiriku. Yah dengan mengandalkan ijasah SMA tentunya. Masuk ke kamar berukuran 1/5 luas kamarku dulu, adikku tertidur lelap, kubelai rambut Rio lembut. “Doain kakak yah Rio, besok kakak mau jalan nyari kerja, biar Rio bisa sekolah terus” bisikku mengecup dahi Rio lembut.

Seharian kucoba masuk-keluar Kantor, toko, bahkan Rumah makan untuk mencari pekerjaan tapi sepertinya keberuntungan belum berada dipihakku. Rasa letih, haus, dan kelaparan tak kupedulikan, dalam otakku hanya ada bagaimana bisa mencari kerja. Pekerjaan apa saja asalkan halal. Tapi sampai malam menjelang tidak juga mendapat pekerjaan apapun. Aku pulang dengan langkah lunglai bercampur letih. Tadi dijalan sempat berpapasan dengan beberapa orang kukenal tapi aku selalu lari bersembunyi, takut mereka mencemoohku. Tiba di rumah saat malam menjelang. Ada rasa senang di hati saat melihat Rio sedang menulis, pasti dia sedang membuat PR.

“Kakak pulang” serunya gembira dan langsung menghambur kepelukanku.

“Maaf Yah Rio kakak gak bawa apa apa seharian mencari kerja tapi belum dapat juga”ucapku.

“Kakak pasti capek Rio pijitin yah”

“Nanti saja kakak mau mandi dulu abis itu temanin Rio belajar yah”

Rio menganguk gembira, didapur kulihat Mbok Sutinah sedang memanaskan makanan.

“Makan dulu Non..”

“Nanti saja Mbok, mandi dulu. Rio sudah makan Mbok ?”

“Katanya nanti sama sama Non”

Aku menuju kamarku, tak lama kemudian sudah duduk bersama sama dengan Rio. Rio baru saja selesai membuat PR nya ketika kulihat ada cairan merah keluar dari hidungnya. Rio mimisan !

“Rio liat keatas jangan menunduk dulu” kutahan kepala Rio untuk melihat keatas sambil melap hidungnya. Setelah yakin darah tidak keluar lagi, baru melepaskannya.

“Rio sering mimisan kaya gini kak, di sekolah juga sering”

“Pasti Rio maen di lapangan sekolah lagikan ?”

“Gak koq… Kalau Rio maen dilapangan nanti Rio digangguin anak-anak lagi”

“Tapi sekarang udah gak lagikan”

“Udah jarang sih kak, kan kata kakak, Rio harus sabar dan kalau bisa menghindari mereka”

Aku tersenyum “Rio memang pinter, itu baru adik kakak”

“Kak, emang kalau kakak gak kerja kita gak bisa makan yah ?”

Ups! Pertanyaan Rio menohok jantungku. “Siapa bilang ?”

“Soalnya kakak selalu gak ada kalau Rio pulang, kata Mbok Nah kakak lagi nyari kerjaan”

“Iya sih, kakak nyari kerja biar bisa sekolahin Rio”

“Memangnya Papa pulang kapan ? Apa Papa gak akan pulang dan tinggal bersama kita lagi ?”

Kucoba tersenyum pahit, “Papa pasti akan pulang dan berkumpul bersama kita lagi, tapi belum sekarang. Yuk…kita makan dulu nanti makanannya keburu dingin” Ajakku mencoba mengalihkan perhatian Rio. Karena dengan Rio banyak bertanya akan semakin sulit menjawabnya. Pagi pagi saat memakaikan seragam ke tubuh Rio kutemukan memar disekujur tubuh Rio.Tapi anehnya saat aku menekan memar itu Rio tidak mengeluh atau meringis kesakitan.

“Rio, koq badan Rio memar gini kenapa ? Apa dipukulin lagi sama teman-teman Rio ?”

“Gak koq kak, Rio juga gak tahu.”

“Rio gak bohongkan ? Beneran gak dipukulin teman Rio lagi ?” tanyaku meyakinkan. Sekali lagi Rio menggeleng.

“Trus kenapa badan Rio memar gini, Rio jangan bohong deh. Kalau dipukulin bilang ke kakak nanti kakak kesekolah dan laporin teman teman Rio ke Ibu Guru”

“Sumpah kak, bener Rio gak bohong”

Ku tatap Rio dalam-dalam tapi sama sekali tidak menemukan kebohongan disitu. Rio tidak sedang berbohong, lagipula a ku sangat mengenal sikap dan karakter adikku dia tak akan berbohong padaku. Sekali lagi kuperhatikan memar aneh disekujur tubuhnya. Penyakit apa ini ?

“Jangan-jangan Rio jatuh yah ?”

“Gak kak bener Rio gak bohong, kalo Rio jatuh pasti Rio ngomong sama kakak”

Ah… ada sedikit rasa cemas dihatiku melihat memar aneh di sekujur tubuh Rio. Semoga saja ini cuma memar biasa.

“Tapi Rio gak merasa sakitkan ?” tanyaku lagi,

Rio menggeleng dengan yakin. Aku menarik nafas sedikit agak lega.

“Ya sudah ayo pakai sepatunya nanti keburu telat” ucapku. Ku mencoba menepis segala kekuatiran ada di hatiku dan mencoba menghibur hatiku. Tidak ingin rasanya terjadi apa apa dengan Rio. Satu satunya harta paling berharga dalam hidupku saat ini hanyalah Rio. Melihat dia tertawa dan tersenyum bagiku itu sudah cukup untuk menghapuskan segala kesedihan dan luka dihati. Rio seperti obat untukku, saat merasa lelah ataupun sakit dan melihat dia bergantung dilenganku atau menyambuntuku dengan pelukannya saat pulang itu sudah menyembuhkan semua sakit dan lelahku.

Akhirnya hari ini aku bisa bernafas lega karena mendapatkan pekerjaan walau hanya seorang pelayan disebuah rumah makan padang cukup ramai. Walaupun gajinya kecil tapi tidak keberatan. Sementara biarlah bekerja disini, jika nanti ada pekerjaan lebih baik diriku akan pindah. Aku langsung bekerja hari itu juga. Mencuci piring, melayani pengunjung, mungkin karena baru kali ini bekerja, hatiku bersemangat sampai tak terasa hari sudah malam. Tepat jam 8 malam Uda Amar pemilik Rumah makan tempat bekerja menyuruhku pulang. Membawa dua bungkus nasi padang dan lauk rendang enak, pulang ke rumah dengan gembira. Rio pasti akan senang sekali melihatku membawa oleh oleh untuknya, kasihan Rio sudah lama dia tidak makan daging.

Ah.. mengingat kehidupan dulu kujalani bersama Rio hatiku benar-benar merasa perih. Dulu semuanya sangat berkecukupan, Rio bisa makan apapun dia suka. Tinggal pesan, atau menyuruh supir membeli, pasti keinginan Rio langsung terpenuhi. Tapi sekarang ? Ah sudahlah tidak ada gunanya memikirkan hal sudah lewat. Ini saat cuci darah dan daging kami dari makanan yang didapatkan secara tidak halal. Alhamdullillah… inilah hasil kerjaku. Halal…. terimakasih Ya Allah atas Rejeki yang Kau beri hari ini. Tak henti-hentinya kuucapkan syukur dalam hatiku.

Saat tiba, kulihat Mbok Sutinah menyambutku dengan wajah yang penuh kekuatiran.

“Napa mbok ?”

“Den Rio Non… sepertinya sakit.  Sejak pulang sekolah tadi tidak mau makan..hanya tidur terus”

Segera berlari kekamar, kutemukan tubuh Rio terbaring lemah di pembaringan, wajahnya begitu pucat.

“Rio Rio sayang..”

“Kakak.. kak Rio merasa gak enak banget, rasanya lemes banget Kak” ucap Rio lemah. Kuraba dahi Rio, tidak panas.Tapi mengapa Rio terlihat begitu lemah.

“Besok kita ke dokter yah… tapi sekarang Rio makan dulu”

Rio menggeleng “Perut dan dada Rio sakit kak…”

Kubuka kaos Rio dan meraba raba perutnya, ah mungkin kembung atau masuk angin.

“Gosok minyak kayu putih Non, jangan jangan masuk angin” Mbok Sutinah menyodorkan sebotol minyak kayu putih ukuran kecil, langsung kusambut dan kuoleskan di perut Rio.

“Kakak bawain Rio Nasi padang Rio makan yah… ayo !” Ku angkat tubuh rio dan menyandarkannya di dinding, menaruh bantal di punggungnya agar dia bisa nyaman dengan sandarannya. Ku suapi Rio pelan pelan sambil sesekali meminumkan teh hangat.

“Enak gak ?” tanyaku. Rio mencoba tersenyum walau aku tahu dia memaksakan tersenyum untuk menghibur kecemasan dalam hati.

“Enak kak, semua yang kakak bawa buat Rio makan pasti enak.”

Hampir saja menangis mendengarnya tapi aku berusaha menahan  “Kamu cepat sembuh yah jangan bikin kakak kuatir yah”

Rio hanya bisa menganguk lemah, malam ini dia makan lumayan banyak.

“Besok pagi kita ke puskesmas dekat sini yah, Rio jangan masuk sekolah dulu. Nanti kakak minta ijin sama Ibu gurunya” ucapku.

Semalaman tidak bisa tidur, perhatianku hanya tertuju pada adikku. Aku ingin memastikan keadaannya baik-baik saja. Syukurlah dia bisa tidur.

Pagi hari seruan Rio dari arah kamar mandi tiba-tiba membangunkanku. Segera diriku berlari menuju kamar mandi dan kutemukan dia sedang menyikat gigi, tapi sikat gigi dan busa odol ada ditangan serta mulutnya penuh darah.

“Kakak”

“Rio…cepat berkumur”

Bergegas ku raih tubuh Rio yang agak limbung, mungkin dia kaget melihat darah pada mulutnya. Saat dia berkumur kubuka mulutnya dan sangat kaget karena seluruh gusinya mengeluarkan darah. Kugendong dia ke kamar, mengganti pakaiannya, lalu bergegas ke Puskesmas. Aku benar-benar ketakutan dengan keadaannya. Takut jika sakitnya parah. Saat memeriksakan ke Puskesmas, Dokter disana memberi rujukan untuk dibawa ke rumah sakit umum. Hari itu juga bersama Mbok Sutinah kami membawanya ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit Rio langsung ditahan pihak rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya. Sementara hatiku benar-benar kebingungan, uang ditangan hanya sisa beberapa ratus ribu saja, bahkan uang yang kuberikan pada Mbok Nah sudah diberikan kepadaku. Dia melewati beberapa tes laboratorium dan hasilnya nanti kuketahui keesokkan harinya. Kami benar-benar tidak bisa tidur melihat keadaannya begitu lemah. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini ? jangan biarkan diriku kehilangan adikku, sudah cukup kehilangan yang ku alami jangan beri cobaan lain yang tidak bisa ku hadapi. Tak sadar dalam doa ku menangis sambil tetap berada disamping adikku, tak sedetikpun kubiarkan dia merasa sendirian.

Menjelang pagi dokter memanggilku untuk masuk ke ruangannya, ada hal harus dibicarakan. Setelah bertanya tanya tentang keluargaku serta latar belakangku Dokter itu mengatakan hal sama sekali tak akan pernah kusangka.

“Adik ibu menderita kanker darah atau istilah kedokterannya leukimia. Dan leukimia diderita adik ibu sudah level akut atau stadium akhir, dia harus ditangani dokter ahli juga harus menjalani berbagai macam tes serta kemoterapi

Aku tercenung mendengarkan kata kata dokter, tak bisa berkata kata. Shok rasanya mendengar apa yang dikatakan dokter. Tidak… tidak mungkin.

“Sebagai Dokter umum saya hanya bisa menyampaikan penyakit pasien, penanganan selanjutnya harus dengan dokter Ahli. Saya akan memberikan pengantar ke dokter Ahli agar ibu bisa konsultasi tentang pengobatan adik ibu selanjutnya”

“Aa.. apa dokter yakin adik saya mengidap leukimia Dok, jangan-jangan dokter salah atau..”

“Nona Sassi… semua hasil lab dan biopsi menunjukkan adik ibu menderita leukimia, gejala-gejalanya juga memang menunjukkan dia menderita leukimia, secepatnya dia harus mendapatkan pengobatan untuk penyakitnya”.

Aku tersandar lemas di kursi… Leukimia… kanker darah…

Tuhan… saat keluar dari ruangan Dokter kudekap wajah dan terduduk lemas. Mengapa ? mengapa Tuhan ? mengapa semua ini menimpaku, mengapa harus adikku ? kenapa bukan aku saja ? dia masih terlalu kecil, masa depannya masih panjang. Kenapa Tuhan ? Jawab aku… kenapa terjadi disaat benar-benar tidak punya uang sementara keluarga dari Ayah maupun Ibu tidak mempedulikan kami ?. Dulu saat kami memiliki segalanya mereka selalu datang dengan tangan meminta, saat kami jatuh dan hancur tidak ada seorangpun menolong. Satu satunya yang selalu mengerti dan bersama kami cuma Mbok Sutinah. Aku dengan segala ketidak berdayaan, dengan ketidak-mampuan, bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membayar pengobatan penyakit adikku.

Biaya pengobatannya benar-benar sangat mahal, diriku benar-benar kebingungan dan hampir kehilangan harapan. Setelah menitipkan Rio pada Mbok Sutinah diriku bergegas keluar dari rumah sakit. Dengan menahan rasa malu, ku kunjungi sanak saudara Ayah dan Ibu, siapa tahu mereka bisa membantu. Mudah-mudahan mereka tahu membalas budi atas kebaikan Ayah dan Ibu selama ini pada mereka. Hari sudah sore saat keluar dari rumah Om Ridwan sepupu Ayahku. Rumah Om Ridwan adalah rumah ke enam yang ku kunjungi tapi hasil yang didapat tidak seperti yang kubayangkan, tidak ada satupun diantara mereka bisa membantu. Macam-macam alasannya.

Hatiku benar benar perih, apa harus ku lakukan. Waktu tak  bisa menunggu, semakin banyak waktu terbuang akan semakin membahayakan adikku. Apa harus ku lakukan Tuhan ? Hamba tidak ingin kehilangan Rio, tapi apa harus hambamu lakukan ? Meminta tolong Papa tidak mungkin. Papa sedang ditahan di rutan. Bertemu dengannya saja susah minta ampun. Sementara adikku tidak bisa menunggu, keadaannya semakin parah. Bahkan dokter sudah menvonis umurnya tak sampai seminggu jika dia belum mendapat pengobatan atau kemoterapi. Mengapa dunia begitu kejam ? Mengapa ?.  Tak sanggup menahan kepedihan, tangisku pun pecah di halte bus.

Aku ingin menjual keperawananku

Membayangkan akan kehilangan Rio, tangisku semakin menjadi. Bagaimana caranya bisa mendapatkan 50 Juta untuk biaya pengobatan. Semua jalan sudah tertutup. Dalam kepedihan hati dan kebuntuan pikiranku karena segala daya upaya sia sia. Tiba-tiba benakku teringat pada Monita. Salah satu teman mahasiswa berprofesi sebagai Call girl. Tidak ada jalan lain, demi adikku harga diriku akan kugadaikan, tidak peduli dosa, biarlah akan kutanggung. Lebih baik kehilangan harga diri daripada kehilangan satu-satunya orang kusayang.

Saat tiba di tempat kontrakan Monita di kawasan perumahan elit, dia menatapku kaget, memang kami tidak terlalu akrab tapi kami saling mengenal.

“Sassi…ini kamu ?” tanyanya kaget. Mungkin kaget dengan penampilan kusut dan tidak seperti biasaku, tapi mungkin juga dia sudah mendengar apa hal menimpa diri dan keluargaku.

Sedetik dia melangkah ke dalam dan keluar dengan segelas sirup

“minumlah dulu, ”

Duduk sejenak lalu menatap Monita ragu, ”Aku ingin minta tolong sama kamu Monita, mungkin ini terdengar gila, tapi sudah tidak ada jalan lain lagi. Hanya kamu satu satunya teman bisa membantuku” Ceritaku bergulir singkat membuat Monita terkejut. Mungkin tidak menyangka mendengar cerita nyata kehidupan sungguh tragis.

”Berapa uang kamu butuhkan Sas ?”

“50 Juta”

“Apa kamu yakin mau melakukan ini ?” Tanyanya lagi. Kepalaku hanya menganguk lemah, pikiranku buntu, sudah tidak mau berpikir lagi. Jika ini memang jalan untuk membuat Rio mendapatkan pengobatan, rela ku lakukan ini demi adikku.

“Baiklah tunggu sebentar ya” Monita melangkah masuk kedalam, dia sedang menghubungi seseorang. Selang beberapa saat kemudian dia keluar.

“Permintaanmu terlalu tinggi Sassi mereka hanya sanggup, membayar 35 Juta. Itupun sudah sangat tinggi. Kalau kamu mau bisa diatur sekarang juga. Kebetulan yang mau membayarmu dengan harga seperti itu sedang tidak sibuk” ujar Monita. Ku telan ludah getir, harga diriku cuma bernilai 35 juta. Dengan menanggung kehinaan ini 35 juta tidak sebanding dengan nilaiku. Tapi nyawa adikku tidak sebanding dengan harga diriku. Aku menganguk “baiklah tidak apa apa Mon”

Monita menatapku dengan tatapan penuh iba, “maafkan Sas, kalau saja bisa membantumu, tapi kamu tahu keadaanku kan. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu”

“Tidak apa apa Mon”

“Sebaiknya kamu mandi dulu nanti akan kupinjamkan baju, kamu sudah cantik tak perlu banyak make up, nanti ku antar ke hotel.”

Aku hanya bisa menganguk pedih, mengikuti langkah Monita menuju kamar mandi. Sesaat kemudian tubuhku sudah mengenakan baju dan dirias Monita. Kutatap sosokku di depan cermin, sosok seorang wanita cantik, sekian lamanya tak menatap cermin membuatku kaget dengan diriku sendiri. Tapi tak lama lagi wanita di depan cermin ini akan menjual harga dirinya, menjadi wanita hina, lebih hina dari seorang koruptor. Kehidupanku akan segera hancur, satu-satunya kebanggaan diriku akan kukorbankan. Takdirkah ataukah nasibku memang begitu malang. Mataku kembali berkaca kaca tapi cepat-cepat ku hilangkan.

Monita mengatur pertemuanku dengan lelaki yang akan membeli harga diri milikku sedemikian rupa. Sepertinya orang yang akan bersedia membayar keperawananku adalah orang sangat penting. Sehingga Monita harus berhati hati. Hotel itu bukan hotel sembarangan tapi hotel berbintang lima. Privacy dari tamu-tamunya sangat dijaga. Saat kami tiba, seorang petugas hotel, sepertinya sudah bekerjasama dengan Monita, langsung menyambut kami dan membawa kami ke lantai 5. Ruangan bukan ruangan hotel biasa tapi seperti paviliun mewah.

“Kamu tenang saja Sas, dia sangat baik. Dia juga sangat berhati-hati juga tidak tergesa-gesa. Kamu pasti akan merasa nyaman” Hibur Monita. Aku hanya bisa menganguk, mencoba bersikap tegar dan terlihat tenang meskipun benar-benar sangat ketakutan tapi diriku ingin semua ini cepat berakhir agar bisa pulang dan kembali ke rumah sakit.

“Aku pergi dulu yah Sas… kamu tenang yah, yakin tidak akan terjadi apa-apa ok” Monita menepuk bahuku menenangkanku, lagi lagi kepalaku hanya bisa menganguk. Gelisah, sudah hampir setengah jam menunggu tapi laki-laki yang kutunggu belum datang. Saat mau beranjak tiba-tiba pintu terkuak. Dua sosok lelaki masuk, tertunduk tak berani kutatap mereka.

“Tinggalkan kami, untuk beberapa jam ke depan diriku tidak bisa diganggu.” Terdengar suara berat dan serak. Mendengar suaranya saja hatiku sudah ketakutan.

“Baik bos”

Pintu terdengar ditutup, lalu terdengar langkah mendekat. Rasanya takut, gemetaran, seperti akan menghadapi malaikat pencabut nyawa, keringat menetes dileherku. Tubuhku masih terdiam seperti patung, tak berani untuk bergerak ataupun mengangkat wajah menatap sosok yang saat ini sudah ada didepanku.

“Angkat wajahmu, aku membayarmu bukan untuk melihatmu menatap lantai tapi menatapku” kalimat yang dingin dan begitu sinis, memaksaku untuk mengangkat wajahku. Apa yang ada dihadapanku membuat aku terkejut, sangkaku laki-laki yang akan kutemui sudah berumur dengan tampang hidung belang nyata, mata jelalatan seolah olah ingin cepat-cepat memangsa korbannya. Mungkin dengan sedikit wajah seram, berkumis.Tapi dihadapanku adalah seorang laki-laki mungkin berumur sekitar 30an dengan wajah tampan penuh karisma, laki-laki yang sangat menarik, jauh dari dugaanku. Mungkin cuma suaranya saja agak berat dan serak. Dia mengenakan stelan jas lengkap terlihat trendy dan bergaya. Memperlihatkan dari kelas mana dia berada. Laki-laki ini pasti sangat kaya.Tapi pikiranku tentang laki laki dihadapanku cepat hilang berganti dengan ketakutan, apalagi saat menatap matanya yang menyorot tajam seperti ingin mengupas kulit tubuhku.

“Benar namamu Sassi ?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menganguk pelan ” i..iya”

“Boleh saya lihat KTP mu” tanyanya lagi. Ku tatap laki laki didepanku dengan bimbang tapi akhirnya pelan-pelan tanganku mengeluarkan KTP dari tas tangan yang dipinjamkan Monita. Dia menerimanya dan langsung membacanya.

“Kamu mahasiswa ya ?”

“Sudah berhenti”

“Kenapa ? dengan pekerjaan seperti inikan kamu bisa melanjutkan kuliah” ujar laki-laki itu enteng. Glekkk .. ku telan ludah, lidahku tak bisa menjawab, tenggorokanku terasa kering.

“Kenapa diam ? apa kamu yakin benar-benar masih perawan ?” tanyanya lagi dengan nada sinis. Lagi-lagi cuma bisa diam, fikiranku teringat Rio, dia masih di rumah sakit. Ah lihatlah kakakmu ini, apapun akan kakak terima walaupun harus terhina seperti ini.

“Atau jangan jangan kamu ingin menipuku. Gadis secantik dan semuda dirimu dengan usia seperti ini masih perawan ? Di kota besar seperti ini pula, sungguh tak bisa dipercaya”

Laki-laki itu beranjak mendekatiku, pasrah kupejamkan mata. Hanya bayangan wajah adikku yang ada di otakku. Rio adikku tersayang, sabarlah menunggu kakak, bisik hatiku perih. Kurasakan sosok itu sudah berada di hadapanku, nafasnyapun terasa sangat jelas di wajahku, aroma parfum mahalnya menyapu hidungku. Dia meraih pinggangku dalam pelukannya.

Aku mencoba membuka mataku, tapi tak menyadari kalau air mataku tiba-tiba saja sudah menetes tanpa bisa kutahan, laki laki yang sudah memelukku itu menatapku terkejut.

“Lakukanlah, jika itu bisa membuatmu percaya” ucapku pelan serta pasrah. Sedetik lamanya ku nanti gerakan selanjutnya, tapi tak ada reaksi. Yang terjadi tiba-tiba laki-laki itu melepaskan pelukannya, menatapku sejenak, meraih sesuatu dari balik jasnya, menulis sesuatu pada secarik kertas lalu menyodorkan kearahku.

“Pergilah, sesuai perjanjian ini 35 juta” ujarnya, kali ini suaranya begitu lembut, tidak sesinis tadi. Ku tatap nanar lembaran cek ditangan dengan rasa tak percaya.

“Tapi…”

“Pergilah secepatnya sebelum pikiranku berubah” ujarnya lagi. Kutatap laki-laki di depanku dengan pandangan takjub tak percaya. Dengan penuh rasa terima kasih kakiku beranjak.

“Terimakasih, terimakasih aku tidak akan melupakan kebaikanmu.. terimakasih ” ucapku berulang ulang, sebelumnya akhirnya keluar dari ruangan itu dengan rasa bahagia dan kagum. Terima kasih Tuhan, terima kasih … tak henti hentinya ku ucapkan. Setelah mencairkan cek dari laki-laki tak bernama itu, bergegas langkahku menuju rumah sakit. Kejadian hari ini tak akan kulupakan seumur hidupku. Kebaikan yang sangat jarang kutemui di kota besar seperti ini.

Aku bisa bernafas lega, karena hari itu juga adikku bisa cuci darah dan menjalani kemoterapi. Tapi biaya rumah sakit akan terus bertambah, uang 35 juta itu masih tak mencukupi. Sudah seminggu Rio di rumah sakit, tagihan rumah sakit sudah membengkak. Kali ini aku benar-benar sudah tidak ada jalan lagi. Besok dia akan cuci darah lagi kalau tagihan hari ini belum dibayar bagaimana dia bisa cuci darah.

“Kak…” panggil Rio.

“Yah Rio…kakak disini”

“Aku sakit apa kak ? Kenapa aku masih disini ? Kakak kan harus kerja kalau kakak gak kerja siapa yang akan membayar uang sekolah Rio”

Aku mencoba tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihanku. “Rio jangan pikirin hal itu yah. Pokoknya Rio harus sembuh dulu. Rio harus kuat ya”.

“Rio capek kak, ”

“Kalo gitu tidur ya, ”

“Kakak jangan tinggalin aku ya”

“Gak akan Rio, kakak akan selalu ada disini disamping kamu”. Dia menggenggam tanganku kuat-kuat seolah takut akan melepaskannya. Sekali lagi harus ku hapus airmata di sudut mataku, rasanya sudah tak sanggup menghadapi semua ini, tapi adikku membutuhkanku.

“Non istirahat dulu, sudah beberapa malam ini tidak istirahat, nanti Non bisa sakit. Biar nanti Mbok yang ganti jagain Rio” Mbok Sutinah sudah ada di depanku. Seorang perawat menghampiriku.

“Rio besok sudah bisa cuci darah seluruh tagihan sudah dibayar” ucap perawat itu tersenyum.

“Si..siapa yang membayarnya Suster?”

“Saya juga tidak tahu mungkin keluarga Mbak”

Aku keluar dari ruang perawatan Rio, tak habis pikir dengan semua kejadian ajaib tiba tiba dan membawa pergi semua bebanku.Tapi siapapun dengan tulus sudah membantu membayar tagihan rumah sakit Rio, hanya Tuhanlah bisa membalas kebaikannya.

Namun kenyataannya, diriku harus menyiapkan seluruh mental dan fisik untuk sekali lagi kehilangan orang yang kucintai karena baru saja Dokter memberitahu bahwa adikku mungkin tak akan lagi bisa bertahan. Namun aku terus mempertahankan agar dia tetap dirawat di rumah sakit dan sebisa mungkin mempertahankan hidupnya. Bahkan sudah ku lakukan tes sumsum tulang untuk mendonorkan sumsum tulang belakangku, tapi hasilnya tidak cocok. Apa yang harus ku lakukan ? Kudekap wajahku.

“Relakan Den Rio Non, semua yang Non lakukan hanya akan membuat Den Rio lebih menderita”

“Tidak Mbok.. Dia akan sembuh, pasti akan sembuh”.

“Sebut nama Tuhan Non…”

“Jika seandainya dia memang ingin pergi bukan dalam keadaan seperti ini Mbok, dia satu-satunya yang ku miliki di dunia ini, dia tidak pantas menderita dan menanggung semua ini”.

Aku terisak.

“Sabar Non, sabar….ini sudah jalannya takdir. Ini sudah kehendak Gusti Allah”

“Apa salah kami yah Tuhan…” keluhku perih.Tubuhku tersandar di dinding rumah sakit yang dingin.Tak sanggup lagi hati ini menahan beban berat. Sungguh cobaan ini begitu berat. Aku menangis, sia-sia kutahan tangisku selama beberapa hari ini.

Sebuah sapu tangan berwarna putih terulur didepan wajahku, agak kaget aku mendongak. Lebih kaget lagi saat tahu orang yang memberi saputangan itu.

“Ka… kamu” ucapku kaget melihat sosok mahkluk yang beberapa hari lalu kutemui di hotel.

“Iya, aku Danan” ucapnya ramah. Masih belum hilang kagetku saat Dokter yang merawat Rio menghampiri kami.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Danan, tapi pasien kondisinya sudah sangat buruk. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan”

Laki laki yang ternyata bernama Danan itu terlihat menarik nafas panjang, kelihatan sekali dia sangat mengenal Dokter yang menangani Rio.

“Terimakasih Ga, terimakasih atas bantuanmu”

Pembicaraan diantara mereka kudengar dengan jelas barulah aku tahu selama ini yang membayar tagihan rumah sakit adalah Danan. Saat Danan melihat kearahku aku menggeleng keras, tidak , tidak, pasti masih ada yang bisa dilakukan. Aku berdiri dan mengejar Dokter itu, tapi Danan menahanku. Tangisku kembali pecah.

“Tidak, pasti masih ada jalan”

“Sassi sabarlah” Aku tidak tahu lagi apa yang bisa kulakukan, dan aku tidak sadar sudah memeluk Danan.”Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan” keluhku berulang kali. Pelukan ini terasa begitu hangat, begitu nyaman, sedetik lamanya aku merasa sangat terlindungi. Saat aku sadar kurenggangkan pelukanku dengan rasa malu yang membuncah.

“Maaf..maaf” Ucapku. Ah seandainya kau bisa menjadi tempat aku bersandar Danan. “Terimakasih yah, selama ini kamu sudah membantuku, aku janji aku akan mengganti…”

“Sssttt..tidak usah bicarakan itu” Danan menyela dengan cepat. Membuatku terdiam dan tertunduk. Suasana yang aneh yang terjadi diantara aku dan Danan buyar saat melihat pintu ruang perawatan ICU terbuka

“Mbak dipanggil pasien” perawat yang selalu mengontrol Rio melongok dari balik pintu. Cepat cepat kuhapus airmataku dan melangkah kedalam menemui Rio.

“Kakak…”

“yah sayang”

“Kakak jangan sedih yah, Rio sayang kakak”

“kakak juga sayang Rio, sayang banget sama Rio” kugenggam tangan Rio erat.

“Janji yah kak, kakak gak boleh sedih. Kakak gak boleh marah sama Papa. Rio juga sudah gak marah lagi sama Papa koq”

“Iya sayang kakak janji kakak gak akan marah ataupun benci sama Papa” kukecup dahi Rio lembut. Nafasnya terdengar satu satu ditelingaku.

“Rio sudah bisa ketemu Ibu kak, Ibu cantik sek…….”Rio tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tangannya terlepas dari tanganku.

“Rio, bangun Rio bangun, jangan becanda Rio” Diriku berteriak keras dan panik. Beberapa orang dokter dan perawat berlari lari menuju kearahku. Aku terguguh dengan tangisku. Aku meraung seperti anak kecil. Rio … Rio adikku sayang..  maafkan kakak.. maafkan kakak sayang…. Mulutku terus meraung dalam tangisku. Satu lagi kehilangan kualami, diriku seperti berjalan diatas awan seolah kakiku tak berpijak dibumi lagi, tubuhku seperti merasa melayang dan ? Saat tersadar diriku berada di ruang perawatan dan satu satunya yang kulihat disamping yang menatapku dengan cemas adalah Danan. Kenapa dia masih disini ? Tapi pertanyaanku itu tak bisa terjawab karena pikiran langsung mengingat Rio.

“Rio Rio mana ?”

“Kamu harus tegar Sassi, bukankah Rio menginginkan kamu untuk terus melanjuntukan hidupmu dan bahagia” ucap Danan. Satu satunya harapanku, semangatku untuk terus bertahan dalam menghadapi hidup ini sudah pergi. Entah dengan kekuatan apalagi aku harus bertahan. Semua terenggut begitu saja dari kehidupanku. Orang orang yang kucintai satu persatu meninggalkan dengan cara menyedihkan. Alasan apalagi aku bisa bertahan hidup. Tidak ada alasan lagi untuk membuatku tetap hidup. Aku tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup.

Aku masih menekuri gundukan tanah merah yang masih basah didepanku, tak ada niat dihatiku untuk beranjak sedikitpun meninggalkan tanah pekuburan ini.Tak peduli hari yang semakin sore. Aku harus menemani Rio. Kasihan dia sendirian tidak ada yang menemani. Aku sudah lelah untuk menangis lagi, aku hanya bisa menatap nanar nisan yang bertuliskan nama Rio. Siapa lagi yang bisa kutemui saat pulang kerumah ?, tawa siapa lagi yang akan kudengar ?, senyum siapa lagi yang bisa kulihat ? kebahagiaanku yang sedikit tersisa kini sudah lenyap terkubur dibawah tanah pekuburan ini.

“Ayo kita pulang, apakah kamu seharian akan tinggal disini Sassi ? Tidak kasihankah kamu dengan Mbok Sutinah ?. Lihat dia dia sudah sangat letih” Danan masih ada disampingku, aku menatap Danan

“Mengapa kamu begitu baik padaku ? Padahal kamu sama sekali tidak mengenalku”

Danan menggeleng dan tersenyum “Mungkin bagimu aku tidak mengenalmu tapi bagiku aku sudah mengenalmu jauh sebelumnya, mungkin dikehidupan kita yang lalu kita pernah bertemu. Konyolkan ?” Danan tertawa kecil.

“Kau adalah wanita yang membuat aku tersadar dengan sikap dan prilakuku yang buruk, sejak bertemu denganmu dihotel diriku tidak bisa melupakanmu hingga akhirnya mencari tahu tentangmu pada Monita. Diriku juga tidak tahu kenapa ingin mencari tahu tentangmu. Sampai Monita menceritakan semuanya padaku. Jika akhirnya aku ada disini disampingmu itu bukan keinginan diriku tapi hatikulah yang mengajakku untuk menemanimu. Mulai saat ini jika kau inginkan diriku masuk dalam kehidupanmu, maka diriku akan selalu berada disampingmu dan tak akan meninggalkanmu” Jelas Danan.

Kutatap Danan, laki laki yang telah membeli harga diriku dan hampir merengut kesucianku ada disampingku menawarkan hati dan hidupnya untukku, haruskah kutolak ? Aku yang sekarang sendirian akankah sanggup melewati hari hariku kedepan ? apakah aku sanggup tampa seseorang disisiku. Jika memang Danan ditakdirkan untukku dia tak akan bisa menggantikan apa yang telah hilang dari hidupku tapi dia bisa menjadi tempat aku berlindung dari kepedihan yang telah kualami. Pelindung hatiku.

Dan saat Danan membantuku untuk bangkit, akupun yakin aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Selamat tinggal Rio, jaga Rio untukku Tuhan jaga Ibu untukku. Aku sangat menyayangi kalian. (PW)


Terima kasih telah membaca cerita sedih pendek Pelindung Hatiku karya Putri Wahyuningsih. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan memberi inspirasi serta motivasi bagi pemirsa laman Bisfren sekalian. Jangan lupa untuk terus bersikap positif dalam menghadapi segala permasalahan hidup. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

5 Comments