Cerpen Selingkuh Ketahuan – Perpisahan Yang Manis

cerita sedih perpisahan yang manis

Perpisahan yang manis adalah cerita sedih seorang wanita mencintai pria namun hanya dijadikan selingkuhan. Malangnya lagi perselingkuhan tersebut diketahui oleh tunangan pacarnya. Bagaimana sikapnya di akhir cerita pendek sedih ini ? silahkan simak pada cerpen berikut :

Cerita Sedih Perpisahan Yang Manis

Aku menatap foto dalam bingkai emas di depanku penuh arti. Foto seorang pria tampan dengan senyum memikat. Pria yang sudah 3 tahun menjalani hubungan denganku bahkan sudah bertunangan denganku. Sejak pandangan pertamaku sudah membuatku jatuh cinta, membuat duniaku berwarna, kebanggaanku sehingga mampu melumerkan gunung es ada dalam hatiku.

Sejak mengalami patah hati beberapa tahun lalu diriku memutuskan untuk menutup pintu hati. Sungguh butuh waktu bagiku untuk mempercayai kata cinta lagi. Tapi bersama Wisnu semuanya berubah. Dirinya mampu mengubah hatiku juga membuatku percaya lagi pada kata cinta. Hubunganku dengan Wisnu sudah sangat dekat, kami adalah dua orang dewasa, tahu jelas bagaimana menjalani hubungan. Kedua orang tuaku juga sudah sama-sama setuju juga selalu saja dengan tak sabar mendesak kami menikah.

Aku adalah manajer pemasaran pada sebuah perusahan cukup besar sementara Wisnu seorang pegawai negeri dengan jabatan cukup tinggi untuk laki-laki muda seumurnya. Secara finansial kami sudah cukup mapan. Wisnu adalah laki-laki sangat romantis, kadang-kadang dia melakukan hal-hal sungguh tak terbayangkan olehku.

Jujur saja diriku bukanlah tipe romantis. Diriku adalah wanita, menurut teman-temanku, kelewat mandiri. Tapi dengannya hatiku mulai terjangkit romantisnya. Ada saja sesuatu membuatku bahagia dengan caranya memperlakukanku. Dirinya mampu membuatku tertawa saat stress pada pekerjaan atau masalah-masalahku sendiri. Pastinya untuk menjadi pasangan hidup Wisnu adalah laki-laki impian setiap wanita.

Besok adalah hari ulang tahun hubungan kami ke 3, telah ku rencanakan sesuatu untuk menjadi kejutan baginya. Dalam setahun sudah 4 kali dia bertanya apakah mau menjadi istrinya, tapi belum ku jawab serius. Kupikir hanya sekedar pertanyaan bukan lamaran. Namun besok ku ingin esok menjadi hari tak terlupakan untuknya juga untukku. Rencanaku besok akan menjemputnya untuk makan siang di restoran favorit kami, ku yakin sekali dirinya pasti lupa kalau besok hari ulang tahun hubungan kami ketiga.

Sorenya akan ku ajak dia untuk makan malam di tempat romantis di luar kota sekalian menghabiskan malam pada sebuah resort yang juga menjadi tempat favorit kami. Sudah kubayangkan besok akan menjadi hari paling tak terlupakan bagiku juga bagi Wisnu.

************

Wisnu menatapku dengan tatapan kagum, seperti biasa matanya begitu cemerlang menatapku tanpa kedip lalu tanpa bisa kutahan sebuah kecupan kilat mendarat di bibirku. Aku melihat sekeliling restoran.

“Hus malu tahu dilihat banyak orang.”

“Malu gimana, kitakan sudah tunangan lagian salah jika ku cium wanita yang ku cintai”, sela Wisnu tersenyum.

“Iya tapi seragammu, bagaimana kalau anak buahmu melihat atau teman-temanmu ?”

“Gak peduli, sekalian saja kutunjukkan pada dunia siapa wanita di depanku.”

Bibirku tersenyum simpul, melihat laki-laki di depanku begitu ceria juga gembira membuat hatiku juga ikut tersenyum. Kami menikmati makan siang kami dengan obrolan mesra dan di akhiri dengan mengantarnya ke kantor.

“Jangan lupa nanti jam 6 akan ku jemput”, ujarku mengingatkan saat menurunkan Wisnu di depan kantornya.

“Kenapa gak pake mobilku saja ? lagian besokkan libur ?”.

“Sekali-kali pake mobilku kenapa ?”, ucapku menstater mobil lalu melambaikan tangan kemudian berlalu dari hadapannya.

“Hati-hati Wina”, teriakan Wisnu sayup kudengar.

Sore ini tepat jam 6 diriku sudah menunggu di depan rumah Wisnu, dia muncul dengan penampilan sporty, sekali lagi membuatku kagum juga menyadari kalau dirinya memang sangat tampan. Memakai pakaian apapun tetap saja terlihat menarik. Dia membawa tas berisi beberapa pakaiannya. Kebiasaannya jika kami akan menghabiskan week end di luar kota. Ku geser dudukku membiarkannya membawa mobil.

“Kita kemana sayang ?”

“Mampir dulu ke restoran Bambu Hijau.”

“Wow, ada angin apa nih kekasihku membawaku kesana.”

“Untuk mengenang pertama kali kita bertemu”. ucapku santai.

“Oh yah.. hampir lupa. ”

“Kamu memang pelupa jangan–jangan kamu juga lupa ini hari apa ?”.

“Eittt…. Kalau hari ini gak dong sayang. Pasti ingat juga punya kejutan untukmu.”

“Oh yah apa itu ?”.

“Ada deh masih rahasia”, Wisnu tertawa. Bibirku pura-pura cemberut, tapi tak lama kemudian kami sudah berada pada restoran Bambu Hijau. Restoran tempat kami pertama bertemu secara tak sengaja, waktu keluar dari toilet tubuhku bertabrakan dengannya. Tasku jatuh sehingga semua dalam tas berhamburan, dia membantuku hingga kami akhirnya berkenalan lalu berlanjut hingga sekarang.

Malam ini terasa sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, raut kebahagiaan memancar dari wajahnya juga mulutnya tak henti-henti bercerita, sementara diriku hanya menjadi pendengarnya saja. Menikmati makan malam sempurna diiringi instrumen musik jazz menambah romantis suasana. Malam berlanjut saat kami pergi ke sebuah resort tempat favorit kami. Saat kami sedang duduk berdua saling pandang mesra.

“Wina, kupikir ini, ?”

“Ssstttt, jangan bicara.” Tahanku. “ada sesuatu ingin kukatakan lebih dulu,” ucapku lagi.

“Baiklah, bicaralah sayang”.

Sejenak kepalaku tertunduk menyusun kekuatan lalu akhirnya kembali menatapnya. “Aku ingin berterima kasih padamu. Karenamu diriku semakin menjadi wanita tegar juga kuat. Karenamu diriku menyadari tidak ada hal abadi di dunia. Begitu juga dengan pertemuan kita suatu saat pasti akan berakhir lalu berpisah. Aku ingin semua menjadi kenangan tak terlupakan untukmu. Sudah kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Diriku tak ingin melanjutkan pertunangan ini”. Kulepaskan cincin padajari manisku kemudian meletakkannya diatas meja. Wisnu menatapku tak percaya, “Wina apa-apaan ini ?”.

“Jangan tanya kenapa diriku berbuat begini. Jangan tanya padaku tapi tanyalah pada hatimu. Jangan penah bertanya tentang perasaanku karena kamu adalah satu-satunya laki-laki yang sangat tahu akan perasaanku. Hatiku sangat mencintaimu tapi diriku tak bisa bersamamu”, ucapku lagi. Mulutnya terdiam, seperti kehilangan kata-kata.

“Aku pergi Wis, sebelum kamu juga pergi. Ada seseorang menantimu di kamar. Kamar tempat biasanya kita menghabiskan malam”.

Kulangkahkan kaki pergi dengan pasti meninggalkannya masih terdiam dan termangu bisu di tempatnya. Ku stater mobilku kemudian berlalu. Tak ada airmata mengalir tak juga penyesalan. Diriku sudah berjanji tak akan menangis lagi untuk cinta. Jika memang menangis lagi semua untuk kebahagiaan bukan untuk luka.

Dalam kamar itu seorang wanita sama sepertiku sedang menunggu, namanya Anggita, dia hampir 5 tahun ada dalam hidup Wisnu. Anggita juga dicintainya bahkan sedang mengandung anaknya. Bahkan seharusnya anak ke 3 karena sebelumnya selalu di gugurkan. Anggita berasal dari keluarga miskin namun bertahan dengan cintanya pada Wisnu. Anggita tak pernah mendapatkan tempat dalam hati keluarga Wisnu.

Anggita terluka sekaligus menderita akan cintanya. Diriku bukanlah wanita tak punya hati merebut cinta orang lain yang sudah sedemikian terluka demi cintanya demi cintaku. Bahkan bukan cuma terluka hatinya, tapi juga fisiknya.

Aku masih lebih beruntung daripadanya, masih punya pegangan bila terjatuh karena cinta. Tapi Anggita, dalam hidupnya hanya memiliki Wisnu. Ah Wisnu, laki-laki sempurna dalam pandanganku kini tak lebih dari seorang pecundang. Malam ini kuberikan cerita perpisahan termanis mungkin akan kau kenang. Tak peduli dengan luka hatiku, seiring dengan berjalannya waktu ku yakin lukaku akan sembuh hingga suatu saat nanti akan ada cinta lain hadir. Tapi cinta yang hanya untukku bukan untuk wanita lain.(PW)


Terima kasih telah membaca cerita sedih perpisahan yang manis. Bagikan dan berikan “jempol” pada cerita selingkuh singkat ini sebagai bentuk apresiasi pada penulis melalui Facebook, Twitter, Google+, dan Pinterest. Jangan lupa baca juga cerita singkat kami lainnya.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment