Sakral

cerita cinta romantis

Sakral adalah cerita cinta romantis tentang keputusan wanita untuk meninggalkan pacar dan menikah dengan lelaki lain karena pacarnya tidak juga melamar atau memiliki kejelasan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Bagaimana kisah lengkapnya ? silahkan simak pada cerpen romantis berikut.

Cerita Cinta Romantis – Sakral

Kutarik tubuhku lebih erat dalam pelukan hangatnya. Semua membuatku merasa bahagia, merasakan dekapan erat hangat tubuhnya, mencium aroma tubuhnya. Rasanya begitu sempurna hingga tiba-tiba raut wajah Boby muncul kembali dalam pikiranku. Apa sedang dilakukannya saat ini ? apa tengah dirasakan dan apa tengah dipikirkannya ? apa hatinya masih berharap kita bisa bersama kembali ?  Kuyakini dia pasti tengah terpuruk patah hati saat atau mungkin tengah berusaha mencari cara move on. Kuyakini dia tak akan pernah bisa melupakanku meski harus kuakui bahwa diriku juga tidak mampu melupakannya. Bukan hal mudah memang. Tapi sejuta pisau telah terlanjur ku hujamkan ke dalam tubuhnya.

“Boby”, bisik Deni sambil tangannya mengelus rambutku.

“Kau membaca pikiranku ?”.

“Aku bukan seorang paranormal, tapi wajahmu berkata demikian”, ucapnya berusaha menekan suara lirihnya hingga selembut mungkin. Tapi kurasakan getar kesedihan disana. Tak dapat disangkalnya bahwa dia mengetahui segala apa kurasakan. Namun membiarkan diriku dalam himpitan kebimbangan menutupi senyum kemenangannya atas rival terberatnya.

“Hatinya pasti merasa sedih, batinnya mungkin tertekan  ..”, tak sadar terucap kalimat tersebut dari mulutku namun langsung kuhentikan. Ucapan tesebut sama saja dengan mengawali pembicaran tentang Boby, dan kuyakin hal itu akan menyakiti hatinya.

“Kamu menyesal ?.”

“Tidak.” bantahku.

Kulepaskan tangannya melingkar erat pada pinggangku, kini kami duduk saling berhadapan. Kutatap wajahnya dan terlihat seraut wajah tampan. Harus kuakui hatiku teramat bahagia bersamanya meski harus melukai hati Boby.

“Semua adalah pilihanku, salahku. Aku tetap akan memilihmu meski harus menyakitinya, dan sudah kulakukan”. Kuraih lalu ku remas lembut tangannya kemudian menciumnya. “Bukankah itu membuktikan diriku lebih mencintaimu ?”.

Bibirnya tersenyum lalu kembali memasang wajah serius. “Kalau saja diriku tak masuk dalam kehidupan kalian,… ” dia menarik tubuhku hingga rapat tak dapat bergerak dalam kepelukannya. “Kamu belum tentu akan meninggalkannya, sayang.”

“Ya, belum tentu. Tapi belum tentu juga akan tetap bersamanya. Semua sudah berjalan jauh sebelum kamu masuk dalam hidupku Deni”, bisikku lembut. Deni mencium keningku.

“Ya, aku percaya kepadamu.”

Aku diam berusaha mencerna perkataannya. Diam dalam pelukan menanti ucapan selanjutnya.

“Hmmm…” Deni bergumam melepaskan pelukanny seperti teringat sesuatu.

“Apa ?”, tanyaku polos.

“Mengapa kamu memilihku ?”.

“Karena hatiku lebih menyukaimu. Aku menyayangimu”.

“Mengapa kamu meninggalkan Boby ?”.

“Aku tidak ingin membahasnya”, jawabku.

“Baiklah, .”

Deni menghela nafas lalu kembali bersandar pada bibir ranjang sambil menarikku kembali dalam pelukannya. Kubiarkan tubuhku jatuh begitu saja dalam pelukannya. Kunikmati setiap kebersamaanku bersamanya sejak penikahan kami minggu lalu. Ya, pernikahan terkesan mendadak tersebut memang keputusanku. Ya sebuah keputusan mendadak yang mengubah seluruh hidupku. Kupilih Deni karena sudah bosan pada janji-janji surga Boby untuk menikahiku.

Kupikir hampir semua lelaki seperti itu. Selalu memberi janji dan janji meski kita sudah berharap setengah mati. Begitu pula sebulan lalu, saat diriku menagih janjinya untuk menikahiku. Lagi-lagi dikatakannya belum siap, belum biang orang tua. Dan itu hal paling tidak kusukai. Karena diriku tahu orangtuanya tidak terlalu menyukaiku. Entah apa salahku pada mereka. Mungkin hanya sekedar aura ku dengan aura orang tuanya tidak harmonis. Sejak bertemu saja sudah terasa mereka tidak menyukaiku meskipun kami tidak pernah bertemu sebelumnya.

Urusan rasa cinta serta sayangku pada Boby rasanya tidak perlu diragukan lagi, yang perlu diragukan justru keinginannya untuk mewujudkan janji-janji rasa cintanya kepadaku. Bukan sekali dua kali kami berselisih hanya karena masalah ini. Pasalnya orang tuaku sudah sangat menginginkan diriku menikah, pada usia 27 rasanya wajar kalau akupun merasa demikian. Bukan lagi waktunya pacar-pacaran. Dan puncaknya adalah dua bulan lalu kami terlibat cekcok sangat menyakitkan.

“Bob, kapan kamu akan membawa keluargamu melamarku ?”, tanyaku saat perjumpaan pada sebuah Kafe di bilangan Jakarta Utara sambil menikmati pemandangan puing-puing pasar ikan lama yang sebagian sudah dibongkar gubernur Ahok seakan beliau ingin semua warga termasuk diriku melupakan semua cerita romantis masa lalu tempat bersejarah sejak berdirinya Batavia. Ya,  bagiku lokasi tersebut merupakan tempat eksotis, dipenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda serta pasar ikan yang menjadi ikon pusat perdagangan masa lalu dimana kita bisa membeli maupun melihat-lihat aneka kerajinan tradisional serta alat-alat pancing dijual.

“Yach, gimana aku belum berani bilang sama mama. Oh ya gimana pekerjaanmu”, katanya menunduk sambil berupaya mengalihkan pembicaraan.

“Kamu kenapa sih selalu mengalihkan pembicaraan ? sebenarnya kamu serius gak sama aku ? kalau kamu memang serius ingin melanjutkan hubungan kita, ya kamu bilang. Kalau mereka kalau bilang tidak setuju kita sudahi saja hubungan kita” jawabku ketus.

“Ya kamu jangan gitu dong. Aku kan juga selalu berusaha mempengaruhi mereka”.

“Berusaha apa ? dua tahun kamu cuma bilang berusaha … berusaha .. berusaha … usaha apa ? gak jelas hasilnya positif atau negatif ? mau lanjut apa gak ? diriku sudah didesak terus oleh keluargaku supaya segera menikah. Kalau kamu tetap gak berani kita sudahi saja hubungan kita sampai disini”.

Dia diam, sepertinya tersinggung pada kata-kataku. “Kamu yakin bisa pisah dari aku ?”, tanyanya seakan menantang. Oopsss…. sudah berkali-kali dia mengucapkan kata-kata bernada meremehkan begitu dan kali ini begitu langsung.

“Baik.. kita lihat saja nanti”, ucapku sambil beranjak dari kursi. Dia seperti ingin berusaha menahanku namun dibatalkan. Hatiku memang sudah panas sejak awal. Seharusnya dirinya mengerti untuk tidak mengucapkan kalimat menyinggung perasaan.

Malam tersebut ku kendarai mobilku melaju ke arah pantai Ancol, merenung disana hingga akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri semuanya. Kuangkat HP lalu kukirim sebuah pesan kepada Deni.  “Hi.. apa kabar ?” ucapku. Lalu pembicaraan pun mengalir.

Hanya butuh waktu 2 minggu Deni mempersiapkan lamaran, lalu keluarganya datang melamar, kemudian atas permintaanku, kami mempercepat pernikahan dengan nikah siri secara agama terlebih dulu seminggu kemudian sambil menunggu persiapan resepsi yang akan digelar awal tahun depan. Entah apa merasukiku saat itu, pikiranku hanya satu, memberi pesan jelas juga tegas kepada Boby sekaligus mengakhiri hubungan tanpa kejelasan diantara kami. Sempat keluarga mempertanyakan keputusan terburu-buru kuambil, mereka mengira diriku telah hamil, akan tetapi kutegaskan bahwa diriku tidak hamil juga tidak pernah melakukan hubungan suami – istri dengan Deni sambil menunjukan surat hasil pemeriksaan dokter kandungan bahwa diriku tidak hamil.

Tak satupun panggilan maupun pesan Boby kubalas, hingga setelah pernikahan siri tersebut kubalas pesan Whatsappnya dengan sebuah foto pernikahan kami. Sebuah tindakan yang kukira cukup kejam, tetapi tidak terlalu kejam dibanding membiarkan diriku terombang-ambing tanpa kejelasan selama 4 tahun. Ya, empat tahun kami saling mengenal lalu berhubungan, serta dua tahun menunggu kepastian dirinya mengajukan lamaran. Cukup !!!.

Sepertinya Boby merasa shock, dia mendatangi rumahku untuk mencari kebenaran, namun keluargaku mengatakan diriku sudah pindah ke apartemen bersama suamiku. Dan dia benar-benar terpukul dengan mengirimkan pesan-pesan penuh kekecewaan bahkan caci maki merasa dikhianati. Semua tidak kujawab, hanya kukatakan aku sudah memberinya kesempatan namun tidak diambilnya.

Dan disinilah diriku sekarang, meski harus kuakui hatiku masih belum mampu melupakan Boby, namun semua harus kuredam demi keputusanku. Kini pengabdianku pada suami lebih penting dibanding cinta tak jelas, cinta tanpa kepastian, hubungan cinta tanpa masa depan. Cinta bagiku adalah suci sehingga harus diikat dalam ikatan suci bukan hanya dinodai dengan janji-janji. Mengapa harus kutolak Deni demi mempertahankan sesuatu hal tak pasti ?.

“There’s only a sense, flavour, feeling. Aku berterima kasih kamu telah memilihku, apapun alasannya bahkan diriku tidak mau mengetahui apa alasannya hingga kau terburu-buru ingin menikah denganku. Aku akan tetap memahami bahwa sebagian hatimu saat ini masih bersamanya, namun dengan keputusanmu memilihku maka ada saatnya semua cerita tentang dirinya harus kau hapus demi keluarga kita”.

“Aku tidak pernah merasa terpaksa memilihmu meski meninggalkan Boby. Ingat itu. Keputusanku memilihmu bukan sekedar keputusan karena emosi. Aku lebih percaya menyerahkan diriku kepadamu”, ucapku sambil melangkah mendekatinya di tepi ranjang lalu bersimpuh dilantai sambil menjemput telapak tangannya lalu menciumnya lembut. Kurasakan desir romantis namun sakral sebuah ikatan, bukan nafsu sesaat saat berpacaran. Ya, kini diriku mengerti mengapa pernikahan lebih agung dibanding berpacaran, setiap genggaman tangan, pelukan maupun ciuman tidak melulu membangkitkan nafsu melainkan rasa penyerahan serta pengabdian tulus.

Perlahan aku bangkit dari simpuhku, memeluk tubuh terbaringnya, mencium lembut keningnya lalu “klik” lampu padam saat tangannya menggapai saklar lampu disamping tempat tidur. “Kamu ingin memiliki berapa anak dariku ?”, desahku. “Sebanyak yang mampu kamu berikan”, jawabnya lalu suara kami tak terdengar lagi . (RK)


Terima kasih telah membaca cerpen cinta romantis sakral, semoga bermanfaat dan menghibur sobat pemirsa sekalian.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment