Salim Anakku

Salim Anakku kisah nyata inspiratif Islam

Salim Anakku merupakan kisah nyata inspiratif Islami karya Taufik Ramadhan. Cerita pendek kisah nyata ini berkisah tentang keluarga yang mengalami cobaan lewat anaknya, Salim. Cerita pendek menyentuh dan jalan ceritanya mengalir baik sehingga tidak layak untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana alur cerita rohani motivasi dari kisah nyata ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut :

Kisah Nyata Inspiratif  “Salim Anakku”

Aku belum genap berusia  dari tiga puluh tahun ketika istriku melahirkan anak pertama kami .  Dan aku masih ingat kejadian malam itu. Aku berada di luar rumah sepanjang malam dengan teman-temanku. Seperti kebiasaanku, malam – malam selalu dipenuhi dengan pembicaraan tak berguna. Lebih buruknya lagi aku menghiasnya dengan fitnah, bergosip, juga mengolok-olok orang lain.

Diriku dikenal pandai membuat orang lain tertawa. Terkadang membual, terkadang berseloroh atau  mengejek orang lain agar teman-temanku bisa tertawa, terus tertawa. Ku ingat sekali pada malam itu celotehku berhasil membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Kelebihan lainnya adalah kemampuan luar biasa untuk meniru orang lain. Mulutku bisa mengubah suaraku sampai terdengar persis seperti suara orang yang ku ejek. Semua kulakukan untuk membuat tertawa, menyenangkan hati orang.

Keusilanku seringkali berlebihan

Tiada seorangpun aman dari ejekan juga candaanku, bahkan teman-temanku sendiri. Namun ada beberapa orang mulai menghindar bertemu denganku karena takut menjadi korban kejahatan lidahku. Lalu puncaknya, pada malam itu, demi sebuah kelucuan, perbuatanku telah mengorbankan seorang pengemis buta di pasar saat melewati kerumunan kami. Dengan sengaja kujulurkan kaki kehadapannya, sehingga kakinya tersandung lalu jatuh. Kepalanya mulai menoleh kesana kemari, kebingungan, tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya iapun melangkah pergi.

Setelah puas bersenang-senang diluar, akupun kembali pulang ke rumah. Seperti biasa, diriku selalu terlambat pulang. Juga seperti biasa, istriku telah duduk di sofa menungguku. Namun kali ini sedikit berbeda berwajah masam diselingi suara meringis dengan mimik kesakitan. Kucoba cuek sambil berlalu dihadapannya.

Istri sudah menunggu

“Rashed, dari mana saja kau bang ?”, ujarnya gemetar.

“Maunya kamu aku pulang dari mana ?, dari Mars ?”, balikku sinis, “tentu saja dari teman – temanku, memangnya dari mana lagi ?”.

Kulihat istriku tampak kelelahan, matanya berkaca-kaca seperti menahan air mata, dia berkata, “Rashed, tubuhku lemas sekali. Sepertinya bayi ini akan segera keluar”. Air matanya perlahan jatuh juga dipipinya.

Entah kenapa, seperti tersambar petir. Bagai baru terbangun dari tidur panjang, diriku baru sadar betapa telah terlalu lama mengabaikan istriku. Hingga saat ia tengah hamil tua, bahkan mulai memperlihatkantanda-tanda akan melahirkan, baru ku ketahui. Seharusnya diriku lebih banyak  mengurus zainab, tidak terlalu sering keluar malam. Apalagi disaat hamil istriku genap sembilan bulan.

Segera ke rumah sakit

Tanpa banyak bicara segera ku membawanya menuju rumah sakit. Setelah menyelesaikan beberapa masalah administrasi, ia langsung masuk ke ruang bersalin.

Aku mencoba bersabar menunggu diluar. Menanti kelahiran anakku dengan harap-harap cemas. Tapi persalinan istriku sangat sulit.  Hampir 2 jam lebih menunggunya, tapi istriku belum juga melahirkan. Setelah berkonsultasi dengan beberapa perawat, akhirnya ku putuskan untuk pulang ke rumah. Ku tinggalkan nomor telepon kepada perawat agar mudah mendapatkan kabar terbaru persalinan istriku.

Ketika satu jam kemudian diriku berada dirumah, petugas rumah sakit menelepon   memberi ucapan selamat atas kelahiran Salim, anakku. Langsung saja ku bergegas menuju rumah sakit.  Segera setelah petugas perawat melihat kedatanganku, mereka memintaku untuk pergi menjumpai dokter persalinan dulu, sebelum menjumpai istriku.

“Dokter apa ?”, teriakku, “Aku hanya ingin melihat anakku Salim !”

“Maaf pak, anda harus menemui dokter terlebih dahulu, ini sudah prosedur rumah sakit kami” kata seorang petugas rumah sakit.

Akhirnya diriku mengalah, akupun pergi menjumpai dokter bersalin istriku. Setelah melalui beberapa dialog, akhirnya sebuah kenyataan pahit harus ku terima, sebuah ketetapan kudrat dan irodat NYA Allah SWT akhirnya jatuh menimpaku.

Anakku cacat sejak lahir

“Anak anda memiliki cacat serius pada matanya, tampaknya ia tidak mungkin bisa melihat”, dokter persalinan berkata dengan nada sangat berat, seberat hatiku menerima kenyataan ini.

Kepalaku hanya bisa menunduk rendah, sambil mencoba berusaha menahan air mata mengambang di kedua mataku … hingga akhirnya tanpa kuasa, air mata itu jatuh juga di atas celanaku. Ingatanku langsung kepada seorang pengemis buta dipasar. Dia tersandung jatuh menjadi bahan tertawaan karena ulahku.

Subhanalloh, akhirnya diriku mendapat balasan dari kelakuanku !. Masih duduk di kursi sementara sang dokter sudah pergi berlalu meninggalkanku, hatiku merenung, sangat dalam. Tak ada kata-kata sanggup ku keluarkan, karena diriku juga tak tahu harus berkata apa.

Sepintas lalu, benakku teringat istri serta anakku. Segera ku langkahkan kaki keruangan pasien. Aku menatap sayu kearah Istriku, dia tersenyum tipis melihatku, dan akupun merasakan sesak begitu mendalam dalam dadaku ini. Istriku  tidak terlihat bersedih . Dia percaya pada ketentuan Allah …, sungguh dia benar-benar seorang wanita tegar. Aku salut bercampur haru melihatnya tetap sabar dan tabah. Seberapa sering telah dia menasehatiku untuk berhenti mengejek orang dan bercanda terlalu berlebihan kepada orang lain.

“Jangan suka mengejek, merendahkan atau menghina orang lain..” itulah kata-kata istriku selalu saja teriang-ngiang dikepalaku mulai keberangkatan kami dari rumah sakit, bahkan sampai kami tiba dirumah, dan Salim datang pertama kalinya bersama kami.

Anak itu hidup tumbuh kembang

Waktu berlalu, pada kenyataannya, diriku tak juga menebus kesalahan dengan memberikan banyak perhatian kepada putra pertamaku. Malah sering berpura-pura bahwa anakku tak pernah ada dalam keluargaku. Ketika ia mulai sering menangis keras, ku akan melarikan diri dari kamar lalu pergi ke ruang tamu untuk tidur disana. Istriku senantiasa selalu bersikap sabar merawatnya dengan sebaik-baiknya, dirinya sangat menyayangi dan mencintainya. Sementara diriku sendiri, memang tidak membencinya, tapi juga tidak bisa mencintainya dengan hati ikhlas.

Salim mulai tumbuh dan berkembang. Dia mulai belajar merangkak, namun ada hal aneh tak wajar dari cara anak itu merangkak. Dan dugaanku benar, ketika ia berusia hampir satu tahun, ia mulai mencoba belajar berjalan, kami menemukan keganjilan tersebut. Salim ternyata mengalami lumpuh kaki.

Aku merasa seperti terbebani oleh masalah sangat besar dalam kehidupanku. Setelah Salim, istriku pun melahirkan Umar serta Khalid. Tahun demi tahun berlalu dengan cepat, Salim tumbuh besar, bersama saudara-saudara lainnya. Sementara diriku sendiri tak pernah merasa betah untuk tinggal dirumah. Melihat Salim membuatku menjadi risih untuk lama-lama di rumah. Diriku masih dengan kelakuanku, selalu keluar bersama teman-temanku.  Pada kenyataannya, hatiku memang sadar. Diriku tak ubahnya seperti sebuah mainan, hiburan bagi teman-temanku. Mereka membutuhkanku karena selalu siap menghibur mereka kapanpun diinginkan.

Istriku tak pernah menyerah untuk berusaha mengubah kelakuanku. Dirinya selalu berusaha menasehatiku dengan perkataan lembut, bahkan tak jemu-jemu berdo’a untuk kebaikan serta perubahan diriku. Dirinya juga senantiasa membimbingku untuk berusaha mencintai anak-anak serta keluarganya. Tidak pernah marah dengan kelakuan serta kebiasaan lama, tapi hatinya akan benar-benar sedih jika melihatku terlalu mengabaikannya, lebih memperhatikan kedua saudaranya yang lain.

Salim sekolah khusus anak cacat

Salim beranjak tumbuh, serentak dengan tumbuhnya kekhawatiranku bersamanya. Aku tidak keberatan ketika istriku memintaku untuk mendaftarkan dirinya di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak penyandang cacat .

Tidak benar-benar kurasakan perubahan waktu berjalan cepat. Bagiku, hari-hariku semuanya sama. Berkerja, tidur, makan, lalu pergi bersama teman-teman. Hingga pada suatu hari Jumat, ku terbangun pukul 11 siang, ada janji bertemu dengan klienku setelah makan siang.  Jadi akupun langsung mandi lalu berpakaian rapi juga wangi. Namun saat hendak pergi keluar rumah, begitu melewati ruang tamu, diriku terkejut, kulihat anakku tengah duduk di sofa sambil menangis.

Ini adalah pertama kalinya kulihat Salim menangis sejak 10 tahun berlalu ketika ia masih bayi. Aku berusaha tak mau ambil peduli sambil bergegas hendak berlalu keluar ruang tamu. Tapi entah kenapa kata hatiku tak bisa membenarkan manakala kudengar dalam tangisnya memanggil nama ibunya berkali-kali. Aku pun berbalik ke arahnya, lalu mendekatinya, “Salim ! Mengapa kamu menangis ?” tanyaku.

Salim mengapa kau menangis ?

Ketika mendengar suaraku, dia langsung berhenti menangis. Kemudian ketika instingnya menyadari seberapa dekatnya diriku dengannya, dia mulai meraba-raba berusaha menjangkau ujung sofa dengan tangan kecilnya. Ada apa dengannya ? Mataku melihat ia seperti berusaha untuk menjauhi diriku !. Seolah ia hendak berkata, “Sekarang, Ayah memutuskan untuk mau memperhatikanku ? Ke mana saja ayah selama sepuluh tahun terakhir ini ?”

Aku terus mengikutinya, ia pergi merambat menuju ke kamarnya. Pada awalnya, ia menolak untuk memberitahuku mengapa menangis. Tapi ketika ku coba bersikap lembut dengannya, akhirnya Salim mulai bercerita mengapa menangis, sementara diriku mendengarkan lalu gemetar.

Adiknya Umar, orang yang biasa digunakannya untuk membawanya ke masjid, terlambat pulang sekolah. Sementara hari ini adalah hari Jum’at,  waktunya untuk sholat Jum’at, Salim takut tak mendapat tempat duduk pada barisan shaf pertama. Ia pun berteriak memanggil-manggil nama Umar, karena Umar tak juga menyahut, akhirnya iapun berteriak-teriak memanggil nama ibunya. Lalu karena semuanya tak menjawab, akhirnya iapun menangis.

Aku duduk disana, disamping Salim sambil memperhatikan air mata terus mengalir dari matanya yang buta. Aku sudah tak sanggup lagi mendengarnya. Ku taruh tanganku diatas mulutnya lalu berkata, “apakah ini sebabnya mengapa kamu menangis, Salim ?”.

“Ya, ” katanya .

Seketika diriku lupa pada klienku, langsung lupa tentang teman-temanku, langsung lupa akan pertemuan itu. Kemudian kukatakan, “Jangan sedih, Yayah Sa’diyahlem. Apakah kamu tahu siapa akan membawa kamu ke masjid hari ini ?”.

“Umar, tentu saja, ” katanya, “… tapi dia selalu terlambat.”

“Tidak ,” kataku, “mulai sekarang, Ayah akan membawamu kesana”.

Sungguh Salim sangat terkejut, dia tak bisa percaya. Dipikirnya ayahnya sedang mengejeknya. Air matanya datang lalu mulai menangis lagi. Ku usap air matanya dengan tanganku kemudian memegang tangannya.

Sholat Jum’at di masjid bersama

Aku ingin membawanya ke masjid dengan mobil. Tapi ia menolak dan berkata, “masjid ini dekat. Saya ingin berjalan kaki saja kesana.” Ya, demi Allah, mulutnya mengatakan kepadaku, sungguh sebuah tamparan bathin sangat mengena jiwaku. Segera ku meng-iyakannya.

Tak ingat kapan terakhir kali kakiku memasuki masjid itu. Tapi itulah saat pertama kali hatiku merasa takut sekaligus menyesal atas sesuatu yang ku diabaikan selama bertahun-tahun. Masjid itu sudah penuh dengan jamaah, tapi mataku masih menemukan tempat untuk Salem pada barisan shaff pertama. Kamipun mendengarkan khutbah Jum’at bersama-sama. Ia pun sholat disampingku, tapi sungguh, sebenarnya akulah orang yang shalat disampingnya.

Setelah selesai sholat serta berdo’a, Salim memintaku untuk mengambilkan kepadanya sebuah Al Qur’an. Betapa hatiku sangat terkejut ! Bagaimana dirinya akan membacanya padahal jelas-jelas Salim seorang buta ? Hampir saja kuabaikan permintaannya, tapi demi menjaga perasaannya akhirnya kuturuti permintaanya.

Kuberikan Al Qur’an kepadanya lalu dia memintaku untuk membuka mushaf ke Surat Al Kahfi. Masih dipenuhi rasa heran, mulaiku bolak-balikkan halaman, melihat melalui indeks surah sampai akhirnya kutemukan. Begitu ku temukan, dia langsung mengambil Al Qur’an itu dari tanganku, meletakkannya didepannya, lalu mulai membaca Surah … dengan mata tertutup …

Ya Allah! Ternyata ia dapat menghafal surat Al Kahfi dengan begitu fasihnya. Allahu..Akbar!!! aku bergetar dadaku terasa begemuruh seolah-olah atap mesjid ini bergetar dan hendak rubuh menimpaku.

Badanku gemetar mendengar suaranya membaca mushaf Al-Kahfi

Hatiku yang malu pada diri sendiri, langsung beranjak ke lemari berisikan kumpulan Al Qur’an, mengambilnya satu dengan badan gemetar. Aku mulai membaca, terus membaca surah secara acak. Dalam hatiku meminta kepada Allah untuk mengampuni segala kesalahanku selama ini serta membimbingku kembali kejalan NYA.

Tapi tubuhku tak bisa menahan getaran mata hatiku, aku mulai menangis seperti anak kecil. Disana masih ada beberapa orang sedang melaksanakan sholat sunnah, akupun malu pada perhatian mereka. Jadi kuputuskan untuk menahan air mataku.  Tangisku kuredam dalam hati walaupun tak bisa dipungkiri itu berubah menjadi rintihan, nafasku terisak-isak.

Kurasakan pada saat itu sebuah tangan kecil menjangkau wajahku kemudian menyeka air mata di kedua pipiku. Itu adalah tangan Salim ! Aku menariknya ke dada, menatapnya. Lalu berkata kepada diriku sendiri, kau sebenarnya tidak buta nak, tapi diriku. Ayahmu inilah yang buta sehingga tersesat dituntun oleh orang-orang menuju jurang api neraka. Hingga akhirnya ditolong seorang buta bermoral, menyeretnya kembali keluar dari jalan salah menuju siksa api neraka. Orang itu adalah engkau nak, anak yang selama ini tak ku acuhkan.

Kami pun kembali ke rumah. Istriku sangat khawatir tentang Salim, tetapi rasa khawatirnya  berubah menjadi air mata sukacita ketika tahu diriku pergi sholat Jum’at bersama Salim.

Salim membuatku jadi manusia lebih baik

Sejak hari itu, tiada pernah ku lewatkan shalat berjamaah di masjid. Ku tinggalkan teman-temanku buruk, lalu menjalin persahabatan dengan teman-teman diantara para jama’ah masjid. Aku merasakan manisnya iman bersama mereka. Diriku juga banyak belajar hal baik dari mereka. Sekarang diriku tak pernah absen dalam setiap pertemuan pengajian. Diriku juga berhasil mengkhatamkan Al Qur’an untuk pertama kalinya dalam hidupku, kemudian beberapa kali, dalam beberapa bulan. Senantiasa kubasahi lidahku dengan mengingat Allah, supaya Ia mengampuni fitnah-fitnah pernah kubuat, olok-olokanku, candaan, celaan ejekan kepada orang lain. Kini diriku merasa lebih dekat dengan keluargaku.

Istriku sekarang menjadi lebih sayang serta bangga atas perubahan sikapku. Akhirnya do’a-do’a nya untuk perubahanku berbuah manis. Senyumpun sekarang tiada pernah berpisah dari wajah anakku Salim. Siapapun melihatnya akan merasa bahwa ia memiliki dunia serta segala isinya.  Aku memuji dan bersyukur kepada Allah untuk berkat-Nya memberikan jalan hidayah NYA buat diriku melalui Salim anakku.

Suatu hari, teman-teman pengajian mengajakku pergi ke suatu daerah untuk berdakwah. Hatiku ragu untuk menerimanya. Lalu kuputuskan untuk sholat istikharah, kemudian berkonsultasi dengan istriku. Mulanya ku pikir dia akan menolak, tapi justru sebaliknya, istriku sangat bahagia. Bahkan istriku mendorongku untuk berdakwah. Betapa senangnya ia, karena dimasa lalu, ia melihatku bepergian untuk berbuat dosa tanpa berkonsultasi padanya. Setelah istriku mengijinkan, dirikupun menemui Salim, lalu mengatakan kepadanya bahwa ayahnya akan pergi sebentar untuk berdakwah. Dengan air mata berderai, dipegangnya wajahku dengan kedua tangan kecilnya, lalu tersenyum kepadaku.

Kami berdakwah dua bulan lamanya

Kami jauh dari rumah selama hampir 2 bulan lamanya. Dalam masa tugas berdakwahku itu, setiap kali mendapat kesempatan waktu, ku telepon istriku serta berbicara dengan anak-anakku.  Hatiku sangat merindukan mereka semua, dan oh, betapa hatiku merindukan Salim !. Ingin ku dengar suaranya, karena Salim adalah satu-satunya yang tidak berbicara denganku sejak diriku pergi. Alhamdulillah dirinya baik-baik saja di sekolah maupun di masjid setiap kali ku tanyakan kabarnya.

Setiap kali memberitahu istri betapa hatiku merindukannya, dia tertawa bahagia, gembira, kecuali saat terakhir kalinya aku memanggilnya. Tak kudengar dia tertawa seperti kuharapkan. Suaranya berubah. Aku berkata padanya, “beri salamku untuk Salim”,  dijawabnya, “Insya Allah ,” kemudian suara telepon terputus.

Kembali dari berdakwah

Akhirnya dua bulan berlalu, diriku kembali pulang kerumah. Ku ketuk pintu dengan harap  Salim lah yang akan membuka pintunya. Akan tetapi hatiku terkejut, ternyata Khalid anakku paling bungsu berumur 3 tahun membukakan pintu untukku. Kujemputnya dengan tangan sementara ia menjerit , “Ayah..! Ayah..!”. Aku tak tahu mengapa hatiku begitu tegang saat masuk ke dalam rumah.

Aku berlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk, Ku dekati istriku, wajahnya sungguh berbeda. Seolah-olah hatinya sedang berpura-pura menjadi bahagia. Kupandang wajahnya dalam-dalam lalu berkata, “Apa yang salah dengan kamu ?”. “Tidak ada, ” jawabnya. Tiba-tiba, diriku langsung teringat Salim. “Di mana Salim ?” tanyaku. Istriku menundukan wajahnya, tidak menjawab. Hanya derai air mata saja jawabannya.

“Salim…. !  Saliiiim…, Dimana kamu nak ? ” teriakku.

Salim meninggal saat aku berdakwah

Pada saat itulah, telingaku mendengar suara anak bungsuku Khalid berbicara dengan bahasa cadelnya, ia mengatakan, “Ayah, kata ibu, Kak Calim pelgi ke culga… dengan Allah … “.

Istriku tiada bisa menahan dirinya lagi. Dirinya langsung menangis sesegukan hampir jatuh pingsan ke lantai. Segera ku menahanya lalu meninggalkannya ruangan kamar.

Aku duduk terpaku diatas sofa ruang tamu, beritanya sungguh membuatku benar-benar terpaku. Salim terserang demam panas 2 minggu lalu. Istriku sudah berusaha membawanya kerumah sakit, namun, Allah berbicara lain. Demam Salim semakin tinggi hingga akhirnya merenggut jiwanya kembali menghadap Tuhan penciptanya.

Hanya doa dapat kupanjatkan

Ku iringi setiap do’a – do’a ku dalam sholat untuk kebaikan serta kemaslahatan Salim. Kurasakan kehadirannya begitu singkat untukku, apakah ia muncul hanya sebagai malaikat untuk mengubah kelakuan burukku menjadi baik ?. Lalu setelah tugasnya selesai Allah langsung menariknya kembali sebelum ku ucapkan terima kasih kepada malaikatku itu ?.

Ya Allah jika Engkau kirimkan Salim untuk kebaikan juga kemaslahatanku, maka berilah kedudukan sangat tinggi buat Salim anakku ditempat MU yang Agung,  “Syurga Jannatunna’im”.

Penutup dari penulis

Cerita Pendek ini saya kembangkan selama 1 bulan dari penuturan sebuah kisah seorang ustadz dalam halaqah pengajianku. Betapa kisahnya begitu mengharukan sekali sehingga saya rasa cocok untuk menjadikannya sebagai sebuah cerita pendek motivasi buat kita sesama muslim.

Maaf semua nama tokoh dan tempat saya samarkan, demi sebuah kebaikan agar tidak menimbulkan fitnah.(TR)


Terima kasih telah membaca kisah nyata inspiratif Islam Salim Anakku karya Taufik Ramadhan. Bagikan dan berikan “suka” pada kisah nyata cerita rohani motivasi Islam ini untuk mengapresiasi penulis melalui Facebook, Twitter, Google+, dan Pinterest dengan mengklik ikon di bawah.

Dibagikan

Penulis :

You may also like

4 Comments

  1. Bisa buat renungan untuk para suami yang istrinya sedang hamil tua supaya lebih perhatian.
    karya yang bermanfaat untuk renungan pak.

  2. Kisah dan namanya mengingatkan saya sama umar dan salim anaknya guru halaqoh 12 tahun yg lalu dan kondisinya sama seperti salim, miss ummi genti,salim,umar skrg udh sebesar apa ya mereka..