16 / 1 / 15

cerita cinta pendek kasih tak sampai : 16 Januari 2015

Cerita cinta pendek tentang seorang wanita penghuni apartemen berkenalan lalu berhubungan dengan lelaki tetangga besebrangan kamarnya dengannya. Kedekatan membuatnya merasa memiliki banyak kesamaan lalu menjadi suka dan cinta kepadanya. Namun percayalah, ini bukan cerita pendek tentang ditolak sebelum ditembak, jadi baca saja cerita cinta pendek menarik ini.

Cerita cinta pendek 16 Januari 2015

Pada fajar, ia pergi. Pada terang, surat-surat untuknya menanti. Pada senja, ia kembali. Terkadang ia tidak kembali, tak tahu kemana. Dibayangku, ia bermalam di kantornya di tengah kota itu. Aku selalu membayangkan hal-hal positif tentangnya. Positif bagiku, untukku. Aku tak terlalu mengenalnya. Di celah-celah pengetahuanku, khayalanku mengisinya. Ia satu-satunya yang menempatkan keset selamat dating di lantai kita yang bermuat empat tempat tinggal. Mungkin ia suka kebersihan. Mungkin ia menyukai hal-hal tradisional. Ia satu-satunya yang menempelkan bel portable di luar pintunya. Mungkin ia suka mendengarkan musik kencang-kencang sehingga ketukan pintu dari sisi lain tidak terdengar. Mungkin ia bahkan tidak suka dengan bunyi ketukan kepal di pintu kayunya.

Ku petik hal-hal kecil tentangnya, tak banyak karna ruang gerak untuk memenuhi rasa ingin tahuku terbatas. Kucatat dalam benakku kebiasaan kecil pria itu. Pada Rabu malam, ia rutin membuang sampah ke tempat penampungan di dekat tangga darurat. Aku tahu karna hariku pula itu. Asumsiku, musik favoritnya adalah jazz. Seringkali ia memutar lagu bernuansa semu pada pagi dan malam hari. Suara samar-samar telah terdengar olehku menjadi pengantar tidurku.

Suatu hari, seorang wanita mengetuk pintuku. Wanita sudah mulai berkerut itu tersenyum kepadaku, mengenalkan dirinya sebagai ketua komite residen bangunan ini. “Datanglah ke pertemuan kami,” pinta wanita mungil itu. “Kau kan juga bagian dari kami.”

Aku tahu selalu ada pertemuan penghuni tiap bulan, tapi tak pernah sekalipun datang. Tak bisa ku menolaknya. Ia jauh-jauh untuk menjemputku sudah, tak ada ruginya jika ikut sekali saja. Saat beranjak dari apartemenku, mataku langsung tertuju pada pria itu. Jarang mataku melihatnya mengenakan pakaian santai.

Alisku mengkerut. Tidak rapih saja ia tetap menawan. Matanya bertemu dengan sepasangku. Sudut-sudut bibirnya melengking, mempersembahkanku dengan senyuman kecil.

“Kalian berdua tidak pernah ikut,” suara riang wanita itu terdengar. Satu lagi persamaan diantara kami itu.

Di pertemuannya, aku mengarahkan diriku untuk duduk di barisan paling belakang. Untuk apa di depan? Aku tak akan menutur kata juga. Badanku membeku, saat kulihat dari sudut mataku, ia duduk disebelahku. “Lama kita hidup bersebrangan, tapi aku tahu namamu saja belum,” ia mengaku, suaranya riang dan tawa kecilnya mengejutkan.

Senangnya bisa berkenalan dengannya

cerita pendek berkenalan terus jatuh cinta
Kenalan (@ Pixabay)

Aku akhirnya menatapnya untuk memberikan senyum kecil dan menyebut namaku. Kudengar ia mengulang-ulang namaku, seakan akan membiasakan bibirnya untuk mengucap namaku. Ia menuturkan namanya dan lidahku terdorong untuk mengucapnya, seperti apa dilakukannya. “Tapi jika kamu ingin memanggilku ‘abang’ juga tak apa,” katanya dengan jenaka.

Diapun bercerita tentang bagaimana dulu ia selalu dipanggil ‘abang’ oleh dua adik perempuan dan ibunya hingga teman-teman sekolahnya pun mengikuti jejak keluarganya. Mungkin dengan memberitahu ini, dia berharap diriku akan menganggap dirinya seperti seorang kakak laki-laki. Tapi hatiku sudah terlalu jauh untuk melihat garis batasnya. Terlalu dalam tenggelam untuk melihat karamnya.

Di pertemuan itu, kami memulai sesuatu yang baru. Dia tak lagi menjadi pria misterius diseberangku. Tak lagi menjadi mainan imajinasiku. Juga tidak lagi menjadi bayangan angan-anganku. Kami tidak menyimak topik-topik seperti penggunaan listrik, air, keamanan, kebersihan, acara pada perkumpulan. Telingaku hanya dapat menangkap getaran suaranya.

Saat pertemuan berakhir, kami berjalan bersama. Kakinya panjang dan langkahnya besar terlalu cepat untuk langkah-langkah kecilku. Dia menunggu hingga aku masuk ke dalam apartemenku, menghilang di balik pintu. Hari itu, ku sadari ia bukan hanyalah impian ku.

Dia datang berkunjung

Suatu hari, ia mengetuk pintuku. Lelaki itu tetap tersenyum walau ku sambut dalam keadaan lusuh karena baru bangun tidur. Pria itu mengajak berlari, aku mengkerutkan dahi. Ia tertawa, “Ayolah! Masa tidak pernah olahraga.”

Akhirnya aku turut. Kami berlari di daerah perumahan dekat bangunan kelabu itu. Beberapa kali dia harus memperlahan lajunya untuk menungguku. Setiap kali kata maaf meluncur dari bibirku. Setiap kali ia menjawab dengan senyuman. Sekian lama, kami berhenti di suatu taman. Kukira diriku menyusahkan. Walau hanya duduk dan mengeluh, tetap saja dibelikan minum. “Aku merepotkan sekali. Lain kali tidak usah ajak aku,” kataku terbata, paru-paruku masih berteriak meminta udara.

Tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk ubunku. “Tak apa. Keluhanmu menghibur.” Suara tawanya bergema di kepalaku. Ku coba mengingat bagaimana rasanya saat tangannya menyentuhku. Aku langsung berpaling.

Pada hari Minggu itu, kami lebih banyak membakar waktu dibawah pohon daripada kalori. Kami bercengkrama dikelilingi oleh adik-adik kecil riang bermain layangan. Kulihat sosoknya dihujani sinar matahari semakin terik. Alisku mengkerut lagi. Lusuh dan dibanjiri keringat saja ia tetap menawan.

Aku bertanya apakah dia suka musik jazz. Ia menjawab dengan permintaan maaf jika musiknya terlalu kencang. Ku yakinkan bahwa itu tidak mengganggu, malah hatiku menyukainya. Kami kembali karena sebentar lagi aku ada janji dengan teman. Lagi-lagi, ia menunggu hingga diriku menghilang di balik pintu. Aku kembali pada pukul sebelas kurang tiga puluh. Malam itu, lagu jazz favoritnya diputar lebih kencang dari biasanya.

Dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya

cerpen pendek mati lampu
Gelap-gelapan (@ Pixabay)

Setiap bulan kami mengikuti pertemua penghuni. Yang awalnya ironi, kini menjadi tradisi. Semakin hari, aku mengenalnya. Ia yang lebih sering bertanya, ia yang lebih sering mendengar. Ia lebih mengenalku.

Suatu malam, listrik padam tiba-tiba. Teriakan melengking dari bibirku karna terkejut. Dalam hitungan detik ia sudah berada di depan pintuku. Ia menerobos masuk. Dirinya tahu aku tidak pernah mengunci pintuku. Tangannya mendarat di bahuku saat tanganku masih meraba-raba untuk mencari telefon genggamku. Dia menenangkanku, ia ada disini. Menuntunku keluar dan aku mengaku kecil bahwa diriku tidak suka kegelapan. Ia membuka semua jendela. Malam itu purnama terang. Kami menunggu dibawah semburat bulan yang pucat. Aku berkata sedang memasak mie instan yang hampir kulupakan. Malam itu, kami makan dalam kegelapan.

Aku terbiasa olehnya. Nyaman dengan keberadaannya. Dirinya selalu ada untukku. Saat mobilku masuk bengkel, ia mengantar jemput ke kantor. Saat mengidam, ia membelikan makanan. Saat lampu kamar mandiku mati, dirinya menggantikan. Kontak atas nama ‘abang’ menjadi speed-dial nomor satu di handphoneku.

Semakin hari semakin merasa bergantung padanya

Sering terpikir olehku bahwa aku terlalu tergantung kepadanya. Ia tidak pernah meminta banyak. Ia tidak pernah meminta banyak. Ia tidak pernah mengeluh. Ia yang dulu merupakan khayalan yang tak pernah bias kugapai menjadi salah satu orang terdekatku. Sering terpikir bahwa mungkin memang ia ingin aku menganggapnya sebagai kakak. Sering ia menyatakan rindu kepada adik-adiknya. Sering ia menyatakan aku mengingatkannya kepada adik bungsunya. Memang, kami bertingkah layaknya sepasang kakak-adik. Tapi ia tak tahu aku selalu memandangnya sebagai seorang laki-laki. Aku tak tahu apakah pada suatu titik ia pernah memandangku sebagai wanita. Tak pernah terlihat olehku karna tertutup oleh perilakunya kepadaku. Pria jenaka itu sering menggodaku sehingga tak pernah kuanggap apa-apa. Walau hatiku jatuh sedikit tiap kali, aku selalu tak menghiraukannya. Pernah ia mengejek diriku yang tak bias melewatkan hari tanpa mengeluh.

“Terus mengapa tetap saja mau berteman sama aku yang berisik ini?” banting kataku cemberut. “Jelas-jelas abang gak suka,” tambahku sambil melipat tangan.

Tawa rendah lolos dari bibirnya sebelum menarik satu tangan dari roda kemudi untuk melakukan kebiasaannya, yaitu menepuk ubun-ubunku. Telapaknya terasa hangat. “Kamu tuh ya…” Ia mengecilkan penyejuk udara saat melihat tubuhku kedinginan dari sudut matanya. Lalu jemarinya mematikan siaran radio sumber kebisingan di latar. “Kalau aku gak suka sama orang tuh akan ku hindari, gak bisa tahan sama dia terus. Nah, kalau sama orang terus, berarti sebaliknya.”

Kalau gak suka sama orang akan ku hindari, kalau sama orang sebaliknya. Berarti dia ?

Kalimat iti berputar di kepalaku sejenak sebelum diingatkan akan kelaparan yang awalnya menjadi alasan mengapa kami berada di mobilnya menuju restoran bubur favoritku. “Kasian ya, kamu disuruh-suruh gini buat nganter cuma karena aku mau makan bubur,” sahutku sambil menyalakan kembali radio. Aku bisa merasakan sepasang matanya berkali-kali melirik kearahku.

“Lebih kasian kamu. Kalo mau apa-apa harus ada aku, males banget sih.” Tanganku reflek memukul pelan lengannya dan menyipitkan mata kearahnya. Dia hanya tertawa. “Makanya belajar mandiri,” tuturnya saat kami tiba di depan restoran yang kutunggu-tunggu.

Pertemuan.. terakhir ?

cerpen pendek pertemuan terakhir
Pertemuan

Beberapa hari setelah hari itu, kami mengikuti pertemuan penghuni, seperti biasa. Kali ini, ia membawa sekantong tas, isinya tak bisa kulihat. Saat kutanya apa isinya, dia menjawab, “Lihat saja nanti.” Tak lagi hal itu terpintas di benakku. Seperti biasa, kami duduk di belakang sambil setengah mendengarkan siapapun berbicara di depan. Saat pertemuan akan berakhir, diriku mulai bersiap-siap untuk beranjak. “Tunggu dulu,” katanya sambil menahanku.

“Apakah ada yang ingin menambahkan?” tanya wanita ketua komite di depan dengan mata berbinar. Kurasa ia malah terlihat lebih muda daripada setahun lalu saat pertama kali mengajak kami untuk mengikuti pertemuan. Dia langsung berdiri, “Saya ada pengumuman.” Semua mata tertuju padanya, termasuk diriku. Dia tersenyum padaku sebelum berjalan ke depan massa dimana wanita itu sudah menunggu dengan wajah halus. Dia berdeham sebelum membuka mulutnya untuk berbicara.

“Mulai minggu depan, saya akan pindah.”

Ia menatapku lalu berpaling. “Begini, saya akan menikah sebentar lagi.” Ia mengeluarkan barang-barang misterius tak jauh dari sisinya. Ia mengangkat sebuah barang persegi dilapisi plastik mengkilap. “Bapak dan Ibu sekalian saya harap berkenan untuk datang.” Pria jangkung itu memberikan undangan satu-satu kepada mereka. Tak kusadari aku menahan nafas sejak tadi. Paru-paruku terasa terbakar mendapat undangan pernikahan dari lelaki idaman.

Apakah aku salah dengar ?

Bibirku mendadak kering dan kurasa seberapa banyak air pun tak dapat membuat rasa ini pergi. Jemariku gemetar, pasangan coklatku menatap wajahnya dengan kosong. Sama-samar kudengar hiruk-pikuk obrolan, tak satupun dapat kucerna. Ingin rasanya beranjak, tapi kedua kakiku telah kehilangan tenaga. Tak kusangka dia sudah kembali di sisiku. Dengan tepukan di bahu, ia mengajak untuk kembali. Aku berjalan sedikit di depannya dan menggerai rambutku. Tak bisa ku lihat parasnya. Sungguh tak bisa. Aku dia. Ia diam. Saat lift berdenting nyaring di lantai 11, aku segera langsung menuju pintu. Sebelum tanganku meraih gagangnya, dia memanggil.

Membalikkan badan, aku menatapnya untuk pertama kali. Ia mengeluarkan sesuatu. Barang yang tadi dibagikan. Undangannya. “Kau orang paling kuharapkan untuk datang.”

Bukan pedih lagi kurasakan. Kedua tanganku mengepal di sisi, engan menerima undangannya, tapi tak boleh menolak undangan. Kulihat namanya dan nama seseorang tak kukenal tercetak dalam huruf kapital berwarna emas. Mataku menatapnya dengan tajam. Mata lembutnya tak bisa meluluhkanku. Hasrat untuk menampar wajahnya meluap. Mungkin tubuhku bisa meledak saat ini juga. Tapi tubuhku hanya membatu. Ragaku terasa panas, hatiku terasa dingin.

Tiba-tiba kedua tangannya menggapaiku dan menarikku. Aku terjatuh dalam rangkulannya, kedua tangannya mendekapku erat. Tanganku masih membeku di sisiku, tetap mengepal. Telapak tangannya membara di punggungku. Pelukannya hangat seketika mencairkanku. Tubuhku berkhianat, melumer dengan tubuhnya. Satu-satunya yang mencegah agar tidak terjatuh adalah lengannya menopangku.

“Aku serius. Aku sangat ingin kau datang.”

Beberapa detik lalu, diriku pasti sudah memukulnya dengan sekuat tenaga. Sekarang, hanya bisa membenamkan wajah ke bahunya. Kian lama kian erat. Dadaku tak bisa bernafas. Tak apa jika mati sekarang dalam pelukannya karna kekurangan oksigen.

“Kau tahu, aku sangat menyayangkan persahabatan kita.” Ia menyebut namaku dan aku merasa jantungku bisa berhenti berdetak saat itu juga. “Aku akan sangat sibuk beberapa hari kedepan.” Mataku sudah mulai berair, tak dapat kuhentikan lagi. Ia perlahan melepas rangkulannya dariku dan memegang bahuku dengan erat. Ia menatap wajahku, menganalisa rautku. Tak ada warna terpampang di ekspresiku dan aku berharap air mata di sudut mataku tak terlihat. Ia tersenyum. Aku sudah muak. “Sudah belajar mandiri ?” Kepalaku hanya mengangguk. Ia belum percaya. Aku tersenyum kecil. Rasanya kepalaku ingin meledak.

Ia pamit, sesaat lagi ada acara. Aku hanya bisa mengangguk bisu. Seperti biasa, ia menunggu hingga aku menghilang di balik pintu.

Dia hanyalah mimpi yang takkan bisa kugapai

Saat pintu mengeluarkan bunyi klik tanda tertutup, air mataku mengalir. Pikiranku berkabut. Di tengah musim panas, udara terasa dingin yang menyesak. Kakiku tak lagi bisa melangkah. Aku berakar di tempat. Malam itu aku menangis. Aku menangisi sesosok pria yang selama ini telah menjadi bagian besar di hidupku. Aku menangisi diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Menangisi diriku sendiri karena selama ini salah. Dia bukan kenyataanku, tak pernah. Dia akan hanya selalu dalam anganku. Dari awal, takkan berubah. Akan selalu menjadi bintang sementara sayapku sudah patah. Walaupun bisa dekat dengannya, tak bisa ku bernafas. Ia sekarang menjadi mimpi yang takkan bisa kugapai.

Dibagikan

Thelonepassion

Penulis :

You may also like