Aku Dan Hidupku

curhatan sedih kisah hidup

Aku memang bukan penulis berbakat, atau penulis yang baik. Namun hanya melalui tinta pena dan selembar kertas, kuungkap curhatan sedih kisah hidup yang ku alami.

Curhatan Sedih Kisah Hidup – Aku Dan Hidupku

Malam ini air mata ku jatuh tak terbendung setelah menerima telepon dari ibuku. Wanita terhebat sekaligus bidadari dari syurga dikiriman Allah untukku. Teringat bagaimana diriku hidup dan besar dari tangan penuh kasih sayang, tangan yang sekarang sudah mulai tua dan keriput. Tapi bagiku dirinya tetap cantik, muda, tak ada bedanya dulu atau sekarang. Meskipun terjadi perceraian antara Ayah dengan Ibu, namun mereka tetap ingin membuat anak-anaknya bahagia. Meskipun mereka tak mengerti perasaan kami.

Dibesarkan dikeluarga biasa

Namaku Eva Wahdaniyah. Aku memiliki seorang kakak bernama Suta. Biasanya keluarga dan teman-teman memanggilku Eva. Aku lahir dari keluarga tidak miskin tapi kurang kaya, alias sederhana. Sekilas orang memandang keluarga kami nampak baik baik serta bahagia. Meski sering kekurangan, mereka melihat kehidupan kami utuh sempurna.

Kami adalah korban dari perceraian orang tua. Meskipun begitu, kami selalu berusaha terlihat bahagia. Berawal dari pertengkaran orang-tuaku saat diriku berusia 6 tahun sementara usia kakakku baru 9 tahun. Walau saat itu masih terbilang kecil untuk mengerti sebuah pertengkaran, keluarga kami sering dihiasi pertengkaran pertengkaran.

Pada suatu ketika Ayah Ibu bertengkar hebat. Membuat diriku serta kakak takut keluar kamar. Kami hanya mampu menangis mendengarkan pertengkaran dengan nada nada tinggi. Hingga berakhir dengan kepergian ayah, Ibu membuka pintu kamar kami.

“Eva, Suta. Kemarilah nak.”

“Iya bu..”

“Dengar nak, ibu juga bapak memutuskan untuk berpisah. Maka dari itu salah satu dari kalian harus ada yang ikut bapak serta ikut ibu.”

“Tapi Eva maunya Bapak sama Ibu gak berantem lagi, gak berteriak kasar, itu membuat Eva sama Kakak takut. ”

“Eva, Suta belum mengerti apa terjadi diantara kami, tapi suatu saat nanti saat kalian dewasa kalian akan mengerti sayang.”

“Bapak kemana bu ?”

“Bapak pergi”

“Pergi kemana ?”

“Mungkin kerumah nenek atau mencari angin!”

Ibu ingin bekerja di Jakarta

Sejak kepergian Ayah saat itu, tak pernah ku lihat ayah di rumah. Tak tahu ayah kemana. Sejak mereka memutuskan berpisah, rumah menjadi hampa dan sepi. Tak pernah ku lihat ibu ceria. Dia hanya tertawa saat di hadapan kami. Selalu menangis setiap malam. Sejak ayah pergi. Kami mulai kelaparan. Lalu ibuku memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Rencana ibuku untuk pergi hanya disampaikan kepada kakak. Karena menurutnya Kakak mulai mengerti dengan keadaan seperti ini.

“Dek, ”

“Iya kak.”

“Ibu mau pergi kerja, mencari uang untuk makan kita. Tapi perginya lama, pulangnya kalo udah dapet uang banyak.”

“Emang mau pergi kerja kemana”

“Mau ke Jakarta,”

“Jakarta itu mana kak ? Jauh gak ?”

“Jakarta itu jauh dek. Jauh banget.”

“Oh trus kita bisa ikut donk?.”

“Enggak dek.”

“Kenapa enggak bisa kak, kan ibu mau ke Jakarta, trus kalo pergi sendirian, kita sama siapa”

“Kakak juga gak tau kita nanti sama siapa ? Ibu belum ngomong sama kakak, nanti kita sama siapa.”

“Terus kalo pergi. Kita sekolahnya gimana ?”

“Biar nanti kakak nanya sama ibu.”

Sore itu kami bertiga duduk di teras rumah, di atas bangku kayu panjang, bangku buatan ayah. Sebenarnya saat itu aku ingin bertanya pada ibu tentang kemana ayah saat ini, tentang rencana kepergiannya. Namun belum sempat bertanya ternyata dirinya telah bicara lebih dulu.

“Eva,”

“Iya bu, ”

“Kakak sudah bilang belum ? Tentang rencana ibu pergi bekerja, mencari uang untuk menyambung hidup juga pendidikan kalian ?”

“Sudah Bu.”

“Trus Eva ngijinin gak ?”

“Enggak.”

“Kenapa enggak ?”

“Kalo pergi trus Kita sama siapa?”

“Nanti biar Eva sama nenek dan tante ya,”

“Tapi kami ingin ikut bu.”

“Ibu kan mau kerja nak. Mau nyari uang buat kalian.”

“Terus ibu pulangnya kapan ?”

“Gak lama kok, paling satu minggu.”

“Satu minggu itu berapa hari ? Lama gak ?”

“Enggak lama dek, nanti Eva kan ada nenek ada tante, ada kakak”

Pembicaraan sore itu terpotong oleh kedatangan nenek. Nenekku memang sering datang ke rumah karena jarak rumah kami dengan nenek tidak terlalu jauh. Entah apa mereka bicarakan, diriku tidak pernah mengerti. Mungkin karna usiaku masih kecil sehingga apa mereka bicarakan telingaku hanya mendengar tanpa mengerti maknanya.

Ibuku mencoba bunuh diri

Ini adalah hari terakhir ibuku berada di rumah. Walau telah berkata bahwa diriku tak ingin dirinya pergi, namun tekatnya telah bulat. Apalah daya kami. Kami hanya dua bocah kecil belum mengerti apa itu perpisahan. Pagi ini seperti biasa kami bersiap-siap berangkat sekolah. Ibuku akan pergi nanti sore sepulang kami sekolah, seberangkat kami mengaji. Namun ternyata semua tak sesuai dengan rencana. Siang itu sepulang sekolah ku lihat dirinya duduk sendirian di belakang rumah. Sepertinya sedang menahan sedih serta sakit. Karena sorot matanya terlihat kosong.

“Dek,”

“Iya”

“Ibu mana ?”

“Oh, ada di belakang rumah kak.”

“Sama siapa ?”

“Tadi sih sendirian.” Memang ada apa kak ?”

“Enggak ada apa-apa”

“Adek udah makan belum ?”

“Belum kak. Ibukan enggak masak.”

Tiba tiba terdengar Ibuku memanggil kakak. Kudengar dia meminta dicarikan obat sakit kepala serta sebotol minuman bersoda. Diriku gak pernah tau itu minuman apa. Hanya kakakku yang tau. Tapi tiba tiba ibuku memanggilku juga.

“Eva,”

“Iya bu.”

“Kemari nak.”

“Iya..”

“Eva sama suta kalian harus akur ya. Sebagai sodara tidak boleh saling menyakiti. Suta harus jaga adek Eva. Karena Suta kan cowok sebagai pengganti ayah, suta harus bisa jaga Eva. Eva  harus nurut sama kakak. Ingat, apa saja perintanya itu pasti terbaik buat Eva. Eva enggak boleh nakal. Jangan cengeng. Harus jadi anak baik. Karena suatu saat nanti Eva jadi pengganti ibu. Jadilah saudara yang baik. Jangan suka bertengkar, saling menyayangi.”

“Iya bu. Suta akan jaga adek, Suta sayang ibu, sayang ayah juga sayang adek.”

“Pinter kalo begitu. Ya sudah ibu istirahat dulu. Kalo kalian lapar, mintalah nasi sama nenek atau tante. Karena hari ini ibu enggak bisa masak. Nanti kalo ada apa-apa kalian bangunin ya, dan jangan lupa nanti sore harus pergi ke Jakarta cari uang untuk kalian.”

“Iya bu.”

Entah mengapa, perasaan kami gelisah. Takut seperti akan ada sesuatu akan hilang dari hidup kami. Siangnya kakak pergi kerumah nenek meminta nasi untuk kami makan, karena dari pagi belum makan,

“Dek”

“Iya kak.”

“Adek makan ya, habis makan kita mandi buat siap siap untuk pergi ngaji.”

“Iya kak. Tapi aku mau ibu juga makan, dia pasti belum makan sama seperti kita.”

“Ya udah kalo gitu sana adek bangunin ya. Kakak ambil air dulu”

“Iya kak.”

Entah apa terjadi pada ibu. Saat ingin ku bangunkan, ternyata mulutnya penuh busa. Ku kira dia sedang gosok gigi sambil tidur. Namun saat ku bangunkan tak juga bangun. Bahkan badannya sedikit kaku. Hatiku sangat takut. Sungguh takut.

“bu bangun.., bu kok gosok gigi sambil tidur. Sini Eva lap ya busanya pake air. bu, kok diam saja ? bu dengar Eva kan ?  Bu… bu kakak sudah mintak nasi dari nenek ayok kita makan, ibu pasti lapar,  bangun donk bu jangan buat Eva takut, bu bangun.. !!”.

Namun ibuku tak kunjung bangun, membuatku benar benar talut.

“Kakak, kaa, kakak sini kak. Tolong kak tolong ibu. Kakak”

“Iya dek sebentar. Memang ibu kenapa dek ?”

“Kakak kesini.”

“Iya iya.  Ya Allah ibu kenapa dek ?”

“Aku enggak tau kak,”

“Adek tunggu disini kakak akan ke rumah nenek ya, adek jagain ibu.”

“Iya kak.”

Ayah datang

Kami berdua benar benar takut. Rasanya lama sekali menunggu kakak kembali. Tangisku mulai tak terkendalikan.  Diriki enggak tau apa sebenarnya. Lalu kakak datang bersama nenek dan tante serta beberapa tetangga. Semua cara dilakukan untuk membuatnya bangun. Namun dirinya tak juga bangun. Akhirnya dia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku dan kakak bingung, banyak sekali orang datang termasuk ayah. Ayah memeluk kami berdua. Tangis kami tak terkendalikan karena kami benar-benar takut. Rencananya  ibuku berangkat ke Jakarta, namun pada akhir nya dia harus berangkat ke rumah sakit akibat percobaan bunuh diri.

Ayah terus memeluk kami. Usia kami yang terbilang masih terlalu kecil untuk dapat mengerti probematika didalam keluarga saat itu membuat para sanak saudara serta tetangga mengusap rambut kami dan memberi motivasi untuk kami, saat ini aku tidak tau bagaimana keadaan ibu, apakah baik baik saja atau tidak, yang ku lihat ibu terbaring belum sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit, aroma obat yang begitu memusingkan harus aku tahan, ketika ayah mengajak kami melihat keadaan ibu, ayah hanya diam. Enggan mengatakan apapun kepada kami, tentang kondisi ibu, dan kami tidak memiliki keberanian untuk bertanya, karna kami tau dari sorot mata ayah, jika ayah sangatlah sedih. Malam ini adalah malam kedua kami berada dirumah sakit namun ibu belum juga sadar, malam ini ayah kembali dipanggil suster untuk menemui dokter yang menangani ibu. Aku dan kakak hanya menunggu ayah didalam ruangan ibu. Karna ayah tak mengizinkan kami ikut. Tak berselang lama ayah pergi, kini ayah kembali lagi. Ayah menanyakan apa kami lapar, kami menjawab bahwa iya kami lapar, dan ayah mengajak kami untuk makan di warung depan rumah sakit.

“Eva dan Suta mau makan apa ?”

“Kalo eva mau makan bakso ayah.”

“Kok bakso,? Makan nasi ya,!”

“Enggak mau,”

“Kalo suta mau makan apa ?”

“Aku makan apa saja ayah. Yang penting uang ayah masih cukup buat kita makan besok,”

Kulihat ayah menjatuhkan buliran bening dari mata ny. Tapi ayah tetap tersenyum diantara kami.

“Ya sudah kita makan bakso, ikuti apa kata adek.”

“Iya ayah.”

Makan malam itu adalah makan malam pertama kami bersama ayah, walau kami telah bersama ayah dari kemarin malam. Namun keadaan kemarin tak memungkinkan kami untuk menikmati makan malam seperti ini. Didalam suasana makan malam yang singkat ini. Kakak memcoba bertanya kepada ayah. Tentang apa yang terjadi kepada ibu. Namun ayah hanya bilang, bahwa ibu baik baik saja. Dan keadaan ibu sudah mulai membaik, nanti juga ibu akan sadar jika detak jantung ibu telah pulih. Malam ini kami bertiga bermalam lagi di rumah sakit, kami hanya berharap bahwa ibu akan segera sadar. Aroma obat membuat kepala pusing kembali ku cium. Bergegas ku berlari mengambil satu kursi plastik untuk berdiri disamping tempat tidur ibu.  Kulihat wajahnya sudah tak sepucat tadi, hatiku yakin ibu lebih baik dibanding tadi saat kami tinggal makan malam.

Ku kecup lembut pipi nya, terasa halus namun dingin. Tak berselang lama ayah memanggilku untuk segera tidur karena hari sudah malam. Aku dan kakak tidur di atas sofa di sebelah tempat tidur ibu. Sedang ayah terus merapikan selimut ibu, dan menemani kami tidur, meskipun aku tau ayah tidak tidur selama dua malam ini. Ayah selalu tersenyum ketika bersama kami.

Pagi pagi sekali saat aku baru bangun tidur. Aku terkejut bahagia melihat ibu telah sadar dan duduk diatas ranjang rumah sakit, buru-buru kubangunkan kakak, karna kakak pasti seneng lihat ibu sadar. Bahagia rasanya hati kami, aku, kakak, ayah, dan ibu, sepertinya larut dalam kebahagiaan, disaat ini enggak ada pembicaraan tentang apa yang dialami ibu. Kami takut dia sakit lagi. Enggak terasa sudah satu pekan kami berada di rumah sakit, ibu sudah diperbolehkan pulang.

Sudah sebulan berlalu sejak kejadian percobaan bunuh diri itu terjadi. Ibu lebih banyak diam. Ku kira kebersamaan kemarin akan berlanjut. Kufikir ayah ibu batal berpisah. Namun ternyata semuanya salah. Ayah ibu tetap ingin berpisah. Ibu tetap akan berangkat pergi ke Jakarta. Sekarang aku enggak pernah melihat ayah datang menemui kami. Sejak keberangkatan ibu ke Jakarta, ayah hanya menitipkan uang untuk kami lewat nenek atau tante bahkan tak jarang lewat tetangga. Kini tinggal kami berdua didalam gubuk berdinding kayu berlantai tanah.

Hujan malam ini membuat kami berdua kedinginan. Walaupun nenek sering menyuruh kami tinggal bersamanya namun kami menolak. Karena enggak ada yang dapat kami lalukan untuk menciptakan kehangatan keluarga seperti dulu. Selain aku dan kakak, dulu didalam gubuk ini ada ibu dan ayah. Namun saat ini hanya tersisa aku dan kakak. Hujan malam ini membawa tamu ke dalam gubuk kami. Suara ketukan pintu terdengar, kami kira nenek, ternyata ayah. Iya ayah datang sebagai tamu karna ayah enggan bermalam dengan kami.

Tangisku dan tangis kakak adalah tangis kerinduan, kekecewaan kepada ayah. Dia hanya memeluk kami. Dia menanyakan apakah ibu pernah kembali, bagaimana keadaan kami. Semuanya terasa singkat malam itu karena ayah kembali pergi dari kami. Dia hanya membawa bekal makanan untuk kami.

Pagi ini aku tidak masuk sekolah. Kalau sekolah siapa akan bersih bersih rumah ? jadwal baruku adalah menggantikan ibu. Setelah dia ke Jakarta kami berdua membagi tugas. Kalau kakak mencari kayu bakar, maka aku memasak nasi. Soal lauk kami seadanya. Walau kadang pake garam atau trasi bakar. Keadaan yang baru ini membuat kami jadi anak mandiri. Walaupun nenek sering membelikan kami makan namun itu tidak setiap hari,

Enggak terasa waktu terlewat kan begitu saja, liku-liku hidup kami lewati berdua. Kini kakak ku telah lulus sekolah dasar, dan aku baru duduk di bangku kelas 4 dasar. Kukira kami akan terus bersama, karena sejak pergi ibuku tak pernah kembali, dan sejak kedatangan ayah malam itu, ayah pun belum pernah kembali. Simpati dari nenek tante dan tetangga biasa kami terima, namun hari ini adalah hari yang paling sedih setelah kesedihan atas perpisahan ayah dan ibu. Ku dengar kakak akan pergi juga ke Jakarta. Kabar itu tidak langsung aku dengar dari kakak ku, namun dari teman kakak ku. Sore ini aku menunggu kakak di teras rumah, duduk sendiri diatas bangku panjang buatan ayah, kenang kenangan dari ayah. kini kakak pulang dan menemani aku duduk di bangku kenangan ini.

“Kakak.”

“Iya dek.”

“Apa kakak akan terus menemani aku?”

“Iya kakak akan terus bersama adek.”

” Kakak enggak bohong kan?”

“Kenapa adek nanya gitu,?”

” Kak, sekarang siapa lagi yang adek punya, ayah pergi ibu juga pergi. Trus kakak mau pergi juga? Apa kalian tidak sayang kepada ku? Apa salah ku sampai kalian semua meninggal kan aku?”

“Dek, dulu kan ibu bilang ibu pergi cari uang untuk kita? Trus ayah juga bilang jika ayah akan kembali.”

“Tapi mana, mereka enggak pernah kembali, dan sekarang kakak juga akan pergi?”

“Adek kata siapa kalo kakak mau pergi?”

“Kata temen kakak,  kata nya kakak akan pergi ke Jakarta”

“Iya dek itu benar, kakak akan pergi ke Jakarta, rencana nya kakak akan kerja di konveksi bersama teman kakak.”

“Kalo kakak pergi terus adek sama siapa kak?” Tangis ku pecah saat itu, satu kenyataan yang bagi aku berat, di usia ku yang baru 8 tahun, namun kehancuran keluarga kekecewaan terus aku rasa.

Nanti sore kakak akan pergi mengejar ke inginan ny, pendidikan yang harus nya dia jalani kini dia tinggal kan, cita cita seorang anak pelajar yang dulu dia ingin kejar kini dia lupakan, kakak akan pergi meninggal kan aku seorang diri, tangis ku dari kemarin belum berhenti. Setiap kali aku melihat kakak, air mata ini terus jatuh, teringat perkataan ibu, jika kita terus bersama, namun keadaan berkata lain, kakak kini harus pergi meninggal kan aku sendiri, sering hati ini bertanya apa ALLAH membenci aku sehingga orang orang yang aku sayang pergi meninggal kan aku.

Sore ini aku lihat kakak sibuk dengan ransel nya, ransel yang telah terisi oleh baju baju ny, sepanjang hari ini aku tidak pergi main, atau pun makan, aku terus mengikuti aktifitas kakak, aku berdiri disamping pintu kamar, melihat kakak sibuk dengan semua rencana ny, air mata ku jatuh, ya aku menangis melihat waktu kebersamaan aku dan kakak tidak lama lagi. Kini kakak siap pergi, pergi membawa luka di hati karna keluarga yang dulu sempurna kini hancur tidak tau apa sebab ny

“Kakak. Yakin mau pergi? Air mata ku jatuh.

“Iya dek, adek jaga diri baik baik ya,”

“Adek ikut ya kak,”

“Adek enggak bisa ikut kakak,”

“Kenapa kak,?”

“Kakak kan pergi nya jauh, kakak kan mau kerja dek.”

“Kenapa semua ny pergi kak? Kenapa?” Tangisan aku enggak terkendalikan, badan ku lemas, aku duduk di lantai tanah rumah kami, rumah kakak dan aku, tapi kini rumah ini akan menjadi rumah aku, karna mereka pergi meninggal kan aku.

“Nanti kakak cepet pulang kok dek,”

“Dulu juga ibu bilang begitu Ibu akan cepat pulang, tapi mana? Sampai sekarang ibu enggak pulang!”

“Adek harus percaya sama kakak kalo kakak enggak bohong, karna kakak sayang adek”

“Adek pengen ikut kak, adek takut kalo harus sendirian, nanti adek ngaji nya sama siapa? Adek nanti bobok sama siapa? Nanti yang ngajarin adek belajar siapa?

“Nanti adek ikut nenek dan teante ya, nanti biar tante yang ngajarin adek, yang nemenin adek.”

“Tapi adek enggak mau kakak.”

“Adek jangan nangis, kakak pergi dulu ya”

“Kakak ikuttt” tangisanku makin menjadi berteriak memanggil kakakku. Namun langkahnya tak terhenti sedikit pun, hanya sekali dia menoleh. Kulihat dirinyapun menangis. Kini diriku benar benar sendiri. Kehangatan keluarga dulu kurasa kini benar benar dingin karena mereka telah pergi. Air mataku sore ini terasa sia sia. Kutangisi keadaan hingga malam hari sampai ku tertidur dalam tangisanku. Rasanya rumah ini atau mungkin lebih tepatnya gubuk ini, terasa sunyi sepi, kosong, enggak ada kasih sayang tertinggal didalam nya. Hanya kesunyian dan semua kenangan.

Setelah kepergian kakak senja itu, semuanya berubah. Diriku dulu semangat untuk mengaji, namun kini hanya berdiam diri dirumah tante. Membantu tante serta nenek, namun untuk sekolah diriku tetap rajin. Bahkan semangatku sekolah lebih giat. Karena sejak keluargaku hancur, diriku bercita cita agar mampu menyatukan keluargaku kembali. Meskipun seandainya itu mustahil setidaknya kelak bisa menjadi orang sukses.

Kegiatan baruku setelah tinggal bersama tante adalah mencuci piring, mencari kayu bakar, mencari singkong atau kacang diladang tetangga saat ladang mereka panen. Keadaan kampung masih ndeso banget mengajarkanku untuk lebih mandiri.

Diriku sering pulang ke gubukku, duduk didepan teras, diatas bangku panjang buatan ayahnya. Disini semua terkenang jelas, canda tawa air mata juga derita. Jika rindu pada kakakku, maka akan kupeluk bajunya yang ditinggal.  Jika rindu ibu, kupeluk bajunya yang tersisa, lalu jika sedang rindu ayah kubaringkan tubuhku diatas bangku ini. Berharap ayah datang dalam mimpiku.

Hingga suatu hari badanku terasa dingin menggigil, hatiku benar benar merindukan ibu, ayah serta kakak.  Malamnya badanku terasa panas, tubuhku sakit. Tante hanya memberiku obat warung, membiarkanku tetap tidur sendirian. Dalam sakit diriku bermimpi ibu kembali menjemputku. Rupanya diriku tidak bermimpi. Ibu benar benar kembali. Kini dirinya menangis disampingku. Mulutku tak mampu berkata apa-apa. Hanya air mata jatuh berderai, bahkan badanku pun sulit untuk kugerakan. Didalam hati kuberkata “Ibu jangan tinggalin Eva lagi. Eva mau ikut ibu, Eva enggak mau sendirian”

Akhirnya ibu memutuskan mengajakku pergi ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta ternyata ibu telah bersuami lagi. Tapi diriku tak berani menanyakan semua itu. Kusimpan saja dalam hati. Setelah surat kepindahanku diurus, aku didaftarkan pada salah satu sekolah negeri, Disekolah inilah diriku belajar hingga lulus. Tapi aku tidak melanjutkan sekolah karena orang tuaku tidak mampu.

Akhirnya kuputuskan untuk mulai belajar mencari uang. Pada usia 14 tahun, aku belajar bekerja menjadi baby sitter, walau belum bisa bekerja, diriku berusaha semampuku. Akan tetapi baru sebulan bebekerja keluargaku pindah ke pulau Sumatera, tetapi ternyata kehidupan disana tidak lebih mudah dari di Jakarta. Keluarga ayah tiriku seperinya tidak suka akan kedatangan kami. Tujuh bulan tinggal disana membuatku mengerti bahwa hidup benar benar kejam. Merasa tidak betah lagi, kamipun memutuskan untuk pulang ke tanah Jawa.

Akhirnya tibalah kami kembali di kampung halaman. Namun betapa terkejutnya melihat rumah kami telah rata dengan tanah. Ternyata nenek telah menjualnya. Menurut nenek daripada di makan rayap mending semua papan kayunya di jual saja. Kami sekeluarga hanya bisa pasrah.

Kini semua kenangan itu telah lama berlalu. Diriku telah dewasa. Meski kepahitan mengiringi sepanjang hidupku, diriku tetap menyayangi orang tuaku. Bagiku derita serta air mata bahagia adalah Allah yang mengaturnya. Kita hanya bisa berdoa memohon kepadaNya. Ini merupakan kisah hidup nyata kualami yang sejak dulu ingin kuungkapkan tapi tak ada tempat bagiku untuk bercerita. Hanya disinilah kucoba tuliskan, semoga tidak ada anak sepertiku mengalami penderitaan sama seperti diriku.


Terima kasih telah membaca curhatan sedih kisah hidup yang merupakan kisah nyata penulis. Semoga cerita curhat Bisfren diatas dapat memberi inspirasi sekaligus motivasi dalam menjaga hubungan dengan semua orang. Salam sukes selalu.

Dibagikan

Eva Wahdaniyah

Penulis :

Artikel terkait