Aku Ingin Bertemu @ Cerpen Sedih Patah Hati

cerpen sedih aku ingin bertemu

Aku ingin bertemu merupakan cerita pendek (cerpen) sedih tentang seorang wanita mempermainkan cinta lelaki untuk dijadikan taruhan dengan teman-temannya. Ketika hal tersebut diketahui, sang lelaki menjadi marah dan patah arang sehingga tidak mau lagi menemuinya.

Cerpen Sedih Patah Hati Aku Ingin Bertemu

Aku ingin bertemu, kata – kata itu terus terngiang dalam telinga Arga. Sedikit kasar Arga menghempaskan fail-fail kertas dokumen ke atas meja kerjanya. Arga menarik nafas panjang, berusaha melepaskan penatnya siang itu. “Kamu sudah menemuinya ?” Erwan menatap Arga. “Apa harus aku menemuinya ?” Arga balik bertanya dengan sedikit ketus. “Selalu ada alasan dari sebuah kejadian broo, selalu ada penyelesaian dari sebuah kemelut, yang kamu dengar dari temannya mungkin benar, mungkin juga tidak. Kenapa tidak coba datang menemuinya, mungkin dia hanya ingin sekedar bertemu denganmu” Erwan kembali berkata sebelum akhirnya berlalu keluar dari ruang kerja Arga.

“Haahhhfft…” Arga kembali menarik nafas dalam. Aaahhhrrhg… percuma sudah gak ada gunanya, Arga berkata dalam hatinya (simak juga cerpen sedih Desta dan Kinar).

*****

Sore beranjak malam, diluar sana hujan masih menyisakan gerimis. “Aku akan menunggumu disini sampai kamu datang” Tatiana mengirimkan pesan singkat itu untuk ketiga kalinya.

Arga langsung menghapus pesan singkat tersebut, tak ada sedikit pun ada keinginannya untuk membalas pesan dari Tatiana, matanya kembali menatap fail-fail dokumen pada meja kerjanya.

Malam makin larut, Arga melirik pergelangan tangannya, sudah hampir jam 11 malam. Tatiana, dia teringat pesan dari Tatiana, aaahh cafenya juga sudah tutup sejak sejam lalu. Pasti Tatiana sudah pulang, gumam Arga dalam hati.  Keluar kantor menuju tempat mobilnya terparkir lalu melaju membelah jalanan sepi. Hujan mengguyur Bandung dari tadi sore membuat jalanan lenggang. Mungkin orang lebih memilih diam dirumah bersama keluArganya masing – masing. Hhmmmhh keluArga, sepi terasa merayapi. Wajahnya kembali membayang pada kenangan masa lalu, dibalik kemudi Arga terdiam (baca cerita pendek cerpen sedih surat untuk gebetan).

“Aku senang banget hari ini Ar…Τhank you yaa kamu mau menemaniku nonton. Sekali – kali kamu juga harus seperti ini Ar, pergi nonton, nyari buku bacaan, hang outlaah nongkrong – nongkrong ngopi gitu, melepaskan strees, jangan pekerjaan mulu tuch yang dipikirin,sekali – sekali badan kita juga perlu santai, perlu hiburan Ar…”

“Aahh cerewet kamu, perasaan dari tadi sejak kita ketemu sampai sekarang mulutmu gak diem dech. Ngomong mulu…” Arga pura-pura mendengus kesal. Dan mereka pun tertawa, tertawa lepas. Sejak bertemu pada acara reuni 5 tahun lalu, pertemanan Arga dengan Tatiana semakin dekat bahkan akrab. Seiring berjalannya waktu hubungan mereka pun ditaburi benih – benih cinta hingga perlahan semakin berkembang dan berbunga.

“Bisa dimatiin dulu gak hapenya ?” Arga berkata sambil memegang jemari Tatiana yang sibuk memijit – mijit tombol hape pada tangannya.

“Iya, kenapa Ar ?” Tatiana menoleh sebentar ke arah Arga. “Cobain ini… ini ku beli buat kamu, tapi kalau gak cukup nanti ku tukar yang baru” Agak kikuk Arga berkata, tangannya menyodorkan kotak kecil berwarna biru terang. “Apaan ?” Tatiana membuka kotak kecil tersebut. “Heeemm buatku nich… ?” Tatiana mencoba mencocokkan cincin tersebut di jari jemarinya. “Yaahh…buat kamu…diriku ingin kita menikah” Arga menggenggam tangan Tatiana. Perkataan lugas lagi spontan tersebut membuat Tatiana kaget.

“Ha … ha… haa… Arga … Argaa…kamu lucuu dech, haduuhh sudah aahh becanda mulu dari tadi, kepalaku sakit banget nich Ar… pulang yuuk …” Tatiana menjawab tertawa sambil melepaskan cincin di tangannya. “Aku serius Tatia… kita menikah, punya keluarga, ada anak – anak dan tentu saja ada kamu setiap saat di dekatku, di rumah kita… Kuingin saat lelah pulang kerja ada kamu menungguku di rumah” Arga menatap Tatiana lekat. Namun Tatiana hanya tertunduk meraih tas kemudian beranjak berdiri. “Iya…nanti ada waktunya Ar…kita pulang Yuu, kepalaku makin sakit nich, nanti aja dech bahasnya yaah…yaahh…” Tatiana sedikit pucat merajuk, menarik tangan Arga untuk berdiri.

“Okeeehh ku simpan yaa cincinnya… cincin hadiah aja khan ?, bukan cincin lamaran… he hee…” Tatiana melempar senyum manisnya sambil melirik Arga sebelum akhirnya turun dari mobil Arga malam itu.

********

“Apaa  ?  jadi Arga sudah tau, kalau awalnya hanya…” belum sempat menyelesaikan perkataannya Tatiana kaget pada suara barito memotong perkataannya. “Iyaa… gak tau maksud kamu apa, bisa – bisanya kamu jadiin saya taruhan. Perasaan saya, perhatian saya, semuanya kamu anggap main – main” heeuuf Arga mendengus kesal.

“Argaa…toloong… bukan begitu maksudnya, aku hanya…”

“Stopp Tatia…” Arga menatap Tatiana saat mencoba berdiri mendekat ke arahnya. “Cukup dech kamu main – main dengan perasaan orang, berhenti atas semua kekonyolanmu itu, tidak semua pria bisa kamu bodohin… Kamu bertaruh pada teman – temanmu untuk bisa menaklukan hati saya…kamu bangga dengan kemenanganmu Tatia ??” Suara Arga terdengar sedikit tergetar, ada amarah serta kekecewaan terlihat jelas dari matanya.

Arga masuk ke dalam kendaraannya lalu melaju, sebentar dia berhenti menarik nafas panjang tanpa menengok kebelakang, lalu berlalu. Sementara Tatiana yang  baru tersadar dari kagetnya berkata lirih nyaris tak terdengar “Arga…benar – benar tulus mencintaimu”. Dan itulah pertemuan terakhir mereka.

**********

Dingin sekali udara malam itu, sedikit pun mata Arga tak tersentuh kantuk. Sepi, pikirannya menerawang jauh. Suara Tatiana, tawanya, kedekatan mereka, tangis Tatiana, merajuk dan ahh semuanya. Kenapa terbayang lagi. Arga duduk ditepi tempat tidurnya, menyalakan lampu kamar kemudian beranjak hendak menuju kamar mandi.

Sebuah pesan singkat kembali masuk pada ponselnya “Diriku ingin bertemu denganmu Argaa…”. Arga terdiam hingga malam berganti pagi.

**********

“Tatiana di bawa ke UGD Ar” suara di seberang sana terdengar panik. Wajah Arga berubah pucat. “Maksudnya Tatiana ? kenapa masuk UGD ? semalam dia ada SMS saya kok,  Apaa…? iyaa saya usahakan kesana !”. Agra menutup telpon, bergegas menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju kencang menuju rumah sakit.

“Aku ingin Bertemu… Tidak apa – apa… aku hanya ingin bertemu denganmu. Ohhh Tuhan Arga memejamkan mata. Berusaha menutup telinga pun suara halus terus terngiang di telinganya. Suara Tatiana dua bulan lalu. Sudah lebih dari setahun Arga menghindari bertemu Tatiana. Kekecewaan masih membekas dalam hatinya, di tambah seabreg pekerjaan menyita banyak waktu. Hubungan mereka terputus sampai pada 5 bulan lalu  sebuah sapaan pesan singkat mampir di telpon selulernya.

“Arga… aku ingin bertemu denganmu… bisa ?” Arga hanya membalas singkat, berusaha memberi alasan pekerjaan untuk menghindari bertemu Tatiana. Entah kenapa masih ada rasa sakit setiap mengingat tawa Tatiana. Tertawa seperti tengah mentertawakan kebodohannya, kenapa begitu mencintainya. Perempuan yang hanya menjadikannya sekedar taruhan dengan teman – temannya. Cincin itu, cincin dipamerkan Tatiana dihadapan teman – temannya dengan tawa sumringah sebagai kebanggaan sudah menaklukan hatinya. Arga laki – laki arogan kaya raya (sebaiknya baca juga cerita pendek cerpen sedih Jangan mencintaiku lagi).

***************

Di rumah sakit. Dokter hanya memperbolehkan satu orang saja yang bisa melihat Tatiana dari dekat. Sekarang giliran Arga setelah keluarga Tatiana masuk bergantian menemuinya. Tatiana terbaring lemah, alat medis, infusan, alat monitor jantung menempel pada tubuh terbaringnya.

“Tatiana aku disini…” Arga berkata pelan, menggenggam jemari dingin Tatiana. Arga mencium punggung tangan Tatiana sedikit pun tidak bergeming. Kankernya sudah menyebar ke otak. Kalau pun kembali siuman, kemungkinan sebagian ingatannya akan hilang. Demikian menurut dokter barusan. Perkataan seperti sebuah godam besar dihantamkan ke kepala Arga.

“Aku ingin bertemu denganmu… ingin bertemu denganmu… ingin bertemu serta melihat lagi tawamu seperti dulu Tatiana…” Arga berkata lirih, berbisik di telinga Tatiana. “Aku mencintaimu Tatiana”, ucapnya lagi sambil menyeka airmata. Suasana semakin sepi, hening.

Paviliun anggrek 502 RSHS Bandung – Karya Tia Jupe Maria

Dibagikan

Penulis :

You may also like