Sejujurnya Aku Ingin Memelukmu

cerpen cinta remaja aku ingin memelukmu

Merupakan cerpen cinta remaja yang bertemu kembali setelah berpisah menjalani long distance relationship atau cinta jarak jauh selama tiga tahun. Remaja merasa dewasa, begitulah rasanya cinta, akankah mereka memutuskan sesuatu terlalu dini ? silahkan simak kisahnya pada cerpen cinta berikut.

Cerpen Cinta Remaja – Sejujurnya Aku Ingin Memelukmu 

Aku dan Zevan sudah lama menjalani hubungan asmara semenjak SMP. Memasuki SMK, Zevan pindah ke sekolah baru, sehingga kami berpisah sementara waktu hingga Zevan lulus sekolah. Menjalani hubungan Long Distance Relationship, karena perbedaan jarak kota. Sudah 3 tahun diriku tidak bertemu kekasihku. Zevan sudah lama sekolah pada SMK terletak di Jakarta. Kini sudah menjalani ujian, hanya menunggu pengumumannya kelulusan. Kita masih contact lewat handphone, saling menjaga dan percaya satu sama lain. Walaupun kadang saling bertengkar tapi tidak bisa lama, karena kangen juga rindu .

Dirikupun sudah menjalani ujian nasional, tinggal menunggu hasilnya. Dengar-dengar berita darinya bahwa ketika liburan tiba nanti, dia berniat mengunjungi kampung halaman bersama keluarganya, juga menemuiku. Dering handphoneku terdengar saat diriku sedang membaca buku. Ku ambil handphone, ku lihat ada sebuah pesan masuk tertera di layar. Ku buka pesan tadi, ternyata dari kekasihku, Zevan.

Zevan : Sayang, aku udah selesai ujiannya, kami bakal kembali ke kampung halaman lalu kita disana bakal liburan bersama ya sayang

Aku: Yang bener sayang ? waah seneng banget, semoga kamu kesini ya, ku doain selamat sampai tujuan

Zevan: Iya sayangku Viny, kita berdoa aja semoga bisa bertemu kembali. Melepas rindu mendalam ini sayang.

Aku: Iya sayang ku doain selalu buat kamu, amin..

Kami asik SMS an dan bercanda ria hingga tak terasa larut malam pun tiba.

Tak terasa waktu kini sudah di lewati doa-doa dipanjatkan kepada Yang Maha Mendengar, karena kerinduanku telah membukit untuk Zevan. Liburan pun tiba, hatiku senang hari ini Zevan akan datang ke kampung halaman lalu menemuiku sebagaimana janjinya. Sudah 3 tahun tidak bertemu, rasa rindu bertumpuk membuat ku menjadi senang serta gembira rasanya untuk menantinya tiba disini.

Zevan menelpon, handphoneku berdering, lalu buru-buru ku angkat telponnya dengan menggeser touchscreen berwarna hijau ke arah kanan.

“Assalamualaikum Viny ku, kamiudah siap-siap menuju ke kampung. doain ya semoga selamat”

“Waalaikum salam, wah serius dev ? Seneng banget,semoga kamu sampai ke sini dengan selamat juga sehat ya, aku kangen banget sama kamu, ga sabar rasanya buat ketemu sama kamu”. Jawabku tak sabar menahan rindu bertumpuk.

“Iya sabar atuh sayangku Viny chubby, ha ha ha, ya udah kami berangkat dulu” jawab Zevan tertawa.

“Iya Zevan, ku doakan, hati-hati ya di perjalanan, jangan lupa 5 waktu” perhatianku ditujukan kepadanya.

“Si Viny emang bawel ya dari dulu nih, hahah ya udah kamu ojo lali solatnya yaa, Assalamualaikum” pamit Zevan mengakhiri obrolannya.

“Waalaikum salam sayang” ku tutup telponnya, bersiap ingin membantu ibu berbelanja kepasar lalu membantu memasak untuk sarapan pagi.

Hari itupun datang juga, Zevan sudah tiba di kampung halamannya. Dia langsung beristirahat di rumah neneknya tersebut tanpa mengabariku kalau sudah sampai.

Jam menunjukan pukul 9 pagi, Zevan di depan rumah duduk bersama ibu berbincang-bincang.

“Zevan masya Allah, gimana kabarnya  selama di jakarta ? sudah tiga tahun tidak bertemu ya nak” Mamah tercengang melihat Zevan yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya.

“Alhamdulilah, baik-baik aja bu semenjak di Jakarta. Rindu sama anak ibu si Viny makanya berlibur kesini ingin bertemu dia” jawab Zevan sambil senyum kecil.

“Oh si Viny di dalam masih tidur kayanya, mau ibu bangunin ?”

“Ga usah bu, biarin saya aja bangunin Viny, dia emang kebo banget bu”

“Iya nak, dia emang kalu tidur suka bangunnya siang” jawab ibu sambil bercanda.

Melangkah gontai, aku keluar pintu kamar mencari mama masih mengenakan piyama di badan. Tak sengaja mendengar seseorang sedang berbincang-bincang pada mamah di ruang tamu depan.

“Mah, mahh, dimana ?” ucapku malas dengan raut muka masih begitu kucel.

Zevan masih duduk, melihat diriku dengan muka berantakan. Akupun mengucek-ngucek mata agar bisa melihat jelas. Ku lihat dihadapanku kini cowo begitu manis, mengenakan pakaian rapi bersepatu hitam, tak lupa topi snapback yang selalu ia pakai. Zevan, kekasihku baru saja datang.

“Zevannnnnnnn” teriakku kegirangan. Zevan tersenyum nyengir melihatku kegirangan dihadapannya.

“Viny bebek, si jelek baru bangun kamu, dasar kebo” ucap Zevan sambil meledekku lalu berdiri di hadapanku.

“Nih beleknya kemana-mana” ucap Zevan kembali mengelap mataku menggunakan tangannya.

“Iii apa sih kamu Zev,” gumam Viny.

“Kaya ada bau-bau ga enak gini, ada yang belum mandi kayanya nih” ledek Zevan mengendus-ngendus hidungnya mengarahku.

“Iya nih, jangan-jangan kamu yang belum mandi” jawabku menghindar sembari mengendus.

“Hahaha, kamu tuh masih acak amburadul. Mandi gih bau asem tau, masa cewe kebo udah gitu jorok” Zevan terus meledekku.

“Kamu ini ya, dari dulu kerjaannya ngeledekin ku mulu. Ya udah mandi dulu ya bay cowo sok ganteng ewh” jawabku sok judes kepada Zevan.

Selesai sudah diriku merapikan diri mengenakan baju lengan panjang, jeans biru sepanjang mata kaki, serta hijab menutupi rambutku. Rapi lalu siap untuk keluar.

“Gimana sayang ? udah cantik kan ?” tanyaku meminta penilaian kepada kekasihku.

“Tetep aja jelek sayang hahaha” ledek Zevan lagi tak henti-hentinya.

“Kamu ga ada pujian sekali-kali gitu bikin cewenya seneng” rutukku memanyunkan bibir seperti anak kecil ingin menangis.

“Udah yuk jangan cemberut lek, ayo naik ke motor cepet” ucap Zevan tertawa melihat ekspresiku seperti anak kecil meminta lolipop.

Kamipun berpamitan kepada mamah untuk izin pergi berlibur bersama.

“Bu, Zevan pamit ya bawa anak ibu dulu berlibur” sambil mencium tangan mamah.

“Viny juga ya, assalamualaikum mah” mencium tangan mamah, menuju motor dan bergandengan tangan bersama Zevan.

“Hati-hati jangan pulang lewat dari jam 7 malam yaa” amanah mamah disampaikan.

Kali ini kami berlibur di pantai, mencari suasana indah juga nyaman.

****

Tiba di pantai Zevan memakirkan motor, lalu aku dan zevan berjalan menuju ke pantai.

“Kok kita ke pantai sayang?” tanyaku bingung.

“Aku mau bikin liburan kali ini bahagia dan puas pada indahnya pantai ini menikmati sunset sore bersama kekasihku” jelas Zevan tersenyum.

“Iya deh jelek” ledekku.

Kami berjalan menelusuri pantai pasir putih bertebangan dan lembut. Sesampai pada pinggir pantai, kami duduk diatas desiran buih-buih ombak menghampiri. Menyanyikan sebuah lagu bersama iringan gitar dipetik tangan Zevan.

Ku kan setia menjagamu
bersama dirimu dirimu
sampai nanti akan s’lalu
bersama dirimu

saat bersamamu kasih
ku merasa bahagia dalam pelukmu
tapi aku merasa jatuh terlalu dalam cintamu
ku tak akan berubah
ku tak ingin kau pergi s’lamanya .
 
saat bersamamu kasih
ku merasa bahagia dalam pelukmu
  (  Vierra – Bersamamu )

Tiba-tiba Zevan melihat orang sedang menaiki sepeda. Disana ada orang menjajakan sepeda-sepeda untuk disewakan. Lalu dia menghampiri orang tersebut.

“Sayang, aku ke sana dulu” Zevan langsung meletakan gitarnya di pasir putih, lari menghampiri orang tersebut untuk menyewa sepeda. Diriku yang tengah asik menikmati hembusan angin pantai dan ombak-ombak berdesir ditepinya sambil memejamkan mata sehabis menyanyi, melentangkan tangan menikmati angin pantai mengenaiku. Zevan membawa sepeda kehadapanku sambil menggoes dengan kakinya, berhenti di hadapanku.

“Sayang, ayo naik dibelakang”, katanya menunjukan tumpangan sepeda lalu berkeliling ditepi pantai membiru indah dihiasi burung-burung bertebangan.

Zevan menggoes kayuhan sepeda dengan semangatnya. Akupun beteriak dengan lepasnya meluapkan kerinduannya bersamanya sambil mengangkat kedua tangan lalu menggenggamkan jari ke atas. Menikmati hembusan angin pantai ini.

“Aaaaaaaaa… seruuuuuuuu…” teriakku.

“Serukan ?” tanyanya.

“Yeay indah bangetttt” ucapku sambil memegang sadel sepeda.

Hatiku merasa senang juga bahagia, dia tersenyum melihatku seperti anak polos tanpa beban dan masalah.

“Aku mau turun Zev” ucapku lelah menikmati pantai lalu turun dari tumpangan sepeda.

“Ya udah, kita sambil jalan ya?” Zevanpun mendorong sepedanya. Kita berdua merasakan bahagia, serasa dunia ini seperti surga tertunda. Kami bercanda dengan tertawa lepas, berjalan perlahan menikmati suasana hingga tak terlewatkan indahnya sedikitpun. Tak terasa waktupun berlalu, terlihat sebuah jembatan disana, melihat orang lalu lalang berjalan diatasnya, ternyata kami berbeda arah. Merasakan bahagianya melihat keindahan pantai ini.

Kami pun duduk kembali ditepi pantai sambil menidurkan sepedanya. Menikmati matahari akan terbenam. Tak terasa waktu sudah hampir mau Maghrib.

“Sayang indahnya dunia saat bersamamu, momen tak terlupakan, berdua bersama orang kucintai.” Zevan mengucapkan kata-kata hingga membuat hatiku tiba-tiba luluh, tatapannya mengarah ke mukaku.

“Iya sayang, ga kerasa udah sore ya?” jawabku tersenyum, lalu menyenderkan kepala pada pundak Zevan.

“Udah yuk kita kesana sayang, nanti keburu azan” ajakku untuk kembali pulang karena waktunya sudah hampir malam. Zevan pun bangun dari duduknya, tiba-tiba Zevan mengungkapkan sesuatu.

“Sayang aku ingin bersamamu selamanya, apakah kamu mau bersamaku selama hidupku ?” tatapan Zevan mendalam membuatku jadi kaku untuk menjawabnya.

Zevan melontarkan kata-kata tersebut membuatku merasakan degup jantung kencang. Mata Zevan berbinar membicarakan impian bersamaku selama hidupnya. Lalu menunjukan senyum indahnya, membuatku semakin suka juga semakin sayang kepadanya.

Aku menyayangimu Zev, namun apakah kamu serius dengan perasaanmu kepadaku? Batinku.

“Zev, maksudnya apa?” jawabku pura-pura kebingungan.

“Iya, kamu mau kan kita hidup bersama? Kita saling mencintai bahkan menyayangi, apa kamu mau hubungan tanpa jelas ini diteruskan begitu saja ? Sedangkan kita sudah dewasa—“

Dengan jari telunjukku ke arah mulut Zevan untuk memutuskan perkataan keluar dari mulutnya.

“Sssstttt aku tau kamu serius sama aku, tapi dibicarain dirumah saja ya” ucapku.

“Vinn, jawab sekarang, masalah itu belakangan yang penting apa kamu mau bersamaku?” ucap Zevan memaksaku agar menjawab pertanyaannya sekarang.

“Aku akan menerimamu menjadi pendamping hidupmu dengan cinta” jawabku tersenyum sembari melihat matanya yang baru saja meneteskan air mata, karena keterharuan dengan jawabanku.

Kitapun berjalan kembali dengan sunset yang hampir terbenam, burung-burung bertebangan dengan bebas, ombak yang berdesir dengan tenang menyaksikan kebahagianku bersamanya. Yang ku nanti dan ku tunggu cinta dan kasih sayangnya yang begitu tulus dari awal perkenalan, sekarang pun terwujudkan bersamanya selama hidup hingga maut memisahkan.

Ketika Zevan hendak memelukku sambil menggandeng sepedanya, Aku langsung merunduk pura-pura mengikat tali sepatu yang terlepas. Aku tak ingin membuat Zevan menangis. Aku harus menahan rasa sayang ini, tidak boleh sampai berpelukan hingga waktunya tepat. Aku memaksakan diri untuk memulai bercanda, agar tidak memperburuk keadaannya, takut Zevan kecewa kepadanya.

Akupun kembali bercanda bersama zevan, lalu akupun bertanya takut ada yang mengganjal dalam hati Zevan. “Sayang kenapa?” tanyaku khawatir melihat raut mukanya yang memendam kekecewaan.

“Gapapa kok, yaudah yuk kembaliin sepeda dulu. Baru kita pulang sayang” jawab Zevan dengan pura-pura senyum, walaupun dalam hati merasa kecewa.

“Iya sayang” jawabku dengan merasa agak bersalah.

Dalam hati ingin memeluknya, namun aku harus menahan rasa sayang ini karena tak bisa ucapkan selamat tinggal nantinya. jika harus merasakan akan menjadi terasa sangat sedih nantinya. Karena belum pasti dirinya akan bersamaku nanti di hidupku.


Terima kasih sudah membaca cerpen cinta remaja sejujurnya aku ingin memelukmu. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi para remaja. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Adelia Septiawati

Penulis :

Artikel terkait