Aku Sangat Menyukaimu @ Cerita Cinta Romantis

cerpen romantis banget

Aku sangat menyukaimu adalah cerpen romantis tentang seorang gadis yang mencintai pria diam-diam, tidak berani mengakui malah berusaha mengabaikan rasa hingga satu titik dirinya tiada sanggup lagi menahan. Simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Romantis – Aku Sangat Menyukaimu

Mulutku menguap lebar, kantuk mulai menyerangku, tapi jam dinding belum menunjukkan waktu pulang. Iseng kudekati jendela sebagaimana kebiasaanku kalau lagi jenuh. Sambil menggigit ujung pena pandanganku menatap gedung seberang. Sangat jelas kulihat lalu lalang karyawan gedung sebelah. Setahuku dilantai 25 gedung seberang adalah salah satu perusahan ekspedisi terbesar di kota ini. Tapi kesibukan serta lalu lalang para karyawan disana tak kupedulikan. Mataku sibuk mencari seseorang. Ahaaa… itu dia sepertinya dirinya sedang asyik menelpon. Entah apa jabatan lelaki pada perusahan tersebut, namun dari cara bicaranya di telpon serta gerak-geriknya kuyakin dirinya memiliki posisi penting. Apalagi aku bisa melihat dengan jelas dirinya memiliki ruang kantor sendiri.

Ya, jujur saja mataku suka melihatnya. Dinding gedung sebelah memang terbuat dari kaca tembus pandang tanpa gorden sehingga mataku bisa melihat sangat jelas. Tak seperti kami kami yang memiliki gorden hingga harus dibuka atau tutup kalau ingin melihat keluar. Di gedung sana, gordennya otomatis hanya diturunkan saat matahari menyinari bagian ruangannya.

Sepertinya dirinya menyadari kalau mataku sedang memperhatikannya. Saat kepalanya menoleh ketempatku, diriku pura-pura melihat kearah lain, tapi saat mencoba melihatnya lagi matanya seakan sedang memandangku. Tangannya melambai sambil tersenyum. Wuih… ingin rasanya membalas melambaikan tanganku ketika sadar matanya ternyata bukan tertuju langsung kearahku melainkan kesampingku. Kepalaku menoleh, Riana pegawai seksi bergaun merah sedang melambai-lambaikan tangannya bahkan dengan aktraktif mengirimkan ciuman-ciuman jarak jauhnya.

Wekkk… sial kupikir tangannya melambai kearahku. Segera ku berbalik kembali kemejaku lalu menelungkupkan wajahku di depan komputer. Siapa juga bisa protes, toh laki-laki sama saja, melihat wanita seperti Riana dengan tubuh semok dalam gaun juga seksi gitu. Walaupun wajahnya telah beberapa kali dipermak, toh Riana tetap cantik lagi seksi. Sementara aku ?.

Tak sadar kulihat sosokku pada pantulan kaca samar-samar membiaskan bayanganku. Mana bisa kelihatan seksi, gayaku saja cuma berkemeja kotak-kotak, plus celana jeans favorit ditambah sepatu kets usang malas kuganti. Diriku memang rada slengean dalam soal penampilan, mungkin karena sedikit tomboy. Tapi diriku memang suka seperti ini. Dengan begini diriku bebas berekspresi. Tak pernah kubayangkan tubuhku dalam gaun ketat mini serta sepatu high heels oh wow dunia pasti akan terbalik jika melihatku memakai model baju seperti itu. Kalau Riana memakainya, mungkin takkan ada protes, tapi kalau diriku. Ha.. ha.. ha … belum pake aja sudah bisa dibayangkan bagaimana raut wajah teman-temanku ditim editor.

Kuangkat wajahku lalu melihat sekelilingku, tinggal diriku sendirian diruangan. Teman-temanku mungkin ada dalam ruang produksi. Riana telah pergi, diriku kembali ketempat semula ketempat dimana mataku bebas melihat sosoknya. Namun dirinya sudah tidak terlihat huuuu… Padahal bagian menarik kantor itu hanya sosoknya. Sosok yang diam-diam kukagumi.

Mataku kembali melihat kearah dinding. Hmm.. sudah jam pulang, sebenarnya diriku bisa pulang sesuka hati, tapi hatiku tidak terlalu enak pada teman-teman ntar apa lagi dalam pikiran mereka. Pegawai wanita baru udah belagu, datangnya sering telat, pulang paling cepat. He.. he.. kebiasaan bangun pagiku memang harus dipertanyakan. Mungkin karena sering menulis sampai dini hari jadi kebiasaan bangun telatku belum bisa kuhilangkan. Lagian kalau sedang banyak ide susah ninggalin laptop. Tapi kalau lagi gak ada ide, gantian giliran laptopku manggil-manggil minta disentuh hi hi hi. Kuraih ranselku kemudian beranjak pergi. Dalam lift diriku bertemu Anka penulis novel lumayan terkenal. Gayanya juga rada slengean sepertiku.

“Gimana novelnya, dah mulai diedit ya ?”, tanyanya memecahkan kesunyian saat lift meluncur kebawah.

“Udah selesai bos, mungkin besok dibaca sekalian diperbaiki kalau memang masih ada bagian harus diperbaiki. Lusanya udah dikirim kepercetakan”.

“Bagus deh, smoga kali ini sama dengan kemarin ya, bisa best seller”.

“Semoga Bos,” ucapku datar.

“Manggil nama kenapa sih Re, kok manggilnya bos gitu”.

“Suka aja, enak dilidah sih”, ucapku pendek. Anka geleng-geleng kepala. Lelaki ini memang suka mengakrabkan dirinya denganku. Dirinya juga sering datang ke kantor juga hobi berlama-lama diruang kepala produksi yang kutahu adalah ayahnya. Tapi gak setiap hari. Namun anehnya kalau pulang selalu saja waktunya bersamaan denganku. Memang agak aneh, tapi lama-kelamaan diriku terbiasa juga.

“Jadi laper ni, makan yuk”, ajaknya saat kami telah keluar dari lift. Kutoleh heran, Anka tersenyum tipis. Tubuhku baru akan melangkah menghindar ketika tangannya menarik lenganku.

“Tidak. kali ini kamu harus menemaniku makan.”

“Tapi belum laper Bos,” tolakku. Tarikan erat pada lenganku membuatku menyerah mengikuti langkahnya menyebrang jalan. Akhirnya kami masuk ke sebuah restoran. Saat duduk barulah Anka melepaskan tangannya. Diriku duduk sambil manyun, “gak adil nih, melanggar HAM,” semburku. Namun Anka senyum-senyum saja, sepertinya hatinya merasa senang telah berhasil menyeretku makan bersamanya.

“Apa boleh buat hanya begini satu-satunya cara mengajakmu makan. ”

“Tapi namanya pemaksaan. Lagian perutku belum lapar juga,” sungutku.

“Laa.. katanya aku Bos kamu, masa nolak perintah Bos.” Enteng saja Anka bicara sambil mengucapkan menu kearah pelayan restoran lalu langsung mencatatnya.

“Oh ya, jangan lupa es krim rasa strawberry untuk nona ini.”

Mataku melotot tahu darimana dirinya kalau diriku penyuka es krim rasa strawberry ?. Tapi yang dipelototi cuma tersenyum simpul, seolah ingin membuatku terkesan, tepatnya hatiku memang terkesan.

Anka sama slengeannya denganku. Penampilannya juga rada urakan serta slengean padahal dirinya adalah salah satu penulis cerita romantis terbaik di kota ini. Tampangnya ganteng, sikapnya cool juga rada cuek kalau gak didepanku. Dirinya memiliki fanspage tidak sedikit, followers twitter serta instagram jutaan. Setiap upload foto pada instagram pasti langsung mendapat ‘Like’ pengikutnya. Kalau kemana-mana dirinya selalu mengendarai motor gedenya. Keliatan banget dirinya menikmati popularitas. Tapi kenapa kalau sama aku kok lain banget. Ditengah tanda tanya bolak-balik dalam otakku, es krim kesayanganku muncul. Senyumku langsung melebar sambil meraih sendok kecil lalu nyam..nyam… dinginnya meresap, lumer dilidah. Rasa strawberry kental dengan tambahan siraman sirup strawberry diatas esnya bikin lupa kalau Anka masih ada dihadapanku.

“Kayaknya enak banget, bagi dong.” Anka mengambil sendok dari tanganku lalu langsung mengambil sesendok gede es krim kemudian ditelannya. Mataku menatapnya sebal lalu langsung merampas sendokku kembali. Anka tertawa lebar, kuraih es krimku seakan tak rela Anka memakannya. Anka terbahak

“Dasar maniak es krim.” Serunya masih tertawa. Kuleletkan lidahku kearahnya lalu kembali menikmati es krim dengan tenang. Tak kupedulikan matanya terus memperhatikanku, tak kupedulikan juga es krim memenuhi bibirku. Hingga tanpa sadar, Anka melap bibirku dengan tisu. Hatiku terlengak malu. “Cemong tahu, kaya anak kecil aja makan es krimnya,” seru Anka masih dengan tatapan tak ku ketahui artinya.

Perhatianku padanya terpecah saat seorang laki-laki didampingi wanita masuk kemudian duduk tak jauh disampingku. Kepalaku menoleh, seketika jantungku berdegub mengetahui siapa laki-laki sedang duduk tak jauh disampingku. Dirinya adalah lelaki sering kuperhatikan dari jendela kaca. Ahh.. ternyata wajahnya benar-benar tampan. Dengan jas lengkap begitu trendy, penampilannya terlihat sangat menarik. Tapi sayang wanita didepannya membuatku tak leluasa memperhatikannya. Hingga tak sadar ada sentuhan di daguku.

“Hmmm…. Gagal fokus lagi deh,” sindir Anka.

“Mata diciptakan untuk melihat, apalagi dipakai melihat hal-hal keren”, ucapku asal.

“Tapi kalau sedang bersamaku, dilarang melihat cowok lain selain diriku.”

Uppsss…. Kutatap Anka heran, matanya menatapku serius. “dengar Rere hatiku sangat menyukaimu, sejak pertama kali melihatmu masuk kantor sudah suka.”

“Terus ?”.

“Yah cukup kamu tahu aja, walaupun belum pacaran tapi kalau sedang bersamaku tidak boleh melihat cowok lain. Karena hatiku bisa cemburu.”

Waaah… sebuah pernyataan cinta aneh. Belum pacaran sudah sok ngatur. Tapi pernyataan cintanya unik, hatiku suka pada momennya. Suka pada Anka yang kentara menunjukkan wajah cemburunya. Tak sadar bibirku tersenyum.

“Memangnya yakin kita akan pacaran ?.”

“Gak juga sih, gimana mau yakin kalau ceweknya gagal fokus karena cowok lain.”

Mulutku terbahak, tawa agak kerasku membuat sosok tersebut menoleh kearahku. Wew … tatapannya bikin lemes.

“Tuh kan gagal fokus lagi.”

Kali ini diriku tertawa lagi sambil menatap Anka dengan senyum, “Hatiku juga suka sama kamu Anka, tapi sekarang belum mau pacaran. Diriku masih ingin menikmati gagal fokusku”.

“Its oke… tetap akan kutunggu.” Pendek ucapan Anka tapi membuatku yakin kalau dirinya serius pada kata-katanya . Dalam hatiku senang ternyata Anka menyukaiku meski sebenarnya telah kuduga sejak dirinya mulai sering datang kekantor serta berlama-lama diruangan Ayahnya. Tapi entahlah diriku masih ingin menikmati masa lajang. Menikmati pemandangan gedung sebelah, menikmati sesuatu pembangkit rasa penasaran juga rasa ingin tahu. Walaupun akhirnya harus kulihat sosoknya beberapa kali  jalan bersama wanita-wanita berbeda.

********

Kakiku melangkah cuek melewati resepsionis kantor. Kepalanya sedikit menunduk hormat saat melewatinya. Saat bertemu sekretaris Lim dimejanya, kutanya dengan isyarat langsung dijawabnya dengan isyarat juga. Langkahku memasuki ruang direktur utama. Ruangan megah tempat Mamaku menghapiskan setengah dari waktunya. Kehadiranku tak membuatnya kaget. Kepalanya hanya menggeleng-geleng melihatku langsung merebahkan tubuh diatas kursi khusus sering dipakai Mama untuk istirahat.

“Sudah makan Re ?”.

“Sudah tadi dipaksa Anka makan sama-sama”.

“Anka penulis ganteng itu ?”.

“Iya, Mamakan tahu sendiri. Mama aja followers setianya.”

Ada tawa kecil terdengar, “trus kenapa lagi ? gak betah lagi pada pekerjaannya atau ?,”

“Masalahnya bukan itu Mah … Anka suka samaku .”

“Wah bagus tuh, akhirnya putri Mama pacaran juga”.

“Masalahnya hatiku gak terlalu suka sama Anka. Pengen temenan aja sama dia. Orangnya asyik kalau diajak temenan”.

“Kenapa ? diakan ganteng, terkenal, pastinya romantis seperti cerita-cerita novelnya.”

“Iiih Mama terlalu mengada-ngada. Mana Anka kurang romantis. Tadi aja tanganku diseret ikut makan. Mana ada romantisnya ?,” protesku. Mama mendekatiku lalu menaruh kepalaku dipahanya.

“Abis ini kesalon ya, rambutmu ini sudah banyak rusak Re. Duuuh Rere kemeja kaya gini masih dipake. Liat tuh sepatunya. ”

“Iiih Mama, inikan gaul ma.”

“Kamu itu umurnya berapa sih ?, sudah 25, sudah dewasa, masa pakaiannya kaya gini. Sekali-kali pake gaun napa ?.”

“Be my self, be your self. Mamakan sering bilang kaya gitu. Dan beginilah putri Mama”.

“Oke, tapi biar begitu tubuh musti dirawat. Liat ni rambutmu lepek gini.’

Tubuku beranjak kemudian duduk menatap Mama lembut.

“Kenapa Mama gak nikah lagi ?, apa Mama memang ?”.

“Jangan bicarakan hal tersebut sayang, sebentar lagi Mama ada rapat dengan perusahan ekspedisi. Gimana ? mau ikut kesalon dengan Mama atau ?”.

“Gah ah Ma, nanti aja.”

“Minggu besok pamanmu datang dari Belanda. Sempatkan makan malam ya !”.

Diriku berdiri kemudian mengecup pipi Mama lembut lalu melangkah keluar.” Iya pasti Ma.”

“Ada Vitamin Mama kirim, jangan lupa diminum. Kamukan sering gak tidur kalau malam.”

“Iya iya Ma.” Kututup pintu. Agak kaget juga saat didepan pintu berpapasan dengan mahkluk ganteng kulihat direstoran tadi. Dirinya juga sama kagetnya saat melihatku keluar dari ruangan direktur. Lim ikut berdiri, menyambutku dengan sebuah bingkisan.

“Kue strawberry buatan Nella Re, nih. Tadinya mo dititipin ke Ibu eh kamunya malah nongol. Kebetulan.”

“Wah makasih banget Lim, salam buat Nella yh. Ntar besok-besok aku datang kerumah sekalian nengokin Bolo. Pasti udah lucu-lucunya.

“Iya Re, beratnya naik dua kilo bulan ini. Bulet kaya Nella.”

Tawa pecah, kemudian pamit pada sekertaris Mama. Ya, namaku Rere Kusuma Dinata anak bungsu dari 4 bersaudara pemilik Kusuma Jaya Group. Perusahan besar bergerak dalam bidang kontraktor, developer, serta alat berat. Perusahan dengan cabang-cabang tersebar dibeberapa kota besar di Indonesia.

Keempat kakak laki-lakiku masing-masing memegang kepala cabang perusahan pada empat kota besar di Indonesia. Sedangkan diriku, ya ampun, sama sekali tak ada jiwa bisnis dalam diriku, aku lebih menyukai seni serta sastra. Mungkin lebih mengikuti gen Papa. Ya Papa, ingat Papa tiba-tiba hatiku jadi sangat merindukannya. Sudah hampir 7 tahun Papaku pindah ke New York. Sejak bercerai dari mama, Papa memilih tinggal disana fokus pada kariernya sebagai penulis. Papa memang seorang penulis handal biografi. Ada beberapa karyanya sudah dikenal luas. Papa juga menulis novel, ada beberapa novelnya serta sering menulis artikel untuk New York Times.

Seorang penulis mampu menulis apa saja tak terbatas pada tema atau judul akan diusung. Jika sudah berada didepan laptop kata-kata mengalir seperti air,  ide akan bermunculan begitu saja. Satu-satunya kesedihan kadang menerpa hatiku adalah saat menyadari kedua orang kusayangi tidak lagi bersama. Padahal kutahu jelas mereka masih saling mencintai. Pikiranku tak mengerti mengapa cinta membuat mereka terpisah. Apakah cinta serumit itu ?.

*********

Kupacu sepedaku melintasi jalan raya. Ya, inilah satu-satunya kendaraan favorit pilihanku. No polusi, no kemacetan, dan membuat jantung semakin sehat. Sudah jam 10 ampun, telat lagi deh hari ini. Lama-lama bisa dipecat kalau kaya begini terus. Kubelokkan sepedaku kearah gedung perkantoran.

Crittttt…. Bunyi rem mendadak terdengar. Reflex tubuhku melompat menghindar. Lalu sebuah Mercedes Bens Silver berhenti tepat didepanku. Tubuhku beranjak bangkit berdiri. Untung banget kupakai pengaman dipaha, lutut, serta kedua lenganku sehingga tiada lecet. Hanya sayangnya sepeda hancur. Sesosok tubuh keluar dari mobil dan mendekatiku dengan wajah cemas.

“Kamu tidak apa-apa ?”.

Kutatap sosoknya. Oh.. inilah pertama kali kudengar suaranya. Dan suaranya menenangkanku. Idolaku tepat berada dihadapanku. Diraihnya sepedaku yang rusak lalu meminggirkannya.

“Tidak apa-apa makasih ya ?”.

“Sepertinya sepedamu tak bisa digunakan lagi, Nanti akan kuganti.”

“Tidak, tak perlu lagipula semua salahku, diriku sedang terburu-buru,” bantahku langsung melangkah pergi menghindari orang mulai banyak berkumpul. Kubuka pelindung menempel dikaki serta tanganku, lalu setengah berlari menuju gedung kantorku.

Saat tiba tak ada satupun bertanya, mereka hanya menatap atau mengedikkan bahu seolah kebiasaan telat datangku sudah menjadi hal lumrah bagi mereka. Saat duduk dimeja sudah ada dua naskah novel harus kuedit. Diriku mulai sibuk pada pekerjaanku. Hingga tak menyadari sore telah menjelang. Saat tersadar perutku mulai melilit. Ah telat makan lagi nih.

Saat akan beranjak, tiba-tiba kurasakan sakit pada pergelangan kaki kiriku. Kugigit bibir menahan nyeri, pasti gara-gara tadi pagi. Dengan langkah pincang ku bergegas menuju pantry, berharap akan menemukan sesuatu dapat dipakai dikotak obat. Tapi langkahku terhenti saat mendengar sebuah percakapan.

“Seharusnya dipecat saja. Masak kekantor jam 10 gitu. ”

“Gak mungkinlah bos mecat, secara dirinya anak orang kaya, dengar-dengar perusahan ibunya membantu bos waktu pailit tahun kemarin.”

“Tapi kok penampilannya slengean gitu. Gak kelihatan tuh anak orang kaya. Ke kantor aja pake sepeda. Kaya dari mana ?”, terdengar suara milik Riana.

“Apa kamu gak liat HPnya aja Aple keluaran terbaru, mau tahu harganya berapa ?”.

“Berapa coba ?”.

“Ya liat saja berapa, pasti mahal lah ?”.

“Wah jangan-jangan karena itulah Bos gak memecatnya.”

“Ditambah lagi denger-denger Anka suka sama dia.”

“Iya ya liat saja mereka sering pulang bareng. Beberapa hari lalu sempat liat mereka makan di restoran depan bareng Anka”.

“Namanya juga orang kaya, backingnya pasti kuat. Makanya mo datang pagi apa siang gak ngaruh. Kayanya pekerjaan disini cuma buat ngisi waktunya aja deh.”

Kakiku berbalik arah. Ku urungkan niatku untuk kepantry lalu memilih kembali kemejaku. Ah hatiku mendesah, manis sekali mereka didepanku tapi dibelakangku mencerca juga membicarakanku. Inilah hal selalu kuhindari, padahal sudah kucoba untuk menutupi semua tentang diriku. Bahkan tak ingin menunjukkan semua harta kumiliki. Dirikupun sengaja berpenampilan begini sejak kecil karena tak ingin dicap sombong sebagai orang kaya. Hatiku ingin memiliki teman tulus tanpa melihat statusku.

Sudah kucoba sesederhana begini tapi masih juga jadi pembicaraan. Sakit pada pergelangan kakiku kini tiada sebanding dengan sakit dihatiku. Ternyata diriku masih belum diterima pada komunitas seperti ini. Kucoba tak terlihat pincang saat berjalan keluar kantor. Tapi sakit dipergelangan kaki kiriku semakin terasa. Sejenak kuberhenti berjalan lalu kembali melanjutkan langkahku, namun kakiku semakin nyeri. Sakitnya sudah menjalar sampai kelutut. Untung saja kantor sudah agak sepi. Dengan rasa agak lega diriku masuk ke dalam lift. Saat lift terbuka kakiku tersurut mundur saat sesosok tubuh masuk lalu tanpa komentar langsung membopong tubuhku.

“Hei apa-apaan nih ?,!” protesku. Apalagi saat keluar dari dalam lift masih banyak orang di loby gedung. Bahkan beberapa karyawan kantorku masih asyik ngobrol bergerombol. Tapi diriku tak diberi kesempatan untuk turun. Ku hanya bisa mendekap wajahku dengan kedua tangan menyembunyikan rasa malu. Mereka pasti melihatku. Apalagi akan mereka bicarakan dikantor mengenaiku ?. Tubuhku didudukkan dalam mobil lelaki tersebut.

“Kita mau kemana ?” tanyaku saat pria tersebut sudah duduk disampingku mengendarai mobilnya.

“Ke dokter tentu saja.”

“Diriku sama sekali tidak memerlukan bantuanmu, aku bisa sendiri.”

“Berhentilah bersikap keras kepala nona, sejak dalam ruangan mataku sudah mengawasimu. Kakimu pasti terkilir karena kejadian tadi pagi. Dan diriku tak ingin terjadi apa-apa padamu.”

“Ok, baiklah tapi aku tetap tidak suka caramu menolongku. Kamu tahu kejadian tersebut akan menjadi pembicaraan di kantorku. Dengar, posisiku sudah cukup rumit disana.”

“Diriku tidak ada hubungannya dengan situasi kantormu. Yang kupedulikan adalah kalau tidak membantumu seperti tadi akan menambah parah kakimu. Semakin kau paksakan kakimu berjalan, akan semakin parah kakimu. Percayalah diriku pernah mengalaminya”. Mulutku terdiam, sejak kapan dirinya mengawasiku ?. Oh aku lupa, gorden jendela ruangan kantorku tidak tertutup.

Akhirnya kami tiba disebuah klinik tulang cukup terkenal di kotaku. Sama seperti tadi dirinya mengangkatku lagi. Sepertinya dia sudah membuat janji sehingga kami langsung masuk kedalam ruangan pemeriksaan. Tulang kakiku difoto lalu akhirnya digips.

“Sepertinya akan membutuhkan waktu 2 minggu untuk pulih kembali. Sementara masa tersebut tidak bisa berjalan dulu”.

“What ! 2 minggu bagaimana bisa ?”.

“Saya akan memberikan resep serta keterangan dokter untuk istirahat. Sebaiknya jangan dipaksa untuk berjalan dulu. Kalau dipaksa proses pemulihannya akan membutuhkan waktu lebih lama.”

Uhhh… bagaimana bisa dua minggu diriku harus berada ditempat tidur ?. Tidak.. tidak.. semua akan semakin memperumit keadaaanku. Dua minggu tidak masuk kantor bisa jadi bulan-bulanan cerita  orang kantor. Kuhembuskan nafas berat.

“Alamatmu dimana ?” tanyanya lagi saat mobil kembali berjalan.

“Apartemen Riot no 345,” jawabku singkat.

“Oke, namaku Bastian.”

“Rere,” jawabku tak bersemangat.

“Mana ponselmu.”

“Untuk apa ?”.

“Akan kusimpan nomorku supaya kau bisa menghubungiku jika butuh sesuatu.”

“Tidak perlu, bisa kulakukan sendiri”, tolakku.

“Ok, kalau begitu berarti dirimu lebih memilih untuk pulih dalam waktu sebulan.”

“Sebulan ? kan tadi dokter bilang dua minggu doang pulih,” protesku.

“Itu kalau ada orang membantumu juga kamu istirahat total selama 2 minggu. Dilihat dari keadaanmu sekarang. Kamu tipe orang tidak suka merepotkan orang lain jadi tentu saja kau akan memaksakan dirimu untuk melakukan hal-hal yang akan memperlambat pemulihan kakimu”.

Mulutku terdiam. Bastian benar. Kusodorkan pasrah ponsel kepadanya lalu langsung diisi nomornya sambil miscall keponselnya sendiri.

“Diriku akan bertanggung jawab akan keadaanmu selama proses pemulihan kakimu, jadi jangan pernah protes lagi, ok ?.”

Aku terdiam. Rasanya seperti mimpi bisa ada didekat mahkluk bernama Bastian. Hmm… begini namanya musibah membawa keberuntungan. Apalagi bermimpi berada didalam pelukannya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam hidupku. Ingat kejadian saat dirinya membopongku keluar dari gedung, disertai tatapan mata iri para wanita melihatku. Duuh, jantungku kembali berdebar. Sikapnya benar-benar lelaki banget.

“Jangan kuatir, aku akan membawa surat ijin sakit kekantormu.”

“Terima kasih”, ucapku.

Saat tiba diapartemen, Bastian melakukan hal sama seperti dilakukannya tadi tanpa ragu. Tangannya mengangkat serta membawaku. Sekali lagi mulutku ingin menolak, tapi sepertinya Bastian tidak suka jika apa dilakukannya diganggu oleh protesku. Padahal jujur saja hatiku benar-benar malu karena dilihat banyak orang. Bahkan penjaga keamanan senyum-senyum menggodaku sambil saling sikut serta berbisik-bisik.

Pasti mereka akan menyangka Bastian adalah pacarku. Maklum saja selama ini diriku tak pernah dekat pada lelaki, apalagi sampai bertamu ke apartemenku. Agak malu rasanya saat masuk Bastian langsung menatap berkeliling. Kupejamkan mataku malu. Ya ampun diriku benar-benar lupa kalau apartemenku kacau balau. Kalau tahu akan ada kejadian begini, pasti akan kuterima tawaran Mama mendatangkan Aminah untuk beres-beres rumah. Dobel malunya deh, Bastian membaringkan tubuhku diatas sofa. Sejenak matanya kembali melihat sekeliling ruangan lalu menarik nafas panjang. Kutepuk jidatku tanpa sabar.

“Sebenarnya ini apartemen perempuan atau laki-laki ? apartemenku saja tidak begini kacau”, Bastian menggeleng-geleng kepala, lalu bergegas menuju kamarku.

“Jangannnnn, jangan kesitu, itu area pribadi”, teriakku. Langkah Bastian tertahan kepalanya menoleh.

“Kenapa ? malu kalo pakaian dalammu berserakkan dimana-mana ?”.

Aku menggigit bibirku, bukan itu, enak saja memangnya kamu pikir aku sejorok itu. Selama ini belum pernah ada laki-laki yang masuk kedalam kamarku, apalagi itu laki-laki asing yang baru kukenal.

“Tenanglah mataku sudah biasa melihat underwear wanita berserakan dimana-mana”. Tanpa bisa kucegah dirinya langsung masuk kekamarku. Kudekap wajahku penuh rasa malu. Mampus ! tak bisa kubayangkan apa dalam benak Bastian saat melihat isi kamarku. Saat Bastian keluar matanya menatapku tersenyum simpul, lalu kembali mengangkatku kemudian membaringkanku ditempat tidur.

“Kamarnya bagus. Cuma tak menyangka saja kalau si tomboy yang suka memperhatikanku dari jendela ternyata penyuka strawberry”, ucapnya sambil meninggalkanku mendekap wajah saking malunya.

Aduh kali ini aku benar-benar ketangkap basah bukan juga karena dinding kamarku bergambar strawberry dengan warna merah, tapi karena dikaca meja riasku terdapat foto-foto nya tertempel dengan bermacam-macam pose. Foto-toto tersebut kuambil diam-diam dengan kamera ponselku. Huuu… grgrggrgrrrrr… sungguh sangat memalukan. Mahkluk tersebut kembali dengan sebuah baki berisi sepiring buah–buahan sudah dipotong kecil-kecil serta segelas susu segar.

“Pantas saja tubuhmu kurus , dilemari pendingin hanya ada buah-buahan serta susu segar. Apa memang gaya hidupmu begini ? tapi dirimu benar-benar menyedihkan”.

“Itu karena diriku lebih suka makan diluar”, bantahku.

“Hmm, baiklah kurasa tugasku sudah selesai. Ini ponselmu kalau butuh apa-apa tinggal telpon. Ok ?”.

“Eh… Bastian”, panggilku ragu. Sosok tegap tersebut berbalik lalu menatapku penuh tanya.

“Terima kasih sudah menolongku”. Ucapan tulus keluar begitu saja dari mulutku.

“Tak masalah, untung saja tubuhmu ringan. Kalau seberat Riana, pasti diriku sudah kewalahan”.

Mataku mendelik. Bastian tersenyum menggoda kemudian akhirnya hilang dari hadapanku. Sialan apa maksudnya menyebut nama Riana dihadapanku. Apa ingin memberitahukan padaku bahwa dirinya juga sudah pernah. Aaah ku susupkan kepalaku dibantal strawberry sambil mencoba melupakan wajahnya dari benakku.

Sial, sial, uuuuuuhhhh…. Rasanya ingin ku berteriak keras-keras. Kuraih ponsel, mencari nomor Bastian lalu mengubah namanya menjadi idiot. Kusetting nada panggilnya dengan nada doraemon. Semakin kuingat kejadian tadi semakin kususupkan kepalaku dibawah bantal.

Pertemuan sama sekali diluar rencanaku. Padahal sudah sangat berharap kalau pertemuanku dengannya akan menjadi pertemuan romantis seperti dalam angan-anganku. Tapi hal terjadi malah sebaliknya, jauh dari angan-angan.

Tubuhku menggeliat malas. Baru kusadari kalau kaki kiriku terasa berat akibat balutan gips. Kuraih ponsel sedari tadi berbunyi nada doraemon. Diriku memang sengaja mengacuhkan panggilan tersebut. Ada beberapa  pesan masuk, kubuka satu-satu ternyata pesan dari Mama serta mahluk doraemon. Pesan Mama hanya menanyakan kabarku karena tumben dua hari tiada menelpon maupun kasih kabar. Pesan kedua dan seterusnya dari doraemon.

“Hi sudah bangun ?”.

“Hi, hello, strawberry !”.

“Fans strawberryku ponselnya untuk menerima telpon !”, iya siapa juga bilang ponselku buat nyapu. Ugh ! kucoba berdiri. Diriku harus kekamar mandi. Langkahku terasa berat. Akhirnya harus kuakui kalau diriku butuh seseorang untuk membantu. Kuraih ponselku berniat menelpon Mama, tapi niatku terhenti saat sosok doraemon tiba-tiba sudah muncul dikamarku, dengan jas lengkapnya. Dia bergegas membuka jasnya, melonggarkan dasi lalu meraih tubuhku.

“Apa akan kamu lakukan ?,” kutolak tubuhnya untuk menjauh.

“Membantumu kekamar mandi.”

“Tidak perlu, diriku bisa sendiri.”

“Gadis keras kepala, mau cepat sembuh apa gak sih ?”.

Lagi-lagi mulutku terdiam. Suara agak keras Bastian membuat nyaliku ciut. Dengan sigap dibawanya tubuhku kekamar mandi lalu mendudukkanku pada dudukan toilet. kemudian meninggalkanku sambil menutup pintu. Kutarik nafas lega. Selesai bersih-bersih serta sikat gigi, seolah tahu kalau diriku sudah selesai, Bastian sudah berada didepan pintu kamar mandi langsung membawaku ke tempat tidur.

Kisah Romantis, Cerpen Aku Sangat Menyukaimu

“Sebaiknya belikanku penyanggah atau tongkat saja, supaya kau tidak kerepotan. Lagian dirimu sibuk kerja kan ?”.

“Jangan kuatir pada pekerjaanku. Masih bisa kutangani. Jadi tenang saja. Oh yah kantormu sudah kuberitahukan, mereka memberimu cuti sebulan”.

Kepalaku tertunduk murung, sebulan sama saja resign. Tapi mau gimana lagi ? lagian diriku juga tidak diterima dikantor. Mereka kurang menyukaiku, untuk apalagi bertahan bersama orang gak enak ditemenin.

Selama hampir dua minggu Bastian menjagaku. Bahkan tanpa ragu tidur diapartemenku. Semua mengenai keperluanku disediakan, mulai dari makan sampai tidur. Dirinya begitu telaten walau jarang bicara. Diriku sudah berusaha untuk membuatnya tak datang lagi tapi terus saja datang. Sikapnya penuh perhatian, bahkan kalau sengaja tidak mengangkat ponsel, dia akan buru-buru datang. Apakah keadaan begini menguntungkan buatku atau tidak. Apakah hatiku senang atau tidak,  yang pasti bisa bersamanya, merasakan semua perhatiannya membuat hatiku tenang serta nyaman.

Kupikir semua karena dirinya seorang laki-laki bertanggung jawab atas kesalahan menabrakku saat itu. Semua ini hanyalah cara meminta maaf darinya. Setelah pulih, mungkin dirinya akan kembali pada rutinitasnya.

Benar saja saat gibsku dibuka dan kakiku pulih, hubungan dengan Bastian kembali seperti biasa. Akupun kembali kerutinitasku, tapi kali ini kucoba berubah dengan cara tak pernah lagi  datang terlambat ke kantor. Kuingin mengubah imej tetangku dikantor. Tepat jam 8 pagi sudah berada dikantor. Teman-teman yang sering membicarakankupun tiada lagi berkomentar apa-apa tentangku. Diriku kembali pada kekebiasaan lamaku. Memperhatikan sosok doraemon diam-diam dari balik gorden jendela kantorku. Ya, walaupun hanya beberapa minggu bersamanya, hatiku bisa merasakan sesuatu hal berbeda. Bagaimana caranya memperlakukanku sungguh luar biasa. Momen kebersamaan singkat tersebut membuatku bahagia walau hanya sebentar saja.

Ah… entah kapan bisa merasakan kembali aroma parfum khasnya serta dekapan tubuh kokohnya ditubuhku seolah takut terjatuh. Terasa sangat terlindungi. Perasaan yang takkan mudah hilang. Tapi tak berani ku menyapanya. Mataku hanya bisa melihat nomor telponnya  atau membaca pesan-pesannya berulang kali tanpa berani menelpon. Beberapa kali ku bertemu dengannya di restoran seberang jalan, tapi tak bisa menyapanya karena ada teman wanita selalu menemaninya.

Hatiku tak bisa menduga mana diantara wanita-wanita tersebut adalah pacarnya, karena setiap bertemu selalu membawa wanita berbeda. Dirikupun merasa tak percaya diri, wanita-wanita bersamanya sungguh sangat cantik lagi anggun bak dewi-dewi. Sementara diriku ?, memperhatikan tubuhku saja sudah membuatku tertawa dalam hati. Kata Bastian tubuhku ringan seringan kapas. Kurus bahkan terkesan ceking karena tinggi tubuhku diatas rata-rata.

Dua bulan telah berlalu, kisah tentang Bastian tersimpan erat dalam ruang hatiku paling dalam. Mataku masih sering memperhatikannya. Hanya itulah membuatku terhibur. Sungguh ingin sekali menyapanya, tapi rasa gengsi menahanku. Apalagi dirinya tidak pernah menghubungiku sejak kakiku sembuh.

******

Aku sedang memarkir sepedaku diparkiran dalam gedung ketika tiba-tiba tanpa sempat kusadari sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah samping kiriku. Sangat cepat hingga tak bisa menghindar. Mataku hanya bisa terpejam, hatiku pasrah saat sebuah tarikan keras terasa pada tubuhku. Tubuhku tidak terjatuh namun terasa berada dalam dekapan seseorang. Dekapan beraroma khas begitu kukenal. Kutengadahkan wajahku, Bastian menatapku marah. Ada sesuatu dalam tatapannya membuatku tak mengerti.

“Sudah kukatakan hati-hati. Lihat sekelilingmu, tidak setiap saat diriku bisa menyelamatkanmu. Kamu benar-benar gadis bodoh”. Suara Bastian terdengar keras ditelingaku. Bastian melepaskan pelukannya lalu melangkah pergi. Tubuhku termangu bisu, tiba-tiba kurasakan ingin menangis.

“Maafkan aku”, teriakku keras. Suaraku menggema diparkiran gedung. Diriku tidak peduli. Langkah Bastian terhenti tapi tidak berbalik. Setengah berlari kudekati lalu memeluk tubuh tegapnya dari belakang.

“Maafkan aku, maafkan diriku Bastian. Maafkan karena hatiku menyukaimu. Maafkan karena tak berani mengakuinya. Tak peduli kalau kamu menganggapku tidak lebih dari semua wanita-wanita kau kencani. Tapi hatiku sangat menyukaimu Bastian”, tangisku terguguh. Isakku tertahan namun airmata mulai membasahi pipi. Tubuh Bastian berbalik, tangannya meraih pinggangku lalu wajahku terisak didadanya.

“Kenapa baru sekarang kau akui kalau hatimu menyukaiku ?, tidakkah kau sadari aku sudah menanti pengakuanmu entah sejak berapa lama ?. Apa kamu tidak menyadarinya kalau aku juga sering mengawasimu, memperhatikanmu ?. Kenapa dirimu begitu lama bertahan dalam keangkuhan juga gengsimu ?. Apakah harga dirimu akan terluka dengan menyukaiku ? kamu hampir membuatku lelah menunggu. Dasar gadis bodoh, tidak sadarkah kalau aku begitu menyukaimu, bahkan lebih dari rasa sukamu padaku ?”.

Aku semakin membenamkan wajahku di dada Bastian penuh rasa bersalah. Tiada perduli jika kemejanya basah dengan airmataku. Belain lembut dirambutku membuatku merenggangkan pelukanku. Menatap kedalam sorot mata menatapku teduh. Saat sebuah kecupan lembut menyentuh bibirku, kusadari besok takkan lagi sama. Besok sudah jadi milikku, milik kami. Dan akupun terus tenggelam dalam dekapan hangatnya, sama sekali tak ingin momen ini berakhir. (PW)


Terima kasih telah membaca cerpen romantis aku sangat menyukaimu. Smeoga cerita cinta diatas dapat menghibur sekaligus memberi inspirasi dan motivasi bagi sobat Bisfren untuk terus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait