Aku Takut Tuk Mengatakannya

cerita romantis pendek aku takut tuk mengatakannya

Sebuah cerita romantis pendek tentang seorang gadis sebatang kara yang menemukan cinta namun takut untuk mengatakan. Namun rasa cintanya membuat dia akhirnya memilih untuk berterus terang akan perasaannya. Simak kisahnya dalam cerpen pendek romantis berikut.

Cerita Romantis Pendek Aku Takut Tuk Mengatakannya

“Apa kau menyukaiku, Andina? Selama ini kau tak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaanmu padaku,” ucap seorang cowok dengan wajah penuh keraguan.

“Bisakah kau tak menanyakan hal itu padaku ?” Andina menatap lekat ke arah cowok itu. Ada rasa kekhawatiran dalam hatinya saat menatapnya.

“Aku tak tahu. Sekarang hatiku benar-benar ragu padamu. Apakah kau benar-benar menyukaiku atau tidak?” si cowok lalu menghela napas panjang. Matanya kini kembali fokus pada Andina, gadis yang sangat dicintainya.

Andina terdiam. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Ada sedikit rasa kecewa hinggap di hatinya saat mendengar ucapan dari cowok dicintainya tersebut. Kenapa kau meragukan perasaanku padamu ? Tak bisakah kau tau hanya dari sikapku padamu selama ini? Batinnya.
***

Andina, seorang gadis hidup sebatang kara. Dia selalu mengurung dirinya di rumah sederhana. Banyak sekali bunga-bunga tumbuh subur di sana. Setiap senja, Andina selalu keluar untuk menyiram bunga. Seringkali matanya menatap sedih ke arah bunga-bunga yang disiramnya. Ada kesedihan dan penyesalan hinggap dalam hatinya saat menatap bunga-bunga itu (baca cerpen romantis pendek Hidupku kamu).

Senja itu adalah awal pertemuannya dengan cowok bernama Fico. Seperti biasa Andina menyiram bunga-bunga di depan rumahnya. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah mobil pengangkut barang berhenti di sebelah rumahnya. Beberapa pria lalu turun dari mobil dan langsung menurunkan barang-barang dibawanya. Tak lama kemudian sebuah mobil sedan datang. Mobil itu lalu berhenti tepat di belakang mobil pengangkut barang. Tampak sepasang suami istri dengan kedua putranya turun dari mobil. Si suami dengan segera melangkahkan kakinya menuju rumah kosong itu.

Sang suami lalu membuka pintu rumah dan menyuruh beberapa pria tadi untuk memasukkan barang-barang mereka ke dalam rumah. Dengan sigap, si istri langsung membantu suaminya yang tampak kerepotan membenahi rumah sudah lama kosong tersebut. Kedua putranya tak lantas masuk ke dalam rumah. Mereka tampak asyik melihat-lihat halaman rumah baru mereka. Si adik lalu masuk ke rumah menyusul ayah dan ibunya, sedangkan si kakak masih asyik memandangi sekitar rumah barunya. Tanpa sengaja dia melemparkan pandangannya ke arah Andina. Sebuah senyuman tiba-tiba terukir di bibirnya. Melihatnya seperti itu, Andina buru-buru memalingkan wajahnya dan melanjutkan pekerjaannya menyiram bunga (baca cerita cinta pendek Sakral).

Setiap senja datang, Fico diam-diam memperhatikan Andina saat menyiram bunga. Rumah yang berada tepat di sebelah rumah Andina dengan pagar kayu sebagai pembatasnya, membuat Fico leluasa memandang Andina. Wajahnya terlihat senang setiap kali melihat Andina bertingkah aneh saat sadar ia sedang diperhatikan Fico. Dan sekarang dia tak segan-segan menghampiri Andina di rumahnya.

Sejak kehadiran Fico, ada perasaan aneh yang hinggap di hati Andina. Setiap Fico datang ke rumahnya, jantungnya berdebar-debar. Hatinya berbunga-bunga setiap kali Fico mengajaknya jalan berdua. Kini pikirannya selalu membayangkan Fico. Senyum bahagia seringkali terpampang di wajahnya ovalnya.

Romantisnya malam minggu jalan-jalan berduaan

Malam minggu telah tiba. Malam yang indah bagi para pasangan memadu kasih. Fico sengaja mengajak jalan Andina di taman kota. Andina tampak sangat cantik dengan bedak yang sengaja dia sapukan di wajahnya. Fico menatap takjub pada Andina. Kedua matanya tak henti-hentinya menatap Andina (baca cerita pendek romantis Keajaiban cinta).

“Andina, aku menyukaimu.” Fico lalu menyerahkan bunga ada digenggaman tangannya.

Tak sepatah kata keluar dari mulut Andina. Andina hanya tersenyum, lalu menggenggam tangan Fico. “Ayo jalan !” ucap Andina lalu melangkahkan kakinya. Mereka berdua lalu berjalan menelusuri indahnya taman kota di malam hari.

Andina segera menghentikan lamunannya. Dilihatnya Fico sedang memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Aku ingin kamu mengatakan perasaanmu padaku sekarang ! Sebenarnya kau menyukaiku atau tidak? Aku bingung, selama ini kau menganggapku sebagai apa ?” tanya Fico kembali.

“Sebenarnya aku… maafkan aku ! Aku tak bisa mengatakannya,” jawab Andina sambil menggenggam tangan Fico.

Fico lalu melepaskan genggaman tangan Andina. Wajahnya terlihat kecewa pada Andina. Fico langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Andina seorang diri.

Duduk ngelamun di kursi taman, gara-gara merasa ditolak. Padahal bukan begitu…

cerita pendek romantis di kursi taman
Cerita romantis pendek – sedih ngelamun duduk di kursi taman (@ Pixabay)

Andina menghentikan langkah kakinya. Terlihat Fico sedang duduk termenung di pinggir jalan. Andina menghampiri Fico yang duduk sendirian. Menyadari Andina berada di sampingnya, Fico menolehkan wajahnya ke arah Andina. Tak ada senyuman manis tersungging di bibirnya seperti biasa.

“Kenapa kau di sini ? Sebaiknya kamu pulang,” ucap Fico menunduk.

“Fico, maafkan aku! Aku tak bisa mengatakannya. Aku tak mau kehilanganmu,” ucap Andina. Ada sedikit ketakutan hinggap di pikirannya.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu? kau tak akan pernah kehilanganku.”

“Dulu aku sering mengatakan sayang pada Ayah dan Ibuku. Tapi mereka pergi meninggalkanku selamanya. Mobil mereka menabrak sebuah truk. Itu semua kesalahanku. Jika saja aku tak mengatakannya, Ayah dan Ibuku mungkin… masih bersamaku. Aku tak ingin itu juga terjadi padamu Fico.” Andina menatap sedih pada Fico. Air matanya tiba-tiba menetes membasahi kedua pipi Andina.

Fico menepuk pelan pundak Andina. “Itu semua bukan salahmu Andina. Kau tak perlu takut. Aku akan selalu berada di sisimu. Kalau kau tak ingin mengatakannya, aku akan terima. Yang penting bagiku sekarang, kau selalu berada di sisiku.” Fico lalu menghapus air mata Andina. Tangannya menggenggam erat tangan Andina. Andina menatap penuh arti ke arah Fico.

“Ayo, kesana! Perutku sudah lapar,” ajak Fico.

Andina hanya mengangguk setuju. Mereka berdua pun pergi, meninggalkan taman kota yang menjadi saksi bisu cinta mereka.


Terima kasih telah membaca cerita romantis pendek aku takut tuk mengatakannya. Semoga cerita pendek ini dapat menghibur. Jangan lupa baca cerpen pendek Bisfren lainnya.

Dibagikan

Betry Silviana

Penulis :

You may also like