Aku Terdesak Di Antara Dua Pilihan

cerpen kesetiaan cinta wanita : Aku Terdesak Diantara Dua Pilihan

Aku terdesak di antara dua pilihan merupakan cerpen kesetiaan cinta seorang wanita yang diminta menikah dengan mantan pacar padahal dirinya sudah menikah dengan lelaki lain dan sudah melupakan sang mantan pacar. Akankah permintaan tersebut membuatnya galau ? silahkan simak cerita pendek berikut.

Cerpen Kesetiaan Cinta Aku Terdesak Di Antara Dua Pilihan

Apa akan kamu lakukan jika disaat nafas terakhir sang ibu pacar cinta pertama kamu dulu memintamu untuk menjadi pendamping hidup anaknya, sedangkan kenyataannya kamu sudah menikah dengan seseorang sehingga telah membuatmu melupakan masa lalu. So pasti, jawabannya sangat membingungkan, bukan ? Itu kualami saat ini. Ketika sedang mengajak anakku bermain di Dolphin Funland, secara tak sengaja diriku bertemu dengan ibu dari pacar cinta pertamaku dulu yang sangat kukenal. Apalagi sudah lama diriku tak pernah bertemu bahkan silaturahmi, setelah hubungan istimewa dengan anaknya pupus, berakhir ditengah jalan.

Awalnya aku shock berat. Entah kenapa terjadi perpisahan tanpa ada alasan, bahkan terkesan baik-baik saja tanpa selisih paham ataupun bertengkar hebat. Sampai saat ini pun diriku tidak mengerti sebab-musababnya. Jikalau masih ada waktu, ingin kupertanyakan alasan perpisahan kami dulu, meskipun sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan jawaban pasti.

Kami asyik mengobrol, hingga jam sudah menunjukkan pukul empat sore. “Bu, sepertinya aku harus pamit dulu karena hari mulai menjelang sore, apalagi anakku sudah kelihatan lelah setelah lama bermain,” pintaku.

“Oh ya, sudah, Nabila. Maafkan ibu kalau menyita waktumu begitu lama, apalagi Ibu kangen untuk ngobrol denganmu setelah sekian lama tak bertemu sambil menikmati secangkir teh hangat seperti dulu. Kapan-kapan kamu mampir saja ke rumah, rumah ibu tidak jauh dari sini. Ibu pindah rumah karena rumah dulu jauh dari supermarket, sekolah ataupun tempat ibadah mungkin kamu juga tahu,” jawab ibu tersenyum.

“Iya bu, aku tahu. Makanya paham sekali kalau ibu pindah rumah agar menjadi lebih mudah dan semuanya bisa terjangkau,” ucapku lagi.

“Oh ya, Nabila. Ini alamat ibu jangan lupa mampir ke rumah yach. Ngomong-ngomong tidak mau menitipkan salam buat anak ibu nih. Walaupun kalian sudah lama berpisah, tidak ada salahnya menjalin silaturahmi kembali, bukan ?”. Aku pun mengangguk lalu langsung berpamitan, apalagi anakku sudah mulai mengantuk.

Sejak pertemuan itu seperti terbayang kembali kenangan masa lalu saat masih menjalin kasih dengan Jonny, cinta pertamaku. Kuhela nafas panjang seakan tak mau mengingatnya lagi lalu buru-buru menepis segala apapun hal berhubungan dengan Jonny. Diriku dilema karena akan membuatku semakin terhanyut dengan cinta pertama dulu. Meskipun tiada orang tahu, jauh dalam lubuk hatiku masih ada cinta tersisa untuknya. Meski terus kucoba menghapusnya,  rasanya sulit menghilangkan cinta tersisa.

Mungkin benar kata orang, cinta pertama sulit untuk dilupakan, tapi cinta kedua atau ketiga teramat mudah untuk dilupakan. Itulah cinta. Cinta sangat indah bagi orang waras, namun cinta menjadi petaka bagi orang mabuk, mabuk cinta. Tetapi diriku masih waras, jadi tak mungkin menduakan cinta suamiku dengan cinta orang lain, sekalipun cinta pertamaku dulu.

Ketika pagi terlihat cerah, langit begitu biru disertai awan putih berarak, diriku tengah bercengkerama dengan anakku, sambil menikmati secangkir kopi susu pada teras belakang rumah. Dengan ditemani majalah kegemaranku, tak lupa helai demi helai isi majalah kubaca sampai habis, termasuk bacaan favoritku yaitu Fiksi. Sepertinya kudengar suara ketukan beberapakali pada pintu rumahku. setelah kubuka bagai disambar geledek, tubuhku terlonjak lalu jatuh di sofa, ketika seseorang sangat kukenal datang ke rumahku dan dia adalah Jonny. Hatiku tak mengira sedikitpun  Jonny ada dihadapanku, seperti bermimpi namun ketika ku cubit tanganku terasa sakit dan nyatanya tidak bermimpi. Kenapa harus diingatkan kembali dengan cinta pertamaku, apalagi Jonny persis ada di depan wajahku.

Kulihat wajah tak asing lagi buatku, kini wajahnya teramat sayu tak bergairah seperti dulu, ada masalah apa sebenarnya diriku sendiri juga belum tahu. Apalagi hampir enam tahun sudah kami tak pernah bertemu. Terus terang dulu hatiku sangat jatuh cinta padanya. Sayang, perasaan tersebut hanya bertahan selama tiga tahun saja. Jonny begitu tampan, baik hati namun sedikit pendiam. Berbeda denganku, selalu ngomong blak-blakan, keras kepala bahkan terkadang meledak-ledak.

“Hai, Nabila. Apa kabar ? Maaf jika mengganggu waktumu dengan berkunjung ke rumahmu tanpa persetujuan darimu terlebih dahulu. Kebetulan saja lewat sini karena ada urusan mendadak dengan temanku. Tiba-tiba teringat alamat kau berikan waktu bertemu dengan ibu. Tanpa pikir panjang kuputuskan untuk mampir ke rumahmu,” sapa Jonny ragu.

“Ah, tidak apa-apa, Jonny. Aku tidak keberatan, meskipun sedikit terkejut dengan kedatanganmu tiba-tiba,” jawabku terbata-bata.

“Sekali lagi diriku minta maaf, bukan maksudku kembali mengingatkanmu dengan jalinan cinta kita dulu… ”

“Semua sudah usai, Jonny”, kupotong kata-katanya karena takut terbawa perasaan seperti waktu dulu. “Kamu lihat bukan sekarang keadaan kita sudah berbeda. Diriku sudah memiliki seorang putri sangat cantik dan aku tidak mau sampai anakku kelak mengetahui hubungan kita”.

“Aku mengerti, Nabila. Tapi ijinkanlah kujelaskan alasan perpisahan kita dulu, karena hatiku sangat yakin kau pasti ingin tahu jawabannya,” sesal Jonny.

“Maaf Jonny, hubungan kita sudah masa lalu dan sudah kututup lembaran cinta kita dulu. Kuharap kau bisa paham dengan keadaanku saat ini, apalagi suamiku sedang tugas di luar negeri. Aku tidak mau sampai ada fitnah merusak hubungan kami. Pulanglah, Jonny. Please, ku harap kau bisa mengerti,” lirihku. Akhirnya, dengan tubuh lunglai Jonny bangkit kemudian langsung meninggalkanku.

Dengan gerimis mulai turun rintik-rintik, tak terasa airmata menetes membasahi pipi namun buru-buru kuhapus karena tak ingin anakku tahu apalagi usianya masih terlalu kecil. Anakku belum waktunya tahu akan permasalahan kuhadapi, kelak jika dia tumbuh dewasa pasti akan mengerti.

******

Hari-hari berlalu. Dengan tingkah anakku semakin lucu, akhirnya sedikit demi sedikit bisa ku lupakan kehadiran Jonny beberapa minggu lalu ke rumahku dengan tiba-tiba. Diriku tak mau melewatkan kebersamaanku bersama anakku, apalagi intensitas komunikasi dengan suamiku mulai terlihat rutin. Lumayan bisa mengisi sedikit kekosongan hatiku ketika berjauhan dengan suami. Kini, ku temukan kebahagiaan dalam rumah tangga ku jalani saat ini. Diriku tidak mau ada sesuatu menghancurkan semuanya. Itulah harapan terbesarku.

Selepas maghrib ku dapatkan sebuah undangan berwarna kuning emas di atas meja. Undangan tersebut kubuka, disana tertera tulisan :  Menikah Anisa Yasmine, SH dengan Fikri Akbar, SH. Ternyata keduanya adalah sahabat sekaligus rekan kerja suamiku. Segera ku hubungi suamiku nun jauh disana, apakah diriku mesti datang atau tidak ke pernikahan rekan kerjanya. Akhirnya, suamiku menyetujui agar diriku datang ke pesta pernikahan mereka, apalagi rekan kerja suamiku banyak membantu kami selama ini.

Tiba hari mendebarkan, bukan karena akan menghadiri pernikahan sahabat sekaligus rekan kerja suamiku, tetapi karena diriku pasti akan bertemu rekan-rekan kerja suamiku lainnya yang tak mungkin ku kenal satu-persatu. Apalagi rekan kerja suami begitu banyak.

Kumantapkan kakiku menuju pesta pernikahan mereka. Rasanya seperti reuni saja antara tamu satu dengan lainnya saling mengenal di pernikahan. Sudah banyak makanan juga minuman kucicipi, namun tiba-tiba mataku tertuju pada satu sosok sangat ingin ku lupakan dalam hidupku. Tapi entah kenapa, kami selalu saja ditakdirkan untuk selalu bertemu. Ingin rasanya ku tinggalkan pesta pernikahan ini, tapi sosok tersebut sudah terlanjur melihat serta menoleh ke arahku.

“Hai, Nabila. Rupanya takdir selalu saja mempertemukan kita, Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk kita bertemu. Mungkin Tuhan tahu ada sedikit permasalahan diantara kita belum selesai,” ucap Jonny. Namun, tanpa menjawab diriku berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun berusaha menghindari pertanyaan Jonny lebih jauh lagi. Terlihat raut wajah kecewa setelah kepergianku, tapi seandainya Jonny tahu semua kulakukan demi kebaikan kita berdua. Apalagi setelah mendengar cerita dari ibunya bahwa Jonny telah kehilangan istrinya, lantaran istrinya sakit parah sehingga tak dapat diselamatkan.

Maka itulah, diriku segera menjauh tak mau semua orang membicarakan kami di belakang hari, apalagi kalau sampai suamiku tahu, bisa kacau semuanya. Tak ingin ku lukai serta merusak perasaan suamiku. Meskipun bukan teristimewa, namun dirinya sangat berarti juga berharga buat hidupku. Apalagi berkat kehadirannya, diriku berhasil melupakan masa lalu sekaligus melupakan cinta pertamaku. Sesuatu yang sebelum mustahil, lalu menjadi mungkin. Diriku bisa mencintai suamiku apa adanya, walaupun banyak perbedaan. Semua itu mendewasakan kami untuk merajut cinta di masa depan.

Sejak kehadiran suamiku pula, hatiku kembali bersinar dari gelap menjadi terang. Sekarang ku tahu, hanya cinta tulus dari suamiku untukku dan kuharap hatinya akan tetap mencintaiku sampai kapanpun. Takkan ku biarkan ada orang mencuri cintanya dariku.

Senin pagi sengaja diriku pergi ke supermarket terlebih dahulu sebelum mengantarkan anakku bermain di tempat biasanya. Betapa terkejutnya hatiku, ketika bahuku disentuh oleh seseorang dan ternyata ibu dari pacar cinta pertamaku lagi. Wajahnya sangat pucat sambil sekali-kali ku dengar batuk sampai beberapa kali tak juga reda. Dia mengajakku bicara sehingga membuat hatiku semakin terkejut ketika dirinya mengharapkan sesuatu sangat besar dariku.

“Nabila, boleh bicara sebentar denganmu. Maafkan jika sepertinya memaksa, namun semua ibu lakukan sebelum semuanya terlambat. Jonny tak pernah tahu kalau ibunya punya penyakit menahun. Sengaja ku sembunyikan penyakit ini darinya semata-mata karena tidak mau melukai hatinya setelah kehilangan istrinya beberapa waktu lalu. Tapi kali ini ibu bersungguh-sungguh mengharapkanmu bisa menggantikan posisi istrinya dulu. Walaupun ku tahu sangat tak mungkin, tapi hatiku yakin kamu masih sangat mencintai Jonny, bukan ?. Jangan bohongi perasaanmu sendiri, apalagi ibu juga tahu bahwa Jonny masih sangat mencintaimu”.

“Tapi bu…”

“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, tolong pikirkan permintaanku untuk terakhir kalinya. Hanya kamu bisa membahagiakan Jonny dan hanya kamu pula bisa membuatnya tersenyum kembali”, pungkasnya.

Diriku termenung dalam kamar tidur, ku topang dagu sambil melihat langit-langit kamarku. Pikiranku melayang, tidak tahu apa harus ku lakukan ? Kenyataannya, diriku terdesak pada dua pilihan sangat membingungkan. Aku tidak mau mengorbankan anak sekaligus suami tercintai, tapi disisi lain juga tidak mungkin melukai hati seorang ibu yang begitu memperhatikan kebahagiaan anaknya.

Tuhan, apa harus ku lakukan ? Semuanya seperti buah simalakama. Kedua-duanya tak mungkin bisa ku korbankan. Jauh disana suamiku sedang berjuang mencari nafkah serta menjaga hati untukku juga anakku. Dan disini diriku juga harus menjaga hati serta menjaga kesetiaanku.

Kulihat wajah anakku tertidur pulas, kubelai ramburnya lalu kukecup keningnya. Tak mungkin ku lukai hati malaikat kecilku, harus segera punya jawaban secepat mungkin agar tidak ada hati terluka lagi. Tak terasa dua bulan sudah waktu berlalu, tanpa pikir panjang segera ku hubungi ibunya mantan pacarku. Namun, saat ku telepon tak satupun orang menjawabnya. Aku mulai resah, apakah terjadi sesuatu dengan ibu? Kembali ku hubungi orang mantan pacar lalu kudengar jawaban dari seseorang sangat ku kenal. Dengan terbata-bata dari seberang sana Jonny menjelaskan bahwa orang tuanya telah tiada, pergi untuk selamanya.

Betapa terkejutnya hatiku, karena belum sempat kuberikan jawaban atas permintaannya dua bulan lalu. Bersama anakku, kami datang melayat dan untuk pertama kalinya ku datangi rumah barunya. Sekian lama dirinya mengharapkanku mampir ke rumahnya, namun belum sempat datang. Sekali datang, tujuanku tak lain untuk melayatnya.

Ditemani hujan rintik-rintik, kakiku melangkah mengantarkan jenazahnya ke makam, hatiku teramat pedih karena terlambat menyampaikan jawabanku. Di atas tanah merah masih bertabur bunga, ku ungkapkan serta mengatakan sejujurnya bahwa diriku tak mampu mendua. Hatiku sangat mencintai keluargaku sekarang.

“Ibu, maafkan Nabila karena semasa hidup belum bisa mengatakan sejujurnya bahwa hatiku lebih memilih anak serta suamiku. Jonny hanya sekedar masa lalu, sebatas kenangan cinta pertama saja. Dia hanyalah mantan pacar. Dulu, hatiku memang sangat mencintainya, tapi sekarang aku sudah mempunyai dua orang sangat ku sayangi. Semua tak bisa tergantikan oleh apapun. Semoga ibu tenang di tempat peristirahatan baru dan bisa sedikit lega mendengarkan jawabanku saat ini. Meskipun jawabanku tak sesuai harapan namun di alam sana semoga engkau bisa mengerti posisi sulitku, hidup diantara dua pilihan sama-sama tak ingin ku lukai. Selamat tinggal dan selamat jalan bu, mohon maaf karena tak bisa menjanjikan apapun disaat nafas terakhirmu.(dea)


Terima kasih telah membaca cerpen kesetiaan cinta Aku Terdesak Diantara Dua Pilihan karya Dewi Anggraeni. semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait