Aku Tidak Mencintaimu Lagi, Berhentilah Menggangguku

cerita pendek mantan pacar pengen balik

Aku tidak mencintaimu lagi adalah sebuah cerita pendek mantan pacar pengen balik setelah move on padahal dulu dia membuat terpuruk dan patah hati dengan meninggalkan luka dan kesedihan. Apakah dia akan menerimanya kembali ? Simak cerpen curahan hati berikut :

Cerita Pendek Mantan Pacar – Aku Tidak Mencintaimu Lagi, Berhentilah Menggangguku

Memiliki hubungan yang langgeng adalah dambaan setiap orang. Begitu juga denganku. Aku selalu menginginkan hubunganku dan Roy akan selalu langgeng sampai pada jenjang pernikahan. Namun, apa mau dikata keinginan itu hanya sebatas emosi sesaat yang tiba-tiba muncul kemudian menghilang dengan berlalunya waktu.

Hubunganku dan Roy berakhir ketika ia memutuskan untuk menikahi wanita yang telah memberikannya dua anak. Mendengar keputusannya, aku benar-benar putus asa. Seakan tidak ada lagi pria baik yang dapat kutemukan. Aku begitu membenci Roy. Saat itu aku berusaha menghapus semua kenangan bersama Roy bahkan nomor kontaknya tidak luput aku hilangkan.

Aku tahu keadaan ini sangat berat bagiku. Apalagi hubunganku dan Roy sudah memasuki bulan kedelapan. Kami berdua sudah sangat dekat. Hingga kami berencana untuk bertemu keluarga. Tapi rencana itu ibarat, permen yang diberikan bagi anak kecil ketika ia menanggis. Setelah itu tidak ada yang dapat dibicarakan lagi.

Sejujurnya aku sangat mencintai Roy. Tetapi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa memaksakan keinginanku. Sebab bagaimanapun Roy harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya. Bagiku wanita yang telah memberikannya dua anak tanpa ikatan pernikatan jauh lebih menderita dariku. Keadaan itu memaksaku untuk harus iklas menerima semua ini.

Hari terus berlalu. Aku dan Roy sudah tidak ada komunikasi lagi. Akupun tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan ini lagi. Apapun yang terjadi hidup terus berjalan. Semua yang terjadi biarlah menjadi pengalaman berharga bagiku untuk melangkah ke depan.

Saat itu aku memilih fokus pada pekerjaanku. Aku mulai meluangkan waktu untuk berkumpul bersama teman-temanku. Kemudian memilih untuk pergi keluar kota hanya untuk mengunjungi keluarga. Begitu pula aku terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial lainnya.

Ketika aku memutuskan untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, perlahan-lahan kenanganku bersama Roy mulai menghilang. Sedetikpun aku tidak mengingatnya lagi. Sepertinya ceritaku dan Roy sudah terkubur habis seiring berjalannya waktu. Aku merasa hidupku sudah jauh lebih baik tanpa kehadiran Roy.

Entah mengapa aku merasa begitu bahagia. Hari-hari yang aku jalani penuh keceriaan. Sampai-sampai salah seorang adikku mengatakan; kak… rupanya kakak tidak pernah merasakan patah hati. Ucapannya membuatku terkejut. Aku mulai bertanya padanya; mengapa adik bisa mengatakan demikian? Iya… aku selalu melihat beberapa teman-temanku yang begitu patah hati saat pacarnya pergi meninggalkan mereka. Sehingga mereka begitu sedih. Tetapi kakak tidak sama sekali, ujarnya.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar penjelasannya. Setelah itu aku berusaha menjelaskan padanya. Begini Ela, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ada orang yang secara terang-terangan menunjukkan pada orang lain, jika mereka sedang menghadapi sebuah masalah, misalnya putus cinta atau patah hati. Mereka sangat sulit untuk melupakan orang yang mereka sangat cintai. Jadi bawaannya pasti, mengurung diri di kamar, tidak mau makan bahkan lebih parahnya lagi mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, adapula orang yang tidak mau menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya sedang mengalami patah hati. Mereka akan lebih menyibukkan diri untuk hal-hal yang positif. Justru dengan keadaan itu, mereka semakin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.  Penjelasanku membuat Ela terdiam sejenak, kemudian pergi meninggalkanku. Aku pun bergegas masuk ke kamar untuk beristirahat.

Seperti biasanya aku bangun lebih awal. Kemudian bersaat teduh sejenak, setelah itu aku mulai berolaraga dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Inilah rutinitas yang aku jalani setiap hari. Tanpa disadari empat bulan telah berlalu pasca hubunganku dan Roy berakhir. Sejenak aku berpikir pasti Roy sudah sangat bahagia bersama keluarga kecilnya. Ah, sudahlah! Itu kan pilihannya. Semoga benar adanya pikiranku tentang keadaannya. Pikirku dalam hati.

Ketika beberapa detik aku tenggelam dalam lamunan itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara ponselku yang berdering. Aku pergi melihat ponselku yang berdering di atas meja kerjaku. Saat aku melihat nomor panggilan, nomor itu adalah nomor baru. Aku memutuskan untuk tidak menerima teleponnya. Tidak henti-hentinya nomor itu terus memanggil sebanyak lima kali.  Akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilannya.

Hallo… maaf dengan siapa? Tanyaku. Pertanyaan itu aku ulangi sampai tiga kali barulah ia menjawabku. Maaf Chika… ini dengan aku, Roy ujarnya. Oh..iya, Roy bagaimana kabar? Bagaimana acara pernikahanmu? Bagaimana keadaan anak dan istrimu? Begitulah pertanyaanku pada Roy. Pertanyaan itu bagaikan dinding runtuh bagi Roy. Selang beberapa detik barulah Roy menjawabku. Keadaanku baik. Pernikahanku dengan Nadia berjalan seperti biasa. Hanya saja tidak ada pesta yang meriah. Selesai acara pernikahan semua tamu undangan langsung pulang. Yang terpenting aku memenuhi tanggung-jawabku kepada Nadia, begitulah penjelasannya.

Baiklah… sudah dulu percakapan ini, aku mau bekerja, ujarku. Tanpa memberikan kesempatan bagi Roy untuk melanjutkan percakapannya lagi, aku langsung mematikan teleponnya. Walaupun terkesan tidak sopan. Namun, aku tidak ingin melanjutkan percakapan itu dengannya lagi.

Setibanya di kantor, tiba-tiba ponselku berdering lagi. Aku melihat ponselku dan ternyata nomor itu adalah nomornya Roy. Aku membiarkan ponselku berdering begitu saja. Aku sama sekali tidak ingin mengangkat teleponnya lagi. Hingga akhirnya berhenti dengan sendiri. Kemudian aku mengangkat ponselku dan membuat pengaturan hanya dengan getar saja. Supaya tidak menggangguku saat bekerja, aku meletakkan ponselku di dalam tas.

Sebagaimana biasanya aku berusaha fokus pada pekerjaanku. Aku tidak ingin pekerjaanku menjadi terhambat hanya karena kehadiran Roy yang mulai intens menghubungiku lagi. Kadang ia memintaku untuk menelponnya. Tapi aku tetap bersikeras untuk tidak menghubunginya. Sekalipun aku memiliki pulsa tetapi aku tidak akan menghubunginya.

Bagiku hidup yang aku jalani saat ini sudah jauh lebih baik. Jadi tidak ada alasan apapun untuk mengharapkan kehadirannya. Pikirku, Roy hanyalah masa lalu bagiku. Sekuat apapun ia berusaha meyakinkanku, aku tetap pada pendirianku.

Caranya menelpon membuat aku benar-benar merasa kesal. Jika ia menelponku dan aku tidak menjawabnya hingga beberapa kali panggilan barulah aku mengangkat teleponnya maka tidak segan-segan, ia langsung memarahiku. Ia menghujaniku dengan ribuan pertanyaan; kamu dari mana saja? Kamu ngapain aja baru mengangkat telponku? Sungguh! Tindakannya sangat menyebalkan. Seolah-oleh aku wajib mengangkat setiap teleponnya. Padahal tidak ada hal penting yang harus dibicarakan. Ucapannya membuatku menjadi marah. Roy, kamu pikir aku ini siapanya kamu? Hingga aku wajib mengangkat teleponmu. Lebih baik kamu simpan pulsamu dan telepon saja teman-temanmu atau keluargamu, ujarku.

Chika, maafkan aku! Aku hanya ingin memberitahumu bahwa sampai saat ini aku belum menikah dengan Nadia. Itu hanya karena aku tidak bisa melupakanmu. Selama ini aku berusaha untuk mencintai Nadia tetapi tidak bisa. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi sambil aku menyelesaikan seluruh persoalanku dengan Nadia. Aku tahu tindakanku membuatmu kesal tapi aku harap percayalah padaku. Waktu itu aku mengatakan bahwa aku dan Nadia telah menikah itu adalah bohong. Kamu juga sendiri tahu kan, selama ini tidak seorang pun yang menghubungimu karena aku tidak ingin melibatkan kamu dalam permasalahanku dengan Nadia. Begitulah penjelasan Roy.

Cukup Roy! Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun dari kamu lagi. Bagiku, kamu adalah suami Nadia. Jadi, aku mohon berhentilah menggangguku. Lebih baik gunakanlah waktumu untuk mengurusi keluarga kecilmu. Saat ini hidupku sudah sangat baik bahkan tidak ada sedikitpun pikiranku untuk mengharapkan kehadiranmu. Semuanya telah terhapus dengan berjalannya waktu. Aku langsung menutup teleponnya.(MJ)


Terima kasih telah membaca cerita pendek mantan pacar pengen balik. Semoga cerpen curahan hati diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup. Jangan terlalu terbuai oleh kenangan masa lalu. Jadikan segala peristiwa dalam hidup sebagai sumber motivasi dan inspirasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait