Aku Titir, Dengarkanlah ! @ Bisfren.com

cerpen cerita misteri pendek aku titir dengarkanlah

Cerita misteri pendek tentang kakak adik yang berlibur di rumah kakeknya namun sepanjang waktu terganggu oleh suara kentongan tradisional tanda bahaya. Kakeknya mengatakan itu hanyalah halusinasi namun sebuah pertemuan di tengah malah menyadarkan warga bahwa itu adalah sebuah pesan dari dunia lain. Simak selengkapnya cerpen misteri pendek berisi pesan kehidupan berikut.

Cerita misteri pendek  “Aku Titir, Dengarkanlah !”

Tong … tong … tong … tong !

Aku mendongak, mengintip malas melalui celah kecil dari jendela rumah kakek. Huh. Lagi-lagi, hanya ada lahan kosong yang mengarah ke dalam hutan. Aku kembali fokus dalam buku bacaanku, mendesah malas melihat laki-laki itu terus sibuk mencari sinyal handphonenya.

Liburan ini terpaksa kuhabiskan di perkampungan kecil pesisir pantai. Rumah kakek. Semuanya bermula ketika kakakku memulai Perang Dunia ketiga bersama ayah, entah karena apa, dan orangtuaku mengirimkan kami ke sini. Kami. Bahkan aku masih marah kepada kakak karena hukumannya berimbas kepadaku juga.

Rumah kakek dekat dengan pantai. Teluk Penyu. Itu sebabnya, setiap malam, dapat kudengar deburan ombak yang pecah di bibir pantai. Perkampungan tempat tinggal kakek dikelilingi bukit-bukit, dan diakhiri dengan hutan belantara. Yah, kalau kau membayangkan, indah, memang. Sayangnya, rumah ini adalah tempat tinggal paling ujung di kampung. Dari jendela bertirai lusuhnya saja, mampu kulihat hutan itu membentang (baca juga cerita misteri pendek kamar kosong).

Kelam

Auranya seram sebagaimana hutan. Kupikir aku akan sulit tidur dengan nyanyian jangkrik yang berorkestra, tetapi tidak. Sama sekali tidak ada suara hutan. Tidak ada tonggeret yang mengadakan kontes menyanyi, tidak ada gemerisik daun bambu yang tertiup angin, tidak ada suara jejak petualang atau rusa hutan, tetapi semuanya tergantikan oleh kentongan.

Setiap langit mulai dilukis jingga, suara kentongan itu bertalu-talu. Dipukul halus, tetapi tajam. Entah dari mana, atau siapa yang memukul. Pukulannya seolah menyanyikan lagu pilu, menyampaikan pesan-pesan yang tak pernah ditafsirkan. Setiap malam, aku menggigil, merapat kepada kakak. Bukan karena angin dari laut yang terus pasang-surut, kata kakak, tetapi aku terlalu takut.

Ketika kutanyakan kepada kakek, ia menganggapku melamun. Ia bilang ia tidak pernah mendengarnya. Ah, dialog itu sudah kubaca ratusan kali dalam buku. Melamun, berkhayal, berhalusinasi. Padahal kenyataannya, memang ada sesuatu yang menunggu (baca : cerita misteri santet lada hitam).

Dan kakakku, berpegang teguh kepada prinsip ‘sudah-lupakan-saja’, tetapi ku yakin pasti kalau ia juga mendengarnya.

Selepas shalat Maghrib, aku mendengarnya lagi. Kali ini bunyinya berpola. Pukulan pertama dan kedua dihiasi seulas jeda, selanjutnya bertempo cepat. Nadanya melemah, seperti tangisan pilu. Pukulannya mencapai titik terendah, kemudian jeda. Pukulannya menguat kembali dengan interval lambat.

Aku menggigit bibir, buyar sudah konsentrasi. Kakek dan kakak laki-lakiku sibuk berdoa, sementara aku memejamkan mata ketakutan.

Kata kakek tidak ada yang punya kentongan di kampung, kalaupun ada hanya buat hiasan

“Dara kelas berapa ?” tanya kakek seusai melipat sajadahnya.

“Sembilan, Kek. Tiga SMP,” jawabku, suaraku bergetar ketika menjawabnya.

Kakek tersenyum, “Wis gedhe, kok, isih wedhi ? Makanya, dzikir terus, agar tidak takut sama yang begituan. Gilang dengar juga ?” Kakakku menggeleng––bohong ! Taruhan, pasti dia bohong !

“Memang siapa saja, Kek, yang punya kentongan di kampung ini?” tanyaku (baca juga cerpen misteri Bangunan tua).

Iris kakek berkilat. Air mukanya tiba-tiba berubah tegang. Deru napasnya tampak tenang, meski tatapannya menukik tajam. “Tidak ada.”

Kukerutkan keningku.

“Tidak ada lagi yang menggunakan kentongan.” katanya, “Yah, siapa tahu. Masyarakat di kampung ini sudah mulai maju, Ra. Listrik merambah masuk, era modern perlahan menggantikan kelokalan lama. Meskipun beberapa juragan di sini harus pergi ke luar untuk mendapat sinyal, seperti kakakmu, tetapi setidaknya kami tidak terlalu menderita. Kampung ini memang mayoritas tempat tinggalnya sebatas rumah gubuk tanpa pagar besi, dinding batu bata, atau jendela kaca, tidak seperti di kota kalian. Di kota metropolitan, semuanya serba ada, serba canggih. Siapa yang tidak ingin ?”

“Itu sebabnya kami mencoba untuk maju juga. Antena televisi berlomba-lomba dipasang, mushalla dipasangi toa agar lebih mudah. Mulai saat itu, lambat laun, budaya lama mulai terkikis. Kentongan tersingkirkan, Nduk! Sekarang, yang memilikinya hanya sebatas hiasan. Kebanyakan disimpan, atau dibuang,”

Keheranan merayapi otakku. Aku tertegun. Cerita kakek mungkin sedikit tidak lazim. Biasanya, yang kutahu, perkampungan kecil mempertahankan kuat budaya lokalnya, bukan malah berlomba-lomba meraih dunia modern yang membuat siapapun lupa daratan.

Tapi, toh, siapa yang tahu ? Sepeninggal kakek, Kak Gilang menatapku, “Kamu banyak tanya sekali, Ra,”.

Peristiwa saat terjaga dari tidur di tengah malam gelap gulita

Deru angin membangunkanku di tengah gulita. Dewi malam bersinar penuh di singgasananya, menatap makhluk bumi tangguh. Lambaian tirai tipis penutup jendela berkibar-kibar. Aku memandang sekeliling. Kak Gilang masih tidur di kasurnya––di sebelah kasurku. Aku mendesah, sulit sekali tidur kembali ketika terbangun di tengah malam.

Dengarkan aku …

Apa itu ?

Dengarkanlah, dengar …

Kutarik selimutku menutupi pundak. Kakiku kram, beku sedingin es. Aku memang berharap agar suara kentongan itu berhenti, berganti suara lain. Tetapi, bukan suara bisikan tengah malam seperti ini !

Jikalau aku Titir, maukah kau mendengarkanku ? Maukah ?

Titir ? Apa itu ?

Dengar ak …

“KAKAK !” teriakku refleks. Kak Gilang tersentak, berusaha mengumpulkan seluruh ruhnya dari alam bawah sadar. Sejurus kemudian, ia memandangku kesal.

“Siapa yang menyuruhmu membaca buku-buku horor ?!” serunya.

“Dinda yang sering membawanya ke rumah ! Aku tidak suka baca buku tentang hantu !” elakku, “kakak, barusan aku dengar …”

Kak Gilang turun dari ranjangnya, meraih jaket dan senter, “Ikut kakak. Kita ke hutan sekarang.” Aku melongo.

Diajak kakak masuk ke dalam hutan tengah malam

Daun-daun kering yang kuinjak membuat suasana makin mencekam. Kakakku memang nekat. Apalagi ia mengaku kalau selama ini memang mendengarnya. Suara kentongan itu. Lelucon macam apa itu, dasar sok berani!

Pohon-pohon bambu merengkuh kami masuk ke dalam hutan. Bergemerisik ria, menyanyikan lagu kematian. Ah, dramatis. Aku belum memikirkan banyak hal jika aku mati sekarang.

“Mau ke mana?” Suara lembut gadis menghentikan langkah kami.

Di belakangku. Aku berani bersumpah ia di belakangku. Kami menoleh. Kusadari matanya––gadis itu––berbinar. Hutan begitu rimbun, meski hanya “gerbang masuknya” saja. Celah rembulan menerobos paksa, jatuh tepat di atas sosoknya.

Gadis yang cantik. Sayang, wajahnya kelam, dan di tangannya terdapat kentongan. Beberapa detik setelah itu, ia tersenyum. Kupejamkan mataku, aku takut seringai hantu.

“Aku bukan hantu. Maaf menakuti kalian,” katanya, “Ayo, ke luar! Aku tidak mau bercerita di dalam hutan. Lagipula, kalian pikir di dalam ada apa, sih?” Seolah tersihir, aku dan Kak Gilang mengikutinya keluar, menapaki belukar hutan. Kami duduk di hamparan rumput liar sebelah rumah kakek.

Gadis itu diam, sibuk memainkan kentongannya (baca cerita pendek misteri Pulau kutukan).

Akhirnya, kakak memecah keheningan, “Kamu yang melakukannya, ya?”

“Apa ?” katanya, “Kentongan ini ?”

“Kamu yang membunyikannya ?” Tidak ada jawaban, “tahu, tidak, suara kentonganmu mengganggu kami. Adikku ketakutan. Maaf, tapi rumah kakekkulah yang paling dekat dengan hutan. Kamu boleh membunyikannya, tetapi jangan di sini,”

“Apa maksudmu suara kentonganku mengganggu?” Gadis itu berdiri, menatap nanar kami. Perlahan, butiran kristalnya meleleh, jatuh berarti. “Kalian tidak tahu seberapa pentingnya kentongan ini! Kalian melupakan sejarah! Kalian adalah penerus generasi yang mendukung terkikisnya kearifan tradisional! Dasar orang kota, sibuk saja terus dengan dunianya yang fana!” (baca cerpen misteri pendek Raisa)

Ia menyeka air matanya, “Namaku Tira. Dulu, setiap rumah di kampung ini memiliki kentongan. Semuanya serba tradisional, dan kami bangga dengan itu. Kebakaran, tanah longsor, bahkan tsunami yang sempat melanda Cilacap 2006 dulu, kami terus menggunakannya. Bahkan biasanya, aku bermain sandi sambang dengan kentongan, bersama temanku.”

Angin laut terasa berhenti bertiup

“Tapi, sejak datang orang-orang munafik dari luar, kampung ini tergiur oleh tawarannya. Kecanggihan. Fasilitas modern di mana-mana! Teknologi dan komunikasi mewabah bagai virus. Perlahan, warga kampung ini mulai melupakan tradisi lamanya,” Dagunya terangkat, menunjukkan kemarahan dan kekalahan telak, “Ayahku kehilangan pekerjaannya. Mereka pikir, membuat kentongan semudah apa? Memahat bambu atau kayu jati butuh kerja keras! Ayah berusaha menawarkannya kembali, tetapi mereka menolak. Dan mencemooh ayah.”

Tira memberi jeda pada ceritanya. Ia tertawa pelan, menatap kami dalam.

“Sampai suatu saat, ketika semua terlena dengan kecanggihan,” katanya, “Tuhan mengirimkan bencana tanah longsor. Dulu, kami selalu siaga terhadap bencana itu. Anak-anak sepertiku bahkan menanti kapan mereka dapat membunyikan titir.”

“Apa … itu?” tanya kakak.

“Simbol bahaya. Kentongan memiliki banyak sandi, dan kami selalu senang menghafalnya. Tuhan menjadikan bukit-bukit yang mengelilingi kampung kami memuntahkan tanah-tanahnya. Banyak korban bencana, mungkin hampir semua warga kampung,” kisahnya, “sebelum longsor, ayahku sudah memiliki firasat buruk karena gunung-gunung itu mulai gundul oleh tangan-tangan yang kejam. Malam harinya, hujan deras melumpuhkan kampung, listrik mati, ayah membunyikan titir dengan panik, berharap warga-warga lainnya bangun untuk mengungsi.”

Entah mengapa, aku berinisiatif untuk melanjutkan, “Tap … tapi, tidak ada yang menghiraukan?”

Tira mengangguk, “Hanya kakekmu, Lang, Ra, yang masih mengingat baik simbol itu. Kakekmu pergi menemui ayahku, membunyikan titir bersama-sama. Setelah itu, semua terjadi begitu saja. Longsor memakan banyak korban jiwa, dan warga kampung merasa dendam kepada ayah. Mereka mengira ayah memakai ilmu hitam untuk memberi mereka pelajaran.”

Aku tercekat, tidak peduli lagi bagaimana Tira bisa mengetahui nama kami.

“Mereka membakar rumahku. Ayah meninggal.”.

Keterkejutanku memuncak sudah. Tira jatuh ke tanah, menangis rapuh mengakhiri kisahnya. Galyas bulan makin benderang, menemani kami di tengah kesunyian alam. Langit menggelap, membentang tanpa gugusan awan. Aku memeluk Tira. Memeluk segala kesedihannya, agar aku mampu merasakan juga. Memeluk dendam dan kebencian dalam hatinya, agar mampu kupadamkan dengan air mataku.

“Pulanglah. Sudah pukul dua malam,” katanya, “terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku.” Aku dan kakak mengambil langkah, pergi.

Mau mau jalan Titir memanggil lagi

“Sepeninggal ayah, aku mengalami gangguan psikis. Ibu kewalahan mengurusku. Setiap senja, sampai pukul dua malam, aku memukulkan kentongan kesayangan ayah. Sandi Titir. Aku terus-terusan membunyikannya, bertalu-talu. Aku tidak peduli kepada warga yang marah, yang mencoba memisahkanku dari kentongan itu.”

“Bunyi titir itu, tidak beraturan. Pukul saja secepat-cepatnya, jangan pedulikan tempo,” jelas Tira, “Oh iya, bolehkah aku minta sesuatu?”

Aku dan kakak berbalik, mengangguk tulus (simak : cerpen seram hantu gentayangan).

“Nyalakan kembali tradisi kentongan itu! Dan ketika kalian mendengar titir, dengarkanlah! Jangan abaikan ia, dengarkan! Jangan seperti warga kampung yang dulu, yang membiarkan tradisi lokalnya membatu!” pesannya, “Sampaikan ceritaku. Aku adalah titir. Aku sanggup berbunyi kapanpun aku mau. Kalau aku berbunyi, kalian sudah berjanji, bukan, akan mendengarkanku?” Ia kemudian menjauh, melambai. Seringainya hilang ditelan kegelapan malam.

Setelah peristiwa itu, kentongan tanda bahaya, digantung kembali di rumah-rumah dan tempat umum

cerpen misteri budaya kentongan yang dihidupkan kembali
Lomba pos siskamling

Dua hari berlalu, aku dan kakak harus kembali ke kota. Belum pernah aku sebahagia ini, mendapati kentongan-kentongan itu mulai digantung kembali. Di mushalla, pos ronda, kini mereka memilikinya untuk pertanda simbol bahaya. Aku bertanya-tanya apa penyebabnya. Mungkin, cerita kami kepada kakek tentang pertemuan dengan Titir ? Siapa yang tahu.

“Ra,” panggil kakak, “tadi kakek sempat bercerita kepadaku, kalau kakek dan warga lainnya semalam bermimpi. Tira merayap masuk ke dalam mimpi indah mereka. Kakek juga bilang beliau tertegun dengan cerita kita dua hari lalu. Itulah yang membuat warga kampung menyadari kesalahan mereka. Terus …” ia menarik napas, “kakek bilang, sewaktu psikis Tira terguncang dan dia menjadi gila, semua warga berusaha menyadarkannya. Tapi Tira terus membunyikan titir itu, tidak peduli.”

“Para wargapun muak. Mereka membakar rumahnya. Membakar kentongan-kentongan yang masih tersisa, membakar ibunya, dan … membakar Tira.”

= Tamat =


Terima kasih telah membaca cerita misteri tentang kentongan tradisional tanda bahaya, perubahan zaman, kecanggihan teknologi memang tidak bisa ditolak, namun jangan mengabaikan sejarah, budaya serta adat istiadat.

Dibagikan

Meiza Maulida M

Penulis :

Artikel terkait