Alpen – Cerita Tragis Patah Hati Cinta Tak Sampai

cerita tragis cinta tak sampai Alpen

Alpen, cerita tragis tentang cinta tak sampai anak adopsi kepada pengadopsinya. Cerita berakhir penuh kejutan ini menarik untuk dibaca apalagi ditulis menggunakan bahasa yang baik.

Cerita Tragis: Alpen

Di rumah kayu sejuk ini, diriku tinggal. Bersama mama papa dan kakak… hm, diriku lebih senang menyebutnya gadis pujaanku daripada kakak. Ya, diriku adalah anak adopsi yang telah jatuh cinta pada pengadopsinya sendiri. Malam itu adalah awal hatiku mencintainya.

Diriku dibesarkan di jalanan. Untuk ukuran anak sekecilku, jalanan memang tampak buruk. Tapi bukan hal sulit buatku. Sampai suatu malam, hujan turun deras. Diriku tak tahu harus kemana. Tubuhku menggigil, nafasku terasa cepat. Mulutku berteriak minta tolong pada siapa saja. Tapi bunyi hujan mengalahkanku. Akhirnya kuputuskan berteduh pada sebuah garasi rumah kayu. Rumah mereka yang kemudian menjadi keluargaku hingga sekarang (baca juga cerita tragis Minar).

Malam itu, kulihat tatapannya kepadaku.

“Kamu gak papa ?”, tanyanya padaku. Mataku berkaca, lalu ku jawab sambil menggigil, “Ya. Ku raa..sa..”.

“Ayo masuk saja, kamu kelihatannya sakit”, katanya lagi. Dia memberiku selimut, air hangat, lalu menunjukkan dapurnya.

“Kamu bisa makan disana, dan ambil air minum disini.” Katanya lagi. Mulutku tak bisa berkata apa-apa. Hanya memandang lalu memujinya dalam hati. Ku tahu, hatiku benar-benar jatuh cinta padanya. Anak pertama si pemilik rumah. Tapi demi menyelamatkan kedinginan tubuhku, malam itu diriku hanya makan dan minum. Tanpa banyak bicara. Setelah gadis tersebut tunjukkan dimana diriku bisa tidur, aku langsung merobohkan diri. Aaahhh… nyaman sekali rumah ini (baca juga cerita tragis Beri aku penjelasan).

Malam itu, setengah bermimpi ku dengar percekcokan di keluarga itu. Suara gadis pujaanku setengah menangis, dan mamanya menentang keberadaanku.

“Ma, please ma. Kita jahat banget kalo ngebiarin dia sendiri. Aku akan mengurusnya, aku janji. Biar ku biayai makan dan segala kebutuhannya. Aku kan ada gaji. Please biarkan dia disini…. Please ma.”

“OK kalau itu maumu. Tapi asal kamu tahu. Mama ga pernah mau mengurus dia ! Urusan kamu pokoknya!”

Tubuhku lelah sekali malam itu, tapi ku tahu diriku bisa tinggal. Mungkin setidaknya beberapa hari disini (baca juga cerita tragis Kulepas dendam ke dasar sungai).

***

Sudah 6 bulan diriku berada disini. Sekarang namaku menjadi Alpen. Hatiku suka pada nama tersebut. Cocok kan dengan Sheila ? Nama si gadis pujaanku.

“Hey hey hey Sheila lagi, kakak !”, katanya sambil lewat. Huh mengapa dia selalu tahu apa isi kepalaku. Tapi tak pernah tahu isi hatiku. Jangan karena tubuhku kecil lantas diriku tidak bisa bersanding dengannya. Aku pasti bisa !.

Buktinya, beberapa kali sudah kukatakan cintaku kepadanya. Dia selalu menjawabnya dengan senyum sambil mengelus kepalaku. Ah hatiku benci sekali diperlakukan seperti anak kecil. Duduk di depan pintu setiap sore, menunggu Sheila pulang kerja. Terkadang ku dengar suara cekikian teman sekantornya dari dalam mobil.

“Ella, udah ditungguin Alpen tuh. Hihi…”. Cerita tentangku memang sudah terdengar sampai kantornya. Ku tahu, Sheila juga mencintaiku. Akan tetapi ada satu hal kubenci dari Sheila. Yaitu dia sudah punya pacar. Namun walaupun begitu diriku masih merasa menang. Karena pacar Sheila tidak di kota ini. Sedangkan aku bisa melihat Sheila setiap hari.

Hubunganku dengan Sheila sangat mesra. Bahkan sering diriku melihatnya ganti baju di kamar. Mendengarkan cerita tentang kegiatan kantornya. Makan bersama setiap sore. Dan… dia sering mengizinkanku mendengarkan ceritanya di ranjang.

“Alpen, sini naik ke kasur. Aku mau memperlihatkan sesuatu padamu.” Ajaknya.

“Dengan senang hati, Ella…” kataku mupeng.

“… Kakak !”

“Ya… kakak…”. Melihat bersama foto-foto situasi kantornya, juga bukan hal yang jarang buatku. Dan… Melihat foto pacar Sheila juga hal yang selalu kulakukan setiap hari. Walaupun aku cemburu. Ah, tapi entah mengapa Sheila seakan tidak mengerti. Setiap dia memamerkan foto Rio, aku pasti marah. Aku ingin pergi keluar kamar. Tapi Sheila selalu memaksaku.

“Lihat dong Alpen, Rio romantis kan? Ini cincin pernikahan kita nanti. Bagus kan?” Tanya Sheila.

“Ya”, jawabku malas. Kenapa Rio lagi, Rio lagi. Apa aku ga punya kesempatan juga? Cincin? Aku bisa kok memberikannya. Walaupun dengan bahan yang berbeda. Ah hidup memang tidak adil padaku. Khususnya masalah percintaan.

Beberapa malam setelah malam itu. Aku merasa hal aneh terjadi pada Sheila. Ia tidak keluar kamar sejak pulang kantor. Pastinya ia belum makan malam.

Aku lihat mama dan papa mencoba mengetuk kamar dan memanggilnya tapi hanya suara tangisan yang terdengar dari dalam. Setelah beberapa lama mama papanya lelah dan memutuskan untuk meninggalkan Sheila di kamar tanpa mengganggunya.

“Mungkin dia ada masalah sama Rio, Pa.”, sedikit dialog mama dan papa di depan pintu. Malam semakin larut, dan aku masih menunggu di sofa dekat kamar Sheila. Aku fikir mungkin Sheila akan membutuhkanku. Sebaiknya aku tidur disini saja. Hmm… Ternyata dugaanku benar. Pintu kamar Sheila terbuka dan dia langsung memandangku.

“Alpen, masuklah. Aku membutuhkanmu…” dengan cepat aku masuk ke kamarnya, dan dia langsung mengunci pintunya lagi.

“Ada apa?”, tanyaku.

“Aku sedih… Rio seperti tidak mau tahu mauku. Aku bosan harus berantem dengan dia. Aku merasa berat sekali Alpen, berat…”. Sheila menangis. Saat itu aku tidak mengatakan apapun dulu. Aku tau yang Sheila butuh hanyalah didengarkan.

1 jam berlalu dan Sheila masih menangis. Ku dekatkan kepalaku ke kepalanya. Aku cium dia. Tangisnya mulai sedikit mereda hingga hanya sesekali sesegukan yang tersisa.

“Sheila… Aku mencintaimu. Aku menginginkan kamu. Aku tahu ini tidak pantas. Tapi aku merasa lelaki itu jauh tidak pantas daripada aku. Aku bisa membahagiakanmu. Aku tidak akan membuatmu menangis. Tidak akan, Sheila kekasihku.”

“Makasih ya Alpen, kamu bisa tidur disini kan malam ini? Temani aku ya.”

“Iya sayangku. Sudahlah… Tidak pantas tangismu itu untuk dia.”

***

Lampu sorot dimana-mana. Begitupun tamu undangan. Sebagian besar aku tidak mengenalnya. Tapi tujuan mereka adalah sama. Menghadiri pernikahan Sheila dan Rio. Aku benci sekali hari ini. Beberapa teman Sheila mendatangiku dan mencubit pipiku. Ada juga yang berwajah muram seperti diriku. Mungkin perasaan kita sama. Patah hati.

Di akhir sesi pesta itu, Sheila memberiku isyarat agar aku naik ke panggung. Kudatangi mereka dengan lemas, Rio menatapku dengan bangganya dan mengangkatku “Ayo, kita foto, Alpen”, katanya.

Setelah hari itu aku pergi tanpa pamit dari keluarga Sheila. Aku tahu Sheila pasti akan sedih. Tapi dia kan sudah punya Rio yang akan menemaninya setiap hari. Untuk apa lagi aku di rumah itu. Perjalananku terasa jauh dan berat. Hari sudah malam dan aku masih berjalan. Aku juga dulu berada di jalanan sebelum ditemukan Sheila. Tapi malam itu jalanan tak seperti biasa. Kulihat sebuah sorotan lampu mobil besar tak berhenti juga. Tidak, mobil itu terus ke arahku dan menerjangku. Terlalu cepat, aku tidak bisa lari lagi. Arrggghh perhitunganku tidak tepat, dan tidak kurasakan sebagian dari tubuhku lagi. Perlahan di kaki, hingga ke kepala. Mungkin saatnya kisahku benar-benar berakhir. Sheila maafkan aku. Kutinggalkan foto terakhirku. Foto kita bertiga. Rio, kamu gadis impianku, dan aku Alpen, kucing kampoong kesayanganmu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait