Cerpen Sedih Keluarga : Amarylis Merah @ Bisfren.com

Cerita Sedih Keluarga Singkat Amarylis Merah

Cerita sedih keluarga Amarylis Merah, berkisah tentang seorang gadis yang kehilangan belai kasih ibu karena ibunya sakit sejak dia dilahirkan. Bagaimana jalan cerita sedih keluarga ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Sedih Keluarga “Amarylis Merah”

Kulangkahkan kakiku pelan menyurusi lorong rumah sakit, jantungku berdegub keras. Inilah saatnya aku menemuinya setelah sekian lama aku mencoba untuk menghindari pertemuan ini dengan berbagai macam alasan tak masuk akal. Pada hakekatnya diriku tidak pernah dan tak bekeinginan untuk bertemu dengan sosok itu lagi. Sosok yang pernah membuat suatu trauma hebat dalam hidupku, masih teringat jelas waktu itu berumur 5 tahun dan itu adalah pertemuan pertamaku dengannya tak disangka pertemuan itu terjadi pada saat tidak tepat. Saat aku melihatnya hatiku begitu senang aku berlari menghambur kepelukannya sama sekali tidak menyangkah jika dia akan menolakku bahkan nyaris membunuhku. Waktu itu aku nyaris tewas ditangan seseorang yang selama itu kurindukan. Dia Ibuku, Ibu yang melahirkan aku tapi tak bisa membesarkanku bahkan memelukku sekalipun Ibuku tidak pernah. Tepat disaat melahirkan aku, Ibuku tiba-tiba jatuh sakit. Nyawanya bisa tertolong tapi ingatan psikisnya tidak bisa tertolong bahkan mengalami gangguan

Kata Dokter Ibuku mengalami gangguan kejiwaan pasca melahirkan. Waktu itu aku sama sekali tidak mengerti karena masih terlalu kecil aku selalu mengira Ibuku sakit fisik. Makanya sewaktu aku berumur 5 tahun aku ngotot bertemu Ibuku. Aku ingin melihat Ibuku aku ingin menyentuhnya dan mencari tahu alasaannya kenapa dia tidak bersamaku, menjagaku, mengantarkan aku sekolah TK dan menjemputku seperti teman-temanku yang lain. Aku begitu merindukannya sosoknya. Tapi saat pertemuan itu tiba bukan saja dia tidak mengenalku dia malah hampir membunuhku. Kejadian itu membuat aku trauma dan merasakan ketakutan yang hebat. Tumbuh besar tanpa seorang Ibu sangatlah sulit tapi Ayahku selalu dengan bijak mengajariku untuk jangan pernah membenci Ibuku.

Dengan telaten Ayah membesarkan aku dan tak pernah sedikitpun menggantikan posisi ibu dengan wanita lain. Cinta Ayah pada Ibuku benar-benar tulus walaupun diuji dengan waktu dan penyakit Ibu yang tak kunjung sembuh Ayah selalu sabar menanti. Jika aku bertanya kenapa Ayah tidak menikah lagi selalu dengan tersenyum Ayah menjawab.’’ Ayahkan punya putri kesayangan Ayah,’’ ah .. rasanya ingin sekali menangis saat Ayah mengatakan hal itu. Tapi aku hanya bisa tersenyum giris. Ayah adalah sosok idolaku pengganti Ibuku, Ayah selalu ada disampingku. Tapi kerinduan ini, kerinduan akan seorang Ibu benar-benar membuat aku selalu saja ingin menangis. Aku menjadi pribadi yang suka menyendiri dan tertutup mungkin hanya kepada Ayah saja aku bisa berbagi cerita. Hinaan dan ledekan bahkan sindiran teman-teman kalau aku memiliki Ibu yang tidak waras alias gila membuat aku tersingkir dalam kehidupan sosialku. Itulah yang membuatku untuk tidak menemui Ibuku lagi.

Dan hari ini… Inilah hari dimana aku mengumpulkan semua keberanianku lagi untuk menemui Ibuku. Kerinduan yang begitu besar akhirnya membawa langkahku kerumah sakit jiwa ini. Saat melintasi lorong-lorong rumah sakit yang kurasa mengerikan, aku akhirnya tiba disebuah taman bunga Amarylis. Bunga berwarna merah yang banyak ditemukan dipinggiran jalan karena dia bisa tumbuh dimana saja tertata dengan apik, ditengah-tengahnya ada sebuah bangku taman yang dicat senada hingga menampilkan kesan indah. Sosok itu duduk disana dengan sebuah rajutan benang wol warna merah dia sepertinya sedang asyik merajut sesuatu. Aku menatapnya tak jauh dari tempatku, memperhatikannya yang sedang bersenandung kecil. Tak sadar mataku berkaca-kaca. Ibu… tidak rindukah kamu padaku?… anak yang kau lahirkan, yang kau kandung dengan susah payah selama 9 bulan.Tidak ingatkah kau padaku? Kuusap airmata yang menetes dipipiku. Lihatlah Ibuku dia terlihat sangat normal seperti tidak sedang menderita sakit. Usiaku sudah 24 Tahun aku sudah sarjana Ekonomi dan aku sudah bekerja disalah satu bank swasta dikota ini. Aku ingin memberitahukan padamu begitu banyak cerita yang selama ini kusimpan untuk kuceritakan padamu.Hari ini ingin sekali memberitahukan pada Ibu kalau aku baru saja menerima gaji pertamaku. Kutatap bungkusan kecil yang kubawah, gaji pertamaku kubelikan sebuah sweater warna merah untuk ibu. Kata Ayah, Ibuku sangat menyukai warna merah aku ingin dia memakai sweater ini saat dia merasa dingin. Tapi…. aku melihat sosok Ibuku lagi. Kali ini seperti merasa ada yang memperhatikannya dia menoleh dan melihatku. Aku ingin berlari menghindar ketika dia beranjak dan mendekatiku. Aku terdiam ditempatku. Dia menatapku lekat … tatapannya yang liar dan tajam tiba-tiba berubah menjadi lembut. Dari balik sakunya dia mengeluarkan selembar foto. Aku terkejut itu foto wisudaku bersama Ayah.

‘’ Saskia…’’ Desis pelan. Tiba-tiba aku tidak bisa berkata-kata. Airmata menetes dipipiku tanpa bisa kutahan. Tidak bisa kugambarkan betapa terkejutnya aku saat Ibuku memanggil namaku setelah sekian tahun. Dia mengenalku.

‘’ Iya Ibu aku Saskia, Saskia anak Ibu.’’ Ucapku bergetar.

‘’ Benarkah .. Ini kamu Saskia… putri Ibu, putri Ibu.’’ Ibuku menyentuh wajah ku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan airmata berlinang. Aku langsung mendekapnya, menumpahkan kerinduanku setelah sekian tahun tak menemuinya. Maafkan aku Ibu…. maafkan aku yang baru kali ini bisa menemuimu (Baca juga cerita sedih keluarga singkat, cerita cinta).

‘’ Lihat dirimu, kamu begitu cantik seperti ibu saat ibu masih gadis… ‘’ Ucap Ibu saat kami sudah duduk dibangku taman. Ku genggam tangan Ibuku yang dingin tak sadar kupegang tangannya dan menempelkannya dipipiku. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menyentuh ibuku.

‘’ Ibu telah mengecewakanmu Saskia..’’

‘’ Tidak… Ibu tidak pernah mengecewakan Saskia, Saskia yang teah mengecewakan Ibu.’’ Aku tertunduk.

‘’ Tidak anakku sayang, seandainya Ibu tidak menderita sakit ini… seandainya Ibu bisa hidup normal mungkin kita akan selalu bersama.’’

‘’ Kamu harus pulang Saskia… ‘’

‘’ Tapi Ibu…’’

‘’ Kamu harus pulang sekarang Ibu takut jika penyakit Ibu kambuh Ibu bisa melukaimu seperti waktu itu. Pulanglah… ‘’ Ibu tiba-tiba beranjak dan mendorongku.

‘’ Tidak Ibu, Saskia mau disini bersama Ibu, Tidak Ibu…’’

Tiba-tiba kulihat tatapan Ibu berubah tidak lagi lembut seperti tadi kali ini tatapannya berubah menjadi liar dan melotot kearahku.

‘’ Pergi kamu siapa kamu? Kamu siapa?’’ Teriak Ibuku keras.

‘’ Aku.. aku Saskia..’’

‘’ Siapa kamu… Saskia siapa itu?… aku tidak mengenalmu.’’

‘’ Ibu… ‘’ Aku hanya bisa mendesis lirih dua orang perawat mendekati Ibu dan membawanya kembali masuk kedalam ruangannya. Ah .. aku mendesah. Baru sedetik tadi hatiku begitu bahagia, Ibu bisa mengenalku dan sekarang tiba-tiba saja dia menjadi orang lain. Aku terduduk dibangku taman dengan hati pedih. Kado sweater yang akan kuberikan untuknya masih kupegang erat. Airmataku menetes lagi… (Baca cerita misteri)

‘’ Sabar yah Kia…’’ Aku menoleh Ayahku mendekatiku dan duduk bersamaku dibangku taman. Kusandarkan kepalaku dibahu Ayah…

‘’ Ibu mengenalku Ayah, tapi kenapa?’’

‘’ Ibumu memang terkadang sadar terkadang juga tidak sadar. Dunia alam bawah sadarnya lebih mendominasi ingatan normalnya. Karena itulah dia tidak bisa hidup bersama kita. ‘’

‘’ Apa karena melahirkan aku hingga Ibu jadi seperti itu Ayah?’’

‘’ Tidak anakku, ini takdir.. murni kehendak Tuhan. Dan kita sebagai umatNya hanya bisa menerimanya dengan hati ihklas.’’

‘’ Aku sangat merindukan Ibu, Ayah.’’

‘’ Ayah juga Nak, kita sama-sama merindukannya.’’

‘’ Lihatlah taman ini… Ibumu suka sekali dengan Amarylis dialah yang menanam Amarylis ini. Itulah kenapa dia suka dengan warna merah.Jika dia sedang normal, tempat ini adalah tempat favoritnya.’’

Kutatap wajah tua Ayah… kelihatan sekali kerinduannya pada Ibuku, Ayah yang selalu setia menjaga dan merawat Ibu tanpa pernah berpikir menggantikan sosok Ibu dalam hidupnya tak pernah mengeluh sedikitpun. Bertahun-tahun melewati hari dengan membesarkan dan mendidikku sambil merawat Ibu. Setiap hari selalu kerumah sakit untuk melihat keadaan Ibu, terkadang membawakan makanan kesukaan Ibu. Lihatlah wajah tuanya yang sarat dengan kesepian. Ah Ayah… Suatu saat nanti aku ingin mencintai seseorang seperti cinta Ayah pada Ibuku. Betapa hati ini ingin sekali melihat Ayah bisa bahagia. Tapi cintanya pada Ibu mungkin adalah kebahagiaan tersendiri untuknya hingga dia memilih tetap sendiri dengan harapan kalau Ibuku suatu saat akan sembuh.

Hari ini aku hanya bisa menatap punggung Ayah yang yang masih terguncang pelan. Yah akan kubiarkan Ayah sejenak tenggelam dalam kesedihannya. Hati ini terasa perih melihat sosok tua yang sedang terisak didepan gundukan tanah merah yang masih basah. Saat menemui Ibu hari itu keesokkan harinya aku dan Ayah menerima kabar kalau Ibu meninggal, Ibu tewas bunuh diri. Tragis… Hal yang paling tidak kami inginkan tapi akhirnya terjadi juga. Jika Ibu memilih jalannya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu mungkin karena dia sudah menyerah. Tapi aku dan Ayah tidak akan pernah menyerah….. Ibu akan tetap menjadi kenangan dihati aku dan Ayah. Seburuk apapun itu Ibu adalah tetap Ibuku dan wanita yang Ayah cintai. Kuletakkan seikat Amarylis Merah yang kupetik dipinggiran jalan dan meletakkan diatas gundukan tanah merah. Aku menyayangi Ibu… selamat jalan Ibu…(PW)


Terima kasih telah membaca cerita sedih keluarga amarylis merah. Semoga cerpen diatas dapat memberi hiburan serta inspirasi bagi pemirsa sekalian.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait