Antara Nafsu dan Cinta

cerita pendek hamil duluan

Antara nafsu dan cinta adalah cerita pendek hamil duluan tentang wanita TKI salah pergaulan di negeri orang namun akhirnya ditinggalkan pacarnya. Cinta mampu mengabaikan persahabatan, cinta mampu memporak-porandakan hubungan dengan siapapun bila orang tersebut tidak berpihak pada cintanya. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Pendek Hamil Duluan – Antara Nafsu dan Cinta

Tak hentinya Ia menatapku. Tatapan tidak sewajarnya ini terjadi, lirikan tajam perempuan kepada perempuan pula. Diriku pura-pura saja tidak melihatnya, dan tetap asyik mengoperasikan mesin kerja dengan kawan lelaki didepanku. Cemburu…. ??? Mungkinkah itu yang dirasakan olehnya saat dekat dengan seorang laki- laki. Konyol sekali. Baru kali ini ku jumpai teman setengah pria sepertinya. Aku geli melihat tingkah lakunya, persis laki- laki sejati. Hanya saja buah dada tidak bisa terpungkiri sebagai kodrat cucu Hawa. Ia memang baik, selalu menolongku dikala terjebak kesusahan.

Cewek tampan. Ya, itulah sebutan paling pantas untuknya. Penampilan gaya rambut pria korea sangat khas untuk dikenal. Cara berjalan tegap bak Arjuna keluar dari istana. Pantas saja banyak wanita terpicut padanya, walaupun mereka tahu Ia adalah seorang wanita tulen. Diriku pun pernah tergiur menyukainya, terpancing kepribadian baiknya membuatku bersikap manja padanya, tetapi kusirnakan perasaan nista juga kebiasaan sedikit gila, karena Tuhan akan marah besar padaku.

Diriku adalah seorang TKI muda sedang merintis di Negeri Jiran. Setelah lulus SMA, ku mantapkan niatku hijrah ke negeri sebrang. Bekerja sebagai operator produksi di perusahaan elektronik milik orang korea menetap di Malaysia. Ditempat inilah diriku berjumpa Devia, cewek tomboy akrab disapa Bang David. Sudah berkali- kali dirinya menyatakan cinta padaku, tetapi kuanggap saja sebagai bahan hiburan disaat bekerja. Heeemmm…hiburan belaka.

“Ki, hatiku suka kamu”, ujarnya sambil memegang tanganku.

Kulepas genggaman tangan, tidak kurewes ucapan gilanya.

“Kirana, Abang suka sama kamu”, mengulang ucapannya lagi.

“Agamaku tidak mengajarkan untuk mencintai sesama jenis dengan status lebih bang” jelasku sambil menatapnya.

Dia pun terdiam menatapku. Ada sedikit kemarahan pada wajah setengah koreanya. Mungkin karena kutolak cintanya. Ha..ha..ha.. seperti cerita cinta konyol terlintas di dalam diary-ku.

Ku panggil abang pada dirinya, walaupun ku tahu dia adalah seorang wanita, pasti akan marah jika ku panggil dengan panggilan mbak.

Setelah pulang kerja ku duduk dibawah pohon kelengkeng dekat tempat mess-ku. Menatap gumpalan awan, tampak sedikit mentari dibalik awan. Mataku merasa matahari marah padaku seperti halnya Bang David kepadaku. Suasana begini seolah memojokanku pada keadaan. Terasa gersang tidak seperti biasanya penuh keceriaan. Ku sandarkan kepalaku di kursi, sedikit senyum kulempar pada seseorang menuju tempat persinggahanku.

“Ngelamun mulu sih Ki”, ucap Fani.

Bibirku hanya melanjutkan senyum yang awalnya tipis kini terlihat gigi gingsulku.

“Nah… gitu dong senyum, kan enak dilihatnya gak sepet”, sambil mencubit kedua pipiku. “kalo punya masalah cerita, jangan diempet mulu”, lanjut Fani.

“Lagi ada sedikit masalah nih sama Bang David”.

Saat ku tatap matanya, Fani langsung terkejut mendengar nama”Bang David”.

“Memangnya ada urusan apa sama bang David  ?”, tatapan serius padaku.

“Bang David semalam nyatain cinta padaku tapi kutolak, ya ialah pasti kutolak masa cewek suka sama cewek kan konyol banget”, jelasku sambil pindah posisi duduk.

Fani shok mendengar penjelasanku. Seharusnya dia tak sekaget begitu mendengar ceritaku, toh sudah tau kalau Devia atau dikenal dengan sebutan bang David adalah penyuka sesama jenis. Beberapa menit kemudian Fani lari menuju mess tanpa kata sedikit pun terlontar di bibirnya. Hatiku semakin heran dengan tingkahnya.”Apa kata- kataku menyinggung hatinya ? ku rasa curhatku tak ada sangkut pautnya dengannya”.

Lalu aku mengejar Fani, rupanya Ia sedang berbaring dikasur meneteskan air mata.

“kamu sakit Fani ?”, sambil mengecek dahinya.

Fani hanya diam dan semakin deras air matanya yang sekarang kulihat. Hatiku panik melihat kondisi sahabatku tiba- tiba menangis tanpa sebab apapun.

“kamu baik- baik saja kan Fan ?”.

Kemudia Fani berdiri dihadapanku lalu Ia menamparku. Tatapan sinis muncul dalam ekspresi wajah ayunya. Aku langsung kaget dengan tindakan Fani, seperti mimpi.”Apa salahku ? kenapa kau menamparku ? batinku

Aku masih mematung dihadapannya.

“kamu jahat Ki, kamu penghianat”, sambil mendorong tubuhku.

“Apa maksudmu Fan ?”.

“Kamu sudah merebut bang David dariku”.

Wajahku melongo mendengar pernyataan Fani barusan. Kalimat gila pertama ku dengar dari sahabatku sendiri, hanya karena hal konyol. Cinta buta. Ya, memang benar apa yang dikatakan”Armada Band”, cinta memang buta. Kalau kita sedang mencari namanya cinta, lalu tidak menerangi hati dengan iman pasti akan menemukan cinta buta dengan titik akhirnya adalah cinta gila. Ku rasa Fani terpicut oleh cewek tampan itu. “Aahhh bisa- bisanya Fani tergoda padanya”, gumamku.

“Apa kamu sudah gila Fan ? dia itu wanita, masa kamu suka padanya ?”

“Aku tau, tapi aku suka padanya dan kumohon jangan halangi diriku”

“Fan, disini kita merantau. Jangan mudah percaya dengan orang asing, kau harus hati- hati !”

“Tak usah menasehatiku, lebih baik persahabatan kita sampai disini saja…Byeeee”

Esok harinya Fani mendiamiku. Ia tak berbicara sedikitpun padaku. Walaupun bibirku tersenyum, namun Ia tak meresponku. Diriku merasa kehilangan Fani yang dulu sosok gadis ceria, humoris, perhatian, tapi sekarang malah diam saat didekatku seolah- olah seperti anak  baru. Bahkan saat diriku kehilangan jam tangan, Ia malah diam memperhatikan tingkahku. Biasanya Ia ikut heboh mencarinya.”Fan, hatiku rindu kamu yang dulu” batinku sambil meneteskan air mata.

***

Pada jam istirahat kerja tak sengaja ku pergoki Fani bersama bang David di Kantin. Mereka bercanda asyik sambil menikmati hidangan di hadapannya. Entahlah, mungkin mereka sengaja karena ada diriku di Kantin. Hatiku muak pada perubahan tingkah laku Fani sehingga buru- buru pergi dari kantin karena ku tak kuat melihat sikap Fani.

Ketika pulang kerja, kuhampiri Fani diranjang.

“Fan, ku mohon jauhi bang David, boleh berteman tapi sekadarnya saja. Kita kan sudah beranji dari awal kita kesini akan sama- sama berjuang dalam suka maupun duka, orang tuamu juga sudah menitipkan padaku” jelasku

“Lupakan semua itu, anggap saja kita tak pernah sahabatan”

“Ok, kalau itu maumu” jawabku tegas

Akhirnya kami jauh-jauhan, suasana di mess seperti tak saling kenal, walaupun sebenarnya hatiku sangat rindu dan tak ingin jauh dari sahabatku. Tetapi diriku terlanjur sakit hati pada sikap egonya Fani. Ia memang keras kepala, dan mudah terprovokasi oleh orang lain. Itulah sesuatu hal paling ditakuti orang tua-nya. Maka dari itu mereka menitipkan amanat padaku supaya tetap menjaga dan menasehati Fani disaat Ia bersikap sedikit nakal.

Sudah hampir dua bulan aku tak berbincang dengannya, senyumpun tak nampak dibibirnya. Hanya diam dan saling melirik saja, itulah suasana kami di mess. Namun Fani lebih banyak aktivitas diluar, mungkin ia pergi bersama teman- teman barunya terutama bang David. Ketika telingaku sedang asyik mendengarkan musik di ranjang, tiba-  tiba Fani berlari menuju toilet. Tapi ku abaikan saja toh kita sudah gak saling kenal. Ku rebahkan tubuhku kembali diranjang. Kulirik wajah Fani keluar dari toilet nampak pucat.

“Kamu sakit ?” refleks dari mulutku terbuka

Rasa ibaku muncul saat sahabatku dikunjung sakit. Fani hanya diam dipojok ranjang. Kudekati dirinya.

“Kamu pucat sekali Fan, ayo kita ke klinik” ajakku dengan mimik panik.

Ku hamil duluan, sudah dua bulan, gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Ketika Fani mau berdiri tiba- tiba pingsan. Hatiku semakin panik dibuatnya. Aku dan Raya, teman mess lainnya, langsung membawa Fani ke klinik biasa tempat kami berobat. Aku dan Raya mondar- mandir di depan kamar rawat pasien, kesana- kemari tak karuan, jantungku berdetak semakin kencang. Beberapa menit kemudian dokter Syarif memanggilku. Ya, hanya namaku yang dipanggil. Raya melongo memandangku, mungkin ia bingung kenapa hanya Kirana yang dipanggil.

“Kirana, kamu namanya Kirana ?” ujar dr. Syarif

“Ya, betul dok”

“Kamu sahabat dekatnya Nn. Fani ?”

Aku diam melirik wajah Fani.

“Sahabat ? Apa Fani masih menganggapku seorang sahabat ?” batinku.

Kulirik kembali wajah Fani, Ia meneteskan air mata diwajah pucatnya.

“ya dok saya sahabatnya. Memangnya Fani sakit apa dok ?”

“Dia tidak sakit apa- apa, tetapi dia positif hamil, usia kandungannya sudah memasuki enam minggu”

Aku terkejut mendengar penjelasan dokter Syarif. Aku tak percaya kalau Fani beneran hamil. Tidak mungkin !.

Kudekati Fani. Tak hentinya air mata menetes dipipinya.

“Siapa berani melakukan hal keji padamu ?”

Fani malah diam dan ketakutan padaku. Ia merasa bersalah tak mendengar nasehatku.

“Jawab Fan ! siapa yang bikin kamu hamil duluan !” bentakku sewot.

“Teman bang David, tapi dia sudah pergi ke Singapur”, suara lirih.

Oooh Tuhan. Air mataku tak bisa kubendung. Aku merasa bersalah tak bisa menjaga amanat orang tua Fani. Derai tangis kami membawa perdamaian didalam persahabatan sudah dua bulan menghilang.

Kurangkul tubuh mungil Fani. Aku tahu dia sedang dirundung kebingungan dan butuh seseorang disampingnya.


Terima kasih telah membaca cerita pendek hamil duluan akibat salah pergaulan. Semoga dapat menjadi pelajaran dan motivasi bagi pemirsa sekalian.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait