Awan, Hujan dan Asa

cerita pendke catatan pribadi awan hujan dan asa

Cerita pendek catatan pribadi tentang keresahan hati seorang gadis yang mencintai lelaki yang menurutnya masih galau akibat putus cinta padahal cowoknya itu sudah melupakan dan mencintainya. Dia ingin lelaki itu melupakan masa lalunya. Simak selengkapnya pada cerpen berikut

Catatan pribadi Awan Hujan Dan Asa

“Awan,” lirihku.  Mataku sedang memandangnya dari bawah sini, dari hamparan rumput hijau setengah basah. Tak peduli jika nanti bajuku ikut basah.  Ku taruh kedua tanganku sebagai alas kepala, berbaring. Menghadap awan, berharap awan akan berubah warna kalau-kalau ku ceritakan soal sesuatu.

Semisal, biru untuk yang menyakitkan, merah untuk yang ku anggap jelek, dan seterusnya. Biasanya kuning adalah warna keceriaan. Betapa indahnya awan warna-warni, kan ?

“Awan, hari ini hatiku sendu,” kataku pelan. Tapi awan tetap putih kusam, biasanya kusebut kelabu. Aku masih tidak mengerti warna kelabu menjelaskan apa, sedih? Itu termasuk biru.

“Diriku masih saja penasaran dengan kelabu,” kataku lagi. Tanganku melukis-lukis di udara. “Dia di sini, aku di sini, dulu kita di tempat yang sama tapi mungkin hati kita di tempat berbeda. Mungkin saja ketika dia disana dan diriku di sini, hati kita di tempat yang sama. Mungkin saja, kan ?”

Awan tetap kelabu

“Awan yang tinggi dan ringan, kenapa kau hanya kelabu atau putih ? Aku benci menjadi penasaran.” Dadaku menghela napas. “Awan, kemarin aku baru saja sakit hati !”

Aku merenggut rumput di tanganku lalu melemparnya ke udara. Awan itu tidak berubah !

“Kenapa tidak berubah warna ? Kau jatuh cinta dengan kelabu, ya ? Aku sih tidak !” dengusku. Bisa ku rasakan awan menertawaiku. “Maaf mulutku lancang. Terserah dirimu, apa pun warna kesukaanmu aku tak peduli!” umpatku.

Awan bergeming. Aku sepertinya benci sekali keadaan ini. “Baiklah, aku cerita dulu saja. Kemarin,” suaraku terpotong oleh isak tangis. “Kemarin aku sedang senang-senangnya. Tapi…”

Rintik hujan mengenai wajahku. “Kau menangis ? Seharusnya aku yang menangis !” Lalu ku sadari kalau dari tadi pipiku sudah basah. “Baiklah, Awan. Tidaklah baik memotong pembicaraan orang lain.”

Cerita pendek catatan pribadi

Aku terduduk melihat sekelilingku, orang berlalu lalang di taman dengan kesibukan mereka. Ada air mancur setinggi 2 meter tak jauh dari tempatku berbaring. Jalan setapak di taman jaraknya lumayan jauh dari sini, sepuluh langkah atau lebih. Lalu tubuhku berbaring lagi. Rintik hujan masih segan jatuh, mungkin ragu. “Jadi dari yang ku pelajari kemarin, kebahagiaan hanyalah sesaat, kan ? Kemarin hatiku sedang bahagia. Tiba-tiba tahu kalau dia masih dilumuri oleh masa lalunya!”

Ku tutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, terisak. “Sakit sekali hatiku ini!” kataku pelan. “Bagaimana mungkin menjalin kasih dengan seseorang yang masih dikurung bayang-bayang cintanya yang dulu ? Bagaimana mungkin bisa bertahan dengan perasaan seperti itu? Aku tahu dia jelita melebihiku. Siapa peduli soal wajah jelita ? Persetan, Awan ! Sudahi semua omong kosong itu.”

Awan masih kelabu. Ditambah rintik hujan yang semakin yakin untuk jatuh. “Kau menangis ? Apa kisahku menyedihkan ?” aku bertanya pada awan.

Alina, sudahilah keluhan ini. Biarkanlah dia yang selalu terkurung dalam gelap bayang masa lalunya. Sungguh, percayalah pada perkatakannya, Alina. Cintanya sekarang bukanlah lagi dia yang dulu. Bukankah dia sudah mengatakan jika cintanya adalah dirimu sekarang ? Berhentilah menangisi hal fana. Berhentilah jadi gadis cengeng selalu mengemis untuk dijaga hatinya. Hatimu akan selalu retak. Hatimu akan selalu retak, ingat selalu itu. Hatimu adalah benda lunak dari yang paling lunak, apa kau akan menuntut hal lunak untuk tak hancur ? Jangan cengeng, Alina. Berhentilah bersedih akan hal fana. Dia mencintaimu.

“Apa maksud kelabumu yang setia itu ?” aku malah bertanya tanpa menanggapi omongan panjang lebarnya.

Kau selalu percaya aku akan selalu merefleksikan isi hatimu. Beginilah isi hatimu sesungguhnya, Alina. Hampa. Kau pecandu hampa. Kau selalu menangisi hal fana. Kau pecandu hampa, kelabu adalah sahabatmu. Lantas kenapa selalu keluh kesah ?

“Benar, tak ada yang akan mengerti diriku. Termasuk kamu,” umpatku lagi.

Hujan semakin deras. Aku tidak merubah posisiku sama sekali.

Lihatlah hujan yang jatuh sekarang. Apa mereka tahu kalau mereka akan hancur menghantam permukaan ? Lalu apa mereka pernah mengemis untuk kembali menjadi diriku ? Menjadi gumpalan awan lagi ? Belajarlah dari hujan. Hatimu bukanlah seonggok berlian, hatimu akan selalu retak.

“Tapi ku rasa, kau salah. Hatiku adalah seonggok berlian. Mereka yang mencoba meretaknya, lupa kalau berlian tidaklah semudah meretak genting yang hancur. Tidaklah semudah meretak batako merah. Mungkin mereka hanya mencoba meretakkan hatiku, mereka lupa kalau hatiku adalah seonggok berlian. Berlian takkan mudah retak.”

Masih di tempat yang sama tubuhku terduduk, hujan perlahan sudah reda. Orang-orang masih meneduh di halte seberang air mancur, mereka sebagian melihatku heran. Kakiku berjalan keluar taman dengan tidak peduli. Dengan sama sekali tidak peduli karena aku tahu betul. Apa mereka peduli kalau sebenarnya tadi aku sedang hancur berkeping-keping di bawah hujan? Kenapa harusku peduli pada mereka?

Begitu pun soal hati. Untuk apa peduli kepada mereka yang tak peduli terhadap hatiku  Hanya membuang tenaga saja.

Dibagikan

Queen Oktaviani

Penulis :

You may also like