Ayah Dan Suamiku Sama Sama Jahat

cerita pendek kisah nyata

Ayah dan suamiku sama-sama jahat adalah cerita pendek kisah nyata seorang wanita yang menderita setelah ayahnya selingkuh dan kawin lagi. Dia membenci madu ibunya, tapi setelah menikah ternyata dirinya tanpa disadari merebut suami wanita lain. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Cerita Pendek Kisah Nyata – Ayah Dan Suamiku Sama Sama Jahat

“Rasa sakit juga dendam masih ada hingga saat ini meski hatiku sudah berusaha memaafkan semua perbuatan ayahku kepada kami.”

Setiap kali ibu dan adik-adikku menangis dan kesusahan karena hinaan serta cemooh orang lain, darahku seperti mendidih. Kemudian seperti kembali mengantarkanku pada masa 15 tahun lalu  dimana hidup kami amat bahagia. Kami memang bukan orang berada, kami hanya masyarakat biasa, namun kebutuhan hidup kami tercukupi, keluarga kamipun cukup dipandang juga disegani oleh penduduk disana. Namun suatu hari ayahku mulai berubah, biasanya selalu cepat pulang ke rumah setelah bekerja, tiba-tiba mulai pulang jam 4 subuh. Biasanya gaji selalu utuh diberikan kepada ibu, tiba-tiba mulai berkurang. Kelakuannya pun semakin lama semakin menjadi hingga kadang tidak pulang beberapa hari.

Karena tidak tahan pada sikap ayah, ibuku mulai mencari pekerjaan, syukurlah saat ibu langsung mendapatkan pekerjaan, akan tetapi karena beliau bekerja, aku harus menggantikan posisinya di rumah untuk menjaga adik-adikku hingga memasak serta mencuci pakaian. Awalnya diriku masih bisa membagi waktu antara urusan rumah juga sekolah, namun lama kelamaan mulai merasa lelah, tak sanggup lagi menghadapinya, hingga akhirnya kukatakan pada ibu untuk berhenti aja sekolah, tapi adik-adikku harus tetap malanjutkan pendidikannya.Ibu pun menuruti permintaanku.

Akan tetapi berapa bulan kemudian ibuku sakit karena kelelahan, hidup kami benar-benar susah bahkan berantakan. Buat makan saja pun susah. Untuk mengeluh pada nenek maupun ayah atau keluarga lainnya kami tidak sudi karena merekalah penyebab ayahku berubah sikap, mereka ingin ayah ku menikah lagi dengan wanita lain karena antara keluarga ayah dengan keluarga ibu bebeda suku, sebagai akibatnya ayah kehilangan hak warisannya, tapi pada akhirnya hal tersebut menjadi sebuah alasan buat ayah dan keluarganya untuk menceraikan ibu.

Ngatur uang sepuluh ribu buat makan sampai malam

Suatu hari ibu hanya mempunyai uang sepuluh ribu rupiah padahal kami tak memiliki apapun di rumah, sedangkan untuk membeli beras saja pun uang segitu tidaklah cukup. Akupun pergi menuju warung sambil menangis. Bagaimana caraku membagi uang segini agar kami bisa kenyang malam ini ?. Sepanjang jalan aku menangis sambil kehujanan, hingga pada akhirnya diriku hanya dapat membeli roti seharga lima ratusan dengan gula putih setengah kilo.

Sesampainya di rumah, kulihat bubuk teh pun tidak ada lagi. Namun kulihat ada beras segenggam, lalu dioseng untuk kujadikan pengganti bubuk tehnya. Ku bagikan roti tadi, setiap adikku mendapat dua bungkus begitu pun aku bersama ibu serta satu temanku yang tinggal bersama kami karena dibuang oleh keluarganya.

Melihat adikku masih lapar, terpaksa ku berikan jatah rotiku pada mereka

Namun saat melihat adik-adikku memakan roti tadi dengan lahap dan terlihat masih kurang, aku berhenti makan, dadaku terasa sakit, air mata ku tidak berhenti-hentinya mengalir dengan rasa benci terhadap ayah, nenek serta keluarganya semakin berakar dalam hatiku. Akhirnya ku berikan jatah roti ku tadi buat adik-adikku. Ibu bertanya “Apa kamu sudah kenyang ?” ku jawab “sudah bu”. Lalu ibu mengatakan diriku harus menjadi orang tabah, jangan pernah membenci siapapun. Akupun menangis terisak-isak karena sudah tidak bisa menahan suaraku lagi.

Pada suatu saat adik ibu datang ke kampung dari Pekan Baru, Riau. Saat itulah pamanku mengajak untuk ikut bersamanya ke Riau. Akupun bersedia karena akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar bisa membantu ibu membesarkan ketiga adikku. Namun sebelum berangkat esok hari, aku ingin tahu kelakuan ayahku sebenarnya.

Ternyata ayah punya selingkuhan yang direstui keluarganya

Aku minta izin pada ibu untuk menginap di rumah kakak perempuan ayahku, ibu mengijinkan. Sesampainya disana nenek bertanya padaku, apakah setuju jika ayah menikah lagi, ku jawab tidak. Karena aku hanya punya satu ibu, tidak ada wanita lain bisa menggantikannya. Tak berapa lama terdengar suara ayahku datang, namun betapa kagetnya hatiku melihat ayahku bersama perempuan lain yang sudah dianggap ibu sebagai adiknya sendiri. Saat itu hatiku sangat sakit juga geram, mereka tertawa bersama-sama seakan meniadakan ibuku, aku juga adik-adikku, yang terkadang tidak makan karena ibu sakit-sakitan tidak mampu bekerja.

Oh Tuhan sakit sekali hatiku, entah bagaimana kalau sampai ibu mengetahui kejadian sebenarnya. Air mata ku bercucur deras, nenek menghampiriku kemudian bertanya. “Kamu kenapa kok menangis dan diam saja ?” Lalu ku jawab kalau kepala ku sakit. Lalu ayah menyuruhku bersama sepupuku untuk membeli obat ke warung. Rasa sakit itupun bertambah saat ayah menyuruh wanita yang sering ku panggil tante untuk memberiku uang. Owhh Tuhan ternyata selama ini ayah menafkahi wanita tersebut namun membiarkan kami kelaparan. Kubuang obat tersebut kemudian berjanji dalam hati sampai kapan pun tidak ingin mengenal laki-laki lebih dekat, hatiku sangat membenci laki-laki.

Esok paginya diriku pulang ke rumah pagi-pagi sekali, di tengah jalan bertemu ayah, kemudian ayah bilang diriku tak boleh ikut ke Riau. Ku-iyakan saja, karena malas lama-lama ngomong dengannya. Saat berangkat ke Riau hatiku bertekad akan jauh labih baik, tidak harus punya pendidikan tinggi baru bisa sukses.

Namun mimpi indah membayangkan kota Pekan Baru hanyalah sebuah hayalan. Bekerja di grosir paman hanya mendapatkan hasil sesuai mereka mau kasih, tapi hatiku tetap sabar karena mereka baik terhadapku. Namun pada bulan ketiga ibuku menyusul kemudian bilang kalau ayah sudah menikah dengan perempuan lain. Saat ibu menuntut, kakak iparnya langsung memberikan surat cerai pada ibu untuk ditanda tangani, tapi ibu tidak mau, dia minggat dari rumah meninggalkan kedua adikku, hanya si bungsu dibawa buat menyusulku.Disinilah kami membuat mimpi dengan ibuku, memulai semuanya dari awal. Diriku berjanji dalam hati kalau adik-adikku harus ikut dengan kami suatu hari nanti.

Suatu saat ada seorang teman dari kampung datang ke Riau menjemput pacarnya untuk menikah. Dia menceritakan pekerjaan pacarnya tersebut. Akupun minta ijin sama ibu untuk bekerja di Pekan Baru,  dengan berat hati ibu mengijinkanku. Tidak berapa lama diriku pun diterima bekerja.

Hampir tiga tahun lamanya aku tidak pernah pulang maupun menelpon. Hingga pada suatu hari hatiku sangat merindukan ibu juga adikku. Akupun meminta aku ijin cuti buat pulang ke rumah, saat sampai di rumah kontrakan kami, disana sudah ditempati orang lain, akupun bertanya pada orang-orang disana katanya ibuku sudah lama pindah tanpa diketahui kemana. Saat itulah diriku menangis ketakutan, lalu sepupuku datang kemudian bilang kepadaku kalau ibu pindah ke daerah Bagan Siapi-api.

Bergegas diriku menuju alamat dikatakannya. Setibanya disana kutemui ibuku kurus kering bersama adikku dengan tangan penuh nanah karena luka. Kupeluk mereka sangat erat, hatiku bersyukur bisa berkumpul lagi. Namun ternyata kedatanganku memulai kisah percintaanku. Di tanah Bagan Siapi-api inilah  ibuku ingin diriku  menjalin hubungan atau berpacaran meski diriku tetap melawan, hingga suatu hari ibu menjodoh-jodohkanku dengan seorang laki-laki.

Hatiku sangat membencinya, untuk menghindari darinya kudekati laki-laki lain menurutku cukup bisa dipercaya. Akan tetapi ternyata hatiku jadi benar-benar menyukainya meski tetap menjaga sikap terhadapnya. Tiba suatu siang diriku pergi kesawah untuk membantu ibu memanen padi miliknya, tapi tanpa disangka-sangka laki-laki pilihan ibu datang meletakkan sabit padi ke leherku sehingga membuatku menjerit-jerit ketakutan. Syukurlah banyak orang disana mengancamnya sehingga dia meletakkan sabitnya. Akan tetapi kejadian tersebut bukan membuat ibu menjauhkanku darinya melainkan malah menyuruhku cepat-cepat nikah denganya. Hal tersebut membuatku ribut sama ibu lalu pergi pergi ke rumah pamanku untuk tinggal disana sementara waktu.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, diriku mengajak ibu ke rumah mungil yang kubeli di Pekanbaru hasil dari pekerjaanku untuk kami tinggali bersama ibu serta adik-adikku. Segera setelah mengantar ibu ke Pekanbaru, diriku berangkat ke kampung untuk menjemput adik-adiku sekaligus melihat kebun kami. Akan tetapi sampai disana ternyata semua tanah maupun rumah sudah dijual oleh ayahku tanpa tersisa sedikitpun buat kami. Diriku sangat marah pada ayahku, kukatakan padanya jika mau menikah lagi terserah tapi jangan rampas hak hak ibu, semua tanah serta rumah tersebut bukan hak wanita istri barunya.  Ayah hanya diam kemudian minta maaf namun hatiku tidak bisa memaafkannya. Kami langsung pulang ke Riau. Ibuku terlihat sangat senang melihat kedatanganku bersama anak-anaknya.

Beberapa bulan setelah kami berkumpul bersama, akibat desakan ibu, diriku menjalin hubungan dengan seorang cowok biasa-biasa saja tapi sedikit pendiam agak misterius. Dia adalah tetangga kami pada lingkungan rumahku yang kami tempati.

Tanggal  5 Desember 2003 kami jadian, tetapi setelah beberapa bulan dia mendapat pekerjaan di kota Medan sehingga kami harus menjalani hubungan cinta jarak jauh. Hampir tiga tahun kami jalani hubungan cinta jarak jauh tanpa ada masalah ketika tiba-tiba dia memutuskan hubungan karena akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Hatiku sungguh kecewa karena patah hati. Disaat dalam kebimbangan itulah, ibuku kembali mengajukan calonnya yang dulu. Meski hatiku tidak menyukainya, juga merasa keluarga kami hanya akan menjadi hinaan keluarganya karena mereka keluarga kaya, akhirnya kuputuskan untuk menerima permintaan ibu. Selain untuk menyenangkan hatinya, juga hatiku merasa perlu cara move on melupakan mantan pacar agar segera bangkit dari kekecewaan.

Ternyata setelah menikah aku baru tahu suamiku sudah memiliki istri

Tanpa banyak persiapan, kamipun segera menikah. Akan tetapi, baru sebulan menikah, betapa terkejutnya hatiku saat mengetahui  bahwa suamiku ternyata masih memiliki istri yang belum diceraikan. Bahkan keterkejutanku semakin bertambah ketika mengetahui istrinya melahirkan dua bulan kemudian. Sejak itulah dia mulai memperlihatkan sifat aslinya. Suka main perempuan, berjudi, mabuk-mabukan serta sering berbohong. Bukan hanya itu, dia lebih mempercayai dukun dibanding Tuhan.

Kini aku terombang-ambing dalam hubungan tidak jelas. Pekerjaanku sudah lama kutinggalkan sejak menikah. Meskipun kebutuhan materiku dipenuhi sekedar untuk kebutuhan rumah serta ibu dan adik-adikku tetapi batinku sungguh tertekan. Lagipula dengan segala peranggai buruknya sampai kapan sawah serta ladangnya bisa mencukupi. Aku menyesal telah menikah dengannya, tetapi semua sudah terjadi. Meski tidak ingin menyalahkan ibu, tetapi mungkin semua tidak akan terjadi jika diriku tetap pada pendirian. Tapi mungkin inilah takdir kami. Semoga Tuhan memberi kesabaran serta ketabahan.


Terima kasih telah membaca cerita pendek kisah nyata. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat untuk dijadikan pelajaran bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah berpikir positif dan jadikan setiap peristiwa dalam hidup sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait