Batang Tarandam Nan Alah Lapuk

cerita pendek daerah minangkabau batang tarandam nan alah lapuk

Cerita pendek daerah Minangkabau tentang kepedulian seorang pemuda pada pergeseran sosial budaya di lingkungannya saat pulang kampung untuk liburan setelah lulus kuliah. Ketika sebuah ide untuk membangkitkan kembali kegiatan budaya muncul, lalu dilontarkan pada sahabatnya, akankah itu mendapat dukungan dan terwujud ?

Cerita pendek daerah Minangkabau “Batang Tarandam Nan Alah Lapuk”

Awal dari semua kesadaran ini adalah suatu libur panjang yang membawa Malik, seorang bujang Minangkabau yang kembali pulang ke tanah asalnya. Setelah lima tahun berlalu, dia pulang saat masih duduk di bangku kelas dua SMA. Dan sekarang setelah lulus kuliah jurusan Sastra Indonesia dari Universitas Andalas ia kembali bersama kedua orang tuanya.

“Baru pulang, Lik ?” Deni, Sahabat lama Malik bertanya, Malik tengah menurunkan beberapa tas yang berisi pakain dari atas mobil, bersama kedua adiknya yang juga menurunkan barang bawaan mereka.

“Iya, Den” Malik tersenyum dan menghampiri Deni.

“Apa kabar Den?” Malik bertanya sembari menepuk pundak sahabatnya itu.

“Beginilah Lik, Semenjak Wisuda lima bulan lalu belum dapat kerjaan”

“Oh, iya. Ngomong-ngomong kamu lulusan jurusan apa, Den?”

“Sastra Indonesia, Lik. Sampai sekarang masih nyari kerjaan. Lulusan S1 pun sekarang sangat susah nyari kerjaan” (baca : profesi pekerjaan paling banyak dibutuhkan di Indonesia)

“Nanti malam jemput aku ke rumah ya, Den. Sambil jalan-jalan, sudah lama aku tidak menikmati keindahan ini.”

Malik berlalu meninggalkan Deni, setelah lelah di perjalanan tubuh Malik begitu lelah. Istirahat menjadi pilihan utama Malik saat ini, merebahkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk di dalam kamar. Hanya saja yang di dapati adalah cegahan dari neneknya.

“Anak bujang Lalok di lua, kalau di dalam samo sajo jo anak gadih amak beko.”  Neneknya yang di panggil Malik, Amak. Mengingatkan Malik.

Malik menepuk dahinya, “Kenapa aku bisa sampai lupa sih? Efek lelah mungkin”  katanya dalam hati, kemudian berbaring di depan TV di ruang tengah rumah itu.

***

Ketika malam mulai datang, selepas mandi membersihkan tubuh dari keringat lelah perjalanan. Bibir Malik hampir pucat tanpa darah, dingin menusuk tulang. Berbeda dengan malam biasanya. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota Jakarta, tanpa maling yang berkeliaran di berbagai tempat. Disini hanya ada angin, udara dingin dan beberapa pejalan kaki pulang dari mesjid.

Malik bersandar di sebuah pohon di depan rumahnya, di seberang jalan sana, sekelompok remaja tengah menikmati malam mereka. Asap rokok dan beberapa botol minuman menemani mereka. Malik tanpak serius memandangi mereka, yang seperti ini sangat banyak di temui di Jakarta. Hanya saja ini adalah Ranah Minang, yang terkenal dengan adatnya yang kental. Terasa begitu asing melihat pemuda yang seharusnya berada di surau ataupun di pos ronda malah melakukan hal demikian jelas merugikan diri mereka sendiri. Malik menggelengkan kepala, dingin yang semakin menusuk. Malik berniat mencari kedai kopi terdekat, ia mencari jaket miliknya ke dalam rumah.

Di luar, ternyata Deni sudah datang menunggu Malik.

“Lik, kita ngopi aja ya di kedai bang Ujang.” Sahut Deni

“Aku juga memikirkan hal yang sama, Den. Kopi opsi utama saat ini, belum kawin gini hanya kopi dan satu lagi, wedang jahe— penghangat alami untuk tubuh ini” kata Malik bergurau.

Deni tersenyum kecil dan memutar gas motornya.

***

Sekitar sepuluh menit, mereka tiba di sebuah kedai kopi yang menjadi tujuan mereka. Deni memilih tempat ini karena tidak seperti kedai yang lain di Nagari ini, dimana kedai yang lain menjadi lapak perjudian bagi perangkat Nagari, tempat minum bagi Niniek mamak yang terkadang memberi contoh yang tidak baik bagi anak-kemanakan mereka. Dan ketika anak-kemanakan mereka melakukan kesalahan, mereka akan berkata: “Ang/Kau alah mancoreng arang di kaniang den”  suatu kesalahan kosa kata dari mereka petua adat yang lupa mengintrospeksi diri.

Teh talua ciek da.”  Kata Deni

Tapi ka minum kopi kato ang tadi” Malik menanggapi permintaan Deni

Badan den panek, leno. Manolong Amak di sawah”  Deni membela diri. “Teh talua rancak untuak manambah stamina jo energi ang, Lik. Ang pasti leno lah bajalan jauah, minum lah tu”

Meskipun bertahun-tahun hidup di Ibu Kota, tak membuat darah Minang dalam diri Malik hilang begitu saja. Menurutnya: “Setiap perantau Minangkabau harus tetap membawa empat kata Minangkabau, tidak meninggalkan Minang begitu saja di bangkahuni. Namun membawanya hingga Merak dan tetap memakainya di tanah rantau sehingga tidak hanya prilaku kabau yang menemani waktu dan menjadi orang yang di anggap langau oleh orang pribumi di rantau orang”

“Awak kopi se lah, Da. Gak paik stek Da!”  Malik kemudian memesan

Tidak beberapa lama, pesanan mereka tiba bersamaan. Secangkir kopi sedikit pahit dan secangkir teh telor yang menjadi ciri khas orang Minang.

Bang Ujang duduk di sebelah mereka, Malik yang merasa asing dengan pemandangan yang tak biasa tadi melihat pemuda dengan hiburan mereka bertanya kepada bang Ujang.

“Bang, saat ini saya lihat begitu banyak surau kosong dan pos ronda yang sudah seperti kandang kambing, kenapa keadaan saat ini begitu berbeda Bang?”

“Anak Bujang sekarang lebih suka menjadikan mode kota-kota besar di Indonesia, berawal dari nonton TV, sosial media dan bahkan dari sanak saudara yang muda-muda pulang dari rantau membawa mode kehidupan baru bagi mereka. Sedikit kesalahan perantau adalah membawa perubahan yang kurang baik kepada anak Nagari.” Jelasnya

“Surau nan alah langang, kadai nan alah rami. Suduik Nagari nan alah ta isi dek ulah anak-kemanakan lah jauah dari adek.” Deni menyambung

Malik diam seketika, air matanya tergenang.

“Den, kamu mau kerjaan tidak?”

“Kerja apa Lik? Susah.”

“Aku tidak akan kembali ke Jakarta, kita buat lapangan pekerjaan disini.”

“Untuk apa?” Tanya Deni pasrah

“Untuak mambangkik batang tarandam, lah lapuak dek indak babangkik– tangguang jawek awak nan mudo- mudo untuak manjago adek kito basamo.”

“Aku juga memikirkan hal yang sama, tapi bagaimana? Caranya dan kita mulai dari mana?” Deni mulai kurang paham

“Kamu lulusan apa?” Tanya Malik menatap tajam Deni

“Sastra Indonesia”

“Itulah, kita, orang minangkabau terkenal dengan daerah penghasil seniman di Indonesia, rumahnya para pengarang dan penyair. Kita kembalikan marwah itu untuk diri kita. Kita akan bukak ruang literasi untuk teman-teman dan adik-adik kita. Akan kita buat wadah untuk pelatihan, bimbingan dan penyebaran karya mereka. Untuk menunjukkan bahwa masih ada di Minangkabau ini Bujang dan Gadih yang akan melanjutkan kiprah Buya Hamka untuk Indonesia.”

Deni tercengang

Malik meminum kopi nya hingga habis, tanpa peduli panasnya. Entah memang terlalu dingin udara malam ini atau karena semangatnya.

“Kamu benar, Lik. Aku akan membuka wadah untuk melahirkan kembali pesilat kita. Silek nan alah tabangkalai, randai nan alah lalok pituah nan alah mulai lupo.” Kata Deni kemudian memutar badannya, namun tak menemui Malik disana, dia melihat jauh ke arah jalan. Malik berlari disana.

“Lik … Lik … Lik …” Deni berteriak memanggil

Deni mencibir dan kemudian berlalu.


Terima kasih telah membaca cerita daerah pendek dari Minangkabau berjudul Batang Tarandam Nan Alah Lapuk, semoga cerita ini dapat menghibur dan menjadi renungan bagi kita.

Dibagikan

You may also like