Begonia

cerita pendek bunga begonia

Begonia adalah cerita pendek tentang kecintaan seorang gadis pada bunga Begonia (Begoniaceae) yang indah sehinga tidak rela siapapun mengganggunya. Simak cerpen berikut :

Cerita Pendek Bunga Begonia

Washington pagi itu cerah seperti biasannya. Udaranya selalu sejuk walaupun ia sibuk menjalani peran sebagai ibu kota sebuah negara besar. Kota ini tidak sepopuler kota hiburan dan bisnis seperti Los Angeles dan New York. Tapi aku lebih mengagumi Washington dibanding kota-kota lain yang pernah kukunjungi. Orang-orang di kota ini ramah dan individualis. Pejalan kaki yang tidak peduli siapa dan apa urusanku, selalu sempat tersenyum walaupun terburu-buru berlalu menuju Washington Metro yang berada di bawah pijakkan kakiku. Aku juga mengagumi monumen-monumen dan taman-taman yang menghiasi tiap sudut kota ini.

Suatu pagi aku berjalan-jalan sendirian di kompleks National Monument. Berjalan sendiri di objek wisata, berdasarkan pengalamanku, adalah hal yang aneh di Indonesia. Beberapa kali aku mencoba menikmati keindahan sebuah objek wisata di Bandung, beberapa kali pula aku ditanya “sendirian aja?” oleh tetangga kost, penjual tiket, hingga pengunjung yang sedang mengambil swafoto bersama kelompoknya. Sepertinya jiwa gotong royong dan kolektivitas sangat melekat pada orang Indonesia sehingga mereka iba melihatku tampak kesepian.

Saat itu, ingin sekali kujelaskan bahwa kesepian tidak selalu berarti sendirian. Seseorang bisa saja merasakan kesepian di tengah keramaian. Kesepian adalah keadaan di mana seseorang merasa tidak bernilai dan berharga. Memang penilaian dan penghargaan bisa diberikan oleh orang di sekitar kita. Namun, bukan berarti mereka merupakan satu-satunya pemberi arti. Orang yang menang bertarung melawan kesepian akan mampu mencintai dirinya sendiri dan bertahan hidup tanpa sanjungan orang lain. Saat itu aku hanya berpikir kalau penghargaan orang tidak harus selalu ditunjukkan dengan berada disampingku. Aku sendiri, namun tidak merasa sepi, karena memoriku selalu mengingatkanku bahwa ada segelintir orang yang selalu bahagia aku bahagia. Tentu saja bukan jawaban panjang lebar itu yang kuberikan pada mereka yang bertanya. Aku hanya tersenyum dan menjawab “iya” sebelum berlalu pergi.

Untungnya, Washington kala itu tidak memberikanku pertanyaan itu. Selain karena orang-orangnya yang familiar dengan individualisme, saat itu sebenarnya aku tidak sendiri. Aku ditemani oleh Begonia.

Dia ada di sampingku. Namun, dia tidak duduk bersamaku di bangku taman. Karpet hijau alami yang membentang sepanjang pekarangan National Monument lebih nyaman untuknya. Tempat kami duduk dinaungi jejeran pohon-pohon rindang. Di sekitar, tupai dan burung juga tampak melompat-beterbangan ke sana kemari berlomba-berlomba menarik perhatian pengunjung. Namun, mereka semua tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Begonia. Kelopak putihnya kemerah-merahan seperti pipi berbalut blush on, berlapis-lapis dan membesar menjauhi putik yang berwarna lipstick merah jambu. Tangkainya yang kurus melenggak-lenggok tertiup angin sepoi-sepoi. Daunnya menengadah di dekat mahkotanya seakan menegaskan “Aku cantik. Lihatlah aku”. Pikiranku setuju dengan hatiku, “Dia memang cantik”.

*

Dan Brown dalam bukunya The Lost Symbols mengatakan bahwa Washington adalah kota dengan sejuta misteri. Bangunan-bangunannya, Capitol Building, Smithsonian Museum, National Monument, dan Lincoln Memorial, disebut-sebut menyimpan petunjuk untuk menguak rahasia organisasi bawah tanah terbesar dunia. Tempat-tempat itu berjarak lemparan batu dari tempatku berada. Namun, entah kenapa aku lebih tertarik pada rahasia kecantikan Begonia. Dia tetap di sana sejak aku duduk. Melambai-lambai dan tersenyum kepada ratusan pengagumnya yang berlalu-lalang. Beberapa pengagumnya menyempatkan untuk berhenti sejenak dan mengabadikan pesonanya, sebagian lainnya bahkan punya nyali untuk membelai mahkotanya. Begonia diam saja membiarkan mereka menyentuhnya. Bahkan sepertinya dia senang dan merasa bangga. Walaupun sebagian pengagumnya berani menyentuhnya, mereka tidak sampai hati menyakitinya. Kecuali, pria tua itu.

*

Dia bergegas menghampiri ketika mendapati Begonia berada di jarak pandangnya. Pria tua itu berjanggut putih. Kepalanya dilindungi oleh topi rimba berwarna krem, membuatku dengan mudah mengingatnya karena hanya dia yang mengenakannya pagi itu. Tubuh gemuknya terbalut kemeja turquoise motif daun pinus kecil. Celana pendek menutupi hingga setengah lututnya, sepatu boots cokelat choco, dan ransel hitamnya melengkapi kesan kalau dia menganggap Washington adalah hutan belantara untuk dijelajahi. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Ah! Aku tahu! Dia mirip dengan tokoh miliarder tua di film Jurassic Park, John Hammond.

Berdiri di depanku dan Begonia, dia sama sekali tidak melirikku. Matanya hanya tertuju pada bunga cantik yang ada di depannya. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra kekaguman. Dia pun jongkok dan membelai mahkota Begonia. Sama seperti sikapnya pada para pengagum sebelumnya, Begonia hanya diam. Namun, kali ini pengagumnya tidak hanya sekadar membelai Begonia. Dia memisahkan dua kepala ritsleting yang bertemu tepat di tengah ransel hitamnya untuk mengambil pot bunga berwarna hijau dan sekop kecil yang sedikit berkarat. Seperti John Hammond, dia tampaknya berniat untuk memindahkan benda berharga dari tempat tinggalnya ke rak koleksi pribadi.

Saat itu aku berusaha menjadi Washingtonian pada umumnya dengan tidak mengurusi apa yang bukan merupakan urusanku. Aku memasukan kedua tanganku ke dalam saku mantelku, duduk memandangi kolam dan orang-orang yang berlalu-lalang seakan tidak ada peristiwa penting terjadi di sampingku. Namun, mata kiriku samar-samar mengirimkan gambaran tentang apa yang terjadi di antara Begonia dan pria itu ke otakku. Kali ini pria itu meraba-raba tanah tempat bunga itu bersanding, memilah-milah bagian yang paling tepat untuk menancapkan sekopnya, sementara begonia diam saja. Pria tua itu terus meraba-raba ke sana kemari hingga akhirnya berhenti dengan senyuman kemenangan di wajahnya. Tanpa ragu dia menancapkan sekopnya tepat di bawah tangkai kurus bunga cantik itu. Begonia, seperti sebelumnya, hanya diam saja.

“Bego”, ucapku refleks.

Pria itu berhenti dan akhirnya menyadari kehadiranku di sana. Dengan wajah santai namun bingung dia mengalihkan pandangannya kepadaku dan bertanya

“Pardon, did you just say something ?”

Sial, sepertinya aku telah melanggar aturan Washingtonian tentang ‘only mind your own business.’ Seharusnya aku tidak mengaganggu urusannya yang bukan urusanku. Berbohong, pikirku, akan memperbaiki hubungan dengannya

“Oh, not really. I just said to myself that I need to go. I haven’t seen Martin Luther King Jr. Memorial.”

Ucapku dengan wajah sopan ala budaya timur.

“I see. A fan of Civil Rights Movement, huh?”

Dia coba membalas keramah-tamahanku.

“Not really. I am just a tourist. I can’t miss even one monument in Washington, can I?”

Dengan masih mengenggam gagang sekop yang tertancap di tanah, dia membalas

“Well, you can say that again. Washington is a one-stop historical shop. History of the world is stored here. Anyway, where are you from? The Philippines?”

Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan pria tua itu. Ini bukan kali pertama orang menyangka aku dari Filipina. Saat berada di Angkor Wat, Kamboja, anak-anak kecil pedagang asongan berlarian mengejarku sambil berteriak “Brother, buy keychains. You can pay in Peso!” mereka yakin aku dari Filipina. Kubiarkan diriku tertangkap dan berkata “I am not from The Philippines. I am from Indonesia” Seakan tak mau melepaskan buruannya, pebisnis cilik itu memberiku penawaran lain “Okay. You can pay in Ringgit, brother.” Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum miris lalu pergi.

“I am from Indonesia. Do you know Indonesia?”

Berharap dia tahu kalo Indonesia adalah nama sebuah negara di mana Bali termasuk di dalamnya, bukan sebaliknya.

“Oh, Indonesia? I want to visit Indonesia, especially Tomohon. I heard there are many beautiful flowers there.”

Aku mulai bisa menebak kenapa pria ini membawa sekop dan pot bunga di ranselnya.

“Yes. The government and people of Tomohon try to brand their city as Flower City. Actually, my mother is a florist. She supplies some flowers to the city”.

Ah, harusnya aku sadar bagian terakhir itu tidak perlu dibicarakan dengan orang asing. Dasar orang ketimur-timuran. Mudah saja mengobral informasi yang tidak perlu diketahui orang yang baru dikenal selama beberapa menit.

“That’s great. We may make a business deal when I have a trip to Indonesia, someday.”

Tanggapnya santai.

Omong-omong soal urusan, dia kembali sadar kalau urusannya dengan Begonia belum selesai. Dia berhenti menatapku dan kembali fokus pada mahluk cantik yang ada di depannya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku bersiap pergi meninggalkan Begonia dan mempraktekan ekspresi parting yang kupelajari ketika SMP. Namun, sebelum aku sempat beranjak dari tempat duduk, seorang pria berawajah garang, berperawakan tinggi besar, mengenakan seragam otoritas datang menghampiri kami. Dia bertanya tentang apa yang kami lakukan di sana. Aku dan pria tua jelas melakukan hal yang berbeda. Masing-masing dari kami harus memberikan penjelasan secara terpisah. “What are you doing here?” tanyanya ketus dengan pandangan tidak ramah. “I am just sitting and enjoying the view, sir” jawabku agak gugup karena pernah berurusan dengan petugas keamanan sebelumnya di Indonesia. Selama beberapa detik, dia memandangiku dari atas sampai bawah. Tanpa menanggapi jawabanku, dia menanyakan hal yang sama pada sang pria tua “What are you doing here, sir?” Sang pria tua berdiri namun membiarkan sekopnya tetap tertancap di tanah. Jawabannya tidak sesederhana jawabanku. Kali ini sang petugas keamanan memberi sebuah tanggapan. Mereka saling beradu pendapat dan merasa paling benar. Cekcok mereka di pagi indah itu diakhiri oleh perkataan sang petugas keamanan “let’s talk in the office.” Sambil menggerutu, sang pria tua memasukan kembali sekop dan pot bunganya, lalu mempertemukan kembali dua kepala ritsleting di bagian tengah ransel hitamnya. Dia mengikuti sang petugas keamanan dari belakang.

Aku tidak mau Begonia dirampas dan dijadikan properti pribadi, tapi ironisnya aku tidak benar-benar menolongnya untuk lepas dari hasrat sang pria tua. Kata-kata “bego” yang aku ucapkan sebenarnya bukan sepenuhnya untuk pak tua. Makianku juga ditujukan pada Begonia bodoh yang hanya berdiri cantik tak bicara, apalagi melawan, ketika pria itu meraba-raba bagian tubuhnya. Kekesalanku memudar setelah aku sadar bahwa, walau bagaimanapun, Begonia selamat karena aku bisa mengulur waktu hingga petugas itu tiba. Aku juga bersyukur karena tidak harus berdebat dengan penduduk lokal perihal moral dibalik pemetikan bunga.

Martin Luther King Jr. Memorial berjarak lumayan jauh dari National Monument. Aku tidak ingin sampai sana saat matahari tepat berada di kepala. Pikiranku dan kakiku setuju untuk pergi dari tempat itu, sebuah ruang di mana aku menyelamatkan sebuah bunga yang baru saja aku kenal. Namun suara lembut itu tiba-tiba tertangkap oleh indra pendengaranku:

“Terima kasih” Ucapnya, dalam bahasa yang sangat aku mengerti.


Terima kasih telah membaca cerita pendek tentang kecintaan terhadap bunga begonia. Semoga cerpen diatas dapat memberi inspirasi dan motivasi untuk berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Suaka Kata

Penulis :

Artikel terkait