Belajar Harus Disiplin @ Cerita Motivasi Anak

cerita motivasi anak belajar harus disiplin

Belajar harus disiplin adalah cerita motivasi anak singkat yang ditulis oleh Nova Arofiani untuk memacu keinginan belajar anak. Sebagai sebuah cerita pendek untuk anak-anak, cerpen ini bisa dikatakan cukup baik dan tepat sasaran. Silahkan simak cerpen anak berikut.

Cerita Motivasi Anak Singkat “Belajar Harus Disiplin”

Ku berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak diantara persawahan yang masih hijau. Hamparan padang padi berhasil mengaburkan bayangan wajah Ayah dan Ibuku. Suara para penggembala yang asyik bernyanyi melumat kata-kata kasar yang dari tadi terngiang di telingaku. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara segar. Karunia Tuhan yang dapat ku nikmati sepuasnya. Ah, lega sekali rasanya. Ini adalah tempat terbaik melupakan segala masalah yang sering menghampiriku.

Hatiku puas karena menemukan tempat pelarian. Langkahku menuju sebuah batu agak besar di tepi sungai. Pandanganku tak dapat berhenti mengelilingi suasana di sekitarku. Sungai yang tidak terlalu lebar dan dalam. Di tepiannya sengaja diberi tembok untuk keperlauan mencuci dan mandi. Air jernih mengalir pelan. Riak-riak kecil. Anak-anak sedang asyik bersenda gurau sambil menceburkan diri ke sungai. Ibu-ibu sibuk mencuci pakaian dan peralatan dapur, lalu membersihkan tubuh mereka sendiri. Tanpa sadar senyumku mengembang. Sungguh indah. Hatiku menjadi tenteram. Aku sangat menikmati kesejukan desa ini.

Ku lirik jam tanganku. Spontan aku memekik tertahan. “Ah menyebalkan!”. Pukul 16.45, ternyata sudah tiga jam aku di sini. Dengan berat hati aku harus mengakhiri. Meninggalkan tempat sunyi ini. Satu persatu mulai meninggalkan sungai. Penggembala menunggangi kerbau kembali ke rumah. Ku ayunkan kakiku dengan malas, sesekali kakiku mematahkan ranting-ranting di tepi jalan setapak yang ku lalui.

Sampai di rumah aku langsung membersihkan tubuhku.

“Wi, makan dulu.” panggil nenek dari ruang makan.

Aku langsung menuju meja makan.

“Hmm.. Harum sekali. Pasti sedap masakan nenek ini.” ku hirup aroma masakan nenek.

“Kamu bisa saja. Ibu kamu juga pandai memasak.” celetuk nenekku dengan logat Jawanya.

Aku geli mendengarnya. Aku, cucu satu-satunya tidak bisa berbahasa Jawa. Jadi terpaksa nenek harus berbicara dengan bahasa Indonesia. Tapi aku segera sadar apa yang dikatakan nenek. Nenek menyebut Ibu! Mendadak selera makanku hilang. Nasi yang hendak ku letakkan di piring, ku kembalikan ke tempat nasi. Nenek melihatku dan segera menghiburku.

“Tapi masakan nenek yang paling enak. Coba ini ada tempe goreng, ikan asin, sayur asam, dan sambal semuanya kesukaan kamu.” ucap nenekku sambil mencicipi tempe goreng. Kelihatan enak sekali. Perutku yang dari siang belum diisi tidak dapat diajak kompromi. Huh, akhirnya aku harus menyerah. Aku santap habis satu piring penuh. Nikmat sekali makan dalam keadaan perut lapar.

Selepas ‘Isya aku dan nenek menonton televisi. Emak Ijah Pengen ke Mekkah. Sinetron favorit nenek. Apa? Uuh kenapa mesti sama lagi sih, itu kan sinetron kesukaan ibu juga. Ibu tak pernah absen tiap sinetron itu ditayangkan. Aku sering berebut remote TV dengan ibu.

Aku benci semua yang mengingatkanku pada Ibuku.

“Nek, aku tidur duluan ya.” kataku tiba-tiba sambil beranjak dari kursi.

“Masih sore gini. Memangnya kamu biasa tidur jam segini?” tanya nenek.

“Nggak, tapi aku sudah ngantuk. Mungkin capek tadi habis jalan-jalan ke Kaligung” jawabku pura-pura sambil mengusap-usap mata dan membuka mulut lebar-lebar agar disangka menguap.

“Ya sudah.. Jangan lupa besok bangun pagi-pagi. Besok pagi kita ke pasar.” sahut nenek.

“Iya, Nek.” jawabku menggangguk sambil membuka pintu kamar.

Pagi ini menu sarapan di rumah nenek cukup sederhana, tapi memenuhi empat sehat lima sempurna. Aku semakin bersemangat melahap makanan ada di hadapanku. Sayur yang baru dipetik dari kebun sendiri. Menambah selera makanku. Sehabis sarapan nenek mengajakku ke pasar untuk berbelanja. Hari ini pasar ramai. Sekarang aku baru merasakan sangat tidak enak berjalan berdesakkan di pasar. Ditambah lagi lantai pasar yang masih berupa tanah. Tadi malam hujan turun membuat tanah becek. Semakin menyulitkan langkahku. Seharusnya liburan sekolah seperti ini aku sedang bermain game atau jalan-jalan ke taman bermain atau tempat lain. Ah, lagi-lagi aku teringat Ibu. Ibu yang membuatku sekarang berada di tempat ini. Hanya karena nilai kenaikan kelasku hancur, aku harus diasingkan ke desa ini. Telepon genggamku ditukar dengan telepon jaman dulu, tidak ada internet, tidak ada game. Sungguh aku geram.

“Kamu ini mainan HP, Laptop, Ipad terus-terusan. Coba kamu buka buku-buku kamu, PR tidak kamu kerjakan, buku catatan banyak yang kosong. Pantas saja tidak naik kelas. Kamu tidak malu?” ibu berkata dengan nada tinggi, sambil mengobrak-abrik meja belajar dan memeriksa buku pelajaranku.

“Ayah dan Ibu sudah memutuskan kamu akan pindah sekolah. Kamu akan melanjutkan sekolah di rumah nenek.” ujar Ibu.

Mulutku langsung menganga. Apa? Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan di desa.

Rupanya orang tuaku tidak mempedulikan rajukanku. Dua hari kemudian aku dipaksa menaiki bus bersama Ibu, menuju rumah nenek. Dengan senyum kecut Aku melihat barang yang dikemas Ibu. Bisa langsung ku tebak apa isinya, buku-buku. Perjalanan delapan jam sampai di rumah nenek. Ibu hanya menginap semalam. Aku benar-benar ditinggalkannya hanya berdua dengan nenek di rumah tua ini. Ibu kejam sekali. Aku menggerutu. Hanya ada televisi kecil dan sebuah radio. Hari-hariku sangat membosankan. Buku-buku dari Ibu tidak ku sentuh sama sekali.

Kini aku harus mengulang di kelas 5 di sebuah sekolah dasar di desa ini. Jarak sekolah baruku dari rumah nenek lumayan jauh untuk ukuranku. Aku harus berjalan kaki menuju sekolah. Hari pertama aku belum mendapat teman. Aku kesulitan berbicara dengan anak-anak desa. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa daerah. Sedangkan aku tidak mengerti sedikitpun bahasa daerah di sini.

Jam menunjukkan pukul 19.00. Aku menuju ke ruang tengah hendak menyalakan televisi. Tapi nenek lebih dahulu mengambil remote. Aku sangat kaget.

“Nek, aku mau nonton tv. Kenapa remotenya diambil?” tanyaku kesal.

“Dewi kan tadi siang sudah menonto tv. Nenek hitung selama 2 jam loh.” jawab nenek.

“Iya itu kan tadi siang. Sekarang aku mau menonton lagi.”

“Bagaimana tadi di sekolah? Dewi sudah punya teman baru?” tanya nenek mengalihkan pembicaraan.

“Belum.” jawabku singkat.

“Kenapa belum?” tanya nenek lagi.

“Soalnya Dewi tidak mengerti merek bicara apa.” jawabku.

“Hmm. Kalau begitu lebih baik kita belajar bahasa. Nenek akan mengajari Dewi bahasa di sini.” nenek memberikan tawaran.

“Jadi besok bisa Dewi pakai berbicara dengan teman-teman.”

Aku cukup penasaran dengan tawaran nenek. Akhirnya aku menuruti ajakan nenek. Awalnya aku kesulitan mengikuti ucapan nenek dalam bahasa Jawa. Aku sudah dapat menghafal beberapa kata dalam semalam saja. Nenek tidak bosannya menemaniku belajar. Aku mulai banyak teman. Setiap sore hari aku bersama teman-teman bermain di halaman rumah nenek yang luas, menangkap ikan kecil langsung dengan tangan di sungai, mendaki bukit, dan menanam umbi-umbian. Umbi-umbian menjadi bahan membuat jajanan yang sangat laris di desa ini. Ternyata hidup di desa tidak terlalu sulit. Aku mulai menikmati. Semuanya lebih menyenangkan dari pada bermain game seorang diri di dalam kamar. Sampai akhirnya aku berhasil lulus SD. Aku mendapat nilai terbaik. Ayah dan Ibu bahkan masih tidak menyangka kalau aku mendapat peringkat satu.

Ayah dan Ibu segera menyusulku. Begitu melihatku, mereka langsung memelukku bangga. Sebenarnya aku pun ingin melanjutkan SMP di sini. Namun, ayah dan Ibu ingin aku kembali ke kota. Sebelum pergi nenek mengingatkanku agar tetep disiplin dalam belajar dan jangan malas supaya kita dapat menjalani hidup dengan baik. Dengan belajar bahasa daerah aku mendapat banyak teman. Disiplin membuat aku menduduki peringkat satu. Aku mengangguk tajam. Aku berjanji tidak akan mengecewakan ayah, ibu dan nenek.


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita motivasi anak singkat “Belajar harus disiplin”. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi anak dan orang tua. Jangan lupa baca juga cerita anak kami lainnya.

 

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait