Binasa Cintaku

cerita tragis binasa cintaku

Binasa cintaku adalah cerita tragis tentang seorang guru SMA, perjaka tua yang baru menikah namun istrinya mati ditabrak motor. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak pada cerpen berikut :

Cerita Tragis Binasa Cintaku

Sebuah taman indah dipenuhi dengan berbagai ragam bunga serta dihiasi dengan air mancur di tengah kolam membuat hatiku sedikit tersenyum setelah sekian lama hanyut dalam kesedihan.  Mataku memandang ke sekeliling, ku lihat begitu banyak pasangan remaja tengah berpacaran.  Mungkin dalam hatiku adalah perasaan iri !  Bagaimana tidak ?  Sampai saat ini belum ada seorang gadis mampu mengisi hati telah lama dalam kekosongan.

Setelah merasa lelah menyaksikan keindahan taman, aku kemudian berjalan menuju parkir motorku yang tak terlalu jauh dari taman.  Tiba disana, aku bertemu dengan seorang gadis, gadis tersebut menatap tajam mataku seperti mengenal diriku.

“Sepertinya kita pernah saling mengenal” ungkap gadis itu lembut.

“oh ya, dimana ya ? “ jawabku dengan penasaran.

Ku tatap wajah gadis tersebut dengan seksama. Memang !  Wajahnya sangat familiar bagiku, tapi apa aku pernah bertemu dengannya ?.

“Kak Val bukan ya ? “ ucapnya dengan sedikit ragu.

“Kamu.. ?” sambil berusaha mengingat, namun gadis itu lebih dulu menjawab. “Ah,  masa kakak nggak mengenaliku ?  Aku Imelda”.

Astaga !  Sekarang barulah ku ingat siapa dia. Hmm Imelda !  Kami pernah dipertemukan 10 tahun lalu di stasiun kota Bandung.  Wajar saja diriku tiada ingat sama sekali. Kejadiannya sudah berlalu 10 tahun silam. Aku tak menyangka Imelda ternyata masih ingat dengan diriku.

Kala itu Imelda masih berumur 13 tahun,  kami sama-sama bertujuan ingin ke Jakarta,  pertemuan kami waktu itu sangat singkat bahkan akupun tidak sempat meminta nomor ponsel Imelda. Sekarang ku lihat Imelda bukan lagi gadis umur 13 tahun yang ku kenal dulu. Dia sudah jauh berbeda, Imelda sekarang sudah menjadi seorang wanita dewasa sangat cantik.

Pertemuanku dengan Imelda membuatku membatalkan rencana yang tadinya hendak pulang,  kamipun berbincang-bincang sambil mengulang kembali pertemuan singkat 10 tahun lalu.

Tiba-tiba seorang lelaki menghampirinya

cerpen cinta di parkiran motor
Cerita tragis di parkiran motor

Tidak lama kemudian seorang lelaki menghampiri Imelda,  aku jadi penasaran siapa laki-laki itu,  pacar,  teman atau siapanya Melda ya ?  Ucapku dalam hati sambil terus memerhatikan laki-laki tersebut. Ternyata, dia adalah kakak laki-laki Melda, namanya Aldy.  Entah kenapa ketika mendengar bahwa lelaki dihadapanku adalah kakaknya Melda, hatiku senang mendengarnya.

Pertemuan di taman siang itu tidak terlalu lama, karena Melda dan kakaknya harus segera pergi,  begitu juga dengan diriku.  Namun kali ini diriku tidak lupa untuk meminta nomor ponsel Melda agar bisa lebih dekat berkomunikasi dengannya. Setelah pulang dari taman aku nggak henti-hentinya memikirkan Imelda, bahkan sempat senyum-senyum sendiri ketika kembali ingat kejadian 10 tahun lalu. Besar harapanku untuk kembali berjumpa dengannya.

Keinginan untuk kembali bertemu dengan Imelda akhirnya terwujud

Aku mengajak Imelda menikmati makan malam di sebuah kafe.  Mataku tidak henti-hentinya memandangi wajah imut Imelda.

“Selama 10 tahun ini kakak kemana aja ? “ tanya Imelda seraya memberikan sebuah senyuman padaku.

“Aku nggak kemana-mana, masih ngajar di SMA Pelita Harapan

“Sampai sekarang apa kakak belum punya pendamping hidup ?“

Hatiku sempat tersentuh ketika Melda menanyakan hal itu,  “belum” jawabku singkat, membuat Melda sedikit heran.

“Kenapa kakak belum juga menikah” tanya Melda kembali dengan rasa penasaran.

“Entah lah Mel,  sampai sekarang belum bisa nemuin pasangan yang pas buatku” jawabku sambil terus memandangi Melda.

Saking asyiknya ngobrol ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10 malam,  sudah saatnya untuk nganterin Melda pulang. Begitu tiba di rumah Melda aku disuruh mampir oleh Melda ke rumahnya,  namun aku menolak karena hari sudah malam.

Cinta datang dari mata turun ke hati

Kata bijak mengatakan kalau cinta itu datangnya dari mata lalu turun ke hati, tapi bagiku cinta datang dari pikiran kemudian akan bersemayam dalam hati.  Itulah yang sedang ku alami saat ini. Dimana wajah Melda terus menghantui pikiranku setiap harinya hingga tanpa ku sadari cinta pun tumbuh. Tapi bagaimana dengan Melda ?  Apakah dia juga memiliki rasa yang sama denganku.

Hari demi hari diriku tidak sanggup lagi untuk memendam rasa cinta hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati ku. Sungguh tak menyangka Melda mau menerima cintaku, namun Melda tidak ingin terlalu lama berpacaran. Akupun juga begitu,  selain umurku sudah cukup tua, aku juga tidak ingin larut dalam kesendirian.

Akhirnya kami menikah

cerpen bulan madu di pulau karimun jawa
Pulau Karimun Jawa

Tiga bulan setelah berpacaran kami pun memutuskan untuk menikah,  kedua orang tua kami juga setuju kami menikah secepatnya. 23 September 2015 adalah tanggal pernikahan kami.   Sungguh tidak menyangka pertemuanku kedua kalinya dengan Melda membawa hubungan ke jenjang pernikahan.

Tiga hari setelah pesta pernikahan berlangsung, kamipun pergi bulan madu ke Pulau Karimun di Utara Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Jepara.  Orang- orang menyebutnya surga di bawah laut. Disana kami asyik menikmati keindahan pantai luar biasa, juga menikmati keindahan daratan sangat mempesona serta menikmati tracking di Hutan Mangrove.

Imelda hamil, namun sesuatu terjadi

Setelah satu bulan menikmati bulan madu,  kami  kembali pulang ke jakarta.  Hatiku berharap bulan madu kami memberikan kebahagiaan pada kami.  Doa ku akhirnya terkabul 3 bulan setelah pernikahan Melda pun hamil,  tidak hanya diriku,  tapi kedua orang tua ku dan juga Melda begitu bahagia mengetahui hal ini.

Kehamilan Melda membuat hidup kami lebih berwarna.  Menunggu kelahiran anakku, sang buah hati, kami pun mempersiapkan segala sesuatunya.

Suatu hari aku membawa Imelda untuk menikmati keindahan malam minggu saat itu kandungan Melda sudah berusia 7 bulan. Memang takdir Tuhan tidak dapat untuk dihindari.  Ketika kami hendak turun mobil, sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabrak Imelda.

Istriku mati ditabrak motor

Ingin diriku mengejar pengendara tersebur,  tapi dia sudah terlalu jauh pergi. Aku fokus kan diriku pada Melda yang tidak sadarkan diri,  secepat mungkin diriku membawanya ke rumah sakit.

Namun apa yang terjadi ?  Aku meneteskan air mata ketika dokter bilang Melda dan bayi kami tidak dapat diselamatkan.  Itu adalah pertama kalinya diriku meneteskan air mata.

Merasa tidak percaya aku kemudian masuk ke ruang UGD tersebut.  Diriku tak hentinya menangis menyaksikan semuanya.  Aku tak bisa berbuat apa-apa, dalam tangisan tanganku memeluk Melda dengan kasih sayang.

Adakah yang bisa merasakan kesedihanku ?  Cintaku telah binasa bersama puing harapan yang pernah kudambakan sebelumnya. Cinta berakhir tragis. Sekarang semuanya kembali sunyi.  Rasanya tidak ada yang bisa menggantikan nama Melda dalam hatiku. Selamanya Melda akan tetap bersemayam dalam diriku.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment