Bukan Sombong

catatan pribadi motivasi hubungan

Bukan sombong adalah catatan pribadi motivasi hubungan tentang teman lama yang tidak memberi kabar atau menghubungi sehingga merenggangkan hubungan diantara mereka. Simak selengkapnya :

Catatan Pribadi Motivasi Hubungan – Bukan Sombong

Aku lupa kapan terakhir kali dia mengabariku. Mungkin setahun yang lalu. Entah aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Seperti layaknya seorang teman lama yang sudah lama tak bertemu kemudian mengabari untuk menanyakan kabar.

“Assalamu’alaikum Cha, gimana kabarnya?” sapanya di suatu sosmed. “Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah baik. Sendirinya?” Jawabnya menanyakan kembali. “Alhamdulillah baik juga. Gimana UAS kemarin lancar?” tanyanya lagi. “Alhamdulillah lancar”. “Syukurlah kalau begitu. Sukses yaa.” Menyemangati. “Aamiin… Sukses juga.” Jawabku membalasnya.

Kemudian selang beberapa jam. Dia mengirimi pesan lagi bilang hendak ada yang perlu diobrolkan. Aku tidak keberatan lagipula sedang istirahat sebelum melanjutkan kembali pekerjaanku. “Boleh ngobrol ? kalau tidak mengganggu itu juga.”. “Silahkan.” jawabku singkat.

Ternyata obrolan yang dia tanyakan hanya sebatas pertanyaan untuk memastikan. Aku hanya menjawab secukupnya. Kemudian dia mengakhiri bilang hanya ingin bertanya itu saja.

“Oh alhamdulillah kalo gitu. Maaf mengganggu dan terima kasih udah meluangkan waktunya.”

“Senang sekali. Terimakasih ya.”

Aku sontak diam, mengerutkan dahi. Rasanya tidak perlu dilanjut kembali. Aku masih berpikiran bahwa dia masih menyukaiku lagi.

Terkadang apa yang menurut kita biasa-biasa saja barang kali menurut penilaian orang lain itu suatu hal yang tidak biasa, membuatnya bahagia, ada kesan yang bermakna. Begitupun sebaliknya.

Tidak seperti biasanya dia mengirimi pesan padaku. Bahkan kami sudah lama sekali tidak berkomunikasi. Namun saat aku meresponnya karena aku menganggap wajar saja sebab dia hanya menanyakan kabar. Setelah itu pula, dia semakin sering mengirimiku pesan. Baik mengingatkan, mendoakan, atau ucapan lainnya. Aku hanya membaca pesan-pesannya tanpa membalasnya kembali.

Hingga dia mengirimiku pesan hendak ada yang dibicarakan. Sampai dia menjawab sendiri apa yang dia tanyakan. Mungkin juga dia merasa jengkel sebab tak ada balasan.

“….lebih baik di bales daripada engga sama sekali.”

*****

“Janganlah begitu. Jangan terlalu sombong sampai tidak membalasnya.” Ujar saudaranya menasihati.

“Aku tidak sombong, hanya saja aku tidak ingin memberikan sinyal” yang membuatnya berharap kepadaku. Sebab aku tahu dia pernah menyukaiku dahulu.“ Terangku menjelaskan.

Yang diajak bicara hanya diam saja sambil melihat handpone yang di genggam di jemarinya.

Terkadang saat kita telah mengetahui bahwa ada orang lain menaruh rasa dihatinya pada kita, mungkin sebagian dari kita akan memilih untuk tidak meresponnya, bisa jadi karena tidak menyukainya agar yang empunya rasa tidak mengharapkannya lagi karena tak ada balasan dari seorang yang disukanya atau karena untuk menjaga dirinya dan dia agar tidak melakukan hal-hal yang telah ditetapkan Tuhannya. Sebab soal hati ini rentan sekali, begitu sensitif jika kita tidak mampu mengendalikannya dengan baik.

Bukan untuk memutuskan jalinan tali silaturahmi, bukan pula karena sombong tak kenal lagi. Namun untuk menjaga, menundukkan, serta memuliakan kehormatan. Sayangnya tak semua paham hal itu meski sudah dijelaskan berulang-ulang.

Alangkah baiknya jika kita tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang menyukai kita. Mungkin saja hubungan akan berjalan dengan baik tanpa harus khawatir ada hati yang sedang gundah gulana, menanti balasan cinta dari pujaan hatinya.

Bogor, 11 Maret 2017

Siti Aisyah


Terima kasih telah membaca catatan pribadi motivasi hubungan, semoga karya tulis diatas dapat bermanfaat, menginspirasi dan memotivasi bagi soat muda Bisfren sekalian dalam menjalin hubungan. Salam sukses selalu

Dibagikan

Aisya Zaira

Penulis :

Artikel terkait