Bunga Desember

cerita pendek sedih

Bunga Desember adalah cerita pendek sedih tentang remaja yang berharap rindunya akan segera terbayarkan dengan kedatangan gadis pujaan hatinya. Namun kerinduan memunculkan mimpi buruk, hayalan tingkat tinggi, bahkan sakit jiwa. Bagaimana coretannya ? silahkan baca pada cerpen berikut.

Cerita Pendek Sedih : Bunga Desember

Selasa, 5 Desember 2016 adalah tahun ketiga bagiku melihat bunga doyong itu mekar. Ibuku menanamnya. Bunga Desember. Begitulah orang-orang di Negara ini menyebutnya. Bunga yang hanya akan mekar ketika bulan November atau Desember saja. Aku mengetahuinya dari internet. Sejak siang tadi mataku terus memandangi dengan tatapan kosong. Hampir tak berkedip dibuatnya. Tak tahu apa yang membuatku terus menatapnya. Mungkin, bukan karena keindahan membuatku ingin terus menatapnya. Pasalnya, setiap kali menatap, ada sebuah rasa nostalgia begitu dalam. Juga rasa tak sabar ditimbulkannya. Ya, mungkin karena itu. Diriku tak tahu pasti atau tidak ingin mengakuinya.

Satu tahun lalu adalah kedua kalinya bunga itu mekar. Dan saat itu, beberapa hari setelah dia mekar, aku sedang menunggu seseorang yang sudah aku kenal sejak kecil. Kala itu langit mendung tapi tak kunjung turun hujan. Aku menunggunya didekat lapang sepak bola tidak terlihat seperti namanya. Dalam perkataannya dua hari lalu, dia berjanji akan menemuiku saat hari menjelang sore. Wajahnya terlihat serius saat mengatakannya juga terlihat cemas. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak beres seperti rasa gelisah yang menyuruhku untuk tidak bersabar.

Sudah hampir setengah jam aku menunggunya. Sialnya, aku tidak membawa ponsel karena kehabisan daya. Jadi terpaksa aku harus menunggunya. Terpikir untuk mengambil telepon genggamku lalu kembali lagi. Tapi aku mengurungkan niat itu karena beberapa alasan. Salah satunya, karena rumahku cukup jauh. Dari arah timur angin berhembus menghempaskan poni miringku yang lemas. Dengan tangan kiri aku membenarkan kembali poni ini. Kakiku mulai pegal sekarang. Jadi, dengan malasnya aku membersihkan sebuah batu besar yang biasa digunakan untuk duduk. Aku tidak ingin mengotori satu-satunya celana panjangku yang kering. Pergerakan tubuh ini berubah menjadi gelisah dan semakin gelisah seiring awan hitam yang memudar. Hujan kembali membatalkan pendaratannya.

Dia tak kan datang hari ini, tidur tapi mimpi buruk

“Sudah dua hari gak jadi hujan.” Pikirku mengalihkan pikiranku tentangnya.

Dalam sabar yang aku paksakan, dalam jenuh yang ku kubur dalam, aku masih menunggu kemunculannya dari arah barat. Aku mulai berpikir untuk menghampirinya ke rumah tempat ia tinggal. Tapi itu akan percuma dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Langkahku ragu dan perlahan. Sesekali aku menoleh kebelekang untuk memastikan bahwa dia sudah ada di sana. Aku ingin bertemu karena perasaanku tidak enak setiap kali aku mengingat wajahnya kemarin. Langkahku kembali normal setelah aku meyakinkan diri bahwa dia tidak akan datang.

Setibanya di kamar, aku langsung memeriksa telepon genggamku dengan harapan dia mengirimku sebuah pesan. Tapi tak ada satu pesan pun darinya. Aku mulai bertanya tentang keadaan ini. Rasa penasaran menyuruhku untuk bertanya kepada ibuku yang kebetulan dekat dengan ibunya. Tapi sayang ibuku sedang pergi arisan dan aku sendiri di rumah yang tidak terlalu besar ini.

Kali ini hatiku menjadi kesal karenanya. Alih-alih menghilangkan kesal, aku mencoba untuk menikmati acara TV yang itu-itu saja. Mataku kini terasa berat dan tanpa sadar diriku tertidur dalam keadaan duduk disofa. Dia muncul di sana; muncul dalam mimpi. Wajahnya yang kemarin perlahan terlihat jelas dan akupun terbangun saat wajahnya benar-benar jelas.

Tubuhku bermandikan keringat. Rasanya seperti habis berlari. Tak ku sangka rasa cemas berlebih bisa memberi dampak buruk saat tertidur. Kepalaku kini terasa pusing. Perlahan kucoba untuk berdiri dan berjalan menuju ruang makan. Dehidrasi mendadak karena mimpi sepele namun mengganggu. Satu gelas air aku habiskan dalam sekali nafas. Ini masih belum bisa mengobatinya. Aku mengambil lagi satu gelas dan menghabiskannya secara perlahan.
Rumah ini benar-benar sepi saat kumatikan TV. Kini hatiku mulai bingung ingin melakukan apa. Jadi, pada akhirnya kuputuskan untuk berdiam diri saja. Duduk santai disofa.

Duduk santai di sofa masih terpengaruh mimpi

Diantara sepinya rumah ini, aku mendengar suara ‘tok, tok, tok’. Aku pikir itu bukan berasal dari pintu jadi aku tidak menghampiri pintu dan membukannya. Namun setelah sekitar tiga kali orang dibalik pintu itu mengetuk, aku baru sadar dan menghampirinya. Dengan sedikit terburu-buru aku membukakan pintu dan aku dapati dirinya sedang berdiri dan tersenyum. Rasanya tidak percaya bahwa dia akan menghampiriku ke rumah. Dengan perasaan lega dan senang aku mempersilahkan dirinya untuk masuk dengan gaya seorang pelayan yang mempersilahkan tuannya untuk masuk. Dia tertawa dan berkata.

“Apa-apaan sih?”

“Gaya doang…” jawabku sembari tertawa pula.

Kami berbincang, membicarakan hal yang kami suka. Terkadang aku menceritakan masalah hidupku juga berkata jujur bahwa hatiku akan kembali merindukannya. Dia termenung saat kukatakan bahwa hatiku akan merindukannya. Lalu dia berkata.

“Aku akan kembali seperti bunga Desember itu mekar.” Kemudian dia terdiam. “Untuk sekarang, kita menikmati waktu yang ada.” Lanjutnya. “Inikan masih lama.” Dia tersenyum manis untuk menenangkanku

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum.

Pembicaraan kembali dilanjutkan. Biasanya sih kita selalu berbincang tentang film atau buku, tapi kali ini kita malah membicarakan kekonyolanku saat bocah dulu. Rasanya malu sekali. Tapi akan lebih malu jika Ibu atau ibunya bisa bergabung untuk membahas hal ini.

Dia paling suka cerita saat diriku jatuh dari sepeda dan terjepit pagar sekolah

Dari sekian banyak kejadian, ada satu kejadian selalu membuatnya sulit untuk berhenti tertawa. Kejadian itu adalah ketika tubuhku terjatuh dari sepeda karena kesalahanku sendiri. Hal konyol – mungkin lebih ke bodoh itu adalah penyebabku terjatuh. Saat itu keadaan sekitar lapang sedang sepi. Aku bermain sendiri di sana bermain sepeda. Sembari membawa kayu, aku mengayuh sepedaku dengan cukup kencang dan menodongkan kayu itu kedepan layaknya kesatria berkuda yang membawa pedang panjang. Entah hal apa yang membawaku untuk melakukan uji coba memasukan kayu itu keantara jari-jari sepeda sedang berputar. Pikiranku menanyakan hasil yang akan diberikan setelah itu. Karena keadaan sepeda tengah melaju cukup cepat, otomatis aku terjatuh dan saat terjatuh itulah kusadari bahwa dia sedang menyaksikan semua yang kulakukan.

Selain itu, ada satu kejadian juga membuatnya sulit untuk berhenti tertawa. Kejadian tersebut terjadi saat kita SD. Saat itu aku sedang melakukan hal tidak penting dengan badanku yang kecil juga celah-celah pagar tembok sekolah. Aku hanya ingin merasakan kembali kesenangan tersendiri saat berhasil melewati pagar dari sela-sela itu.

Namun sayang, kali ini diriku salah mengawalinya. Biasanya, aku memasukan kakiku dulu lalu badan dan terakhir kepala dengan beberapa tambahan gerakan lainnya. Untuk kali ini kumasukan kepalaku terlebih dahulu dan sialnya tidak bisa memasukan anggota tubuh lainnya. Lalu ku mencoba untuk kembali. Saat menarik kepalaku, entah kenapa sela-sela itu mendadak sempit dan menjepit kepalaku. Alhasil aku tidak bisa keluar, sampai-sampai harus dibantu oleh guru serta beberapa pedagang depan sekolah. Semua temanku yang melihat hanya menertawakan termasuk dia.

Perbincangan berlanjut hingga hari gelap, ibu bingung aku bicara dengan siapa

Kami terus berbincang hingga tak terasa langit sudah mulai gelap. Ibu baru saja kembali dan langsung pergi ke dapur. Dia tidak masuk melalui pintu ruang tamu jadi kami tak terganggu. Tak lama setelah Ibu menyibukan diri di dapur, Ibu memanggilku lalu kuhampiri. Tanpa basa-basi Ibu langsung menanyakan aku sedang berbicara dengan siapa. Lalu dengan wajah terlihat sangat meyakinkan aku berbohong seperti biasanya. Namun kali ini Ibu memaksaku untuk mengatakannya. Aku tidak bisa menangani situasi saat mendapat paksaan. Jadi, dengan penuh keraguan aku mengatakan.

“Aku lagi ngobrol sama Intan.” Kepalaku tertunduk.

“Yang bener kamu Raka?”

“I…iya…”

“Kamu gak sakit kan ?”

Pertanyaan itu benar-benar membuatku sakit dan mungkin juga dia jika bisa mendengarnya. Tapi ku harap dia tidak mendengar percakapan kami.

“Enggak Bu, aku baik-baik saja.”

“Ya sudah terserah Raka saja.” Ibuku terlihat sedih, marah, kecewa, bingung dan tidak percaya. Itu yang aku lihat.

Aku kembali ke ruang tamu lalu kutemukan sepucuk surat

Segera aku pergi ke ruang tamu kembali dan saat aku tiba di ruang tamu, aku hanya mendapati sebuah surat yang tergeletak pasrah di sofa. Dengan berat hati kubuka lipatan-lipatan itu. Perlahan luka terbentuk beriringan dengan banyaknya kata ku baca. Tulisan dan bahasanya yang khas membuatku merasa bahwa dia sedang berbicara secara langsung.

Surat itu bertuliskan seperti ini.

Maaf aku pergi begitu saja dan hanya meninggalkan surat ini. Tapi jika berpamitan secara langsung, ku yakin kau akan memohon dengan suara keras. Diriku tak ingin itu terjadi. Karena itu akan semakin membuatmu dianggap sebagai anak aneh oleh ibumu. Jadi aku terpaksa melakukannya.

Kau tak usah khawatir, diriku akan kembali seperti bunga Desember itu. Jadi saat bunga mekar, kau hanya perlu menungguku di lapangan itu lalu kita akan bertemu. Tapi nanti kita harus berbincang di tempat persembunyian kita dulu. Agar kita bisa berbincang dengan lama. Tidak ada orang mengetahui. Karena jika kita ketahuan diriku akan menghilang. Maaf tidak memberi tahu syarat satu ini.

Sampai bertemu nanti.

Kututup surat tersebut lalu langsung pergi menuju kamarku. Saat hendak menaiki tangga, Ibu menanyakan Intan.

“Intan mana ? Bukannya tadi kamu lagi ngobrol sama Intan ?”

“Enggak, aku cuman lagi latihan akting aja…” kataku sembari tertawa.

Aku kembali menaiki tangga dan bergegas memasuki kamar. Lalu aku menyalakan spiker dan mendengarkan musik sembari menatapi bunga Desember di bawah sana. Si Merah, si Bulat dan juga si Pertanda untukku akan memberi tahu bahwa dia akan datang lagi. Meski hanya aku yang tahu, meski dianggap aneh tapi diriku tidak peduli. Karena kau adalah bunga Desemberku.


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih kerinduan tingkat tinggi yang menyebabkan halusinasi. Semoga cerpen sedih diatas bermanfaat dan menghibur. Tetaplah semangat dan berpikir positif. Jangan larut dalam masalah hidup. Jadikan segala peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk meraih cita – cita dan impian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Botep Tbiasa29

Penulis :

Artikel terkait