Cerai

cerita pendek keluarga

Cerai adalah cerita pendek keluarga tidak harmonis dimana seorang mahasiswi orang tuanya bertengkar terus di rumah, lalu dia mengalami kecelakaan saat mendaki gunung hingga koma sebulan lebih. Apakah kejadian tersebut mampu memperbaiki hubungan orang tuanya atau tetap pada keputusan mereka ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Cerita Pendek Keluarga – Cerai

Dania terbangun saat suara ponsel smartphone yang di setel sebagai alarm menyalak keras. “Aduuuh … berisik amat sih !!“ umpatnya. Dia lalu menyentuh tombol matikan kemudian menarik kembali selimutnya hingga menutupi kepala. Namun baru saja akan tertidur kembali, tiba-tiba ponselnya kembali bersuara. Kali ini bukan karena alarm melainkan ada telepon masuk. Diraihnya ponsel lalu ditempelkan ditelinga tanpa melihat siapa pemanggilnya “Halo …. Siapa ya ? pagi-pagi telepon”. Terdengar suara jawaban dari seberang sana. Dania kaget.

“Haah ? Apaan ? Rapat ? Sekarang ? katanya jam 9 ? ….. Dimajuin ? Aduuuh. Iya iya. Aku terlambat. Iya. Pasti datang. Sebentar ya.” Dania segera mematikan ponsel.

Segara Dania beranjak dari tempat tidur dengan malas, mandi lalu bersiap-siap pergi ke kampus. Ibunya sedang menonton TV dilewatinya begitu saja. “Daniaaaa, mau ke mana ?“ teriak Bunda.

“Ke kampus, Buuun.”

Rapat tengah berlangsung, semua panitia terlihat berpikir keras. Ada masalah apa nih ? batinnya. Dia melangkahkan kakinya memasuki ruangan sehingga memecah kesunyian. Semua mata tertuju kepadanya. “Ada apa?“ tanya Dania spontan.

“Naaah ini dia baru datang. Masalah dana, Nia,“ jawab Fitri, bendahara pada acara tersebut. Sebenarnya bukan hanya pada acara itu, pada setiap acara Fitri bisa dikatakan selalu menjadi bendahara.

“Kenapa ?”

“Kita kekurangan dana untuk acara ini. Dana dari fakultas belum bisa dicairkan. Padahal acara kita tinggal sebulan lagi.”

“Yaaach …gimana sih ? Kan kita sudah kasih proposal sejak dua bulan lalu. Kenapa juga masih belum bisa dicairkan ?”

“Nggak tau juga. Aku juga baru diberitahu bendahara umum HMM.”

Dania terlihat berpikir keras. Dirinya tahu, dana merupakan masalah paling serius dalam sebuah acara. Semuanya tergantung ada dana atau tidak.

“Mau coba jualan ?“ usul Dania.

“Jualan apa, Nia ?“ tanya Hana.

“Apa aja. Pudding, donat, minuman, atau yang lain mungkin?”

“Yakin, Nia?”

“Dicoba nggak ada salahnya kan ?”

Keesokan harinya, rencana pun dijalankan. Setiap panitia berjualan dari satu kelas ke kelas lain, lalu sorenya mereka berkumpul menghitung penghasilan mereka dapatkan hari itu. Bukan hanya kue, mereka juga menjual berbagai barang sesuai pesanan, bahkan menjual pulsa. Hal tersebut terus berlanjut sampai sehari sebelum hari H.

“Keren, dalam waktu sebulan, kita bisa ngumpulin enam juta. Ditambah dengan penonton yang sudah beli tiket, berarti totalnya sembilan juta,“ kata Rendra, si wakil ketua. “Sebagian sudah digunakan untuk sewa peralatan dan lain-lain sehingga saat ini tinggal tersedia dana taktis buat cadangan 2 juta” lanjutnya sambil menyerahkan seberkas catatan pengeluaran.

Dania hanya tersenyum melihat kegembiraan terpancar dari wajah-wajah panitia. Dirinya  sendiri sudah tak sabar untuk melihat pelaksanaan acara besok.

Acara konser Jazz berlangsung sederhana namun meriah dan lancar. Tiket terjual habis bahkan masih ada sedikit kelebihan dana untuk disimpan dalam kas. Seluruh panitia berbahagia, tak terkecuali Dania.

“Kita harus ngerayain kesuksesan kita, Bro !“ kata Lino.

Semua menyambut usulan Lino dengan ceria. “Ngerayain dimana ?” tanya Nila. Lino tersenyum rahasia. Semua mata memandang penuh tanya dengan rasa penasaran. “Mendaki yuk. Ke Gunung Prau,” kata Lino. Terlihat keraguan di mata teman-teman. “Nggak ah, aku takut ketinggian,” sahut Rere. “Waaah klo gak mungkin aku diizinin naik gunung,” kata Lisa sedih. “Ya sudah, kalo begitu kita rayainnya makan-makan saja gimana ? Pada bisa kan ?” tanya Lino. Usul itu diterima dengan baik oleh seluruh panitia.

Posel Dania bergetar. Dania meraihnya lalu membaca SMS masuk. “Nia, mau ikut ke Gunung Prau ?” SMS dari Lino. Dania menaruh hpnya diatas meja tanpa membalasnya.

“Kau kira aku nggak tau, kamu di luar ngapain aja !? Kamu kira aku nggak tau kalau kamu pergi sama perempuan lain ?!” Terdengar teriakan keras dari luar kamar. Dania yakin, hal sama pasti terjadi lagi. Dania sudah bosan mendengarkan semua teriakan tersebut. Langsung saja dia meraih ponselnya lalu membalas “Ya. Aku ikut.” jawabnya singkat.

Pagi-pagi buta Dania mengecek barang-barang akan dibawanya untuk mendaki. Terdengar suara isak tangis diselingi teriakan lagi dari luar kamarnya. Dania memanggul tas ranselnya, lalu keluar dari kamar.

“Lebih baik kita cerai,” ucap Bunda sambil terisak.

Dania tersentak. Walaupun belakangan Ayah dan Bunda selalu bertengkar setiap hari, tetapi tak pernah ada kata cerai. Ingin rasanya Dania menangis, tapi dia berusaha tegar. Dilewatinya kedua orangtuanya yang sedang bertengkar.

“Dania, kamu mau ke mana, Nak ?” tanya Ayah.

“Pergi,” jawab Dania.

“Mau ke mana ?” tanya Ayahnya lagi.

“Memangnya kalian peduli sama Dania ? kalian hanya peduli urusan kalian ! Kalian mau cerai, apa kalian mikirin Dania gimana ?!” jawab Dania penuh emosi, hampir terisak.

Dania segera beranjak, menghampiri Lino serta teman-teman yang menunggunya di mobil. Dia tak ingin menangis di hadapan siapapun.

cerita pendek kemping di gunung camping
Camping (@ bustedwallet.com)

Mereka memasuki jalur pendakian. Selama mendaki, Dania hanya diam. Pikirannya tidak berkonsentrasi pada jalan di hadapannya. Pikirannya selalu saja kembali pada kejadian tadi pagi. Bisa-bisanya orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Kalau mereka bercerai, dirinya harus bagaimana ?.

Teman-temannya mengerti ada hal tidak beres pada Dania. Tapi, mereka tak ingin bertanya satu hal pun. Mereka mengetahui bagaimana watak Dania, jika tidak ingin bercerita, maka jangan dipaksa. Mereka hanya menjaga Dania agar tidak terjadi apa-apa dengannya. Terkadang, mereka menegur Dania agar pikirannya jangan gagal fokus pada medan sedang mereka jalani.

Akhirnya, sampailah mereka pada tempat banyak pendaki mendirikan tenda. Mereka beristirahat lalu ikut mendirikan tenda. Hari sudah sore, tidak mau mengambil risiko pergi ke puncak saat malam, karena medannya akan lebih berat daripada yang tadi mereka lalui.

“Besok pagi kita akan ke puncak,” kata Lino, “siapkan apa yang perlu kalian bawa. Yang nggak perlu, tinggal di sini”.

Merekapun menyiapkan barang-barang untuk dibawa ke puncak. Ketika malam tiba, mereka menyalakan api, memasak mie sambil bercengkrama. Dania hanya berbicara sesekali. Dania merapatkan jaketnya. Udara semakin terasa dingin. Dia sudah menggunakan jaket tebal, tapi tetap saja rasanya dingin sekali. Dilihatnya teman-temannya juga semakin merapatkan diri ke api agar mendapatkan sedikit kehangatan.

“Barusan aku ngobrol sama orang-orang itu. Mereka baru aja tiba dari puncak,” kata Lino memecah keheningan. “Mereka berani banget turun pas malam gini,” sahut Bonar.

“Sepertinya mereka pendaki. Udah biasa mendaki di sana0sini. Tadi sih mereka cerita mereka pernah mendaki Semeru,” kata Lino.

“Wih, itu kan medannya nggak main-main,” komentar Ria.

Lino mengangguk. “Tapi, kata mereka, medannya sebanding dengan pemandangan disana. View-nya keren banget”. Mereka masih terus bercengkrama, hingga Dania menegur, “Ini sudah jam 10. Pada nggak mau tidur ?”. “Wih, nggak kerasa ya. Ya sudah, kita tidur aja dulu. Supaya besok subuh bisa langsung naik ke puncak,” sahut Bonar.

Sang fajar mengintip dari balik awan. Dania beserta teman-temannya bersiap ingin mendaki ke puncak. Mereka mendaki ke puncak bersama beberapa para pendaki lain. Medannya memang lebih berat. Beberapa dari mereka sudah ngos-ngosan. Memang tiada mudah mencapai puncak. Dania sendiri sudah hampir tak kuat mendaki lagi. Kadang dirinya beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan. Teman-temannya  bersedia menunggunya.

Akhirnya, mereka sampai di puncak. Pemandangan indah sekali. Mereka duduk dengan senyum puas, bangga, serta rasa bahagia. Setelah selesai mengistirahatkan tubuh, merekapun sibuk mengambil foto. Begitu pun dengan Dania. Dirinya sudah lupa pada masalah terjadi di rumahnya.

Hari sudah siang setelah usai berfoto. Mereka duduk berjejer, memandang hamparan luas terbentang di hadapan. Ada rasa takjub, bahagia, puas, juga bangga terpancar dari mata mereka. Duduk dalam diam membuat masalah sempat terlupakan, kembali teringat. Dania kalut.  Dirinya tak tau apa harus dilakukan jika kedua orangtuanya bercerai. Siapa harus dipilih ? Apa harus memilih hidup dengan Bunda ? Ataukah harus memilih hidup dengan Ayah ? Selama ini dirinya dekat dengan keduanya sampai mereka mulai bertengkar.

Awalnya mereka tidak bertengkar setiap hari, tapi lama-kelamaan, pertengkaran selalu terjadi saat bertemu di rumah. Seperti kucing bertemu musuh. Dania lelah mendengarnya. Tapi lama-lama menjadi terbiasa, toh dia lebih sering memakai headset untuk mendengarkan lagu dalam kamarnya.

“Yuk, turun,” kata Lino, “nanti keburu sore.”

cerita pendek jatuh dari gunung
Jatuh saat mendaki gunung

Mereka turun ke tempat dimana mereka meninggalkan tenda dan barang-barang. Saat turun itulah, Dania yang tidak fokus, tergelincir. Dirinya berusaha menggapai batu di sekitarnya, tapi tidak bisa.

“Daniaaaaaaa.” Semua teman-temannya berteriak panik. Lino mempercepat geraknya berharap masih bisa menyelamatkan Dania. Akan tetapi harapan Lino tiada terkabul. Dania terkapar pada batu besar. Lino segera menyusuri bebatuan ke arah Dania jatuh.

Kondisi Dania sangat parah. Darah mengalir dari kepalanya. Lino memangku kepala Dania, sambil menyeka darah di kepalanya dengan slayer yang dibawanya. Ketika teman-teman lain datang, Lino meminta dua orang dari mereka untuk menjaga Dania, sedangkan dirinya bersama dua orang lain kembali ke pos untuk meminta bantuan.

Satu jam kemudian, Lino bersama beberapa orang datang dari pos. Lino menggendong Dania di punggungnya dibantu oleh orang-orang tersebut. Kemudian mereka turun, beberapa orang membantu Ria juga Lita membawa barang-barang dari tempat mereka mendirikan tenda semalam, sementara sisanya membawa Dania ke pos 1.

Setelah semuanya berkumpul di pos 1, mereka langsung berangkat menuju rumah sakit terdekat. Dania langsung ditangani, sementara Ria menghubungi ibunya Dania. Ria mengakhiri teleponnya lalu mendesah pasrah. “Ibunya shock.”

“Itu wajar. Ibunya langsung ke sini ?” tanya Lino. Ria mengangguk. Merekapun tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dua jam kemudian ayah bersama ibu Dania sampai. Dokter yang menangani Dania pun keluar dari ruangan.

“Dok, bagaimana keadaan anak saya ?” tanya ibu Dania sambil terisak.

“Kritis. Kami harus merujuknya ke rumah sakit di kota. Ibu dan Bapak sabar ya. Kita doakan semoga kondisi anak Ibu segera membaik. Setelah ini saya akan mengurus terkait rujukan ke rumah sakit di kota.”

“Terima kasih, Dok,” ucap ayah Dania.

Ayah serta ibu masuk ke dalam ruangan. Melihat anak mereka diam terpejam penuh bekas jahitan baru, membuat hati mereka terasa sakit. “Maafkan Bunda, Nak..” Bunda berkata lembut. Air matanya terus mengalir.

“Aku tunggu di luar ya. Siapa tau dokter sudah selesai mengurus surat rujukannya,” kata Ayah.

Akhirnya Dania dirujuk ke rumah sakit di kota. Dia segera ditangani lalu dimasukkan ke ruang ICU. Setelah dua jam, tidak ada tanda-tanda Dania akan sadar. Semua menungguinya tapi dia tak juga membuka mata. Tiga jam, empat jam, dua belas jam sudah, tapi Dania tak kunjung bangun. Dokter kembali memeriksanya. “Anak Ibu Bapak koma. Kita doakan saja semoga dirinya cepat sadar”.

Berhari-hari Bunda menunggui Dania di rumah sakit sementara Ayahnya hanya datang pada pagi atau malam hari karena harus bekerja. Mereka berharap Dania segera membuka mata. Teman-temannya datang menjenguk silih berganti. Begitu terus setiap harinya.

Sebulan sudah Dania berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mata Bunda terlihat bengkak, karena terlalu sering menangis. Mereka tampak lelah. Bunda selalu ada di samping tempat tidur Dania, membacakan ayat-ayat suci. Begitupun pagi ini, Bunda membaca ayat suci di sofa di dalam ruangan sambil menahan tangis kesedihan bercampur pengharapan. Bunda menyeka air matanya, ketika melihat pergerakan di jari-jari Dania. Bunda segera memanggil dokter untuk memeriksa Dania.

Dua menit kemudian, kelopak mata Dania mulai bergerak. Bunda tersenyum penuh harap.

Secercah cahaya menerpanya. Dania membuka mata perlahan, mengerjap-ngerjap. Mencoba mengenali dimana dirinya berada. Dilihatnya Bunda tersenyum bahagia menyambutnya. Hatinya bingung, mengapa Bunda terlihat begitu lelah dan matanya bengkak seperti habis menangis berhari-hari. Padahal rasanya dia baru tidur sehari saja.

“Akhirnya kamu sadar, Dania. Alhamdulillah.” Bunda berkata lembut sambil membelai rambut Dania. “Bunda nggak usah khawatir. Dania baik-baik saja,” katanya lemah. Ia berusaha tersenyum.

Setelah berhari-hari dirawat di rumah sakit, Dania akhirnya tahu, kalau dirinya telah mengalami koma selama satu bulan. Hari ini, dirinya sudah boleh pulang dan dirawat di rumah. Ayah dan Bunda telah meminta maaf padanya atas apa telah terjadi. Tetapi, baru beberapa hari di rumah, telinganya kembali mendengar pertengkaran Ayah dan Bunda. Dia sudah tak tahan lagi.

“Ayah, Bunda, sudah cukup!” teriak Dania. Ayah dan Bunda terdiam dan terpaku ke arahnya. “Ayah dan Bunda sudah minta maaf sama Dania. Tapi, baru beberapa hari Dania di rumah, kalian sudah bertengkar lagi. Dania capek dengernya”.  Dania terdiam sebentar. “Kalian nggak pernah mikirin perasaan Dania. Kalo Dania tau bakal kayak gini, mending kemarin Dania gak usah sadar saja. Toh walaupun Dania sudah koma sebulan, kalian tetap kayak begini.” Dania terisak.

“Jangan ngomong seperti itu, Nak. Maafkan Bunda dan Ayah,” ucap Bunda lemah. Ia terlihat lelah. Ia membelai wajah anak semata-wayangnya. Dania kembali ke kamarnya. Dia menangis karena orangtuanya tak pernah mengerti perasaannya. Berhari-hari Dania tidak berbicara dengan Ayah dan Bunda. Ia tidak ingin peduli. Baginya, berbicara atau tidak bicara sama saja tak akan mengubah keputusan mereka.

Sampai suatu hari Bunda memanggil Dania. “Nak, Bunda dan Ayah minta maaf. Selama ini kami selalu bertengkar. Nggak pernah mikirin gimana perasaan Dania. Kami sudah memutuskan kalau kami akan bercerai karena hubungan sudah tidak sejalan. Kami sudah tidak mungkin bersatu lagi. Dania boleh pilih, Dania mau hidup sama siapa. Kami tidak akan memaksa Dania.”

“Dania sudah koma selama sebulan, dan itu tak bisa merubah keputusan kalian. Dania sudah nggak tau lagi, Bunda. Dania nggak tau Dania harus pilih siapa,” kata Dania.

“Dania boleh memikirkannya dulu. Tidak perlu buru-buru,”ucap Bunda. Dania menangis diam-diam di ruang tengah setelah Bunda meninggalkannya. Ternyata mau apapun yang terjadi dengannya, tetap tidak akan mengubah keputusan kedua orangtuanya. -TAMAT-


Terima kasih telah membaca cerita pendek keluarga tidak harmonis. Semoga cerpen diatas dapat menghibur sekaligus menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait