Pengorbanan

cerita cinta sedih

Pengorbanan adalah cerita cinta sedih tentang kawin terpaksa seorang gadis dengan lelaki pilihan ibunya meninggalkan pacarnya demi kebahagiaan sang ibu. Bagaimana kisah selengkapnya ? silahkan simak pada cerpen sedih berikut.

Cerita Cinta Sedih – Pengorbanan

Ada hal lebih penting dari kebahagiaannya, pikir Indah. Bagaimana dia bisa tertawa di atas air mata orang paling dicintainya ? Senyum orang itulah hal terpenting dalam hidupnya, apapun akan ia lakukan untuk membuat orang tersebut bahagia, termasuk mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Indah hanya bisa terdiam, menunduk, memandang ujung jari-jari kakinya mengintip dari wedges peeptoe-nya. Rambut tergerainya menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya sedikit bergetar menahan tangis, “Aku harus kuat.” katanya dalam hati sambil mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Dia tidak boleh menangis; air mata hanya akan membuatnya semakin terpukul.

Raka memandang pujaan hatinya dengan perasaan campur aduk. Tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya kalau gadis yang sudah menemaninya dalam suka dan duka selama empat tahun ini akan tega memutuskan jalinan kasih mereka, secara tiba-tiba, tanpa alasan apapun, “Kamu nggak serius kan ?” kata-kata serak itu keluar perlahan dari mulutnya.

Indah masih membisu. Mengucapkan kata putus sekali saja sudah sangat berat baginya, dia tidak sanggup kalau harus mengucapkan kata itu lagi.

“Jawab, Ndah.” Raka memegang kedua bahu Indah dan memaksa gadis itu melihatnya, “Kamu cuma bercanda kan ?” tanyanya.

Indah tetap minta putus tanpa memberi penjelasan

Dengan sedikit sisa kekuatannya, Indah menepis kedua tangan Raka, “Aku serius. Aku yakin kamu bisa mendapatkan lebih dariku.” dan Indahpun melangkahkan kakinya dengan cepat, pergi menjauh dari kekasih yang ia cintai dengan sepenuh hati, orang yang ia khayalkan siang dan malam akan menjadi pendamping hidupnya sampai ajal memisahkan.

Betapa ingin Raka mengejar Indah, namun entah kenapa kakinya tak bisa ia gerakkan. Diapun jatuh bersimpuh di taman itu, taman tempat mereka biasa menghabiskan malam minggu mereka. Lelaki memang pantang menangis, namun kali itu Raka tak mampu membendung bulir-bulir air hangat mengenang di pelupuk matanya. Dia merasa sangat hancur, hatinya remuk, dan dadanya terasa dihantam gada berkali-kali.

Setelah beberapa menit berada dalam keadaan tepekur seperti itu, akal sehat kembali menguasai tubuh Raka. Iapun berdiri dan mengusap sisa air mata di pipinya. Dengan terhuyung dia berjalan ke tempat parkir. Diapun mengendarai motornya; berusaha berkonsentrasi pada jalanan ramai ibu kota provinsi, namun pikirannya tetap melayang pada Indah.

Tak pernah sebelumnya Raka tidur sampai sesiang itu.  Entah sudah berapa kali alarmnya berbunyi, tidurnya sama sekali tak terusik. Mungkin dia sangat lelah karena semalaman berjuang memejamkan mata. Setiap sudut dan sisi kamarnya mengingatkannya pada Indah, bahkan saat dia menutup wajahnya dengan selimutpun bayangan wajah manis Indah tetap menghantuinya. Raka merasa sangat gelisah, membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang, berusaha sekuat tenaga menepis semua pikiran tentang Indah. Setelah sekian jam bergumul dengan pikirannya sendiri, Rakapun tidur… dengan sangat lelap… dan ketukan di pintu kamarnya yang membangunkannya.

Ketukan, lebih tepat disebut gedoran, itu mengusik tidurnya. Raka terbangun dengan kepala terasa sangat berat. Dia menguap beberapa kali, mengerjap-erjapkan matanya, berada dalam masa transisi dari alam bawah sadar ke alam nyata. Seketika dia tersentak saat dia menyadari apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Indah, gadis itu sudah meninggalkannya.

“Raka…” gedoran itu kembali terdengar.

Raka menguap lagi lalu berjalan ke arah pintu, “Iya sebentar.”

Pintu berwarna cokelat itu terbuka dan kepala pelontos Andre, teman sekosnya, menyembul dari luar. Tanpa ba bi bu Andre menyeruak masuk, “Lo jangan kaget ya ! Kuatin diri lo ! Tarik napas ! Tenang ya, lo harus tenang ! Pokoknya lo jangan kaget !”.

Raka menyunggingkan sedikit senyum, “Lo yang tarik napas, Ndre ! Ada apa ?”.

Andre mengatur napasnya perlahan sambil menjulurkan tangan ke depan dengan telapak menghadap Raka, “Bentar, gue tenangin diri dulu.” katanya.

Raka menunggu dengan sabar berita apa yang akan disampaikan Andre, tukang gossip di rumah kos mereka.

“Okeh, gue siap.” kata Andre, “Gue.. sebenernya gue nggak tega ngasih tau hal ini ke lo, tapi lo wajib tau. Jadi, tadi pagi gue tu main ke kos annya Anik, terus di jalan gue liat Indah.”

Raut muka Raka berubah begitu mendengar nama kekasihnya disebut, hmm mantan kekasihnya

“Lo jangan kaget ya Ka, pas gue mau nyamperin, ternyata dia lagi ama cowok. Gue belum pernah liat cowok itu sebelumnya, tapi gue yakin mereka bukan sekedar temen. Raka, lo ada masalah sama Indah ?”.

“Gue udah putus sama dia.”

“Kapan ???” Andre berteriak dengan mata terbelalak, “Lo bercanda kan ?”.

Raka menggeleng lemah, “Indah mutusin gue semalam.”

“Gila ! Ini pasti karena cowok itu ! Indah bodoh apa buta sih ? Bisa-bisanya dia ninggalin lo demi cowok kayak gitu ! Gak nyangka gue Indah bisa sejahat itu”.

Meskipun Indah sudah menyakiti dan menghianatinya, Raka tidak bisa begitu saja mendengar orang lain menjelekkan gadis yang masih sangat dicintainya itu, “Gue pengen sendiri, Ndre.”

“Nggak ! Gue ga bisa ninggalin lo dalam keadaan seperti ini, gue ga mau lo ngelakuin hal-hal konyol”.

Raka memaksakan sebuah senyuman, “Gue cuma butuh waktu buat nenangin diri.” Rakapun mendorong Andre keluar dari kamarnya. Raka mengunci pintu kamarnya begitu Andre keluar. Dadanya terasa semakin sesak. Ternyata pria lain yang menjadi alasan Indah meninggalkannya. Mungkin inilah jawaban atas keanehan sikap Indah akhir-akhir ini. Awalnya Raka tidak menyadari perubahan yang terjadi padanya, namun kini dia mulai bisa menyatukan potongan-potongan teka-teki itu. Pantas saja Indah sudah jarang mengirimkannya SMS selamat pagi, jarang menanyakan apa dia sudah makan, jarang mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah. Selain itu dia juga beberapa kali beralasan tidak bisa malam mingguan, ada tugas kantorlah, lemburlah, acara keluargalah. Damn ! Raka meninju tembok kamarnya.

Sehari-hari Raka hanya termenung sendiri

Sudah beberapa hari Raka mengurung diri di dalam kamar, ia hanya keluar untuk mandi dan makan, itupun sangat jarang dan tidak teratur. Teman-temannya berusaha menghiburnya, mengajaknya pergi keluar untuk sekedar mencari angin segar, namun Raka selalu menolak. Dia memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar kos, merenung, mencoba mencari kesalahan apa yang dia pernah lakukan sehingga Indah menghianatinya, “Apa karena aku miskin ?” tanyanya pada foto Indah, satu-satunya foto yang belum dia sobek. “Apa karena aku hanya seorang buruh di pabrik kecil ?”.

“Jawab, Ndah ! Jangan cuma senyum ! Kenapa kamu ninggalin aku ?” Raka membentak foto di genggaman tangannya. “Kenapa kamu harus hadir di hidupku, sekian tahun memberikanku harapan palsu, kalau ujung-ujungnya kamu pergi dan memilih lelaki lain ?” Tawa hambar memenuhi ruangan kecil itu, Rakapun kini menyobek foto terakhir Indah, “Aku akan ngelupain kamu, Ndah…”.

Setelah berkali-kali dibujuk, dirayu, hingga setengah dipaksa, Rakapun mau kembali masuk kerja. Namun seperti yang ia prediksi, ia dipecat oleh bosnya karena sudah hampir dua minggu tidak hadir tanpa alasan jelas. Raka seolah tak peduli, diambil dan dikemasnya barang-barang dari lokernya. Saat matanya menatap selembar foto dirinya bersama Indah, diapun meringis, “Fuck it.” dia membuang foto itu ke dalam tong sampah. Dan tanpa memberikan kesempatan bagi hatinya untuk bersedih, Raka berjalan ke luar kantor.

“Nanti gue bantu nyari kerjaan.” hibur Gede, salah satu teman kosnya.

“Thanks, bro.” jawab Raka singkat.

“Udah, jangan sedih mulu. Ada jutaan ikan di laut, ada jutaan bintang di langit. Percuma dong lo ganteng kalau ditinggal cewek satu aja jadi galau tingkat galaksi.” canda pria berkumis lebat itu.

Raka ingin protes, mengatakan Indah bukanlah sekedar gadis biasa, dia berbeda, spesial, istimewa, namun Raka menelan protesnya dan hanya tersenyum.

“Mending lo sekarang ke tukang cukur deh, muka udah kayak gelandangan gitu, gimana mau dapet cewek baru ?” Andre ikut menggodanya.

Raka menuruti nasihat temannya. Dia sadar inilah saatnya bangkit dari keterpurukan. Tidak mungkin dia membiarkan dirinya hanyut terlalu lama dalam lautan kesedihan. Raka merapikan penampilannya, menghabiskan setengah jam di kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan mendinginkan kepalanya di bawah guyuran shower. Kemudian ia mencukur kumis dan jenggotnya, lalu pergi ke tukang cukur langganannya untuk memotong rambutnya yang sudah mulai memanjang. Hari itu penghuni kos di sana berencana pergi ke pura untuk sembahyang purnama. Raka merasa sudah terlalu jauh dari Tuhan beberapa hari belakangan ini; mungkin jika dia sembahyang pikirannya akan lebih damai.

Sekitar jam setengah satu siang mereka berangkat dengan menggunakan mobil rental yang disewa oleh Andre. Pura yang akan mereka tuju memang terletak lumayan jauh, sekitar 100 KM dari kos mereka. Sepanjang perjalanan mereka memutar lagu dari band-band favorite mereka. Sejenak, Raka lupa akan kesedihannya. Dia merasa sangat beruntung memiliki teman-teman yang selalu setia menghibur dan mendukungnya.

Setelah sampai, mereka menaiki anak tangga yang cukup banyak. Memercikkan air suci ke kepala dan tubuh bagian atas mereka di depan gapura, lalu masuk ke dalam. Merekapun sembahyang dengan khusuk, terlebih Raka yang terpekur dalam doanya. Itu pertama kalinya dia merasakan kedamaian setelah Indah memutuskannya secara sepihak. Begitu selesai menerima tirta dan bija, merekapun beranjak pulang, supaya tidak kemalaman sampai di rumah. Kembali mereka menuruni anak tangga tadi, saat sudah hampir sampai di bawah, Raka menghentikan langkahnya, pandangannya terpaku pada sepasang muda-mudi yang sedang menaiki tangga, sekitar tiga meter di depannya. Matanya tak berkedip memandang ke arah mereka, tepatnya ke arah sang gadis yang saat itu sedang mengenakan kebaya panjang berwarna putih dan kamen berwarna hitam-emas. Wajahnya yang memang cantik alami dioles make up tipis, Raka mengenali lipstick yang menghiasi kedua bibir mungilnya, bahkan sepertinya dia masih ingat rasa lipstick itu, ah.. Raka menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran itu jauh-jauh.

Sang gadispun menghentikan langkahnya, menyadari siapa pria yang berdiri memandang ke arahnya dengan tatapan yang sukar dilukiskan dengan kata.

“Kenapa ?” pria di sebelahnya bertanya.

Indah terdiam, matanya terpaku menatap Raka.

Menyadari apa yang terjadi, Gede berusaha menarik Raka, namun Raka menepis tangannya, “Kalian duluan aja. Gue mau mengakhiri semuanya di sini,” katanya.

“Lo yakin ?” Gede berbisik.

Raka mengangguk dengan mantap. Diapun berjalan ke arah Indah, “Selamat ya.” katanya sambil menatap lurus kedua mata hitam Indah.

“Dia siapa ?” kekasih baru Indah bertanya dengan tidak sabaran.

Tanpa memberi kesempatan kepada Indah untuk membuka mulutnya, Raka menjawab, “Gue mantannya Indah. Gue harap lo bisa jaga dia dan menyayangi dia dengan sepenuh hati. Jangan sekali-sekali lo nyakitin dia.” Raka kembali menoleh ke arah Indah, “Semoga kalian bahagia. Terima kasih untuk semuanya.” Rakapun berlalu tanpa menunggu reaksi kedua insan itu. Dia melangkahkan kakinya dengan langkah pasti. Hilang sudah beban yang selama ini ia pikul di pundaknya. Dia merasa pria yang bersama Indah adalah seorang pria baik yang akan mampu mebahagiakan gadis itu.

Indah tak mampu berkata apapun setelah pertemuan singkatnya dengan Raka. Pria yang berdiri di sampingnya, Agus, menggenggam tangannya dengan erat, “Maafkan aku ya.” katanya. Indah tak menjawab, dan seketika handphonenya berbunyi. Dengan enggan dia mengambilnya dari dalam tas.

Entah apa yang dibicarakan orang di ujung telepon, Indah hampir terjatuh, untung saja pria itu menangkap tubuhnya, mata Indah berkaca-kaca.

Mereka mengurungkan niat untuk bersembahyang lalu kembali ke tempat parkir. Agus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Indah memejamkan matanya, bukan karena takut akan kecepatan mobil itu, namun ada hal lain yang lebih ditakutkannya. Mulutnya bergetar sambil komat-kamit berdoa.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan. Meskipun merasa lemah, Indah berusaha berjalan secepat mungkin, diseretnya kedua kakinya. Agus mengikutinya dengan perasaan tak kalah cemasnya. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan. Setelah menenangkan diri sejenak, Agus membuka pintu ruangan itu, merekapun masuk ke dalam. Indah menghambur dan menggenggam tangan seorang wanita paruh baya yang sedang terbaring lemah di atas sebuah ranjang, “Ibu…” ucapnya lirih, “ini Indah”.

Wanita itu membuka matanya perlahan, “Indah.. Akhirnya kamu datang, Nak.” dia mengarahkan pandangan ke Agus dan mengisyaratkannya untuk mendekat. dengan sedikit ragu Agus mendekat lalu berdiri di samping Indah.

Ibu Indah menggapai tangan Agus dan menyatukannya dengan tangan Indah, “Hanya satu permintaan Ibu sebelum pergi”.

“Ibu..” Indah terisak, “tolong jangan ngomong kayak gitu.”

“Indah, kamu anak Ibu satu-satunya, Ibu hanya ingin melihat kamu bahagia dan Ibu yakin Agus adalah pria yang tepat untuk membahagiankamu. Ibu hanya bisa pergi dengan tenang setelah kalian menikah”.

Indah menunduk, hanya air mata yang bisa mewakilkan perasaannya saat itu.

Hanya berselang beberapa hari, pernikahan Indah dan Agus diadakan dengan persiapan ala kadarnya. Hanya beberapa keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Satu hal yang tak pernah Indah duga, Raka hadir pada acara sakralnya. Lelaki itu terlihat sangat tegar.

Wajahnya setampan dan segagah yang Indah ingat, dan senyumnya, senyum yang beberapa tahun  lalu mencuri hatinya, masih semanis yang dulu. Raka menjabat tangannya, “Selamat menempuh hidup baru.” katanya, seolah mereka hanya teman biasa, seolah empat tahun kebersamaan mereka tak pernah ada. Detik itu juga Indah merasa ingin memeluk pria itu, betapa dia merindukan dekapan hangatnya, dekapan yang bisa membuatnya damai, tentram.. dan bahagia. Namun ia sadar, ada kebahagiaan lain yang jauh lebih berharga dari kebahagiaannya, dia menoleh ke samping ke arah sang ibunda yang duduk di kursi roda. Ibunya tersenyum, manis sekali, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


Terima kasih telah membaca cerita cinta sedih Pengorbanan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat serta mampu memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait