Cerita Fatih

cerpen inspiratif islam

Cerita Fatih adalah cerpen inspiratif islam tentang merayakan tahun baru Masehi. Meski tak henti-henti diingatkan tapi tetap akan tergerus buaian zaman, namun pengingat akan terus mengingatkan walau diabaikan terutama oleh kalangan muda. Karena mengingatkan adalah kewajiban, diterima atau tidak itu perkara berbeda. Mari simak cerita pendek penulis remaja berikut.

Cerpen Inspiratif Islam – Cerita Fatih

Aku kesal dari kemarin si gendut itu pamer padaku. Katanya tanggal 31 Desember dia bersama keluarganya akan pergi ke alun-alun kota untuk merayakan tahun baru. Tak hanya itu, dia juga memameriku banyak kembang api yang telah dibelikan ayahnya beberapa hari yang lalu.

Tak hanya itu, Ogi, anak kelas empat yang rumahnya tidak jauh dari rumahku, dia menyebalkan sekali. Dia bilang ayahnya tidak mau membelikannya kembang api untuk acara perayaan tahun baru. Tapi dia menyombongkan diri karena pamannya ternyata telah membelikan satu kardus kembang api yang siap diluncurkan bersama sekeluarga di malam tahun baru nanti.

Aku yang telah memohon mohon kepada Abi untuk membelikanku kembang api dari minggu lalu tidak juga dituruti. Banyak sekali alasannya. Aku malam tahun baru kemarin langsung mengunci pintu dari kamar sejak sehabis sholat Isya di masjid. Abi menyebalkan !

“Itu acara nggak penting Nak”, katanya.

“Ayolah Bi, masak cuma keluar sebentar Abi tidak mau. Beli kembang api nggak mau. Ikut perayaan di alun-alun kota juga nggak mau. Abi nggak asik!”, kataku sore ketika akan berangkat ke masjid. Setelah itu langsung mempercepat langkahku karena aku sudah malas berjalan di sampingnya.

Sehabis isya, setelah pintu kamar aku kunci dari dalam tidak ada satu pun yang coba mengetuk. Tidak Ummi, apalagi Abi. Tidak ada tanda-tanda Abi mengubah pikirannya untuk mengajakku pergi ke alun-alun kota.

Ku dengar riuh tetangga-tetangga sibuk menyalakan mobil. Kemana lagi, tentu saja ke alun-alun kota pikirku. Di dalam kamar sebenarnya aku belum bisa tidur, tapi keluar kamar pun aku kesal melihat sikap Abi yang menyebalkan.

Sayup-sayup pukul 21.00 WIB Abi masih mengobrol dengan Ummi di ruang tengah. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Aku pokoknya sudah kesal dengan mereka. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarku di ketuk,

“Nak… Sayang… Sudah tidurkah?”, suara Ummi lembut.

“Fatih udah tidurkah?”, suara Ummi masih belum pergi dari depan pintu kamar aku sengaja membiarkannya.

Qiyamul lail di malam tahun baru masehi

Tok…Tok…Tok!!!

“Fatih… Pintunya jangan dikunci Nak. Besok Ummi gak bisa bangunin kamu pagi-pagi.” Katanya lagi.

Duhhhh… Aku nggak tega kalau Ummi yang bicara.

“Iyaaa nanti aku buka. Aku males bangun.”, teriakku dari kamar.

“Ya sudah, beneran lho nanti jangan di kunci. Segera tidur ya Nak,” katanya kemudian segera pergi.

Pagi harinya. Pagi buta. Menurutku ini masih malam. Tangan dingin Ummi menyentuh pipiku.

“Tih, Nak, bangun yuk… Katanya mau ikut perayaan tahun baru.”

Brrrmmm brrmmm brmmm…

Sayup-sayup suara mobil yang dikeluarkan dari garasi.

“Fatih, ayooo bangun”

Akhirnya aku bangun dan langsung ke kamar mandi untuk ganti pakaian dan berwudhu. Ummi telah menyiapkan sarung dan kopiah. Setengah sadar langsung masuk ke dalam mobil. Tentu saja setelah itu tidur lagi. Sekitar 20 menit dibangunkan lagi, kali ini Abi menyeretku ke sebuah Masjid besar. Ku pikir masih bermimpi. Ya, benar ini masjid alun-alun kota. Lho kok ramai, jam berapa ini ?

“Bi, ini acara apa?”, tanyaku

“Ayok sekarang kamu ambil wudhu dulu sana, habis ini kita Qiyamul Lail berjamaah.”, katanya ringan seolah tidak paham beban ngantuk yang kuhadapi.

“Jam berapa ini ? Boleh aku tidur sebentar ?”

“Tidak ada waktu, sudah cepat Abi tunggu di sini.”

Sholat malam yang begitu panjang. Kanan kiriku banyak jamaah terisak tangis. Abi berada persis di depanku. Seorang Imam, sudah pasti seorang Hafidz mengalunkan ayat-ayat Al Quran dengan suara merdu merasuk hati. Beberapa kali Imam mengulangi ayat yang bercerita tentang keluarga dan neraka. Sungguh aku merinding. Sejak kelas tiga SD aku selalu diajak Abi berkunjung ke masjid-masjid besar untuk mengikuti sholat jamaah atau mendengarkan ceramah. Namun untuk sholat Qiyamul Lail berjamaah di masjid, seingatku baru kali inilah Abi mengajakku. Sedikit merinding mendengar tangis dan nada baca sang Imam.

Ba’da subuh, Abi tidak langsung mengajakku pulang. Dia menyenggolku dari belakang yang sedang duduk di pojokan dengan memberikan sebuah mushaf kecil.

“Kamu nggak bawa mushaf kan ? Nanti kita pulang jam setengah enam ya” katanya.

Apaaa ? Ini orang tua nggak tahu banget sih penderitaan orang ngantuk. Aku hanya mengangguk. Malu juga karena di sebelahku ada anak seumuranku, tapi mungkin sudah SMP kulihat dari tinggi badannya, tak henti membaca Al Quran dengan merdu dari sehabis dzikir tadi.

“Iya Bi”, kataku.

Sehabis dari Masjid ternyata Abi tidak langsung membawaku dan Ummi pulang ke rumah. Awalnya aku tidak tahu kami akan pergi kemana.

“Kita mau kemana Bi?” tanyaku penasaran.

Ada yang lebih bermanfaat dibanding menghitung mundur dan menyalakan kembang api di tahun baru

“Hhhhmmm… Abi cuma mau menunjukkan kepadamu bahwa ada yang jauh lebih berharga dari sekadar merayakan tahun baru dengan meghitung mundur di alun-alun kota, atau menyulutkan kembang api pada jam 12 malam”, katanya dengan nada datar. Selalu begitu pikirku. Bicara dengan nada serius.

Mobil berhenti tepat di sebuah bukit yang sangat indah. Memang rumahku tak begitu jauh dari tempat wisata ini, tapi aku belum pernah bermain ke sini karena biasanya liburan pulang kampung ke rumah nenek, sedangkan Sabtu Minggu mengikuti les memanah dan berkuda.

“Kita disini sebentar ya menunggu sunrise”, kata Abi.

“Mi, pesenin makan donk”, tambahnya lagi

“Okke siap honey”, Ummi sok sok romantis.

Baiklah sekarang hanya ada dua laki-laki yang memandang ke tengah lautan hijau untuk menanti sunrise.

“Tih ?”

“Iya Bi.”

Calon pemimpin sejak kecil sudah berbeda dengan orang umumnya

“Kamu tahu tidak, Abi sengaja tidak membelikanmu kembang api, tidak mengajakmu merayakan tahun baru. Abi sengaja. Tapi kamu harus tahu, Abi mau kamu menjadi seorang yang siap menjadi pemimpin. Pemimpin itu adalah orang yang terpilih. Kenapa dia terpilih ? Karena dia berbeda dengan yang lainnya. Tidak mengikuti arus lingkungan yang belum tentu baik Nak.” kata Abi penuh bijaksana.

“Tapi Bi, kadang aku juga ingin merasakan seperti anak-anak lain juga.”

“Nak, waktu yang ada di hidupmu itu hanya berlangsung sekali. Sekali saja. Kamu hanya akan berusia dengan angka 10 itu sekali. Dengan angka 8 itu juga sekali. Artinya di usia-usia itu kamu diberi pilihan untuk memutuskan hal-hal apa saja yang akan kamu lakukan”

“Jadilah Sang Pembeda Nak…”, tambahnya lagi.

Beberapa saat kemudian Ummi datang dengan membawa tiga mangkuk bubur hangat. Kami menikmati sunrise yang begitu indah.

#31 Desember 2016


Terima kasih telah membaca cerpen inspiratif Islam, semoga cerita pendek diatas dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk hidup dunia akhirat yang lebih baik. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Zahra Nur Anissa

Penulis :

Artikel terkait