Dia Yang Menyatukan Dua Hati Diantara Kita

cerita sedih kisah nyata

Dia yang menyatukan dua hati diantara kita adalah cerita sedih kisah nyata tentang persahabatan dan cinta.  layak dibaca pencinta cerita pendek remaja. Bagaimana kisah cerpen haru ini ? mari simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Sedih Kisah Nyata – Dia Yang Menyatukan Dua Hati Diantara Kita

Aku bersyukur Sang Maha Kasih telah mengirimkan seseorang sepertimu, ku mengenalmu dengan cara sederhana. selama 6 bulan ku mengenalmu hanya sebatas seorang pemimpin anggota kelas. Setiap kali ada nya kekurang jelasan infomasi kelas ku selalu menanyakannya padamu. Tak ada lelaki lain ku kenal sampai sedekat ini, setelah satu semester terlewati, jarang bertemu bahkan saat itupun lepas kontak denganmu.

Awal kau menghubungiku itu pada saat kau menanyakan registrasi kampus, ya..saat itu adalah pertama kalinya kau mentelpone ku. Setelah itu ke membuka akun fecobookmu, disitu kau menulis “cukup mengobati rasa rindu padamu Ayah”…entah mengapa ku berfirasat status ini pun mewakili isi hatimu pada sesorang.

Bukannya ku merasa terlalu percaya diri, tapi itu ku rasakan padamu, tapi ku hanya berfikir, yahhh..mungkin kamu sedang rindu pada ayahmu…dengan berjalannya waktu, kita bertemu kembali, berkumpul bersama ditengah taman Fakultas, canda tawa ada pada saat itu, kamu memang paling bisa membuat suasana ramai dengan canda tawaan.

Saat itu perbincangan tertuju padamu, membicarakan seorang gadis cantik, anggun, dan yang paling membuatnya istimewa adalah dia Seorang Hafidzah namanya “Nadia”. dia teman dekat mu bahkan oleh orang lain dia dianggap sebagai kekasihmu, tapi saat itu kamu terus mengelak bahwa dia bukan kekasihmu.

Dari perbincangan itu aku tertarik oleh wanita itu, rasa penasaran terhadapnya membuat ku ingin mengenalnya lebih dekat. Dari rasa penasaran itu ku mulai mencari akun facebooknya, kemudian ku menambahkan perteman padanya. Hanya menunggu beberapa hari untuk mendapatkan pemberitahuan bahwa dia telah menerima pertemananku.

Awal dari pertemanan di Facebook, ku mencoba untuk memulai mengirim pesan singkat padanya, hanya sekedar basa basi, menyampaikan maksud ku untuk berteman dekat dengannya. Saat itu dia menyambut pertemananku dengan hangat.

Dengan berjalannya waktu aku semakin dekat dengannya, banyak ilmu telah diberikan padaku, kita saling shering, banyak motivasi dia berikan agar ku tidak putus untuk menghafalkan Al-Quran. Hingga pada akhirnya dia mengatakan sesuatu tentang dirimu, saat itu dia mengirimkan pesan yang isinya kalau selama ini kau telah menyimpan perasaan padaku, dari kejujurannya itu membuatku terdiam, membuatku bingung untuk berkata apa, saat dia mengatakan “cukup ku hanya melihatnya tersenyum dari kejauhan, ku tak ingin jika dia tau perasaanku membuatnya tertekan” itu adalah perkataanmu disampaikan padanya.

Banyak hal yang dia ceritakan tentang dirimu, ku mengenal lebih dekat dirimu pun dari dirinya. Banyak yang ku tahu tentang dirimu, dari mulai aktivitasmu sampai kegiatanmu dalam menuntut ilmu, ku tahu kau telah hafal Al-Quran sebanyak 15 juz, saat itu juga ku semakin mengagumimu.

Kau memiliki kelebihan ilmu tapi kau tidak menampakkan bahwa kau orang yang lebih faham dari yang lain, sifat Tawadhu mu itu yang menghiasi hidupmu.Kamu tidak tahu kalau sebenarnya ku telah mengenal dekat Nadia, dari mulai ku sudah mengetahui perasaanmu yang sebenarnya terhadapku, ku berusaha ingin semakin dekat denganmu, saat itu juga komunikasi kita lebih sering.

Hingga pada akhirnya ketika ku tahu bahwa kau akan menjenguk temanmu yang sedang sakit, saat itu ku bertanya siapa sebenarnya yang sakit, kau menjawab bahwa Nadia yang sedang sakit, dia mengidap kanker ginjal. Setelah mendengar kabar itu dari mu membuatku kaget, ingin rasanya ku menjenguknya, tapi saat itu ku hanya berpura-pura tidak kenal dengan dirinya, dan ku hanya bisa menitipkan salam untuk Nadia melaluimu.

Saat itu hari kamis, kita berkumpul di tengah taman Fakultas, kamu memohon maaf padaku kalau kamu belum bisa menyampaikan salamku padanya. Tidak masalah salamku belum kau sampaikan pasti suatu waktu akan kau sampaikan, benar saja pada hari Jumat, kau mengirimku pesan, bahwa kamu telah menyampaikan salamku padanya, dan dia pun mengirimkan salam balik untukku. Rasa senang yang saat itu kurasakan, saat itu ingin rasanya ku menjenguk dia, tapi Allah belum mengizinkan, aku hanya bisa mengirimnya pesan di Facebook, “semoga engkau cepat sembuh”, tapi pesan itu tidak dibaca-baca olehnya.

Masih di hari Jumat, saat itu kurang lebih jam menunjukkan pukul 8 malam, ku membuka akun facebook, ketika tampilan beranda, yang pertama kali ku baca saat itu adalah tulisan atas nama Nadia, disitu tertulis bahwa Nadia sudah wafat, dan yang menuliskan kabar itu adalah muridnya atas nama Khoirunnisa.

Setelah ku membaca itu, air mata tak bisa tertahan,air mata ku menetes hingga tak mengalir deras karena tak bisa terbendung lagi. Entah firasat apa yang ku rasakan tadi siang, rasanya ku ingin sekali bertemu dengannya, ternyata firasat itu terjawab sudah ternyata dia meninggalkanku terlebih dahulu tanpa adanya pertemuan diantara kita. Salam yang ku titipkan untuknya melalui dirimu itu mungkin adalah salam perpisahan kita. Rasanya ku baru saja mengenalmu, tapi ku merasa kita sudah sangat dekat. Aku tidak menyangka kita akan berpisah secepat ini, kehilangan yang dirasa sangat dalam.

Malam itu ku mencoba memastikan kabar itu dengan menanyakannya padamu, ku mengirimu pesan tapi saat itu balasan darimu sangat lama, sekitar jam 10 malam kau baru membalasnya. Dan kau mengatakan bahwa kabar itu memang benar.

Malam itu aku tak bisa terpejam untuk tidur, gelisah yang dirasa, ingin rasanya ku berta’ziah bertemu untuk terkahir kalinya.Tapi waktu belum sempat, itu yang membuatku menyesal. Di pagi harinya jenazahnya baru akan dimakamkan, dari sini aku hanya bisa mengirimkan do’a untuknya, semoga kau ditempatkan di tempat yang sangat indah di sisiNya, itu pasti karena dia wanita yang sholihah yang mampu menjaga KalamNya di dalam hatinya, maka tak heran Allah pun cepat-cepat memanggilnya, karena Allah telah rindu dan sangat ingin bertemu dengannya.

Itulah kemuliaannya yang didapat. Pesan yang dia sampaikan saat itu, menceritakan tentang perasaan mu, dia sebenarnya sedang menyampaikan amanat padaku, pesan itu yang menyadarkanku arti ketulusan yang kau rasakan.

Mulai saat itu ku berusaha menjaga rahasia perasaanmu, ku hanya bisa berpura-pura tidak tahu, menyimpan semuanya dalam hati. Yang bisa ku lakukan saat bertemu denganmu itu hanya memberikan senyuman, karena memang itu yang bisa membuatmu bahagia, dan ku ingin melihatmu bahagia.

Hingga pada akhirmya kau mengetahui bahwa ku sudah tau tentang perasaanmu, dan mulai saat itu kita saling mengetahui perasan satu sama lain. Ini semua berkat Nadia, tanpanya ku tak akan bisa mengetahui perasaan yang sebenarnya, mungkin sampai ini aku cuma bisa memnadamnya saja.

Jika dia masih ada ingin rasanya ku bertemu, mengungkapkan rasa terimakasih padanya, karena hal ini adalah awal ceritaku mengenalmu, Allah telah mengirimkan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, Dia (Nadia) dan kau (Harun).

Ku harap kau selalu ada dalam hari-hariku, tulisan ini ku susun kata demi kata hanya untuk mengungkapkan semua kenangan yang indah dalam hidupku, terutama kenangan saat menganalnya (Nadia). Untukmu Nadia, semoga kau bahagia disana, kau pasti sedang berada di tempat yang sangat indah, kelak kau harus mengjakku ke tempat itu, kita bertemu untuk pertama kalinya nanti disana, dan pertemuan disana nanti yang paling abadi. Disini ku hanya bisa mengirimkan lantunan Do’a untukmu.(rd)


Terima kasih telah membaca cerita sedih kisah nyata “Dia Yang Menyatukan Dua Hati Diantara Kita”. Semoga cerpen sedih dari kisah nyata diatas dapat menghibur pengunjung Bisfren sekalian.

Dibagikan

Artikel terkait