Cerita Kisah Nyata Kesabaran Dan Keihklasan Asiyah. Saat Niat Mulia Menjadi Ujian Ketulusan Cinta

cerita kisah nyata Kesabaran Dan Keihklasan Asiyah. Saat Niat Mulia Menjadi Ujian Ketulusan Cinta

Musibah bisa datang kapan saja. Sekejap mata, dimana saja. Dia bisa menoreh duka membekas hingga puluhan tahun lamanya. Niat mulia untuk menafkahi istri tercinta, justru jadi pangkal derita. Tak banyak bisa dilakukan Khojin, lelaki menjelang sepuh lumpuh dari pinggang hingga kaki sejak tiga puluh tahun lalu.  Dia seharusnya menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menafkahi istrinya justru tak berdaya lalu menjadi beban bagi istri tercinta setelah musibah dialaminya. Namun bagi Asiyah, merawat juga melayani suami sejak 30 tahun tidaklah menjadi beban baginya. Semua dilakukannya dengan kesabaran dan keihklasan sejak hari itu, hari dimana musibah menimpa suami tercintanya kami angkat menjadi sebuah cerita kisah nyata bagi komunitas cerita pendek ini.

Cerita Kisah Nyata Kesabaran Dan Keihklasan Asiyah

Khojin adalah seorang lelaki ulet. Demi menafkahi istrinya dia bekerja serabutan sebagai apa saja termasuk menjadi kuli bangunan. Cerita kisah nyata inipun dimulai dari sana. Suatu hari saat Khojin menerima tawaran pekerjaan sebagai buruh bangunan. Saat melakoni pekerjaan itulah terjadi musibah, tragedi menyebabkan dirinya tak lagi bisa mencari nafkah. Gunungan tanah tempat dia bekerja tiba-tiba runtuh lalu menimpanya. Khojin pingsan seketika. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Asiyah saat itu. Dunia seakan runtuh baginya. Satu-satunya tumpuan harapan, suami dicintainya, terkapar nyaris tak bernyawa.

Namun Asiyah bersyukur, Khojin masih diberikan nafas oleh Yang Maha Kuasa. Dia menunggunya hingga suaminya sadar. Akan tetapi takdir berkehendak lain. Saat Khojin tersadar, dia tidak lagi bisa merasakan bagian tubuhnya mulai dari pinggang hingga ujung kaki. Khojin menjadi lumpuh. Se

jak saat itu kegiatan sehari-hari Khojin jadi bergantung pada Asiyah, istrinya. Dia tidak lagi bisa melakukan aktifitas apapun selain berbaring. Bahkan untuk membopongnya ke kamar mandi sekalipun, harus menjadi bagian tugas berat Asiyah berperawakan lebih kecil dari Khojin. Baginya semua adalah takdir harus dijalani dengan sabar. Begitu pula ketidak hadiran satu orang anakpun dari perkawinan mereka.

Menjadi buruh tani serta konveksi

Asiyah sangat meyadari bahwa kini dia adalah tulang punggung keluarga. Mulailah dia mencari kerja serabutan untuk menghidupi dirinya serta suami. Bekerja sebagai buruh tani pun dijalaninya. Akan tetapi, pekerjaan sebagai buruh tani membutuhkan tenaga. Sementara usia Asiyah terus bertambah, tenaganya semakin lemah. Pekerjaan itu tidak mungkin lagi bisa dilakukannya.

Atas permintaan Khojin, akhirnya wanita berusia lima puluh sembilan tahun inipun memberanikan diri meminta pekerjaan pada sebuah pabrik konveksi pembuat topi sekolah di kampungnya, dusun Glatik, Desa Gerbangsari, Mojokerto, Jawa Timur. Syukur tiada terkira, juragan pemiliki pabrik konveksi, hanya berjarak seratus lima puluh meter dari rumahnya bersedia menerimanya. Lagipula, sebagian pekerja di perusahaan itu adalah warga sekitar.

Asiyah tidak melakukan pekerjaannya di pabrik, dia hanya kesana untuk mengambil bahan topi. Setelah bahan didapat, dia bergegas pulang untuk menyelesaikan pekerjaannya tersebut di rumah. Bahan didapat Asiyah berupa kain sudah digunting sesuai pola ukuran. Ada bagian depan, samping kiri kanan, serta bagian belakang topi. Semua bahan tersebut kemudian dijahit bersama bahan bagian dalam topi atau puring. Itu dilakukan dengan menggunakan mesin jahit dipinjamkan oleh pemilik pabrik konveksi baik hati sehingga dia bisa melakukan pekerjaan sekaligus merawat suaminya.

Potongan bahan sudah berlapis puring, kemudian dibersihkan dari benang- benang sisa jahitan yang mencuat agar jahitan terlihat lebih rapi. Tahap ini biasanya dilakukan oleh Khojin dengan menggunakan tangannya. Khojin tidak mau membiarkan istrinya bekerja sendiri. Dia paham betul beban dipikul sang istri sejak dia lumpuh sudah sangat berat. Dirinya sangat mengerti bahwa kesabaran serta kesetiaan istrinya merawatnya puluhan tahun, merupakan anugerah juga keberkahan tiada terkira. Jadi apapun pekerjaan bila bisa dilakukan, akan dilakukannya untuk meringankan beban sang istri.

Upah menjahit hanya Rp. 9.000,- per kodi

Kini dua tahun sudah, mereka menjadi buruh jahit di pabrik topi. Ini merupakan sumber rejeki utama mereka, sumber nafkah mereka meski dalam satu hari mereka hanya mampu menyelesaikan dua kodi, atau empat puluh buah topi, nilainya hanya sembilan ribu rupiah saja. Hanya sejumlah uang yang mungkin jauh lebih kecil dari uang jajan anak sekolah itupun baru dibayar pada akhir pekan. Mungkin tak pernah terbayangkan dalam benak kita untuk bertahan hidup dengan uang sebesar itu. Namun itulah hasil jerih payah mereka, tenaga mereka tak lagi mampu untuk menjahit lebih banyak, kemampuan mereka tak cukup untuk membeli obat jika harus memaksa badan. Tapi mereka menyadari bahwa itulah rezeki dititipkan Tuhan sehingga harus disyukuri. Sebesar apapun tidak akan pernah cukup jika hati tidak bersyukur, tapi sekecil apapun akan membawa keberkahan bila mau bersyukur serta tidak mengeluh.

Quotes kata bijak : Kebahagiaan adalah mencintai dan bersyukur

Membuat topi, meski kecil, adalah penghasilan tetap bagi mereka harus dipertahankan. Untuk mendapat tambahan penghasilan, Asiyah menerima pesanan kue wingko, atau lebih dikenal dengan sebutan wingko babat, dari tetangga kalau mereka mengadakan acara hajatan. Makanan kue tradisional asal Jawa Timur ini merupakan hidangan sering disajikan di dusun Glatik, Desa Gerbangsari, Mojokerto, tempat Asiyah tinggal, kalau mereka mengadakan hajatan.

Kata bijak : Sebesar apapun penghasilan tidak akan pernah cukup jika hati tidak bersyukur, tapi sekecil apapun akan membawa keberkahan bila mau bersyukur serta tidak mengeluh.

Membuat wingko merupakan keahlian Asiyah dari almarhumah ibunya. Dia bersyukur memiliki keahlian membuat wingko bisa menjadi usaha sampingan, meski tidak setiap waktu ada pesanan, disaat keuangannya terpuruk. Satu potong kue dijualnya seharga lima ratus rupiah. Meski masih terbilang kecil lagi tidak rutin, cukuplah itu untuk menambal kekurangan hasil menjahit topi.

Hidup tak memberi banyak pilihan bagi lansia

Mereka memang tidak memiliki banyak pilihan untuk mencari nafkah. Usia sudah tua lagi mulai sakit-sakitan membuat mereka harus menerima kenyataan. Merekapun harus mengubur dalam-dalam keinginan untuk memiliki anak. Untuk mengusir rasa sepi, Asiyah yang memiliki latar belakang pendidikan guru agama,  membuka kelas belajar mengaji bagi anak-anak dilingkungannya. Mengajar mengaji di rumah sudah dilakukannya sejak dua puluh delapan tahun lalu. Saat ini, dirinya memiliki sekitar tiga puluh lima murid. Mereka setiap hari datang ke rumahnya. Untuk belajar, mereka dipungut sumbangan dua ribu rupiah per bulan untuk membeli bohlam serta membayar listrik. Tak satu rupiahpun mereka gunakan untuk kebutuhan mereka pribadi. Mereka memang tiada mencari materi dari mengajar mengaji. Dari setiap huruf Al-Quran diajarkan, Asiyah hanya berharap pahala dari Yang Maha Pemberi.

Kisah Nyata Kesetiaan Dan Ketulusan
Cinta, Sabar danTulus (@Kisah Nyata Bisfren)

Hanya kesabaran dan keikhlasan membuat orang menjadi kuat

Sebagai manusia biasa Asiyah mengaku dia tidak luput dari dosa. Tiga puluh tahun lebih merawat sang suami, serta himpitan ekonomi, kadang membuatnya merasa lelah dan putus asa. Ditambah lagi tak memiliki buah hati untuk membantu ataupun menghibur duka membuat hatinya kadang nestapa. Akan tetapi dia selalu ingat bahwa dirinya harus bersabar dan ikhlas karena merawat suami merupakan salah satu jalan menuju surga sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada kaumnya. Empat puluh tahun lebih membina rumah tangga, selama itu pulalah hidup mereka berselimut kabut nestapa. Tapi gulir waktu berlalu menjadi bukti ikatan cinta dan kesetiaan dua insan manusia.

Bagi Khojin, ketulusan hati sang istri, bagaikan lilin yang bersinar. Lilin hanya mampu memberi sedikit cahaya dengan melelehkan tubuhnya hingga habis tak bersisa. Bagi Asiyah, musibah menimpa suaminya adalah ujian kesabaran diberikan Allah kepadanya. Bukti akan cinta dan kesetiaannya bukan hanya sesumbar manis kala mengikat janji sehidup semati. Cinta dan kesetiaannya adalah sesuatu yang telah teruji hingga ajal mendekati. Asiyah dan Khojin membuktikan bahwa sebuah ikatan pernikahan mereka bisa tetap bertahan, walau badai terus menghantam.


Terima kasih telah membaca cerita kisah nyata Kesabaran Dan Keihklasan Asiyah, apabila anda menyukai cerita kisah nyata atau merasa cerita kisah nyata ini bermanfaat, mohon berikan suka dan komentar, serta bagikan melalui Facebook, Twitter, Google+, Whatsapp, dan Pinterest sebagai apresiasi kepada penulis, khususnya kepada pelaku dalam cerita kisah nyata ini. Apabila ada diantara anda yang ingin bertemu dengan yang bersangkutan, silahkan datang ke tempat tinggal mereka di dusun Glatik, Desa Gerbangsari, Mojokerto, Jawa Timur.

Dibagikan

Akira Maharani

Penulis :

Artikel terkait