Apes

cerpen lucu cinta salah sasaran

Apes adalah cerpen lucu cinta salah sasaran tentang perkenalan seorang lelaki dengan wanita cantik pada kesempatan yang tak terduga. Mereka menjadi akrab lalu menjadi cerita lain yang mengejutkan. Simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Lucu Cinta Salah Sasaran – Apes

Setengah jam lamanya aku menunggu mereka di depan jalan masuk perumahan tempat tinggalku. Ya, mereka, teman-temanku. Aku biasa berkumpul disini dengan mereka sebelum pergi kemanapun. Tepatnya di warung penjual kopi dan rokok ini. Tapi hari ini agak berbeda, biasanya aku menunggu disini hanya membawa badan, maksudnya tidak ada yang kubawa selain baju dan celana yang melekat di badan. Kali ini aku membawa tas ransel di punggung berisi beberapa potong pakaian. Bukan mau kabur dari rumah tapi hari ini rencananya kami akan pergi ke beberapa daerah untuk liburan sekaligus “hunting” barang kerajinan yang akan dijadikan dagangan wirausaha bersama teman-teman.

Aku dan teman-teman memang baru membuka peluang usaha kecil-kecilan sebuah toko barang kerajinan tangan dan cindera mata yang dijual secara online dan offline. Mulanya sih karena ada satu teman yang mau menikah. Dia minta dicarikan cindera mata yang unik. Cari punya cari di internet, akhirnya kami dapat barang berupa tempat perhiasan mungil unik khas Jogja terbuat dari ukiran kayu. Ketika akan memesan, ternyata ada satu teman lain yang mengatakan harganya lebih murah kalau dibeli langsung pada pengrajin. Akhirnya lewat seorang keluarga yang ada disana, kami berhasil mendapatkannya dengan harga lebih murah. Dari sinilah  kemudian terbersit keinginan untuk melakukan usaha online barang kerajinan. Apalagi kami melihat produk kerajinan masih banyak peluang untuk dijual secara eceran melalui eBay ke luar negeri. Ya iseng-iseng berhadiah. Daripada nongkrong gak karuan, akhirnya kami sepakat untuk patungan, mengumpulkan modal, untuk membuka usaha.

Bete juga rasanya menunggu, posisi dudukku sudah berubah-ubah. Berganti posisi karena jenuh.  Leherku mulai terasa pegal karena berkali-kali menoleh ke arah dari mana teman-teman akan datang. Berharap mereka muncul dan kami bisa segera berangkat atau ngobrol sebentar baru kemudian pergi.

Empat puluh menit. Entah mengapa teman-teman yang biasaya selalu ‘on-time’ jadi ngaret begini. Dan cuaca yang tadinya terang tiba-tiba saja menjadi gelap tertutup awan mendung lalu turun hujan yang sangat deras. Hujan deras dadakan yang  terkesan terburu-buru ingin menumpahkan seluruh air yang dibawanya dengan angin kencang yang membuat daun-daun berguguran dan batang pohon meliuk-liuk ketakukan. Ditengah hujan yang datang tiba-tiba itu, aku melihat seorang gadis berlari kearah warung tempat aku duduk. Sepertinya mencari tempat berteduh. Jaraknya yang tidak terlalu lama dia sudah tiba dengan pakaian setengah basah. Matanya melihat kesana-kemari, sepertinya dia mencari tempat kosong. Kebetulan sekali disini hanya ada aku dan pemilik warung, jadi dia bisa duduk dimana saja.

Menurut pandanganku wanita ini cantik, dandannya rapi dan keren meski terlihat cukup berani. Mungkin dia baru pulang dari mal atau rumah seseorang. Tidak mungkin pulang kerja dengan pakaian seperti itu, kataku dalam hati. Kulit putihnya yang basah terkena air dikibas-kibaskannya menggunakan tangan sambil berjalan ke arah kursi disudut yang bersebrangan denganku.  Lalu dia duduk disana dengan gaya yang anggun luar biasa sementara tangannya menyirat pesan kepada pemilik warung untuk membuatkan segelas teh panas. Sepertinya dia kedinginan akibat diguyur barusan. Si pemilik warung mengerti dan segera membuatkan pesanannya.

Sambil menunggu, kulihat tangan wanita itu meraih sesuatu dari dalam tas tangan lalu mengeluarkan sebuah smartphone. Tak lama kemudian dia asyik chatting, hal itu terlihat dari jempolnya yang sibuk mengetik sementara wajahnya sebentar-sebentar tersenyum atau serius  membaca. Aku ingin menyapa tapi takut tidak ditanggapi karena dia begitu serius.

Aku agak terkejut ketika teh panas pesanannya datang, dia mengeluarkan sebungkus rokok. Menyalakannya sebatang, dan … puff… sepertinya dia larut dalam kenikmatan asap tembakau dan teh panas pesanannya sementara jempol sebelah tangannya sebentar-sebentar sibuk mengetik sesuatu dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Melihat adegan itu, aku pikir tidak ada salahnya menyapa, siapa tahu nyambung dan bisa jadi teman ngobrol sambil menunggu.

“Hujannya deras ya mbak, dari mana, mau kemana  ?” sapaku memberanikan diri tanpa beranjak dari tempat duduk. Dia menoleh, seperti memastikan bahwa sapaan itu memang untuk dirinya.  Setelah yakin memang aku menyapanya, “Iya mas, dari rumah, mau ke Sudirman.” katanya.

“Sudirman ? naik apa ? ada acara ya ?”

Dia tidak langsung menjawab, asyik dengan HP nya. Mungkin dia merasa aku terlalu KEPO. Ah sudahlah, bodo amat, kata hatiku. Akhirnya akupun mengeluarkan HP dan ternyata ada pesan baru masuk dari teman-teman yang sejak tadi belum terbaca. Mereka bilang terlambat karena ditempat mereka hujan sejak dua jam lalu. Oooh pantas saja, mereka terlambat.

“Naik CL lah mas, ini mau ke stasiun tapi hujan. Mas mau kemana ?” tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara.

“Aku mau ke luar kota, lagi nunggu teman” jawabku. Akhirnya mengalirlah pembicaraan diantara kami yang membuat aku makin suka karena obrolannya selalu nyambung dan mengerti semua istilah yang aku ucapkan. Dari ngobrol jarak jauh berbeda meja, akupun dimintanya  mendekat supaya tidak perlu teriak-teriak katanya. Sambil berjalan ke arahnya, ku lihat si pemilik warung senyum-senyum melihat aku yang sedang PDKT. Semakin akrab saja kami mengobrol, apalagi kami sama-sama perokok dan kebetulan rokok kesukaannya sama dengan rokok yang biasa aku hisap. Jadilah kami semakin dekat, berkenalan, hingga tukar menukar nomor HP. Bahkan dia mengundangku untuk main ke tempat kost nya yang tidak terlalu jauh dari sini. Sepertinya aku mulai suka wanita ini, kulitnya putih, bulu matanya lentik, bicaranya yang menyenangkan orang, serta senyumannya yang menggoda membuat hatiku meleleh seperti es krim masuk ke mulut.

Hujan sudah reda,  tidak terasa satu jam dua puluh menit aku mengobrol dengan wanita itu. Dari pesan di HP yang aku terima, teman-teman mengatakan sudah merapat dan meminta aku bersiap karena begitu tiba akan langsung berangkat.  Aku pamit kepada teman wanita cantik itu, dan mengatakan akan segera pergi begitu teman-teman datang. Dengan lirikan dan senyuman yang membuat jantungku copot sebelah, dia mengiyakan.

Benar saja, tidak sampai sepuluh menit, mobil temanku merapat. Satu orang turun dan masuk ke warung. “Don, udah siap ? ayo langsung !” katanya.

“Oke bos !” jawabku sambil menaikkan ransel ke punggung. “Aku duluan ya, nanti kita chatting-chattingan ya ” kataku kepada wanita itu. “Iya mas” ucapnya sambil berdiri dan entah bagaimana caranya dia melakukan gerakan, tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di pipiku. “Makasih ngobrol-ngobrolnya ya mas. Jangan lupa nanti datang ke tempat aku” bisiknya. Kali ini jantungku benar-benar hampir lepas, meski masih menempel seperempat, kalau satu ciuman lagi mendarat pasti 100% lepas.

Temanku yang melihat adegan itu sepertinya terkejut. Mulutnya mengganga dan matanya mendelik seakan tidak percaya. Tapi tidak ada kata-kata yang terucap, hingga aku melewatinya dengan membusungkan dada. “Ternyata seperti ini bangganya kalau dicium wanita cantik di depan orang,” hati membatin sambil bibirku tersenyum bangga.

“Ayo… katanya mau langsung jalan” kataku. Diapun mengikutiku dari belakang, lalu masuk ke dalam mobil dan berangkat.

Di dalam mobil, temanku yang masih bengong seperti orang kesurupan tiba-tiba berkata “Don… itu siapa ? ”

“Gebetan baru, cakep kan ?” jawabku masih dengan senyum bangga. Dia diam sejenak, masih seperti tidak percaya.

“Don … lo gak salah kan ? sejak kapan lo suka sama banci ?” tanyanya datar. Aku tersedak. “Haaaaah… ???!!! … banci … ????”. Gubrak, aku tiba-tiba lemas.


Terima kasih telah membaca cerpen lucu cinta salah sasaran. Semoga cerita pendek tersebut dapat menghibur sobat pecinta laman Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Mia Hanifah

Penulis :

Artikel terkait