Ceritaku

cerpen cinta romantis remaja ceritaku

Ceritaku bermula dari cerita tentang ABG jual diri kencan di pantai dengan om-om, namun akhirnya menjadi cerpen cinta romantis diantara mereka. Bagaimana jalan cerita cinta singkat remaja ini ? silahkan baca cerita pendek berikut.

Cerpen Cinta Romantis Remaja  – Ceritaku

Aku mencoba duduk tenang di bangku tunggu Rumah Sakit. Sementara di ruang gawat darurat, Luna ponakanku sedang menjalani pemeriksaan. Tadi sewaktu dijalan menuju kantor adikku menelpon, katanya Luna pingsan, jatuh dilapangan saat sedang praktek olahraga. Kabar itu sempat membuatku panik. Karena kantorku searah dengan sekolah Luna, cepat-cepat ku menuju sekolah Luna. Maklumlah selain Luna ponakan pertama, gadis kecil itu benar-benar membuatku jatuh hati pada kepolosannya.

Luna paling dekat denganku, karena kesibukan adikku dengan pekerjaan mereka, Luna selalu dititipkan kerumahku. Sekalipun bekerja, pekerjaanku tidak akan terhalang untuk menjaga serta mengantar jemput Luna ponakanku tersayang.

Tadi Luna sudah diperiksa. Menurut dokter dia hanya pusing biasa karena tadi tak sarapan. Biasanya kalo ada Yona, iparku – mamanya Luna, ia pasti dibuatkan sarapan juga bekal. Tetapi karena Yona masih diluar kota, jadi Lunaku tak sarapan melainkan hanya diberikan uang jajan oleh adikku. Ini membuatku marah tadi sewaktu Billi, adikku, datang. Akan tetapi karena ia juga terlihat menyesal serta meminta maaf, hatiku jadi luluh.

Sok sibuk dulu ah ngotak-ngatik HP

Didalam sana Billi bersama Yona yang baru datang dari luar kota menemani Luna. Sedangkan diriku sudah bisa tenang sambil menunggu diluar ruangan. Diriku tak terlalu suka berada dalam ruangan perawatan lama-lama. Bau obatnya menusuk bikin sesak nafas.

Sambil mengutak-atik smartphone, mataku mengawasi sekitar RS. Banyak orang lalu lalang termasuk dokter serta perawat. Semuanya terlihat menakjubkan dalam seragam putih mereka. Apalagi dokter-dokternya, ada tua ada juga yang masih muda. Kenapa yah kalau dokter selalu cantik serta ganteng ? tanyaku dalam hati. Kemudian kujawab sendiri, ya mungkin karena mahasiswa sekolah kedokteran rata-rata orang kaya, makanya wajah mereka cantik juga ganteng. Melihat para dokter lalu lang didepanku, ingatanku tiba-tiba kembali ke masa SMP dulu.

Sepupuku Nora

Aku memiliki sepupu bersekolah pada sekolah SMEA swasta di sebuah kota, sedangkan aku tinggal di kota lainnya. Setiap liburan selalu kuhabiskan waktu bersama sepupuku dirumahnya. Walaupun sepupuku sudah kelas 2 SMEA tapi posturnya imut. Namanya Nora, anaknya supel, ceria, agak cerewet juga punya banyak teman. Diriku suka menghabiskan waktu liburan bersamanya. Karena kalau bersama Nora, pasti akan diajak jalan ketempat temannya atau nongkrong di pusat perbelanjaan. Disana kami menghabiskan waktu dengan nonton bioskop, main game atau cuma nongkrong saja sambil melihat-lihat orang lalu lalang.

Walaupun saat itu masih kelas 3 SMP, tapi karena postur tubuhku berisi serta tinggi, diriku terlihat lebih dewasa dari Nora dengan postur kecil mungilnya. Cerita ini berawal saat liburan Natal.  Liburan kali ini benar-benar kunantikan karena otakku sangat stress akibat padatnya kegiatan sekolah bikin sakit kepala. Belum lagi diomelin Ayah Ibu.

Tag : cerpen manfaat ginseng peluang motivasi kata cara bisnis khasiat ikan usaha inspiratif sedih inspiratif bijak cerpen blueberry sampingan inspiratif manfaat peluang usaha motivasi kata bisnis cara khasiat sedih inspiratif bijak sampingan peluang usaha cerpen manfaat inspiratif motivasi kata blueberry inspiratif cara khasiat sedih ginseng inspiratif bijak sampingan cerpen manfaat usaha motivasi inspiratif kata cara khasiat peluang. ikan sedih inspiratif bijak sampingan cerpen usaha bisnis manfaat peluang motivasi kata inspiratif cara khasiat sedih ikan inspiratif blueberry bijak cerpen usaha manfaat motivasi inspiratif kata ginseng bisnis peluang cara khasiat sedih usaha sampingan inspiratif bijak peluang inspiratif blueberry cerpen manfaat motivasi bisnis kata cara ginseng khasiat inspiratif ikan sampingan sedih inspiratif usaha bijak peluang cerpen manfaat motivasi usaha kata blueberry inspiratif cara khasiat ginseng bisnis sedih sampingan inspiratif bijak peluang ikan cerpen manfaat motivasi inspiratif bisnis usaha kata cara khasiat sedih inspiratif bijak.

Kedatanganku disambut ceria oleh Nora. Kebetulan dirumahnya waktu itu menginap juga dua temannya satu sekolah. Wah semakin rame juga mengasyikan. Hatiku suka pada kedua teman Nora. Mereka terlihat sangat dewasa serta cantik. Sangat jauh dibanding penampilan polos lagi cupu ku.

Mau kemana kita ?

Kalo ngomongin nongkrong, Nora jagonya. Dari cara berpakaian selalu ikut mode sampe make up dijajal abis kalo mau jalan-jalan. Kadang jadi tertawa sendiri kalau melihatnya siap jalan, wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. Apalagi kalau bibirnya dipoles lipstick merah menyala. Tapi Nora tetaplah Nora mulutku tak pernah protes pada cara berpakaiannya.

Sangat berbeda denganku. Sampai sebesar ini pakaian kebesaranku cuma celana jeans plus t-shirt. Warnanya harus putih atau hitam, karena selain kedua warna tersebut, kecuali dirumah, gak pernah kupakai. Cara berpakaian terkesan tomboy selalu diprotes sepupuku, tapi cuek saja. Mana mungkin diriku memakai rok lebar, panjang cuma sepaha atasan kaos ketat jiahhhh. Tak akan pernah.

Saat itu sudah hampir Natal. Rumah-rumah dalam komplek yang rata-rata Nasrani sudah dihias pohon Natal serta lampu warna-warni semakin menambah kesan Natal. Pas bertepatan malam tanggal 24 wah pasti rame dikawasan pusat kota yang terkenal sebagai kawasan perbelanjaan dikota ini. Jadilah kami merencanakan jalan-jalan.

Saat pamitan pada Tante Yul, mamanya Nora, kami diwanti-wanti agar tak pulang larut malam. Nora sih iya-iya saja tapi diriku tetap tahu penyakitnya, pasti tak akan pulang tepat waktu. “Key jagain Nora, ingetin dia waktu pulang. Kalo gak besok gak bisa keluar kalian” pesan tante Yul kepadaku. Aku nganguk aja sambil berpikir koq kebalikan yah, mustinya Nora menjagaku karena umurnya lebih tua. Tapi sudahlah, yang penting jalan-jalan. Saat mau keluar gang tiba-tiba Dewi bertanya.

Gak punya duit ternyata

“Nor, bawa duitkan ?’’

“Ada tapi cuma buat angkot doing”

“Yah, jadi ceritanya cuma nongkrong doing ni ?’’ sela Dewi cepat.

tag : cerpen pendek spesifikasi misteri inspiratif asus sedih inspiratif lenovo peluang usaha sampingan. budidaya manfaat cara kata bijak cerpen pendek cerita misteri inspiratif sedih inspiratif cara kata bijak. peluang usaha mito sampingan budidaya lg manfaat cara kata bijak cerpen haier pendek misteri inspiratif sedih inspiratif peluang usaha sampingan. budidaya manfaat cerpen cara kata bijak pendek misteri vivo inspiratif cerita sedih. inspiratif peluang usaha sampingan cara kata bijak budidaya manfaat cerpen pendek misteri inspiratif sedih

“Tenang aja serahin sama Nora. Kita akan have fun, tapi syaratnya jangan ada yang protes, termasuk kamu Key”

Kuangkat bahu tak mengerti “memangnya kita mau apaan ?’’

“Yah jalan-jalan adik kecil..” Lisa merangkul bahuku. “Pokoknya jangan ngaku masih SMP ya, bilang aja kelas 2 SMA oke ?” bisik Lisa ditelingaku. Aku ingin protes tapi tidak tahu mau protes apa. Dalam hati agak was-was juga apa akan dilakukan sepupuku bersama teman-temannya.

Dipantai mereka cari kencan sama om om

Tak lama kemudian angkot kami berhenti disebuah kawasan tempat nongkrong anak-anak muda cukup terkenal dikota ini. Kami memilih duduk dekat tempat penjual bakso. Udara Desember disini agak sedikit ekstrim dengan angin lumayan kencang. Dalam hati agak kuatir juga membayangkan kalau hujan. Disini gak ada tempat berteduh, selain para penjaja bakso serta ketoprak. Bisa dibayangkan, tahun 1992, para penjual bakso tak semodis sekarang pakai tenda warna-warni. Pada masa itu para penjual gak ada sediain tenda apalagi bangku karena kawasan ini berada dipinggir pantai, duduk-duduknya pada dinding penahan air sepanjang 3 kilo meter. Kalau malam disini ramai. Bukan cuma anak muda tapi oleh orang-orang datang untuk duduk bersantai. Sambil makan jajanan gorengan atau lainnya.

Search terms : cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan sama om om cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan dipantai cerpen cerita pendek cinta romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan sama om om cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan dipantai cerpen cerita pendek cinta romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan sama om om cerpen cerita pendek cinta romantis abg kencan dipantai cerpen cerita pendek cinta romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan sama om om cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan dipantai cerpen cerita cinta pendek romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan sama om om cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan dipantai cerpen cerita cinta pendek romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan sama om om cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan dipantai cerpen cerita cinta pendek romantis abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan sama om om cerpen cerita cinta pendek romantis abg kencan dipantai cerpen cerita cinta romantis pendek abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan sama om om cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan dipantai cerpen.

Sambil duduk mataku mulai melihat sekeliling sementara Nora kuperhatikan mulai over acting tak tahu mengapa gaya Nora malam ini  kurasa sangat aneh tidak seperti biasanya begitu juga Lisa serta Dewi. Beberapa mobil lalu lalang agak pelan melewati tempat kami. Hatiku mulai gelisah apalagi saat kulihat Nora serta teman-temannya mulai ngobrol sambil sesekali melambaikan tangan kearah mobil lewat. Apa ini …? apa rumor yang kudengar tentang sekolahnya Nora memang benar kalau anak-anak cewek disekolah mereka banyak yang berprofesi sebagai perek..maaf. Diriku kurang mengerti istilah tersebut mungkin semacam gadis bayaran untuk menemani om-om entah diajak jalan-jalan, dibayarin makan-makan pokoknya hal hal yang sebenarnya bagiku jelek juga gak masuk otakku. Nora sepupuku bagaimana jika dia termasuk salah satu dari gadis-gadis itu. Ups….

Hatiku mawas ada sebuah mobil kijang berwarna merah lalu-lalang dilokasi tempat nongkrong kami. Sejak tadi kuperhatikan sudah 3 kali dia bolak balik akupun mengambil jarak yang cukup jauh dari tempat Nora karena merasa kurang nyaman pada situasinya. Benar saja mobil kijang merah itu berhenti tepat dilokasi kami ada 3 orang laki-laki yang keluar dari perawakan mereka terlihat mereka seperti sudah lebih dewasa atau seperti mahasiswa itu menurut penglihatanku yang waktu itu masih kelas 3 SMP. Ternyata setelah diperhatikan ternyata mereka ada 4 termasuk yang membawa mobil. Terlihat sekali sang pengendara tidak mau bergabung bersama teman-temannya yang saat keluar langsung saja berkenalan dengan Nora serta teman-temannya.

Jantungku jadi bertambah gugup, pikiranku mulai kemana-mana. Waduh koq jadi gak asyik lagi suasananya dalam hatiku mulai berdoa supaya hujan saja agar kami basah kuyup lalu bisa pulang. Doaku dijawab cepat oleh Tuhan tiba-tiba saja bunyi guruh terdengar keras lalu tanpa peringatan hujan turun deras tanpa member peringatan untuk kami berteduh.  satu-satunya jalan tempat kami menghindar adalah masuk kedalam mobil kijang itu. Tidak ada pilihan lain semuanya berebutan masuk kedalam mobil sedangkan didepan masih kosong denga terpaksa saat kudengar suara mengajakku masuk, tubuhku masuk ragu-ragu.

’’Terserah kalian aja dibawa kemana aja yang penting tempatnya asyik iya gak teman-teman” terdengar suara Nora begitu tegas. Ku telan ludah getir suara Nora terdengar tanpa ketakutan. Gila kami semobil bersama orang-orang asing bagaimana jika mereka bermaksud jahat hiiii… hatiku jadi ngeri membayangkan hal yang sering kubaca dikoran kulihat di tv.

Search terms : cerita cinta romantis pendek abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan sama om om cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan dipantai cerpen cerita cinta romantis pendek abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan sama om om cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan dipantai cerpen cerita cinta romantis pendek abg cari duit jual diri cerpen cerita cinta romantis pendek abg kencan sama om om cerpen cerita cinta romantis abg kencan pendek dipantai cerpen cerita cinta romantis abg cari duit pendek jual diri cerpen cerita cinta romantis abg kencan pendek sama om om cerpen cerita cinta romantis abg kencan pendek dipantai cerpen cerita cinta romantis abg cari duit pendek jual diri cerpen cerita cinta romantis abg kencan pendek sama om om cerpen cerita cinta romantis abg kencan pendek dipantai cerpen cerita cinta romantis abg cari duit pendek jual diri cerpen cerita cinta romantis abg kencan sama om om cerpen cerita cinta romantis abg kencan dipantai pendek cerpen cerita cinta romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen cerita cinta romantis abg kencan sama om om pendek cerpen cerita cinta romantis abg kencan dipantai pendek cerpen cerita cinta romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen cerita cinta romantis abg kencan sama om om pendek cerpen cerita cinta.

“Kita Ke Ocean Club aja main sepatu roda, ato kedaerah puncak sambil makan-makan atau kita kerumah Digta ngobrol-ngobrol sambil makan-makan, gimana girls rumah Digta asik lho ada meja biliarnya kita bisa nongkrong sambil main,’’ sambung suara yang tadi.

“kayaknya lebih asyik kerumahnya Digta itu menurutku lho…’’ terdengar suara laki-laki yang berbeda. Hatiku semakin ketakutan, apa-apaan ni… para laki-laki ini pasti punya niat jelek kedengaran sekali dari ajakan serta suara mereka setengah mendesak. Suasana didalam mobil semakin rame tapi Nora tak menyadari atau mungkin pura-pura tidak mau menyadarinya masih terus asik berbicara dengan para lelaki didalam mobil. Kepalaku tertunduk lesu telingaku masih jelas mendengar pembicaraan mereka serta diriku hanya bisa terdiam menyimpan rasa tak nyaman yang begitu jelas diwajahku yang mungkin diketahui oleh laki-laki disampingku.

“Kita belum kenalan namaku Digta tapi  biasa dipanggil Digi..’’ sebuah uluran tangan mengajak berkenalan tersodor tapi sama sekali tak berniat menyambutnya.

“Key, panggil saja Key..’’ ucapku akhirnya mencoba bersikap tenang mencoba untuk tidak menghiraukan pembicaraan Nora juga teman-temannya. Diriku jadi sadar setahun tak liburan bersama sepupuku, ternyata dirinya sudah sangat berubah bahkan berubah menjadi sosok tidak kukenal. Dalam hati aku berjanji ini kali terakhirku liburan dengannya.

“Kamu satu sekolah dengan mereka yah ?’’

“Tidak ..’’ selaku cepat.

“Kupikir kalian satu sekolah…’’

“Aku SMA kelas dua di Kota Kedua. Datang kesini untuk liburan yang rambutnya dikuncir  paling ceriwis itu sepupuku.’’ jelasku lagi kali ini aku berbohong. Ada tawa kecil terdengar tiba-tiba dia merogoh sesuatu dari dompetnya.

“Ini kartu mahasiswaku, aku kuliah kedokteran di Universitas Negeri Samratulangi sekarang aku koas di RS Umum.’’ kali ini entah kenapa kuterima sodoran kartu itu lalu membacanya teliti namanya Digta Ramayana jelas sekali tertulis kuliah di Unsrat lengkap dengan no induk kemahasiswaannya saat kuamati fotonya yang terlihat cupu banget iseng ku menoleh memperhatikan wajahnya apa sama dengan yang dikartu mahasiswanya. Ternyata ….aslinya lebih tampan dibanding fotonya.

“Kartu mahasiswaku asli lho… gak suka bohong.’’ Yakinnya seolah mengetahui keraguanku. Bibirku tersenyum tipis tidak, diriku tidak boleh tertipu. Siapa tahu kalau laki-laki ini punya maksud tertentu denganku sama seperti teman-temannya. Mobil masih melaju dijalanan yang basah hujan masih deras. Mobil yang dikendarai Digta memasuki area perumahan elite yang cukup kukenal agak kaget juga saat mobil akhirnya masuk kesebuah garasi kemudian berhenti. Dalam hati agak takjub, rumah ini begitu mewah bergaya arsitektur mediterania. Tapi tetap saja ragu-ragu untuk mengikuti langkah yakin Nora serta teman-temannya mengikuti teman laki-laki mereka baru mereka kenal. Aku terdiam di teras rumah cukup luas… tak berani masuk kedalam. Tak apa-apa menunggu disini sudah kuputuskan saat hujan berhenti akan pulang diam-diam tak peduli Nora serta teman-temannya. Tapi hujan masih deras sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 sudah cukup larut kalau sampai jam 10 belum pulang selain tidak ada angkot siap-siap saja menerima omelan kemarahan Tante Yul.  Memikirkan itu hatiku tambah cemas.

Search terms : romantis abg kencan dipantai pendek cerpen cerita cinta romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek cerpen romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek cerpen romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek cerpen romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek cerpen romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek cerpen romantis abg cari duit jual diri pendek cerpen romantis abg kencan sama om om pendek cerpen romantis abg kencan dipantai pendek romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan romantis pendek abg cari duit jual diri romantis pendek abg cari duit kencan

“Kenapa tidak masuk kedalam ?’’

Sebuah suara dibelakangku terdengar Digta muncul, kali ini nyala lampu neon yang cukup terang membuatku bisa melihat wujudnya jelas dan wow…sungguh ku tak bisa menampik Digta sangat keren seperti artis di TV,  mataku benar-benar terpesona. Tapi cepat-cepat kusembunyikan karena tak ingin Digta kegeeran.

“Tidak apa-apa disini saja… ”

“Ayo masuk kedalam, sepupumu kayanya enjoy banget…’’

“Tidak denganku…’’ potongku cepat bernada tidak suka. Digta menarik senyumnya sambil menatapku serius.

“Maksudmu..?’’

“Aku tidak suka bersenang-senang cara seperti ini kalau Nora mungkin iya tapi tidak denganku, tidak terbiasa kerumah orang tidak kukenal, aku gadis baik-baik.’’ tegas suaraku.

Digta menatapku masih dengan tatapan serius, “maafkan jika kata-kataku membuatmu tidak nyaman’’

“Aku mau pulang’’

“Tapi masih hujan deras..’’

“Yah tunggu hujannya berhenti..’’ selaku cepat. Kali ini Digta tersenyum lebar membuatku benar-benar ingin berteriak betapa menariknya cowok ini. Apa dia tak sadar kalau wajahnya tampan sekali apalagi senyumnya itu.

“Baiklah Key.. aku tahu apa yang ada dihatimu. Kamu pasti ketakutan juga kuatir. Tapi aku ingin kamu tahu diriku tidak seperti teman-temanku didalam sana. Mungkin karena aku cowok baik hingga dipertemukan cewek baik juga seperti kamu. Percayalah aku tidak berniat buruk sama kamu, kita temenan oke…’’ kata-kata Digta membuat hatiku agak terhibur.

“Aku akan bertanggung jawab penuh pada dirimu. Janji malam ini kamu aman asal kamu didekatku, oke… eit maksudku bukan dekat-denganku maksudnya.. aduh jadi bingung nih jelasinnya..’’ Digta garuk-garuk kepalanya. Melihat tingkahnya aku tersenyum kecil.

“Jujur seperti kata teman-temanku ini rumahku. Orang tuaku tidak tinggal dirumah ini mereka tinggal dikota lain karena usahanya tidak bisa ditinggalkan. Ketiga lelaki genit itu adalah teman-teman kuliahku beda fakultas. Kami sama-sama sudah tingkat akhir. Mereka tinggal denganku disini seperti anak kuliah lain, mereka kos dirumahku. Akukan harus bayar listrik serta air jadi hitung-hitung mereka membantuku. Kalau kamu mau masuk diriku akan menjadi Guide untuk kamu… ayo..’’ ajakan masuk Digta entah kenapa kuterima tiba-tiba saja diriku merasa nyaman serta aman bersamanya.

Saat melangkah masuk kedalam rumah besar itu mataku terperangah. Buset rumah semewah lagi besar ini punya Digta wow banget deh.

Di tengah-tengah ruangan yang mirip lingkaran itu ada kolam ikan lengkap ada taman bunga juga air mancur kecil menambah asri rumah ini. Langkah kami menuju keruang belakang, kupikir dapur ternyata halaman luas tersambung dengan kolam renang dihiasi lampu taman warna warni benar-benar seperti rumah-rumah pada disinetron deh. Ruang makannya begitu elegan. Saat menatap keanak tangga ukir ada disamping kiri ruangan berdinding kaca itu hatiku penasaran.

“Itu ruangan pribadiku alias kamarku tempat belajarku dan semua aktifitasku ada dikamar itu..’’ cetus Digta seperti menjawab rasa penasaranku. “Ayo… ” ajaknya mulai menaiki tangga. Langkahku terhenti keraguanku menyelimutiku, gimana kalau sampai dikamarnya dia … ???? aku mulai berpikir buruk.

“Hmmm… kan sudah kubilang tadi tidak akan melakukan hal buruk padamu.masih kurang yakin.? Atau begini saja, kamu naik sendiri keatas kusiapin minum oke…. ” kata-kata Digta membuatku menganguk cepat. Digta melangkah kearah dapur lalu kakiku mulai menaiki tangga menuju lantai atas kamar Digta. Dan apa kutemui dilantai atas membuatku kembali terkejut. Ruangan pribadi kamarnya Digta sangat luas. Ruangan bernuansa biru muda itu terlihat sangat nyaman, disudut kiri satu set  meja belajar lengkap serta rak buku hampir seluruhnya dibangun pada dinding ruangan penuh buku-buku kedokteran. Ada alat-alat olahraga seperti satu set perangkat barbel tergeletak dilantai beralaskan karpet berwarna biru. Ada tempat tidur besar serta bantal-bantal besar diatasnya. Seolah memanggilku untuk rebah disana…eit itu tidak boleh terjadi. Ditengah-tengah ada sofa kecil tempat bersantai dengan tv besar lengkap dengan permainan Nintendo. Lebih menambah kesan mewah lagi keseluruhan dinding menghadap ketaman depan rumah semuanya terbuat dari kaca lalu ditutupi gorden jendela berwarna putih. Disini mataku bisa melihat butiran hujan masih saja turun membasahi bumi. Digta anak orang kaya, sepertinya diriku lupa kebanyakan mahasiswa kedokterankan memang orang-orang kaya.

Apa pada Digta begitu sempurna, anak orang kaya, ganteng, calon dokter. Suasana semakin terasa sendu saat suara penyiar dari Radio memora menyiarkan bacaan kiriman puisi puisi cinta diselingi lagu-lagu romantic beuhhhh….benar-benar deh. Kusibakkan sedikit gorden jendela sekedar menikmati hujan oh bukan-bukan sekedar melihat apa hujan sudah berhenti atau belum.

“Ini minumannya..’’

Kagetku berbalik Digta ada didepanku ditangannya terdapat dua kaleng cola belum dibuka.’’ Sengaja tidak kubuka, nanti pikiranmu jadi jelek lagi..’’

“Koq kamu tahu..!’’

“Yah sekarangkan banyak kejadian minuman dikasih obat makanya biar aman kamu buka sendiri..’’

“Sebenarnya tidak berpikir begitu tadinya, tapi karena ingat kamu mahasiswa kedokteran yah kepikiran juga..’’ selaku sambil duduk disofa, membuka minumanku dan meneguknya pelan. Digta juga melakukan hal sama duduk didepanku.

“Kamu SMA jurusan apa?’’

Ups… hampir ku tersedak aduh jurusan apa yah koq gak kepikiran akan ditanya seperti itu. Tunggu mikir dulu.

“Eh… jurusa IPA…’’ jawabku asal-asalan.

“Wah bagus tuh, rencananya lanjutin kemana ? ”

“Kalau bisa sama kaya kamu” ucapku lagi asal-asalan.

“Hmmm … bolehlah asal belajar keras biar bisa lulus tes.’’

“Kamu umur berapa ? 17 yah ?”

“Eh… iya ..’’ jawabku lagi berbohong.

“Aku 24.. sudah tua yah?’’

Ya iyalah bagiku ketuaanlah aku saja masih 14 tahun jiah….beda 10 tahun….Lagian aku masih kelas 3 SMP…

Hampir saja mulutku tertawa, dalam hati merasa berdosa juga sudah berbohong. Lagian juga kalau jujur ntar dianggap anak kecil lagi.

“Digta…maafin yah sudah berprasangka buruk sama kamu.. sungguh tidak mau kamu menganggapku sama kayak Nora. Diriku juga tidak menyangka kalau Nora bisa berubah jadi seperti ini..’’ ucapku akhirnya.

“Memangnya sepupumu sekolah di mana?’’

“Di SMEA Perguruan…”

“Pantas… ”

“memang kenapa SMEA itu ?’’

“Iya juga sih hanya mendengar dari teman-teman saja. baru kubuktikan sekarang.”

“Ah.. benar-benar sangat malu..’’ keluhku tertunduk lesu.

“Key.. saranku kalau boleh kamu jangan bergaul pada Nora juga teman-temannya. Walau sepupumu tapi itu sama saja menjerumuskanmu. Iya sekarang dapat laki-laki sopan kayak aku, kalau nanti…’’

“Sudah kufikirkan sejak tadi Digta…  jujur sama sekali tak menyangka ceritanya akan seperti ini. ”

“Janji pada dirimu sendiri yah… oh yah dan jangan panggil Digta panggil Digi aja oke ”

Kepalaku menganguk pelan, entah kenapa pembicaraan dengan Digta membuka cakrawala baru dalam alam pemikiranku. Diam-diam hatiku mulai mengagumi Digta.

Malam itu kami pulang diantar Digta dan teman-temannya dan siapa sangka sudah pukul jam 12 malam. Hatiku sudah ketakutan akan disambut kemarahan hebat oleh Tante Yul tapi jauh dalam hatiku timbul rasa senang bisa berteman dengan Digta. Walau umurnya jauh diatasku. Digta memberiku nomor telpon genggamnya. Jamannya waktu itu ponsel masih satu-satu itupun keluaran Nokia serta Motorola kalau gak salah. Dijaman seperti itu Digta sudah menggunakan ponsel ckckckc… benar-benar deh.

Untunglah dirumah tante Yul ada telpon rumah jadi iseng kuberikan nomornya Digta sambil tak berharap dia menelpon. Itulah pertama kali bertemu dengan Digta mahasiswa kedokteran tingkat akhir. Akujuga tak membahas masalah Nora lagi karena sudah terlanjur malas pada sikapnya begitu juga teman-temannya. Walau begitu mereka sering menggodaku terlibat hubungan semalam bersama Digta. Dan itu kubantah mati-matian karena memang tidak seperti itu.

Dan cerita singkat tentang hubunganku dengan si calon dokter berawal disini perkenalan kami dimalam itu membawa kami pada cerita unik. Beberapa hari kemudian Digta mencariku di rumah tanteku.

Sayangnya aku sudah kembali ke kotaku, terkadang jika iseng kutelpon sekedar menanyakan kabarnya. Jika menerima telponku walaupun singkat Digta terlihat tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dari suaranya terdengar ceria juga penuh harap. Diapun meminta alamatku lalu kami mulai berkirim surat, sebulan surat Digta bisa 3 kali datang menceritakan tentang kegiatan-kegiatannya praktek dirumah sakit, menceritakan tentang perasaan-perasaannya serta mengatakan sangat rindu ingin bertemu. Terkadang aku malas-malasan membalasnya karena selain karena dalam persiapan ujian akhir tingkat SMP aku juga harus menyembunyikan surat-surat itu karena takut ketahuan Mama. Dia pasti marah besar kalau mengetahui diriku mulai belajar pacaran sama mahasiswa berusia jauh diatasku. Sudah bisa kubayangkan bagaimana rupa Mamaku kalau marah. Suatu ketika sama sekali tidak kubalas suratnya itu bukan karena sengaja melainkan karena sedang ujian mid-semester sebelum ujian akhir. Jadi diriku benar-benar tidak punya waktu ditambah lagi kami harus pindah rumah karena rumah lama sudah dijual Mama akibat kehabisan biaya untuk mencukupi hidup kami berempat.

Kamipun menyewa tanah agak ke perkebunan tapi masih satu kawasan dengan rumah lama, lalu membangun rumah sederhana. Walau sedih tapi hatiku agak terhibur karena lokasi tanah kami ada beberapa pohon buah seperti buah jambu air, mangga juga rambutan. Kami memutuskan untuk membuat tempat duduk dari bambu dibawah pohon jambu air rindang sekedar tempat kami bersantai. Tempat ini menjadi tempat faforit kami disaat itu. Kami bisa bermain dan berteduh dari panasnya cuaca dibawah puhon jambu itu. Suasananyapun sangat nyaman.

Suatu siang saat baru pulang sekolah ditengah panas teriknya cuaca, diriku pulang sambil benyanyi-nyanyi. Maklum jarak sekolah dengan rumah hampir 2 KM harus jalan kaki ditengah terik panas matahari. Dengan seragam putih biru, seragam anak SMP. Dijalan raya nyanyian keluar dari bibirku agak pelan tapi saat memasuki jalan kearah rumahku dikomplek jalan perkebunan sepi aku mulai teriak –teriak jika menyanyi. Lagian siapa peduli jika menyanyi teriak-teriak. Palingan juga didengar Mamaku. Mama tidak akan pernah protes dengan suaraku walau bunyinya seperti kaleng. Suara nyanyian cemprengku terhenti saat memasuki halaman rumah hmmm…ada tamu rupanya. Ada sebuah mobil open kap putih model kijang terparkir dihalan rumah. Ini pasti tamu Mamaku tamu siapa lagi…saat tiba didepan pintu rumahku aku menyapa “siang …’’ tapi tak ada yang menyahut. Aku celingak-celinguk melihat tamu siapa didalam ruang tamu tapi gak ada siapa-siapa. Tiba-tiba muncul Mamaku yang membawa nampan dengan gelas berisi sirup lemon dingin.

“Ini bawa keluar ada tamu yang mencarimu, katanya temanmu dari kota Satu..’’

“Teman…siapa Ma ? ” tanyaku heran.

“Mana Mama tahu lihat saja sendiri, pokoknya tadi dia bilang teman baik kamu ayo sana sudah sejam lho dia menunggu ”

Aku bergegas membawa nampan berisi minuman kebawah pohon jambu, pinter juga nih tamu milih duduknya, gak sia-sia deh kami membuat bangku bambu itu. Dengan rasa penasaran ingin tahu siapa irang yang mencariku tanpa mengganti pakaian langsung kubawakan minuman itu. Baru saja 3 langkah tiba dibawah pohon jambu jantungku tersentak kaget, lututku tiba-tiba lemas saat tahu siapa dia. Hampir  saja nampan berisi minuman ditanganku jatuh ketanah. Lebih kaget lagi saat menatap ekspresi Digta, yang juga melongoh tak bisa menyembunyikan kekagetannya.

“Kamu ! ” dia menunjukku dengan telunjuknya seolah tak percaya melihatku, dan diriku belum menyadari kenapa dia kaget melihatku.

“Aku ! aku kenapa ? “tanyaku bego. Digta menepuk dahinya tak sadar.

“Astaga Key… Yah Tuhan kamu masih SMP ?’’

Kali ini diriku langsung mengerti dengan kekagetannya. Aku akhirnya mengangkat bahuku pasrah dengan keadaan tak bisa lagi kusembunyikan. Lupa dulu sudah berbohong padanya kalau diriku anak SMA, sudah kepalang basah lagian juga kupikir tak ada alasan membohonginya lagi. Aku segera meletakkan nampan dibangku, langsung disambut Digta kemudian meneguknya sampai habis. Setelah agak tenang dia menatapku dalam-dalam dan meraih tanganku. Diriku masih belum mengerti membiarkannya menggenggam tanganku erat.

“Yah Tuhan Key kenapa aku bisa jatuh cinta pada anak SMP seperti kamu?’’ ucap Digta serius. Kali ini aku melongoh. Jatuh cinta apa itu ? semacam permen atau coklatkah ? dari majalah atau komik, jatuh cinta berarti cowok suka alias naksir alias simpati. Diumurku masih 14 masih terlalu asing pada kata cinta. Aku hanya menikmati rasa suka jika melihat cowok ganteng atau keren atau istilahnya cool dalam pandanganku. Begitu juga Digta aku suka melihatnya tapi kalau jatuh cinta seperti diungkapkannya padaku diriku belum mengerti.

“Maksud kamu apa Digi ?’’

“Maksudnya menyukai Key dengan amat sangat, sukanya berlipat-lipat.’’ ujar Digta lagi. Kali ini kepalaku manggut-manggut, Digta menyukaiku sangat menyukaiku.

“Apa Key juga suka Digi…?’’ Tanya Digta lagi. Kali ini kepalaku menganguk lagi.

“Apa Key mau pacaran dengan Digi ?’’

“Memangnya boleh ?’’ Tanyaku bloon. Kali ini ada acakan lebut diponiku. Digta tertawa kecil, “memang kenapa gak boleh ?’’

“Hmmmm… Digi ganteng, juga kaya, keren, emang mau pacaran dengan anak SMP seperti aku, jelek dan orang miskin.’’ tambahku lagi. Digta menarik daguku membuatku menatapnya dalam-dalam.

“Digi gak peduli dengan semua itu, Digi terlanjur sayang sama Key. Pertama kali bertemu sudah suka, melihat Key cemberut, Key polos serta begitu lugu. Digi gak peduli asal Key mau menerima Digi apa adanya itu sudah cukup. Karena itulah Digi kemari kalau gak bertemu Key Digi bisa gila.’’ ucapan Digta terlihat sungguh-sungguh bahkan serius.

Terlihat sekali kerinduan dimatanya. Waktu itu rasanya tak percaya seorang mahasiswa tingkat akhir jatuh cinta dengan seorang anak SMP. Pertemuan saat itu menjadi awal hubunganku dengan Digta, bahkan boleh berlega hati karena Mamaku langsung tahu bahkan kelihatan setuju akan hubunganku pada Digta meski wanti-wanti agar Digta tidak boleh berbuat macam-macam padaku. Itupun disanggupi Digta yang dengan berani berjanji didepan Mama untuk menjagaku.

Hubunganku berjalan cukup lama dengan Digta sampai diriku SMA kelas 3, sedangkan Digta sudah menjadi dokter umum. Saat Digta melanjutkan spesialis Bedah di Luar negeri akupun kehilangan kontak lalu putus hubungan sampai saat ini.

Diriku sudah sibuk dengan masa-masa akhir SMA benar-benar harus konsentrasi pada pelajaran sekolah. Ditambah kesibukanku mengurus adik-adikku juga Mama sakit-sakitan, benar-benar tidak punya waktu untuk membalas surat-surat Digta. Lalu nama Digta seolah hilang dari pikiranku.

Selesai SMA harus kuurungkan niat kuliah karena mamaku belum bisa bekerja. Terpaksa cuma ikut kursus Bahasa Inggris serta Komputer selama 6 bulan setelah itu melamar kerja di sebuah perusahan ikan cukup besar di kotaku. Sukurlah dari sekian banyak pelamar, diriku bisa diterima bekerja pada bagian produksi.

Capek memang karena harus berdiri selama 10 jam setiap hari untuk mengepak ikan kaleng, tapi diriku harus bekerja untuk membiaya mama juga adik-adikku sekolah. Jadi kisahku dengan Digta hilang tak berbekas. Masuk tahun ke tiga bekerja, aku ditarik ke kantor perusahan entah karena bahasa inggrisku lancar atau komputer diberi jabatan staf accounting. Kehidupan keluargaku kini bisa dipenuhi, adik-adikku bisa sekolah tenang, Mamaku bisa rutin periksa ke dokter. Masuk tahun ke 7 diriku diangkat menjadi supervisor, sore hari nya aku mengambil kuliah jurusan akutansi. Tepat masuk tahun ke 11 bekerja, diriku dipromosikan sebagai manajer keuangan sekaligus di wisuda menjadi sarjana ekonomi.

Saat ini aku bisa menarik nafas lega karena adik-adikku berhasil menjadi sarjana lalu mendapat pekerjaan berkat jerih payahku. Tak ada waktuku untuk bersantai, bahkan pacaran pun selalu gagal karena kesibukanku diperusahan dan keluargaku.

Usai pernikahan adik bungsuku Mamaku berpulang. Hatiku tahu mama pergi dengan membawa kebanggaannya padaku. Pesan terakhirnya masih kuingat jelas “Key sekarang saatnya kamu memikirkan hidupmu, adik-adikmu sudah berhasil, mandiri,  semua karena jerih payahmu, pengabdianmu pada keluarga sungguh luar biasa. Mama bangga sekali padamu Key. Sekarang mama bisa pergi dengan tenang”

Yah itulah pesan terakhir Mama. Saat ini disaat umurku memasuki 30 tahun, aku sudah bisa menarik nafas lega, ketiga adikku sudah menikah. Mereka sudah tinggal dirumah masing-masing. Sementara diriku masih tinggal dirumah pertama kami. Rumah itu kubeli beberapa tahun lalu. Rumahpun sudah direnovasi menjadi lebih besar mengingat adik-adikku suka datang berlibur dirumah disaat senggang mereka dengan keluarga mereka. Mungkin terlalu banyak kenangan tersimpan dirumah ini hingga tak bisa kubiarkan kenangan itu berlalu. Dengan menjaga rumah ini aku mungkin akan menjaga kenangan kami hingga anak cucu.

“Mama Key…’’

Ups.. sebuah sentuhan lembut terasa didaguku, aku terlengak kaget melihat Luna ponakanku menyentuh daguku.

“Luna gimana udah baikan ?’’

“Udah Mama Key kata Ibu Dokter Luna kecapean dan gak sarapan jadi gak boleh kalo gak sarapan..’’ ucap Luna polos. Kutatap adkku Billi “Iya iya aku tahu, aku teledor tadi soalnya tadi ada meeting mendadak dikantor..’’ yang ditatap terlihat bersalah.

“Ini sudah sering terjadi, teguran terakhir buat Papa’’ Yona mulai mengomel.

“Sudah sudah jangan bertengkar, lain kali kalau ada kejadian kaya gini lagi telpon saja biar aku ngurusin Luna.’’ Selaku. Bilii dan Yona terdiam.

“Kami pulang dulu Kak…’’

“Iya Mama Key,Luna pulang dulu yah’’

Aku berjongkok didepan Luna dan mengecup pipinya lembut, “Luna istirahat yah makan banyak biar cepat sembuh, kalo Luna butuh apa-apa telpon Mama Key yah”

“Iya Mama Key..’’

“Kak kami pamit dulu yah.’’ Pamit Billi.

“Iya hati-hati yah, Yona kalau kamu sibuk jangan sungkan telpon Kakak kalau Cuma jagain Luna kakak masih bisa ok’’ ingatku.

“Iya Kak… jadi gak enak sama kakak sudah banyak merepotkan’’

“Huss.. kita keluarga jangan pernah keluarin kata-kata seperti itu..’’

“Maaf kak…’’

“Yah sudah kalian pulang kasian Luna dia harus istirahat ”

Billi dan keluarganya beranjak pergi tinggalah aku termangu sendiri. Kembali saat mataku menatap para dokter lalu lalang di depanku satu nama kembali terbersit dalam benakku. Digta… apa kabarmu sekarang ? …. Sudah berapa anakmu sekarang ?… hahaha pertanyaan-pertanyaan konyol lagian ini sudah bertahun-tahun. Keberadaannyapun sudah tak kuketahui… ah sudahlah. Semua cuma masa laluku. Bunyi nada sms masuk diponselku terdengar saat ku buka… yah ampun aku baru ingat ada meeting dengan perusahan dari Jepang sekarang. Sambil berlari kecil aku melangkah menyusuri koridor rumah sakit, saat aku mau berbelok kearah gerbang keluar tiba-tiba. Bruuukkkk… kurasakan bahuku kiriku tertabrak keras tubuhku limbung aku hilang keseimbangan tak ada tempatku berpegang ketika aku sudah pasrah akan jatuh sebuah tarikan kuat memaksa tubuhku kembali tegak, aku sempoyongan tapi tubuhku tidak jatuh. Oh tanks God aku berseru dalam hati.

“Anda tidak apa-apa Nona? “Sebuah teguran terdengar bernada cemas membuat aku menoleh kearah datangnya suara.

“tidak …tidak apa-apa… terima…’’ kata-kataku tiba-tiba terhenti saat menyadari wujud pegurku. Pegangan dilengan kirikupun belum lepas. Sosok didepanku menatapku penuh kejut begitu pula diriku. Tatapan mata pernah kulihat beberapa tahun lalu, aku masih belum lupa tapi.

“Ayo Dokter kita sudah ditunggu.’’ Sebuah suara ternyata dari seorang dokter wanita terdengar didekat kami. Pegangan dilenganku terlepas tapi mata tidak asing itu masih menatapku penuh tanya.

Cepat-cepat aku berbalik dan melangkah terburu-buru keluar gerbang. Sampai di parkiran aku bisa menarik nafas lega… tatapan itu … tatapan itu milik Digta tidak salah lagi itu Digta…

Aku mencoba menenangkan degub jantung begitu kencang dalam dadaku. yah Tuhan kenapa bisa bertemu disini atau aku bego sudah tahu juga dari dulu dia dokter. Tapi dia masih sama, masih penuh pesona, masih penuh karisma… tak sadar kupegang bekas pegangannya dilenganku. Hangatnya masih meresap ah kupejamkan mataku mencoba mengusir kejadian barusan. Tapi tetap saja memenuhi otak kecilku. Buru-buru kuraih kunci mobilku membukanya. Tubuhku baru saja mau masuk kedalam ketika sebuah tangan menahan pundakku. Diriku berbalik terkejut. Lebih terkejut lagi saat tahu di depanku Digta sedang berdiri.

“Key aku tidak punya waktu untuk berlama-lama bicara denganmu. Kamu masih berhutang banyak penjelasan padaku. Aku ada pertemuan dengan pihak RS mereka sedang menungguku sekarang. Ini kartu namaku telfon aku secepatnya..’’ sebuah kartu diselipkannya di tanganku lalu bergegas pergi. Diriku terduduk lemah didalam mobilku sambil menatap kartu nama di tanganku. Dr. Digta Ramayana ahli bedah Jantung. Ada dua nomor telfon disana satunya GSM satunya CDMA. Lama aku termenung ketika ponselku berbunyi lagi cepat-cepat kumasukan kartu nama itu kedalam tas lalu langsung tancap gas.

Walaupun meeting dengan pihak perusahan Jepang mencapai kesepakatan bagus berupa penandatanganan kontrak kerja sama untuk 2 tahun kedepan, tetap saja kejadian tadi masih sangat mengusikku. Bayangan Digta masih mengganggu, kuraih tasku lalu mengambil kartu nama tadi. Telpon jangan yah ? kebimbangan mewarnai hatiku, rasa gengsi menahan tanganku untuk menekan tombol diponselku. Hmmm bagaimana kalau kucari lewat facebook saja. Hmm…ide yang bagus.. aku mulai iseng membuka pencarian orang di akun facebook tapi nama Digta tidak ada ada sih tapi bukan dia aku juga mencarinya dengan awalan Dr dinamanya tetap saja nihil.

Tiba-tiba aku ingat nama kecilnya dan…. Ini dia ternyata dia memakai nama kecilnya. Yang pertama kubuka tentu saja profilnya baru kemudian foto-fotonya untung saja dia tidak mensetting facebook dengan privacy jadi aku bebas membuka foto-fotonya. Kebanyakan fotop-foto diluar negeri dia bersama teman-temannya. Sepertinya dia cukup terkenal disana, ada foto-foto penerima penghargaan, tapi tak ada satupun foto dia bersama pacar atau istrinya. Hmmm….apa dia sengaja tidak menampilkannya yah ? yang ada hanyalah kalimat copy paste tentang seorang wanita yang dirindukannya hmmm… siapa wanita itu? Beruntung sekali dia bisa membuat Digta merindukannya. Aku jadi malas saat memikirkan ada wanita lain yang dirindukannya. Aku bergegas ingin menutup halaman profilnya ketika pesan di facebook masuk.

“Sudah puas melihat profilku, foto-fotoku kenapa belum menelponku ? beritahukan nomormu biar aku telpon “

Ups… aku mendekap bibirku tak percaya, sialan laki-laki ini hobby dunia maya juga dia.

“Kenapa diam ? ” ada emoji bergambar jengkel yang muncul.

“Suamiku pencemburu, takut dia melihat nomor tidak dikenal di HP ku soalnya dia suka sekali memeriksa ponselku.’’ balasku akhirnya.

“Ohh … begitu yah ternyata kamu suka tipe yang cemburuan… ”

“Aku sibuk kita lanjut lagi nanti.’’ Balasku.

“Terima pertemananku aku ingin melihat foto suamimu apa dia seganteng aku atau tidak ”

“Geer sekali kamu… yah tentu saja lebih ganteng dari kamu…’’

“Kalo begitu buktikan dengan menerima add friendku cepetan ”

“Enggak ah.. suamiku juga sering periksa Facebookku’’ lanjutku.

“Oke kalo begitu… semoga kita bisa bertemu lagi. Bye..’’

Ups… aku yang kaget…apa??? …koq jadi kebalikan sih dia yang off ninggalin aku. Sialan benar dia… huuu gemes sekali aku. Tapi salahnya aku juga sih ngebohongin dia aku yang jadi jengkel sendiri. Sombong sekali laki-laki itu. Sebal aku meraih tas tanganku dan beranjak keluar kantor sambil meninggalkan pesan aku sudah pulang karena tidak enak badan. Rasa jengkelku terbawa sampai kerumahku ah sialan benar laki-laki itu kenapa bayangnya tidak mau beranjak sedikitpun dari benakku. Kupejamkan mataku mencoba mengusir bayangan Digta dari pikiranku. Tapi sia-sia saja bukannya pergi malah semakin merasuki pikiranku. Tidak-tidak aku harus menyibukkan diriku melakukan sesuatu untuk membuat dia pergi dari otakku. Kalau sudah begini aku paling suka pergi ke sebuah ruangan, ruangan itu sebenarnya kujadikan sebuah gudang tempat aku menyimpan barang-barang kesayanganku dulu. Semuanya masih ada mainanku dari sd, buku diariku dari smp, surat-surat cinta termasuk yang dikirim Digta, foto-foto lama keluarga, semua kisah ada diruangan ini. Bahagia dan sedihku ada disini karena itulah disaat aku punya masalah atau lagi pusing dengan pekerjaan kantor aku suka menyendiri diruangan ini. Foto-foto keluarga juga masih sengaja kugantung disini. Entah kenapa berada diruangan ini menenangkanku. Hampir dua jam aku ada diruangan ini saat aku keluar ruangan hari mulai gelap. Sebuah pesan masuk keponselku. Pesan dari facebook lewat masenger.

“Sampai berapa lama aku harus menunggumu untuk keluar dari rumahmu, aku mulai digigit nyamuk disini..’’

Ups… ini dari Digta dan… apa ! dia ada disini ! sejak kapan ?

Aduh kutepuk jidatku keras. Aku tak bisa berbohong lagi ternyata dia masih hafal rumahku. Padahal sepuluh tahun terakhir ini pembangunan dikompleks ini maju dengan pesat tidak lagi ditemui perkebunan sekarang kawasan ini sudah penuh dengan rumah jalanpun sudah beraspal. Kawasan ini sudah menjadi komplek perumahan. Satu yang tak berubah dari rumah ini, pohon Jambu airnya masih ada batang pohonnyapun sudah sedemikian besar, tapi aku sudah memperbaiki tempat duduknya menjadi kayu agar nyaman diduduki.. ada taman kecil yang kubuat dengan telaga ikan di dekatnya dan gazebo kecil, ada tiga lampu taman yang kutaruh disitu agar kalau malam suasananya bisa terang dan sesekali bisa bersantai disitu. Aku melangkah keluar dengan ragu, disana aku melihat Digta masih dengan seragam dokternya duduk dan menatapku yang mendekat. Aku duduk dengan ragu disampingnya.

“Tempatnya semakin bagus…’’ desisnya pelan.

“Hmm… begitulah ”

“Penyakit suka bohongmu belum hilang juga ”

“Itu untuk perlindungan diri ”

Digta tertawa keras, “dan sudah pinter bicara “.

“Oh come on Digi ini sudah sebelas tahun lewat kamu menghilang…’’

“Menghilang kamu jangan mengada-ngada Key bukannya kamu yang sudah tidak mau berhubungan dengan aku lagi ”

“what ! siapa yang bilang ?’’

“Dalam suratmu yang terakhir kalau tidak salah kamu sudah lulus SMA…’’

Aku tercenung tunggu, nanti dulu, surat terakhir… setelah lulus SMA bukankah waktu itu aku tidak mengirim surat lagi pada Digta. Tunggu jangan-jangan….. Mama jangan-jangan ? aku menarik nafas berat.

“Maafkan aku mungkin itu Mamaku ”

Digta tercenung… “itu tidak penting lagi bagiku Key yang terpenting bagiku sekarang adalah mengetahui keberadaanmu baik-baik saja dan aku sangat merindukanmu. Karena itulah aku mengatakan padamu kamu masih berhutang banyak penjelasan padaku. Tapi sudahlah Key itu sudah berlalu. Tak perlu menyalakan siapa-siapa dalam hal ini “tidak tidak Digta aku tak akan mungkin menyalahkan Mamaku karena apapun yang Mamaku perbuat itu untuk kebaikkanku jika Mamaku tidak mengambil inisiatif itu mungkin hidupku tak akan seperti saat ini, mungkin adik-adikku tak akan bisa sekolah dengan baik dan mungkin kita masih berhubungan tapi sudah lama putus.

“Alasan kenapa aku tidak bisa bicara denganmu tadi diparkiran karena aku sedang mengadakan pertemuan dengan pihak rumah sakit. Mereka menawariku pekerjaan dirumah sakit mereka, tawarannya sangat menarik. Karena itulah aku butuh jawabanmu Key ”

“Jawaban, jawaban apa Digi ?’’

“Aku ingin kamu ada disisiku dimasa-masa sulitku dan dimasa-masa bahagiaku Key… aku kembali karena kamu. Dan tidak ada alasan aku bertahan di kota ini kalau tidak karena kamu…’’

Kutatap Digta lekat mencoba mencari kesungguhan dimatanya, dan dimatanya masih ketemukan tatapan itu, tatapan disaat dia duduk di bangku bambu di bawah pohon ini 14 tahun yang lalu disaat masa SMP ku. Tatapan seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan anak SMP.

“Aku masih jatuh cinta padamu Key dulu dan sampai saat ini… tak banyak yang bisa kuungkapkan padamu saat ini… ah Key aku benar-benar sangat merindukanmu…’’

“Tapi kamu tidak pencemburukan Digi ?’’

“Sedikit, kalau kamu melihat laki-laki lain tentu aku akan cemburu…’’

“Tidak memeriksa ponselku, Facebookku ?’’ ulangku lagi. Digta menggeleng mantap….

“Baiklah… aku setuju.’’ Ucapku akhirnya.

“Setuju apa ?’’

“Yah yang kamu bilang tadi menemanimu dalam suka dan duka…’’

“Kamu yakin ? ’’ tanyanya lagi. Aku menganguk mantap… Digta merengkuhku dalam pelukannya. Jika kutemukan bahagia seperti ini apa lagi yang kucari semua lengkap sudah walau akhirnya harus kusadari kalau menjadi istri Digta ternyata tidak mudah. Ponselku tak pernah lolos sensor, setiap mau tidur kalau teringat pasti dia akan memeriksa, woahhhhhhhh… facebookku apalagi kecuali teman-teman kantorku yang laki-laki diapusin semua… woahhhhhhhh… tapi aku tetap saja senang karena cintanya tak pernah berkurang aku bahkan suka ponselku diutak atik, facebookku diacak-acak aku suka dengan semua yang dilakukannya. Karena aku mencintainya sama seperti dia mencintaiku… terimakasih Tuhan terima kasih Mama.


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerpen cinta romantis remaja. Semoga cerita diatas bermanfaat dan dapat memberi inspirasi serta motivasi bagi pembaca sekalian. Salam sukses.

Save

Save

Save

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait