Haruskah Aku Mencintainya

cerpen remaja hamil di luar nikah

Cerpen remaja hamil diluar nikah Haruskah aku mencintainya tentang seorang gadis kaya terpaksa menikah dengan anak sopir karena sudah terlanjur hamil akibat perbuatan kekasihnya. Ini bukan sekedar cerita pendek, tapi sering terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak pada cerpen remaja berikut.

Cerpen Remaja – Haruskah Aku Mencintainya

“Kamu harus menikahinya, Le.” Ucapan Bapak tadi sore benar-benar mengagetkanku. Bagaimana Bapak bisa menyuruh aku untuk mau menikahi Mbak Mila, anak Pak Suryo majikan Bapak. “Apa kamu nggak kasihan sama Mbak Mila, Le?” Tanya Bapak. “Justru Bapak yang nggak kasihan sama aku Pak.” Kali ini aku sangat kesal dengan permintaan Bapak. Masak aku suruh menikahi Mbak Mila, yang jelas-jelas hamil sama pacarnya yang sekarang kabur entah kemana.

“Apa kamu nggak kasihan sama Pak Suryo dan Bu Suryo yang selama ini membantu kita?” Lagi-lagi Bapak mendesakku untuk mau menuruti permintaannya. “Maaf kali ini aku nggak bisa Pak.” Ucapku sambil berlalu pergi. Sementara Bapak masih terus memanggilku. Tapi aku tak peduli, bagaimanapun aku juga manusia yang punya cinta. Apa mungkin menikah tanpa cinta, lalu bagaimana dengan kehidupan pernikahanku nanti. Sementara aku ingin dalam hidupku cuma menikah sekali seumur hidup. Walaupun saat ini belum punya pasangan, tapi ku yakin suatu saat akan bertemu dengan gadis idamanku. Dan ku lamar untuk jadi istri dan ibu dari anak-anakku.

Sampai menjelang maghrib, diriku masih duduk di pinggir sungai kampungku. Terus terang hatiku bingung, walau bagaimanapun keluargaku telah banyak hutang budi sama Pak Suryo, walaupun Bapak hanya sopir di keluarga mereka, tapi aku bersyukur sudah dibiayai sampai kuliah begitu juga adikku.

Aku sangat menghormati Pak Suryo. Bahkan dalam hati berjanji suatu saat akan membalas kebaikan mereka. Tapi haruskah dengan cara seperti ini ? Ah, aku sangat pusing memikirkannya

Sementara sosok Mbak Mila adalah seorang cewek manja, urakan bahkan cenderung nakal, pergaulannya terlalu bebas. Tiap hari dia selalu pergi ke diskotik. Bahkan tak jarang dia pulang dalam keadaan mabuk. Aku menghela nafas sambil membayangkan sosok Mbak Mila. Bagaimana mungkin istriku adalah sosok seperti Mbak Mila. Benar-benar nggak habis pikir.

Sebentar kemudian terdengar suara adzan Maghrib, lalu aku bergegas pulang untuk mandi dan sholat. Sehabis sholat, kulihat Bapak sama Ibu duduk ngobrol sambil minum teh. Bapak melihatku, seolah tahu dengan kegelisahanku. ” Bud, sini Bud.” Aku segera bergabung dengan Bapak Ibu. Lagi-lagi Bapak kembali memintaku untuk bersedia menikah dengan Mbak Mila.

Dan obrolan kami terhenti ketika ada suara mobil berhenti di depan rumah. Betapa terkejutnya kami karena yang datang Pak Suryo serta Bu Suryo dan Mbak Mila

“Bud, pasti kamu sudah diberitahu Bapakmu tentang maksud saya datang ke sini.” Aku mengangguk, entah mengapa kalo dihadapan Pak Suryo hatiku begitu segan. “Lalu bagaimana jawabanmu?” Waduh harus ku jawab bagaimana ini. Keringat dingin membasahi keningku. Kulirik Mbak Mila, dia tampak cuek dengan perutnya yang besar. Aku menghela nafas panjang, dan aku harus mengambil keputusan besar dalam hidupku.

Pak Suryo tampak tahu dengan kegelisahanku. “Sebelumnya Bapak minta maaf ya Bud, kalau membuatmu bingung. Tapi Bapak minta tolong sekali kamu mau menyetujui pernikahan ini. Karena Bapak yakin kamulah orang yang cocok untuk Mila, kamu bisa jadi imam bagi dia. Dan ini bukan pernikahan main-main, semoga Mila bisa jadi istri kamu yang baik.” Dan kata-kata Pak Suryo begitu menyentuhku. Tiba-tiba diriku sadar, mungkin ini memang jalanku, ku yakin bahwa semua ini sudah takdirnya. “Saya bersedia Pak.” Akhirnya ku terima permintaan itu. Kulihat Bapak dan Ibu tersenyum lega begitu juga Pak Suryo dan Bu Suryo.

Seminggu kemudian pernikahan di gelar secara sederhana, hanya keluarga dan beberapa tetangga dekat. “Sekarang kita sudah menikah, walaupun ku tak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Ku harap kita bisa bahagia dalam pernikahan ini.” Ucapku pada Mila.

“Aku menikah sama kamu itu terpaksa, karena Papa akan mengusirku kalau nggak mau menikah sama kamu. Jangan harap kita akan menemukan kebahagiaan.”

Aku benar-benar terkejut dengan ucapan Mila

“Ingat, kamu hanyalah anak sopir Papaku.” Ucapnya sambil berlalu dariku. Ingin rasanya tanganku menampar dia, tapi bagaimanapun dia adalah istriku.

Hari demi hari berlalu, dan kami menjalani pernikahan sandiwara, Mila bersikap baik terhadapku hanya di depan orangtuanya, selebihnya dia tak pernah menghormatiku. Beruntung aku sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, jadi aku masih punya harga diri.

Hingga akhirnya tiba saatnya dia melahirkan. Sebelumnya Mila menolak saat aku mau mengantarnya ke rumah sakit. Tapi berhubung saat itu rumah dalam keadaan sepi, akhirnya dia mau aku antar.

“Bapak suaminya?” Tanya Dokter. Aku mengangguk. “Bapak boleh masuk ke dalam, silakan beri semangat istri Bapak.” Walaupun sempat ragu, akhirnya masuk juga.

Di dalam Mila sudah kesakitan, dia melihatku sepertinya tidak suka melihatku masuk ke dalam. Rupanya kontraksi rahimnya semakin kencang, dan bidan memberi aba-aba padanya untuk mengejan. Dia pegangi tanganku erat sekali. Baru kali ini ku lihat perjuangan seorang Ibu melahirkan. Mulutku selalu berdzikir, memohon agar dimudahkan persalinan istriku.

Akhirnya lahir juga, seorang bayi laki laki yang lucu. “Alhamdulillah.” Ucapku, sementara Mila terlihat lemas

“Selamat ya.” Ucapku begitu Mila sudah dibawa ke bangsal perawatan. Mila terdiam sambil melihatku, tak seperti biasanya dia berlaku seperti ini. Biasanya dia sangat benci padaku, selalu memalingkan muka saat berpapasan denganku. Di kamar, kamipun tidur saling berjauhan.

“Selamat ya kamu sudah jadi Ibu.” Dia semakin tajam menatapku, dan kulihat matanya basah. Dan semakin keras dia menangis. Aku mendekat, akhirnya dia menangis di pelukanku. Baru pertama kali kami berpelukan sejak 3 bulan lalu kami menikah. “Maafkan aku… aku malu sama kamu.” Ucapnya sambil terisak. Ku hapus air mata nya. ” Aku suami kamu, dan selamanya akan jadi suami kamu, ayah dari anak-anak kita. Aku sayang Mama.” Mila semakin menangis.

Dan hari ini lengkap sudah kebahagiaanku sebagai suamiku, karena ku dapatkan istri serta anak yang lucu.

“Terima kasih ya Allah.” Anugerah ini begitu besar bagiku. Dan orangtua kami pun juga menyambut gembira kelahiran anak kami yang lucu.


Terima kasih telah membaca cerpen remaja hamil diluar nikah, semoga cerita romantis diatas bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi sobat pemirsa komunitas cerita pendek sekalian. Salam sukses dan tetap semangat.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait