Terlahir Kembali

cerita romantis cinta tragis balas dendam

Terlahir kembali adalah cerita romantis cinta tragis percobaan pembunuhan terhadap calon menantu oleh mertua yang menghasilkan dendam. Cerpen ini merupakan lanjutan dari Jasmine 1, namun bisa dibaca terpisah bila anda tidak ingin memulai dari bagian pertama. Simak cerpen berikut :

Cerita Romantis Cinta Tragis – Jasmine Terlahir Kembali

Carmen begitu serius menikmati majalah wanita di depannya sesekali dia menyeruput capucino dinginnya dengan santai. Seolah tak peduli dengan apa di sekitarnya. Wanita setengah baya tersebut benar-benar memakai waktunya untuk menyimak penuh bacaan di depannya. Rambutnya coklatnya tergerai sebahu. Matanya memakai lensa kontak berwarna sama dengan rambutnya sehingga terlihat begitu serasi. Carmen memang cantik wajahnya agak kebule-bulean. Banyak tamu menaruh perhatian akan kehadirannya di cafe ini. Tapi Carmen seolah sibuk dengan dunianya sendiri. Tak peduli dengan tatapan kagum orang-orang di sekitarnya.

Tahun ini Carmen berumur 40 tahun tapi siapa menyangkanya berumur 40 tahun. Sekilas jika orang melihatnya pasti dengan mudah mereka akan menebak umurnya masih 20-an. Sudah tiga tahun dia menjalani olahraga rutin, sebagaiman dianjurkan oleh dokter pribadinya. Sejak pulih dari kecelakaan beberapa tahun lalu dia memang menjalani beberapa terapi serius untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Kecelakaan hebat dialaminya menyisahkan trauma mendalam hidupnya. Karena itulah dia tinggal di luar negeri selama beberapa tahun lalu baru seminggu ini kembali kenegaranya.

Keanu berdiri tak jauh dari Carmen, menatapnya dengan penuh kasih, senang sekali hatinya melihat Carmen begitu menikmati hidup. Setidaknya hanya itulah bisa diberikan untuk Carmen untuk menebus semua kesalahan dilakukannya pada masa lalu. Sadar kalau ada seseorang memperhatikannya, Carmen menoleh. Senyumnya melebar saat melihat sosok Keanu berdiri tak jauh dari tempatnya. Dia mendekati Carmen lalu langsung mengecup dahinya lembut.

“Kenapa hanya berdiri, tidak mendekatiku ?”

“Hmmm… entahlah. Senang melihatmu begitu serius..”

“Ada-ada saja…” Carmen tergelak.

“Apapun yang ada padamu membuatku suka melihatnya” Bisiknya pelan. Carmen tergelak dengan lembut disentuhnya pipi tunangannya.

“Kamu memang perayu ulung, karena itulah hatiku menyukaimu..”

Butik Carmenita

Sekilas jika orang melihat mereka sungguh akan berdecak kagum, pasangan sempurna, sangat serasi. Satunya cantik sementara satunya tampan. Orang-orang pasti akan merasa iri melihat kebahagiaan pasangan ini.

“Bagaimana dengan hari pertamamu sebagai presiden direktur…”

“Semuanya lancar, kita bisa tinggal disini untuk sementara waktu. Lagipula perusahan disini butuh bantuanku.” Keanu meneguk kopi hitamnya pelan.

“Tapi bukankah aku warga Negara Indonesia Kean.”

“Iya memang, tapi kamu juga warga negara asing sayang. Karena kamu memiliki dua kewarganegaraan”.

“Uhhh… sangat merepotkan. Aku tidak bisa buka usaha disini kalau seperti ini..”

“Hei siapa bilang tidak bisa ? aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu. Kamu akan memiliki sebuah butik dengan namamu dipusat kota. Lalu kamu bisa bebas menyalurkan semua hobymu tentang fashion bukankah begitu kamu inginkan ?” sela Keanu. Mata Carmen terbuka lebar tak percaya mendengar kata-kata lelaki di depannya.

“Kamu yakin dengan semua kata-katamu…”

“Sayang sejak kapan aku membohongimu. Impianmu adalah impianku juga sayang.” Carmen tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia lelaki baik penuh tanggung jawab, tak salah jika dirinya memilihnya. Tapi entah kenapa hatinya masih merasa ada kekurangan dari hubungan mereka. Padahal cincin berlian melingkar manis dijari sudah menemaninya selama dua tahun ini. Entahlah, sampai saat ini dia masih berusaha mencari jawabannya.

Pembukaan Butik

Perlu persiapan matang untuk membuka usaha butiknya. Carmen memboyong semua hasil karyanya di New York. Kebanyakan busana-busana, gaun untuk para wanita dirancangnya sendiri. Dia memberi nama butiknya Carmenita. Butiknya berada dikawasan pertokoan elite pusat kota. Tempatnya pun di rancang se-elegan mungkin. Tentu saja karena tinggal lama diluar negeri, butiknya terlihat sangat berkelas. Dirinya sangat berterimakasih padanya, lelaki yang tahu persis seleranya. Carmen sangat bersyukur karena dia selalu setia mendukung disampingnya. Bahkan disaat kecelakaan terjadi tunangannya selalu menjaganya hingga pulih kembali.

Malam nanti adalah peresmian butiknya. Mereka sudah merancang acara spesial untuk nanti malam. Ada dinner bersama serta lelang beberapa busana terbaiknya. Semua untuk yayasan rumah sakit jiwa di luar kota. Dirinya memiliki cerita tersendiri tentang rumah sakit tersebut. Semua menjadi salah satu rahasia kelam tentang hidupnya. Bahkan cerita tentang RS Jiwa hanya Keanu yang tahu.

Undangan berdatangan dari kalangan atas, baik pengusaha rekananan Keanu, pejabat, artis, bahkan sosialita. Kebanyakan undangan adalah para wanita kaya. Mereka tak tanggung-tanggung merogoh kocek mereka untuk membeli sebuah gaun. Ada juga beberapa kenalan atau teman, tapi hanya beberapa orang saja. Carmen masih perlu banyak mengingat segala sesuatu tentangnya dikota ini. Kecelakaan beberapa tahun lalu telah mencuri ingatannya secara permanen. Kata dokter dirinya mengidap amnesia pasca kecelakaan akibat benturan sehingga diotaknya mengalami trauma cukup berat. Namun perlahan ingatannya mulai kembali walau tidak semuanya.

Sebagai tuan rumah dari acara peresmian butiknya, Carmen tampil bak ratu kecantikan tak tertandingi. Dibalut gaun malam indah berwarna hijau, siapapun pasti akan terpesona pada kecantikkannya. Pujian serta ucapan bernada kagum juga simpatik datang dari para undangan. Semua disambut ramah oleh Carmen. Sesekali terlihat dirinya bergabung bersama para tamu. Tawa serta senyumnya menjadi aset menjanjikan bagi butiknya.

Perjumpaan dengan Rava

Disela-sela acara peresmian butik, hadir seorang laki-laki muda terkenal di kalangan para tamu malam itu. Pria tersebut ditemani seorang wanita asia cantik serta seorang wanita tua ibu dari lelaki itu. Keanu langsung menyambutnya, “Hai.. kupikir kamu tidak jadi datang. Kemarin sekertarismu menelpon, mengatakan kamu masih di London.” Diberikan sebuah gelas berisi minuman kearah lelaki itu. Sementara, dua pendamping wanitanya pamit untuk melihat gaun-gaun didalam butik. Lelaki tersebut, Rava, menerimanya dengan senyum kecut. Gurat kelelahan karena perjalanan jauh masih terlihat diwajahnya. “Ini acara sahabatku bagaimana bisa tidak hadir.” Ucapnya meneguk minumannya. “Dimana wanita pencuri hati sahabatku sehingga dia hampir melupakanku selama 6 tahun ini ?” tanya Rava lagi sambil memperhatikan sekeliling.

“Itu dia..” tunjuk Keanu kearah beberapa wanita sedang asik bercerita. “yang bergaun hijau…” katanya lagi. Rava melihat kearah ditunjukan. Dalam hatinya mengakui bahwa pilihan temannya sungguh tepat. Wanita itu cantik sekali.

“Kupikir wanita asia ternyata seleramu masih suka bule…”.

“Dia bukan bule Rav, kalau kamu melihatnya dengan jelas dia blasteran. Amrik – indo. Mungkin karena lahir di Amrik hingga terlihat begitu, ” tambahnya memberi isyarat pada wanitanya untuk mendekat. Carmen mendekati mereka.

“Sayang kenalkan ini Rava, sahabatku. Dia presiden perusahan Clements Steel,” Keanu memperkenalkannya pada Rava. Uluran tangan dari Rava disambut Carmen. Beberapa detik tangan mereka saling tergenggam. Hal mana tak bisa dihindarkan Rava adalah sepasang mata lembut menatapnya sendu. Tatapannya seperti milik seseorang yang sampai saat ini masih terus dikenangnya.

Mereka berkenalan tanpa sadar

“Hallo namaku Carmen, senang berkenalan denganmu”.

“Semoga usahamu berjalan lancar Carmen”.

“Terimakasih Rava, ” usai berkenalan Carmen pamit dengan sopan untuk melayani tamu-tamu undangannya. Rava tertekun. Bukan kecantikan wanita iu membuatnya terpukau, tapi tatapannya. Kesenduan matanya seolah ingin berbicara banyak hal. Sentuhan tangan dalam genggamannya terasa begitu dikenalnya.

Ahh… apa dirinya akan benar-benar menjadi gila memikirkan Jasmine, sehingga tak sadar membandingkannya dengan Jasminenya. Wanita yang kejam telah mengikat hatinya erat hingga tak membiarkannya merasakan cinta pada wanita lain. Akan tetapi pada wanita ini kenapa perasaannya begitu berbeda ?

“Hei teman, kenapa bengong ? apa kamu terpukau dengan kecantikkan tunanganku ?” Keanu menyentuh bahu Rava yang langsung tersentak kaget dari pikirannya.

“Oh yah, maaf, aku lupa Carmen sudah menjadi tunanganmu. Benar-benar tak ada kesempatan lagi .” ujar Rava setengah bercanda. Keanu memukul perut Rava bercanda lalu merekapun tertawa. Dirinya merasa sangat beruntung bisa memiliki Carmen. Keberuntungan yang dipaksakan… Ahhh… Keanu mendesah dalam hati, menepis jauh-jauh pikiran terlintas dibenaknya.

Acara malam itu benar-benar sukses. Lelangpun berjalan lancar. Keluarga Rava memboyong beberapa gaun malam juga sepatu mahal. Layak bagi hidup Rava yang masih begitu muda sukses dan kaya raya.

Ada sesuatu pada Rava dirasakan oleh Carmen

Malam itu Carmen mengantongi banyak kartu nama. Kelihatannya usaha butiknya di kota ini akan maju. Ada satu kartu nama masih dalam genggamannya, kartu nama Rava. Dirinya merasa laki-laki itu tidak asing baginya. Selama bersama Keanu tidak pernah dirinya memperhatikan lelaki lain di sekitarnya. Berbeda dengan Rava. Perkenalan tadi menyisakan sedikit perasaan aneh pada dirinya. Entah perasaan apa itu. Tapi harus diakui hatinya senang bertemu Rava. Sepertinya jika bertemu lagi perasaan senang itu tak kan hilang. Laki-laki itu seumuran dengan Keanu. Lebih muda darinya. Tapi memiliki pesona nyata sebagai laki-laki.

Tatapan Rava begitu tajam menusuk jiwa, seolah menunjukkan kematangan jiwa serta ketegasan. Tatapannya menyiratkan kalau dirinya memiliki kekuasaan tak terbatas. Yah seperti itulah… harus diakuinya bertemu dengan Rava malam ini menimbulkan kesan berarti. Walaupun cuma bicara singkat dirinya merasa sangat nyaman.

Peluang usaha butiknya sukses

Wirausaha butik Carmen berjalan lancar, Carmenpun mulai sibuk demikian juga Keanu, orang sukses, presiden direktur sebuah perusahan besar pada bidang alat berat. Walaupun mereka sudah terikat tali pertunangan, tapi dirinya belum memutuskan untuk tinggal bersama. Keanu sering memintanya untuk tinggal bersama, tapi selalu ditolak. Keanupun tak bisa memaksa karena memahami sikap keras Carmen pada pendirian. Dia tetap sabar menunggu karena merasa wanita itu akan menjadi istrinya.

Jika ada waktu luang, Carmen pergi kesebuah Café tempatnya suka berlama-lama sekedar membaca sambil menikmati Capucino. Walaupun minumannya tak seenak di New York, tetap saja ia menyukai tempat ini. Entah kenapa sewaktu tiba disini dan melewati tempat ini tiba-tiba ingin berhenti dan mampir.

Pertemuan kedua di Cafe favorit mereka

Café diujung jalan ini memang secara langsung berhadapan dengan taman kota. Suasana cafepun begitu teduh, tidak terlalu ramai pada sore hari. Penataan cafepun sederhana, menarik dengan warna hijau natural bernuansa alam. Sangat serasi dengan letaknya. Rava melangkah masuk ke dalam café, agak terkejut dirinya melihat Carmen berada di meja dimana dirinya bersama Jasmine biasa minum kopi disana. Sebuah kebetulan yang membuat Rava semakin bertanya-tanya, sehingga dirinya pun tak bisa menahan untuk mendekati wanita itu.

“Halo …”

Yang disapa mendongak, mata sendunya agak membesar saat tahu siapa yang menyapanya.

“Rava…! Sebuah kejutan kamu ada di sini,” serunya tak bisa menyembunyikan kekagetan. Rava tersenyum langsung duduk di hadapannya.

“Aku terkejut kamu ada disini. Ini tempat favoritku” ujar Rava jujur.

“Aku juga..” sela Carmen cepat.

Rava memicingkan matanya, “Hmm… bukankah aneh kalau menyukai tempat ini, di New York banyak tempat seperti ini..”.

“Entahlah.. menyukai sesuatu tak berarti harus memiliki alasan kan ? terkadang kita bingung untuk memberi alasan atas sesuatu yang tiba-tiba kita sukai. Dejavu…. Kamu tahu artinya ?”

“Yah seperti sesuatu yang sepertinya pernah dilakukan tapi ternyata tidak. Seperti fatamorgana…” sambung Rava. Harus diakui dirinya suka bertemu lagi dengan Carmen. Apalagi pertemuan kali ini mereka tidak dalam keadaan terburu-buru.

“Hmm kamu suka membaca ?”

“Yah…sangat suka. Hatiku senang melihat hal-hal berbeda lewat buku..”

Terlalu banyak kebiasaan sama

Rava mendesah. Ingatannya kembali pada Jasmine. Jasmine juga sangat menyukai buku. Bahkan jika menyukai sebuah buku, entah di jalan, di bis, atau dimana saja, Jasmine akan membacanya tanpa peduli sekitarnya. Kadang dirinya menjaga Jasmine untuk mengingatkan. Karena jika sudah membaca sesuatu kesukaannya, Jasmine akan lupa akan sekitar.

Ah, ingatan tentang Jasmine membuatnya seperti merasa berdosa. Dan wanita ini ? entah kata-kata apa untuk melukiskan. Haruskah dirinya mengakui kalau pertemuan ini sudah di tunggunya.

“Senang bertemu denganmu, sepertinya kita akan selalu bertemu dengan situasi seperti ini.”

“Senang juga bertemu denganmu Rava…” jawabnya tersenyum lembut. Pertemuan ini membawa Rava pada situasi hati tak menyenangkan. Perasaan senang dan suka bercampur baur jadi satu. Disatu sisi hatinya berontak. Tak ingin mengakui perubahan setelah 6 tahun memendam kerinduan pada Jasmine. Namun disisi lain menyukai wanita tunangan sahabatnya. Sialan! terkutuklah aku dengan semua ini. Rava mengutuki dirinya dan segera berlalu dari tempat itu.

Tinggalah Carmen seorang diri. Caranya atau sikapnyakah membedakan dia dengan Keanu. Soal ketampanan Keanu masih lebih tampan. Tapi Rava memiliki sesuatu yang begitu berbeda. Semakin lama melihatnya, perasaannya semakin gundah. Apakah ini bentuk dari rasa suka ? tapi mengapa begitu berbeda dengan perasaannya pada Keanu. Ini tak bisa dibiarkan. Dirinya tak boleh bertemu lagi dengan Rava. Degub jantung dalam dadanyasemakin tak beraturan. Wanita itu sekarang tak bisa konsentrasi membaca buku di hadapannya. Ada apa dengan dirinya ?

Pertemuan ketiga

Pertemuan tak terduga kembali terjadi, kali ini pada undangan makan malam mengejutkan keluarga Rava. Ternyata kali ini ibu Rava tak sengaja mempertemukan mereka. Rava juga benar-benar tidak tahu menahu dengan undangan makan malam itu. Undangan ini sebagai wujud dari hubungan pertemanan Rava dengan Keanu sebagaimana ketahui ibunya Rava.

Entah kenapa saat acara makan malam itu Keanu harus terburu-buru pulang karena salah satu pengiriman alat berat mengalami masalah. Diapun terpaksa menitipkan Carmen untuk di antar pulang Rava. Carmen ingin menolak tapi dirinya tak ingin keluarga Rava berpikir dirinya wanita tak sopan. Makan malam itu berakhir kikuk, tapi ibu Rava dengan obrolannya membuatnya bisa santai dan sedikit tahu tentang keluarga Rava serta saudara-saudara perempuannya. Rumah besar itu dindingnya banyak bercerita tentang keluarga Rava. Penuh potret keluarga. Carmen pulang di antar Rava. Sepanjang perjalanan suasana hanyalah keheningan.

“Maafkan aku.”

“Apa kamu melakukan kesalahan ?”.

“Yah… seharusnya tak memiliki perasaan suka padamu. Jujur saja aku tak suka menyimpan perasaan. Tapi kamu adalah tunangan sahabatku dan tak ingin jika hal ini merusak hubungan pertemanan kami”.

“Setiap orang berhak memiliki rasa suka. Kamu tak bersalah. Jika aku juga menyukaimu apa perasaan itu salah…”

“Carmen !”

“Aku ingin jujur aku menyukaimu.” nada suaranya bergetar. Mobil dihentikan mendadak. Rava menepikan mobilnya. Menatap wanita ini dalam-dalam, terlihat tatapannya tidak berbohong.

“Ini tak boleh terjadi, kita tak boleh bertemu lagi…” sela Rava tegas. Tapi tatapan wanita itu meluluhan hatinya. Tatapan teduh membuatnya tak sadar mengecup bibir tunangan temannya. Sentuhan lembut di bibir membuatnya harus mengakui, untuk pertama kali dalam hidup hatinya menyukai wanita lain selain Jasmine. Malam itupun menyimpan satu rahasia hubungan mereka.

Rava mengakui perasaannya pada Keanu

Tapi Rava adalah seorang lelaki, dia tak suka menyimpan hal itu. Tak peduli jika hubungan pertemanannya dengan Keanu bisa berakhir. Dia tahu sudah menghianati sahabatnya, dia bukan penghianat, tapi tentang Carmen itu pengecualian. Tak mampu dirinya menghadapi perasaan. Karena itulah malam ini.

“Kamu benar-benar brengsek Rav ! Sialan kamu,” sebuah tinju melayang ke perut Rava. Rava tersurut mundur, ada beberapa orang akan melindunginya tapi di tahan Rava. Keanu benar-benar sangat marah pengakuan Rava bukan hal enteng. Seluruh gengsi dan harga diri di pertaruhkannya disini. Satu tinju melayang lagi kali ini bibir Rava terlihat berdarah.

“Aku tak akan pernah membiarkan kamu merusak kehidupannya, kamu tidak tahu kehidupannya, kamu brengsek Rav.” Keanu memaki keras kemudian berlalu dari tempat itu. Tinggalah Rava terduduk dengan hati penuh rasa bersalah.

Keanu dengan hati hancur berdiri di depan pintu apartemen Carmen. Dia membuka pintu, kaget saat tunangannya langsung menubruk dan menciuminya, bau minuman beralkohol tercium jelas dari bibir Keanu. Dirinya meronta mendorong tubuh Keanu menjauh darinya. Tiba-tiba saja dia merasa tidak mengenal laki-laki dihadapannya.

“Rava sudah mengakuinya, dia mencintaimu…”

Carmen tersurut mundur, bibirnya keluh. “Kamu jangan salah sangka dulu walau dia mengakuinya tapi kami tidak seperti yang kamu pikirkan…”

Keanu cemburu

“Apalagi yang harus kupikirkan Carmen, kalian melukaiku. Tak pernah kusangka kalian begitu tega melakukan ini padaku. Jawab Carmen apa kalian sudah tidur bersama haaaa ? Jawab !?”

Keanu menatap tubuh tunangannya dengan tajam penuh selidik. Terlihat sekali rasa cemburu teramat sangat pada wajahnya. Carmen bahkan menjadi ngeri melihat tatapan tidak seperti biasanya. Kemarahan Keanu sangat mengejutkannya.

“Tidak pernah Keanu, aku bersumpah padamu…”

“Apa dia menyentuhmu ? menciummu ? kamu milikku Carmen ! milikku, Kamu adalah milikku, aku membuat kamu menjadi seperti ini.” teriak Keanu keras.

Carmen terbelalak, “Apa ? apa maksudmu  ?” pertanyaan Carmen membuat kesadarannya kembali. Hampir saja mulutnya keceplosan. Ya Tuhan apa jadinya jika dia mengatakan…???

“Kamu sangat mengecewakanku Carmen,” Keanu terduduk lesu disofa.

“Rava berhak menyukaiku, itu adalah hak asasi manusia. Kau tidak bisa melarang orang lain menyukaiku, sama sepertiku, tidak bisa melarangnya menyukaiku”

“Jangan bicara bahasa buku denganku jangan sok pinter !,” sela Keanu cepat.

“Katakan padaku kamu tidak menyukainya, katakan padaku…”

“Yah aku juga punya hak untuk mengatakan tidak menyukainya Keanu…”

“Dasar pembohong ! oh kau seorang pembohong menyedihkan…”

Wanita itu terguguh ditempatnya, kata-kata Keanu menusuknya. Dirinya memang berbohong. Dia menyukai Rava, tapi hatinya sudah memutuskan tak akan meninggalkan Keanu. Laki-laki itu memiliki andil dalam hidupnya, tak pantas menerima kekecewaan ini.

“Apa harus kukatakan padamu ? kata apa ingin kamu dengar ? membuatmu terluka dengan sebuah pengakuan ? Aku menyukainya, tapi memilihmu dalam hidupku bukan dia. Sekarang apa lagi mau kamu dengar Keanu …?”

Keanu menggeleng –geleng.. “jangan menghiburku Carmenita”

Harus meminta maaf

“Diriku tidak dalam posisi menghiburmu, aku memilih bersamamu. Bukan bersamanya. Tidakkah kamu mengerti ?. Seperti katamu tadi, aku adalah milikmu,” tandas Carmen dan itu semakin membuat Keanu merasa tidak adil.

Dengan perasaan kacau Keanu beranjak pergi meninggalkan tunangannya terguguh di tempatnya. Bening menggantung di pelupuk matanya lalu luruh tanpa dapat ditahan, membuatnya tenggelam dalam tangis. Dering telpon masuk dari Rava tak dipedulikannya.

Masih pagi-pagi sekali ketika Carmen memutuskan untuk ke apartemen Keanu. Dirinya ingin menebus kesalahan sekaligus memperbaiki hubungan. Hatinya mantap memutuskan untuk hidup bersama Keanu. Kalaupun perlu hari ini dirinya akan menikah untuk membuktikan bahwa dia tak kan pernah meninggalkan Keanu. Sebesar apapun rasa sukanya pada Rava pengorbanan Keanu untuknya tak kan bisa diabaikannya.

Ditekannya tombol password pintu masuk apartemen. Agak kaget melihat situasi apartemen yang berantakan. Sepertinya ada seseorang baru mengamuk semalaman. Botol-botol minuman tergelak di lantai begitu saja. Baju berserakan begitu saja. Langkah Carmen menuju kamar tunangannya. Seperti ruang tamu, kamarpun tak berbeda. Kacau dengan kertas-kertas terserak dan foto-foto berukuran 10 ada dimana-mana.

Siapa Dia ? Siapa Aku ?

Penasaran Carmen meraih salah satu foto itu. Foto seorang wanita asia, wajahnya lumayan cantik. Kertas-kertas berisi laporan serta riwayat kesehatan milik perempuan itu. Foto-foto pada sebuah rumah sakit jiwa yang di kenalnya. Apa wanita ini satu rumah sakit dengannya ? kenapa foto ini tidak asing saat dilihatnya. Apa ini ? rasa ingin tahu dan penasaran membuatnya membaca laporan-laporan dengan teliti. Semua tertulis dari catatan 6 tahun lalu. Itukan saat kejadian kecelakaan menimpanya. Tapi disini juga ada foto-fotonya. Ada riwayat operasi bedah plastik. Kenapa dia tidak mengetahui semua ini ? kenapa laporan kesehatannya disimpan Keanu? apa yang disembunyikan Keanu darinya? Dan foto ini ? Carmen berusaha mengingat dimana dia pernah bertemu wanita dalam foto itu.

Pintu kamar mandi terbuka, Keanu keluar sambil melap rambutnya dengan handuk kecil di tangan. Kehadiran Carmen dikamarnya benar-benar sangat mengagetkan. Lebih kaget lagi saat melihat sebuah foto di tangan Carmen. Tiba-tiba saja mimik wajah Keanu berubah pias.

“Apa ini Keanu ?, kenapa laporan kesehatan tentangku ada padamu ? juga wanita ini, siapa wanita ini ?,” tanya Carmen menatap tajam kearah Keanu.

“Bukan apa-apa mana fotonya,” Keanu bergegas meraih kertas-kertas terserak di lantai juga tempat tidur. Saat ingin meraih foto ditangan tunangannya, dia menolak.

“Jelaskan padaku siapa wanita ini ?”.

“Bukan siapa-siapa mana fotonya”.

“Tidak,” tunangannya melangkah mundur. “Jelaskan padaku, dan kenapa semua laporan tentangku ada padamu. Apa yang kamu sembunyikan dariku Keanu ?”

Apa yang kau sembunyikan Keanu ?

“Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu !.”

“Lalu apa maksudmu dengan semua ini ?, laporan dan riwayat kesehatanku.”

“Ini tidak penting lagi. Kamu sudah sembuh, semua ini akan ku buang.”

“Ini tentangku, kamu tidak berhak membuangnya bahkan menyimpannya,” keras suara tunangannya membuat Keanu tersentak.

“Wanita ini aku mengenalnya dia tidak asing bagiku, tidak asing, katakan siapa dia Keanu ?”

“Sudah kukatakan bukan siapa-siapa Carmen,” bantah Keanu lagi bergegas merampas foto di tangan tunangannya, tapi dia menghindar. Dicobanya memaksa merampas foto itu, mendesak mundur, namun tunangannya berusaha mempertahankan foto ditangannya. Tiba-tiba tanpa dapat di hindari, kaki tunangannya menginjak sesuatu sehingga membuat tubuhnya oleng. Tanpa ditahan, dia terjatuh, kepalanya membentur dinding. Keanu berseru tertahan “Carmen, tidak !.”

Ingatannya kembali

Aroma rumah sakit begitu menusuk dihidung, wanita itu membuka matanya perlahan. Digerakkan tubuhnya yang pegal. Sepertinya dia cukup lama pingsan. Sehingga saat terbangun dia seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Wanita itu berusaha turun dari tempat tidurnya. Dicabutnya botol infus lalu dibawanya bergegas ke kamar mandi. Selesai buang air kecil, saat berniat kembali ke tempat tidur sebuah bayangan di cermin membuatnya kembali menatap wajahnya. Diapun terperanjat, tidakkkkkkkkk……. Wajah siapa ini ? kenapa dengan wajahnya ? Kenapa wajahnya berubah ? Jasmine berteriak histeris. Tidak… tidak… tidak kenapa bisa seperti ini ? Kenapa ?.

Perlahan ingatannya terurai kembali satu persatu dengan jelas. Diingatnya saat menerima telpon dari ibunya Rava untuk menemuinya di café seberang apartemen. Sampai disana ibu Rava sudah menunggu tapi pada saat dia akan menyebrang, aghhh ! sekilas dia masih mengingat mobil penabraknya. Mobil BMW dengan nomor polisi dikenalnya. Ya, mobil penabraknya adalah mobil ibunya Rava.

Jasmine mendekap wajahnya, menatapnya wajah pada dicermin dengan teliti. Wajahnya berubah. Apa ini ulah ibunya Rava ?, sungguh tak terbayang di hati Jasmine saat itu. Melihat wajah orang lain saat melihat wajah di cermin sungguh benar-benar tak bisa diterima oleh logika. Takdir mempermainkannya begitu hebat. Dengan langkah terhuyung dia keluar dari kamar mandi tubuhnya hampir terjatuh tapi sesosok tubuh begitu sigap menahannya.

“Carmen kamu belum sembuh kenapa sudah berdiri ?” Keanu memapah tubuh Jasmine menuju ketempat tidur. Pilahan ingatan pra dan pasca kecelakaan dalam otak Jasmine seperti berfungsi sangat baik, dirinya ingat jelas saat dan sesudah kecelakaan. Ini sangat jarang terjadi pada pasien penderita trauma amnesia. Diapun masih mengenal Keanu dengan baik. Ternyata namanya sekarang adalah Carmen.

Kesembuhan yang dirahasiakan

Sejak keluar dari rumah sakit, Jasmine mengurung diri dikamarnya. Menurut dokter dia hanya mengalami benturan ringan hingga menyebabkan pingsan cukup lama. 3 hari, yah dia tertidur selama 3 hari. Dan selama 3 hari itu bagian ingatan otaknya bekerja kembali. Benturan itu membebaskan ingatan Jasmine.

Perubahan pada sikap Carmen membuat Keanu bertanya-tanya. Tapi dia belum ingin memaksakan bicara terlalu dalam pada tunangannya. Saat ini dirinya masih merasa bersalah karena membuat tunangannya terjatuh. Untunglah tunangannya tidak apa-apa meski tidak sadarkan diri selama 3 hari. Tapi syukurlah tunangannya baik-baik saja, sehingga dia sudah bisa lega.

Saat ini dirinya berusaha mengesampingkan egonya, masalah dengan tunangannya berusaha di redamnya. Dan tentang Rava, dia tidak mau tahu lagi dengan Rava. Sudah cukup dia dikhianati. Dibiarkan tunangannya menyendiri memberi kesempatan pada wanita itu untuk pulih sepenuhnya. Jika nantipun tunangannya membutuhkan penjelasan tentang foto-foto itu dia tidak akan menyembunyikan apa–apa lagi. Akan dikatakan dengan jujur kalau dirinya sama sekali tidak mengetahui nama wanita itu. Tapi dia mengetahui wanita itu karena wanita itu adalah Carmen.

Kejadian senja itu

Pada malam kecelakaan itu, dia baru keluar dari Café ketika melihat kecelakaan terjadi tepat di depan matanya. Kejadian tabrak lari sebuah BMW hitam menabrak wanita dengan sangat keras. Tabrakan keras itu pasti akan menyebabkan wanita itu tewas, tapi Jasmine tidak tewas. Dia hanya koma 3 bulan disebuah rumah sakit. Keanu benar-benar tak mengetahui asal-usul wanita itu. Saat kecelakaan Jasmine hanya mengenakan sweater coklat dengan celana panjang jeans. Tidak ada tas atau tanda pengenal dibawa wanita itu.Keanu menolong karena merasa ingin menolong.

Saat sadar dari koma, wanita itu tidak sepenuhnya pulih. Dia sering berteriak histeris dan sikapnya begitu membahayakan karena cenderung menyakiti dirinya sendiri. Keanu akhirnya menitipkan dia pada teman dokternya disebuah rumah sakit jiwa. Disana wanita itu dirawat selama hampir 6 bulan hingga akhirnya dinyatakan sembuh.

Pada saat itu, Keanu tengah mengalami masa sulit penuh luka. Dia kehilangan kekasihnya yang pergi dan menghilang begitu saja dari hidupnya. namanya Carmenita. Entah untuk menutupi kerinduan mendalam serta cintanya pada Carmenita, dia memutuskan mengubah kehidupan Jasmine menjadi Carmen.

Dia tahu tidak berhak dengan kehidupan wanita itu tapi tak ada pilihan. Wanita itu kehilangan ingatan, juga mengalami trauma fisik dan mental yang berat. Dokter harus bersusah payah membentuk wajah Jasmin seperti semula. Jikapun Jasmine memiliki wajah seperti semula, guratan jahitan sepanjang dahi sampai kedagu akan menjadi momok menakutkan wanita itu. Jika melihat sekilas pada foto tak akan tampak, tapi dilihat dari samping akan terlihat sangat menakutkan. Karena itulah untuk menutupi luka di wajah serta bagian leher, dirinya memutuskan operasi plastik dan mengubah wajah Jasmine menjadi Carmenita. Tim dokter yag mengubah wajah Jasmine adalah dokter-dokter terbaik di bidangnya. Wajah Carmen pada Jasmine sangatlah sempurna, bahkan orang tua kandung Carmenita menganggap Jasmine adalah Carmenita yang sudah kembali.

Menguak kejujuran

Benar-benar cerita kehidupan luar biasa. Dengan uang apapun bisa di perbuat tapi terkadang semua tak berjalan sesuai dengan rencana. Uang bisa membayar segala sesuatu di dunia ini tapi uang tak akan bisa mengembalikan ingatan.

Jasmine menatap map terletak di atas meja makan, terdapat sebuah pesan disana. Permintaan maaf dari tunangannya serta kata-kata penyemangat. Map itu berisi laporan riwayat kesehatannya serta foto-fotonya. Diamatinya satu persatu foto di dalamnya. Dia bisa melihat dengan jelas guratan jahitan panjang disisi kanan wajahnya. Jahitan itu panjang sampai kepangkal leher. Dia jadi berpikir bagaimana bisa selamat dari kecelakaan parah itu. Disana juga ada foto-foto tubuhnya, kebanyakan bagian belakang tubuh. Ada beberapa jahitan panjang tersebar di sepanjang punggung dan tulang belakang.

Tapi bekas-bekas luka itu sudah tidak ada ditubuhnya, diwajahnya pun sama sekali tak ada bekas operasi sama sekali. Keanu sudah menolongnya melewati semua. Jadi tak perlu mempersoalkan mengapa wajahnya diubah menjadi orang lain.

Dia tahu membalas budi. Bukankah sejak dulu dia tidak pernah melupakan kebaikkan orang lain untuknya. Jika akhirnya ibu Rava meminta nyawanya dia sudah memberikannya. Tidak adil memang, jika saja ibu Rava meminta baik-baik dan bukan menabraknya begitu saja, dirinya akan rela memberikan nyawanya. Sekarang mereka sudah impas. Tidak ada hutang budi lagi pada ibu Rava. Yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana bisa membalas semua perbuatan ibu Rava. Wanita tua dengan senyum tanpa rasa bersalah itu telah membuat dirinya kehilangan identitas diri. Satu-satunya yang harus disalahkan dengan apa terjadi pada dirinya adalah ibu Rava. Wanita itu harus membayar semua perbuatannya. Tak sadar Carmen meremas map ditangannya. Melepas cincin pertunangan di jari manisnya lalu diletakkannya begitu saja diatas meja.

Mengungkap jati diri

Keanu berdiri di depan Jasmine. Jarak mereka sangat dekat. Tubuh tingginya seperti menutupi tubuh kurus Jasmine. Kembali kekota ini membuat Jasmine kehilangan berat badannya. Keanu baru sadar wanita itu terlihat lebih kurus. Dia diminta Carmen untuk menemuinya di sebuah rumah kaca terletak di luar kota tempat penelitian tumbuh-tumbuhan yang terbuka untuk umum. Hatinya bertanya-tanya kenapa Carmen memilih bertemu disini dan bukan di apartemen atau cafe tempat mereka biasa bertemu. Dan tatapan wanita di depannya ini adalah tatapan berbeda.

“Kita seharusnya berkenalan dulu Keanu,” suara Jasmine memecahkan kesunyian disela-sela sayup suara serangga disekitar mereka. Jantung Keanu berdegub. Berkenalan, apa maksudnya ini ?

“Namaku Jasmine, Keanu. Tapi aku tak keberatan jika kamu terus memanggilku Carmen.”
Keanu berdiri mematung di depan Jasmine, laki-laki itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Diapun tak sanggup bicara, tapi sebagai seorang laki-laki dia harus berusaha terlihat tenang. Ditatapnya dalam mata Jasmine. Didapatkannya tatapan itu bukan tatapan sendu milik Carmen, tapi tatapan penuh dendam dan amarah milik Jasmine.

“Kamu, kamu ? Carmen kamu ? ”

“Ingatanku sudah kembali.”

“Tidak mungkin, sejak kapan ?”

“Sejak aku terjatuh sebulan lalu di apartemenmu.”

“Yah Tuhan !” tak sadar diremasnya rambutnya sendiri. “Kenapa tidak mengatakannya ? ”

“Seseorang dengan ingatan baru kembali dan mendapat kehidupan berbeda dengan kehidupan sebelumnya tentu perlu waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kenyataan berbeda. Kamu sudah mengubahku menjadi orang lain. Alasan apapun itu sama sekali tak akan ku persoalkan.”

“Maafkan aku Carmen, Jasmine, maaf.”

Jasmine tertawa keras sementara Keanu hanya bisa melihatnya takjub pada ingatan Jasmine yang sudah kembali serta sikap dan tawa milik Jasmine sebenarnya, bukan Carmen.

Jasmine menceritakan masa lalu dan membatalkan pertunangan

“Aku berterimakasih padamu Keanu. Juga berterima-kasih pada takdir karena mengubah hidupku menjadi seperti ini. Tapi maafkan, aku tak bisa memakai cincin ini di tanganku Keanu. Maafkan aku”. Jasmine meraih tangan tunangannya lalu meletakkan cincin berlian dalam genggamannya. Keanu memejamkan matanya, hal ditakuti akhirnya terjadi. Dirinya kehilangan wanita itu.

“Seharusnya kamu membiarkanku meninggal malam itu, bukan menolongku dan mengubahku seperti ini. Jauh sebelum kamu hadir, hidupku sudah rumit, lebih dari yang kamu bayangkan,” lalu cerita dramatis itupun mengalir tersendat dari bibir Jasmine sementara Keanu mendengarkannya dengan setia.

Tapi Jasmine tidak menceritakan kisah itu secara keseluruhan, tidak tentang Rava serta keluarganya. Jasmine memang sengaja tak ingin menceritakan tentang Rava pada Keanu karena biar bagaimanapun mereka bersahabat baik. Dan persahabatan mereka berakhir karena dirinya. Dirinya tak ingin rencana pembalasan dendamnya pada Ibu Rava terganggu.

Usai Jasmine bercerita, giliran Keanu menceritakan bagaimana dirinya menolong Jasmine. Bercerita tentang Carmenita kekasihnya, mengapa wajah Jasmine diubah, serta semua cerita saling bertautan.

“Hanya itu kuminta darimu Carmen, jangan pernah mengaku kalau kamu bukan Carmenita. Ayahmu mengidap penyakit jantung, dia bisa mati shock jika mengetahui kamu bukan anaknya. Hingga semuanya terbuka kuharap komunikasi diantara kalian tidak terputus.” pinta Keanu akhirnya. Dia mengalah. “aku tidak akan menghalangi cinta kamu bersama Rava. Kalau merasa nyaman silahkan saja. Harus kuakui berharap ingatanmu tidak kembali, tapi sekarang semua sudah berbeda. Kita sekarang seperti dua orang baru berkenalan, terasa begitu kikuk. Aku hanya berharap kamu bisa bahagia bisa sukses dengan usahamu,” ujar Keanu akhirnya.

Mereka menjadi bersahabat

“Jangan berkata seperti itu Keanu, kita akan tetap menjadi teman dan hubungan kita tak akan terputus kamu akan selalu menjadi orang yang paling dekat denganku. Kamu adalah bagian dari hidupku.” Sela Jasmine. Keanu tertawa kecil,” hentikan Carmen, jangan menghiburku. Kamu selalu saja bersikap ingin menyenangkan semua orang. Aku tak akan memanggilmu Jasmine, karena bagiku kamu adalah Carmen.”

“Tentu saja aku tak akan melarangmu,” kedua orang itu tergelak kisah diantara mereka sudah berakhir dan berakhir dengan anggun. Jasmine menyandarkan kepalanya dibahu Keanu.

“Jika kamu merasa lelah kamu bisa menemuiku oke.”

“Oke…”

Keanu berdamai dengan Rava

Keanu memasuki ruangan kantor itu dengan langkah tegas. Ruangan ini sudah diubah menjadi lebih menarik. Terlihat megah dan mewah untuk jabatan presiden direktur. Dirinya memang sengaja membuat janji bertemu dengan Rava siang ini. Ini bukan soal menang atau kalah. Ini adalah soal persahabatan. Dia yakin Rava akan menjadi pelindung tepat bagi Carmenita. Menurut sekertaris Rava, 10 menit lagi rapat akan selesai dan dia di minta menunggu di ruangannya. Tentunya Rava tak akan kaget akan kedatangannya. Perkelahian mereka beberapa waktu lalu menyisakan kisah tak enak dihati. Dia ingin sebelum kembali ke New York masalahnya sudah selesai sehingga bisa tenang meninggalkan Carmen.

Keanu melangkah mendekati meja Rava. Beberapa bingkai foto terletak disana. Tapi ada satu foto menarik perhatiannya, foto seorang gadis lengkap dengan pakaian sarjana. Sepertinya foto itu diambil saat wisuda. Disampingnya berdiri Rava yang masih cupu mengenakan pakaian SMA. Keanu ingin tertawa, tapi tawanya tertahan saat menyadari siapa foto gadis dengan baju wisuda ini. Ini foto Jasmine. Ya, wajahnya sama tak mungkin salah lihat.

“Hmmm… penasaran dengan foto itu Kean ?”

Keanu berbalik kaget, Rava sudah ada di belakangnya. Meraih bingkai foto ditangannya lalu meletakkannya dimeja.

“Yah siapa dia.. ?”.

“Kenapa kamu ingin bertemu dengannya ? ingin balas dendam dengan mengejarnya seperti yang terjadi dengan kita ?”.

“Pikiranmu sudah gila Rav. Tenang saja mulai sekarang. Diriku tak akan mengganggu hubunganmu dengan Carmenita lagi. Kami sudah putus,” sela Keanu agak ketus. “Sekarang kamu bebas berhubungan dengannya. Aku bukan tipe pemaksa kehendak. Bagaimana lagi dia juga menyukaimu.”

Tiba-tiba tawa Rava pecah, dia tergelak ditempat duduknya “come on Keanu aku cuma bercanda, rilex ok tapi pukulanmu lumayan juga, rahangku masih sakit sampai sekarang.”

“Ah jangan cengeng pukulan begitu saja tidak mampu kamu bending”.

“Mau bagaimana lagi, aku tak suka bela diri sepertimu,” keduanya tertawa.

Foto itu, Jasmine

“Tapi benar hatiku ingin tahu siapa gadis di foto itu, sepertinya kalian terlihat sangat dekat, kakakmu ? atau saudaramu ?”

Tak sadar Rava meraih bingkai foto itu lagi dan mengusapnya pelan. “Jasmine, namanya Jasmine seperti permata dalam hidupku, senyumku, dan tawaku, wanita ini sangat berarti dalam hidupku.”

Jawaban Rava membuat Keanu terkejut dia berharap Rava akan menjawab nama lain, tapi tidak. Dugaannya benar foto itu adalah Jasmine. Singkat namun padat, Rava bercerita tentang Jasmine. Intinya hubungan mereka tidak disetujui ibu Rava serta keluarganya.

Cerita ini membuat Keanu sadar akan sesuatu. Pada malam kerjadian memang tak sengaja dia memperhatikan seorang wanita berkerudung berada di dalam Café. Dia terlihat begitu gelisah dengan mengutak atik ponsel di tangannya. Dari penampilannya Keanu yakin wanita tersebut dari golongan kelas atas. Walaupun cara berpakaiannya asal pakai saja, tapi karisma wanita tua tersebut terpancar jelas pada raut wajahnya.

Entah kenapa malam itu dia memperhatikan wanita itu. Pikirannya teralihkan saat wanita tersebut terburu-buru keluar lalu masuk ke mobilnya. Agak takjub saat dirinya tahu wanita tersebut mengendarai BMW seri terbaru tahun itu. Dan tak lama kemudian saat baru keluar dari café kecelakaan itu terjadi.

Cerita itupun tersingkap

Yah Tuhan! Tak sadar Keanu mendekap mulutnya. Jasmine begitu malang nasibnya. Bagaimana jika Rava tahu ibunya sudah mencoba membunuh Jasmine ? Bagaimana jika dia tahu kalau dirinya jatuh cinta pada wanita yang sama ? Dan bagaimana dengan Jasmine sendiri ? betapa terlukanya Jasmine kalau saat ini Rava mencintai seorang Carmenita bukan Jasmine.

Yah Tuhan Jasmine kehidupan macam apa kamu jalani ? sementara aku terlibat dalam kehidupanmu secara langsung. Maafkanku Jasmine, maafkan, kata-katamu benar, seharusnya aku tak menolongmu. Dan sekarang penderitaan macam apa lagi akan kamu jalani dengan kebohongan ini. Hati Keanu berbisik pedih, membayangkan kisah pilu wanita kekasihnya.

“Hei Kean, kenapa ? kamu kelihatan pucat ?,” sentak Rava menyadari perubahan di wajah sahabatnya.

“Tidak apa-apa, mungkin kurang tidur. Beberapa hari lalu pengiriman bermasalah. Ada dua kontainer tertahan di cukai karena masalah dokumen. Tapi sudah clear.” Keanu menepiskan tangannya. Ingin rasanya dia mengatakan pada Rava bahwa Carmenita adalah Jasmine. Tapi dia tidak berhak untuk masuk lebih dalam lagi pada permasalahan ini.

“Hmmm… di usia kita ini harus benar-benar menjaga kesehatan Kean.”

“Aku tahu teman. Oh yah dua hari lagi aku kembali ke New York. Kutitipkan Carmen untukmu. Jaga dia dan jangan pernah sakiti hatinya. Carmen sudah banyak melewati hal menyakitkan Rav. Aku berharap kamu benar-benar jatuh cinta padanya dan menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupmu.”

Ikhlas meski masih penuh tanda tanya

“Kamu benar-benar akan pergi kean ?”

“Yup, tugasku sudah selesai. Aku sudah membawa Carmen pulang ke tempat yang selalu dirindukan. Ternyata disini juga ditemukan cintanya. Apa harus kulakukan ? dia jatuh cinta padamu Rava dan aku tidak bisa apa-apa.” Keanu bangkit berdiri.

“Terimakasih Kean, kamu benar-benar sahabat sejati,”

“Pesanku untukmu Rav, apapun keadaannya. Hadapilah sebagai laki-laki sejati. Jangan pernah membiarkan cintamu pergi. Jika kamu pernah mengalami hal menyakitkan dengan Jasmine, jangan biarkan hal itu terjadi pada Carmenita.”

“Tentu saja tidak Keanu, lagi pula akhir-akhir ini ibuku terlihat sangat dekat dengan Jasmine.”

“Syukurlah, kalau begitu, aku pergi dulu Rav.”

“Take Care bro, kabari terus.”

“Pasti. See you again bro”.

Aku telah mengetahuinya Jasmine !

“Aku sudah mengetahuinya Jasmine !”. Keanu tiba-tiba sudah berada dalam apartemennya. Jasmine yang masih berdiri di depan jendela terbuka cepat-cepat menghapus bening pada pipinya. “Jangan lakukan Carmen, jangan lakukan, kamu akan semakin menderita.” ucapnya lagi sambil mendekati Jasmine.

“Aku harus melakukannya Kean, mereka telah membuat hidupku menderita. Jika aku sekarang seperti ini, semua karena mereka”, bergetar suara Jasmine.

“Tidak Carmen dendam akan menghancurkanmu, kamu akan semakin menderita. Dan Rava dia sama sekali tidak bersalah.”

“Aku tahu, tapi dia sudah tak mencintaiku lagi Keanu. Dia mencintai Carmen, dia mencintai Carmen”, teriak Jasmine terisak. Emosinya tak mampu lagi menahan air mata agar tak menetes. Kali ini benteng pertahanannya runtuh. Jasmine akhirnya terisak dihadapan Keanu. Keanu meraih Jasmine dalam pelukannya membiarkan wanita itu menangis sepuasnya.

“Menangislah sepuas hatimu. Setelahnya berjanjilah padaku untuk tidak menangis lagi. Jalan pilihanmu butuh ketegaran dan kekuatan. Aku tak akan menghalangimu. Jika suatu saat kamu menangis lagi, ku ingin tangis itu adalah tangis kebahagiaanmu bukan tangis penyesalan”, bisik Keanu lembut.

Jasmine terus terisak mencurahkah segala beban dan kesedihan dihatinya. Dia sadar esok hari tak akan ada lagi pelukan Keanu untuknya. Keanu sudah memutuskan untuk kembali ke New York. Laki-laki yang selalu setia mendukungnya dalam segala hal itu memutuskan untuk pergi. Jasmine tahu Keanu juga terluka dengan pilihannya. Dia juga tahu laki-laki itu masih sangat mencintainya, entah dengan wujudnya sebagai Jasmine ataupun Carmen.

Pulanglah jika sudah tak sanggup

“Jika kamu sudah lelah dan tidak sanggup, pulanglah dan kembali padaku. Aku akan menunggumu”, bisiknya lagi bersungguh-sungguh. Dalam tangisnya Jasmine menganguk pasti.

Jasmine menatap bisu kearah beberapa orang sedang beristirahat menghabiskan makan siang ditaman kota. Hari ini Keanu kembali ke New York. Dia sengaja melarangnya untuk mengantar. Alasannya cuma satu, tidak ingin terlihat konyol dengan perpisahan yang akan membuat mereka bertingkah seperti akan berpisah selamanya. Jasmine setuju, berat rasanya berpisah dengan laki-laki yang selalu ada disampingnya selama 6 tahun ini. Dia adalah malaikat penyelamatnya. Dirinya sangat berhutang budi padanya.

Jasmine tak akan pernah melupakan hal itu. Dipejamkan matanya sambil menairk nafas berat. Berharap semua cuma mimpi semalam. Memejamkan mata dan menghembuskan nafas kuat-kuat. Saat Jasmine membuka matanya ditemukan Rava berdiri didepannya dengan senyumnya mempesona. Jasmine mengeluh pedih didalam hati, senyum untuk Carmen, bukan untuknya.(pw)

Baca lanjutan cerita ini di << Cerita remaja Jasmine 3 – Pembalasan Yang Menyedihkan >>


Terima kasih telah mengunjungi Bisfren dan membaca cerita romantis cinta tragis. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi karya-karya sobat sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments

  1. Kak akhirnya gmn?, kok putus lagi. Ayooo kak lanjutannya. Di tunggu ya kak
    .