Jasmine

cerita romantis cinta dan dendam

Jasmine adalah cerita romantis cinta dan dendam gadis cantik bernama Jasmine pada calon mertuanya yang dengan sengaja merencanakan pembunuhan untuk menyingkirkannya.  Simak selengkapnya cerpen keluarga berikut :

Cerita Romantis Cinta Dan Dendam – Jasmine

Bagi Rava, Jasmine adalah putri melati dengan keharuman tiada terkira. Dihati Rava Jasmine seperti  ibu bidadari berhati lembut penuh kasih sayang walaupun karakter aslinya sehari-hari rada tomboy dan seenaknya. Jasmine adalah bunga paling harum sekaligus paling indah dalam hatinya. Pelindung tercantik dari Tuhan untuknya. Jasmine seperti namanya, berarti bunga melati, memang sosok cantik sangat sempurna tiada bandingnya. Baginya Jasmine adalah segalanya dalam hidupnya. Tiada peduli kata orang, teman-teman, keluarganya, bahkan ibunya.

Ya, ibunya, Nyonya Clements, mencemaskan keadaannya, karena sejak bertemu Jasmine anaknya menjadi tergila-gila pada semua berbau melati entah itu teh, sabun, pengharum ruangan, ataupun minyak wangi. Bahkan yang tambah mencemaskan, putranya memohon-mohon pada ibunya untuk dibelikan bibit bunga melati agar bisa menanamnya serta memiliki kebun bunga melati di rumahnya.

Diusianya baru 9 tahun benar-benar membuat sang ibu cemas bukan main. Tapi karena putranya adalah anak bungsu, harapan sekaligus penerus usaha mereka, akhirnya dipenuhi juga keinginannya. Tiada disangka hanya satu alasannya, karena gadis kelas III SMP bernama Jasmine Anaswa. Penghuni perumahan blok sebelah. Dirinya sudah bersusah payah menyelidiki latar belakang Jasmine namun belum berhasil. Akan tetapi ibunya berfikir dirinya pasti akan mengetahui latar belakang gadis itu cepat atau lambat.

Keluarga Jasmine sangat tertutup serta bukan merupakan keluarga suka bergaul di lingkungan mereka. Hanya satu hal diketahui Nyonya Clements bahwa Jasmine hanya memiliki ibu, tiada lagi memiliki ayah. Kecemasan serta kekuatiran ibunya tiada diketahui putranya. Dalam hati bahkan di benaknya, Jasmine merupakan hal paling penting tak bisa diabaikan. Seakan tiada peduli pada usianya yang masih berumur sembilan tahun sementara Jasmine sudah kelas III SMP. Baginya Jasmine adalah takdirnya.

Betina tangguh

“Hei apa kalian lakukan ?, beraninya cuma main keroyokan, sini kalo berani”. Sebuah suara nyaring melengking bernada tantangan terdengar di pertigaan jalan kompleks perumahan cukup elit itu. Jalan disana memang sepi serta sangat jarang dilewati kendaraan pada jam 2 siang seperti ini. Rava tersungkur di jalan dengan wajah lebam bekas pukulan tak mau mengangkat wajahnya.

Akhir-akhir ini memang kakak-kakak kelas 6 entah kenapa suka mengganggu serta memerasnya. Dirinya bahkan tak bisa makan saat istirahat gara-gara uang jajannya diambil terus oleh mereka. Tapi mau bagaimana, dirinya tiada daya. Tubuhnya kecil lagi kurus, berkacamata minus 2. Lengkap sudah wujudnya untuk dikerjain kakak-kakak kelas. Kalau saja mau dirinya pasti akan mengadu pada sang kakek. Namun otak kecilnya menolak, kalau mengadu dirinya tak akan bisa lagi sebebas saat ini. Hidupnya akan seperti dalam penjara karena kemana-mana orang-orang suruhan kakek akan selalu berada disampingnya. Saat sudah pasrah akan pulang babak belur inilah, tiba-tiba kakak-kakak kelasnya berhamburan lari tak tentu arah. Ternyata…

“Hei dik… kamu tak kenapa-napa kan ? Tenang saja, sudah kuusir berandal-berandal kecil itu. Sekarang dirimu aman.”

Jasmine berjongkok tangannya bergerak meraih dagunya. Waah kalau tak keburu datang bisa babak belur parah nih anak, sungutnya. Dia tak berani menatap Jasmine. Baginya pantang menunjukkan kelemahannya di depan wanita. Tapi tangan Jasmine mengangkat dagunya sehingga membuatnya mau tak mau menatap Jasmine tepat pada kedua bola mata bening menyorot lembut itu. Jiwanya seperti terhipnotis, tersedot dalam pusaran danau teduh menenangkan. Rasa sejuk seakan menyiram hatinya. Segala rasa sakit tiba-tiba sirna begitu saja.

“Dasar anak-anak nakal, sudah berapa lama dikerjain dik ? Seragam kalian sama pasti kakak kelas yah ?” pertanyaan Jasmine hanya dijawab anggukan kepala. Dirinya masih sibuk meresapi kehangatan dalam hatinya.

Awal perkenalan

“Nanti kalau sampai rumah lukanya dibersihin pakai air hangat yah biar gak infeksi, trus di lumurin obat merah biar cepat kering.” Lagi-lagi dia hanya mengangguk sambil tetap memandang Jasmine dengan tatapan takjub bercampur kagum. Apalagi saat Jasmine membersihkan wajahnya menggunakan tisu.

“Aww…”

“Ssstttt… anak cowok gak boleh cengeng, pantang kalo cowok nangis atau ngeluh, anak cowok harus tangguh. Iyakan ? Namaku Jasmine, kamu ? ”

“Aku Rava “ ucapnya pelan menahan sakit pada wajahnya. Jasmine meraih tangannya untuk bangkit berdiri.

“Kamu pulang arah mana ?”

“Arah sana, rumahku di blok D no 34” ucapnya lancar. Jasmine membantunya mengibas-ngibaskan debu pada belakang celananya.

“Aku diblok E rumahku no 44, baru pindah seminggu lalu, kamu adalah teman pertamaku di blok ini dik..”

“Wah kakak warga baru pindah kemarin itu yah ?”

“Jangan panggil kakak, panggil namaku saja.”

“Tapi kakak kan SMP sedangkan aku masih SD”, bantahnya. Jasmine tersenyum lebar mengacak rambutnya lembut.

“Panggil nama saja ya, diriku lebih suka orang memanggil namaku. Tapi ini rahasia diantara kita saja kamu boleh memanggillku Jasmine. Aku akan memanggilmu adik…”

“Tidak adil dong kalau kamu boleh memanggilku adik tapi kamu memanggilku kakak ?”

“Terserah kamu saja adik kecil, mulai saat ini kita akan selalu berteman. Aku bisa menemuimu kapan saja, kamu juga begitu. Ok ?”

Kalimat tersebut baginya adalah satu janji untuk selalu dipegangnya. Sejak itu Jasmine baginya adalah semangat baru, awal kehidupannya baru. Semua hal tentang Jasmine berusaha diketahuinya. Dirinya juga tidak takut lagi diganggu kakak kelas.

Semakin mencemaskan, mereka menjadi sedemikian erat

Walaupun umur mereka terpaut sekitar 6 tahunan, tapi  hubungan pertemanan diantara mereka sangat erat. Kekagumannya terhadap Jasmine semakin bertambah saat mulai mengenal karakter tomboy Jasmine. Jasmine memegang sabuk hitam DAN 1 karate sehingga gayanya rada tomboy, gak pernah kenal takut. Akrab dengan Jasmine membuatnya ikut latihan karate walau cuma mentok pada sabuk biru. Entah karena badannya sering sakit atau karena memang gak punya bakat,  dia akhirnya berhenti.

Kedekatan mereka membuat keluarga Clements mulai cemas. Apalagi saat Rava menginjak bangku SMA sementara Jasmine sudah kuliah desainer. Mereka pikir kedekatan anaknya dengan Jasmine akan terhenti saat Jasmine kuliah lalu bergaul bersama teman-teman sebaya. Pikir mereka Jasmine yang sering mengunjungi anaknya, ternyata putra mereka. Mereka cemas akan perkembangan jiwa putranya karena sedikitpun tiada dapat jauh dari Jasmine. Pada pandangan mereka, sang pewaris sudah terlalu terobsesi pada Jasmine sehingga tidak bisa dibiarkan.

Bahkan mulai terdapat rasa cemburu dalam hati Rava

Semua kecemasan serta kekawatiran keluarga Clements tiada mampu membuat hatinya berpaling. Baginya Jasmine masih tetap sama. Mereka tetap saling bertemu untuk sekedar mengatakan kangen atau curhat-curhatan. Bercerita tentang kuliahnya, pelajaran-pelajarannya, dosen baik, dosen killer, teman, bahkan cowok yang berusaha mendekat padanya. Rava selalu menjadi pendengar setia. Sesekali dirinya menggoda atau meledek Jasmine. Dia suka melihat Jasmine bercerita, tertawa, tersenyum, atau bahkan marah-marah sekalipun. Kalau Jasmine bercerita tentang cowok menyukainya, dia akan menunjukkan rasa cemburu. Tapi Jasmine begitu pandai membuatnya tenang.

Saat Rava duduk dibangku kuliah Jasmine sudah mulai magang disebuah rumah mode. Dirinya mendapat pekerjaan sebagai asisten desainer. Saat itu Jasmine terang-terangan menunjukkan pacarnya, seorang bintang iklan. Namun Rava bukan lagi anak SMA dengan rasa cemburu berlebihan. Sekarang dirinya adalah lelaki dewasa calon pewaris tunggal perusahan besi rintisan kakeknya. Seluruh masa depan perusahan ada ditangannya, nasib keluarganya tergantung bagaimana dirinya mengelola perusahan dari generasi ke generasi.

Hal tersebut membuat apapun tentang pribadinya selalu menjadi sorotan keluarga maupun media. Dia sadar betul akan hal tersebut. Dirinya juga mengetahui bahwa hubungan pertemanannya pada Jasmine tidak disetujui keluarganya. Tapi entah kenapa hatinya selalu terikat pada Jasmine. Walaupun pertemuan mereka sudah semakin jarang terjadi, namun disela kesibukkan mereka masih berhubungan. Mereka masih saling bertemu sekedar minum kopi, makan siang, mengirim pesan dan telpon-telponan. Jasmine tiada pernah melupakannya bagaimana dirinya bisa melupakan Jasmine, melati dihatinya. Tanpa sadar dia selalu membanding-bandingkan Jasmine dengan gadis-gadis yang berusaha dekat dengannya. Itulah, bagaimana bisa mencium aroma lain jika keharuman Jasmine lebih wangi dibandingkan bunga lainnya.

Jasmine menikahi pengusaha kaya

Saat Jasmine memutuskan menikahi pengusaha kaya Anjas wijaya, dirinya tak bisa menahan. Apa harus menangis, atau berteriak, memohon-mohon kepada Jasmine untuk jangan menikah ?. Dirinya adalah Rava Clements, seorang penerus sekaligus pewaris Clements Steel Group. Dunia akan menyorotinya, bukan dirinya menjadi korban tapi Jasmine kesayangannyalah akan menderita. Jadi tiada mungkin membiarkan itu terjadi. Lebih baik dia menanggung perasaannya. Akan ditunggunya waktu tepat bahkan hanya Tuhan mengetahui kapan waktu tepat itu.

“Va… umurmu sudah 30 lho.”

“Apa ada masalah dengan umurku ?” sinis suaranya disela-sela makan siang pada sebuah kafé favorit mereka. Jasmine tertawa lebar namun tiada dapat menutupi gurat kesedihan pada wajah cantiknya. Dia tahu pasti apa penyebabnya.

“Apa kamu tidak ingin menikah ?, membangun keluarga, lalu punya anak. Bukankah sekarang dunia berada ditanganmu Va”

Kata-kata Jasmine menohok hatinya. Walaupun dunia dalam genggamanku, tapi jika kamu tidak dalam genggamanku apalah arti seorang Rava, keluhnya dalam hati.

“Jangan menyindiriku dengan kata sindiran seperti itu, aku tidak suka… lalu kamu sendiri ? Apa kamu sudah berhasil membangun keluarga kecilmu, impianmu itu ?” kali ini serangan datang darinya, bisa ditebak reaksi Jasmine, wajah Jasmine berubah murung. Dia tahu apa maksudnya tapi tak ingin mengakuinya, tak ingin Rava mengoloknya.

“Aku mencintainya Va.”

Kuakui hatiku cemburu

“Baguslah…. Teruslah mencintainya sampai kamu bosan”. Rava beranjak , “Sebentar lagi ada meeting, aku pergi dulu. Habiskan makananmu Jasmine, lalu pergilah ke salon. Wajahmu terlihat begitu kusut tak seperti baju-baju rancanganmu”.

Usai berkata begitu dia langsung pergi meninggalkan Jasmine. Melenggang cuek. Jauh dalam hatinya tiada tega berkata begitu pada Jasmine. Tapi dia benci mendengar kata cinta keluar dari bibir Jasmine, apalagi kata-kata itu bukan untuknya. Lagipula hatinya benci karena Jasmine tidak mau mengakui kalau laki-laki yang katanya mencintai serta dicintainya memiliki hobby selingkuh. Cinta, lelaki tersebut tiada pantas mendapat cinta Jasmine. Yang pantas hanyalah dia.

Jasmine terpekur di tempat duduknya menatap makanan tanpa selera. Kata-katanya sangat menyakitkan, benar-benar menyakitkan. Kalau saja diijinkan menangis dihadapannya, jika saja boleh jujur pada hatinya. Jika saja ?,  sebutir bening dipelupuk mata cepat-cepat dihapusnya saat melihat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. “Maafkan aku Jasmine…” pesan pendek tapi sarat makna membuat hatinya sedikit lega. Rava memang terkadang begitu, tapi dia tidak bisa menyalahkannya. Dia melakukannya karena tidak tahu apa–apa. Sementara Jasmine harus benar-benar menutupi semua darinya.

Ternyata begini riwayat hidup keluarganya

Sebelumnya Jasmine tidak pernah tahu kalau Rava merupakan cucu laki-laki satu-satunya dari pemilik Clements Steel Grup. Anak kurus sering dibuli kakak-kakak kelasnya itu ternyata seorang pewaris tunggal  Clements  Steel Grup. Tempat dimana ibunya bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik Clements.

Ibunya seorang janda, ayahnya meninggal saat Jasmine berusia 3 tahun karena penyakit TBC. Saat memasuki umur 12 tahun, ibunya bertemu seorang laki-laki, kata ibunya dia teman sekerjanya. Ibu Jasmine memang masih muda, berwajah cantik bertubuh proposional. Laki-laki tersebut jarang ke rumah hingga mereka pindah ke kompleks perumahan cukup elit berbeda blok dengannya. Jasmine tak pernah tahu kalau laki-laki tersebut adalah seorang keturunan Clements, yaitu Tuan Clements, ayah Rava. Dan kisah sedih itupun berawal dari kepindahan mereka kesana.

Awalnya Jasmine tak mengerti sama sekali. Sangkanya karir ibunya membuat kehidupan mereka bisa berkembang lalu tinggal dikompleks cukup elit. Hal tersebut membuat Jasmine tidak rendah diri apalagi malu lagi disekolah, dia sudah memiliki semuanya. Ibunya benar-benar memanjakan serta memberikan semua hal terbaik untuknya. Walaupun terkadang hati Jasmine bertanya siapa laki-laki yang sering bersama ibunya namun jarang sekali menyapanya.

Saat memasuki bangku SMA, Jasmine baru tahu kalau laki-laki itu adalah Tuan Clements. Saat mendatangi Rava di sekolahnya matanya melihat sebuah mobil berhenti lalu menyapa Rava. Ternyata pria tersebut adalah Tuan Clements, pria yang sering mengunjungi ibunya. Itu kenyataan pahit, rasanya ingin berteriak pada dunia mengapa begitu tidak adil. Perlahan namun pasti dia menyadari semua. Tuan Clements memiliki semua dalam genggamannya, bahkan hidupnya juga Ibunya. Jasmine tak ingin menambah beban Ibunya yang sudah cukup menderita dalam kehidupannya. Dia memilih menderita demi kehidupannya.

Jasmine tahu, sebagai selingkuhan dari lelaki penguasa hidup mereka, ibunya tak punya pilihan lain. Ibunya sudah terlanjur masuk dalam dunia Tuan Clements yang kotor, penuh tipu daya. Sekian tahun ibunya menjalin hubungan dengan Tuan Clements tanpa diketahui seorangpun dari keluarga Rava.

Rava tak mengetahui jalan ceritanya

Dirinya juga tiada pilihan lain selain diam menyembunyikan semuanya dari Rava. Rava begitu baik lagi polos, sehingga tidak adil rasanya untuk memberitahukan kenyataan pahit tersebut padanya. Dia juga begitu takut menghadapi kenyataan kalau Rava akan sangat membencinya. Tidak ingin dirinya kehilangannya. Rava satu-satunya pria dalam hatinya. Sejak pertama kali bertemu dengannya, hatinya sudah sangat menyukainya.

Untuk menutupi semuanya, Jasmine semakin menunjukkan betapa dia sangat menyayanginya. Sambil tetap pasrah hidupnya. Tak dapat dipungkiri berkat penguasa Clements dia bisa kuliah pada Universitas terbaik mengambil jurusan diidamkannya. Semua pencapaiannya tak lepas dari peran penguasa Clements.

Namun bau busuk itupun terbongkar

Hingga suatu waktu sekitar 4 tahun lalu, saat dia memasuki semester terakhir, semuanya terbongkar. Keluarga Clements akhirnya mengetahui kisah perselingkuhan Tuan Clements dengan Ibunya. Semua akses keuangan diblokir, lalu Tuan Clements entah dengan cara apa diungsikan ke Amerika. Sejak saat itulah keluarganya jadi bulan-bulanan keluarga Clements. Dirinya serta ibunya hidup dalam ancaman. Satu-satunya senjatanya cuma Rava. Dia terpaksa melakukannya. Belajar menjadi licik, walaupun bertentangan dengan hatinya. Dia dengan keluarga Rava terikat perjanjian tanpa sepengetahuan anak mereka.

“Ibu anak sama saja ular kepala dua, kalian benar-benar pandai memanfaatkan situasi”.

“Jangan bawa-bawa ibuku tante” sela Jasmine, kali ini Jasmine tidak akan mudah menyerah.

“Lalu apa ?, kalian pikir bisa memanfaatkan keluarga kami lalu hidup dari harta kami ?, pikiran kalian terlalu picik !”.

“Maafkan tante, bukankah urusan tante dengan ibu saya sudah selesai ?” sela Jasmine.

Nyonya Clements mendengus sinis “katakan berapa harus kubayar supaya meninggalkan Rava..”

Jasmine menarik nafas panjang. Maafkan diriku Rava, terpaksa kulakukan ini. “tante tahu kuliahku sebentar lagi selesai. Semua akses keuangan kami sudah tante tutup, kami melarat. Tak mungkin bisa menyelesaikan kuliahku tanpa ada biaya, kerja sampinganpun tak akan mencukupi masa-masa akhir kuliah hingga wisuda”.

“Kenapa tidak ?, bukankah kamu cantik Jasmine ?, kamu bisa menjual dirimu”.

Kata-kata Nyonya Clements begitu menohok namun hatinya mencoba tetap bertahan. Hinaan-hinaan yang didapatkan dari mereka sudah cukup banyak, jadi sekalipun harga dirinya diinjak-injak dia tak akan mempermasalahkannya. Dalam benaknya hanya satu, semua kepahitan bersama ibunya tak boleh berakhir sia-sia. Setidaknya dirinya bisa meraih gelar sarjana lalu bekerja di rumah mode tempatnya magang.

Lalu perjanjianpun terpaksa disepakati

“Baiklah, kita buat perjanjian. Kalau kamu meninggalkan anakku lalu tidak bertemu dengannya lagi akan kuberikan apapun maumu. Tapi buktikan selama berapa bulan kedepan. Besok kamu bisa datang ke kantor pengacaraku lalu menandatangani perjanjian. Ingat sekarang hidup ibumu juga kamu berada dalam genggaman kami. Jika kamu melanggar, tak akan ada toleransi sama sekali”

Pembicaraan tersebut diakhiri dengan penandatanganan surat-surat pada kantor pengacara keluarga mereka keesokan harinya. Saat penandatanganan perjanjian terdapat satu point tidak bisa dilupakannya. Selain dilarang bertemu dengan Rava, setelah lulus sarjana Jasmine harus bersedia dinikahkan dengan orang pilihan keluarga Rava.

“Tenang saja, mereka tak akan menikahkanmu dengan orang tua bangkotan” itu kata sang pengacara. Jasmine menandatanganinya lalu mulai menghindari Rava. Dirinya merasa bersalah, semua dilakukannya dengan picik. Bagaimana dirinya bisa menatap mata Rava dengan semua kelakuannya saat ini. Tapi dunia begitu kejam, dirinya harus melakukannya untuk bertahan.

Bulan-bulan pertama sejak diadakannya perjanjian dengan keluarga Rava, Jasmine selalu mencari alasan untuk menghindari pertemuan mereka. Dirinya bahkan mengganti nomor ponsel. Masuk bulan kelima tiba-tiba anak itu muncul di tempat persembunyiannya. Dirinya tak bisa menghindar. Rava terlihat begitu kurus, bagaimana dirinya begitu tega untuk tidak menemuinya.  Masih dengan seragam SMA dia menemuinya. Masih diingat jelas saat Rava memohon untuk jangan melakukannya lagi. Ternyata semuanya diketahui keluarga Rava, ibunya menemuinya di kampus. Dipikirnya wanita tersebut akan memarahinya karena sudah menyalahi perjanjian. Ternyata tidak, walaupun tetap saja setiap katanya sangat menyakitkan.

Jasmine boleh menemui selama Rava ujian

“Karena anakku akan ujian akhir, jadi kuijinkan dia menemuimu. Kamu juga boleh menemuinya. Diriku tak ingin anak kesayanganku depresi lalu tak lulus SMA gara-gara anak pelacur sepertimu. Jangan kawatir uang bulananmu tak akan kupotong. Tapi ingat perjanjian yang sudah kamu tandatangani”. Jasmine bisa menarik nafas lega, seorang ibu tetaplah ibu bagi anaknya. Sekejam apapun jika untuk kepentingan anaknya apapun akan dilakukan.

Hubungan Jasmine dengan Rava kembali seperti dulu. Melihat Rava bisa tersenyum seperti dulu hatinya begitu tenang. Namun jauh didasar hatinya dirinya menyesali perbuatannya memanfaatkan kedekatannya dengan Rava. Dia sangat mengenal seperti apa dirinya di hati Rava. Jalinan perasaan diantara mereka sudah mengalahkan kedekatan kakak dengan adik ataupun kekasih. Perasaan lebih kuat saling memiliki menjadi pengikat nyata diantara mereka.

Rava lulus SMA dengan nilai sangat memuaskan lalu melanjutkan kuliah di luar negeri. Jasmine hanya bisa bertemu Rava setahun 2 kali saat Rava pulang ke Indonesia, selebihnya mereka berhubungan lewat telfon. Perjanjian antara Jasmine dengan keluarga Rava selesai saat dirinya setuju menikah dengan Anjas.

Selesai kuliah, Rava langsung mengambil alih perusahan keluarga mereka. Kedudukannya sebagai Presiden Direktur Clements Grup menjadikan dirinya tak bisa sembarangan lagi ditemui. Jasmine pun tak pernah berusaha menemuinya walau ingin sekali bertemu. Tapi ternyata menjadi Presiden Direktur tak menghalangi Rava untuk menemui Putri Jasminenya.

Sebenarnya Rava mengetahui

Bertahun-tahun Rava menyimpan cerita sama. Kenyataan pahit harus diterimanya saat mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan ibu Jasmine. Semua berawal saat dirinya memergoki ayahnya sedang menelpon seseorang. Secara tak sengaja pula telinganya mendengar seseorang menyebut-nyebut nama Jasmine serta Ibunya. Awalnya tak terlalu ditanggapinya. Tapi rasa penasaran membuatnya mulai suka menguping serta mencari tahu.

Waktu itu dirinya masih kelas 1 SMP, rasa ingin tahunya begitu besar, sehingga selalu mencoba mengikuti ayahnya. Hingga akhirnya diketahui ayahnya sering menghabiskan waktu di rumah Jasmine. Marah, tentu saja dirinya sangat marah. Benci jangan ditanya lagi betapa benci hatinya pada ayahnya. Lelaki paling dihormati juga paling ditakutinya ternyata telah menghianati ibunya.

Dirinya memang tak terlalu dekat dengan ayahnya, mungkin karena ayahnya adalah sosok dingin bahkan terkadang bersikap otoriter terhadapnya juga ibunya. Hal tersebut membuat semakin lebar jarak diantara mereka. Tapi hatinya tak bisa membenci Jasmine serta ibunya.  Entah kenapa ?. Tapi baginya semua tidaklah penting. Baginya cuma satu Jasmine. Apapun kenyataan hidup harus dijalani asalkan Jasmine disampingnya akan membuatnya selalu terhibur. Apabila memang merupakan takdir, semua akan dijalaninya, itu keputusannya.

Tapi Jasmine adalah segalanya baginya

Saat duduk di bangku terakhir SMA, fikirannya benar-benar dibuat bingung bahkan putus asa. Jasmine menghilang. Tempat kosnya sudah diisi orang lain. Nomor telfon tidak aktif. Rasanya seperti mau gila. Satu-satunya tempat pelariannya dari dunia penuh kemunafikan hanya Jasmine. Jasmine selalu sabar mendengarnya. Selalu membelai lembut rambutnya sehingga dalam kesedihan dirinya tertidur dipangkuannya. Jasmine adalah dunianya, senyum serta tawanya, candaan maupun olokannya melebihi apapun didunia ini.

Ketidak hadiran ayahnya secara tiba-tiba sedikitpun tak mengusiknya. Dirinya sama sekali tak peduli, bahkan sudah lama mengutuki agar ayahnya pergi lalu menghilang dari hidupnya dan dirinya. Namun ketika Jasmine menghilang dunianya terasa mati. Nafasnya seolah berhenti, raganya tak bisa berbuat apa-apa.

Hampir sebulan dirinya seperti orang mati. Kesekolahpun sama sekali tak ada niat belajar padahal sebentar lagi ujian kelulusan. Dirinya sudah hampir putus asa ketika sang ibu memberikan alamat Jasmine. Tiba-tiba dunia suram berubah menjadi cerah. Tak hendak dirinya bertanya mengapa ibunya tahu tempat tinggal Jasmine sementara dirinya tidak.

Saat rahasia ibunya terkuak

Pertanyaan-pertanyaan yang dikesampingkan akhirnya terkuak saat baru menginjak tahun kedua di Yale University. Tanpa sengaja didengarnya pembicaraan antara sang ibu dengan pengacara keluarga mereka. Pintu tak tertutup membuatnya leluasa mendengar pembicaraan mereka. Itu soal Jasmine serta sebuah perjanjian.

Kenyataan didapat membuat hatinya pilu. Ibunya sosok kebanggaannya, wanita yang begitu disayangi serta dikasihi ternyata menjadi pengatur segala hal untuk memisahkan dirinya dari Jasmine. Bahkan tega menikahkan kesayangannya dengan pria pilihan mereka. Dia tak akan pernah menyalahkan Jasmine karena telah memanfaatkannya, dirinya sangat mengenal Jasmine. Melatinya tak akan pernah melakukan hal bertentangan dengan hati kecilnya jika tidak terpaksa.

Cinta dalam hati membuatnya memahami apapun dilakukan Jasmine. Tetapi dirinya tiada bisa menerima saat Jasmine dinikahkan dengan lelaki pilihan ibunya. Lebih menyakitkan lagi Jasmine dalam kepura-puraannya selalu mengatakan sangat mencintai pria tersebut. Owh ibu, mengapa ? apakah karena semua kekuasaan juga kepemimpinan Clements Steel sekarang berada ditangan ibu ?.

Setiap kali bertemu dengan ibu wajahnya harus selalu tersenyum lebar walau hatinya perih. Apakah dendam ibunya tiada habis ?, tak puaskah ibu melihat kehidupan menyedihkan mereka ?. Ibu Jasmine kini harus hidup di rumah sakit jiwa karena tak mampu menahan beban jiwa serta tekanan-tekanan dari keluarga Clements. Bahkan Jasmine selalu diancam juga dihina.

Disaat demikian, satu hal dalam benaknya adalah secepatnya menyelesaikan kuliah lalu mengambil alih kepemimpinan Clements Steel sesuai wasiat utama sang kakek. Cucu pertama laki-laki dari keturunan Clements akan memegang kepemimpinan perusahan.

Ayahnya sudah tidak ada. Dirinya berhak untuk jabatan tertinggi Clements Grup. Walaupun harus berperang dengan ibunya, dirinya tidak akan menyerah. Rasa marah juga benci memacunya untuk mencapai impian dengan menyelesaikan pendidikan bisnis management secara gemilang. Diapun tak perlu bersusah-payah mengambil alih perusahan. Ibunya dengan bijak mundur lalu langsung menyerahkan kepemimpinan perusahan padanya melalui rapat pemegang saham.

Setelah memegang kekuasaan, Rava ingin Jasmine kembali padanya

Dan saat inilah waktunya. Sudah terlalu banyak kepahitan dijalaninya bersama Jasmine. Saat ini keluarganya tak pernah mengusiknya. Selama perusahan berjalan baik, kantong-kantong kekayaan terisi penuh, mereka tak akan banyak komentar atau melakukan tindakan-tindakan merugikan. Sekarang hanyalah bagaimana menjaga hubungan baiknya dengan media agar tidak terlalu menyoroti kehidupan pribadi serta keluarganya. Karena sebagai figur publik, keberadaannya selalu mengundang media mengutak-atik kabar tentangnya baik itu perusahan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Sementara Jasmine merupakan satu hal harus sangat dilindungi. Apabila media mengetahui hubungannya, maka Jasmine akan semakin terluka. Yang paling penting dalam kehidupannya adalah Jasmine. Walaupun sering terluka teramat dalam tapi baginya hal tersebut merupakan pengorbanannya sehingga tiada perlu disesali. Dan jika pengorbanannya belum cukup dirinya akan mengorbankan semuanya demi Jasmine. Tak kan pernah menyalahkannya karena telah memanfaatkan kedekatan mereka.

Jasmine bercerai, bagaimana cara menyingkirkannya ?

Pasca gugurnya perjanjian antara Nyonya Clements dengan Jasmine, wanita cantik itu bisa menarik nafas lega. Tapi tidak demikian dengan ibu Rava, sang Nyonya Clements, hatinya justru dirundung kecemasan. Dengan kedudukannya, anaknya, bisa saja mengambil keputusan penting tentang kedekatannya pada Jasmine. Bila sampai hubungan mereka tercium media maka akan menjadi berita besar yang pada akhirnya berimbas pada perusahaan. Tentu saja selain berimbas pula pada keluarga, serta saingan-saingan bisnis mereka.

Bagi Nyonya Clements, Jasmine merupakan duri dalam daging bagi keluarganya. Persis seperti ibunya, Jasmine berpotensi menghancurkan keluarga mereka. Sehingga dirinya merasa harus melindungi putranya bagaimanapun caranya. Perjanjian dengan Jasmine sudah gugur setelah pernikahan Jasmine dengan Anjas yang hanya seumur jagung. Sekarang Jasmine bebas bertemu dengan putranya lalu Jasmine akan kembali masuk dalam kekehidupan Rava.

Itulah sebabnya dia merasa harus memikirkan cara untuk memisahkan mereka. Kalau perlu dirinya akan melakukan hal kejam seperti perlakuannya pada Tuan Clements. Kali ini Jasmine harus disingkirkan, setidaknya tidak boleh lagi berada di dekat Rava.

Tapi, Jasmine adalah nafas bagi anaknya. Hubungan mereka berdua sudah terikat sejak kecil. Dirinya sangat mengenal putranya. Banyak hal buruk terjadi saat Jasmine tak ada didekatnya. Apakah anaknya kali ini akan menanggung resiko buruk itu ? Apakah kebencian dihatinya tidak bisa hilang hanya karena ibu Jasmine adalah wanita selingkuhan suaminya, Tuan Clements. Apakah dirinya akan membiarkan Rava menderita seperti dirinya ?.

Sejak menikah suaminya tak pernah mencintainya. Dengan kehadiran seorang anak, pikirnya hati suaminya akan berubah. Tapi ternyata tidak, malah hubungan mereka semakin jauh. Tawaran perceraian dari suaminya sudah berkali-kali ditolak dengan alasan anak. Dirinya tetap bertahan memilih hidup dalam penderitaan batin demi anaknya juga harta kekayaannya. Untuk semua alasan tersebut, akankah dirinya membuat anaknya menderita seperti telah dialami suaminya ? seegois itukah dirinya.

Nyonya Clements ke apartemen Jasmine

“Apa tante lakukan disini ?” pertanyaan bernada kaget itu menyambut Nyonya Clements saat datang ke apartemen Jasmine. Walau agak kaget dengan kedatangannya, Jasmine tetap membuka pintunya lebar membiarkan Nyonya Clements melangkah kedalamnya.

“Aku ingin bicara baik-baik denganmu Jasmine, mari kita singkirkan permusuhan kita”

“Aku tidak pernah membenci tante atau menganggap tante musuhku”

“Setelah semua ya kamu tidak membenciku ?”

“Sudahlah tante, semuanya sudah berlalu. Yang terjadi sudah terjadi ”

Nyonya Clements duduk di sofa dengan anggun. Jasmine selalu takjub memandang keanggunan Nyonya Clements dari cara bicara serta berpakaiannya. Mengagumi sikap juga karakternya. Dirinya juga tak akan pernah membencinya walau perlakuannya sungguh menyakitkan. Bagi Jasmine semua adalah hukuman baginya. Kedatangan tiba-tiba Nyonya Clements membuat Jasmine bertanya-tanya. Sejak dulu dirinya tahu wanita tersebut tak menyukai kedekatannya dengan anaknya. Dirinya juga tahu berbagai macam cara akan dilakukannya untuk membuatnya menjauh dari Rava. Dan sekarang apalagi ?

Jasmine, dengarkan saya !

Nyonya Clements langsung masuk pada tujuannya. “Tante harap pembicaraan ini bisa ditanggapi dengan bijaksana. Tidak mudah bagi saya untuk datang kesini apalagi memohon. Tapi sebelum semuanya menjadi tak terkendali, tante berharap kamu dapat memutuskan hal terbaik bagi hidup kamu.”

Jasmine mencoba menyimak maksud pembicaraannya. Dirinya tahu semua adalah tentang Rava. Perceraiannya dengan Anjas akan sangat berpengaruh bagi Rava. Maka itulah dia menanggapi semua pembicaraan dengan bijaksana. Pembicaraan mereka begitu panjang dan melelahkan, namun Nyonya Clements bisa menarik nafas lega. Kekhawatirannya tak akan terjadi.

Dirinya mengenal Jasmine dengan baik. Dalam hal komitmen, Jasmine sangat teguh memegangnya. Walaupun harus menderita, Jasmine tiada pernah melanggar janjinya. Untuk anaknya saja Jasmine bisa berkorban, apalagi untuk banyak orang. Jasmine terbentuk oleh lingkungan dengan karakter baik. Dia wanita cantik dan baik, namun tidak cukup baik untuk anaknya.

Jasmine tertekun ditempatnya. Pikirannya tertuju pada satu hal, Rava !. Pembicaraan dengan Nyonya Clements membuatnya kembali tersadar pada posisinya. Banyak orang bergantung pada perusahan yang dipimpinnya. Jika salah bertindak, akan banyak sekali orang akan jadi korban.

Jika dirinya menjauh lalu hilang selamanya dari kehidupan Rava, resiko tersebut akan terhindarkan. Rava sekarang bukan lagi Rava yang dulu, yang tak bisa hidup tanpanya. Rava sekarang sudah benar-benar menjadi seorang lelaki sejati. Hatinya yakin Rava sudah semakin bijak dalam mengambil keputusan. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menghilang selamanya dari kehidupan Rava.

Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri ? Apa sanggup hidup tanpa satu-satunya orang yang memberi harapan sekaligus membuat hidupnya lebih berarti ?. Bertahan dengan segala penderitaan karena memiliki satu harapan suatu saat akan terlewati dan berakhir bahagia.

Rava tertekan akibat Jasmine menghilang

Rava tertekun, kepalanya tepekur. Sudah seminggu wanita tiada kabar dari Jasmine. Bahkan nomor teleponnya pun tak aktif lagi. Apakah Jasmine menghilang lagi ? tidak, itu tak boleh terjadi lagi. Kegelisahan begini terkadang membuatnya tak bisa terpikir. Satu SMS saja dari Jasmine akan membuat semangat hidupnya kembali lagi. Apa semua ulah ibunya lagi ? Ah, dirinya tak boleh berprasangaka macam-macam. Ini bukan jamannya lagi bertindak seperti dulu. Bukankah sudah ditegaskan bahwa dirinya tidak akan melakukan kesalahan dalam hal hubungannya dengan Jasmine. Ibunya sudah menyetujui hal tersebut, yaitu tidak akan mencampuri kehidupan pribadinya.

Kalau bukan ibunya lalu siapa ? apakah dari Jasmine sendiri ?, apakah dirinya begitu tega membiarkannya tanpa sedikitpun pesan ?. Ah benar-benar keterlaluan. Kalau dirinya bisa menemukan Jasmine, dia akan marah pada wanita itu.

Tak juga ada kabarnya

Hari berganti, berminggu, hingga sekarang sudah memasuki bulan ke 4 sejak Jasmine menghilang tanpa jejak. Orang-orang profesional dalam bidang pencarian orang sudah dikerahkannya untuk mencari Jasmine. Tapi tak satupun membuahkan hasil. Jasmine menghilang dari pekerjaaannya, apartemennya, bahkan dari dirinya. Tiada tanda-tanda Jasmine keluar negeri, bahkan apartemennya ditinggalkan tanpa membawa apapun. Baju-bajunya, tas tangan, bahkan ponsel serta dompet beirisi identitas tidak dibawanya.

Hatinya mulai kuatir. Mulai takut tiada dapat bertemu lagi selamanya dengan Jasmine. Dia yakin Jasmine sanggup menjaga dirinya apabila orang berniat jahat, tapi dengan menghilang pikirannya mulai diliputi berbagai ketakutan juga prasangka. Dirasanya ibunya tiada tega berbuat sekejam itu. Dia butuh Jasmine, pada masa sulit, dia selalu membutuhkannya. Apa jadinya kalau Jasmine tiada lagi ?. Dia telah melewati banyak hal, begitu juga Jasmine. Takdir atau hukumankah ini ? Untuk Jasmine dia rela mengesampingkan semuanya termasuk ego apalagi keangkuhannya. Bahkan dia rela melepas semua miliknya saat ini.

Tahun kedua

Ini sudah memasuki tahun kedua Jasmine menghilang. Semua upaya dikerahkan tak membuahkan hasil. Disela-sela rasa putus asanya, dia tetap harus berkutat dengan perusahaan yang membutuhkan perhatian serta kerja kerasnya. Rava mulai mengalihkan pikirannya pada perusahan sehingga perusahannya semakin maju.

Yang ditakutkan oleh ibunya tidak terbukti. Satu-satunya ketakutan Nyonya Clementss sekarang adalah anaknya menutup diri dari wanita. Sehingga membuat hatinya khawatir. Haruskah anaknya berlarut dalam kesedihan sehingga menutup pintu hatinya untuk semua wanita yang mencoba masuk dalam kehidupannya ?. Umur anaknya sudah cukup dewasa, cukup matang lagi mapan untuk menikah. Tapi hingga kini tak terlihat sedikitpun putranya ingin menikah.

Sebenarnya, putranya sudah memutuskan untuk tak akan pernah menikah. Dia membutuhkan wanita untuk menyalurkan hasrat, tapi tidak butuh cinta. Semua bisa dibeli tapi tidak untuk perasaannya pada Jasmine. Jasmine telah mengikat hatinya sehingga dia tidak butuh ikatan lain. Konyol memang, tapi cinta terkadang seperti itu.

Siapa aku ?

Di sudut rumah sakit seorang wanita dengan wajah terbalut perban duduk pada kursi rodanya menatap hampa kearah taman penuh pasien berpakaian putih. Ada yang sedang duduk-duduk sendiri, bergerombol bercengkerama, tertawa, marah-marah sendiri, bahkan ada yang menangis terisak isak sendiri. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit jiwa di sebuah Negara jauh dari gapaian Rava. Entah apa akan terjadi nanti ? pastinya wanita duduk dalam tatapan kosong itu sibuk bertanya-tanya dalam hatinya ? … siapakah aku ?.

<< Baca lanjutannya klik : cerita pendek Jasmine bagian 2 >>


Terima kasih telah membaca cerita romantis cinta dan dendam Jasmine bagian pertama, semoga cerpen diatas dapat menghibur dan menjadi inspirasi. Jangan lupa simak lanjutannya. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments

  1. Kok ceritanya berhenti kak? Lanjutannya gmn? Di tunggu donk endingnya???