Kan Ku Kubur Cinta Ini Di Hatiku

cerpen cinta sedih

Kan ku kubur cinta ini di hatiku adalah cerpen cinta sedih tentang patah hati akibat perbedaan agama sehingga cowoknya memutuskan hubungan. Bagaimana akhir kisah cerpen cinta ini ? silahkan simak pada kisah sedih putus cinta berikut.

Cerpen Cinta Sedih – Kan Ku Kubur Cinta Ini Di Hatiku

She … Kaget, sedih dan terluka : “Sebaiknya kita berteman saja mulai sekarang.” Dia berkata tanpa melihatku. Jantungku tersentak. Apakah telingaku salah mendengar ? Dia ingin mengakhiri hubungan kami ?

“Aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku”. Dia pergi menjauh. Selangkah, dua langkah, dia menggerakkan kakinya dengan pandangan lurus ke depan. Berbaliklah… menolehlah… lihatlah diriku rapuh tanpamu.

Rasa sedih membuat ku terjatuh duduk di lantai coklat depan kamar kosku. Suasana sepi kos memberiku keleluasaan untuk menangis tanpa takut mengganggu siapapun. Penghuni kos lain sudah pulang semua, seharusnya aku sudah ada di rumah bersama keluargaku. Tapi  dengan bodohnya ku memilih diam disini. Setelah satu minggu tanpa kabar, dia menghubungiku lagi, mengatakan ada hal penting harus dibicarakan. Ku tunggu seharian. Membersihkan kamar, merias wajah agar terlihat cantik di depannya. Kupikir dia sangat merindukan karena sudah seminggu kami tak bertemu. Tidak kusangka, dia datang untuk mengakhiri hampir tiga tahun hubungan ini.

“Tidak…!!!” masuk ke kamar dan melempar semua yang bisa kulempar. Buku-buku kuliah beterbangan kesana kemari. Bantal hinggap di atas lemari, satunya lagi masuk kamar mandi karena kebetulan pintunya tidak kututup. Boneka babi pink, dia berikan padaku saat hari jadi kedua kami, terlempar ke lantai. Kuinjak–injak dengan kasar. Rasanya marah dan sakit sekali.

He … Terpaksa harus entah apa alasannya

Baru seminggu aku tak melihatnya, tapi kenapa dia terlihat begitu berbeda ? Wajahnya pucat, matanya sembab. Ini salahku.

Betapa ingin kumenariknya dalam dekapan. Dia tidak salah apa-apa, semua salahku. Ini tidak adil untuknya, tidak adil untukku juga. Tapi apa bisa kulakukan ?. Kutarik nafas panjang sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang kupikir tak akan pernah kuucapkan. “Sebaiknya kita berteman saja mulai sekarang”. Kupandang bunga kamboja Jepang tumbuh di depan kamarnya. Tak ada keberanian untuk menatap matanya.

Dia diam. Kuyakin hatinya terluka. Pasti dia punya ribuan tanya ingin diucap. Tapi kedua bibirnya tertutup rapat. Keheningan itu semakin menyiksaku.

“Yakin kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku”. Ucapku sambil belalu pergi meninggalkannya. Menatap lurus ke depan, tak mau menoleh ke belakang karena kutahu sekali saja berbalik menatapnya, maka pikiranku akan berubah. Tidak, inilah hal terbaik untuk kami. Maafkanlah aku.

She …  Rapuh, gagal move on

Aku harus pulang. aku takut sendiri…

Kuambil beberapa potong pakaian dari lemari dan menjejalkannya sembarangan dalam ransel. Kemudian berjalan pelan ke depan cermin. Lihatlah gadis pada cermin itu ! Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, maskara dan bedaknya luntur akibat air mata tak berhenti mengalir.

“Aku benci kamu…!!!” Aku berteriak penuh kemarahan sambil meninju cermin dengan kuat. Kurasakan sakit luar biasa pada ruas–ruas sendi jari tangan kananku. Tapi sakit itu tak seberapa dibandingkan sakit di dada. Darah merembes dari luka–luka kecil disana. Aku meringis lalu menjatuhkan badan, duduk bersimpuh di depan pecahan cermin terserak di lantai. Batinku tak sanggup.

Dengan tenaga seadanya, kucoba bangkit berdiri. Kakiku bergetar, tapi kupaksa untuk melangkah. Kuambil jaket dan ransel lalu memakainya. Helm putih tadi terlempar, kini tergeletak di lantai, kupungut dengan tangan kiri karena tangan kanan rasanya sakit sekali. Kupakai, tapi talinya tidak kupasang. Biasanya dia selalu memasang tali helmku kalau lupa. Ah, sialan! Aku harus berhenti memikirkannya, berhenti mencintai dan melupakan.

Kupacu sepeda motorku dengan cepat. Walau jari-jari terasa sangat perih, aku memaksanya untuk memutar stang motorku. Beberapa kali motorku hampir menabrak pembatas jalan, tapi itu tak membuatku mengurangi kecepatan. Jalanan berliku dan menanjak juga tak menjadi halangan bagiku.

She … Kenangan itu terus saja terbayang

Rasa perih di dadaku semakin besar begitu adegan demi adegan kebersamaanku dengan pria itu muncul di otakku. Masih kuingat dulu kami sering pergi berboncengan, mengendarai sepeda motor pada jalan sepi menuju pantai di kota kecil tempat kami menuntut ilmu. Kuingat selalu memeluknya dengan erat saat kecepatan motornya sudah jauh melewati batas normal. Kuingat dia menggenggam kedua tanganku dengan tangan kirinya sambil berkata “Aku sangat mencintaimu”. Aku ingat setelah mendengarkan kata-kata itu, aku menyandarkan kepalaku ke punggung hangatnya dan berkata, “Aku juga sangat mencintaimu”.

She … Membuat mataku terpejam saat mengemudi

Hatiku semakin sakit. Lalu kupejamkan mataku perlahan. Menikmati terpaan angin dingin seakan menampar wajahku. Tuhan, ku tak bisa hidup tanpa dia, hatiku sangat mencintainya. Lebih baik mati daripada hidup tanpa dia.

Lalu, antara sadar atau tidak, kurasakan hantaman keras mengenai sepeda motorku. Kejadian itu begitu cepat, refleks mataku terbuka. Namun saat mataku terbuka, tubuhku sudah tersungkur diatas aspal. Helm dengan tali tidak terikat, terlepas dari kepala dan terpental jauh. Daguku membentur aspal kasar. Kurasakan nyeri tak tertahankan di beberapa bagian tubuhku. Lalu semuanya gelap. Sangat gelap. Tidak bisa melihat apapun. Apakah ini kematian ?

Cerita cinta sedih patah hati

He… Galau

“Mas..”

Bagaimana sekarang keadaannya ? Hatiku takut dia akan melakukan hal–hal bodoh. Apakah keputusan ini salah ?

“Mas ?”

Aku memang pria paling bodoh di dunia ini.

“Mas ? Kamu sedang memikirkan apa ?”. Kurasakan tarikan pada lengan kiriku.

“Tidak ada.” jawabku tersadar dari lamunan sambil menggeleng lemah.

“Kuperhatikan dari tadi kamu diam saja.” Gadis di sebelahku terlihat agak kesal. “Kurasa hanya badanmu saja di sini, hati dan pikiranmu melayang entah ke mana,” dia merengut.

Aku berusaha menyunggingkan senyum, seorang wanita tela kusakiti, tidak akan menyakiti siapapun lagi, “Tidak. Mataku hanya sedikit mengantuk.”

“Menurutmu cincin ini bagus atau tidak ?” dia memperlihatkan sepasang cincin emas kepadaku. Kami memang sedang ada di sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan. Ya, gadis di sebelahku ini adalah calon tunanganku, calon istriku.

“Bagus.” Jawabku singkat.

“Kalau yang ini ?”, dia memperlihatkan sepasang cincin lain. Mereka terlihat sama persis, aku bahkan tidak bisa membedakannya kalau hanya melihat sekilas.

“Bagus juga.”

“Lebih bagus mana ?”

“Keduanya bagus. Terserah kamu saja.”

“Mas ! Ini pertunangan kita, bukan pertunanganku saja !”

Iya, dia benar. Ini adalah pertunangan kami berdua. Harus kurelakan cintaku demi hal lebih penting. Tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus.

Akupun memutuskan untuk mengambil cincin pertama ditunjukkan oleh calon tunanganku, “Kurasa ini lebih bagus,” kataku.

Dia tersenyum, lalu menggandeng lenganku dengan manja, “Mas lapar ? Kita makan siang, yuk.” katanya.

Aku mengangguk, lalu kami menuju sepeda motorku di tempat parkir setelah membeli sepasang cincin itu.

He… Jalan sepi itu adalah jalan kami

Jalan yang kami lalui sangat sepi karena memang bukan merupakan jalan utama. Aku sengaja memilih jalan ini karena jalan ini biasanya dilalui kekasihku jika pulang kampung. Tidak, dia bukan kekasihku lagi. Mataku terasa perih dan basah, tapi sekuat tenaga kubendung air mata agar tidak tumpah.

Dari kejauhan, aku melihat kerumunan di pinggir jalan. Beberapa orang polisi lalu lintas terlihat berjaga di dekat kerumunan itu.

“Sepertinya ada kecelakaan, mas.”

Kuperlambat laju sepeda motor dan berhenti sekitar satu meter dari sana. Darah terlihat berceceran di mana – mana, “Ada kecelakaan ya, Pak ?” tanyaku pada seorang lelaki tua di sana.

“Iya dik, kecelakaan beruntun. Ada sebuah sepeda motor menabrak bus dari belakang, lalu sepeda motor lainnya menabrak sepeda motor itu.”

“Mengerikan sekali.” Komentar calon tunanganku.

He… Ternyata dia mengalami kecelakaan

Aku berniat melanjutkan perjalanan. Tapi tiba – tiba perhatianku tertuju pada sebuah benda putih tergeletak di seberang jalan. Hatiku mencelos, seketika tenagaku menguap. Helm itu ! Helm itu milikinya !.

Pikiranku sangat kacau. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Turun dari sepeda motor dengan kesadaran tidak penuh, “Korbannya sekarang dimana, Pak ?” tanyaku pada lelaki tadi.

“Sudah dibawa ke rumah sakit Kerta Usadha.”

“Kenapa, mas ?” calon tunanganku menatapku dengan khawatir.

Aku menaiki sepeda motorku tanpa menjawab pertanyaanya. Pikiranku dipenuhi hal – hal buruk. Ya Tuhan, lindungilah dia.

“Kamu kenapa, Mas ?”

“Kita harus ke rumah sakit sekarang.”

“Kamu kenal sama korban kecelakaan itu ?”

Mulutku membisu. Air mata terbendung susah payah kini tumpah membasahi pipi. Tidak akan bisa ku maafkan diriku kalau sampai terjadi apa–apa dengannya.

Sementara kupacu sepeda motor, gadis di belakangku terus mengajukan pertanyaan sehingga membuat kepalaku terasa mau pecah. Betapa aku ingin menurunkannya dan meninggalkannya disini, tapi berusaha kutahan emosiku.

He… Sayangnya dia sudah pergi

Begitu tiba di rumah sakit, langsung menanyakan seorang perawat di lobi tentang pasien kecelakaan yang baru saja masuk. Kalimat dari bibirnya membuatku tak bisa bergerak. Tubuhku terasa sangat lemas dan kakiku tak mampu menopang berat. Tubuhku terjatuh ke lantai. Calon tunanganku terlihat sangat panik. Dia membantuku berdiri dan mendudukkanku di sebuah bangku yang ada di sana.

“Sebenarnya siapa yang kecelakaan, Mas ?” tanyanya untuk ke sekian puluh kali.

Pertanyaanya membuat kesadaranku kembali. Aku harus segera menemuinya walaupun ini sudah terlambat. Langkahku bergerak cepat, setengah berlari, menuju kamar mayat rumah sakit.

Air mata bercampur keringat membuat wajahku sangat basah. Tapi aku tak peduli. Bahkan tak peduli saat menabrak beberapa orang ketika berlari. Yang ada di pikiranku hanya satu, dia…

Udara dingin menyambutku saat tiba di depan kamar mayat. Beberapa perawat keluar dari ruangan dingin itu, langsung ku-utarakan maksud keinginanku. Salah satu perawat itu mengantar masuk ke dalam. Aroma aneh menyerang hidung, membuat kepalaku bertambah pusing.

Kami berhenti di dekat sebuah ranjang. Di sana, di atas ranjang itu, seorang gadis terbujur kaku tertutup selembar kain putih. Dadanya tak bergerak sama sekali, dia tidak bernafas. Aku mengumpulkan tenaga untuk tidak terjatuh disana.

Tak ada kata – kata keluar dari mulutku. Lidahku kelu, tak mampu mengucap sepatah katapun. Dengan tangan gemetaran, kubuka kain putih penutup mayat, wajahnya terlihat memucat dengan noda darah mulai mengering. Ya Tuhan, baru beberapa jam lalu gadis ini ada di dekatku, bernafas. Seandainya bisa kuputar waktu. Aku tidak akan meninggalkannya saat itu. Lalu memeluknya, tidak akan pernah kulepaskan.

He… Berkata jujur tidak berbohong demi masa depan

Kurasakan sentuhan lembut di tanganku. Aku menoleh dan menemukan wajah calon tunanganku “Dia siapa ?” tanyanya pelan.

Tak ada pilihan lain selain menceritakan kejadian sebenarnya, “Dia adalah kekasihku. Kami sudah bersama selama tiga tahun.”

Gadis itu sedikit tersentak, tapi dia tidak berkata apapun. Lalu kulanjutkan ceritaku, “Orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kami karena kami menganut keyakinan berbeda. Mereka mendesak untuk mencari pasangan hidup seiman dan kamu dirasa cocok menjadi menantu mereka”. Aku diam sebentar untuk menarik nafas karena dadaku terasa sangat sesak, “Aku menemuinya tadi pagi untuk mengakhiri hubungan kami walaupun masih sangat mencintainya.”

“Maafkan aku.” Dia berbisik pelan sambil menggenggam tanganku dengan erat.

“Ini bukan salahmu.” kataku sambil menghapus air mata. Tidak ingin diriku terlihat lemah di depannya.

“Kita bisa membatalkan pertunangan ini kalau itu bisa membuat kamu lebih baik.” Katanya.

Kutatap sepasang mata cokelatnya, ada ketulusan disana.

Kugelengkan kepala lemah, “sebaiknya kita pulang, aku merasa kurang enak badan.” Kututup kembali kain putih itu, seakan menutup lembaran cerita kami. Biarlah cinta ini ku kubur di dasar jiwaku, terkubur bersamanya. Semoga saja suatu saat nanti, di kehidupan yang lain, kami dipertemukan kembali.(AP)


Terima kasih telah berkunjung dan membaca kisah cerpen cinta sedih Kan Ku Kubur Cinta Ini Di hatiku. Semoga cerita sedih diatas bermanfaat dan menghibur hati sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis, salam sukses selalu.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments

  1. Keputusan benar tapi disampaikan dengan cara dan pada waktu yang salah