Ku Harus Melepasmu

cerita sedih romantis

Kuharus melepasmu adalah cerita sedih romantis tentang cinta jarak jauh harus berpisah untuk mengejar cita-cita dan impian. Mulanya kisah LDR mereka berjalan lancar tapi akhirnya ? Silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Sedih Romantis Ku Harus Melepasmu

Matahari masih terasa sangat teriknya, ketika kuinjakan kedua kakiku di hamparan pasir nan putih ini. Semilir angin pantai parang tritis turut menyambut kedatanganku. Rasanya kangen sekali dengan panorama pantai ini. Sejak kepergianku 2 tahun yang lalu ke Singapura, aku tak pernah lagi datang ke tempat ini. Ku tarik nafasku dalam-dalam, ingin kunikmati kembali segarnya angin pantai.

Fikiranku pun melayang ke masa lalu tepatnya 2,5 tahun yang lalu. Senja itu,Raffi cowok yang sudah hampir 3 tahun ku jadikan pacar mengajakku ke pantai ini untuk menyaksikan indahnya matahari terbenam. Masih lekat dengan jelas diingatanku, sorot bahagia terpancar dari wajah Raffi. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, menyiratkan kebahagian yang teramat dia rasakan.

“Ra, makasih yaa kamu mau mengisi hari-hariku. ” Ucapnya dengan binar bahagia. Aku hanya tersenyum dan menatap ke arahnya, menganggukan kepala pelan sebagai jawaban iya.

“Ga terasa hubungan kita udah berjalan hampir 3 tahun sayang, aku seneng kamu mau terima aku apa adanya.” Raffi meraih kedua tanganku dalam genggamannya.

“Aku juga bahagia Raf, kamu selalu mau mengalah buat ngertiin aku. ” Ku usap lembut kedua pipi Raffi dan dia balas mencium keningku.

Ra, bulan depan aku dipindahkan ke Kalimantan.” Kini kudengar nada bicara Raffi agak kecewa.

“Yaa…gapapa kan sayang itu demi karir kamu juga. ” Kataku mencoba menyemangati Raffi.

” Tapi aku takut kehilangan kamu Ra, maukah kamu menikah dengaku sebelum aku pergi Ra? ” Kali ini pertanyaan Raffi membuatku kaget, aku bingung harus bicara apa. Ada rasa senang tapi hatiku masih punya impian. Sejenak aku terdiam tanpa sepatah kata mampu kuucapkan.

“Raf, aku ingin sekali nikah sama kamu tapi nggak sekarang sayang. Aku masih ingin melanjutkan studyku Raf. ” Berat rasanya mengatakan ini tapi aku tak punya pilihan lain.

“Kamu masih bisa menyelesaikan study kamu Ra, kamu tahu ibu sama bapakku terus mendesakku untuk segera menikah sayang.”

“Raffi sayang, kalo memang kita ditakdirkan berjodoh sejauh apapun jarak yang akan memisahkan kita, suatu hari nanti kita akan bersama-sama lagi. Kamu percayakan sama aku.” Aku sedih harus mengatakan ini, tapi aku tak bisa menikah sekarang. Aku masih punya mimpi untuk menjadi seorang dokter. Mami dan papi pasti tak akan mengizinkan ku menikah sebelum kuliah kedokteran ku selesai. Sesaat keadaan menjadi hening, kulihat Raffi sangat kecewa aku mampu merasakan itu.

“Sera…tak bisakah kamu memikirkannya lagi?” Suara Raffi kian terdengar pasrah. Dia tahu betul sifatku yang keras.

” Maaf Raf, aku benar-benar nggak bisa. Kamu lihat kan burung di atas sana, aku masih ingin terbang bebas seperti mereka, aku ingin meraih mimpi yang ku impikan sejak kecil Raf. Aku harap kamu ngerti. ” Aku segera bangkit dari dudukku, kulangkahkan kakiku mendekati bibir pantai. Kuhirup nafas sedalam mungkin, agar semua beban di dadaku ikut berhembus bersama angin pantai. Ku tatap langit senja yang mulai gelap. Yang terdengar hanya suara deburan ombak yang terus menghantam batu karang seolah-olah ingin menggambarkan keadaan hatiku yang kokoh. Ku lihat Raffi sudah berada di sampingku. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Aku mampu melihat dari sorot matanya yang sendu.

“Ra, kejarlah mimpi kamu untuk menjadi dokter. Aku ikhlas jika perpisahan untuk kebaikan kamu.” Suara Raffi kudengar lebih tegar meski aku tahu hatinya sakit. Ku lingkarkan kedua tanganku ke pinggang Raffi, kurasakan Raffi semakin erat memelukku. Tak terasa air mataku mengalir tapi segara ku hapus karena aku tak mau Raffi melihatku juga rapuh.

Aku terlalu asyik mengenang masa laluku bersama Raffi hingga tak kusadari matahari hampir berpamitan diufuk barat. Suasan seperti ini yang sangat kurindukan. Langit berwarna keemasan yang memamerkan keelokannya, suara deburan ombak yang tak henti menghantam batu karang, serta semilir angin pantai yang terus memainkan rambut panjangku. Kuhirup udara pantai yang terasa menyegarkan hatiku. Sesekali ku amati lalu lalang orang yang sedang asyik bercengkrama dengan keluarga, sahabat, bahkan pacarnya. ” Ahh…Raffi pasti kamu sudah bahagia sekarang.” Gumamku dalam hati. Aku harus segera pulang sekarang, sebelum langit benar-benar gelap. Papi dan mami pasti sudah menungguku juga.

Pagi ini aku bangun sedikit agak siang. Kulihat mami dan papi sudah tak ada, pasti mereka sudah sibuk dengan bisnis-bisnisnya. Andai saja aku punya saudara kakak atau adik pasti nggak akan kesepian seperti ini. Dengan malas aku turun dari tempat tidurku, ku singkap tirai disisi meja riasku. Matahari sudah mulai meninggi. Biasanya week end begini Raffi selalu mengajakku jalan untuk nonton atau pun sekedar makan. “Kenapa aku jadi memikirkan Raffi” Desahku lirih. Aku pun bergesas mandi dan bersiap-siap. Hari ini om Fauzan memintaku datang ke rumah sakit. Aku senang akhirnya bisa bekerja di rumah sakit menjadi dokter seperti impianku sejak kecil.

Cerita Pendek LDR romantis berakhir sedih

Sudah hampir setengah jam aku duduk di kantin rumah sakit tempat om Fauzan bekerja. Aku masih tak melihat ada tanda-tanda kehadiran om Fauzan. Pikirku mungkin ada pasien yang harus di tangani dulu. ” Kuingin engkau tahu,berartinya dirimu…” Lagu dari band noah yang sengaja kujadikan ringtone berbunyi di hapeku, menandakan ada sebuah pesan masuk. Kubuka hape berwarna putih yang sedari tadi kumainkan di tanganku. ” Sera, om Fauzan masih ada pasien. Maaf ya sayang nanti aja om Fauzan ke rumah Sera.” Dengan sedikit kecewa akhirnya akupun bergegas pulang.

Baru saja aku membuka pintu mobilku, kudengar ada yang memanggilku. ” Seraa…!! Seraa..Ra..” Aku balikan badanku ke arah suara itu. Aku harap ini hanya mimpi, aku yakin itu Raffi. Apa yang harus aku lakukan, tapi aku tak mungkin pergi begitu saja. Ku lihat dia semakin mendekatiku.

” Sera…kamu benar Sera kan? Aku yakin tidak salah. ” Raffi masih terlihat ngos-ngosan karena tadi sedikit berlari. Aku masih kaku tak tahu mau bicara apa.

” Ii..iya. Apa kabar Raf ? ” Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Raffi tak pernah berubah, cara bicaranya, gayanya.

” Kamu sedang apa disini ? “.

” Mmm…itu aku…” Belum selesai aku menjawab pertanyaan Raffi, kudengar seseorang memanggil Raffi sambil berjalan ke arah kami. Sebuah pelukan langsung mendarat kepadaku. “Seraaaa!!! kapan kamu balik ??” Perempuan ini makin erat memelukku.

“Arinda…!!” Pekikku girang.

“Kamu ngapain disini? Oooo ini dokter baru yang akan bergabung di sini. Dokter Sera Camalia Dewi hehehe” goda Arin padaku. Sesaat kami melupakan Raffi disamping kami.

“Eh mas,kalian sudah saling kenal ya?” Arin melontarkan pertanyaan kepada Raffi yang sedari tadi hanyan terdiam.

“Iya Sera teman kuliahku dulu Rin. ” Raffi terlihat santai kali ini.

“Sera ini sepupu aku mas.” Jelas Arin lagi. Aku sendiri masih bingung mau bicara apa.

” Emmm Rin, aku pamit dulu ya? Aku masih ada janji tadi.” Aku mencoba mencari alasan untuk segera pergi.

” Ok !! Oya Ra, seminggu lagi aku mau tunangan sama Raffi. Kamu harus cepet nyusul yaa? ” Kulihat Arin begitu bahagia memeberitahukan pertunanganya padaku. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dihatiku, aku tak tahu apakah ini perasaan cemburu atau apa. Aku hanya mengacungkan kedua jempolku sebagai tanda setuju. Senyum yang sedikit kupaksakan sebelum aku benar-benar pergi. Raffi sudah menemukan kebahagiannya.

Dengan langkah gontai kuseret kakiku mendekatati bibir pantai. Matahari sudah hampir tenggelam, sesekali air pantai membasahi kedua kakiku. Angin seolah tak ingin ketinggalan terus memainkan rambut panjangku yang sengaja ku urai. Aku ingin berbagi cerita dengan senja kali ini. Masih pantaskah jika aku mengharapkan Raffi kembali. Dadaku kian terasa sesak, getaran cinta untuk Raffi masih tersimpan rapi di dalam hatiku. Ku kira Raffi akan menyimpan cinta untukku hingga ku datang. Tapi Raffi tak pernah salah, karena dulu aku yang memintanya untuk melepaskanku. ” Raffi…semoga kamu selalu bahagia.” Bisikku dalam hati.

” Kamu masih suka menikmati senja di pantai ini?” Suara seseorang di belakangku membuyarkan lamunanku. Belum sempat ku tolehkan kepalaku, sosok yang sangat jelas aku kenal merapat duduk disampingku.

” Kamu Raf, mana Arin?” Tanyaku basa basi untuk menghilangkan kegugupanku.

” Arin tak pernah tahu kalau aku suka menghabiskan waktu saat senja di tempat ini.” Kuberanikan memandang ke arah Raffi. Kulihat senyumnya tak pernah berubah selalu membuat bahagia saat melihatnya.

” Kamu tak banyak berubah Raf, tapi hati kamu sudah berubah.”Aku beranikan untuk bicara kepada Raffi.

“Aku tak pernah berharap lebih Ra, aku tahu mimpi kamu begitu tinggi. Aku sadar siapa aku Ra. ” Lagi-lagi Raffi hanya tersenyum. Aku tak tahu perasaan apa yang dia sembunyikan padaku.

” Raf, maaf sampai detik ini aku masih menyimpan rasa ini untukmu. Aku memang salah masih mengharapkan kamu. ” Kubuang pandanganku jauh ke depan. Menelusuri luasnya air laut yang tenang.

” Aku juga masih menyimpannya, tapi aku sudah menguncinya dengan rapat di dasar hatiku. Berharap rasa itu tak kembali lagi membawa asa untukku Ra.” Kulihat Raffi menarik nafas dalam, seperti ada yang mengganjal di hatinya.

” Maafkan aku Raffi aku masih tak bisa membuang kenangan kita.” Rasanya ada sesuatu yang ingin keluar dari kedua mataku. Tapi harus kutahan sekuat mungkin. Aku tak mau terlihat begitu rapuh dihadapan Raffi.

” Tak ada yang perlu dimaafkan Ra, dulu kamu sendiri yang bilang kalau kita jodoh suatu hari nanti kita pasti bersama lagi. Tapi kita sudah membuktikannya hari ini Sera, kita memang tak pernah berjodoh. Aku yakin Allah masih menyimpan jodoh yang terbaik buat kamu. ” Raffi begitu tenang, tapi aku yakin perasaan itu masih ada di hatinya. Hanya saja dia takut untuk mengungkapkannya,mungkin dia benar-benar ingin mengubur semua kenangan tentang kami.

“Aku akan bahagia melihat kamu bahagia Raf, aku sangat mengenal Arin. Ku yakin Arin bisa membuat kamu lebih bahagia. ”

“Makasih Sera…semoga kamu juga menemukan orang yang jauh lebih baik dari aku. Kita mulai semuanya dari awal ya Ra.” Raffi meraihku ke dalam pelukannya. Pelukan ini masih sama seperti dulu, selalu membuatku nyaman. Senja kali ini terasa berbeda, terasa lebih berarti. Mungkin ini yang terbaik buatku dan Raffi.

Dua setengah tahun yang lalu Raffi dengan ikhlas melepasku, kini akupun harus ikhlas untuk melepaskan Raffi untuk mengejar kebahagiannya.


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih romantis Kuharus Melepasmu karya Nurma Ajah, jangan lupa berikan jempol dan plus, serta bagikan melalui Facebook, Twitter, Pinterest dan google+ jika anda menyukai cerita pendek ini.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait