Mata Hati

cerita cinta sejati cerpen Mata Hati

Mata Hati  adalah cerita cinta sejati tentang hubungan tidak direstui orang tua meskipun sang gadis telah hamil. Cinta sejati terpisahkan oleh orang tua itu, kemudian bertemu kembali dalam peristiwa tak terduga. Silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Cinta Sejati “Mata Hati”

“Aaaarrrrrhggggghhh…” Kembali mimpi buruk itu kembali mendatangiku. Ya suara-suara itu…tapi ini bukan mimpi, aku pernah mengalaminya. Tapi kejadian itu selalu menghantuiku berhari-hari.

Aku masih ingat jelas kejadian malam itu. Kejadian yang selalu aku coba lupakan, tapi selalu menghantui pikiranku.

Keringat dingin menetes membasahi keningku, aku mencoba menarik nafas panjang. Sementara istriku masih terlelap dalam malam yang diselimuti hujan. Hawa dingin menusuk tubuhku. Aku tarik selimut tapi aku masih merasakan dingin.

Pasti saat itu Sekar sangat kedinginan. Di tengah malam dia memanggilku, menungguku sementara hujan turun sangat derasnya. Dan aku hanya bisa memandanginya dari jendela kamarku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Sementara Mama telah mengunciku di kamar. Sekar, telah diusir Mama dalam keadaan hamil. Dan laki-laki tak bertanggungjawab itu adalah aku. Betapa bodohnya aku sebagai laki-laki.

Sekar adalah anak pembantu kami, sejak kecil dia tinggal di rumahku. Hingga akhirnya Mbok Sumi, ibunya meninggal, dia tetap tinggal di rumahku sebagai pembantu tapi dia juga disekolahkan Mama.

Sekar tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sederhana. Dia selalu menurut apa perintah Mama. Hingga akhirnya aku jatuh cinta padanya. Lama aku memendam rasa ini padanya, karena dia selalu menghindar dariku.

Hingga akhirnya aku berhasil meyakinkannya dengan cintaku. Tapi kami harus menyembunyikan cinta ini, karena Mama pasti tidak setuju jika kami berhubungan. Entah karena bujukan setan darimana akhirnya kami melakukan suatu kesalahan fatal. Aku menghamilinya.

Sebuah perbuatan yang berujung pada murkanya Mama. Dia kata-katai Sekar habis-habisan. Sementara aku sebagai pacarnya tidak bisa membelanya sedikitpun. Masih kuingat jelas tatapan Sekar padaku, mungkin dia marah, kesal, dendam padaku.

Di tengah malam, saat hujan turun dengan derasnya disertai petir, Mama telah mengusir Sekar.

Aku bangun, beranjak memandang keluar jendela kamar. Sepuluh tahun yang lalu, Sekar berdiri disitu, menatap ke arah jendela tempat aku berdiri. Dia terpaku di tengah hujan deras, dia memanggil manggil namaku, semalaman dia berdiri di halaman rumah aku. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menangis melihatnya. Aku tidak bisa membela kekasihku, aku tidak bisa menolong Sekar.

Hingga pagi harinya Sekar pingsan, dan dibawa satpam rumah ke luar naik mobil. Sejak saat itu aku tak tahu keberadaan Sekar. Mama merahasiakan keberadaan Sekar.

Dan sejak saat itu aku selalu dikawal kemana aku pergi. Dan Mama menyuruh aku kuliah di luar negeri, lalu menikah dengan wanita pilihan Mama. Seorang wanita cantik, pintar, terpelajar, Sonya nama istriku. Dan kini kami telah dikaruniai seorang anak berusia 3 tahun, Aldo nama anakku.

Sejak kuliah dan menikah aku tinggal di Australia, tapi sejak Mama sakit aku memutuskan tinggal di Indonesia. Mama ingin aku menemaninya. Aku tak ingin mengecewakan Mama, beruntung Sonya istriku pengertian, dia mau merawat Mama. Sementara Aldo anakku tumbuh menjadi anak yang lucu dan pintar, dia selalu bisa menghibur neneknya.

Tapi entah kenapa sejak aku pindah ke Indonesia bayangan Sekar selalu menghantuiku. Tiba-tiba aku menitikkan air mata, rasa sesakku ketika aku melihat airmata Sekar dibalik tubuh kurusnya dengan perut yang membesar. Sekar, maafkan aku Sekar.

“Ada apa Mas?” Tiba-tiba Sonya sudah berdiri di dekatku. Aku nggak ingin Sonya melihat airmataku. Dimatanya aku adalah seorang suami sempurna yang sangat menyayanginya. ” Nggak apa-apa Mi.” ” Oh ya sudah, tapi Mami lihat akhir-akhir ini Papi selalu berdiri di dekat jendela dan melihat ke bawah. Apa ada sesuatu yang Papi pikirkan?” Aku terkejut dengan pertanyaan Sonya, tampaknya dia memperhatikan kegelisahanku. Aku buru-buru berbohong padanya.

Sebentar kemudian, pembantu menyuruh kami ke ruang makan. Disana sudah ada Mama duduk di kursi ujung. Seperti biasa Mama selalu jadi pemimpin di keluarga kami sejak Papa meninggal. Apa-apa di rumah ini semua yang perintah Mama.

Aku melihat sosok Mama, tiba-tiba aku merasa aneh, perasaan ini menghantuiku, aku begitu sangat membenci Mama jika ingat kejadian itu.

“Kenapa kamu Tomy?” Aku terkejut karena Mama tahu saat aku menatapnya. Aku diam lalu buru-buru menyuruh istriku mengambilkan nasi. Sepanjang makan malam, aku lebih banyak diam. Beruntung Sonya bisa mencuri hati Mama, jadi Mama tidak begitu memperhatikan kegalauanku.

Dan sampai malam aku masih belum bisa memejamkan mata. Aku memandang ke luar jendela, lalu aku lihat di pos satpam, di sana ada Pak Marmo. Aku jadi ingat dulu waktu pingsan Sekar ditolong Pak Marmo, dan dia yang membawa Sekar pergi.

Aku segera turun dan berjalan menuju pos satpam. Begitu terkejutnya Pak Marmo saat melihatku. “Tumben, belum tidur Den?” Sapa Pak Marmo, sambil lihat-lihat sekeliling. Dia tampak gugup saat melihatku, sepertinya ada yang dia khawatirkan.

” Pak, saya ingin tanya sesuatu sama Bapak.” Ucapku berbisik, lalu mengajak Pak Marmo duduk di dalam pos satpam. “Maaf saya nggak tahu Den.” Tiba-tiba Pak Marmo ngomong begitu dan wajahnya tampak ketakutan. Aku jadi makin heran. “Apa sebenarnya yang terjadi dengan Sekar Pak ? Sekarang dia dimana ?” Tanyaku pelan. Pak Marmo masih tetap bersikukuh tidak tahu.

Akhirnya aku menyerah, karena aku tidak mungkin memaksa orang yang tidak mau menjawab. Aku tidak ingin ada keributan, sehingga membuat Sonya atau Mama jadi curiga.

Dan pagi-pagi aku lihat Pak Marmo mau pulang. Entah mengapa aku tergerak untuk mengikutinya. Dia geber motor bututnya. Lalu aku yang sudah bersiap akan olahraga sepeda santai langsung mengikutinya diam-diam. Beruntung motor butut Pak Marmo tidak bisa kenceng jalannya. Jadi aku bisa mengikutinya.

Akhirnya tiba di sebuah kampung di pinggiran kota. Sebuah kampung kecil dikelilingi persawahan. Aku masih membuntuti Pak Marmo dari kejauhan. Dan akhirnya Pak Marmo berhenti di sebuah rumah sederhana, yang halamannya masih agak luas. Di depan tampak seorang anak laki-laki berumur 10 tahun bersiap-siap hendak berangkat sekolah.

Lalu ada seorang perempuan keluar dari rumah. Betapa terkejutnya aku, karena perempuan itu aku begitu mengenalnya. Ya Allah, dia Sekar, dia masih kurus dengan baju yang lusuh tapi dia masih terlihat cantik. Ah Sekar, lalu anak laki-laki itu, apakah dia anak Sekar? Ingin rasanya aku segera memeluk Sekar, lalu meminta maaf padanya. Dan juga memeluk anak laki-laki itu. Pasti dia anakku, tak salah lagi, wajahnya begitu mirip dengan Aldo.

Sekar, maafkan aku. Tapi aku sangat malu untuk menemui Sekar, pasti dia sangat membenciku. Dan dia tidak akan ijinkan anaknya untuk mengenalku. Aku bukan ayah yang baik bagi anakku. Dan dadaku terasa sesak, hingga akhirnya aku memutuskan pulang. Aku tidak berani menghadapi semua ini. Nyaliku masih seperti dulu, aku hanyalah anak mama yang selalu menurut apa perintah mama. Aku bukanlah laki-laki gentle yang berani bertanggung jawab.

Aku benci dengan diriku sendiri, dan pikiranku masih diselimuti bayang-bayang Sekar.

Selama perjalanan pulang dari kantor aku masih memikirkan hal itu. Hingga akhirnya aku harus menginjak rem mobilku kuat-kuat, sekelebat tadi seperti ada yang lewat di depan mobilku. Sebentar kemudian orang berkerumun di depan mobilku. Aku segera turun, dan kulihat sesosok bocah laki-laki berpakaian SD tergeletak berlumuran darah di depan mobilku. Betapa terkejutnya aku, karena aku sangat mengenal bocah itu, baru tadi pagi aku melihat sosoknya dan aku sangat ingat betul dengan wajahnya. Dia anak Sekar, aku yakin itu.

Segera aku membopongnya dan membawanya ke rumah sakit. Aku memeluknya erat, aku tak ingin kehilanganmu Nak. Aku tak ingin jadi laki-laki pengecut lagi. Aku tak peduli bajuku berlumuran darah, karena ini adalah darahku, dia darah dagingku. Apapun akan aku lakukan untukmu Nak.

Beruntung anak itu segera ditangani, dan aku hanya bisa menangis menunggunya di luar ruang IGD. Tolong selamatkan anakku Tuhan, beri kesempatan aku jadi ayahnya.

Tak berapa lama, akhirnya datang juga perempuan yang sangat aku rindukan. Sekar, dia datang berlari sambil menangis, dia datang diantar Pak Marmo. Dia sangat terkejut ketika melihat aku. Kami saling berpandangan. “Sekar…maafkan aku.” Dia menatapku tajam, tak tahu apa yang dia pikirkan.

“Kau apakan anakku ?” Tanya dia sambil terisak dan menudingku. “Dia anak kamu ? Apakah dia anak aku ?” ” Jangan kau sebut dia anakmu.” Teriak dia, lalu Pak Marmo berusaha menenangkan Sekar.

Aku hanya bisa menyesali diriku sendiri, laki-laki macam apa aku ini. Betapa buruknya aku di mata Sekar, perempuan yang sangat aku sayangi. Dan sekarang aku telah mengantarkan anakku sendiri di ujung maut. Aku tahu Sekar, aku sangat bersalah padamu, rasanya tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku.

Sekar, aku ingin memelukmu, aku ingin kamu menangis di bahuku, sehingga kamu nyaman. Tapi hal itu tidak bisa aku lakukan, karena sebentar kemudian Sonya datang. Dia menenangkanku bahkan dia memelukku di depan Sekar. Sekar, bukan aku bermaksud menyakitimu. Aku tahu pasti hatimu sangat sakit melihatku. Aku merasakan betapa hancurnya hatimu Sekar, apalagi akulah yang menyebabkan anak kita bertaruh nyawa.

Setelah cukup lama di ruang IGD akhirnya dokter keluar juga. Dokter bilang kalau penglihatan Tegar rusak dan tidak bisa diselamatkan lagi. Sekar menangis keras, dia berteriak histeris. Sementara hatiku juga remuk, aku menangis, aku telah membutakan mata anakku. Tegar, maafkan ayah Tegar.

“Saya ingin mendonorkan mata saya.” Semua yang disitu terkejut mendengar ucapanku. “Apa-apaan ini Papi?” Sonya terkejut dengan ucapanku. ” Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk Tegar.” Ucapku lirih. “Papi nggak perlu melakukan ini.” ” Tapi Tegar anakku.” “Apa?” “Iya dia anak kandungku.” Kulihat Sonya tak percaya, dia berusaha mendapat jawaban dari aku. Tapi aku tetap bersikukuh, kali ini aku sangat yakin dengan keputusanku. Walaupun hal ini menyakiti Sonya. Dia menatapku tajam, seolah masih tak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tahu dia sangat kecewa padaku. Lagi-lagi aku menyakiti hati wanita yang telah dengan tulus mencintaiku. “Kali ini tolong mengerti aku Mami.” Ucapku memohon, lalu dia berlalu pergi dariku. Mungkin hatinya hancur, aku sangat mengerti perasaanmu Sonya, tapi ini harus aku lakukan.

Dan Sekar juga tidak setuju dengan keputusanku. “Sekar, maafkan aku, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk anak kita Sekar. Tolong aku…” Dan Sekar hanya bisa menangis sangat aku menggenggam tangannya. Akhirnya dia pun mengangguk, dan aku sangat lega. Hari ini terakhir kali aku melihatmu Sekar, wajahmu sangat aku rindukan.

Tapi yang penting mata ini masih bisa melihatmu sebagai Ibu yang sangat menyayangi anaknya.

Walaupun aku harus mengecewakan Sonya dan juga Mama, tapi aku yakin ini adalah keputusan yang terbaik. Selamat tinggal mataku, kau akan menjadi mata bagi buah hatiku.

Dan akhirnya operasi donor mata pun dilakukan diiringi tangis Sonya yang masih berusaha mencegah keputusanku. Setelah beberapa jam, akhirnya aku benar-benar merasakan gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Tapi aku yakin pasti mataku akan membuat Sekar tersenyum dan Tegar akan selalu bisa melihat Mamanya. Aku hanya bisa tersenyum membayangkan semua itu.

“Tegar…ini Papamu, selama ini Tegar ingin melihat Papa kan, dia Papamu.” Dan aku hanya bisa mendengar Sekar mengenalkanku pada Tegar. Aku tersenyum, dan kurasakan tangan kecil memegang tanganku lalu menciumnya. Terima kasih ya Allah, Kau masih berikanku kesempatan untuk menyentuh anakku.


Terima kasih telah membaca cerita cinta sejati . Semoga cerpen cinta diatas bermanfaat dan dapat memberi inspirasi maupun motivasi bagi pemirsa sekalian.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait