Ayahku Mawar Berduriku

cerita pendek sedih curahan hati mawar berduri

Mawar berduri adalah cerita pendek curahan hati gadis ditinggal kawin lagi oleh ayahnya sejak kecil sehingga membuatnya membenci ayahnya. Cerpen ini ditulis oleh Fina Cell, yang aktif di komunitas cerita pendek sejak tahun 2013.

Cerita Pendek Curahan Hati – Ayahku Mawar Berduri

Kulangkahkan kaki ke kanan dan ke kiri tak beraturan seakan tak ada semangat untuk pulang hari ini. Tidak seperti biasa nya setelah sekolah bubar aku buru-buru pulang karena ingin segera mencicipi masakan ibuku yang super lezat tapi berbeda dengan hari ini. Karena pagi tadi ibu bilang kalau nanti ayah ku akan datang.

Tak seperti kebanyakan anak lainnya mereka pasti akan bahagia jika bertemu dengan ayahnya. Berbeda dengan aku. Aku benar-benar membenci ayah karena dia menyebabkan ibu harus membanting tulang sendiri demi menghidupi dan membiayai sekolahku. Semua cerita bermula dari sini.

Ayahku kawin lagi dengan seorang janda dua anak saat bekerja di proyek

Dulu kehidupanku begitu membahagiakan. Ayahku bekerja di sebuah proyek di kotaku. Meski ayah pulang hanya seminggu sekali, saat pulang aku selalu dibelikan boneka dan mainan. Akan tetapi semua itu hanya berlangsung selama dua tahun.

Setelah dua tahun, ayah yang biasa pulang seminggu sekali hanya pulang sebulan sekali.  Itupun hanya dua hari di rumah dan selalu bilang ada pekerjaan mendadak yang harus di selesaikan. Hal itu berlangsung terus, semakin jarang dan akhirnya ayah tidak pulang sama sekali.

Benar kata pepatah sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Seorang teman ayah datang memberitahukan bahwa ayah telah kawin lagi dengan janda. Ibu sangat terpukul mendengar kabar itu. Ibu sering menangis pada malam hari dan itu membuat aku merasa sedih dan marah kepada ayah. Sejak saat itu kami tak mengharapkan kedatangan ayah lagi.

Sepuluh tahun berlalu, ayah kembali dengan membawa penyesalan namun aku tidak mau menemuinya

Sepuluh tahun berlalu, kami sudah terbiasa hidup tanpa hadirnya ayah. Kehidupan kami sudah kembali normal dan aku sudah tidak mempermasalahkan dan melupakan keberadaan ayah meski sesekali aku masih masih ingat terutama pada hari raya. Tapi kemarahanku kepadanya membuat aku mampu menepis semua keinginan untuk kehadirannya.

Hingga suatu hari ayah datang ke rumah dengan membawa penyesalan yang dalam. Saat itu aku tidak mau menemuinya karena belum bisa memaafkan apa yang telah dilakukannya kepada ibu dan aku.  Ibu tidak marah dan membiarkan aku tidak mau menemui ayah. Tapi beberapa hari setelah itu beliau menanyakan hal itu kepadaku.

“Mengapa kamu tidak mau menemui ayahmu dinda ?” tanya ibu dengan bijak.

“Untuk apa ? sudah terlambat bu. Kemarin-kemarin kemana saja ? sekarang baru datang !” jawabku kesal.

“Bukankah ayahmu sudah meminta maaf ? Allah saja selalu memaafkan, kenapa kita manusia tidak ?” kata ibu penuh kelembutan. Aku menatap mata ibu dan melihat bahwa dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Seakan tidak pernah ada luka dan kesedihan yang pernah ditorehkan oleh ayah kepadanya. Betapa tabah dan pemaafnya ibuku sehingga membuat aku lemah.

“Baiklah bu, jika ayah kesini lagi aku akan menemuinya” kataku berjanji pada ibu sore itu.

Dan hari ini ayah akan datang kembali

Hingga waktu itu pun tiba. Siang ini dia akan menemuiku setelah aku pulang sekolah. Meski terasa berat aku tetap akan menemuinya. Ini kulakukan bukan karena aku merindukan ayah tapi ini demi ibu dan demi janjiku pada ibu. Aku tak mau ibu bersedih.

Ibuku orang yang hebat. Walaupun ayah meninggalkan aku saat aku masih kecil dan datang ketika setelah sudah dewasa ibu tetap menerima ayah dengan baik. Meski bukan menerima ayah sebagai suaminya lagi, ibu masih menghormati sebagai ayah dari anaknya.

Lamunanku buyar ketika langkah malasku pulang dari sekolah berhenti saat kulihat sedan warna merah di depan rumahku.

“Pasti ayah” desahku dalam hati.

Perlahan aku masuk ke halaman dan benar saja, aaat aku membuka pintu kulihat sesosok laki-laki tua sedang duduk di sudut sofa rumahku.

“Assalamualaikum” ku ucapkan salam.

“Waalaikum salam” jawab ibu.

Kucium tangan ibu dan ibu menyuruhku mencium tangan bapak tua itu. Dialah ayahku yang meninggalkanku saat kecil dan hanya kuingat wajahnya dari foto saja. Meski wajahnya tidak begitu berubah, namun kulihat rambutnya sudah mulai memutih.

“Dinda kamu sudah besar” kata ayah.

Aku hanya diam saja duduk di sebelah ibu.

“Maafkan ayah nak, ayah menyesal” ujarnya dengan raut wajah penuh penyesalan.

Ibu menepuk pundakku seakan ibu memberi isyarat bahwa aku harus memaafkan ayah.

“Iya yah, aku sudah memafkan” jawabku berat.

“Terima kasih dinda” jawabnya sambil tersenyum. Kubalas senyumannya tapi hanya sekedar dan segera aku beranjak pergi masuk kamar. Dari dalam kamar aku berusaha mencuri dengar percakapan keduanya.

“Sepertinya dinda belum memaafkan aku Narmi” kata ayah.

“Sabar mas memang tidak mudah memaafkan, Dinda butuh waktu” ujar ibu meyakinkan.

“Aku memang salah, baiklah seminggu lagi aku kesini aku ingin mengatakan sesuatu pada Dinda” ujar ayah.

“Baiklah” jawab ibu.

Setelah itu ayah berpamitan.

Tak beberapa lama berselah, hanya sekitar 15 menit berselang setelah ayah pergi meninggalkan rumahku, tiba-tiba seorang tetanggaku memberitahukan bahwa mobil merah yang baru saja dari rumahku kecelakaan di tugu tak jauh dari rumahku. Sebuah bus yang melaju dengan kencang menabrak mobil ayah yang saat itu akan memintas arah.

Segara ayah dilarikan kerumah sakit. Dengan perasaan kalut aku pun bergegas ke rumah sakit untuk menemui ayah. Disana kutemui ayah bersimbah darah. Ku peluk erat ayah seperti memeluk mawar yang indah dan berduri. Semakin erat ku peluk semakin menyakitkan. Orang yang aku benci kini tidak berdaya.

Ayah masih sadar dia sempat berkata. “Dinda ayah sudah siapkan semuanya untuk biaya kamu sampai lulus kuliah, pengacara ayah akan mengurus semuanya” ucapnya lirih.

“Ayah akan sembuh yah, ayah tak perlu memikirkan apapun sekarang” ucapku menenangkannya. Tapi takdir berkata lain ayah harus pergi saat itu juga di pelukanku. Ternyata ayah mengidap penyakit jantung jadi saat itu penyakitnya kambuh dan berhenti berdetak.

Kupeluk ibu ku yang ada di sampingku,

“Ayah bu” kataku sambil menangis.

“Iklaskan ayahmu nak, saat ini ayahmu hanya perlu doamu semoga ayahmu tenang disana dan diampuni segala dosanya” kata ibuku menenangkan.

Selamat Jalan Ayah.


Terima kasih telah membaca cerita pendek curahan hati. Semoga cerpen sedih diatas bermanfaat dan menghibur. Jangan lupa baca juga cerita pendek sedih Bisfren lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait