Nasehat Dari Penjual Es Keliling

kisah inspiratif pendek

Kisah inspiratif pendek diawali rengekan anak minta dibelikan es krim keliling yang dijual seorang kakek tua menggunakan sepeda. Dari sana cerita mengalir hingga pesan yang inginkan penulis sampai kepada pembaca. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Kisah Inspiratif Pendek – Nasehat Dari Penjual Es Keliling

Pagi tadi sekitar pukul 10.00 Wib cuaca di Medan sanggatlah mendung. Ketika itu aku tengah sibuk bekerja merakit Mesin Penyaring Air pesanan toko pada teras depan rumahku. Diriku ditemani oleh anak paling bungsu. Si pengganggu kecilku berusaha membantu pekerjaanku.

Namun pada usianya masih berjalan 4 tahun, tingkah lakunya lebih mendekati perusuh sedang berusaha memporak-porandakan perkakas berada dalam tas ketimbang seorang kenek pembantu tengah berusaha membantu tukangnya agar cepat selesai pekerjaannya, tapi anehnya hatiku malah sangat senang diberikan kenek kerja super mungil itu, dan ketika istriku meletakkannya di dekatku yang tengah asyik bekerja, sdeikitpun hatiku tak marah malah tersenyum senang.

Ketika anakku sedang sibuk membongkar paksa isi perkakas tersusun dalam tollbox, tiba – tiba kesibukkannya terhenti seketika manakala telinganya menangkap bunyi suara lonceng kecil berdenting – denting, seorang penjual es keliling tengah lewat dirumah kami. Penjual Es tersebut bukanlah penjual es krim langganan kami, hanya seorang kakek tua berjalan kaki menuntun sepeda sambil tangannya memegang kotak terbuat dari kayu serta papan tripleks dicat warna biru dan ditulis dengan tulisan cat berkuas terkesan sederhana bertuliskan “ES LILIN”.

Seperti menuntut sebuah tindakan penghentian, anakku mulai merengek – rengek minta dibelikan, seperti menuntut sebuah upah dari hasil bongkar – bongkarnya tadi, mulanya ritme tempo rengekannya masih terdengar lama karena si kakek penjual juga masih jauh sekitar kurang dari 100 meter dari depan rumahku, namun anakku mulai mempercepat ritme tempo rengekannya menjadi lebih cepat keras berulang-ulang tanpa ada tanda diam lagi manakala si kakek penjual es sudah tepat dihadapan rumah kami lalu mulai berjalan berlalu meninggalkan rumahku.

Tanpa mesti mendengar Reff memekakkan telingaku serta tetangga sekeliling, akupun menjerit sekuat suaraku memanggil si kakek penjual es tadi. Tanpa harus mengulang untuk kedua kalinya, kaki si kakek penjual es keliling langsung terhenti seketika, menoleh lalu tersenyum kepadaku juga anakku, kulihat gigi kakek tersebut berdiri tegak 4 buah manakala kulihat senyum sang kakek tadi melebar, tak ku balas senyum tersebut, justru anakku membalas senyumnya diringi suara cekikikan senang, hampir seperti sebuah gelak tawa bersifat ejekan, huh dasar anak – anak.

Jujur sebenarnya diriku tak mau memanggil penjual es keliling tersebut, walaupun penjual es krim langganan kami sekalipun, mengingat cuaca mendung serta kondisi anakku baru saja kena pilek, namun entah kenapa begitu melihat sikakek tadi ada sebuah dorongan bathin untuk segera memanggilnya, padahal baru kali ini mataku melihatnya serta membeli dagangannya, benar saja, dagangan esnya juga biasa- biasa aja, sebuah es lilin buatan sendiri dengan berbagai macam aneka warna serta rasa sebagai bahan penarik hati anak – anak. Tapi cara si Kakek mendagangkan jualanya dengan cara tidak wajar yaitu mendorong sepedanya itulah hal membuatku jadi tertarik, sekaligus prihatin.

“Sepeda bapak bannya bocor ya ?” tanyaku sambil menggendong anakku dengan masih saja tersenyum girang.

“Enggak ah nak, kedua-duanya dalam keadaan bagus kok”

“Lalu kenapa kakek mendorongnya ?, kan lebih baik dinaiki biar nggak capek”

“Ah nggak nak, udah biasa. Malah enakan begini, hitung – hitung olah raga nak, oh ya adek kecil mau es apa ? ada bulat, ada petak, hayoo pilih mana” ujar kakek sambil membuka boks kayu tempat es lilinya disimpan. Boks kayu tersebut dalamnya dilapisi oleh plat alumanium serta lapisan plastik tebal berwarna putih, kulihat dipinggirannya terdapat 4 buah Ice Bag berukuran sedang sebagai pendinginnya. Sebuah upaya untuk menahan agar Es dagangannya tetap dalam kondisi dingin beku, hemm sebuah ide kreatif.

Anakku tanpa meminta komando persetujuan ayahnya langsung memilih es lilin berbentuk petak berwarna Orange. Begitu es tersebut diterimanya dari kakek penjual, refleks pergerakkan tubuhnya pada pangkuanku mulai sedikit melakukan pemberontakkan, ia hendak turun. Benar saja begitu diturunkankan dia langsung ngacir ke dalam rumahku, lalu dalam beberapa saat kemudian terdengar suara ibunya berteriak- teriak kecil menandakan kurang setuju pada keputusan ku membelikan anaknya es lilin saat kondisi kurang tepat. Diriku tersenyum, nantilah akan kubahas kembali.

“Berapa harga es lilinya pak ?”

“seribu Rupiah aja nak”

“Ah masa sih ?, kok murah banget pak?”

“Ya memang biasa dijual harganya segitu nak.. ”

Ku rogoh kantong celanaku, mencari uang pecahan seribu, tapi tak ku temukan. Kulihat hanya ada pecahan uang Rp.20.000,- dan Rp.50.000,- saja, wah masalah nih dalam hatiku, tidak mungkin ku sodorkan uang Rp.20.000,- kepada si kakek, apalagi uang Rp.50.000,- nanti disangka mengejek karena harga Es nominalnya masih seperdua puluh atau seperlima puluh dari mata uang akan kuberikan.

“Kakek tinggalnya dimana kek ?” tanyaku, berusaha mengulur–ulur waktu sambil berpikir apakah harus memberikan uang pecahan Rp.20.000,- ataukah memanggil istriku untuk mengambil uang pecahan seribu atau setidaknya uang pecahan Rp.2.000,- atau Rp.5.000,-

“saya dari Desa Batang Kuis nak.”

“haah, dari Batang Kuis ?, kan sangat jauh pak hampir 10 Km dari sini ?,  bapak dari rumah terus kemari dengan berjalan kaki menuntun sepeda bapak dalam berjualan ?”.

“ Iya nak” si Kakek mengangguk sambil tersenyum.

“Setiap hari ?” tanyaku makin tidak percaya.

“Ya! Setiap hari”  jawabnya santai sambil menutup boks dagangannya.

“Lalu sejak berangkat dari rumah, sudah banyak laku kek ?” tanyaku lagi makin penasaran.

“Ya baru anak kamu itu aja yang beli tadi, dialah penglaris jualanku hari ini”

Entah kenapa mataku terasa sanggat pedih, padahal tidak banyak angin atau abu berterbangan, tapi entah kenapa mataku terasa sangat panas seperti ingin mengeluarkan air mata, namun cepat cepat kutahan walaupun hatiku sangat yakin ada beberapa tetes mungkin telah jatuh ke pipiku.

Cepat cepat merogoh kantong celanaku, tak ingin terlihat konyol dimata si kakek. Niatku untuk memanggil istriku untuk mencari pecahan uang Rp.1.000,- atau Rp.2.000,- segera ku batalkan, entah kenapa pengakuan polos sang kakek telah membuatku sangat terharu kemudian dengan hati sangat ikhlas ku keluarkan uang dengan pecahan Rp.20.000,- dari kantongku, niat ku hendak memberikan saja uangnya, tidak usah mengembalikan kembaliannya.

“Ini pak uang es tadi”, kataku sedikit gemetar, antara menahan haru serta panasnya kelopak mata.

“waduh nak, uangnya besar sekali, mana ada kembaliannya, wong masih penglaris” ujarnya sambil tersenyum, namun agak kecut karena memang merupakan sebuah masalah baginya belum punya uang kembalian. Benakku memang sudah menebaknya jauh dari tadi, namun bibirku hanya tersenyum.

“Nggak usah dikembalikan pak, kembaliannya untuk bapak saja”

“ Ah nggak nak, kasih saja saya uang seribu, bapak nggak mau”

“Nggak apa – apa pak buat bapak saja, saya ikhlas kok” jawabku tersenyum sambil lipat uang tersebut lalu meletakkan pada telapak tangan si kakek kemudian melipatkan semua jari jemari tangan si kakek menutupi uang Rp.20.000 tadi.

“Tapi maaf nak, bapak memang tidak mau nak, bapak cuma perlu uang seribu saja, kebanyakan”.

Kakek tadi malah memberikan kembali uang tersebut kepadaku, aku sedikit mengerutkan kedua alis mataku, nih kakek aneh bener sih kok diberi malah tidak mau terima dalam hatiku. Apa mungkin nilai nominalnya terlalu kecil, atau apakah dia tadi melihat aku mempunyai uang Rp.50.000,- lagi didalam kantong celanaku, wah kalo si kakek melihatku mempunyai uang Rp.50.000 pada saat aku sedang mencari pecahan uang kecil tadi, berarti nih kakek nggak mau uang Rp.20.000,- dia menolaknya karena ia pengen uang dengan nominal yang lebih besar lagi, kalo benar – benar iya, wah kelewatan bener nih si kakek. Tapi aku pun tersenyum dalam hati, iya juga sih, masak prihatin sama orang tapi masih perhitungan dalam memberi. Akhirnya akupun merogoh uang Rp.50.000,- dari kantong celanaku lalu memberikannya kepada si kakek.

“ini pak, saya tambahin lagi, itung –itung untuk nambahin modal Bapak jualan” ujarku tersenyum lalu melipat uang Rp.20.000,- tadi berikut uang Rp.50.000,- nya kemudian memberikannya kepada si kakek penjual es keliling, sekarang sang kakek menerimanya dengan wajah tersenyum, kali ini senyumnya malah makin lebar. Dugaanku hampir 100% benar bahwa sikakek menginginkan nominal uang lebih besar lagi. Namun manakala uang tersebut tiba-tiba sudah berpindah kembali ke tanganku, dugaanku 100% pula telah meleset. Ia benar benar tidak mau menerimanya. Diriku tersentak kaget, seumur-umur memberikan sedekah kepada orang – orang jika kulihat layak menerimanya, baru kali inilah sedekah ku ditolak.

“Maaf nak, bukannya saya sombong atau menolak niat baik hati kamu memberikan uang kepadaku, tapi saya hanya meminta uang seribu rupiah saja, sudah cukup bagiku”

“tapi kek saya kan ikhlas”

“Benar nak, dari sorot matamu tertangkap keihklasan disana, tapi keiklhlasan tersebut muncul karena ada rasa kasihanmu kepadaku, jadi saya tidak bisa menerimanya”.

“Lho kenapa Pak ? Bukannya memberikan sesuatu harus didasari rasa Iba juga kasihan ?” jawabku berusaha melakukan pembelaan.

“Benar nak, kamu tidak salah, pendapatmu tersebut benar, tapi lebih pantas kau berikan kepada para fakir, miskin, anak yatim miskin atau peminta-minta karena memang sangat membutuhkannya. Sementara saya seorang pedagang nak, bukannya peminta – minta, saya masih sanggup mencari nafkah untuk diriku juga keluargaku dengan tanganku sendiri, jadi cukuplah Allah saja mengasihani saya, bukan manusia..”.

DEG, Jantungku terasa mau copot, sang kakek omongannya sangat bijaksana sekali.

“ ya tapi menurutku, Bapak pantas mendapatkan uang ini, ya setidaknya sebuah penilaian simpati dariku, memang tadi aku memberikannya atas dasar kasihan, tapi sekarang rasa simpatiku sekarang jadi lebih besar dari rasa kasihanku demi melihat semangat bapak dalam mencari nafkah walaupun diusia yang sudah cukup tua”.

“ hehehe, terima kasih nak, tapi aku tidak mau simpati orang kepadaku, aku hanya mau orang suka serta ikhlas membeli daganganku, seperti anakmu tadi” kakek itu tertawa lebar, kulihat kembali giginya yang tinggal empat itu, aku mau tersenyum dibuatnya namun aku tahan.

“ Ya udah Pak, kalo bapak tidak mau menerima uang pemberian dari saya, saya borong aja deh semua es yang kakek jual senilai nominal uang yang ada padaku sekarang” ujarku sedikit keras bicaranya, tapi sekali lagi si kakek pun tersenyum.

“ kamu memang pintar nak, tapi itu namanya kau menuruti hawa nafsumu dalam membantu orang lain nak, itu tak baik nak. Allah pasti kurang suka dengan caramu tersebut, begitu juga aku.”

“tapi inikan saya membelinya sih pak?, apa masalahnya ?”.

“hehehe.. mau kau apakan 69 es lilin lainnya, memakannya ramai-ramai dirumahmu, atau mau kau bagi-bagikan kepada semua anak-anak tetanggamu yang belum tentu mereka mau menerimanya karena takut anaknya menjadi pilek dan ingusan, atau jangan – jangan akan segera kau buang setelah aku pergi dari tempatmu ?”

Wah aku semakin ngeri aja melihat kakek penjual es, dia manusia atau bukan ya?, jangan jangan Malaikat, atau mahluk Allah lainnya yang menyamar hanya untuk memberi pelajaran bagiku. Semakin aku berdebat dengannya semakin aku kalah.

“ baiklah nak, aku tidak ingin berpanjang lebar kepadamu lagi, bukannya aku tidak suka, tapi aku masih harus berjualan lagi, kau bayar saja es yang diambil anakmu, sudah lebih dari cukup bagiku dari pada semuanya” ujar si kakek penjual es tadi, sambil mengambil ancang – ancang hendak beranjak pergi. Aku segera menjerit berteriak memanggil nama istriku, dan begitu teriakanku dibalas sahutan istriku, aku langsung memerintahkannya untuk mengambil uang pecahan Rp.5000,- kepadanya, dan kurang dari 5 menit istriku telah datang kehadapanku dan sikakek, membawa uang Rp. 5000,- lalu meyerahkan kepadaku.

“ baiklah pak, aku akan beli 4 buah Es lilin lagi, kali ini niatnya benar – benar tulus, untuk kedua anakku yang masih sekolah, aku serta Istriku”

“Eh, eh nggak bang, aku nggak mau, aku pilek nih, 3 aja kek”

Istriku yang nggak mengerti apa – apa itu langsung menolaknya. Dan kulihat si kakek itu tersenyum melihatnya dan kemudian tersenyum juga kepadaku.

“kalo Istriku menolaknya, aku akan makan dua sekaligus pak, dan ini ikhlas!” ujarku tersenyum kecut, aku tak mahu sikakek penjual ini berubah pikiran lagi, bisa semakin rumit nanti ceritanya.

“Baiklah nak, kalau begitu aku pergi dulu, sudah hampir mau siang, aku takut anak – anak sekolah langgananku di kampung seberang sana sudah lama menungguku” ujar si kakek sambil mulai segera berjalan menuntun sepedanya.

“nanti – nanti, tunggu bentar pak, aku boleh meminta sesuatu kepada Anda?”

“Lho, Apa itu?”

”Aku hanya ingin mencium tanganmu”.

Si kakek penjual es itu berhenti, dan terdiam seketika juga aku langsung mengambil tangan kanannya dan menciuminya berkali – kali, kakek itu tersenyum keheranan sambil matanya melirik kesekelilingnya termasuk juga istriku yang terperangah keheranan melihat aksi ku. Aku tak peduli jika ada orang yang lihat, bagiku si kakek penjual es ini telah menyentuh hatiku, aku bisa merasakan betapa ia mempunyai ilmu yang tinggi dibalik kesederhanaanya.

“Datanglah setiap hari melewati rumah kami Pak, singgah dan beristirahatlah jika engkau merasa lelah berjalan, kami akan selalu berlangganan es denganmu. Tapi bila engkau hanya sekali ini saja melewati rumahku, do’akanlah aku agar bisa menjadi seorang muslim yang berpendirian seteguh pendirianmu”.

“Insya Allah…” itulah kata kata terakhir yang aku tangkap dari bibirnya ketika aku melepaskan ciumanku ditangannya, tidak ada kata – kata terima kasih atau basa – basi lainnya, ia hanya berjalan terus kedepan dengan menuntun sepedanya yang sudah terlihat tua, dengan ber alas kan sepasang sendal jepit ia terus melangkah, sebuah kesederhanaan yang sangat sangat sederhana, namun siapa sangka ia mempunyai kepribadian yang sangat kaya, melebihi kayanya hati para konglomerat yang masih saja merasa haus serta kurang atas rizki yang telah Allah berikan secara melimpah ruah, seorang muslimin yang memiliki keteguhan hati dalam hidup yang tidak suka dikasihani orang lain, cukup Allah saja yang mengasihaninya saja, sangatlah jarang bisa ditemui orang orang yang memiliki keteguhan hati seperti Kakek penjual es tadi.

Aku masih terduduk disini, didepan komputerku, menuliskan kisah ini, manakala istriku memanggilku untuk segera mengingatkan kenapa es lilin tadi belum juga dimakan, padahal anak- anak sudah mengincar – incar jatah ayahnya yang tinggal satu – satunya itu karena jatah istriku tadi sudah habis diembat sama anakku yang paling bungsu, hehehe.. sepertinya satu saja tidak cukup baginya. Anak – anakku saja suka memakan es lilin buatan si kakek itu, apalagi aku yang masih terlalu sayang memakan es lilin jatahku itu hanya karena aku masih ingin menikmati pembicaraan yang sangat berkesan sekali didalam hatiku ini. Sungguh aku akan memakan es besok harinya jika aku melihat si kakek lewat lagi didepan rumahku, kemudian ngobrol – ngobrol kemudian memesannya lagi kepadanya, tapi jika besok sikakek tidak muncul, aku akan tetap menyimpannya serta melarang anak-anakku untuk memakannya sampai saatnya aku siap memakan es lilin tersebut, bukannya syirik, tapi aku tidak ingin cepat cepat menghilangkan kisah serta kenangan pertemuanku dengan kakek si penjual es keliling yang penuh misteri juga kaya ilmu tersebut hari ini.


Terima kasih telah membaca kisah inspiratif pendek karya Taufik Ramadhan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi sobat pemirsa sekalian.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait