Para Penjaja Warta @ Cerita Pendek Inspiratif Remaja

Cerita Kehidupan Sosial Pendek cerita singkat "Para Penjaja Warta"

Cerita kehidupan sosial pendek “Para Penjaja Warta” adalah cerita singkat tentang Panji, seorang anak, penjual koran, yang harus merawat dan membiaya emak dan bapaknya. Cerita singkat ini ditulis oleh Mira Setyaningrum yang banyak menyoroti dan membuat cerita kehidupan sosial pendek masyarakat. Bagaimana jalan cerita kehidupan sosial pendek ini ? silahkan simak pada cerita singkat berikut.

Cerita Kehidupan Sosial Pendek “Para Penjaja Warta”

Matahari memang sudah sepenggalah, namun langit seumpama kain putih yang dibentangkan itu tak menampakkan wujud garangnya. Seperti hari – hari yang terjadi di awal tahun, demikian pada saat itu matahari memilih tetap lelap di peraduan, walaupun semesta menjeritkan namanya, rindu akan kehangatan maupun sengatnya yang menghantarkan pagi hingga menjelang petang. Karena di saat itu hujan yang berkuasa, kuyub bumi di mana semua kaki berpijak, dan manusia tak boleh berkesah, meskipun air menyapa hingga memasuki setiap rumah. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita motivasi keluarga Sepatu butut anakku.

Panji menunggu di dekat lampu lalu lintas yang berdampingan dengan taman kota. Kendaraan berlalu lalang tatkala lampu hijau saat itu menyala. Ia memandang dengan sedih terhadap sekian eksemplar koran yang ia bungkus dengan sebuah kantong plastik putih besar. Sejak pagi ia sudah berdiri di dekat lampu lalu lintas ini, jika lampu merah menyala itulah saatnya ia mengais rezeki, menawarkan koran kepada setiap pengendara yang menunggu, meskipun sambutan baik tak selalu ia dapatkan. Pada saat musim benderang sebelumnya, lebih banyak koran terjual, karena para pengendara bisa menunggu sambil mungkin sekilas hanya membaca judul yang tertera, namun saat musim kuyub ini para pengendara tak memiliki waktu, selain hasrat menggebu ingin segera tiba di tujuan. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita realita kehidupan kupu kupu bersayap awan.

Hujan turun kembali. Bertepatan dengan lampu merah, ia masih mengenakan jaket lusuhnya yang sudah basah sejak tadi dan berjalan di sela – sela pengendara, menganggukkan kepala dengan sopan seraya menawarkan, “ Permisi, koran, Pak ? Berita terbaru, bukan berita basi, koran, Mas ? “ Begitu seterusnya, dan kali ini Panji memang tak seberuntung hari – hari yang lewat, hanya seorang pengendara sepeda motor yang mau membeli korannya, sedangkan yang lainnya jika tak menggelengkan kepala, mereka pura – pura tak menyadari kehadirannya. Saat lampu hijau menyala, Panji kembali duduk di pagar pembatas taman kota. “ Hoi, Panji ! Sudah laku berapa ? “ terdengar teriakan seorang bocah laki – laki mendekat, Wisanggeni, sesama penjual koran juga teman sekolah dan sahabat baiknya. Panji hanya tersenyum sekilas, “ Sejak pagi tadi baru laku satu, Wis. Kau ? “ Wisanggeni menepuk bahu kanannya, “ Hari ini kita kompakan, Panji ! Sama, aku juga baru laku satu ! Hahahahaha…..” Kedua sahabat yang berbeda sifat bak langit dan bumi, Panji memiliki sifat pendiam, peragu, lebih cepat khawatir, sebaliknya Wisanggeni seorang yang bertabiat periang, nyaris tak pernah bersedih bahkan pada saat yang genting sekalipun, keduanya saling melengkapi satu dengan yang lain. Mereka berdua sama – sama menjual koran usai sekolah jika hari biasa, namun di hari Minggu dan hari libur mereka berjualan dari pagi hingga petang tiba. “ Jika koran hari ini tak laku juga, aku takut Bapak marah, Wis, “ kata Panji pelan. “ Tenang, Panji ! Tak usah khawatir, nanti aku yang bilang sama Bapakmu ya, tapi kau tahu, ada imbalannya…” seringai Wisanggeni, menentramkan hati sahabatnya. Panji tersenyum, ia tahu bahwa sahabatnya ini sangat suka makan, karena itu tubuhnya gemuk tapi Wisanggeni tak memiliki kesulitan dengan bentuk tubuhnya, ia tetap saja lincah melakukan aktivitas apapun, tak kalah dengan Panji yang bertubuh kurus. “ Sudah siang, Panji, ayo kita makan dulu, perutku sudah berteriak sejak tadi, “ kata Wisanggeni seraya memegang perutnya yang buncit. Panji menganggukkan kepala kemudian keduanya berlomba di tengah rintik hujan yang tak bosan membasahi bumi. Mereka makan di sebuah warung makan terdekat. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita kehidupan sosial remaja Intan dan Kirani.

Selesai makan Wisanggeni menepuk – nepuk perutnya dengan puas meskipun ia hanya makan dengan sepiring nasi dengan sayur asam dan sepotong ikan asin, namun porsi nasinya mungkin setara dengan porsi untuk dua orang, kemudian ia dan Panji pun berpisah. Meskipun mereka sama – sama penjual koran, keduanya tak berjualan di tempat yang sama, Panji menjual korannya di dekat taman kota, sedangkan Wisanggeni di wilayah sekitar lampu lalu lintas yang berdekatan dengan area perkantoran pemerintah. Panji melanjutkan langkahnya hendak kembali ke taman kota. Ketika ia hendak mengambil kantong plastik yang berisikan koran – koran tadi, langkahnya terhenti. Panji sangat yakin bahwa ia tak lupa di mana ia meletakkannya, ia menaruhnya di sebuah bangku kayu panjang di luar warung, tempat biasanya orang – orang duduk – duduk di sana. Namun kantong itu tak ada, di manakah ia berada ? Dengan panik Panji memandang berkeliling, ia melongok ke bawah bangku dan sekitarnya, tak ada sehelai pun kertas yang menunjukkan bahwa koran itu ada di sana. Panji juga sangat mengingat bahwa pada saat ia dan Wisanggeni tadi makan, warung hanya dikunjungi dua orang selain mereka, dan kedua orang tadi belum selesai makan hingga Panji dan Wisanggeni tuntas makan siang. Putus asa, Panji memegangi kepala dengan kedua tangannya. Kepalanya terasa akan pecah, karena ia tak bisa membayangkan apa reaksi Bapak jika tahu akan hal ini. Panji kemudian duduk di bangku kayu panjang itu, kemudian pada saat ia duduk tampak jelas siapa yang telah mengambil koran – koran dalam kantong plastiknya….Di seberang jalan tepatnya di dekat sebuah tempat sampah besar yang berdekatan dengan sebuah bangunan tua, tampak seekor kucing kampung menyeret – nyeret sesuatu, mungkin dianggapnya mainan, dan sesekali kucing tersebut berjalan santai dan mengais – ngais di dekat tempat sampah tersebut. Panji seketika meloncat bangkit karena ia mengenali apa yang diseret oleh si kucing, sebuah kantong plastiknya, yang tentu saja berisi koran – koran yang belum terjual. Ia berpacu dengan hujan, kucing dan yang terpenting adalah waktu, karena siang sebentar lagi berakhir berganti senja. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita sedih keluarga singkat Pelindung Hatiku.

Panji menyeberang jalan dengan rasa hati yang sesak, spontan ia mengambil sebuah batu yang tergeletak di jalan dekat trotoar dan melempar kucing itu dengan rasa marah. Si kucing yang kaget berlari kencang,melarikan diri dengan mengeluarkan suara mengeong tinggi. Panji memungut kantong plastiknya dengan pandangan nanar, karena kantong plastik yang seharusnya menutupi koran – korannya telah koyak, dan ini tentunya mengakibatkan air hujan masuk dan merusak korannya…Hatinya runtuh menyaksikan sisa – sisa koran yang tentu saja sudah tak layak dijual itu. Dengan pelan Panji mengambil kantong plastik dan mendekapnya, siang telah berakhir. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita sedih renungan sedih Perempuan berjubah hujan.

“ Nak ! “

Terdengar suara memanggilnya, seorang pria renta di dalam mobil menganggukkan kepala seraya tersenyum padanya dan melambaikan tangan. Panji datang mendekat, “ Iya, Pak ? “ Si pria tua bertanya, “ Kaukah yang berjualan koran di dekat taman kota itu ? “ Panji menganggukkan kepalanya dengan sopan, “ Benar, itu saya, Pak. Si pria memandang kantong plastik yang didekap Panji, “ Apakah koran hari ini masih ada, Nak ? Saya kehabisan, sudah mencari ke mana – mana, tapi penjual lain sudah tak lagi memiliki. “ Panji memandang pria tua itu dengan pandangan kabur, karena air nyaris memenuhi setiap sudut kedua mata nya, “ Maaf, Pak, sebenarnya saya masih punya, tapi sudah rusak….” Si pria tua memandangnya dengan ramah, “ Coba saya lihat. “ Panji menyerahkan kantong plastiknya kepada pria itu. Dengan hati – hati pria itu mengeluarkan koran basah yang huruf – hurufnya sudah kabur, bahkan beberapa halamannya telah koyak. Pria itu tetap tersenyum seraya memandang Panji, “ Nak, koran ini saya beli semuanya saja, masih bisa dibaca kok, nanti saya keringkan di rumah dan saya rangkai sendiri. “ Sontak Panji melonjak gembira, dan spontan ia meraih tangan kanan pria tua itu dan mencium punggung tangannya. “ Semuanya dua puluh ribu, Pak, “ kata Panji bersemangat. “ Ok, “ kata si pria tua, merogoh sesuatu dari balik saku jasnya, beberapa lembar uang kertas. Ia menyerahkannya kepada Panji yang menatapnya dengan melongo, “ Maaf, Pak. Uangnya banyak sekali, saya tidak mempunyai kembalian…” Pria tua itu tersenyum hangat, “ Hari ini kau telah menyelamatkanku, Nak. Karena di salah satu halaman koran itu telah termuat artikel yang saya tulis dan ingin saya simpan. Koran yang kau jual itu termasuk media yang sangat selektif dalam memuat suatu karya, terlebih karya ilmiah. Tak usah memikirkan uang kembalian, oya siapakah namamu, Nak ? “ Panji menjawabnya dengan mantap, “ Nama saya Panji, Pak. “. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita haru sedih Perempuan lentera.

“ Panji sekarang kelas berapa ? Kau masih sekolah, bukan ? “

“ Saya kelas 9,Pak. “

“ Ah, sebentar lagi hendak ke tingkat atas. Panji bercita – cita ingin menjadi apa ? “

“ Saya ingin menjadi dokter, Pak…”

Si pria renta, kembali merogoh saku jaketnya dan mengulurkan sesuatu kepada Panji, “ Bagus sekali, Panji. Oya, jika ada apa – apa, hubungi saya, ya. “ Ia memberikan sebuah kartu nama kepada Panji, di sana tertera :

Dr. Djoko Sumarsono, Ph.D
Dokter spesialis bedah onkologi
Praktek di RSCM, jam…
Serta beberapa rumah sakit swasta lain di Jabodetabek

Senja pun tiba, Panji melangkahkan kaki memasuki pagar rumahnya yang reyot. Hari ini Bapak dan Emak pasti senang mendengarkan ceritanya. Ia membawa beberapa bungkus kantong plastik, bukan kantong plastik yang berisi koran tadi, tapi kantong plastik yang lain. Terdengar suara seseorang terbatuk, suara Emak yang terbaring lemah selama beberapa hari di tempat tidur, beliau terkena asma bronchitis yang memang sering diderita jika hujan tiba dan dingin yang menggigil. “ Emak ? Bapak ? “ panggil Panji pelan. “ Iya, Nak ? Bapak belum pulang, “ suara serak Emak menjawab dari kamar tidur. “ Bapakmu masih mengayuh becak, Nak. “. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita rohani Islam Namun senyumMu tetap mengikuti.

Panji memasuki kamar tidur Emak dengan hati – hati dan meletakkan beberapa bungkus kantong plastik di pangkuan Emak. “ Emak, saya telah menebus obat untuk Emak. Nanti Emak minum, ya ? Jika Emak belum sembuh juga, besok kita ke rumah sakit saja, Puskesmas tak cukup untuk menyembuhkan. Hari ini koran saya laku semua, kita bisa makan besar, makanan kesukaan Emak, ayam goreng…” Panji berkata tanpa jeda, yang ditatap Emaknya dengan pandangan heran. “ Panji, kau dapat uang dari mana ? Meskipun koranmu laku semua belum tentu kau menghasilkan uang sebanyak itu untuk menebus obat dan membeli makanan yang mahal, bukan ? “. Apabila kamu suka membaca cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat, baca juga cerita renungan singkat Ketika setia menjadi pelita.

Panji menatap Emak dengan berseri, “ Hari ini sebenarnya saya mendapatkan musibah tapi Tuhan memberikan anugerah di balik musibah itu, Emak .” Ia menceritakan semuanya, dan kali ini Emak memandangnya dengan berkaca – kaca, “ Anakku, Emak dan Bapak sangat bangga padamu, Nak…..”


Terima kasih telah membaca cerita kehidupan sosial pendek pada cerita singkat “Para Penjaja Warta”. Jika cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat ini memberi makna, mohon bagikan cerita kehidupan sosial pendek atau cerita singkat ini melalui Facebook, Twitter, Google+ dan Pinterest. Jangan lupa baca cerita pendek kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait