Cerita Pendek Inspiratif Sedih : Perempuan Lentera

cerita pendek perempuan lentera short story cerpen

Cerita Pendek Perempuan Lentera, berkisah tentang perjuangan ibu tiri untuk mendapat pengakuan dari anak tirinya hingga dia rela menjadi donor ginjal bagi anak tersebut. Bagaimana jalan ceritanya ? mari simak pada cerpen berikut.

Cerita pendek perempuan lentera

Aku memperhatikan gadis cilik berkuncir dua di hadapanku, usia 12 tahun, baru menginjak tahun pertama di Sekolah Menengah Tingkat Pertama. Cantik tentunya, amat sangat mirip dengan ayahnya. Victor berdeham sejenak dan memandangku sekilas.

“Rhe, ini anakku Indira, Indira, ini Tante Rhema.”

Indira menatapku dingin dan mengacungkan tangan kanannya dengan kaku kemudian menyebutkan nama.

“Indi.”

“Rhema. ”

Kini Indira ganti menatap paras ayahnya, sekilas kubaca ada raut protes yang tak terkatakan.

“Tante Rhema akan tidur di mana, Pa ? ”

“Tentu saja di kamar tidur tamu, Nak. ”

“Jangan sampai Tante tidur di tempat tidur Mama dulu. ”

Usai mengucapkan kalimat itu, tanpa pamitan Indira meninggalkan kami berdua, menuju kamar tidurnya sendiri di lantai dua, terdengar suara pintu dibanting. Aku menghela nafas. Victor menatapku dengan raut wajah bersalah ( baca juga : cerita pendek cinta)

“Maafkan dia, Sayang. ”

Aku hanya menganggukkan kepala memaklumi, namun jelas banyak sekali catatan kaki dalam benakku, perjalanan selanjutnya pasti tidak mudah.

“Tidurlah, sampai jumpa besok pagi, jangan lupa berdoa ya. ”

Victor mengantarku hingga di depan kamar tidur tamu, dan meninggalkanku sendiri di dalam. Malam yang sudah terlalu larut dan perjalanan jauh membuatku sungguh kelelahan dan cepat mengantarku ke dunia mimpi.

Pagi

Kami bertiga duduk di meja makan. Indira dan ayahnya masing – masing telah rapi dengan seragam sekolah dan seragam kerja, sedangkan aku hanya mengenakan pakaian rumahan. Sarapan telah siap dan menerbitkan rasa lapar.

“Sayang, aku mengantar Indira dulu, sementara kau di rumah tidak apa – apa kan ? ”

“Tidak apa, Victor. Toh nanti kita berjumpa lagi.”

“Memangnya Tante mau tinggal berapa lama di rumah kita, Pa ? ”

Victor tersentak mendengar pertanyaan yang menyengat itu, aku mencium suatu genderang perang.

“Indi berangkat dengan bus sekolah saja Pa, sebentar lagi akan lewat di depan rumah. ”

Gadis itu tak menyelesaikan sarapannya, walau aku sudah diberitahu bahwa sarapan yang terhidang tadi adalah salah satu menu favorit yaitu nasi goreng dengan campuran sosis, bakso dan irisan telur kocok. Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan besar, bus sekolah Indira berwarna biru muda ,berhenti sejenak, dan kuintip bahwa ia telah naik ke dalam. Untuk pertama kalinya ia pergi sekolah tanpa pamit.

Victor menggeleng – gelengkan kepala kemudian meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat.

“Victor, apakah keputusan kita tepat ? Indi tak menyukaiku, ” kataku pelan.

“Sayang, aku tahu, tak mudah, dan Indira memang sangat keras kepala, sifat warisan mendiang ibunya, tapi kukira dengan cinta kita bisa melunakkan hatinya. Tolonglah….” Victor memandangku dengan sorot mata memelas.

Aku menggigit bibir bawah dengan gigiku, ” Baiklah. ”

“Aku berangkat dulu ya, sampai nanti, baik – baiklah di rumah. Toh di rumah ada Bik Par dan Pak Karto, mereka bisa menjadi teman bicara, selama aku bekerja. ”

Aku hanya menatap dengan gundah ketika Victor berlalu. Sepanjang hari ini pastinya kulalui dengan sangat panjang.

Siang

Bik Par bercerita panjang lebar,baik tentang Victor, mendiang istrinya dan Indira.

“Nyonya Laras dulu sangat keibuan, benar – benar tipe istri ideal, Jeng.”

Bagus, dari awal saja aku sudah sangat berbeda dengan Laras.

” Beliau suka memasak, berkebun,melukis, ibu rumah tangga sejati. ”

Aku hanya tersenyum saja mendengar berbagai kegemaran Laras, karena hanya berkebun saja yang nyaris mirip dengan salah satu kesukaanku, karena dulu aku suka memanjat gunung bersama klub pencinta alam dan turut serta dalam program konservasi salah satu hutan lindung di negeri ini (Baca juga : cerita pendek cinta tertinggal di teluk persi)

Selanjutnya Bik Par bercerita sangat banyak hal tentang Laras, dan berujung pada kesimpulan, kami sangat bertolak belakang.

“Sayangnya Nyonya cepat berpulang, ketika beliau terserang kanker rahim. Tuan sempat limbung dan nyaris jarang pulang ke rumah, memilih untuk dinas luar kota berbulan – bulan, kasihan Non Indi waktu itu. ”

“Maaf Jeng, bagaimana Tuan berjumpa dengan Jeng Rhema waktu itu ? ”

Aku hanya tersenyum masam, karena perjumpaan perdanaku dengan Victor justru tak mengenakkan. Masing – masing kantor kami merupakan rekanan, Victor yang bekerja di perusahaan properti sedangkan aku di bidang material. Sempat dulu ada kesalahan pada saat pengiriman barang yang tak sesuai, memang itu kesalahan dari pihak kantorku karena staf yang teledor. Tapi dasar aku tak mau kalah, aku tak mau begitu saja dipersalahkan, terjadi adu argumentasi. Hasilnya ? Aku yang menang…

Pembicaraan selesai di saat senja, ketika Bik Par menunjukkan sebuah taman mungil di belakang rumah, peninggalan Laras.

Malam

Kami bertiga kembali berada di meja makan. Aku hanya diam ketika Victor dan Indira saling bertukar cerita tentang kegiatan masing – masing sepanjang hari. Aku tak mau merusak keasyikan mereka berdua.

Selesai bercerita dan masing – masing nyaris setengah menyelesaikan makan malam, Victor memandang kami berdua bergantian. Kini saatnya.

“Indi, kau sudah kenal Tante Rhema.”

“Iya Pa. ”

“Beberapa bulan lagi kami akan menikah. ”

Indira diam, kedua tangannya sibuk dengan sendok dan garpunya.

“Indira ? ”

“Saya mendengar, Papa. ”

“Kuharap kau merestuinya dan nanti Tante Rhema akan menjadi Mamamu dan tinggal bersama kita. ”

Kini Indira menatap ayahnya lekat – lekat.

“Papa boleh menikah dengan Tante Rhema, tapi ia tidak akan pernah menjadi Mamaku. ”

Kali ini kedua mataku terasa panas dan aku merasakan kedua pelupuknya terasa berat. Begitu Indira pergi meninggalkan meja makan, Victor segera merengkuhku dan tangisanku pun pecah….

Beberapa bulan usai kami resmi menikah, merupakan hari – hari yang sungguh sulit. Aku tak bisa meraih hati Indira, sangat sulit untuk melunakkan hati yang keras, melumerkan hati yang terlanjur beku. Gadis itu sama sekali tak mau menerima apapun dariku, makanan yang kumasak dengan susah payah, kado ulang tahun, dan masih banyak hal lain. Orang – orang yang telah mengetahui keberadaanku hanya mengatakan turut prihatin dan mengucapkan bahwa aku harus bersabar, karena Indira masih berduka akibat kehilangan ibunya.

Pada suatu hari

Saat itu aku masih di rumah, Bik Par sibuk memasak di dapur. Tiba – tiba terdengar telepon genggamku berbunyi, sebuah nama tertera di sana. Wali kelas Indi, Bu Yanti. Beliau berkata dengan nada terburu – buru dan gugup.

“Selamat siang Bu Victor, maaf saya harus mengabarkan bahwa putri Anda, Indira Putri Kahyangan tadi kecelakaan waktu menyeberang jalan, sudah berada di rumah sakit….”

“Astaga, keadaannya tidak apa – apa kan, Bu ? ”

“Maaf Bu Victor, Indira kehilangan banyak darah….dia butuh tranfusi secepatnya. Apalagi golongan darahnya termasuk yang sulit dicari, AB, Bu….”

AB……golongan darah ku.

Tanpa menunggu Bu Yanti selesai bicara, aku berteriak kepada Bik Par, meraih kunci mobil, dan dalam sekejap telah berada dalam keriuhan dan hiruk pikuk kota.

Di rumah sakit

Victor menyusulku dan kami harus menunggu tim medis. ” Nyonya Victor, Anda sudah siap ? ” tanya dokter. Aku mengangguk mantap. Karena aku tergolong sehat dan tak memiliki penyakit berat maka aku lolos serta diperbolehkan menjadi donor darah. Proses yang kujalani serasa berjam – jam tanpa akhir, tapi yang menjadi perhatian utama kami jelas keselamatan Indi.

Setelah proses selesai, Indi masih berada di bangsal rawat inap. Dan Dokter Abner tak serta merta meninggalkan kami begitu saja.

“Maaf Tuan dan Nyonya Victor, ada hal serius yang ingin kami sampaikan kepada Anda berdua berkenaan dengan keadaan Ananda Indira. ”

“Ada apa, Dokter ? ” tanya Victor cemas.

“Setelah kami melakukan pemeriksaan menyeluruh, kami menjumpai ginjal Indira sudah tak sehat, apakah dia sering mengeluhkan sakit ? ”

Victor menatapku, ” Iya…..dulu Indi sering mengeluh sakit perut, kukira Laras dulu..” Ia tak menyelesaikan kalimatnya.

“Apa yang terjadi pada Indira memang tak serta merta,termasuk kasus yang langka tapi benturan keras karena kecelakaan itu memperburuk keadaannya.” (Baca juga : cerita pendek lelaki yang mendonorkan ginjal untuk kekasihnya).

Selanjutnya merupakan keputusan sulit, mencari donor ginjal adalah salah satu alternatif pengobatan. Tapi saat seperti ini, ke mana kah harus mencari.

“Victor, ambil saja salah satu ginjalku. Untuk menyelamatkan nyawa Indi, ” kataku tegas.

“Sayang….” Victor menatapku dengan berkaca – kaca.

Aku hanya tersenyum.

“Dokter Abner,saya minta form untuk pengisian surat pernyataan bahwa saya akan menjadi donor ginjal Indira. Bagaimana pun dia adalah anak kami, darah dagingku dan Victor. ”

Di bangsal rumah sakit

Aku membuka kedua mataku, rasanya aku menjadi seorang putri tidur yang terlelap selama berbulan – bulan. Pelan – pelan pandanganku mulai jelas dan wajah yang kulihat adalah Victor. Ia tersenyum dan mengusap dahiku lembut (Baca juga cerita pendek namun senyum mu tetap megikuti)

“Puji Tuhan, kau sudah sadar, operasi itu lama sekali…….aku sama sekali tak tidur. ”

Ketika aku mencoba bergerak untuk merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk……

“Hati – hati, Mama…..”

Panggilan yang sudah lama ingin kudengar dari mulutnya, dan kini kami berhadap – hadapan, aku memeluknya, sangat erat.


Terima kasih telah membaca cerita pendek kami. Bantu kami membagikan cerita pendek ini kepada teman anda melalui facebook, twitter, google+ dan pinterest dengan mengklik ikon dibawah. Baca juga cerita romantis pendek kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment