Rambut Palsu

Cerita Pendek Pergaulan Remaja Cerita Singkat "Rambut Palsu"

Cerita pendek pergaulan remaja Rambut Palsu karya Ayu Purnayatri berkisah tentang kehidupan cinta dan pergaulan sosial di kampus. Cerpen ini dibumbui cerita cinta ini menarik dengan pesan untuk tidak menyentuh masalah sensitif orang jika kita belum mengenalnya lebih dalam. Simak selengkapnya pada cerita singkat berikut.

Cerita Pendek Pergaulan Remaja “Rambut Palsu”

“Itu rambut palsu..” Setia yang duduk di sebelahku berbisik di telingaku. Kami sedang membicarakan seorang mahasiswa baru dengan rambut sangat aneh. Rambut itu terlalu hitam, terlalu mengkilat, dan terlalu panjang untuk ukuran anak baru yanng diwajibkan memangkas rambut potongan 321.

Aku memperhatikan cowok itu dengan lebih teliti, dia tidak tampan, kulitnya cokelat gelap dan matanya sedikit sipit, tapi tubuhnya sangat atletis, kemungkinan dia sering berolah raga, seperti basket, karena tinggi nya di atas rata-rata tinggi mahasiswa di kampusku. Rambutnya memang aneh, jelas terlihat kalau itu bukan rambut asli, “Kok dia make wig ya?” aku balas berbisik.

“Nggak tau, kebotakan dini kali.” Aku dan Setia mengikik hingga ketua panitia menoleh ke arah kami dan menempelkan jari telunjuknya di bibir. Kami sedang mengadakan kegiatan pra-ratam, di mana seluruh panitia dari semester 3 dan 5 diperkenalkan kepada penghuni baru jurusan kami. Aku dan Setia yang memang agak jelalatan, memasang mata kami baik-baik, menatap wajah-wajah polos calon adik tingkat kami, khususnya cowok. Mereka semua terlihat serupa, kulit melegam karena kebanyakan berjemur saat OKK, kepala pelontos layaknya calon tentara, dan mata lesu serta wajah pucat menandakan mereka sudah beberapa hari belakangan ini tidak mendapat istirahat cukup. Saat itulah kami menemukan keanehan pada rambut salah seorang mahasiswa sehingga kami menyempatkan diri menggossipkannya saat ketua panitia serta teman lain tidak melihat.

“Tadi ratam fakultasnya capek banget kak, panitianya sok-sok banget, sok paling bener, sok plaing kuasa, pokoknya ngebetein banget, untung aja ada kejadian lucu lumayan menghibur.” Lestari, adik sepepuku melepas kepangan rambutnya sambil curhat tentang ratam fakultas baru saja dijalaninya.

“Kejadian lucu apa?” aku duduk sambil membaca novel “The Art of Racing in The Rain”, aku tidak begitu mempedulikannya, tapi kasihan juga kalau tidak ada orang mendengarkan curhatnya.

“Tadi kan ada game, gamenya itu jalan cepet dengan kaki diiket ke kaki temen, salah satu yang ikut game itu adalah cowok yang make rambut palsu.”

Begitu mendengar cowok berambut palsu, aku langsung menaruh novel tebalku di tempat tidur, “Yang satu jurusan ma aku?”

“Iya..  Rambut palsunya hampir lepas, jadi dia pegangin terus,  mereka jatuh deh.”

“Hahaha, pasti lucu banget. Sayang aku gak liat.” Aku tertawa membayangkan adegan lucu terlewatkan itu, maklumlah aku tidak ikut di kepanitiaan ratam fakultas. Aku terlalu malas untuk ikut Senat Mahasiswa atau organisasi semacam itu. Kami tertawa sambil memegang perut, aku jadi tidak sabar menunggu ratam jurusan, aku ingin melihat cowok dengan rambut palsu itu melakukan adegan lucunya lagi, hahaha.

Sedang asyiknya tertawa, tiba-tiba lagu Avenged Sevenfold yang Dear God mengalun dari ponselku, “Setia’s Calling.”

“Om Suastiastu.” Kataku sesaat setelah menekan tombol hijau di ponselku.

“Tih, inget gak ma cowok kita omongin pas perkenalan panitia?” seperti biasa, Setia tidak pernah basi-basi di telepon, selalu langsung ke inti permasalahan.

“Cowok mana? kandidat King no 3 itu ya?”

“Bukan, yang pake wig.”

“Oh itu, kenapa? Aku baru aja ngomongin dia. Tau gak sih tadi itu pas ratam fakultas rambut palsunya hampir lepas, pasti lucu banget. Hahaha.”

“Nggak lucu.” Setia berkata ketus di seberang telepon.

“Kok nggak lucu ? Lucu tau, sayang aku nggak liat langsung.”

“Kamu tau kenapa dia pake wig ?”

Aku terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan alasan kenapa dia memakai rambut palsu, “Hm… karena dia mengalami kebotakan dini mungkin, kan kamu sendiri bilang gitu.” “Nggak Tih, dia menderita leukimia. Sebenernya dia setahun lebih tua dari kita, tapi karena harus berkali-kali menjalani kemoterapi, dia sempat berhenti sekolah.”

Hatiku mencelos seketika, “Kamu dapet info darimana?”

“Dari Kak Rika, tadi dia main ke kosku lalu cerita kalau ada satu adik tingkat kita memakai rambut palsu karena menderita leukimia.”

Aku tidak tahu apa kurasakan saat mendengar kenyataan bahwa orang yang baru saja aku ejek ternyata menderita penyakit mematikan belum ada obatnya. Aku ingin menangis, mengutuk diriku sendiri karena begitu bodoh juga tak tahu malunya menertawakan orang sedang sekarat.

“Tih, kamu denger aku kan?”

“Iya, iya. Aku denger. Kalau dia kena leukimia, kenapa masih ingin sekolah?”

“Katanya sih orang tuanya ngelarang, tapi bersikeras mau kuliah. Itu permintaan terakhirnya.”

Hatiku seperti tertusuk mendengar kata-kata Setia. “ Oh iya.. Thanks ya atas infonya. Sampai ketemu pas ratam.”

Aku langsung mematikan telepon dan berbaring di tempat tidurku. Aku sungguh bodoh; tidak berperikemanusiaan. Aku sangat menyesal berpikiran dan berbicara buruk tentang cowok itu. Aku rasa aku harus bertemu dan kalau bisa berteman dengannya. Bagaimanapun juga aku merasa sangat bersalah sudah menghina rambut palsunya tanpa tahu alasan dibaliknya.

“Eh, itu dia.” Seorang panitia cewek sie Pubdekdok berdiri di dekatku dengan SLR di tangannya menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa baru sedang berbaris di tengah lapangan. Aku memperhatikan arah ditunjuknya, siapa tahu dia menunjuk kandidat King no. 3 yang dari tadi pagi belum sempat kulihat batang hidungnya, tapi begitu aku melihat ke arah itu, aku tidak menemukan si kandidat King, aku melihat orang lain, mahasiswa berambut palsu itu !.

Ini pertama kalinya aku melihatnya sejak aku tahu penyakit dideritanya. Dia terlihat cukup menonjol di barisan itu karena tubuhnya lumayan jangkung, lebih dari 175 cm kurasa.

“Rambutnya lucu ya.” Panitia sie pubdekdok lain menimpali.

“Kok dikasi ya pake rambut palsu ? Biasanya kan panitia di sini strict banget masalah penampilan maba.”

“Tau deh.”

Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan debu – debu di lapangan. Cowok berambut palsu itu memegang kepalanya.

“Coba anginnya lebih kenceng, pasti wig nya lepas. Hihihi.” Panitia tadi tertawa, demikian juga temannya. Telingaku memanas mendengar ejekan mereka; mereka tidak punya hak menertawakan maba itu!

“Aku mau ambil fotonya ah. Aku mau tunjukin ke adikku di rumah. Aku bakalan bilang kalau dia jarang keramas, kepalanya bakalan botak dan harus pake rambut palsu. Hehehe..”

Aku berjalan mendekati mereka, “Asik ya ngomongin orang?” kataku dengan ketus.

“Eh Ratih.. iya, tuh lihat ada maba pake wig.”

“Terus kalian pikir itu lucu sampai kalian ketawa kayak gitu ?”.

“Ihh apaan sih Tih, kok kamu sewot gitu? Pacarmu ya? Hehehe.” Mereka tertawa lagi, tak menghiraukanku.

“Kalian tau kenapa make wig?”

Kedua panitia itu saling perpandangan, lalu mereka menggelengkan kepalanya.

“Dia sakit leukimia. Orang tuanya sudah melarangnya kuliah, tapi katanya itu adalah permintaan terakhirnya.” Aku menjelaskan berdasarkan informasi kudapatkan dari Setia.

“Kamu serius, Tih ?”.

Aku mengangguk, “Dulu aku juga sempet ngejek, tapi sekarang aku merasa kasihan. Ntar kalau dia minta tanda tangan, langsung kasi aja ya, jangan suruh aneh – aneh.”

Giliran mereka berdua mengangguk.

Aku tersenyum lalu melanjutkan tugasku sebagai sie Pertolongan Pertama, sambil melihat – lihat ke arah barisan maba, siapa tahu aku bisa melihat si kandidat King.

“Kak, minta tanda tangannya donk.” Beberapa maba cewek berkumpul mengerumuniku dan teman – temanku. Nice, it’s time to play.

“Minta? Beli donk.” Setia berkedip ke arahku.

“Bih kakak, beli pakai apa? Kan gak boleh bawa uang.”

“Gak usah pake uang.” Aku melihat sekitar, “Tuh ada panitia cowok lagi duduk sendiri. Kalian pergi ke sana, terus bilang kalo Setia Maharani anak 3 A minta nomor handphone nya.”

Buk.. hantaman kecil mengenai pundakku, “Apaan sih Tih.” Wajah Setia terlihat memerah. Cowok itu adalah Kak Yudhi, cowok sudah lama ditaksir Setia.

“Ayo cepet, mau tanda tangan kan.” Kataku pada maba – maba itu tanpa mempedulikan Setia. Maba – maba imut penurut itupun melakukan permintaanku. Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan membawa no HP kak Yudhi.

“Kak, katanya lain kali kalo mau minta no hp, harus minta sendiri.”

Aku tertawa kecil, sementara Setia hanya menunduk, tidak berani memperlihatkan wajah merah tomat.

Akupun memberikan tanda tanganku kepada mereka, demikian juga Setia yang akhirnya berani mengangkat kepalanya setelah kak Yudhi menghilang dari pandangan mata.

Setelah gerombolan kecil itu pergi, gerombolan kecil lain datang. Kali ini aku menyuruh mereka menyanyikan lagu jurusanku sambil hormat ke arah tiang bendera di tengah lapangan. Mahasiswa – mahasiswa lain terus bermunculan, termasuk si cowok berambut palsu. Tanpa basa – basi, aku mengambil buku tanda tangan cowok itu, “Agung Yogi Prasetya.” Aku membaca nama tertera di sampul buku itu. Akupun membukanya dan langsung membubuhkan tanda tanganku, “Kalau kamu capek, istirahat di sie PP aja ya, Dik.” Kataku.

Maba – maba yang lain terlihat sedikit iri dengan perlakuan khususku pada Yogi, tapi aku punya alasan kuat kenapa aku melakukan itu.

Beberapa saat kemudian ketua panitia ratam mengumumkan kalau waktu pencarian tanda tangan sudah habis; beberapa maba terlihat panik karena belum mendapatkan jumlah tanda tangan minimal, namun sebagian besar terlihat santai berjalan ke barisan mereka.

“Aku kasihan ma dia.” Kataku pada Setia sambil memperhatikan Yogi berlari ke barisannya.

“Dia kelihatan kuat kok.”

“Mungkin cuma pura – pura kuat.” Aku mengalihkan pandangan ke arah lain dan aku melihat kandidat King no 3 yang, berdasarkan info yang kudapatkan, berhasil menjadi King TP 2012. Gila, dia tetap terlihat manis walaupun kulitnya agak gelap dan rambutnya cepak.

Koridor kampus dua bulan sebelumnya selalu sepi kini mulai ramai kembali. Beberapa mahasiswa terlihat duduk di kursi sepanjang koridor, ada asyik bermain dengan laptopnya, ada yang sibuk dengan bukunya, ada pula hanya mengobrol dengan temannya. Aku sudah tidak kuat lagi berjalan dengan beban berat di punggungku memutuskan untuk duduk di depan ruang kuliah no. 1, menunggu seseorang.

Beberapa menit menunggu, orang itupun datang. Bau obat tercium samar – samar ketika dia berjalan di depanku, “Hey.. tunggu.” Aku memanggilnya.

Dia berbalik ke arahku, menatapku dengan tatapan bertanya.

“Yogi kan?”

“Iya, Kak.” Jawabnya ragu. Dia terlihat sedikit takut padaku.

“Kenalin, aku Ratih.” Aku mengulurkan tanganku.

“Yogi.” Dia menyambut uluran tanganku.

Aku mengambil tas tadi aku taruh di kursi dan mengeluarkan beberapa buku, “Ini buku – buku mata kuliah semester 1.”

“Buat apa, Kak?”

Ditanya seperti itu, aku merasa seperti orang bodoh. Apa tindakanku sudah kelewat batas?

“Hm… Siapa tau kamu belum punya.” Jawabku setelah berpikir beberapa saat.

“Makasih Kak, tapi bukuku sudah lengkap.” Katanya, “Saya duluan ya, Kak.” Dia berjalan melewatiku menuju ruang kelas mata kuliah pertamanya.

Aku bengong memandangi punggung tegapnya, aku merasa sedikit kecewa, tidak, aku merasa sangat kecewa.

****

Aku selalu mencari – cari kesempatan untuk memperhatikan Yogi, sedikit saja dirinya terlihat kecapaian, aku akan menghampirinya lalu menenyakan kalau ada yang bisa kubantu. Kalau sedang diskusi tentang tugas bersama temannya, aku akan ikut bergabung lalu membantu mereka mengerjakan tugas, tanpa diminta. Aku mulai merasa bingung dengan diirku sendiri. Sikapku sangat aneh belakangan ini. Aku, Ratih Purnamika, terkenal judes di lingkungan kampus, tapi kini berubah baik bagaikan dewi penolong. Apakah aku ? Ah tidak, perasaan ini hanyalah sebatas kasihan, tidak lebih.

Hari Sabtu pertama di bulan November, jurusanku mengadakan kegiatan kegiatan olah raga. Ada beberapa cabang olah raga dipertandingkan atau diperlombakan, seperti basket, futsal, bulu tangkis, catur, dan sport dance. Aku memang tidak tertarik dengan olah raga, memutuskan untuk tidak ikut cabang manapun, dan sebenarnya, kalau boleh, tidak ingin menonton pertandingan atau perlombaan apapun. Akan sangat menyenangkan kalau bisa menghabiskan akhir pekanku dengan tidur di kos.

Namun Setia memaksaku. Dia sangat ingin melihat Kak Yudhi, si bintang lapangan, memasukkan bola basket ke ring. Sebenarnya, tanpa dipaksapun aku akan menonton, karena mahasiswa yang tidak hadir akan kena denda. Kasihan kalau uang bulananku yang tidak seberapa harus dipotong demi membayar denda.

Kebetulan pertandingan pertama hari itu adalah basket putra. Semester 5 vs semester 1. Aku terbelalak kaget begitu melihat seseorang yang selama dua bulan belakangan ini selalu kuperhatikan berdiri dengan kokoh di tengah lapangan. Apa yang dilakukannya disana ?

Pertandingan berlangsung dengan seru, ternyata Yogi sangat jago bermain basket. Dia sudah beberapa kali berhasil mencetak angka bagi tim nya. Kak Yudhi yang merupakan pemain provinsi pun terlihat sedikit kewalahan menghadapinya.

Bola ada di tangan Yogi; langkahnya tersudut karena dihadang oleh dua orang yang tingginya hampir sama dengannya. Dia berusaha memberikan bola kepada temannya, namun teman – temannya juga sedang dalam keadaan terjepit. Satu – satunya pemain tim nya yang bisa bergerak bebas adalah Surya, tapi kakinya sedang cedera sehingga sangat sulit baginya untuk memasukkan bola.

Setelah berpikir sejenak, Yogi melakukan gerakan memutar yang indah. Gerakan itu bagaikan sihir yang terjadi dalam sekejap mata. Beberapa detik kemudian dia sudah melompat dengan bertumpu pada kakinya, masuk!

Mulutku menganga melihat bola itu jatuh kembali ke lapangan, sementara didekatnya, Yogi terjatuh, dirinya terlihat sangat kelelahan. Aku menahan keinginan untuk berlari ke tengah lapangan lalu membantunya berdiri. Jangan bersikap konyol, Tih!

Wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya quarter pertama. Yogi berjalan menuju tempat duduk dengan tertatih – tatih. Aku merasa sangat kasihan melihatnya.

Aku pikir Yogi akan beristirahat, tapi ternyata salah. Dia terus bermain sampai pertandingan usai. Walaupun terlihat kelelahan, semangatnya tidak pernah padam untuk mencapai kemenangan. Tanpa terasa aku menitikkan air mata haru.

****

Sebulan sesudahnya, jurusanku mengadakan suksesi HMJ. Lagi – lagi aku harus merelakan akhir pekanku yang berharga demi menyelamatkan uang sakuku dari potongan denda. Aula tempat suksesi sudah ramai dipenuhi mahasiswa, kurasa aku dan Setialah mahasiswa terakhir yang datang. Saat melayangkan pandangan ke arah panggung, aku mengerutkan keningku. Itu Yogi ? Apa yang dia lakukan di sana ?

“Gila, dia kandidat wakil ketua HMJ.” Kata Setia seakan bisa membaca pikiranku.

Aku menatap tak percaya ke arahnya, “Serius?”

“Iya.”

Ternyata kami memang sangat telat, presentasi visi misi dan debat calon ketua dan wakil ketua sudah diadakan. Sekarang tinggal pemilihan suara. Saat dihadapkan dengan kertas suara, aku merasa bingung. Aku ingin memilih Yogi, tapi aku kasihan kalau dirinya harus mengerjakan tugas berat di HMJ. Akhirnya akupun memutuskan untuk memilih Aditya, King jurusanku.

Penghitungan suara dilakukan sesaat kemudian. Tak kusangka, Yogi berhasil menjadi wakil ketua HMJ bersama Ngurah, teman sekelasku yang menjadi ketuanya. Aku merasa bangga sekaligus kasihan padanya, dan sekali lagi tanpa kusadari air mataku menitik karena haru.

****

Semakin lama Yogi semakin mengejutkanku dengan prestasinya yang cukup bagus, beberapa kali terpilih menjadi ketua panitia kegiatan – kegiatan di jurusanku, seperti Seminar Akademik, Lomba Essay, juga lain sebagainya. Suatu hari aku melihat dia duduk sendiri di depan ruang kelas. Aku menghampirinya perlahan, “Hey.” Sapaku.

Dirinya tampak sedikit terkejut melihat kehadiranku.

“Kamu ngapain di sini?”

“Saya telat 15 menit Kak, nggak dikasi masuk.”

Aku menengok ke dalam kelas, terlihat Pak Anggara, si dosen kiler sedang berjalan berkeliling mengawasi mahasiswanya sedang ujian akhir semester. Aku memutar otak, memikirkan cara supaya bisa membantu Yogi, akhirnya akupun mengetuk pintu.

“Ada apa ?” suara Pak Anggara terdengar menggelegar, membuat semua mahasiswa mengangkat kepala melihat ke pintu.

“Maaf Pak, adik saya telat karena tadi nganter saya ke apotek beli obat.” Kataku.

“Adik kamu ?”

“Iya Pak, Yogi. Tolong kasi ikut ujian, Pak. Dia telat karena saya.” Kataku dengan wajah memelas, berharap bisa meluluhkan hati si dosen kiler.

Bapak itu tampak berpikir sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya, “Baiklah, suruh dia masuk.”

Aku tersenyum kegirangan, “Makasih, Pak.”

“Good luck ya.” Kataku pada Yogi yang masuk ke ruangan kelas dengan ekspresi datar. Aku merasa sangat senang karena kali ini telah berhasil membantunya.

*****

“Tih, ada yang nyari kamu.” Salah seorang teman sekelasku yang baru kembali dari toilet berkata padaku.

“Siapa ?”

“Liat aja sendiri.”

Aku berjalan menuju pintu, seorang mahasiswa berdiri di depan kelasku,

“Yogi ?”

“Saya mau bicara sama kakak.” Katanya.

“Bicara apa?” Tiba – tiba saja aku merasa senang; biasanya aku yang mencarinya, tapi sekarang dirinya mencariku. Pasti dia mau mengucapkan terimakasih.

“Terimakasih kakak sudah membantu saya.” Tuh kan…

“Tapi…” dia tampak ragu melanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa ?”

“Tolong berhenti memperlakukan saya seperti ini. Saya kuliah karena saya ingin hidup normal, tolong jangan kasihani saya. Saya memang sakit, tapi itu tidak berarti kakak harus memperlakukan saya seolah saya akan segera mati. Perhatian berlebih yang kakak berikan membuat saya tidak nyaman.” Dia berbicara tanpa jeda, “Permisi.” Diapun pergi dari hadapanku.

Aku memandangi punggung kokohnya, merasakan perasaan sakit dan kecewa saat mengetahui perhatian yang kuberikan pada pria bertubuh tegap itu justru membuatnya merasa tidak nyaman. Bodoh.. Aku benar – benar bodoh.. Apa yang selama ini ada di pikiranku ? Kenapa aku mengasihaninya ? Dia baik – baik saja, bahkan mungkin lebih baik dari mahasiswa kebanyakan. Walaupun sakit, semangatnya untuk kuliah, untuk berolahraga, dan untuk berorganisasi tidak pernah padam. Aku mengasihani orang yang salah. Yang seharusnya aku kasihani itu adalah diriku sendiri. Ya, aku. Orang dengan fisik normal, namun jiwa tak sehat. Aku selalu merasa sudah cukup baik sehingga punya waktu merasa kasihan pada orang yang sebetulnya jauh lebih baik dariku.

Bulir – bulir air mata jatuh membasahi pipiku, berdesak – desakan tanpa bisa kutahan. Aku merasa.. sangat.. menyedihkan…


Terima kasih telah membaca cerita pendek pergaulan remaja “Rambut Palsu”. Apabila cerita singkat atau cerita pendek pergaulan remaja ini bermanfaat, berikan jempol dan bagikan cerita singkat atau cerita pendek pergaulan remaja ini melalui Facebook, Twiter, Google+, atau Pinterest. Jangan lupa baca cerpen cinta sedih lainnya.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait