Warisan

Cerita Kehidupan Keluarga Singkat Cerita Pendek "Warisan"

Cerita pendek warisan berkisah tentang seorang gadis merawat dan menjaga pamannya seperti orang tua sendiri sementara istri dan anak sang paman sama sekali tak mengindahkan sampai meninggal. Realita pada sebagian keluarga modern serta sibuk. Cerpen ini ditulis oleh Mira Setyaningrum yang banyak menyoroti masalah kehidupan sosial di masyarakat. Simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Warisan

Siang yang redup, musim yang sungguh ambigu. Seharusnya ini adalah saat musim kerontang yang meraja, namun entah mengapa sesekali hujan mengunjungi bumi, mengendap – endap ketika para manusia dalam lelap. Walaupun siang sungguh memanggang jiwa, hujan tetap dengan girang membasahi apapun dilalui, entah disukai atau tidak.

Rumah kuno di ujung jalan itu tetap saja sepi, suatu keadaan sungguh berbalik. Dulu ketika tuan rumah masih menduduki jabatan prestisius, para tamu datang silih berganti. Terkadang tak kenal waktu, entah siang hingga larut malam. Dan biasanya para tamu tersebut tak sekedar datang, mereka membawa ‘sesuatu’, tentu saja ini suatu hal untuk memuluskan suatu misi sesuai dengan keinginan hati, dan menyesuaikan dengan selera, bisa jadi benda kesukaan tuan ataupun nyonya rumah. Beberapa pepohonan rindang di depan rumah itu masih ada, berdampingan dengan tanaman lain, terutama bunga, yang disukai mendiang nyonya rumah. Karena memang telah lama beliau berpulang.

“Kinan ! ”

“Dalem, Pakdhe…”

“Sini ! ”

Terdengar suara sandal diseret, jarak dari arah dapur hingga ruang tamu agak jauh,mengingat rumah dengan arsitektur Joglo ala Jawa Tengah ini terdiri dari beberapa bangunan, ada bangunan utama dan bangunan pendukungnya

Seorang gadis muda dengan kemeja digulung, mengenakan celemek menutupi sebagian rok panjangnya hingga nyaris menutup kaki itu kini berdiri dengan menundukkan muka, tak berani menatap ke arah seorang pria ia panggil ‘Pakdhe’ itu. Baru beberapa tahun saja, sejak Pakdhe pensiun dari kedudukannya sebagai salah satu pejabat di departemen pemerintah, orang berani memanggil beliau dengan sebutan entah Pakdhe atau nama asli beliau, Bapak Gunarso Kertojoyo atau Pak Gun tanpa embel – embel ‘ Ndoro ‘ atau Tuan. Memang kebetulan beliau mempunyai unsur darah biru garis keturunan dari Keraton Solo, hal ini semakin melengkapi strata secara sosial, bahwa beliau termasuk golongan ningrat sekaligus kelas atas, karena jabatannya pula. Dulu….pada saat Orde Baru masih berjaya.

“Saya sudah selesai makan, Nduk, kamu sudah makan ? ” tanya Pak Gun.

“Nanti saja Pakdhe, pekerjaan saya belum selesai, ” jawab Kinanti pelan.

“Jangan sampai terlambat, nanti kau sakit. Makan saja di meja makan depan, tak usah di dapur, ” kata Pak Gun tegas.

“Tapi….” kata Kinan, ia menoleh ke belakang dengan takut – takut, seolah ada mata mengawasinya.

“Ini perintah saya, kalau ada yang keberatan, bilang saya ya, ” kata Pak Gun, kemudian beliau berlalu dengan mengayuh kursi rodanya perlahan menuju kamar tidurnya sendiri yang tak jauh dari ruang makan. Kinanti hanya mengangguk saja, ia membereskan peralatan makan di meja makan itu, membersihkan segala serpihan yang sempat bertebaran di meja, memberikan cairan pembersih lalu melapnya. Setelah itu dengan membawa piring, sendok, gelas kotor di atas nampan, ia kembali ke dapur. Bu Sumi, pembantu senior memandangnya dengan dahi berkerut.

“Aku dengar percakapanmu dengan Ndoro tadi, Kinan. Mengapa tak kau laksanakan ? ”

Kinanti hanya menggeleng lemah, tak menjawab, meletakkan segala peralatan makan yang kotor itu di tempat cuci piring kemudian membuka keran, air bersih pun mengalir, ia mencampur sabun dengan alat pembersih lalu mulai mencuci peralatan makan tersebut. ” Tidak usah, Bu, saya makan di sini saja. ”

“Ndoro sudah tahu.”

“Maksud Ibu ? ”

“Kau takut dengan Mbak Saras dan Mbak Laras kan ? ”

Kinanti hanya menghela nafas panjang dan mencuci bersih semua peralatan makan tadi, baru kemudian ia duduk di meja makan dapur, membuka tutup saji, di bawahnya sudah tersedia sebakul kecil nasi, semangkuk sayur lodeh, ikan asin dan sambal terasi. Menu kesukaannya, dan juga menu kesukaan Pak dhe.

Apa yang dikatakan Bu Sumi tadi benar. Pakdhe Gun sebenarnya memiliki dua anak perempuan, mereka sebaya dengannya, Mbak Saras dan Mbak Laras. Dan sebenarnya Kinanti sendiri adalah kemenakan Pak Gun, yang diangkatnya sebagai anak asuh, karena kedua orang tua Kinanti telah meninggal saat ia masih kanak – kanak. Awalnya hubungan Kinanti dengan kedua kakak sepupunya baik, terlebih ketika Ibu Gunarso masih hidup. Tapi sepeninggal beliau, barulah terlihat watak asli kakak beradik kedua putri Pakdhe Gun. Lambat laun segala kebaikan itu mengelupas, hanya duka dan nestapa yang dialami oleh Kinanti, semua tuduhan tak mendasar.

“Dasar penjilat, kau kira karena kau patuh dengan semua perkataan Bapakku, maka kau bisa menipu diriku serta Laras, Kinan ?  ” kata Saras dengan sinis.

Saat itu Pak Gun mendapat laporan bahwa Saras pulang pagi dengan seorang pemuda tak jelas, ketika Pak Gun masih berada di luar kota. Dan bukan Kinan yang melaporkan, melainkan ajudan beliau.

“Kinannnnnnnnnnnnn…..kau apakan bajuku !!! Kau tahu, harganya mahal sekali ! Tidak semua orang bisa memilikinya, dasar bodoh !! ” jerit Laras, ketika mendapati baju pesta kesayangannya tampak koyak karena salah diseterika. Tidak mutlak kesalahan Kinanti, karena ketika ia disuruh menyeterika baju itu, mendadak Ibu Gun minta dipijat, dan Kinanti tak sempat mengecilkan suhu pada seterika yang seharusnya tak boleh pada keadaan terlalu panas….

Dan selaksa sayatan lain, segenap cacian yang hanya mengendap dalam palung hati terdalam,yang ia telan dengan sadar diri,mengingat ia hanya sekedar anak asuh….

***

Malam pun tiba. Pak Gun merasakan gatal di tenggorokannya yang amat sangat. Tak biasanya. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya, mencoba meraih gelas tertutup yang berisi air putih tak sampai setengah. Gelas itu tergenggam, tapi ada rasa getar yang hebat pada tangan renta itu, ia tak dapat mengendalikan dan

Pyarrrrr……

Suara gelas jatuh memecah malam.

Sontak pintu kamar terbuka, seseorang masuk dengan tergopoh – gopoh.

“Pakdhe mboten napa – napa ta ? ” ( Pakdhe tidak apa – apa, bukan ) ? ”

“Ora apa – apa, Nduk ( Tidak apa – apa, Nak ) , ” suara pria renta itu tercekat, nyaris menangis.

Tanpa komentar lebih lanjut, Kinanti membersihkan pecahan gelas yang bertebaran di bawah tempat tidur, sebagian di bawah meja kecil.

“Pakdhe, ” panggil Kinanti dengan hati – hati, ia sudah membawa segelas air putih dari gelas lain, duduk di sebelah Pakdhe dan mendekatkan gelas tersebut di mulut beliau lalu disambut haru.

“Nduk, Kinan, seandainya anak – anakku memiliki hati semulia hatimu, ” kata Pakdhe, beliau memandang ke arah langit – langit kamar.

“Pak dhe sare mawon, mangkeh kula beresi ( Pakdhe tidur saja, nanti saya bereskan ), ” kata Kinanti, tak mengomentari apa yang baru saja diucapkan oleh pakdhenya. Pak Gun tersenyum dan beliau perlahan merebahkan diri di tempat tidur. Kinanti menutup tubuh renta itu dengan selimut, seusai membersihkan semuanya, pelan – pelan ia berjingkat dan berlalu.

Cerita pendek warisan kebun kopi
Warisan (@http://dot429.com/articles/2910-estate-taxes-for-lgbt-couples-how-to-protect-your-partner-s-inheritance )

Keesokan harinya.

Isak tangis menjadi udara sepanjang hari. Karena tubuh Pak Gun telah dingin, dan beliau tersenyum dengan damai dalam tidur panjangnya. Kinanti hanya terisak dari kejauhan karena baik Mbak Saras maupun Mbak Laras sama sekali tak memperbolehkannya mendekat, bahkan untuk sekedar mendoakan beliau di saat terakhirnya. Kedua kakak beradik itu berakting seolah menjadi malaikat, menangis paling keras di depan pusara sang ayah yang sebenarnya selama hidup mereka sia – siakan.

Seminggu usai beliau berpulang……Kinanti sedang menyapu halaman, ketika dua orang turun dari mobil, keduanya mengenakan pakaian dinas salah satu departemen pemerintah. Semula Kinanti tak memperhatikan sampai keduanya berdiri di balik pagar dan membunyikan bel.

“Ya ? ” tanyanya.

“Kami dari Departemen Hukum dan HAM, ingin bertemu dengan Nona Kinanti Maheswari.

“Saya sendiri, ada apa ya, Bapak – bapak sekalian ? ”

“Kami ingin mengundang Anda untuk menandatangani dokumen yang telah diamanatkan almarhum Bapak Gunarso Kertojoyo, khusus untuk Anda. Ini, mohon dibaca dulu. ”

Salah seorang dari mereka mengulurkan sebuah amplop coklat besar, dan Kinanti membukanya.

Dokumen itu beberapa lembar, dengan begitu banyak kalimat di dalamnya tapi yang sangat membuatnya kembali menangis terutama pada kalimat :

Dengan ini saya, Gunarso Kertojoyo bin Rahmat Nugroho dengan kesadaran penuh,sehat wal afiat dan tidak dalam keadaan dipengaruhi siapa pun, mewariskan seluruh kekayaan saya berupa sebuah rumah di Jalan Sriwijaya Gang IV Nomor 11, perkebunan kopi sekian hektar di Desa Ngemplak, Temanggung, Jawa Tengah, juga emas lantakan 1000 gram dan emas berupa perhiasan yang tersimpan di brankas Bank BRI kepada kemenakan saya NONA KINANTI MAHESWARI. Semua warisan berlaku setelah saya meninggal dan hanya dapat diambil oleh yang bersangkutan, tanpa bisa diwakilkan siapapun. Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat dan sah secara hukum yang berlaku di Indonesia.

Setelah itu semuanya gelap…


Terima kasih telah membaca cerita kehidupan pendek “Warisan”. Semoga cerita diatas bermanfaat. Jangan lupa membaca cerita pendek keluarga kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait