Dibalik Cerita

cerita selingkuh kepergok istri

Dibalik cerita adalah cerita selingkuh kepergok istri dari kisah nyata penulis yang menyebabkan perceraian lalu mantan istrinya menjalankan wirausaha tanpa mau menyentuh sedikitpun uang tunjangan dari mantan suaminya. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen selingkuh berikut :

Cerita Selingkuh Kepergok Istri – Dibalik Cerita

“Ma, Ulang tahun adek dibeliin boneka baru ya? Boneka yang kemaren sudah jelek”. Suara Key anakku terdengar ceria sekali. Besok hari ulang tahunnya. Seperti biasa setiap tahun dia boleh minta mainan baru. Usia key sudah 5 tahun, anak keduaku. Anak pertamaku meninggal saat usianya 1 tahun karena sakit.

“Tapi…?” kataku. “Tapi apa, Ma?” Belum selesai, Key sudah memotong jawabanku. “Key, Harus bisa beresin dan susun rapi lagi kalau sudah selesain main. Okey.” Aku menatap Key yang sedang duduk di sofa yang tak jauh dari ruang aku berdiri sekarang. Tepatnya ruang makan keluarga.

“Ma, trus kapan kita bisa jalan-jalan sama Papa? Kok Papa kerja terus sih?” Key bertanya dengan suaranya yang terdengar lucu sekali. “Key sayang, Papa itu sibuk di kantor. Papakan punya banyak karyawan dan pekerjaan yang harus diurus. Kalo Key kan cuma sendiri, Mama yang urusnya aja. Kan sudah cukup.” Aku berjalan mendekati Key dan memeluknya dengan lembut.

“Iya ya, Ma. Papa sibuk juga buat Key. Buat beli boneka Key.” Jawabnya lugu. Aku mengangguk.

Pernikahan kami sudah berjalan cukup lama, besok adalah ulang tahun anak kami

Aku dan suamiku sudah menikah selama 7 tahun. Kami menikah bukan karena kami saling mencintai, tapi atas kemauan Papa. Kata Papa Mas Adri adalah calon suami yang baik.

Sebelumnya aku tak pernah bertemu dengan Mas Adri. Pertemuan pertamaku adalah ketika aku dan Mas Adri bertandang kerumah dalam rangka ingin mengenalku. Dan sepertinya saat itu Adri setuju-setuju saja dengan perjodohan yang kedua orang tua kami sepakati.

Aku tak bisa menolak, karena memang aku tak punya alasan untuk menolak. Mas Adri selama proses pendekatan adalah sosok sempurna. Secara fisik dia tampan, tinggi dan berasal dari keluarga kaya. Saat usianya masih 28 tahun dia sudah menjadi seorang CEO di salah satu perusahaan ayahnya. Dan dia mampu membuat perusahaan ayahnya berkembang dengan cukup pesat.

Meskipun aku tidak merasakan perasaan apa-apa saat melihatnya pertama kali, tapi perasaan sukaku ke Mas Adri mulai tumbuh seiring berjalannya waktu, aku menyukainya sifatnya yang santun. Dan itu cukup memantapkan hatiku untuk menikah dengannya.

Saat pernikahan kami sudah berjalan sudah cukup lama. Mas Adri semakin sibuk di kantor, pergi pagi dan selalu pulang saat malam. Jarang sekali kami punya waktu untuk sekedar makan malam. Hanya sesekali dia memenuhi permintaanku pulang cepat ketika anak kami sangat merindukan Papanya. Selebihnya selalu sama setiap hari, kami jarang punya waktu untuk bersama.

Aku selalu mencoba untuk paham. Karena aku tau Mas Adri adalah sosok penting di perusahaannya. Tak pernah sekalipun terbersit dalam hatiku bahwa Mas Adri akan bermain di belakangku apalagi sampai mempunyai wanita lain.

Besok hari ulang tahunnya Key, dan aku berencana akan datang ke kantor Mas Adri. Minimal dan sangat berharap besok kami bisa makan siang bersama.

Hari ulang tahun Key

Aku sudah memberitahu Key bahwa hari ini akan buat kejutan buat Papanya. Kita makan siang bersama di kantor Papa untuk pertama kalinya. Jadi dengan begitu tidak akan menganggu pekerjaan Mas Adri.

Pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan makanan apa saja yang akan aku buat buat makan siang di kantor nanti. Aku sengaja tidak memberitaukan Mas Adri bahwa kami akan ke kantornya siang ini. Dan seperti sebelum-sebelumya, aku tidak pernah heran ketika Mas Adri lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya Key.

“Key, sudah siap?” Aku berteriak dari dapur sambil memasukan makanan ke kotak makanan.

“Sudah, Ma.” Key berlari ke dapur. Aku melihatnya seraya mengangkat jempol.

“Kamu cantik, sayang.” Aku memujinya.

Sudah jam 11 siang, aku berlari ke ruang tengah mengambil kunci mobil. Mengajak Key yang sepertinya sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan Papanya. Sepanjang jalan Key bercerita banyak hal, mulai dari keinginan punya boneka baru, termasuk ungkapan kerinduan dia dengan Papanya yang katanya jarang sekali bisa berkumpul bersama.

Aku hanya mendengarkannya, sambil sesekali memperhatikan kaca spion, jalanan sudah mulai macet. Mungkin karena sebentar lagi waktunya makan siang. Aku menambah kecepatan mobil. Aku harus bisa sampai tepat waktu, aku nggak mau kedatangan kami nanti justru mengganggu pekerjaan Mas Adri.

Lima menit lagi waktunya makan siang. Mobil sudah masuk ke halaman kantor suamiku. Secepatnya aku memarkirkan mobil. Sambil mengandeng tangan Key kami masuk ke lift menuju lantai empat ruang kerja Mas Adri.

Resepsionis suamiku ingin memberi tahu suami, tapi aku tidak mengijinkannya

Sesampainya di lantai empat, seorang wanita yang duduk di meja berdiri menyapa kami dengan tersenyum manis.

“Mau bertemu dengan siapa, Ibu?

“Pak Adri ada?” Aku menyebut nama suamiku.

“Maaf, ibu siapa? Sudah buat janji sebelumnya?” Wanita tersebut kembali bertanya.

“Saya istrinya Pak Adri.” Aku menjawab dengan cepat. Wanita tersebut sejenak tercenung. Sepertinya tak percaya sekaligus kaget, ini pertama kalinya aku datang ke kantor. Dan aku juga tak pernah bertemu dengan rekan-rekan kerja Mas Adri.

“Sebentar, Ibu. Saya panggilkan Pak Adri.” Jawabnya dan hendak berbalik masuk keruangan suamiku.

“Tidak usah, Mbak.” Aku menahannya cepat.

“Kami kesini, mau bikin kejutan buat Papanya anak saya. Kebetulan hari ini anak saya ulang tahun. Jadi kita mau makan siang bersama di sini.” Aku menjelaskan sedikit. Sebelum dia bersuara lagi aku menarik Key berjalan ke ruangan kerja Mas Adri. Perlahan aku mendorong pintu agar tidak menimbulkan suara.

Sungguh tak ku sangka, suamiku kepergok selingkuh sedang memangku wanita cantik di ruangannya

Pintu terbuka sedikit. Terasa disambar petir, badanku kaku terasa tak bergerak melihat pemandangan apa yang ada di depan mataku sekarang. Aku melihat sosok perempuan seksi duduk dipangkuan suamiku. Aku masuk dan sepertinya mereka berdua tak menyadari ada orang lain melihat apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

“Mas…” Suaraku bergetar memanggil suamiku.

Aktivitas memalukan mereka terhenti, suamiku mendorong perempuan yang ada dipangkuannya tersebut. Perempuan tersebut juga terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Dia buru-buru berdiri tegak merapikan pakaiannya yang berantakan. Mengambil tissue dan membersihkan lipstiknya.

Tubuhku bergetar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak marah. Aku hanya melihat mereka berdua dengan pandangan mata jijik. Wanita tersebut berjalan melewatiku dan keluar dari ruangan tersebut tanpa menyapaku sama sekali.

Bersamaan dengan itu, Key juga masuk ke dalam ruangan. Aku bersyukur Key tidak melihat apa yang sedang terjadi barusan.

“Papa..!” Teriak Key berlari memeluk Papanya yang masih mematung.

Aku berjalan ke sofa yang ada ruangan tersebut. Membuka bekal yang aku bawa. Key menarik Papanya ke sofa.

“Ayo, Pa. Hari ini Mama masak kesukaan Papa lho.” Key berceloteh dengan riang seperti biasa.

Mas Adri duduk, dia masih tak bersuara sejak aku masuk keruangan ini. Aku membuka semua bekal yang aku bawa, dengan tangan yang masih gemetar aku mendorong makanan tersebut ke hadapan Mas Adri. Sekilas aku liat dia menatapku dengan wajah bersalah.

“Vey..” Mas Adri memanggilku.

Aku berusaha menahan marah di depan Key, tapi ini sangat menyakitkan

Aku membuang muka, dia berhenti tak berani melanjutkan. Kami berdua tak bersuara sama sekali selama makan. Hanya Key yang berceloteh dengan riangnya. Aku secepat mungkin menghabiskan makanan yang ada di depanku. Aku tak mengunyah makanan dengan baik, Aku mual dan berlari ke kamar kecil yang ada di ruangan tersebut.

Aku memuntahkan semua makanan yang aku makan barusan. Mas Adri menyusulku, diia menepuk-nepuk punggungku. Aku menepis tangannya dengan kasar. Key juga menyusul masuk.

“Mama sakit?” Tanyanya dengan wajah penuh khawatir dengan tangan masih memegang sosis goreng keseukaanya.

“Nggak sayang, Mama cuma masuk angin. Kamu jangan disini.” Aku menyuruhnya keluar tanpa menoleh.

Tinggal Mas Adri yang masih jongkok di sampingku. Aku mengambil tissue dan secepatnya keluar. Menyusun kembali semua tempat bekal tadi dan mengajak Key pulang. Key menolak setelah aku membentaknya akhirnya dia menurut meskipun dengan wajah yang ditekuk. Mas Adri berusaha menahanku, tapi aku tak memperdulikannya. Saat ini aku hanya ingin pulang secepatnya.

Ini terlalu menyakitkan.

Suamiku berusaha berlaku seperti biasa, tapi aku tidak bisa

Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian di kantor Mas Adri. Aku tak pernah menyinggung apalagi membahas apa yang sudah aku lihat di sana.

Entahlah, apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Yang pasti saat ini aku sangat kecewa, sakit hati dan semua hal yang selama ini membuat aku yakin akan cintanya Mas Adri runtuh. Aku tak yakin lagi dengan hubungan kami. Aku sedang mencoba berpikir, menimbang kemungkinan terburuk ketika pernikahan kami selama tujuh tahun ini akan berakhir.

Kasian Key, hanya itu yang ada dalam pikiranku saat ini, yang jadi bahan pertimbanganku mengapa sampai saat ini belum memutuskan apapun. Jika dia harus harus melihat kedua orang tuanya berpisah? Aku tak bisa membayangkan sedihnya dia. Dalam seminggu ini aku tetap mencoba menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Mas Adri.

“Vey, Maaf.” Lagi-lagi maaf.

Hanya itu yang terdengar dari mulutnya. Entah kenapa dia seolah tak berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Cuma kata maaf yang berkali-kali keluar dari mulutnya. Aku muaaak mendengarnya.

Maaf tanpa penjelasan ? Buat apa ? Itu tak menjelaskan apa-apa.

Aku juga tak punya keinginan untuk bertanya dan hanya diam seribu bahasa.

Dua tahun telah berlalu, aku masih belum bisa memaafkan perselingkuhannya

Tak terasa sudah berjalan hampir dua tahun, perang dingin antara aku dan Mas Adri berjalan. Kami hanya berbicara seperlunya.

Suatu hari Mas Adri pulang dalam kondisi sakit. Mengigil kedinginan. Aku tak sedikitpun bertanya dari mana dia bisa sampai basah kuyup seperti itu. Sepanjang malam dia mengigau dan panasnya sangat tinggi. Aku mengompresnya sepanjang malam. Sepanjang malam pula Mas Adri memegang tanganku dengan erat. Beberapa kali dia menyebut namaku.

“Vey, Maaf.” Kata itu terucap berkali-kali dari bibir suamiku.

“Jangan tinggalkan aku, Vey!” Kali ini aku mendengar teriakan Mas Adri sampai membuat aku yang tidur terduduk di sampingnya terlonjak karena terkejut.

“Mas, Kamu kenapa?” Aku bertanya dengan cemas.

Mas Adri menarik tanganku, memelukku. Dia menangis seperti anak kecil kali ini. Berkali-kali aku dengar kata maaf darinya. Setelah tenang aku menyuruhnya tidur kembali. Kali ini Mas Adri tidur lebih tenang dan panasnya pun sudah mulai turun. Akupun akhirnya memutuskan untuk tidur.

Pagi-pagi aku sudah terbangun, aku memegang dahinya, panasnya sudah turun. Aku bergegas ke dapur untuk membuat bubur. Setelah selesai, aku masuk kekamar dengan napan di tangan, membawa bubur dan teh panas. Mas Adri sudah bangun dan duduk di pinggir tempat tidur, kondisinya masih terlihat lemah sekali.

Aku meletak sarapan di atas meja, menarik kursi dan duduk. Mas Adri menatapku. Aku meniup bubur dan menyuruhnya makan, tapi dia menolak. Dia mengambil bubur dan sendok yang ada di tanganku, memakannya sendiri dangan wajah tertunduk. Aku tak bergeser sedikitpun dari depannya. Posisi kami sekarang saling berhadapan. Aku melihatnya memasukkan setiap sendok ke mulutnya. Aku melihat tetesan air matanya jatuh ke pipi. Lagi-lagi aku hanya diam.

Bubur habis tak tersisa, Mas Adri meletakkan mangkuk kosong tersebut di atas napan. Aku mengambilnya dan beranjak akan berdiri keluar kamar. Aku berbalik akan keluar, tapi sebelum aku sempat melangkah Mas Adri menarik tanganku. Napan yang aku pegang terjatuh, mangkuk pecah berserakan. Aku melihat Mas Adri terduduk di bawah, setengah bersimpuh dengan posisi tangannya yang masih memegang tanganku.

Aku sangat terkejut.

“Kamu kenapa, Mas?” Aku duduk di lantai, mensejajarkan posisi dengan suamiku yang kali ini menangis sesugukan.

“Maafkan aku, Vey.” Hanya itu yang terucap dari mulutnya.

“Jangan begini, Mas.” Aku menangis memeluk tubuh suamiku yang tanpa aku sadari ternyata selama dua tahun ini semakin kurus. Melihat suamiku seperti itu, justru membuat rasa sakit itu semakin bertambah saja.

Apa yang sudah aku lakukan selama dua tahun ini? Aku mengabaikan suamiku atas apa yang terjadi hari itu. Tak sekalipun aku meminta penjelasan darinya. Sepertinya apa yang aku lakukan ini lebih menyakitkan buat dia. Aku telah membuat dia jadi orang asing di rumahnya sendiri.

Entah kenapa, hatiku tidak pernah bisa berhenti merasa sakitnya diselingkuhi

Entahlah. Sudah hampir dua minggu sejak Mas Adri sakit, akhirnya aku kembali bersikap seperti sebelumnya. Aku berharap dia mau berbicara atas apa yang terjadi sebenarnya sampai dia basah kuyup malam itu. Tapi sepertinya Mas Adri kembali bersikap seperti dua tahun lalu. Kembali diam tak menjelaskan apapun sama kali.

Aku sudah mulai muak lagi dengan situasi ini, aku harus bisa mengambil sikap. Rasa sakit atas apa yang aku lihat dua tahun lalu memang masih sangat membekas dalam hatiku sampai hari ini. Aku tak pernah tau siapa wanita itu. Akupun tak berniat sama sekali menyelidiki siapa sebenarnya wanita itu. Aku hanya berharap Mas Adri jujur dan menjelaskan apa yang sedang terjadi hari itu.

“Mas, aku ingin bicara malam ini. Aku minta kamu pulang secepatnya!” Aku mengirim pesan teks ke Mas Adri.

“Ada Key. Jangan di rumah. Vey.” Balasan dari Mas Adri. Sepertinya dia khawatir akan terjadi pertengkaran nantinya.

“Aku sudah mengantar Key ke rumah Kak Mita. Besok libur, jadi dia bisa menginap di sana.” Aku mengirimkan pesan teks sekali lagi.

“Baiklah. Aku akan pulang secepatnya setelah pekerjaan di kantor selesai.”

Aku memasak makanan kesukaan suamiku kali ini setelah dua tahun lamanya. Aku sudah bertekat semua harus selesai malam ini, apapun hasilnya nanti aku akan terima dengan lapang dada. Meskipun mungkin perpisahan akan menjadi jalan keluar terbaik buat kami berdua.

Jam tujuh malam Mas Adri tiba di rumah, dia berjalan ke ruang makan. Sejenak dia menatapku yang duduk di sana. Aku berusaha tersenyum ke arahnya.

“Ayo kita makan dulu, Mas?” Ajakku.

Bagiku perceraian adalah jalan terbaik

Tanpa bersuara diapun duduk dan mulai makan, sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca ketika menyendok makanan kesukaanya. Dua puluh menit kami berdua makan tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Kami sudah sama-sama menghabiskan makanan yang ada dalam piring kami masing-masing.

“Mas, aku ingin kita bicara serius malam ini.” Aku memulai pembicaraan.

Mas Adri tak menjawab, dia hanya menatapku dengan mimik yang tak bisa aku tebak. Aku seolah tak mengenal suamiku.

“Sudah dua tahun sejak apa yang aku lihat di ruangan kerjamu hari itu. Aku tidak tau apa itu hanya kesalapahaman atau benar adanya. Tapi kamu pasti tau pasti apa yang ada dalam pikiran aku sejak hari itu sampai saat ini. Aku marah! Itu pasti.” Aku mengepalkan tanganku berusaha sekuat tenaga menahan luapan emosi yang mulai muncul. Perlahan aku menarik nafas. Aku lihat Mas Adri yang menatapku dengan nanar.

“Mas, aku tau kita menikah memang bukan karena cinta. Kamu mungkin saja tidak pernah mencintai aku sekalipun.” Suaraku bergetar menahan marah. Juga menahan tangis yang mulai menyeruak

“Itu tidak benar, Vey…” Mas Adri benrusaha menyela, tapi aku mengangkat tanganku menyuruhnya berhenti bicara.

“Aku ingin kita berpisah, Mas.” Suaraku tercekatt

“Aku ingin keluar dari rumah ini, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi.” Lanjutku dengan suara tertahan berusaha menahan tangis. Aku mengusap air mata yang menetes di pipi.

Aku melihat Mas Adri yang tertegun tak mengeluarkan suara sama sekali. Aku lihat dia meneteskan air mata. Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini. Entahlah. Aku sudah tak ingin tau lagi.

“Besok aku dan Key akan pergi dari rumah ini. Silahkan Mas urus masalah perceraian kita, aku akan mengajak Key kerumah kita yang di luar kota. Kamu bisa mengambil semuanya, sejak awal semuanya memang adalah milik kamu. Aku hanya minta satu buah rumah untuk kami berteduh.”

Aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan perlahan melewati Mas Adri yang masih tertegun. Kali ini perasaan sesak selama ini terasa lepas. Aku menarik nafas lega.

Kali ini tidak berjalan ke kamar kami yang biasanya. Aku akan tidur di kamar Key untuk malam ini.

Sebuah keputusan besar sudah diambil. Aku dan Key akan menjalani kehidupan baru mulai besok tanpa Mas Adri di sana.

Sidang perceraian berjalan lancar

Semua berjalan dengan lancar, mulai dari awal sampai akhir sidang perceraian. Seperti yang aku harapkan hak asuh jatuh ketanganku dan aku bisa mendapatkan harta gono-gini yang adil. Tapi untuk harta aku menolak dan hanya minta satu buah rumah dari sekian banyak harta yang Mas Adri punya. Aku sudah bertekad akan memulai semuanya tanpa bayang-bayang Mas Adri.

“Kamu bisa ambil harta sebanyak yang kamu mau, lalu kenapa kamu menolaknya, Vey?” Pesan dari Mas Adri sesudah sidang perceraian kami diputuskan.

“Tidak, terima kasih.” Aku hanya membalasnya dengan singkat.

Keluarga besar kami sangat terkejut dengan keputusan yang tiba-tiba dan tidak disangka ini. Mertuaku menangis memelukku ketika aku memberitahukan keinginanku untuk bercerai. Sepertinya dia sudah tau apa yang sedang terjadi. Mas Adri pasti sudah memberitahunya. Karena ketika aku bertemu dia tak banyak bertanya mengapa kami sampai memutuskan untuk bercerai.

Mama dan Papa menyerahkan semua keputusan kepadaku. Aku tak pernah memberitahukan apa alasanku bercerai. Tapi mereka bisa menebak apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga kami.

Keputusan akhir sudah diambil, kepercayaan yang aku berikan sudah dia rusak. Dipersidangan aku tidak meneteskan air mata sedikitpun. Berbeda dengan Mas Adri, dia terlihat sangat terpukul dengan keputusanku ini. Aku sempat melihat dia meneteskan air mata ketika Hakim memutuskan perceraianku diterima dan hak asuh jatuh ketanganku.

Aku mulai mencari penghasilan dengan mencari pekerjaan, namun akhirnya ku putuskan untuk membuka usaha

Setelah sekian lama tidak bekerja, jadi tidaklah mudah bagiku untuk mencari pekerjaan. Tapi bukan berarti aku berhenti berusaha. Bagaimanapun aku harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beruntunglah, aku masih mempunyai keahlian jahit menjahit. Selama tidak bekerja dulu, aku memang selalu mengisi hari-hariku dengan menjahit banyak pakaian. Pakaian yang aku dan Key pakai adalah hasil buatan tanganku sendiri. Jadi selama proses mencari pekerjaan. Aku menarik hampir semua tabunganku, aku sudah memutuskan akan membuka toko pakaian saja kalau memang aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan pikirku. Selain aku tetap bisa mengasuh Key, aku juga bisa mengasah keahlian menjahitku lagi yang hasilnya nanti akan aku coba untuk jual di toko yang akan aku buka.

Setelah proses yang cukup panjang, toko yang aku inginkan sudah ada, sengaja aku bangun didepan rumah. Dari surat menyurat sampai dengan pemasok barang sudah aku dapatkan dan sudah hampir tahap rampung semua. Aku juga memutuskan membeli satu buah mobil yang nantinya akan aku gunakan untuk antar jemput Key ke sekolah.

Setelah berjalan cukup lama, sedikit demi sedikit sudah berjalan dengan lencar. Hampir setiap malam aku harus tidur larut malam membuat gambar-gambar pakaian yang akan aku buat nantinya. Aku juga membuka beberapa online shop. Jadi sambil menjaga toko pakaian aku juga memasarkan pakaian buatan tanganku via online.

Setelah semua kerja keras dan jerih payah yang aku lakukan, akhirnya berbuah manis. Penjualanku hari kehari semakin lancar. Aku tak lagi merasa takut akan kekurangan uang sejak berpisah dengan Mas Adri.

Meskipun setiap bulan Mas Adri selalu mengirimkan uang ke rekeningku dan memberika kabar itu buat Key. Tapi sebisa mungkin tak akan pernah aku gunakan. Aku masih bisa menghidupi Key tanpa bantuan dari Papanya.

Mas Adri punya jadwal tersendiri buat menjemput Key sesuai yang disepakati dipengadilan. Yaitu satu kali dalam seminggu dia boleh menjemput dan menemui Key si Sekolah. Jadi setiap kali menjemput Key dia akan memberitahuku dan akan mengantar pulang Key ke sekolah saja bukan kerumah. Jadi selama kami bercerai tak sekalipun aku bertemu dengan Mas Adri.

Lima tahun sudah berlalu, usahaku berjalan lancar dan cukup maju

Tak terasa sudah lima tahun berlalu sejak aku bercerai dengan Mas Adri. Key pun sudah berusia sepuluh tahun. Usahakupun sudah semakin berkembang, aku sudah membuka satu toko lagi yang berlokasi tak jauh dari pasar. Aku mempekerjakan satu orang karyawan untuk setiap tokoku. Tapi aku lebih banyak di toko yang ada di rumah agar aku bisa sekaligus mengawasi dan membantu Key belajar.

Online Shop ku juga lumayan berjalan lancar, meskipun bekerja sendiri aku tetap bisa mengelola online shop ku dengan baik. Lumayan banyak permintaan untuk pembuatan buatan tanganku tapi tetap bisa aku penuhi meskipun aku harus bekerja sampai larut malam.

Aku mengalami kecelakaan

“Vey, aku jemput Key pulang sekolah.” Pesan dari Mas Adri.

“Oke.” Balasku dengan singkat.

Hari ini kamis, waktunya Mas Adri dengan Key. Aku sampai lupa, kalau saja dia tidak mengirim pesan teks mungkin aku sudah sampai ke sekolahnya Key sekarang. Aku memutar balik mobilku untuk pulang. Tanpa aku sadari, tiba-tiba dari arah yang berlawanan satu mobil dengan kencang menabrak mobilku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku terbangun ketika mendengar tangisan Key, perlahan aku membuka mata. Key memelukku.

“Mama, Aku pikir Mama tidak akan bangun lagi?” Key menangis sesugukan, aku mengusak kepalanya. Aku melihat ada Mas Adri tertidur di sofa. Dia terlihat kurus sekali. Key masih menangis.

“Sudah, Key. Mama nggak apa-apa kok.” Aku mengusap pipinya, berusaha tersenyum untuk menenangkannya. Tapi dia masih menangis terisak.

Setelah 5 tahun bercerai, kemarahan akibat selingkuh suami justru menjadi hilang

Mas Adri terbangun, mungkin mendengar suaraku. Dia langsung berlari kesamping aku dan Key.

“Kamu sudah bangun, Vey?” Tanyanya dengan wajah yang diliputi khawatir.

Aku mengangguk sambil melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tanganku.

“Syukurlah kamu sudah siuman, kata dokter kaki kamu mengalami patah tulang, jadi untuk beberapa bulan kedepan kamu terpaksa menggunakan kursi roda.” Mas Adri menjelaskan pelan.

“Apa?” Aku terkejut seraya memegang kaki yang ternyata sudah terpasang Gip.

Aku berusaha menahan air mata agar tidak menangis didepan Mas Adri.

“Tuhan, Bantu kuatkan aku.” Doaku dalam hati berusaha untuk menenangkan diri.

Dokter datang memeriksa keadaanku. Mas Adri menyingkir dengan tetap masih menatapku. Aku membuang muka menghindari tatapannya. Tatapannya yang telah membuat aku jatuh cinta dan bertahan selama tujuh tahun berumah tangga dengannya dulu.

Aku tertidur lagi setelah Dokter memberikan aku suntikan dan obat. Baru bangun kembali setelah pagi hari. Aku melihat Mas Adri dan Key di ruanganku, mereka sedang sarapan.

Mungkinkah kami bersatu lagi ?

“Key, Nggak sekolah?” Tanyaku.

“Key, hari ini sudah dikasih izin satu hari oleh gurunya, aku memberitahu mereka Mamanya sedang masuk rumah sakit.” Mas Adri yang menjelaskan.

“Ma, kata Papa. Mama dulu suka sekali makan bubur ayam?” Key dengan polosnya bertanya. Ahh.. Key ada-ada saja, dia seharusnya tak mengingatkankan masa-masa dulu Mas Adri sering membuatka aku bubur ayam ketika awal-awal pernikahan kami.

Aku cuma tersenyum mendengar pertanyaan Key, tak mau mengingatkan yang sudah lama berlalu. Aku menerima bubur ayam yang dibawa Mas Adri, memakannya. Sejujurnya jauh dalam hatiku, saat ini kenangan yang sudah sangat lama itu terasa baru kemarin terjadi. Aku merindukan itu semua, tapi juga sangat menyakitkan ketika ingat apa yang menyebabkan aku dan Mas Adri berpisah.

“Kamu silahkan pulang saja, Mas. Aku bisa menelpon Mbak Sri buat menjaga aku disini.”

“Mbak Sri, Harus menjaga toko. Aku juga sudah mengabarkan untuk sementara dia sendiri yang harus menjaga toko, jadi selama kamu sakit aku yang akan menjaga kamu sampai kamu sembuh. Satu lagi kamu akan pulang ke rumahku selama kamu sakit” Mas Adri menjelaskan tanpa menunggu jawaban dariku.

Aku hampir tersedak, terkejut.

“Apa?! Aku tidak mau!” Aku menjawab cepat melihat dia akan keluar kamar.

Dia terbalik dengan cepat. Kemudian memegang bahuku dengan kedua tangannya. Menatapku tajam.

“Vey, Please! Jangan membantahku kali ini..!” Dengan suara tertahan dia menatapku.

“Aku cuma ingin mamanya anakku tidak kenapa-kenapa.” Lanjutnya lagi kemudian keluar dari ruangan.

Aku terdiam dan menatap Key yang tersenyum penuh harap.


Terima kasih telah membaca cerita selingkuh kepergok istri. Semoga cerpen selingkuh diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat muda Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan semangat dalam menjalani hidup dan menggapai cita – cita. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Daty Radiah

Penulis :

Artikel terkait